30 March 2012

T(w)itit!



Judul Buku: T(w)itit!
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Tebal: 100 halaman
Cetakan: 1, Januari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 

 




Penulis adalah tulang rusuk Adam dari karakter ciptaannya,” kata Nadine Gordimer dalam Writing and Being (1995). Djenar Maesa Ayu, tanpa henti-hentinya menjadi tulang rusuk Adam bagi karakter bernama Nayla. Nama ini selalu muncul dalam buku-buku Djenar, bahkan salah satu bukunya menggunakan nama ini sebagai judul. Tidak peduli dari mana nama ini muncul dan digunakan penuh kasih sayang oleh Djenar, lama-kelamaan bosan rasanya melihat Nayla terus beranak-pinak. Apalagi kalau membaca T(w)itit! buku keenam Djenar, sebuah koleksi cerpen. Semua karakter penting sebelas cerpen di sini bernama Nayla.

Secara tema, Djenar Maesa Ayu masih tetap berjalan di tempat, ia masih berkutat dengan sejumlah kekacauan yang lahir dari hubungan antar manusia, hubungan anak-anak dan orangtua dan hubungan antar pasangan, yang tentu saja, seperti adatnya Djenar, ada yang melibatkan seks. Kekacauan hubungan anak dan orangtua bisa dibaca dalam cerpen bertajuk Nayla (nah, kan, Nayla lagi), Jinxie, Bung, dan Petasan, Setan!.

Nayla dalam cerpen Nayla adalah anak seorang pelacur, yang menjadi pelacur setelah ditinggalkan suaminya yang bejat. Nayla dan ibunya terpaksa harus tinggal di rumah bilik karena diusir dari rumah gara-gara si suami sontoloyo kalah judi. Nayla terpaksa membuka kelim pertama rok merah seragam SD-nya yang sudah berubah warna menjadi warna bata karena tidak punya uang untuk membeli yang baru (digambarkan ia melakukan dalam keadaan lapar). Celakanya, rok yang kelimnya dibuka itu mendatangkan petaka bagi Nayla, yang hanya membuat ibunya semakin marah-marah.
 
Jinxie yang menjadi judul cerpen adalah seekor anjing yang ditemukan Nayla, seorang penulis, ketika bermobil di suatu hari hujan. Hujan mengguyur basah anjing itu, dan membuat Nayla menarik persamaan dengan nasibnya sewaktu masih anak-anak. Dua kali ia lari dari rumah karena menjadi korban pelecehan pacar ibunya. Tapi, bukannya membela Nayla, ibunya justru murka.
 
Bung (yang kemungkinan besar mengacu pada ayah Djenar sendiri) berkisah tentang Nayla yang mempunyai tiga telinga. Dari kedua telinga yang ada di samping kanan dan kiri kepalanya ia mendengar bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Dari  telinga di dada yang mendengar hatinya berbicara, di telapak kaki ibunya sama sekali tidak ada surga, melainkan kekuatan untuk menyiksa. Nayla bingung, mau jadi ibu seperti apa jika ia punya anak. Ibu versi kedua telinga di samping kanan dan kiri kepalanya atau ibu versi telinga di dadanya. 

Nayla dalam cerpen Petasan, Setan! (pakai tanda seru) membenci hari besar. Kedua orangtuanya menjadi munafik di hari besar, padahal hubungan mereka di rumah begitu dingin sehingga membuat Nayla kesepian. Gara-gara kesepian, Nayla menciptakan dunia dengan taman imajinasi yang dinaungi langit berwarna ungu, dipenuhi bermacam bunga, pepohonan, kicau burung, gemericik air terjun susu, dan awan yang sesekali menitikkan hujan bunga sepatu. Di sana ia hidup bahagia dengan kedua orangtuanya, dan tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari gula-gula, cokelat, kue, irisan keju, dan semen madu. Ketika ibunya mencoba merenggut dunia ini darinya, ia hanya punya satu cara untuk membalas ibunya.

Entah kenapa hampir semua cerpen Djenar yang ada tokoh ibu, ibu digambarkan secara tidak ideal. Demikian juga tokoh ibu dalam koleksi ini. Ibu-ibu yang baik di dunia ini kan banyak juga? Syukurlah, dalam koleksi ini masih ada ibu yang bisa dikategorikan baik. Dan ya ya ya, ibu yang baik itu bernama Nayla (karena ibu-ibu jahat pasti bukan Nayla namanya). Ibu baik bernama Nayla yang paling menonjol baiknya adalah janda muda dalam cerpen T(w)itit! yang meninggalkan suaminya karena tidak mau dipoligami. Tapi dengan meninggalkan rumah mantan suaminya, ia harus mampu membiayai sekolah putrinya. Sudah menjadi single parent, eh, kalau menulis status di Twitter, ia kerap disalahpahami. Ibu yang baik juga sedikit tersirat di cerpen Mimpi Nayla. Kebaikan Nayla satu ini tidak menonjol karena tema utama cerpen ini memang bukan tentang kebaikan seorang ibu, tapi kematian.

Kekacauan hubungan antara pasangan terlukis dalam cerpen UGD, It Takes to Tattoo, Check In, dan Kosong. UGD yang menjadi cerpen pertama dalam koleksi ini adalah Unit Gawat Darurat, tempat dimana nasib kedua karakter dalam cerpen berakhir. Sumali Sentioko, pria pekerja seni dan berstatus menikah, menjalin hubungan dengan Nayla Soetisna, janda cerai yang usianya lebih muda hampir 30 tahun, tapi memutuskan untuk mengakhiri cinta mereka. It Takes Two to Tattoo dan Coffeewar berkisah tentang cinta yang meredup dalam hubungan pria dan wanita manakala mereka telah hidup bersama. Nayla dalam It Takes Two to Tattoo tidak lagi bisa menoleransi kegilaan pasangannya pada tato. Nayla dalam Coffeewar tidak lagi bisa menoleransi kebiasaan memaki dan keengganan pasangannya membelikan kopi rasa buah cherry kesukaannya. Kosong berkisah tentang Nayla yang senang bertandang ke sebuah kedai kopi, tertarik pada pemiliknya, dan ketakutan menunggu kepastian perasaan laki-laki itu.

Kesebelas cerpen dalam koleksi T(w)itit! ini dikembangkan dari sebelas tweet dari akun twitter milik Djenar. Menurut situs penerbit, akun twitter milik Djenar adalah salah satu akun terbesar dan terpopuler penulis perempuan Indonesia. Saat buku ini dirilis, memiliki 61 ribu lebih follower. Kabarnya, ada pembaca Djenar yang kadang salah arti dan salah tangkap hingga kege-eran. Untuk mereka, ia menulis tweet berbunyi: “Status Twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!” Tweet inilah yang melahirkan cerpen T(w)itit yang jadi judul koleksi cerpen ini.

Penggarapan tema yang sudah berkali-kali dipakai banyak penulis, termasuk Djenar, jika dilakukan dengan cara yang sama, akan membosankan pembaca. Dalam koleksi ini tampak usaha Djenar bermain-main dengan teknik bertutur meskipun temanya sudah usang. Tapi sayangnya tidak berhasil, hanya membuat karyanya kehilangan gravitasi.

UGD misalnya memunculkan keinginan Djenar untuk menghadirkan ceritanya secara berbeda. Cerpen ini mengalir bagaikan sebuah film pendek dengan alur mundur-maju. Tapi seperti yang disampaikan Lori Ostlund, penulis kumpulan cerpen The Bigness of the World (2009), jiwa sebuah cerita ada pada rangkaian kalimat di dalamnya. Sedangkan UGD kelihatan sekali dirancang sekadar untuk memenuhi tuntutan plot.

Kritik untuk cerpen berjudul Nayla adalah mengenai rok seragam yang dipakai karakter Nayla yang mendatangkan musibah. Djenar menulis bahwa Nayla memakai, “rok seragam yang pendeknya sudah berada di atas tumit.” (hlm. 16). Kemungkinan besar maksudnya, LUTUT, dan bukan TUMIT. Tumit adalah bagian telapak kaki sebelah belakang, di bawah mata kaki (KBBI). Mana ada seragam SD dibuat setumit/di bawah tumit sehingga menimbulkan nafsu karena sudah di atas tumit? Kesalahan seperti ini untuk sebuah cerpen sangat mengganggu karena pada dasarnya, penulisan cerita pendek seharusnya tidak terdapat kesalahan.

Ada harapan, suatu waktu, tulang rusuk Adam bernama Djenar ini, akan lebih kreatif memunculkan karakter, dan tidak lagi menamai mereka Nayla. Ia seharusnya sadar, nama yang sama untuk banyak karakter fiksi akan membuat karakternya menjadi generik, dan tidak lagi meninggalkan kesan di hati pembaca.

27 March 2012

Maryam



Judul Buku: Maryam
Pengarang: Okky Madasari
Tebal: 280 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

  
 



Sebenarnya, Maryam bukanlah seorang Ahmadi yang fanatik. Setelah meninggalkan Gerupuk, kampungnya di Lombok, ia kuliah di Surabaya. Di sana ia sempat berpacaran dengan sesama Ahmadi, tapi hubungan mereka kandas. Kekasihnya tidak hanya meninggalkan dirinya, tapi juga Ahmadiyah. Setelah bekerja di Jakarta, Maryam sendiri meninggalkan Ahmadiyah demi menikahi seorang pria di luar keyakinannya.

Keputusannya beralih keyakinan tidak otomatis membuat hidupnya bahagia. Perkawinannya tidak bahagia karena anak tidak kunjung hadir dalam rumah tangganya. Sementara ibu mertuanya terus-menerus menggerataki kehidupan rumah tangga anaknya. Maryam pun bercerai, dan memutuskan pulang kampung. Yang ia temukan membuatnya terpukul. Orangtuanya telah minggat dari Gerupuk. Sebagai pengikut Ghulam Ahmad, keluarga Maryam diusir dari rumah sendiri. Mereka tidak diterima lagi di Gerupuk, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dekat dengan mereka.

Pergi dari Gerupuk dengan terpaksa, bersama warga Ahmadiyah lainnya, keluarga Maryam membangun komunitas di Gegerung.  Di sanalah Maryam bergabung dan mencoba membangun kembali hidupnya. Ia tidak ingin kembali bekerja di Jakarta, bahkan kemudian menikah dengan sesama Ahmadi.

Setelah menikah, Maryam melihat Gegerung tidak juga menjadi tempat yang aman bagi keluarga dan sesama Ahmadi. Sekali lagi, mereka diusir dari rumah yang mereka bangun sendiri. Selama mereka masih menjadi bagian dari Ahmadiyah, mereka tidak bisa pulang. Lalu, apakah mereka harus meninggalkan iman demi diterima kalangan mayoritas?

Novel ini hadir sebagai wujud keprihatinan pengarang atas realitas yang berkembang di Indonesia terkait dengan kehidupan beragama. Tumbangnya toleransi dan diskriminasi yang dialami warga minoritas menjadi elemen utama yang dilemparkan pengarang ke hadapan pembaca. Sebagai wakil dari pihak yang dikalahkan gara-gara kedua permasalahan itu, pengarang mengedepankan kasus Ahmadiyah. Bagaimana hak asasi mereka dirampas dan mereka terpaksa berakhir di pengungsian. Hanya karena pilihan mereka yang berbeda.

Di sisi lain, novel ini juga memperlihatkan keteguhan hati dari pihak yang disepelekan. Mereka mampu menghalau tuntutan suara mayoritas untuk meninggalkan iman mereka. Bahkan lebih memilih tetap di pengungsian ketimbang pulang tapi melepaskan keimanan. Kata salah satu perempuan Ahmadi dalam novel: “Namanya orang sudah percaya. Semakin susah semakin yakin kalau benar” (hlm. 272).

Sesuai judul novel, Maryam, novel ini juga berbicara tentang perempuan, dan cara perempuan seharusnya menyikapi ketertindasan. Maryam digambarkan sebagai perempuan yang berani. Berani meninggalkan pernikahan yang berjalan tidak sesuai harapan. Berani melancarkan protes atas kesewenang-wenangan yang dialami sesama Ahmadi. Sampai novel berakhir, Maryam masih tetap memperjuangkan kaumnya. Menggugat dan menggugah pemerintah untuk mendengarkan suaranya yang mewakili suara semua Ahmadi.  “Benarkah sudah tak ada lagi yang bisa kami harapkan di negeri ini?” (hlm. 274). “Sampai kapan lagi kami harus menunggu?” (hlm. 275).

Maryam adalah novel ketiga Okky Madasari, setelah Entrok dan 86. Seperti kedua novel sebelumnya, ia masih berkutat dengan realitas sosial yang berkembang di Indonesia. Dan dengan pilihannya ini, ia tampil berbeda dengan kebanyakan pengarang perempuan (muda) di Indonesia. 
26 March 2012

Never Let Me Go



Judul: Never Let Me Go
Penulis: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Tebal: 358 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, September 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Hidup mereka harus mengikuti alur yang telah ditentukan. Tidak ada protes. Tidak ada pemberontakan. Karena mereka adalah klon, yang memang diciptakan untuk mati. Setelah meninggalkan masa remaja dan menyaksikan berbagai kematian klon lain, mereka harus melakukan donasi. Saat inilah satu demi satu organ vital dalam tubuh mereka diambil dan dipindahkan ke tubuh orang lain. Sementara organ tubuh mereka menghidupkan nonklon, mereka berjuang melawan maut. Donasi paling banyak dilakukan sampai tiga atau empat kali, karena setelah itu, si klon dipastikan akan mati.

Tidak jelas siapa yang mengatur kehidupan mereka. Mereka seolah-olah hidup di masa depan di bawah kendali tiran yang membuat mereka seperti kerbau dicocok hidung. Itulah sebabnya Never Let Me Go disebut-sebut sebagai novel distopia.

Novel yang bisa juga dikategorikan sebagai bildungsroman ini adalah novel keenam penulis warga negara Inggris kelahiran Jepang, Kazuo Ishiguro. Dikisahkan oleh Kathy H (semua klon nama belakangnya disingkat), perempuan 31 tahun yang hampir menyelesaikan tugasnya sebagai perawat, novel ini menggelontor tiga periode kehidupan tiga klon: Kathy, Ruth, dan Tommy. Mereka tumbuh remaja bersama di Hailsham. Kathy dekat dan peduli pada Tommy, anak laki-laki pemarah yang kerap dipermainkan teman-temannya. Hanya saja, sebelum mereka meninggalkan Hailsham, hubungan mereka tidak berkembang. Tommy pacaran dengan Ruth, teman Kathy.

Di Hailsham mereka dididik dan didorong untuk menghasilkan karya seni: lukisan, gambar, puisi, dan karya seni lainnya. Seorang perempuan yang dipanggil Madame secara rutin datang mengambil karya terbaik siswa Hailsham. Para siswa tidak tahu diboyong kemana. Mereka membayangkan Madame menempatkan karya mereka di sebuah tempat yang mereka sebut Galeri. Tommy adalah siswa yang tidak kreatif, tidak ada karyanya yang masuk Galeri. Ia mencoba menggambar binatang namun menjadi bahan tertawaan. Tommy yang pemarah berubah lebih tenang tatkala Lucy Wainright, salah satu guardian (guru) di Hailsham mengatakan padanya bahwa tidak apa-apa jika Tommy tidak kreatif. Itu bukanlah kesalahan Tommy.

Saat Kathy berumur lima belas tahun, Lucy mengungkap kenyatan yang ditutupi oleh kepala dan para guardian Hailsham. “Hidup kalian sudah ditetapkan. Kalian akan jadi orang dewasa, lalu sebelum kalian menjadi tua, bahkan sebelum separuh baya, kalian akan mulai mendonasikan organ-organ vital kalian. Untuk itulah kalian masing-masing diciptakan.” Lucy mengingatkan bahwa dalam waktu tidak lama lagi, mereka akan meninggalkan Hailsham dan mempersiapkan donasi pertama.

Tepat berusia 16 tahun, Kathy meninggalkan Hailsham. Bersama Ruth dan Tommy, ia ditempatkan di Cottage, tempat transit sebelum mereka menjadi perawat. Dari veteran -klon yang lebih dulu menempati Cottage-  mereka mendapat informasi jika sebagai siswa Hailsham, mereka bisa meminta penundaan donasi, tiga atau empat tahun.  Asal mereka memenuhi kualifikasi: benar-benar jatuh cinta, dan bisa membuktikan cinta mereka. Tommy jadi berpikir, jika ada pasangan datang menghadap Madame dan mengatakan saling cinta, Madame akan membuktikan cinta mereka berdasarkan karya-karya terbaik mereka yang masuk Galeri. Karena hasil karya mereka akan mengungkap jiwa mereka. Tidak ada karya Tommy yang masuk Galeri, sehingga ia pun berusaha menghasilkan karya untuk berjaga-jaga. Saat panggilan donasi keempat semakin dekat, Tommy dan Kathy memutuskan untuk bertemu Madame. 

Kazuo Ishiguro
Never Let Me Go yang diceritakan pada penghujung 1990-an berkisah tentang manusia-manusia hasil kloning tanpa berteriak-teriak menantang teknologi totipotensi ini. Ishiguro bukanlah pendukung teknologi kloning, untuk kepentingan apapun. Hal ini terungkap dari akhir yang ia pilih untuk novel ini. Semua tempat yang menghasilkan klon manusia mengalami kebangkrutan, ditutup, dan terlilit utang. Bahkan setelah ditutup, puing-puing Hailsham pun tidak bisa dideteksi lagi. Hailsham, Glenmorgan House, dan Saunders Trust hancur mengikuti skandal yang dipicu James Morningdale: menawarkan kepada orang-orang kemungkinan mempunyai anak-anak kualitas superior. 

Dibagi ke dalam tiga bagian, masing-masing bagian adalah periode kehidupan Kathy dan dua temannya. Bagian pertama adalah periode anak-anak hingga remaja, bagian kedua periode memasuki usia dewasa, dan bagian ketiga periode donasi. Awalnya, novel ini terasa tidak mudah diikuti. Kathy, si narator, membuka ceritanya langsung mengetengahkan tentang donor dan donasi karena terkait dengan pekerjaannya sebagai perawat. Kita tidak tahu apa maksudnya karena tidak ada penjelasan langsung. Rupanya pengarang mau kita terus membaca dan menemukan sendiri. Saat kita memahami kemauan pengarang, kita akan lebih mudah membaca novel ini. 

Sampai saat ini, untuk kepentingan apa pun, kloning manusia belum bisa diterima semua kalangan. Sebagian menentang kloning manusia, menganggap kloning manusia bertentangan dengan ajaran agama karena merupakan reproduksi aseksual dimana tidak ada persetubuhan pria dan wanita. Sebagian menentang karena kloning manusia hanyalah semacam cara manusia untuk berlagak Tuhan. Tapi toh ada pihak yang telah menghasilkan klon manusia. Pada 26 Desember 2002, sebuah perusahaan bioteknologi di Bahama bernama Clonaid, menghasilkan klon manusia pertama di dunia, dan diberi nama Eve (Hawa, perempuan pertama, yang kalau dipikir-pikir, diciptakan Tuhan dengan cara kloning menggunakan tulang rusuk Adam).  

Kloning dalam Never Let Me Go terkesan lebih menakutkan. Klon manusia diciptakan tidak untuk hidup seperti manusia biasa, melainkan dijadikan donor organ bagi orang sakit. Tidak ada yang mulia di dalamnya. Karena klon di sini berwujud manusia juga. Yang bisa berpikir, bersaing, dan jatuh cinta. Makanya, saya  merindukan adanya karakter seperti Justin Timberlake dalam film In Time. Seseorang yang memberontak karena tidak mau alur hidupnya diatur.   

Never Let Me Go telah mendapatkan penghargaan seperti Arthur C. Clarke Award, ALA Alex Award, dan National Book Critics Circle Award. Majalah Time mendapuk novel ini sebagai novel terbaik 2005 sekaligus masuk dalam Time 100 Best English-language Novels from 1923 to 2005. Pada tahun 2010 diadaptasi ke dalam film berjudul sama oleh sutradara Mark Romanek. Carey Mulligan berperan sebagai Kathy, Keira Knightley sebagai Ruth, dan Andrew Garfield sebagai Tommy.



 

25 March 2012

Winter Dreams



Judul Buku: Winter Dreams
Pengarang: Maggie Tiojakin
Tebal: 294 halaman
Cetakan: 1, November 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 





Sejak awal Nicky F. Rompa sudah digambarkan sebagai anak muda yang tidak punya mimpi, tidak tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Kuliah di jurusan komunikasi, tapi tidak tahu apa yang ia cari di sana. Disiksa, tapi bertahan hidup dengan ayahnya. Ibu Nickylah yang ikut campur dan memutuskan Nicky tinggal sementara di Amerika supaya tidak sampai mampus. Nicky mematuhi keinginan ibunya, tanpa mengeluh, tanpa protes, tanpa bertanya sampai kapan ia harus melarikan diri.

Karena tidak punya rencana apa-apa, Nicky pun luntang-lantung dengan Leah, putri Riesma, sepupu jauh ibunya di Boston, Massachusetts. Tidak ada yang dilakukan Nicky sampai Riesma mengusulkan agar Nicky bekerja. Artinya, bekerja pun bukanlah inisiatif Nicky. Maka, Nicky pun bekerja di sebuah toko serba ada milik pasangan imigran asal Vietnam, Mr. dan Mrs. Fong. Saat Mr. Fong bertanya soal mimpi apa yang ingin Nicky realisasikan di Amerika, Nicky mengatakan: “Baru kusadari bahwa aku tidak datang membawa mimpi ataupun aspirasi. Aku tidak ingin jadi apa-apa. Aku cukup puas berbaring telentang di atas ranjang sambil menatap langit-langit kosong. Aku seperti pelampung yang mengapung di atas permukaan laut luas dan terkatung-katung tanpa arah, menelan perguliran hari dan makan tanpa henti seolah aku abadi.” (hlm. 43).

Orang-orang yang Nicky jumpai, para imigran yang datang ke Amerika, digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai the American Dreams, sedangkan Nicky tidak punya sekerat mimpi pun. Richard Klaus, imigran dari Jerman. Polina si gadis Rusia. Keluarga Mr. dan Mrs. Fong dari Vietnam. Artin Ruci warga keturunan Albania. Esme, imigran asal Meksiko. Sammy, supir limusin dari
Bouaké, Ivory Coast. Mereka semua punya mimpi. Bahkan, Dev Akhtar, imigran asal Pakistan, telah meraih mimpi sekaligus seorang gadis Amerika. Apa yang akan Nicky ingin lakukan kalau ia tidak punya mimpi? Tetaplah ia menjadi seorang illegal alien, buronan, terancam dipenjara atau dideportasi jika tertangkap, setelah visa kunjungannya habis.

Di luar waktu kerjanya, Nicky ngelayap tanpa tujuan. Berpesta, tamasya, konsumsi narkoba, dan bercinta dengan Polina. Riesma menyarankan Nicky mengambil adult education, dan Nicky memutuskan mengikuti kursus creativie writing di bawah pimpinan Artin Ruci. Tapi, jangan salah. Nicky tidak pernah berpikir menjadi penulis. 


Winter Dreams adalah novel pencarian mimpi seorang anak muda yang tidak punya mimpi dalam hidupnya. Adakah sesuatu dalam perjalanan hidupnya di Boston yang mampu membuatnya bermimpi dan berkeinginan untuk mewujudkannya? Ada, tentu saja ada. Karena kalau tidak, novel ini tidak akan memberikan apa-apa bagi pembaca selain sekedar perjalanan seorang Nicky sewaktu hidup di Amerika. Artin Ruci membawa Nicky pada sebuah perenungan: “Semua orang ingin menjadi seseorang, terutama di Amerika – aku mengerti itu sekarang. Dan, entahlah, rasanya sungguh tidak nyaman jadi orang yang tidak ingin jadi apa-apa.” (hlm. 231).

Novel ini dituturkan dari perspektif orang pertama, yaitu perspektif Nicky F. Rompa. (Entah kenapa pengarang merasa perlu menambahkan huruf F di tengah nama Nicky dan tidak pernah mengungkap kepanjangannya. Padahal, Nicky kan bukan Charlotte A. Cavatica, si pemintal jaring dalam Charlotte’s Web, yang kepanjangan nama tengahnya tanpa diungkapkan tetap akan kita tahu dengan sendirinya). Seakan-akan pengarang mau menyatakan bahwa, inilah sebenarnya hasil dari keputusan akhir Nicky akan menjadi apa dirinya. Winter Dreams sesungguhnya merupakan hasil karya Nicky sebagai seorang penulis.

Winter Dreams menegaskan kepada kita bahwa keberhasilan sebuah novel tidak semata-mata karena memiliki cerita yang provokatif dan plot yang berpilin-pilin.  Tidak ada cerita yang menggemaskan di sini, tidak ada plot yang mencengangkan. Cara penyampaian yang lugas cerdas dengan diksi yang eklektis untuk mengemukakan permasalahan yang kerap tidak luput dari kehidupan manusia, itulah salah satu keberhasilan Winter Dreams

Keberhasilan lain adalah kepiawaian pengarang dalam menghadirkan karakter yang dirancang dengan baik. Keberadaan karakternya, Nicky F. Rompa, sangat membekas dalam benak pembaca. Seorang pria muda yang tidak punya mimpi, tidak punya hasrat untuk menjadi seseorang (ironisnya, ia berada di tengah orang-orang yang mengejar the American Dreams) sehingga otomatis tidak ada keinginan mencapainya. Sejak muncul hingga novel hampir berakhir, karakter ini tetap tak tergoyahkan.

Masih ada kelebihan lain yang sangat menonjol, yaitu seting Boston. Hampir sebagian besar cerita berlangsung di Boston, Massachusetts. Pengarang menunjukkan bahwa ia mengenal dan menguasai Boston sehingga bisa menghadirkan ke hadapan pembaca dengan enteng. Pada gilirannya, pengarang yang pernah enam tahun menetap di Boston, berhasil menebalkan kepercayaan pembaca pada ceritanya.

Akhirnya, sebagaimana semestinya sebuah karya fiksi, Winter Dreams juga membawa  pesan untuk kita. Bahwa kita sudah seharusnya bermimpi, sehingga kita bisa melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi itu. Di sinilah kelebihan lain novel ini, tidak membawa pesan dengan cara yang sama seperti dalam buku-buku lain berslogan seperti “novel pembangun jiwa”, “novel motivasi” atau “kisah sukses inspiratif”. Dan memang, tidak perlu.
 
24 March 2012

The Hunger Games (Edisi Cover Film)



Judul Buku: The Hunger Games
Penulis: Suzanne Collins (2008)
Penerjemah: Hetih Rusli
Tebal: 408 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 

 




Setelah serombongan malapetaka berupa kekeringan, badai, kebakaran, banjir dan perang brutal, Amerika Utara hampir hilang. Dari sisa-sisanya, muncul sebuah negara baru bernama Panem dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi tiga belas distrik. Capitol yang dibangun di tempat yang dulunya Pegunungan Rocky, mengatur setiap distrik untuk menyediakan kebutuhan warganya. Rangkaian perlawanan terhadap hegemoni Capitol meledak, tapi bisa dipadamkan. Distrik 13 bahkan dimusnahkan. Sebagai pengingat atas pengkhianatan setiap distrik dan agar revolusi tidak terjadi lagi, Capitol menciptakan acara yang diberi nama Hunger Games. Sebuah reality show tahunan yang mewajibkan kedua belas distrik mengirimkan sepasang remaja untuk mengikuti acara itu. Sepasang remaja yang ditetapkan dalam sebuah acara pengundian itu harus berjuang mati-matian untuk meraih kemenangan. Hanya satu orang yang bisa keluar sebagai pemenang setelah 23 peserta yang lain mampus.

Untuk lebih memalukan dan menyiksa semua distrik, Capitol mengharuskan mereka memperlakukan Hunger Games sebagai perayaan, peristiwa olahraga yang membuat satu distrik berkompetisi dengan distrik lainnya. Peserta terakhir yang hidup akan menikmati hidup enak saat pulang, dan distriknya akan dilimpahi berbagai hadiah, yang kebanyakan berupa makanan. Sepanjang tahun, Capitol akan menunjukkan bagaimana distrik yang jadi pemenang menerima hadiah gandum, minyak, bahkan makanan lezat seperti gula, sementara distrik-distrik lain harus berjuang agar tidak mati kelaparan.
 
Katnis Everdeen gadis yatim dari Distrik 12 menuturkan: “Mengambil anak-anak dari distrik kami, memaksa mereka untuk saling membunuh sementara kami menontonnya –ini adalah cara Capitol untuk mengingatkan kami betapa sesungguhnya kami berada di bawah belas kasihan mereka. Betapa kecil kemungkinan kami bisa selamat jika timbul pemberontakan lain. Apa pun kata-kata yang mereka gunakan, pesan yang mereka sampaikan jelas. ‘Lihat bagaimana kami mengambil anak-anakmu dan mengorbankan mereka, dan tak ada yang bisa kaulakukan untuk menghalanginya. Kalau kau sampai berani mengangkat satu jari saja, kami akan menghancurkan semuanya. Sebagaimana yang kami lakukan di Distrik Tiga Belas.’” (hlm. 26-27).

Memasuki umur 12 tahun, setiap anak wajib menyertakan nama mereka sebagai calon peserta Hunger Games. Setiap tahun hingga mereka berumur 18 tahun, nama mereka sebagai peserta digandakan. Pada umur 12 tahun dimasukkan satu kali, umur 13 tahun dimasukkan dua kali, dan seterusnya. Bagi anak yang miskin dan kelaparan, boleh memasukkan nama lebih banyak untuk ditukar dengan tessera. Setiap tessera bisa disilih dengan persediaan setahun gandum dan minyak untuk satu orang. 
 
Katniss Everdeen
Pada umur 12 tahun, Katniss memasukkan namanya 4 kali, satu sebagai keharusan dan tiga untuk mendapatkan tessera atas namanya sendiri, ibunya, dan adiknya, Primrose. Karena setiap tahun nama yang dimasukkan diakumulasi, pada usia 16 tahun, ia memasukkan namanya 20 kali dalam pengundian. Semakin bertambah umur dan tetap menginginkan tessera, semakin banyak nama yang dimasukkan. Ini berarti, semakin tinggi probabilitas terpilih sebagai peserta Hunger Games. Gale Hawthorne, teman Katniss yang berumur 18 tahun yang menafkahi keluarganya seorang diri seperti Katniss, memasukkan namanya 42 kali.
 
Pada hari pengundian, jalan-jalan hitam di Seam kosong melompong. Warga berkumpul di alun-alun untuk mendengarkan Effie Trinket, perempuan Capitol pengiring Distrik 12, mengulurkan tangan ke dalam bola kaca, mengaduk-aduk dan menarik selembar kertas. Kerumunan massa tercekat senyampang para calon peserta berharap namanya tidak dibacakan. Kamera sedang bergerak merekam proses pengundian, saat Katniss terperanjat mendengar nama yang dibacakan Effie. Primrose, adik semata wayangnya, terpilih mewakili anak perempuan. Masih sambil direkam, karena aturan permainan membolehkan, Katniss memutuskan menggantikan adiknya dalam Hunger Games ke-74. Sejarah Panem mencatat, selama penyelenggaraan Hunger Games, baru dua kali Distrik 12 memenangkan Hunger Games.
 
Galau  hati Katniss manakala mengetahui Peeta Mellark terpilih mewakili anak laki-laki. Tukang roti itu pernah sengaja menghanguskan roti yang akan dijual agar Katniss dan keluarganya tidak mati kelaparan, dengan risiko ia dipukuli ibunya. Sebagai tukang roti, Peeta menjadi kekar karena terbiasa mengangkat nampan-nampan roti. Namun ia tidak punya kemampuan bertarung. Berkebalikan dengan Katniss yang sejak ayahnya tewas dalam ledakan di tambang batu bara, telah menggunakan panah untuk berburu. 
  
Peeta Mellark
Haymitch Abernathy, salah satu dari 2 pemenang Hunger Games dari Distrik 12, seorang lelaki pemabuk setengah baya, menjadi mentor bagi Katniss dan Peeta. Meskipun awalnya Katnis tidak menyukainya, ia tidak bisa menolak Haymitch. Sebagai mentor, Haymitch akan menjadi penyambung hidup perwakilan Distrik 12 dengan dunia luar dalam Hunger Games. Ia akan memberikan petunjuk, mencari sponsor, dan menentukan hadiah-hadiah apa yang akan diberikan.
 
Pada upacara pembukaan Hunger Games, para penata gaya memakaikan Katniss dan Peeta pakaian penambang batu bara. Api sintetis telah disiapkan untuk membakar mantel mereka pada prosesi peserta. Penampilan mereka yang luar biasa, tidak hanya mencuri perhatian para penonton, tapi juga merampas kewibawaan Presiden Panem, Snow. Baik kostum yang terbakar maupun cara Katniss dan Peeta berpegangan tangan, ditafsirkan sebagai bentuk pembangkangan. Meskipun demikian, Haymitch ingin mereka tampil sebagai pasangan kekasih yang tidak mungkin bersatu. Peeta sangat mendukung nasihat Haymitch. Pada malam wawancara, ia menyebut Katniss sebagai gadis istimewa di hatinya.
 
Sebelum pergi ke Capitol, Madge, putri walikota Distrik 12, memberikan pin emas burung mockingjay untuk Katniss pakai di arena Hunger Games. Mockingjay sebetulnya merupakan simbol pengkhianatan terhadap Capitol. Pada masa pemberontakan distrik, Capitol membiakkan serangkaian hewan rekayasa genetika sebagai senjata (mutan atau mutt), salah satunya jabberjay. Burung ini memiliki kemampuan mengingat dan mengulang seluruh percakapan manusia. Mereka dilepaskan di wilayah-wilayah tempat persembunyian pemberontak, merekam percakapan, sehingga apa yang terjadi di distrik-distrik bisa diketahui pihak Capitol. Para pemberontak tahu dan mengibuli Capitol. Sarang jabberjay ditutup dan burung-burung itu dibiarkan punah di alam liar. Hanya saja mereka tidak punah, malah burung yang semuanya berkelamin jantan itu kawin dengan mockingbird. Hasilnya, mockingjay, spesies baru yang bisa meniru siulan burung dan melodi manusia. Kemampuan mengulang percakapan jabberjay memang hilang, tapi mockingjay bisa meniru suara manusia sampai tingkat tertentu dan menciptakan ulang lagu yang mereka dengar.
 
Sebuah hutan ditetapkan sebagai arena Hunger Games ke-74. Sejak para peserta memasuki arena, pertarungan telah meletus dan menewaskan sejumlah peserta. Kematian para peserta diumumkan dalam bentuk dentuman meriam dan tayangan foto serta nama mereka di layar raksasa. Karena Katniss merupakan narator novel yang memiliki sekuel, tentu saja ia tidak langsung mati. Demikian pula pasangannya, Peeta. Tapi perjuangan untuk tetap hidup juga bukanlah hal mudah. Mereka harus berkelit, dari ancaman kematian sesama peserta yang masih tersisa dan usaha juri Hunger Games yang tidak suka dengan acara yang berjalan lambat. 
 
Setelah awalnya terpisah dan Peeta mengikuti kawanan Peserta Karier (peserta yang telah mempersiapkan diri sebelum pelaksanaan Hunger Games), mereka pun harus berjuang bersama. Kemenangan tidak menjadi tujuan utama. Bagaimana cara bertahan hiduplah yang menggerakkan otak mereka. Sementara itu, mereka juga dipermainkan oleh aturan pertarungan yang berubah-ubah untuk meningkatkan daya tarik reality show. Sekalipun begitu, mereka memegang himbauan Haymitch untuk menampilkan pasangan yang tidak mungkin bersatu. Hanya ketika lakon itu tidak berhasil, atas gagasan Katniss, mereka memutuskan menggunakan buah-buah berry nightlock. Keputusan itu akan membidani sekuel yang diberi judul Catching Fire (2009). 
 
The Hunger Games, bagian pertama dari trilogi, disajikan penulis dalam tiga bagian besar untuk menggambarkan proses yang dilalui para peserta dalam Hunger Games. Bagian pertama, Para Peserta; bagian kedua, Pertarungan; bagian ketiga, Sang Pemenang.  Katnis Everdeen yang berusia 16 tahun dipilih untuk menyuarakan hasil pengamatan dan pengalamannya sebagai salah satu peserta Hunger Games. Ia seorang gadis pemarah yang emosinya mudah tersulut, dan ketika itu terjadi, ia tidak segan menghantam orang lain, seperti yang dialami Peeta. Pengarang sangat jitu mengemas kemarahannya sebagai karakterisasi yang mumpuni. Sejak awal Katniss telah memperkenalkan dirinya sebagai gadis temperamental yang marah pada Capitol, marah pada kenyataan hidupnya, marah pada ibu yang tidak bisa diandalkan. Kemudian setelah terpilih sebagai peserta, ia marah pada Peeta, marah pada Haymitch, marah pada Peserta Karier, marah pada para juri Hunger Games, pada pada perubahan aturan pertarungan. Tapi sifat pemarah inilah yang memberikannya peluang untuk keluar sebagai pemenang. 
 
Sebaliknya, Peeta adalah anak laki-laki dengan hati yang baik dan lembut. Ia sangat mudah mencuri hati orang. Dalam kemurnian hatinya, ia menegaskan bahwa seandainya harus mati dalam Hunger Games, ia harus mati sebagai dirinya sendiri. Ia tidak mau membiarkan Capitol mengubah dan menjadikannya monster. Ia memutuskan hanya akan membunuh jika terpaksa. Dengan caranya sendiri, ia ingin menunjukkan kepada Capitol bahwa sebenarnya mereka tidak bisa memilikinya, dan ia bukan sekadar pion mereka dalam Hunger Games. 

 
The Hunger Games tergolong novel distopia dari sisi seting Amerika Utara post-apokaliptik-nya, tapi gerakan plotnya yang dahsyat menunjukkan kehadirannya sebagai kombinasi aksi dan thriller. Ada sedikit unsur fantasi, ditinjau dari seting yang imajinatif dan kemunculan burung mockingjay, tapi unsur realisnya jauh lebih kental. Usaha untuk bertahan hidup adalah hal yang sangat nyata, menggetarkan, dan merupakan bagian kehidupan manusia sepanjang zaman. 
 
Brutalisme menjadi warna dominan novel ini. Tanpa kebrutalan, novel ini akan datar-datar saja. Penulis sejak awal telah memberikan bayangan kemunculan brutalisme yang akan pembaca temukan dalam perguliran plot. Sehingga, kalau pembaca tidak berminat melanjutkan, dipersilakan meninggalkan novel ini. 


Romansa hanya memakan ruang sempit, karena walaupun ditargetkan untuk pembaca remaja, cinta-cintaan bukanlah tema sentral. Cinta hanya menjadi elemen pelunak dalam kemencekaman plot, demi menunjukkan kemanusiaan para karakter utama. Tidak seperti serial Twilight Saga (Stephenie Meyer) yang menampilkan cinta segitiga secara blakblakan, cinta segitiga di sini digambarkan samar. Katniss memang belum memutuskan siapa yang akan dicintainya, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk meyakinkan perasaannya. 
 
Gagasan yang digelontorkan dalam The Hunger Games sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru. Bagaimanapun, struggle for survival semacam ini, sudah muncul sebelumnya dalam Battle Royale, novel karya penulis Jepang Koshun Takami, yang diadaptasi ke dalam film oleh Kinji Fukasaku (2000).
 
Katniss dan Peeta dalam persiapan Hunger Games








Katniss dan Gale sebelum Hunger Games

Tetra Mars



Judul Buku: Tetra Mars
Pengarang: Harry K. Peterson
Tebal: 508 halaman
Cetakan: 1, April 2011
Penerbit: Mizan Fantasi

 

 



Berbulan-bulan Slaven tidak muncul. Padahal ia berjanji akan kembali. Viola dilanda kesedihan, bahkan bermimpi buruk melihat Slaven tergantung di sebuah pilar, berdarah dengan bulu-bulu sayap rontok.

Di sebuah karnaval, Viola memasuki tenda seorang peramal. Peramal itu mengatakan bahwa di masa depan, ia melihat Viola sebagai Venus yang dikelilingi empat Mars sekaligus atau Tetra Mars. Ada sesuatu yang terlarang di sini. Ada kematian mengerikan, yang akan mengiringi perjalanan cinta Viola.

Viola mulai menghitung laki-laki di dalam hidupnya. Pertama, Slaven Dulton, si Quierro yang ingkar janji. Kedua, Daniel Scoot, mantan pacar yang masih mencintainya. Ketiga, Jeff Luke Baxter, saingan Daniel. Dan yang keempat, si murid baru dari Prancis,
Raphaël Girard. Semuanya, tentu saja, tampan. Viola tahu, yang terlarang di dalam ramalan ini adalah hubungannya dengan Slaven. Tapi siapa di antara keempat cowok itu yang akan mati?

Sementara Viola mempertanyakan ramalan itu, Slaven menemukan kejutan  di surga. Sebagai Quierro, dulu ia berharap bisa menjadi Sprixie, tapi setibanya di surga, langsung dinobatkan sebagai Orpheus, pemimpin pujian. Orpheus adalah posisi bergengsi yang diidam-idamkan banyak Sprixie. Tidak heran, pengumuman ini mengejutkan banyak Sprixie, dan melecut kemarahan salah satu di antara mereka. Slaven yang mulai menyadari bakat-bakat istimewanya mendapatkan penglihatan bahwa Viola berada dalam bahaya. Maka, ia pun melepaskan posisi bergengsi yang baru dianugerahkan kepadanya, dan kembali ke bumi.
 

Harry K. Peterson
Tetra Mars adalah buku kedua dari trilogi Aggelos karya Harry K. Peterson. Jika pada buku pertama sebagian besar cerita digelontor dari sudut pandang Viola, kali ini Slaven mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk berkisah. Dengan demikian, pembaca bisa merasakan langsung dilema yang dialami Slaven melalui penuturannya, dan bukan diceritakan Viola sebagai cerita estafet. Ini menjadi lebih menarik karena isi hati Slaven lebih bisa ditangkap pembaca. 

Sama seperti buku sebelumnya, Harry tetap mempertahankan gaya berceritanya yang memukau. Kalimat-kalimat dirangkai cermat dan bernas, memberikan pengalaman baca yang memukau. Cinta memang masih menjadi sandarannya, tapi ia tahu persis bagaimana menghadirkannya dengan indah. 

Dalam buku ini, ia pun menambahkan elemen baru yang kian memperkaya cerita. Ada surga dengan hamparan ladang gandum yang sangat luas, dengan kincir-kincir angin raksasa dan cahaya matahari bak pilar emas murni. Ada shefro yang bertugas membuat ladang gandum tetap indah dipandang dan yang mengambil bagian dalam hidup Viola (meskipun kemunculannya sampai novel habis masih menjadi tanda tanya). Ada heavebell, kereta api bobrok bersuara bising, sarana transportasi yang menghubungkan bumi dan surga. Bukankah itu sungguh imajinatif? 

Kali ini, aksi pertarungan sesama malaikat digambarkan lebih mendetail dibandingkan buku pertama. Bahkan, adegan pertarungan ini menjadi bagian terbaik Tetra Mars. Dirancang dramatis, mendebarkan dan mengejutkan. 

Pertanyaan yang terus membuntuti kita sementara membaca novel ini adalah: kematian seperti apakah yang akan mengiringi perjalanan cinta Viola? Kita akan mendapatkan jawabannya sebelum novel berakhir. Dan ketika novel berakhir, Harry menciptakan godaan, yang hanya akan terpuaskan setelah buku ketiganya diterbitkan nanti. 

Harry K. Peterson, bisa dikatakan, merupakan salah satu penulis fiksi fantasi Indonesia modern yang penuh harapan. Ketika kemampuan menulisnya semakin terasah dengan berjalannya waktu, dengan catatan ia terus menulis, kita akan menyaksikan ia mencapai kejayaan suatu hari nanti.

23 March 2012

Kejora

 
Judul Buku: Kejora
Pengarang: Nunik Utami
Tebal: 206 hlm (21 cerpen)
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: Elex Media Komputindo







Kejora disebut juga bintang timur atau bintang fajar, karena terbit di timur saat dini hari. Sebenarnya kejora bukanlah bintang, tapi salah satu planet dalam sistem tata surya. Kejora adalah Venus yang merupakan lambang dari wanita. Koleksi cerpen berjudul Kejora ini terdiri dari 21 cerita pendek yang berkisah tentang wanita. Ada satu cerpen, Sedan Biru, yang ceritanya tidak berpusat pada wanita, tapi nasib malang yang menimpa anak muda di dalamnya, gara-gara seorang wanita.

Para kejora dalam cerpen-cerpen Nunik Utami ini tidak selalu memancarkan kilauannya. Sebagian besar wanita yang ditampilkan di sini adalah wanita-wanita yang tidak bahagia. Mereka adalah Luna (Episode Tentang Luna), Ning (Pernikahan Itu…), Febri (Valentine Untuk Semua Kekasih), Gionara (Gionara), Rukmini (Rukmini), Putri (Menantu Ibu), Tere (Venezia Café) Emak (Dari Atas Gerbong), dan Ranti (Gadis Pasar). Ketidakbahagiaan mereka disebabkan karena pernikahan tidak direstui orang tua, menolak lamaran, ditinggal mati kekasih, dicampakkan kekasih, diabaikan suami, menikah dengan pria rapuh, menjadi wanita simpanan, dan kemiskinan.

Wanita yang dipanggil Val (Selingkuh Itu Indah?) sebenarnya bukanlah wanita yang bahagia, tapi ia berani memperjuangkan kebahagiaan, meskipun dengan cara tidak patut. Demikian pula wanita yang dipanggil Sher (Riang Riana) yang iri pada keriangan teman kantornya. Vani (Pesta Pernikahan Arya) juga tidak bahagia, tapi masih mampu menghadapi ketidakbahagiaannya. Oma Henkie (Ayunan Oma Henkie) sebenarnya tidak bahagia, ditinggalkan suami untuk perempuan lain, dan tidak memiliki keturunan. Tapi Oma Henkie mendapatkan kebahagiaan dari anak-anak yang tinggal dan datang di perkebunannya. Wanita yang dipanggil Vin (Akhir Sebuah Kompetisi) merasakan ketidakbahagiaan secara temporer, saat ia kalah dalam kompetensi tidak jujur untuk menjadi store manager.

Wanita yang awalnya tidak bahagia tapi kemudian merasa bahagia adalah Maya (Cinta Kartini) dan wanita yang dipanggil Nad (Matahariku). Maya menjadi tulang punggung keluarga begitu suaminya terkena program pensiun dini. Di tengah kelelahannya bekerja, ia menemukan suaminya menjadi mudah marah dan sering keluar malam. Sedangkan Nad menjadi tulang punggung Randy, kekasihnya, seorang penulis lagu gagal. Repot menghadapi keparasitan Randy, ia tak menyadari cinta seorang pria yang lebih bisa diandalkan. Mbok Mirah, si Mak’e (Mak’e) bisa dimasukkan dalam kategori ini. Ia tidak bahagia karena pernah melepaskan anaknya untuk menjadi anak orang lain.

Riana (Riang Riana) adalah wanita paling berkilau dalam koleksi cerpen ini. Orang menyangka wanita cantik periang ini banyak uang dan hidup bahagia. Hanya sebelum mereka mengunjungi rumahnya dan menemukan pilihan hidupnya. Adinda (Hasrat Adinda) memancarkan kilaunya lewat keteguhan hatinya. Wanita yang dipanggil Ndi (Chatting) juga wanita yang bahagia, tetap ceria walaupun belum punya pacar.

Satu-satunya karakter wanita yang tidak menimbulkan simpati adalah Yeni (Sedan Biru). Ia adalah seorang wanita egois yang tega memanipulasi seorang pria sampai modar. 

Nunik Utami
Sebagian besar cerpen dalam Kejora diceritakan menggunakan perspektif orang pertama. Pada beberapa cerpen ini, narator menjadi bagian cerita tapi bukan ‘pemeran utama’. Hal ini dapat dilihat dalam cerpen Episode Tentang Luna, Mak’e, Sang Idola, Pesta Pernikahan Arya, Gionara, dan Ayunan Oma Henkie. Narator orang pertama sekaligus ‘pemeran utama’ cerita dapat dilihat dalam cerpen Akhir Sebuah Kompetisi, Chatting, Pernikahan Itu…, Selingkuh Itu Indah?, Valentine Untuk Semua Kekasih, Matahariku, Hasrat Adinda, Menantu Ibu, Dari Atap Gerbong, dan Gadis Pasar. Riang Riana memanfaatkan narator orang pertama, tapi baik narator dan Riana merupakan ‘pemeran utama’. Cinta Kartini, Venezia Café, Rukmini, dan Sedan Biru adalah cerpen-cerpen yang menggunakan perspektif orang ketiga.

Hampir semua cerpen dalam Kejora memiliki akhir yang mengejutkan. Hanya saja semua kejutan tidak memberikan gedoran yang sama. Banyak cerita dengan akhir yang sudah bisa ditebak. Tapi Dari Atap Gerbong dan Gadis Pasar berakhir dengan kejutan yang menggetarkan hati.

Saya memilih Dari Atap Gerbong, Gadis Pasar, Sedan Biru, dan Valentine Untuk Semua Kekasih sebagai cerpen-cerpen yang meninggalkan kesan mendalam sekaligus yang terbaik dalam koleksi ini. Dan dari keempat cerpen ini, saya memilih Dari Atap Gerbong sebagai nomor satu.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan oleh pengarang ketika menciptakan karakter khususnya dalam hal memberi nama. Pilihan yang digunakan banyak penulis adalah memberi nama yang jelas bagi karakter atau tidak sama sekali. Kalau Nunik Utami memilih pilihan kedua, dan itu yang tampak dalam cerpen-cerpennya ini, seharusnya ia memberi tahu nama lengkap Ndi (Chatting), Tan (Mak’e), Vin (Akhir Sebuah Kompetisi), Sher (Riang Riana), Nad (Matahariku) dan Val (Selingkuh Itu Indah?).

Sebuah cerita pendek adalah karya yang menuntut kecermatan penulis. Seharusnya penulis berhati-hati agar jangan sampai melakukan kesalahan. Nunik Utami terpeleset dalam cerpen pertama, Episode Tentang Luna. Ia mengatakan bahwa keluarga Reni tinggal di sebuah apartemen lantai empat belas (hlm. 5). Tapi ia juga menyebutkan bahwa ada pohon jambu di belakang kamar Luna. Kalau ingin ke pohon itu, otomatis harus lewat kamar Luna (hlm. 3). Pohon jambu seperti apa yang ditanam di belakang sebuah kamar di lantai empat belas sebuah apartemen?

22 March 2012

Charlotte's Web



Judul Buku: Charlotte’s Web
Pengarang: Elwyn Brooks White (1952)
Penerjemah: Dina Begum
Editor: Salahuddien Gz
Tebal: 240 halaman
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: Dolphin

 

 




Persahabatan adalah salah satu dari hal-hal yang paling memuaskan di dunia, demikian yang dirasakan Wilbur terhadap persahabatan yang dijalinnya dengan Charlotte. Bisa dimaklumi mengapa Wilbur merasa seperti itu. Karena nasibnya tergantung dari persahabatannya dengan Charlotte. Wilbur dan Charlotte adalah tokoh-rokoh utama dalam novel anak-anak –tapi bagus juga dibaca orang dewasa- karya Elwyn Brooks White bertajuk Charlotte’s Web yang diedisiindonesiakan dengan judul Laba-laba dan Jaring Kesayangannya.

Wilbur adalah seekor babi yang tidak memenuhi syarat untuk tetap dipelihara di pertanian. Ia terlahir kerdil sehingga pemiliknya segera memutuskan untuk membunuhnya. Fern, gadis kecil delapan tahun, putri pemilik Wilbur keberatan dengan rencana ayahnya. “Babi itu tidak mau terlahir kecil, kan? Kalau aku sangat kecil sewaktu lahir, apakah Papa akan menyuruh orang untuk membunuhku?” tanya Fern (hlm. 14-15). Kita memang selalu seperti Pak Arable, kan? Tidak mau menerima sesuatu yang tidak masuk kriteria kita.

Pak Arable mengurungkan niatnya dan membiarkan perawatan Wilbur ke tangan putrinya. Dari Fernlah Wilbur menerima cinta yang tulus pertama kali. Fern mencintainya dan Wilbur membalas cinta Fern. Ketika Fern pergi ke sekolah, Wilbur akan menemani Fern hingga bus tiba. Ia baru akan kembali ke tempat tinggalnya di bawah sebatang pohon apel yang sedang berbunga setelah bus tidak kelihatan lagi. Sayangnya, ketika Wilbur berumur lima minggu, Pak Arable tidak mau lagi memberikan dia makan. Karena bukan babi yang diharapkan, Wilbur dijual dengan harga murah.

Wilbur pun memasuki lumbung di tanah pertanian keluarga Zuckerman. White mengantar kita masuk ke lumbung itu, seolah-olah ia sedang membimbing kita, benar-benar masuk ke sana, satu kelebihan istimewa yang pengarang ini miliki. Kita bisa mencium aroma yang berserakan di dalamnya: aroma jerami dan pupuk kandang, keringat kuda, dan harum sapi-sapi, dan ketika pintu lumbung dibuka, angin musim panas menyejukkan udara. Di sana, Wilbur tinggal bersama kuda, sapi, domba, ayam, angsa, dan  seekor tikus bernama Templeton. Tidak ada yang tahu kecuali Fern bahwa lumbung itu berpenghuni binatang-binatang yang senang bercakap-cakap. Wilbur mendapatkan tempat tidur di ruangan bawah lumbung, di bawah sapi-sapi, dan yang menjadi kasurnya adalah tumpukan kotoran sapi.

Pengarang menciptakan suasana yang membuat kita berpikir, seharusnya Wilbur hidup bahagia di sana. Tapi ternyata, pada hari-hari pertama tinggal di sana, ia sulit mendapatkan teman. Fern juga tidak selalu ada, sehingga Wilbur merasa kesepian. Pengarang melukiskan kesunyian dengan keadaan cuaca yang gelap ketika hujan turun. Di tengah kegelapan yang menyedihkan itu, justru Wilbur menemukan sosok yang akan menjadi sahabat sejatinya.

Charlotte A. Cavatica, itulah nama laba-laba kelabu sahabat Wilbur, laba-laba yang memintal jaringnya di atas ambang pintu kandang Wilbur. Bagi Wilbur, Charlotte adalah laba-laba yang cantik, tapi sulit baginya untuk segera bersahabat dengan Charlotte. Karena sebagai laba-laba, Charlotte hidup dari memangsa serangga seperti lalat. “Kamu diberi seember makanan tiap hari. Tidak ada yang memberiku makan. Aku harus cari makan sendiri. Aku hidup berkat kecerdikanku. Pikiranku harus tajam dan cerdas. Kalau tidak, aku bisa mati kelaparan,” kata Charlotte menanggapi keberatan Wilbur (hlm. 59).

White, si pengarang menyampaikan apa yang berkecamuk dalam benak si babi, dan diterjemahkan seperti ini: “Yah,” pikirnya, “aku memang mendapat teman. Tapi rupanya berteman itu seperti berjudi! Charlotte buas, brutal, licik, haus darah. Semua itu tidak aku sukai. Bagaimana aku bisa menyukainya walaupun ia cantik dan cerdik?” (hlm. 60). Keraguan Wilbur hilang bersama datangnya musim panas dan menyadari lalat adalah binatang yang tidak perlu dikasihani.

Musim panas menunjukkan bahwa Wilbur semakin besar, semakin berat dan semakin padat. Musim panas juga membawa berita buruk padanya. Pemiliknya menggemukkan Wilbur dengan makan tiga kali sehari dalam porsi banyak karena ketika musim dingin tiba, ia akan diubah menjadi daging asap dan ham, dan disajikan di atas meja makan. Sebagai babi yang sangat mencintai kehidupan, kontan Wilbur panik. Tapi tidak ada babi yang dipelihara sekadar agar dia makan, tidur, bermimpi, dan bermain-main seperti yang dilakukan Wilbur, kan? Dan untunglah ada Charlotte yang sangat mencintainya. Inilah cinta kedua yang Wilbur terima dalam hidupnya. Charlotte berjanji akan menyelamatkan Wilbur. Gagasan yang muncul mengejutkan Charlotte, karena ternyata untuk menyelamatkan Wilbur, dia hanya harus membuat orang percaya tipu muslihatnya. Di sinilah pengarang memberitahukan pada kita bahwa yang memegang peranan penting dalam novel ini bukanlah nasib Wilbur, tapi jaring Charlotte. Itulah sebabnya Wilbur tidak muncul dalam judul buku ini.

Suatu pagi berkabut, Charlotte memamerkan muslihatnya. Ia memintal sebuah jaring besar, seperti cadar yang sangat halus. Jaring itu dihiasi embun dan berkilau ketika tertimpa cahaya. Suatu pagi di musim gugur 1949, White berjalan masuk ke dalam lumbung di tanah pertaniannya di Maine, dan melihat jaring laba-laba yang mirip pintalan Charlotte. Apa yang ia lihat menginspirasinya untuk menulis buku dengan laba-laba sebagai tokoh pahlawan di dalamnya, maka lahirlah Charlotte. Hanya saja pada 1949, White tidak melihat sebuah pesan dipintal di tengah-tengah jaring. Charlotte telah memintal sebuah pesan untuk menciptakan reputasi si babi.

Usaha Charlotte membuat Wilbur tersohor. Apa yang Charlotte anggap muslihat dianggap mukjizat oleh manusia. Waktu berlalu, dan Charlotte terus memintal pesan di jaringnya yang cantik. Templeton, si tikus yang suka menggerutu, mendapatkan tugas mencari kata yang Charlotte inginkan. Ketika Wilbur dibawa ke Pekan Raya, Charlotte memutuskan untuk memintal pesan terakhir memastikan Wilbur tidak pernah muncul di atas meja makan. Ia sekaligus akan membuat magnum opus atau mahakaryanya. Sesudah itu, Charlotte akan menghilang ke balik layar dan membiarkan Wilbur mendapatkan kejayaannya. “Lihatlah kecemerlangan binatang itu! Kemudian ingatlah hari ketika kata ‘cemerlang’ muncul di jaring laba-laba. Dari manakah tulisan misterius itu? Pasti bukan dari laba-laba! Kita tahu itu! Laba-laba memang sangat cerdas dalam memintal jaring! Tapi tidak diragukan lagi, laba-laba tidak bisa menulis!” (hlm. 205)
 

E.B. White
Suatu ketika Wilbur bertanya kepadanya, “Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Aku tidak pantas menerimanya. Aku tak pernah melakukan apa pun untukmu?” “Kau sudah menjadi temanku,” jawab Charlotte. “Itu saja sudah hal yang luar biasa. Aku memintal jaringku karena aku menyukaimu. Lagi pula, apa sih sebenarnya hidup ini? Kita lahir, kita hidup untuk sementara waktu, lalu kita mati. Aku sadar, mau tak mau, hidup seeekor laba-laba kurang disukai, dengan semua urusan menjerat dan memakan lalat seperti ini. Dengan membantumu, mungkin aku bisa meningkatkan derajat kehidupanku sedikit. Yang Kuasa tahu, kehidupan siapa pun akan lebih baik jika derajatnya terangkat.” (hlm. 212-213).

Charlotte sudah memberikan makna bagi kehidupannya yang tidak abadi dengan menyelamatkan Wilbur. Tidak ada manusia yang tahu apa yang sudah Charlotte lakukan untuk Wilbur, tapi Wilbur tahu itu, dan menghargainya. “… kamu telah menyelamatkanku, Charlotte, dan dengan senang hati aku akan memberikan nyawaku untukmu.” (hlm. 213). Kelak, kebaikan Charlotte akan menjadi kenangan indah yang terpatri di dalam hati Wilbur. Bukankah kebaikan orang kepada kita akan menjadi kenangan indah dalam hidup kita?

Persahabatan adalah tema utama novel Charlotte’s Web. Setelah persahabatannya dengan Fern tidak berkembang (karena tampaknya pengarang lebih ingin menonjolkan persahabatan di antara karakter antromorfisnya), Wilbur menjalin persahabatan dengan Charlotte. Persahabatan menjadi sangat berarti di sini terkait upaya yang dilakukan Charlotte demi menyelamatkan Wilbur. Cinta memegang peranan penting dalam persahabatan mereka, karena tanpa cinta tanpa pamrih, Charlotte tidak akan mau menolong Wilbur, ia akan jadi sama dengan si tikus, Templeton.

Sebelum Wilbur bertemu Charlotte, novel ini belum berbicara banyak. Novel mulai berbicara banyak ketika Wilbur dan Chalotte bertemu dan Charlotte bersedia menjadi sahabat sejatinya. Kata-kata di jaring Charlotte yang paling banyak bercerita dan merupakanh hadiah terindah Charlotte bagi Wilbur, karena ketika jaring itu bercerita, Wilbur pun terselamatkan.

Dalam hal menghidupkan dunia Charlotte, pengarang adalah juaranya.  Ia telah melakukan riset pustaka untuk memberikan kepada kita sesuatu yang terpercaya. Sesuatu yang membuat kita ikut bersepakat pada apa yang dikatakan dokter Dorian: “Ketika kata-kata itu muncul, semua orang mengatakannya sebagai mukjizat. Tapi tak seorang pun yang menyadari bahwa jaring laba-laba itu sendiri adalah mukjizat.” (hlm. 143).

Jika dengan memintal kata-kata itu di jaringnya Charlotte telah memberikan hadiah terindah kepada Wilbur, dengan membaca novel ini, kita menerima hadiah terindah dari Elwyn Brooks White. Dan seperti orang-orang percaya pada pesan yang dipintal Charlotte, kita juga percaya dengan pesan dalam buku ini.

Ada satu kalimat yang agak mengganggu saat Bu Zuckerman mengumumkan kalau dia akan memandikan Wilbur dengan susu mentega. Terjemahannya menjadi seperti ini: “… aku akan memandikan babi itu dengan susu mentega, cairan sisa setelah mentega dipisahkan dari susu.” (hlm. 15). Seharusnya kalimat yang ditulis miring  itu tidak perlu dimasukkan dalam ucapan Bu Zuckerman karena ucapannya menjadi janggal (Coba Anda ucapkan kalimat itu). Itupun kalau maksudnya sudah benar. Sebaiknya diberi keterangan saja, semacam catatan kaki, apa itu susu mentega (dalam bahasa asli buttermilk bath). Masukkan saja kata ‘buttermilk bath’ ke mesin pencari Google, Anda akan menemukan berbagai jenis buttermilk bath di sana.

Novel yang mendapatkan penghargaan Newberry Honors pada 1953 ini telah diadaptasi ke dalam film dua kali dan telah dibuatkan versi video game-nya. Nasib Wilbur setelah novel ini berakhir pernah dilanjutkan, tidak dalam bentuk buku, tapi sebuah film animasi berjudul Charlotte’s Web 2: Wilbur’s Great Adventure. Bagi saya, kisah Wilbur cukuplah sampai di sini, tidak akan ada lagi jaring yang sama seperti jaring Charlotte.

Judul edisi Indonesia terbitan penerbit Dolphin sudah tepat, namun sebaiknya judul aslinya tetap disematkan, kalau perlu di sampul novel ditampilkan menggunakan font berukuran besar. Kritik yang lain untuk edisi Indonesia ini adalah terlalu banyak individu yang menyampaikan endorsement. Setelah dihitung-hitung ada duapuluh delapan orang. Sungguh berlebihan, dan jujur saja, cukup mengganggu.
 
21 March 2012

Mistress of the Game



Judul Buku: Mistress of the Game
Pengarang: Tilly Bagshawe (2009)
Penerjemah: Hidayat Saleh & Rully Larasati
Tebal: 600 halaman, 18 cm 

Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 
 



Sidney Sheldon telah meninggal dunia. Tapi novel-novel yang pernah dilahirkannya meninggalkan bekas dalam benak para pembacanya. Tilly Bagshawe mungkin dulunya pembaca novel-novel Sidney Sheldon, dan tidak bisa melupakan kesan yang ia dapatkan ketika membaca Master of The Game (1982). Dalam novel ini, Sidney Sheldon mengangsurkan kepada pembaca karakter paling sentral bernama Kate Blackwell, seorang perempuan ambisius dan manipulatif.  Kate Blackwell menggerataki kehidupan orang lain, termasuk putra semata wayangnya, Tony Blackwell, demi menuntaskan ambisinya. Ambisi terbesar dan terakhir Kate Blackwell adalah menemukan pengganti untuk duduk di tampuk kekuasaan perusahaannya, Kruger-Brent Limited. 

Di penghujung novel Master of The Game, Kate Blackwell harus meredam ambisinya ketika Alexandra Blackwell, cucunya, dan Peter Templeton, suami Alexandra, menolak untuk mengambil kendali konglomerasinya. Pasutri itu juga menghempaskan harapan Kate yang ia taruh pada Robert Templeton, anak mereka. Jauh sebelumnya, Kate pernah menggantungkan harapannya pada Eve Blackwell, saudari kembar Alexandra. Tapi, kejahatan Eve membuat Kate jera, dan melepaskan harapannya. Eve Blackwell adalah seorang pembunuh dengan riwayat petualangan seks yang panjang. Petualangan seks Eve baru berakhir manakala Keith Webster, dokter bedah plastik yang menjadi suaminya, merusakkan kecantikan wajahnya, dan membuatnya menjadi tawanan di rumah sendiri. 

Tilly Bagshawe
Dua tahun sepeninggal Sidney Sheldon, Tilly Bagshawe 'mengenakan sepatu' Sidney Sheldon, dan melanjutkan kisah dalam Master of The Game. Masih dalam tradisi Sheldon, Tilly Bagshawe menciptakan karakter perempuan bernama Lexi Templeton. Cantik, pintar, ambisius, dan tuli! Ia diculik pada umur delapan tahun, mengalami pelecehan seksual dan kehilangan pendengaran. Menginjak masa remaja, Lexi melibatkan dirinya dalam petualangan seks untuk menunjukkan pada dunia kalau penculikannya tidak membuatnya kalah. Ketika diculik dan dilecehkan, Lexi tidak melawan, tetapi mengingat baik-baik para penculiknya dan menetapkan pembalasan dendam dalam hatinya.

Lexi lahir dua tahun setelah Kate Blackwell meninggal dan akhirnya dengan terpaksa Peter Templeton meninggalkan praktek psikiaternya untuk memegang kendali Kruger-Brent. Kelahiran Lexi –nama panjangnya Alexandra seperti nama ibunya- membuat Peter kehilangan istri, dan Robert kehilangan ibu. Peter mencintai Lexi dan cemburu pada kedekatan Lexi dengan abangnya, Robert. Bagi Peter, Robert telah mencuri istri dan anak perempuannya. Psikiater yang biasanya menangani pasien gangguan kejiwaan, mulai kehilangan kewarasannya, dan hampir membunuh kedua anaknya. Hubungannya dengan Robert memburuk, Robert menyerahkan haknya atas Kruger-Brent kepada Lexi dan meninggalkan rumahnya. Dalam petualangannya, Robert menemukan cinta sejatinya dalam diri seorang konduktor terkenal di Paris: Paolo Cozmici. Pria ini membantu memuluskan karier Robert sebagai pianis terkenal dunia. Meskipun terpisah jauh dengan adiknya, Robert tetap mencintai Lexi. Demikian pula sebaliknya.

Tanpa Robert di Kruger-Brent, Lexi harus menghadapi pesaing beratnya, sesama buyut Kate Blackwell. Max Webster, adalah putra dari Eve Blackwell dan Keith Webster yang lahir pada tahun yang sama dengan Lexi. Kelahiran Max direncanakan Eve untuk mendapatkan: “Seseorang yang bisa ia cetak sesuai citranya sendiri, ia beri makan dengan kebenciannya sendiri, dan ia kirim ke dunia untuk melakukan segala yang ia, seorang tawanan di rumah sendiri, tidak lagi bisa laksanakan.” (hlm. 56). Max tidak hanya membunuh Keith Webster untuk Eve, tapi juga akan membawa Kruger-Brent kepada ibunya. Ia hanya harus menjalankan semua strategi busuk yang dirancang Eve.

Celakanya, Max adalah pria menarik yang tidak sanggup ditolak Lexi. Tanpa peduli lagi jika hubungan mereka sebenarnya inses, Lexi terlibat percintaan dan hubungan seks dengan Max. Celakanya lagi, dalam hubungan seks dengan Max, Lexi menemukan gelora seks yang ia dambakan, seks yang seharusnya: brutal dan menyimpang. Lexi terlambat menyadari rencana busuk yang dijalankan Max, yang diskenariokan Eve Blackwell. Ia harus menanggung malu dan didepak dari Kruger-Brent.

Kate Blackwell, si Ratu Berlian, adalah Master of The Game -penguasa permainan, tapi yang diinginkan Lexi adalah menjadi Mistress of The Game. Mistress of The Game. Inilah yang sesungguhnya ingin aku capai, apa pun yang kau atau Max atau orang brengsek lainnya di sini (Kruger Brent) pikirkan,” kata Lexi kepada Peter Templeton (hlm. 305). Itulah Lexi. Maka, setelah ia dicampak keluar dari konglomerasi yang diidam-idamkannya, ia menyusun rencana untuk kembali. Bersamaan dengan usaha Lexi untuk merebut kembali Kruger-Brent, kehidupannya akan diwarnai cinta Gabriel McGregor, pengkhianatan, kematian, kasih sayang Robert Templeton, kecurangan, dan di ujungnya, terdapat sebuah pernikahan. Tapi Eve Blackwell tidak akan tinggal diam. Perempuan tua itu akan terus menjadi Nemesis, yang akan membuntuti kehidupan Lexi hingga yang tampak seolah-olah tidak ada jalan kembali.

Mistress of The Game yang diedisiindonesikan sebagai Penguasa Berlian masih sama ambisiusnya dengan pendahulunya kendati dengan takaran yang lebih encer. Jika Master of The Game membentangkan, terutama, lima generasi McGregor-Blackwell, fokus utama novel ini adalah generasi keenam: Lexi Templeton dan Max Webster. Kendati merupakan sekuel, pembaca yang belum pernah membaca Master of The Game, dapat juga menikmati novel ini. Pengarang tidak membiarkan pembaca baru dililit kebingungan, karena sebelum cerita semakin jauh dari bagian Prolog, ia akan menyajikan secara garis besar isi Master of The Game.

Sebelum mencapai akhir novel, mungkin akan timbul pertanyaan dalam benak pembaca. Cerita dimulai tahun 1984 ketika Kate Blackwell meninggal dalam usia 92 tahun diikuti kelahiran dua buyutnya, Lexi Templeton dan Max Webster. Menjelang novel berakhir, Lexi, si Penguasa Berlian, melewati usia 40 tahun. Dalam bagian prolog yang merupakan fragmen dari bagian akhir novel disebutkan Lexi berusia 41 tahun. Kalkulasi otomatis di kepala akan menginformasikan kalau usaha Lexi untuk merebut Kruger-Brent terjadi di masa depan dari sekarang (novel terbit pertama kali tahun 2009). Pembaca mungkin akan mengira dari segi latar tahunnya, Mistress of The Game retak dan mengalami cacat. Tapi saat pembaca tiba di halaman 594, baru akan mengetahui, novel ini memang berakhir tahun 2025.

Satu pertanyaan yang belum terjawab setelah novel benar-benar habis adalah: bagaimana caranya Eve Blackwell dari ranjang di griya tawangnya di Manhattan bisa mengetahui kejahatan yang dilakukan Lexi Templeton? Pertanyaan ini akan membiakkan pertanyaan baru. Mungkinkah Mistress of The Game masih akan memiliki sekuel?

Tilly Bagshawe, jurnalis dan novelis asal Inggris, mampu berjalan dalam sepatu Sidney Sheldon dengan baik, sehingga jika tidak membaca namanya sebelumnya, pembaca akan mengira novel ini masih keluar dari kepala Sidney Sheldon. Mistress of The Game masih merupakan novel thriller yang sanggup merebut perhatian pembaca. Novel ini dibentangkan dalam plot yang bergulir cepat dan dramatis dengan kekuatan ekonomi kata-kata khas Sidney Sheldon, direntangkan di antara berbagai negara: Amerika Serikat, Inggris, Afrika Selatan, dan beberapa Negara Eropa. Kita tidak membutuhkan banyak waktu untuk menandaskan novel ini dengan mudah.

Masih dalam tradisi Sidney Sheldon, Tilly Bagshawe telah menerbitkan After the Darkness (2010) dan akan menerbitkan Angel of The Dark (2012) untuk melengkapi serial Sidney Sheldon-nya. Jika saat membaca Master of The Game, dengan mudahnya pembaca akan menetapkan sebenarnya Sidney Sheldon-lah si penguasa permainan, demikian juga saat membaca Mistress of The Game. Tilly Bagshawel-ah si Mistress of The Game yang sesungguhnya.

Mistress of The Game sungguh sebuah novel yang tidak bisa ditolak kehadirannya. 

Cerita Cinta Enrico



Judul Buku: Cerita Cinta Enrico
Pengarang: Ayu Utami
Tebal:vii + 244 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia







Setiap orang memiliki kisah hidupnya sendiri. Tapi tidak semua orang bersedia atau mendapat kesempatan kisah hidupnya dijadikan novel. Salah satu pertimbangan untuk mendapatkan kesempatan yang dimaksud adalah popularitas. Orang itu bisa pahlawan, atau pesohor yang memiliki pengalaman hidup luar biasa, sehingga layak dibagikan kepada orang lain. Enrico bukanlah nama populer, kecuali mungkin bagi sebagian orang yang berkecimpung dalam dunia fotografi. Karena ia adalah Erik Prasetya atau Prasetya Riksa, seorang fotografer yang telah menerbitkan buku foto bertajuk  Jakarta Estetika Banal (2011). 

Dari situs sang pengarang, diketahui bahwa, Ayu Utami menulis novel ini karena kisah Enrico menggambarkan hidup seorang anak bangsa yang terpusar peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, dan karena kisah Enrico baginya adalah kisah tentang cinta seorang anak kepada ibunya, bukan dalam bentuk klise-ideal dan mulus. Menurut pengakuannya, ia telah mendengar penggalan-penggalan kisah Enrico selama lebih dari 11 tahun. Oleh sebab itu, hanya dalam waktu sekitar 2,5 bulan, Cerita Cinta Enrico pun tuntas ditulis. Dalam proses kreatifnya, Ayu mengaku tidak selalu setia pada versi asli yang diceritakan Enrico. Ia melakukan improvisasi dengan memoles cerita asli, mengatur kembali percakapan, dan melakukan pemaknaan dan penafsiran sendiri. 

Seperti judulnya, Cerita Cinta Enrico, buku yang oleh pengarangnya disebut novel kisah nyata, (kisah nyata yang ditulis dalam bentuk novel) bercerita tentang cinta. Ayu membagi cerita cinta ini ke dalam tiga bagian meliputi: Cinta Pertama, Patah Hati, dan Cinta Terakhir? (Pakai tanda tanya!). 

Cinta pertama Enrico adalah perempuan yang ia makan bagian puting payudaranya sewaktu bayi, yaitu ibunya sendiri. Ia lahir berbarengan dengan pengumuman deklarasi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan bergerilya di belantara hingga berusia 3 tahun mengikuti kelompok pemberontak. Dalam “Catatan Akhir”, Ayu menyatakan bahwa ia tidak melakukan penyesuaian terhadap cerita Enrico. Bahwa ia dibawa masuk hutan saat berumur satu hari (ia lahir 15 Februari 1958). Karena ternyata, catatan sejarah mengungkap bahwa penyerangan tentara pusat terhadap PRRI baru terjadi pada bulan Mei 1958. “Kemurnian persepsi anak-anak lebih utama daripada fakta-fakta obyektif,” dalih Ayu. Karena hidup di belantara, maka kehidupan cinta Enrico memang berawal dari sana. Ia mulai mengenali ibunya sebagai perempuan yang memberinya air susu walau dalam keadaan terbatas.

Seiring pertambahan usia, pengenalan akan ibunya kian bertambah. Bahwa ibunya adalah seorang perempuan modern, pernah menjadi pekerja kantor, fasih berbahasa Belanda, selalu memakai rok selutut, dan sejumlah kebisaan lainnya. Terutama, bahwa sang ibu memakai sepatu pantovel untuk kaki kokoh dengan betis penuhnya. Dalam periode kanak-kanak Enrico yang masih bergelimang cinta, demi pujian ibunya, Enrico akan memeragakan kemampuan menyemir sepatunya. Ibunya adalah pusat dunianya, dan ia mencintainya. Tapi, setelah kematian Sanda, kakaknya, ibunya berubah. Bagi Enrico, kematian Sanda adalah tikungan dalam hidup semua anggota keluarganya. Ibunya berubah dingin, keras, dan pahit. Enrico kehilangan kebanggaannya terhadap ibunya. Apalagi pada saat paling terpuruk dalam hidup ibunya, datang pengkabar dari Saksi Yehowa yang mengiming-iming ibunya. Bahwa Saksi Yehowa akan dibangkitkan kembali pada Hari Kiamat, di mana mereka akan bangkit dalam tubuh yang sama di muka bumi yang sama. Tak pelak lagi, ibunya percaya jika pada Hari Kiamat ia akan berjumpa kembali dengan Sanda. 

Keterlibatan ibunya dalam Saksi Yehowa membuat Enrico patah hati. Ia masih menyemir pantovel ibunya, tapi tidak lagi dengan cinta. Tanpa dicegah, Enrico pun tercebur dalam pergaulan anak-anak yang membuatnya nakal di mata ibunya. Kenakalan ini, menurut ibunya, akan mempersingkat umur ibunya. Di sisi lain, Enrico mulai tidak betah dengan ibunya. Ia merasa hidup dengan ibunya menjadi semacam penindasan, membuatnya bodoh seperti ayam broiler, dan ia ingin kuliah di Jawa untuk membebaskan diri. Tiket kebebasan Enrico adalah dibabtis sebagai Saksi Yehowa sesuai keinginan ibunya. Enrico sendiri tidak ingin menjadi bagian dari Saksi Yehowa sebab katanya: “Pembabtisan itu bagiku adalah titik di mana aku tak mau lagi percaya pada Tuhan. Persetan dengan Tuhan. Agama telah merusak ibuku. Ibuku yang dulu cantik, hebat, dan periang itu kini telah diringseknya menjadi makhluk yang lain sama sekali. Aku dendam pada agama.” (hlm.127). Setelah pembabtisan, ia bertekad tidak akan membiarkan kebebasannya dirampas orang lain. 

Lepas dari ibunya, kehidupan Enrico berubah. Ia bebas menentukan masa depannya, dan bebas terlibat hubungan asmara/seks ekstramarital. Sesuai dengan tekadnya, Enrico yang dulu mencintai ibunya meneguhkan prinsip hidupnya. Ia tidak ingin menikah. Tidak ingin punya anak. Dan sesuai dengan prinsipnya ini, ia bebas berpetualang dengan berbagai perempuan, yang masih mencari jodoh ataupun yang sudah terikat perkawinan. Baginya, perempuan hanyalah teman tidur. Prinsip ini ia pegang teguh hingga ia menyadari kesebatangkaraannya di dunia, sepeninggal kedua orangtuanya. Ia merasakan kekosongan dalam dirinya, yang hanya bisa diisi oleh perempuan yang tidak perlu ia waspadai, yang tidak akan merampok kebebasannya. Ia pun bertemu A, perempuan yang memiliki kesamaan prinsip dengannya. Sesudah episode pemotretan telanjang, mereka terlibat hubungan asmara dan seks bebas. 

Ayu Utami
Dalam pandangan A seks bukanlah sesuatu yang sakral, maka ia melakukan hubungan seks tanpa mau terikat perkawinan. Ia terlilit ambiguitas: melakukan seks bebas tetapi mengaku beragama. Ia Katolik, sebal pada khotbah pastor yang katanya patriarkal dan menggurui, tidak komuni karena berzinah melulu dan tidak merasa itu sebagai dosa. Ia merasa persetubuhannya dengan Enrico bukanlah dosa karena katanya: “Aku kan tidak mengkhianati dan membohongi siapapun.” (hlm. 201). Menurutnya, ia tidak berdosa karena berzinah, tetapi karena melepaskan seks dari fungsi reproduksi (hlm. 204). Sehabis bersetubuh, ia pun mengajak Enrico berbincang tentang seks dalam kitab suci. Poligami dan monogami. Sarai dan Abraham. Batseyba, Daud dan Uria (bukan Uriel). 

Daud sendiri adalah keturunan Isai. Nah, Isai lahir dari persetubuhan menantu dan mertua – sebuah pelanggaran hukum masyarakat! Tapi pelanggaran hukum ini terjadi karena hukum yang ada pun tidak adil pada yang lemah. Yang lemah dalam hal ini adalah Tamar, menantu perempuan Yehuda. Yehuda seharusnya memberikan anak bungsunya menggantikan suami Tamar yang mati – sesuai adat yang berlaku waktu itu. Tapi, Yehuda tidak mau melakukannya. Akibatnya Tamar tidak bisa mendapatkan keturunan. Maka, Tamar menjebak mertuanya sendiri, mertua yang curang itu, untuk menghamili dirinya.” (hlm. 203-204). A mungkin tidak tahu kalau Isai tidaklah lahir dari persetubuhan Yehuda dan Tamar tapi keturunan mereka. Ia mungkin tidak tahu kalau Isai terhubung dengan Tamar dan Yehuda dalam rantai silsilah yang sangat panjang. 

Karena memandang seks bukanlah sesuatu yang sakral, tanpa kawin, ia sudah bisa menikmati seks dengan bebas, yang penting suka sama suka. Perkawinan baginya merupakan penindasan atau tekanan (sama seperti yang dianut Enrico), dan harus ada pembebasan dari itu. Hukum perkawinan Indonesia menjadikan suami kepala keluarga, ia tidak mau itu. Ia mencari celah, dan menemukan dalam agamanya sendiri, Katolik. “Aku ternyata baru tahu bahwa dalam hukum perkawinan Katolik tidak ada itu ayat yang menyatakan suami menjadi kepala keluarga atau pemimpin keluarga,” katanya (hlm. 231). Ia pun mau mengubah keputusannya. Nah, lho, kenapa ini?  “Aku tak menemukan kesalahan ontologis pada konsep perkawinan Katolik.” (hlm. 232). Kondisi yang sama dalam keberlangsungan hubungan cintanya: Enrico tidak punya kesalahan ontologis!

Akhirnya, Enrico atau Erik Prasetya, dan A atau Ayu Utami, yang sama-sama memandang perkawinan sebagai penindasan, menikah secara gereja. Dengan pernikahan ini, Ayu Utami mematikan lagu lamanya yang telah lama berkumandang: Parasit lajang! Ia memberi gelar baru bagi dirinya sendiri dalam judul novel kisah nyata yang lagi dalam proses penulisan: Eks Parasit Lajang. Atau kalau membaca ‘bocoran’ yang ada (hlm. 244), mungkin juga cocok diberi judul: Cerita Cinta Eks Parasit Lajang atau Cerita Cinta A. Hehehe.

Setelah bagian Cinta Pertama dan Patah Hati, pembaca memang tiba di Cinta Terakhir? (dengan tanda tanya!). Mengapa pengarang membubuhi judul bagian terakhir dengan tanda tanya? Jawabannya jelas: keraguan! A masih ragu cinta Enrico padanya akan menjadi cinta terakhir. Jadi, kalau Enrico benar-benar serius menjadikan A cinta terakhir, maka ia harus menjaga dirinya. Jangan sampai melakukan kesalahan ontologis. Hehehe.

Enrico, pemilik biografi cinta dalam novel ini, mengatakan bahwa kisah hidupnya yang dinovelkan ini adalah: “Sebuah proses yang membantuku menerima mengapa ibuku tidak sanggup melihat kebaikan yang ada padaku. Sebuah proses yang membantuku berdamai.” (hlm. 235). Sebuah proses melepaskan cinta pertama untuk menyongsong cinta terakhir (sekali lagi, dengan tanda tanya!). Proses ini tidak gampang, karena Enrico harus melewati perguliran puluhan tahun yang membuat rambutnya berubah kelabu. Dan proses ini membutuhkan kemampuan merangkai kalimat bergizi nan apik. Ayu Utami memilikinya, dan di tangannya proses ini menjadi sedap dibaca. Walaupun pada banyak tempat terasa datar, karena kehidupan Enrico bukanlah fiktif tetapi nyata, seperti kehidupan kita sendiri. 

Di hadapan Ayu Utami, meskipun tidak bersunat, Enrico tidak perlu bersikap waspada, tidak perlu malu telanjang seperti Adam ketangkap basah berbuat dosa di Eden. Di hadapan pembaca, Erik Prasetya juga Ayu Utami, tidak perlu bersikap waspada dan tidak perlu malu dengan ketelanjangan yang ada: mengikatkan diri dalam pernikahan gereja, setelah sebelumnya tidak berniat menikah dan merayakan kehidupan seks bebas. 

Dari situs pribadinya, kita mengetahui bahwa selain novel Eks Parasit Lajang yang direncanakan terbit akhir tahun 2012, Ayu Utami juga sedang dalam proses penulisan novel seri Bilangan Fu yang kedua dari duabelas yang direncanakan. Lalita, demikian judul novel tersebut, akan mengikuti novel sebelumnya, Manjali dan Cakrabirawa (2010). 

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan