30 May 2012

Kristalisasi: Sepuluh Kisah

 









Judul Buku: Kristalisasi – Sepuluh Kisah
Pencipta Hikayat: Ami Raditya
Tebal:  266 hlm
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 


Konsep dunia Vandaria diciptakan Ami Raditya dengan sistem open world atau shared world. Siapa pun yang berminat pada konsep ini bisa ikut mengembangkan dan memperkaya Dunia Vandaria sebagai bagian dari gagasan yang dinamakan kristalisasi. Semua karya yang kemudian disebut Vandaria Saga akan mengambil latar belakang sejarah Vandaria yang meliputi era tiga negeri awal, era kaum naga, era negeri-negeri kuno, era kekuasaan frameless, era persamaan derajat manusia-frameless, dan era kekuasaan manusia.  

Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengajak berbagai kalangan mengkristal bersama Dunia Vandaria adalah Kontes Cerpen Vandaria. Beberapa cerpen dari kontes tersebut dikompilasi bersama cerpen lainnya dan diterbitkan dengan judul: Kristalisasi: Sepuluh Kisah. Koleksi cerpen ini memang terdiri dari sepuluh kisah yang ditulis Alexia DeeChen, Melody Violine, Aryo Pratomo, Harbowoputra, Andry Chang, Pratama Wirya Atmaja, Rynaldo Cahyana Hadi, Iris Aegis, Ami Raditya, dan Hans J. Gumulia. Karena ditulis oleh sejumlah pengarang, maka cerita-cerita dalam koleksi ini mengusung berbagai hal yang variatif: tema, latar sejarah Vandaria, dan tentu saja, gaya bercerita. 
 
Koleksi cerpen ini dibuka dengan pengantar berisi kisah terciptanya Vandaria yang dilengkapi ilustrasi karya Rama Indra dan Azisa Noor, duo penyusun hikayat. Setelah Daftar Isi yang -anehnya- dibiarkan kosong, sebuah peta dunia Vandaria disajikan lengkap dengan ketujuh daratannya: Tanah Utama Vandaria, Elir, Ro’vel, Acro, Kepulauan Alterian, Arkasia, dan Titardine. Delapan cerita dalam koleksi cerpen ini mengambil seting Tanah Utama Vandaria, dan dua cerita lainnya menggunakan Elir dan Acro. 
 
Cerpen pertama Bisikan Sang Angin adalah garapan Alexia DeeChen yang menjadi salah satu satu pemenang Kontes Cerpen Vandaria. Berseting Tanah Utama Vandaria, Alexia menghadirkan kisah penaklukan Isfaris, negeri yang didirikan sebelum era tiga negeri awal berakhir, oleh Edenion. Isfaris mengalami kekalahan yang menyedihkan dan pemimpinnya, Evander Evrard, dikecundangi frameless bertopeng perak. Tiga hari setelah tumbang, Evander terbangun dan menemukan dirinya ditolong separuh frameless bernama Helaine. Alexia yang akan menerbitkan novel Selepas Senja, salah satu novel dari proyek Kristal Merah Vandaria, berhasil memanfaatkan seting awal era kekuasaan frameless untuk mengalirkan kisah yang melahirkan interaksi bermuatan kejutan.

Melviola, gadis pemain viola nan cantik adalah akar permasalahan dalam cerpen Padamnya Bintang-Bintang Vaeran garapan pengarang bernama indah, Melody Violine. Setelah Melviola meninggalkan Edenion, Vaeran Iervaanah, si penyihir alam, mengajak penyair Charnd Darion untuk mengembara. Tanpa sepengetahuan Charnd sesungguhnya Vaeran mempunyai rencana jahat untuk mencelakakannya. Cerpen pemenang Kontes Cerpen Vandaria ini menghadirkan dua cinta sepihak di antara tiga pelaku cerita untuk mengisi bolong dalam Harta Vaeran, novel Vandaria Saga yang telah diterbitkan sebelumnya. Sehingga akhirnya, cerpen ini menjadi prekuel bagi novel Harta Vaeran. Cerpen karya pengarang yang akan menerbitkan novel Putri Teranala dari proyek Kristal Merah Vandaria ini adalah satu-satunya cerpen yang menyajikan kisah cinta lengkap dengan kerumitannya. “Percintaan manusia memang perasaan yang paling tak sanggup kalian atasi. Pemberian hati yang sepihak bisa menghancurkan manusia,” tulis Melody (hlm. 44). 
 
Sebulan sekali, seorang anak manusia dalam kondisi tidak sadar dikirim ke Kastel Deimos untuk diubah oleh alkemis menjadi batu filsuf, batu legenda yang memiliki kemampuan memanipulasi Jiwa Dunia. Kisah ini terdapat dalam Batu Filsuf cerpen rekaan Aryo Pratomo yang dituturkan dari perspektif orang pertama menggunakan seting menjelang berakhirnya era kekuasaan frameless. Kejutan dipersiapkan Aryo di bagian pamungkas dalam rangka mengungkap siapa sebenarnya Hamon, penghuni kastel yang lain, dan tujuan penciptaan batu filsuf yang disaksikannya.

Kreativitas dalam hal penggunaan seting waktu muncul dalam cerpen Musim Gugur besutan Harbowoputra. Pengarang yang akan menerbitkan Perisa, novel yang ditulis untuk proyek Kristal Merah Vandaria, mengisahkan tiga pelaku dari tiga zaman yang dihadang satu dilema yang sama. Dilema itu terkait dengan naga bernama Kosai, Cakram Pualam, dan sebuah keputusan bak buah simalakama. Satu-satunya cara yang harus ditempuh oleh ketiganya disampaikan pengarang di bagian akhir cerpen sebagai kejutan yang menjawab setiap pertanyaan yang muncul dalam pikiran pembaca.

Di tengah-tengah peluang menciptakan konflik seputar pergantian era di dunia Vandaria, Andry Chang yang pernah menerbitkan Fireheart: Legenda Paladin (Sheila, 2008) memunculkan gagasan lain dari yang lain. Lewat cerpen bertajuk Nyanyian Alam, Andry berhasil menggelontorkan gagasan ekologis melalui karakter perempuan bernama Fyanei yang mampu berkomunikasi dengan tanaman. Pengarang yang juga terlibat dalam proyek Kristal Merah Vandaria dan akan meluncurkan novel Musafir Bedina ini menciptakan sebuah desa yang namanya mengingatkan pada seorang dukun cilik sebagai lokasi kejadian ceritanya.
 
Untuk menjadi penyihir dibutuhkan pengetahuan dan kekuatan sihir. Pengetahuan sihir bisa dipelajari dengan membaca buku-buku sihir, sedangkan kekuatan sihir bisa didapatkan dari jantung naga. Gael Grifon, seorang manusia, bertekad menjadi penyihir dan berguru pada Aedon. Agar bisa diterima, Gael bersedia menjadi kelinci percobaan untuk ramuan buatan sang penyihir. Berkebalikan dengan Gael, naga yang jantungnya diincar, mengetahui kelicikan Aedon, dan ia tidak akan membiarkan Aedon mengambil jantungnya. Gael Grifon adalah karakter utama dalam satu-satunya cerpen dengan sentuhan humor yang cukup menggelitik dalam koleksi cerpen ini: Padang Hijau Atap Merah karya Pratama Wirya. Pengarang yang telah melahirkan novel Harta Vaeran ini akan melanjutkan kisah Gael Grifon dalam novel Telinga Rashnu sebagai bagian dari proyek Kristal Merah Vandaria.

Kata sahibulhikayat, dahulu kala, gerbang alam Reigner yang dijadikan para Vanadis untuk memenjarakan para deimos, terbuka. Akibatnya, Vandaria mengalami kekacauan yang hebat. Para Vanadis memutuskan turun ke tanah Vandaria sebagai Pejalan Cakrawala  dan bertempur dengan para deimos untuk kemudian memenangkannya. Dalam pertempuran itu Gallizur yang memimpin para Pejalan Cakrawala menghilang seiring dengan ramalan yang menyatakan bahwa Semiazas, si pemimpin para deimos, akan kembali ke Vandaria untuk membalas dendam. Konon, hanya tiga relik agung Gallizur yang akan menghentikan Semiazas. Maka para pemburu relik yang berjuluk Sang Pencari melaksanakan pencarian di seluruh penjuru Vandaria. Tiga di antaranya menemukan salah satu relik yaitu Agheu Glas, pedang yang digunakan Gallizur dalam pertempuran dengan para deimos. Masih ada dua relik yang harus mereka temukan, dan pencarian ini mengantar mereka pada sebuah kenyataan mengejutkan terkait dengan dua relik lainnya. Jujur, saya mengira cerpen Relik Agung Gallizur karya Rynaldo Cahyana Hadi akan berakhir begitu kejutan ini diungkapkan. Tapi tampaknya pengarang yang juga akan meramaikan proyek Kristal Merah Vandaria dengan menerbitkan novel Tabir Nalar ini masih kurang puas, maka ia pun menggandakan kejutan hingga kalimat penutup.

Di bawah bulan separuh kota Zarkand yang bebas dari cengkeraman frameless pada era kekuasaan frameless, seorang remaja lelaki yang tidak pernah mengenal orangtuanya terlibat perbincangan dengan pria tua yang mengaku sebagai mantan Imperium Penunggang Kuda. Si remaja mendengar cerita yang sukar diterimanya dari pria tua itu, bahwa setelah menjadi desertir dalam keadaan terluka, si pria tua ditolong frameless perempuan. Di bawah bulan separuh kota Zarkand di mana manusia dan frameless tidak mengenal belas kasihan, si remaja anonim mencuri dari si pria tua. Ia mencuri demi mendapatkan sesuap nasi, tanpa menduga pencuriannya memang telah dinubuatkan. Kisah muram dalam cerpen Di Bawah Bulan Separuh ini merupakan hasil rekaan Iris Aegis yang dikisahkan dengan nada lirih tapi menyesakkan.

Sang kreator dunia Vandaria memang sudah semestinya menunjukkan perannya dalam kristalisasi. Itulah yang dikesankan Ami Raditya dengan mengikutkan cerpennya Beri Kami Damai. Cerpen ini mengisahkan tentang Arvena, perempuan muda yang bekerja sebagai penyair angkatan bersenjata Meridiz. Arvena selalu hadir di tengah-tengah perang guna menangkap berbagai kisah yang akan diboyong ke ibu kota. Di alun-alun dengan iringan mandolin, ia akan menyanyikan syair kepahlawanan para pejuang Meridiz yang gugur di medan perang dengan cara yang mengiris hati. Tidak ada yang tahu selain Abel yang menjaganya selama di medan perang, kalau semua syair indah yang dibesut Arvena adalah pepesan kosong semata. Arvena tetap melantunkan syair-syair penuh kebohongan sampai seorang remaja kenalannya tewas dalam perang. Pesan mulia disisipkan dalam cerpen yang menggugah ini bahwa kebenaran adalah hak semua orang dan tidak ada satu pun yang baik dari sebuah perang. Abel, sang penguasa pedang, yang berperan penting dalam mendorong lahirnya era keenam dalam sejarah Vandaria akan muncul lagi sebagai karakter sentral dalam komik Linimasa dan Zephyron.

Cerpen Pentagon karya Hans J. Gumulia menutup koleksi cerpen ini. Pentagon tidak lain adalah prekuel dari Trilogi Elir (akan terdiri dari Takdir Elir, Waktu Elir, dan Roda Elir). Bagi yang sudah membaca Takdir Elir, cerpen ini akan menjadi pelengkap. Bagi yang belum, cerpen ini akan menimbulkan tanda tanya sehubungan dengan kisah lima karakter di dalamnya. Sebagai sebuah cerpen yang berdiri sendiri, Pentagon bukanlah cerpen yang berhasil. Kenihilan konflik di dalamnya menjadikan cerpen ini tidak cukup menarik.
 
Selain Pentagon, cerpen-cerpen dalam koleksi ini menawarkan konflik yang jelas sehingga mengundang minat pembaca. Hanya saja, hampir semua cerpen memiliki kelemahan yang nyaris serupa: kurang matang dalam pengolahan kalimat. Jika harus memilih, saya menetapkan Beri Kami Damai sebagai cerpen yang paling mentereng. Sedangkan cerpen lain yaitu Relik Agung Gallizur, Musim Gugur, Batu Filsuf, dan Padang Hijau Atap Merah akan tampil lebih bersinar, bila dieksekusi secara lebih baik lagi. Tentu saja saya tidak akan melupakan cerpen Nyanyian Alam karena cerpen ini memberikan kesan spesial dengan gagasan berbeda dari dunia Vandaria yang diangsurkan Andry Chang. 

“Perkembangan dunia Vandaria tidak akan berhenti sampai di sini. Masih ada ratusan kisah yang belum terceritakan, ada ribuah tokoh yang siap menjalankan perannya, dan tentunya ada banyak peluang bagi novelis, komikus atau siapa pun kamu untuk ikut berpartisipasi dalam dunia Vandaria ini,” demikian yang termaktub dalam bagian Tentang Vandaria (hlm. 264).

Pertanyaannya adalah apakah Anda tertarik bekerja sama untuk membesarkan Dunia Vandaria? Kalau tertarik, Anda harus mengkristal bersama Vandaria! Tapi sebelumnya, kenalilah dulu dunia kompleks Vandaria dengan membaca Vandaria Saga yang telah diterbitkan. Harta Vaeran (Pratama Wirya), Ratu Seribu Tahun (Ardani Persada) dan Takdir Elir (Hans J. Gumulia) bisa mengedukasi Anda untuk menciptakan Vandaria Saga Anda sendiri. 




 Pengunjung 

 

28 May 2012

Partikel



Judul Buku: Partikel
Pengarang: Dewi Lestari
Tebal: viii + 500 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, April 2012
Penerbit: Bentang







Problemku terbesar adalah memercayai spesies Homo sapiens. Termasuk diriku sendiri. Padahal, manusia terlahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Namun, di detik pertama kita meluncur keluar, perjudian hidup dimulai, taruhanmu adalah rasa percaya yang kau kaulego satu per satu demi sesuatu bernama cinta. Aku penjudi yang buruk. Aku tak tahu kapan harus berhenti dan menahan diri. Ketika cinta bersinar gemilang menyilaukan mata, kalang kabut aku serahkan semua yang kumiliki. Kepingan  rasa percaya bertaburan di atas meja taruhanku. Dan aku tak pernah membawa pulang apa-apa.” (hlm. 8-9). Demikian yang dikatakan Zarah Amala,  karakter utama novel Partikel, buku keempat serial Supernova karya Dewi Lestari, mengenai kehidupannya.

Di dalam Keping 40* yang menggunakan narator orang pertama, kita akan mengikuti kisah hidup Zarah Amala, dimulai dari sebuah kampung di pinggiran Bogor hingga London ketika bekerja sebagai fotografer wildlife. Selama rentang perjalanan itu, tiga kali ia melego rasa percaya yang menghilang di tangan orang-orang yang ia kasihi. Ayah, sahabat, dan kekasih.

Dari  ayahnya, Firas, seorang ahli mikologi, Zarah memperoleh pengetahuan mengenai fungi atau jamur, enteogen -tanaman dengan zat psikoaktif yang bisa mengubah level kesadaran seseorang- yang diketahui sebagai organisme terbesar di dunia. Firas percaya fungi adalah makhluk cerdas dengan inteligensi super melampaui manusia.Tidak heran ia terobsesi untuk mendirikan laboratorium penelitian fungi. Kendati dianggap sebagai tempat angker dan terlarang, Firas tergila-gila pada Bukit Jambul. Bagi Firas, Bukit Jambul adalah rumah bagi ratusan spesies, termasuk fungi langka yang memiliki potensi besar menyelamatkan Bumi. Namun lebih daripada itu, Firas mengetahui Bukit Jambul sesungguhnya semacam portal atau gerbang dunia lain.  

Rasa percaya Zarah menghilang dengan perginya Firas dari kehidupan keluarganya saat ia berumur dua belas tahun. Firas hanya meninggalkan lima jurnal yang kemudian dibakar istrinya sehingga Zarah kehilangan petunjuk guna melacak keberadaan ayahnya.

Begitu ayahnya pergi, Zarah memutuskan mengenyam sekolah formal, dan langsung duduk di kelas 1 SMA. Semasa SMA inilah ia bertemu Koso, gadis Nigeria yang menjadi sahabatnya. Demi Koso yang mengalami kendala dalam belajar, Zarah rela ketinggalan kelas. Tapi seperti Firas, Koso pun pergi karena harus pindah ke London.

Suatu hari Zarah menerima kamera Nikon FM-2/T limited edition yang dikirimkan secara anonim. Dengan kamera itu Zarah belajar memotret hingga secara misterius pula (hingga novel tamat tidak diungkapkan) fotonya diikutkan dalam lomba tanpa sepengetahuannya. Foto itu menang dan Zarah mendapat hadiah ekowisata ke Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, untuk melihat langsung konservasi orangutan. Di Tanjung Puting Zarah berjumpa Paul Daly, fotografer profesional asal Inggris, yang mengajaknya bergabung dengan The A-Team di London.

Di London, Zarah menemukan cinta dalam diri Storm Bradley, seorang fotografer fashion dan iklan. Hanya saja seperti kata Zarah, “Pengkhianatan ada dalam batin setiap manusia, hanya menunggu momen yang tepat untuk menyeruak, dirayakan, dan diamini sebagai titik lemah dari kemanusiaan.” (hlm. 370). Maka sudah bisa ditebak, Zarah akan menyaksikan lagi kepercayaannya dihancurkan.

Selepas kepergian ayahnya, salah satu obsesi Zarah adalah mencari laki-laki penuh kontroversi itu. Diam-diam, sewaktu menerima tawaran Paul Daly pergi ke London, Zarah berharap akan menemukan Firas. Setelah melewati salah satu episode pahit dalam hidupnya, akhirnya Zarah memperoleh petunjuk yang mengarahkan pencarian dan kepastian nasib ayahnya.

Ke mana sebenarnya ayahnya pergi dan menghilang? Apakah Firas telah meninggal dunia tanpa sepengetahuan keluarganya? Apa yang disodorkan Dewi sampai novel berakhir belum sepenuhnya memuaskan. Meskipun begitu, kita bisa menduga-duga. Kemungkinan besar Firas telah menggunakan Bukit Jambul untuk pergi ke dimensi lain. Dugaan ini muncul terkait pengungkapan mengenai Bukit Jambul sebagai semacam portal dunia lain. Selain itu, Dewi menunjukkan adanya komunikasi Firas dengan para alien. Itulah sebabnya Firas bisa menggambarkan berbagai wajah Alien dalam jurnalnya (hlm. 89-92).

Surat yang ditemukan Zarah dalam Keping 41 juga mengindikasikan kalau Firas mengetahui jati diri pengirimnya. Sehingga, dikaitkan dengan surat yang diterima Bodhi (Akar, Truedee Books, 2002), bisa disimpulkan sebenarnya Firas mengetahui hubungan antara Zarah (Partikel), Bodhi (Akar), Elektra (Petir), dan Diva Anastasia (Bintang Jatuh dalam Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, Truedee Books, 2000). Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: siapa sebenarnya semua karakter utama Supernova ini? Apakah mereka berasal dari dimensi lain alias alien?  

Novel dengan sampul bergambar simbol planet bumi ini diluncurkan 8 tahun setelah Supernova 3: Petir diterbitkan untuk pertama kalinya (Akur, 2004). Sebagai dalih untuk proses kreatifnya yang molor, Dewi mengatakan: ”Jika saja Partikel dipaksakan untuk lahir sebelum ini, maka kemungkinan besar ia akan lahir prematur.” (hlm. 490). Alasan ini dihubungkan dengan ketersediaan literatur dan fasilitas teknologi yang memperlancar risetnya. Apapun alasannya, Partikel tetap hadir semenantang ketiga pendahulunya. Memang gaya bercerita Dewi lebih renyah ketimbang sebelumnya, namun kemahirannya merangkai kisah dengan kalimat-kalimat elegan tetap bersinar di sini. Kecakapan yang jarang dimiliki penulis lain ini membuat Partikel yang mewujud dalam tiga keping gampang dituntaskan dalam waktu singkat.
                                    
Mikologi, ekologi, fotografi, alien, dan shamamisme adalah elemen-elemen yang dipadukan Dewi untuk membangun Partikel. Pada beberapa bagian kita akan dibuat kagum oleh informasi yang disodorkan, sementara di bagian lain kita mesti berhati-hati menyerapnya. Romansa menjadi materi tambahan yang ikut membangun dunia Zarah, tapi tidak menjadi salah satu bagian menarik dalam novel.
                                                       
Di bagian “Tentang Penulis” disebutkan jika serial ini akan dilanjutkan dengan episode Gelombang dan Inteligensi Embun Pagi. Kemungkinan besar karakter utama Gelombang adalah Alfa, nama keempat yang dikatakan Dewi di bagian “Cuap-cuap Penulis” dalam novel Akar (Truedee, 2002). Judul Inteligensi Embun Pagi mengingatkan pada informasi di sampul belakang novel Akar (Truedee, 2002) yang menyatakan bahwa Akar merupakan bagian pertama dari episode kedua Supernova: Inteligensi Embun Pagi. Ketika Petir diterbitkan menyusul Akar, hal ini  tidak disinggung-singgung lagi.  


* Pembagian bab dalam novel-novel Supernova menggunakan istilah Keping. Supernova 1:  Keping 1-33, Supernova 2: Keping 34-36, Supernova 3: Keping 37-39, dan Supernova 4: Keping 40-42.

27 May 2012

Pintu Terlarang (Cover Film)


Judul Buku: Pintu Terlarang
Pengarang: Sekar Ayu Asmara
Tebal: 264 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 2,  Mei 2012 (Edisi Cover Film)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
                





Anak adalah kuncup yang hanya akan mekar mewangi dengan siraman kasih sayang", demikian pernyataan Sekar Ayu Asmara dalam novel dewasa pertamanya, Pintu Terlarang. Pernyataan yang sungguh benar, karena pada saat anak-anaklah karakter manusia dibentuk yang kemudian mengejawantah dalam pribadi orang dewasa. Realitas membuktikan kuncup itu terkadang tidak mekar mewangi, tapi melayu karena ulah orangtua. Banyak anak-anak menjadi korban penganiayaan orangtua mereka sendiri. Dan di antaranya, banyak pula yang tidak bisa mengatasi efek yang ditimbulkan. Kalau tidak tewas lantaran tubuh tidak cukup kebal, menjadi gila gara-gara hancurnya mekanisme pertahanan diri.

Adalah Pusparanti, seorang jurnalis sebuah majalah metropolis, menemukan kasus lelaki gila yang disekap dalam sel isolasi sebuah rumah sakit jiwa. Lelaki itu masuk rumah sakit jiwa lantaran membunuh kedua orangtuanya. Sudah 18 tahun ia berada di sana dan dokter yang menanganinya telah menyimpukan jika ia tidak lagi berpeluang kembali ke tengah-tengah masyarakat. Jiwanya sudah sedemikian tercabik akibat siksaan secara fisik dan emosional yang ia alami. Lelaki itu memang korban child abuse.

Manakala Ranti berhasil menggali faktor pemicu kegilaan si pasien, ia menemukan juga kekerasan terhadap anak dilakukan oleh seseorang yang dekat dengannya. Kekerasan ini pun bersifat fatalistik.


Sementara itu, Gambir, seorang seniman patung, sedang menikmati kesuksesan berkat patung-patung perempuan hamil. Talyda, istrinya yang cantik dan perfeksionis, berperan besar dalam usahanya menghasilkan koleksi nan mahal itu. Kegeniusan Talydalah yang membuat Gambir bisa menghasilkan patung-patung yang terlihat hidup.

Gambir dan Talyda belum mempunyai anak. Talyda pernah hamil, tapi mengalami keguguran. Belakangan ketahuan kalau Talyda memang tidak ingin melahirkan anak Gambir. Di belakang Gambir, Talyda melakukan rangkaian perselingkuhan, termasuk dengan para lelaki yang dikenal Gambir. Perselingkuhan itu dilakukan Talyda agar ia bisa hamil dan melahirkan anak yang bukan darah daging Gambir.  Menik Sasongko, ibu Gambir yang selalu meremehkan pilihan hidup Gambir sebagai seniman, diam-diam menjadi dalang di balik tindakan Talyda. 
  
Begitu mengendus perselingkuhan Talyda, amarah Gambir terpicu. Kemarahannya yang tidak terkendali membuat ia memutuskan melakukan pembalasan. Sebuah acara perjamuan malam Tahun Baru yang diselenggarakan Talyda atas inisiatif Menik Sasongko dipilih Gambir sebagai momen pembalasan. Siapapun tidak bisa melecehkan dan mengkhianatinya. Lebih daripada itu, ia telah memutuskan membuka pintu terlarang yang selama ini dijaga ketat oleh Talyda supaya tidak dibuka. 


Awal perkenalan saya dengan nama Sekar Ayu Asmara adalah saat ia menjadi penulis lirik lagu yang antara lain dinyanyikan Fariz RM. Lama tidak terdengar, mendadak namanya muncul sebagai salah satu produser film Ca Bau Kan (2001). Kiprahnya dalam dunia film itu dilanjutkan dengan menjadi sutradara, produser, dan penulis skenario film Biola Tak Berdawai (2003). Dari informasi tentang Sekar (Pintu Terlarang: Akur, 2004), saya baru tahu jika ia telah menulis buku anak-anak berjudul Onde-onde dan Misteri Es Krim Yang Hilang. Menyusul Pintu Terlarang, Sekar yang kita kenal sebagai sutradara film Belahan Jiwa (2005) dan Pesan dari Surga (2006) serta penulis beberapa skenario film telah menerbitkan novel Kembar Keempat (Akur, 2005; Gramedia, 2010) dan Doa Ibu (Gramedia, 2009). Pintu Terlarang (Akur, 2004; Gramedia, 2009, cetakan pertama) telah diekranisasi oleh Joko Anwar dan beredar pada Januari 2009. Fachri Albar berperan sebagai Gambir dan Marsha Timothy sebagai Talyda. 

Sekar menggulirkan kisahnya menggunakan tiga perspektif. Pertama, dari perspektif Ranti (orang pertama) yang menceritakan investigasinya terkait seorang lelaki gila yang terkurung dalam sel isolasi. Kedua, dari perspektif si lelaki gila (orang pertama) yang mengurai kehidupan mengenaskan yang dialaminya. Cerita si lelaki gila ini dicetak miring, kecuali bagian pamungkas (bab 38). Ketiga, kisah Gambir dan Talyda, diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. Mencapai penghujung novel, ketiga cerita ini akan berkelindan menghasilkan twist yang menggetarkan.

Novel ini menegaskan kualitas Sekar sebagai pengarang brilian yang mampu mengaduk-aduk emosi dan pikiran pembaca. Hal serupa ditampakkannya dalam film Belahan Jiwa yang skenarionya ia tulis sendiri. Belahan Jiwa mengisahkan persahabatan empat perempuan yang terlibat asmara dengan seorang lelaki yang sama. Kisah dalam film ini diakhiri dengan sebuah twist ending yang tidak terlupakan. Efek yang ditimbulkan membaca Pintu Terlarang hampir sama dengan efek yang dihasilkan menonton Belahan Jiwa. Kita harus menyimak tuntas kisahnya sebelum pemahaman terbentuk di dalam benak. Dengan gesit, Sekar berhasil mengggiring drama psikologis menjadi thriller yang mengguncang. 
 
Satu yang mengganggu kenikmatan membaca adalah kegemaran Sekar membuka sejumlah adegan terkait Talyda yang perfeksionis dengan repetisi kalimat bergaya puitis mengenai “Kesempurnaan”.

Kesempurnaan:
“Kesempurnaan bukanlah bintang yang niscaya gemintang di pundak malam. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 11).

“Kesempurnaan bukanlah kuncup bunga di ladang yang pasti merekah mewangi. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 18).

“Kesempurnaan bukanlah buah rambutan yang pasti meranum pada penghujung musim. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 21).

“Kesempurnaan bukanlah matahari yang pasti terbit di ufuk timur. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 24)

“Kesempurnaan bukanlah seperti kemarau yang pasti disusul musim hujan. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 25).

“Kesempurnaan bukanlah ombak yang pasti menderu ke bibir pantai. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 32).

“Kesempurnaan bukanlah rembulan yang pasti beranjak ketika sore hari mengelupas. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 37).

“Kesempurnaan bukanlah seperti padi yang pasti menguning menjelang panen. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 42).

“Kesempurnaan bukanlah rembulan yang akan membulat penuh pada purnama. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 64).

“Kesempurnaan bukanlah seperti udara yang bebas dihirup demi menyambung nyawa. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 95).

“Kesempurnaan bukanlah kepompong yang pasti bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 102).

“Kesempurnaan bukanlah kisah yang pasti memiliki akhir. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 104).

“Kesempurnaan bukanlah sungai yang pasti mengalir menuju hulu. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 131).

“Kesempurnaan bukanlah mata uang yang pasti bersisi dua. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 134).

“Kesempurnaan bukanlah lagu yang pasti berakhir pada koda. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 136).

“Kesempurnaan bukanlah berlian yang pasti mencapai kualitas puncak pada hitungan karat. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 170).

“Kesempurnaan bukanlah anak rajawali yang pasti tumbuh bersayap. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 172).

“Kesempurnaan bukanlah tahun yang pasti genap berjumlah dua belas bulan. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 199).

“Kesempurnaan bukanlah penyu yang pasti menghampiri pantai untuk bertelur. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 202).

“Kesempurnaan bukanlah pementasan drama yang berakhir pada babak ketiga. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 204).

“Kesempurnaan bukanlah kunang-kunang yang pasti bersinar di persawahan malam. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 238).

“Kesempurnaan bukanlah lilin yang akan berpijar hingga sumbu terakhir. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.” (hlm. 250).

Cukup menjemukan.

Tapi, yang terpenting di sini adalah lewat novel ini dengan tegas Sekar mengingatkan pembaca soal perilaku mendidik dan memperlakukan anak-anak yang tidak benar. Anak-anak, meskipun mungkin kelahirannya tidak diinginkan, tetap insan yang tidak berdosa. Tidak benar mendorong anak-anak yang tidak berdosa ke dalam pemahaman bahwa sebenarnya ia tidak layak dilahirkan ke dunia. Kekecewaan hidup yang dialami orangtua tidak patut dilampiaskan kepada anak-anak. Anak-anak berhak atas kehidupan yang dibangun dari proteksi orangtua. Lelaki gila dalam novel ini dipaksa dengan kekerasan untuk mendakwa dirinya sebagai 'anak nakal' dan 'pembawa sial'. Karena itu, ia patut mendapatkan hukuman sekalipun jiwanya harus mampus. Saya yakin, seperti saya ketika membaca novel ini, Anda akan merasa tertusuk selama membaca.

23 May 2012

The Devil's Whisper

Judul Buku: The Devil’s Whisper
Judul Asli: Majutsu Wa Sasayaku (1989)
Pengarang: Miyuki Miyabe
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Adi Toha
Tebal:416 hlm, 13 x 20 cm
Cetakan: 1, April 2012
Penerbit: Serambi


Gadis itu menggegas langkah dan mendengar orang di belakangnya ikut bergegas. Anehnya, ketika ia menoleh ke belakang, jalanan tampak kosong, tidak ada siapa-siapa. Tapi ia tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi, maka ia pun berlari menuju persimpangan lampu merah. Ia terus berlari tanpa mengindahkan lampu merah hingga sebuah taksi menabraknya.

Yoko Sugano, gadis itu, tewas tertabrak dan Toshio Asano, supir  taksi yang  lagi apes, ditetapkan sebagai tersangka. Seolah-olah memang sudah menemukan pihak bersalah, polisi mengabaikan penyelidikan. Didorong kondisi yang berpotensi merugikan pamannya, Mamoru Kusaka, remaja 16 tahun, memutuskan mengadakan penyelidikan. Apa yang ia temukan mengindikasikan bahwa kematian Yoko Sugano berkaitan dengan kematian dua gadis sebelumnya. Fumie Kato terjun dari atap apartemen sedangkan Atsuko Mita melompat ke atas rel  kereta api tepat di depan kereta yang tengah melaju kencang. Ketiga gadis yang mati ini pernah terlibat bisnis penipuan. Lebih jauh lagi, Mamoru menemukan jika ada satu gadis lagi yang hidupnya sedang  diancam kematian. Gadis itu adalah Kazuko Takagi yang masih berkutat dalam bisnis penipuan.

Seorang pebisnis kondang tergugah pada kemalangan yang menimpa keluarga Asano. Koichi Yoshitake, lelaki yang juga berasal dari Hirakawa seperti halnya Mamoru, mendatangi kantor polisi dan memperkenalkan diri sebagai saksi kasus penabrakan Yoko Sugano. Tindakan Yoshitake memang mengembalikan Toshio Asano ke rumah, hanya saja tidak menenteramkan hati Mamoru. Apalagi seorang yang pernah bekerja sama dengan keempat gadis penipu itu mendadak tewas dalam kebakaran rumah. Kemudian secara terang-terangan si pembunuh mengontak Mamoru. Maka Mamoru pun bersikukuh menyelamatkan keluarga pamannya sekaligus Kazuko Takagi yang keberadaannya tidak ia ketahui.

Selagi melibatkan diri dalam pembongkaran kasus pamannya, Mamoru masih harus menghadapi situasi buruk sebagai bagian dari keluarga dengan riwayat tercela. Dua belas tahun sebelumnya ayah Mamoru menghilang. Toshio Kusaka meninggalkan keluarga setelah menggelapkan dana masyarakat senilai lima juta yen. Kejadian itu membuat Mamoru terkucil dari lingkaran pergaulan teman sebaya di Hirakawa. Begitu berita kasus kecelakaan Yoko Sugano merebak, kondisi yang sama nyaris menggilasnya. 

The Devil’s Whisper adalah salah satu novel karya pengarang Jepang yang dikenal sebagai pengarang prolifik, Miyuki Miyabe. Selain novel ini, Miyabe yang menulis novel sejak umur 23 tahun telah menerbitkan lebih dari 40 novel. Beberapa novelnya telah mengalami ekranisasi, baik sebagai film layar lebar maupun film televisi. Pada 2011, The Devil’s Whisper yang berjudul asli Majutsu Wa Sasayaku, diekranisasi menjadi film televisi (Fuji TV) dengan Aoi Nakamura sebagai Mamoru Kusaka dan Kimura Yoshino sebagai Kazuko Takagi. 

Poster film:
Melalui novel ini Miyabe menunjukkan kepiawaian selaku penulis novel misteri kriminal  yang mampu menyita konsentrasi pembaca. Seiring perguliran plot, Miyabe terus mendorong pembaca untuk segera menamatkan novelnya. Kisah yang ia sajikan pun memiliki percabangan yang tampak tidak bertalian  tapi semakin ke belakang semakin menunjukkan keterhubungannya. Ketika keterhubungannya diungkap secara tidak terduga, yang diperoleh pembaca adalah kejutan menggetarkan.

Awalnya saya mengira kilas balik kehidupan Mamoru terkait dengan menghilangnya sang ayah akan menjadi digresi yang semata-mata ditambahkan demi menebalkan novel. Tapi saya keliru. Sebab, bila Mamoru misalnya, diposisikan sebagai anak kandung keluarga Asano dan tidak pernah ditinggalkan ayahnya, kemunculan si pebisnis kondang sebagai salah satu karakter penting tidak akan memberikan dampak semenggetarkan yang dihasilkan. Selain itu, jika Mamoru tidak diberikan masa lalu, si karakter antagonis tidak akan menyumbang secercah kebaikan untuk membantu Mamoru memahami masa lalunya. Dengan sendirinya, kejadian mengejutkan di depan kantor polisi di bagian pamungkas tidak akan pernah terjadi. Padahal kejadian ini merupakan salah satu bagian yang paling mencuri perhatian dalam novel ini.

Setiap Sabtu siang dan Minggu Mamoru bekerja di bagian buku sebuah pusat perbelanjaan. Hal ini dirancang Miyabe untuk mendekatkan Mamoru pada suasana yang menyebabkan empat kematian dalam novel. Untuk itu, Miyabe menyiapkan alasan yang memadai agar tujuannya tercapai. Sedangkan persahabatan Mamoru dengan seorang lelaki tua semasa masih di Hirakawa sengaja dikilasbalik guna memberikan kewajaran pada satu hal yang dilakukan Mamoru dalam penyelidikannya.

Semua kematian dalam novel ini dipicu oleh sesuatu yang tidak asing lagi dalam karya fiksi. Pembalasan dendam, itulah motif tindakan kriminal si penjahat. Sampai sejauh ini, saya belum pernah menemukan modus operandi seperti yang digunakan si karakter antagonis dalam novel-novel segenre. Miyabe sukses mengaransemen modus operandi ini menjadi bagian paling mentereng dalam novel.  

Kisah mengusik dengan judul menggoda yang diterjemahkan dengan baik dan disunting lumayan resik, menambah keasyikan menikmati novel ini. Hanya saja, saya kurang sepakat dengan penggunaan kata bocah –yang sebenarnya berarti anak kecil atau kanak-kanak- bagi seorang remaja berusia 16 tahun. Kecuali kata itu digunakan dalam konteks mengejek atau merendahkan, misalnya yang terdapat dalam perkataan si karakter antagonis.

21 May 2012

Perkara Mengirim Senja


Judul Buku: Perkara Mengirim Senja
Penyunting: Jia Effendie
Penyelaras: Ida Wajdi
Desain sampul dan ilustrasi isi: Lala Bohang
Cetakan: 1, April 2012
Penerbit: Serambi




Sebagai tribute kepada Seno Gumira Ajidarma, salah satu penulis papan atas Indonesia, empat belas pengarang dari berbagai latar belakang menulis cerpen dan mengoleksinya dalam antologi berjudul Perkara Mengirim Senja. Karena senja dan cinta kerap dimunculkan Seno dalam cerita-ceritanya, dalam koleksi ini para pengarang juga memunculkan cinta dan senja. Menurut Anton Kurnia dalam pengantarnya  –Tentang Senja dan Cinta yang Galau-  terdapat 169 kata senja dan 105 kata cinta.

Valiant Budi Yogi membuka koleksi cerpen ini dengan cerpen Gadis Kembang. Meskipun tidak terinspirasi dari cerpen Seno, cerpen Vabyo menyajikan cinta haram seperti yang kerap muncul dalam karya rekaan Seno. Melalui dialog-dialog yang ada, pembaca bisa memahami jalinan kisah  manipulatif yang dilakonkan sepasang manusia. Bagian penutup tidak saja menggambarkan apa yang terjadi dalam cerita, tapi juga mengolok-olok pembaca. “Ada yang teperdaya, sebagian terlena, sisanya hanya bisa menerka.” (hlm. 10).

Perkara Mengirim Senja, cerpen yang menjadi judul antologi ditulis oleh Jia Effendie. Cerpen ini terinspirasi dari cerpen Seno yang terkenal, Sepotong Senja Untuk Pacarku (Sepotong Senja Untuk Pacarku, 2002). Seorang perempuan mengerat senja seperti yang dilakukan Sukab dan bermaksud mengirimkannya dalam amplop kepada seorang pacar. Padahal ia sedang tidak punya pacar. Jadilah senja itu ditawarkannya kepada seorang lelaki. Atas permintaan kekasihnya, lelaki itu memutuskan untuk membeli. Cerpen yang ditulis dengan manis dan berbunga-bunga ini dikisahkan secara berganti-ganti menggunakan perspektif orang pertama oleh si perempuan pengerat senja (aku) dan laki-laki pembeli senja (saya). Sebuah twist ending menutup cerpen ini.

Selepas membaca Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, Alina menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya adalah judul cerpen yang terdiri dari dua cerita karya M. Aan Mansyur. Judul ini unik, bukan karena sangat panjang untuk sebuah judul buku, tapi merupakan pengumuman pengarang bahwa dua cerita di dalamnya ditulis oleh Alina –nama karakter perempuan yang sering digunakan Seno. Makanya tidak mengherankan jika kedua cerpen yang ada, Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi dan Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan menampilkan dua perempuan yang diam-diam berhasil mengecundangi suami mereka. Sangat mengasyikkan mengikuti kedua cerita yang ditulis dengan tenang dan sangat terkendali ini. Apalagi untuk cerpen pertama yang dipungkas dengan kalimat yang tidak hanya mengejutkan, tapi juga menggelikan. Satu pertanyaan untuk cerpen yang mengingatkan pada film parodi Robin Hood: Men in Tights ini: apakah ketika menyaksikan perselingkuhan suaminya di mal, Rahasia sedang memakai celana dalam besi?

Kurnia Effendi pernah menulis cerpen Aku Mulai Mencintaimu (Bercinta di Bawah Bulan, 2004) untuk merespons cerpen Menepis Harapan karya Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang, Saya Monyet!,  2002). Teknik yang persis sama dipakai Lala Bohang dalam cerpen Kuman yang merespons cerpen Seno, Lipstick (Atas Nama Malam. 1999). Jika dalam Lipstick si bartender yang menjadi narator, dalam Kuman digantikan si penyanyi bar. Dalam cerpennya, Lala melakukan eksplorasi cerita yang lebih dalam. Lala tidak saja menambahkan gambaran yang tidak ada dalam Lipstick bahwa si bartender seorang pria dengan wajah dihiasi luka dan berkaki pendek, ia juga menciptakan cinta di antara bartender dan si penyanyi bar. Di sini, Lala bahkan mengimbuhkan kisah cinta bercabang. 
 
Cerpen Seno berjudul Jawaban Alina (Sepotong Senja Untuk Pacarku, 2002) adalah  surat yang ditulis Alina sebagai balasan surat Sukab dalam Sepotong Senja Untuk Pacarku. Alina menerima surat Sukab sepuluh tahun setelah dikirimkan gara-gara kelancangan seorang tukang pos. Begitu surat dibuka Alina, petaka terpicu dan mengundang air bah seperti zaman Nabi Nuh. Alina pun terdampar di puncak Himalaya bersama sebuah sampan dan sepasang dayung serta sebungkus supermie. Cerpen Ulang yang ditulis Putra Perdana berangkat dari cerpen Jawaban Alina yang merupakan sekuel dari cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku. Cerpen ini dikombinasikan dengan gagasan yang dipulung dari cerpen Tukang Pos dalam Amplop (Sepotong Senja Untuk Pacarku, 2002), Sarman (Penembak Misterius, 1993), dan Rembulan dalam Cappuccino (Linguae, 2007) menghasilkan cerpen yang berisi tiga penyimpangan terhadap cerita yang pernah dibuat Seno. Inilah satu-satunya cerpen dalam koleksi ini yang memunculkan Sukab, karakter yang acap digunakan Seno.

Sundea mengawinkan cerpen Seno Pelajaran Mengarang (Atas Nama Malam, 1999) dan Joko Swiwi (Linguae, 2007) dalam cerpen Akulah Pendukungmu. Judul cerpen ini merupakan bagian dari syair lagu Garuda Pancasila gubahan Sudharnoto. Pada Hari Kesaktian Pancasila, foto presiden Soeharto bercakap-cakap dengan Garuda Pancasila  yang sama-sama bertengger di dinding dalam kelas yang diasuh Ibu Tati (ibu Tati muncul dalam kedua cerpen yang menginspirasi karya Sundea ini). “Mau kaugunakan bagaimana kesaktianmu kali ini?” tanya foto presiden. Awalnya Garuda Pancasila tidak berencana melakukan apa-apa. Namun, setelah dialog yang menyinggung  Sandra, salah satu murid Ibu Tati (Sandra adalah anak perempuan dari seorang pelacur dalam cerpen Pelajaran Mengarang), Garuda Pancasila pun menetapkan sebuah rencana yang akan dijalankan saat upacara bendera dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila. Sundea adalah satu-satunya pengarang dalam koleksi cerpen ini  yang berhasil menjadikan informasi yang ada dalam cerpen Seno sebagai ‘petunjuk’ untuk  mengembangkan cerita yang benar-benar baru. Kreativitas Sundea yang sungguh brilian ditunjukkannya pula dalam cerpen lain yang dijadikan penutup koleksi cerpen ini. Satu Sepatu, Dua Kecoak… ditulis untuk merespons cerpen Lelaki yang Terindah (Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, 1996). Oom Arnold dalam cerpen ini tidak lain adalah lelaki yang menjadi narator dalam cerpen Seno yang menginspirasinya. Cerpen kedua Sundea dalam koleksi cerpen ini menggaungkan apa yang dikatakan Reta, anak adopsi Oom Arnold. “Lengkap nggak selalu harus sepasang,” (hlm. 185). 

Empat Manusia karya Faizal Reza yang terinspirasi cerpen Empat Adegan Ranjang (Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, 1996) sayangnya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Cerpen ini terlalu identik dengan cerpen yang menginspirasinya sehingga malah terkesan plagiat. 

Cerpen Saputangan Merah menurut pengarangnya, Utami Diah Kusumawati, terinspirasi dari cerpen Lipstick. Bertolak dari cerpen yang sama, cerpen Utami dan Lala sampai di tujuan dengan cara yang sangat jauh berbeda. Lipstick hanya menginspirasi Utami sebatas pada keberadaan seorang lelaki yang jatuh cinta pada seorang perempuan yang dijumpainya, sedangkan Kuman sampai pada tahap pengembangan karakter ciptaan Seno. 

Sebagaimana dalam cerpen Seno Hujan, Senja dan Cinta (Sepotong Senja Untuk Pacarku, 2002), Mudin Em juga memanfaatkan kata ganti ia untuk karakter lelaki dan dia untuk karakter perempuan dalam cerpennya Senja dalam Pertemuan Hujan. Membaca apa yang dikatakan si lelaki dalam pembicaraan telepon dengan salah satu selingkuhannya, langsung teringat pada cerpen Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta. Rupanya, lelaki dalam Senja dalam Pertemuan Hujan sedang berbicara dengan perempuan dalam Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta. Bagian paling mengesankan dari cerpen Mudin ini adalah ketika terungkap identitas narator cerpen.

Seperti Gadis Kembang, cerpen Kirana Ketinggalan Kereta tidak terinspirasi dari cerpen Seno. Maradilla Syachridar agaknya hanya ingin menghadirkan cerpen absurd seperti yang banyak dihasilkan Seno.

Sama dengan judulnya, narator orang pertama dalam cerpen Theoresia Rumthe adalah seorang Gadis Tidak Bernama. Si gadis yang manipulatif ini bekerja sebagai peneliti senja di Dinas Penelitian Senja. Mengenai pekerjaannya, ia mengatakan, “Bayangkan yang kaulakukan adalah pergi ke sebuah tempat di mana kau bisa melihat senja dengan luas. Lalu menghitung serat-serat jingganya. Semburat warna yang dikeluarkannya. Mengukur diameter senja: apakah lebih lebar atau bertambah sempit dibandingkan kemarin. Mengukur hangatnya. Dan kemudian mencatatnya sekaligus membuatkannya menjadi sebuah laporan lengkap.” (hlm. 124). Gadis tanpa nama memilih bekerja sebagai peneliti senja tidak lain karena kisah perempuan bernama Alina yang dihadiahi sepotong senja oleh seorang lelaki. Cerpen ini hadir seabsurd Sepotong Senja Untuk Pacarku, cerpen yang menginspirasinya.

Arnellis menghadirkan cerita menarik mengenai penjaga sekolah yang diminta menggantikan seorang guru yang berhalangan hadir dalam cerpen Guru Omong Kosong. Karena bukan guru,  tentu saja Dikin tidak mengajar. Ia hanya menuliskan satu kalimat  di papan tulis, sebuah instruksi yang harus dikerjakan para murid. Sambil menunggu para murid menyelesaikan tugas, Dikin membuka-buka buku Kitab Omong Kosong  karya Seno yang ditulis dengan mengidentifikasikan dirinya sebagai Togog. Melalui Dikin, Arnellis melontarkan kritik pada guru yang mengajar dengan metode yang tidak mampu mencerdaskan murid. Guru  seperti itu adalah guru omong kosong.

Kisah seorang lelaki yang mengabaikan surat-surat yang dikirim seorang gadis hingga mencapai 93 surat  dimunculkan Seno dalam cerpen Surat  (Atas Nama Malam, 1996). Feby Indirani merespons cerpen Seno itu dengan cerpen Surat ke-93 yang mengharukan.  “Apa lawan dari cinta? Bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian,” kata si gadis (hlm. 157). Kalimat ini  kemudian beranak-pinak, “… pengabaian adalah bentuk hukuman paling kejam. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada keberadaan yang dinafikan sehingga tak ada bedanya kau itu dinding, pulpen kayu atau gembok besi. Dan tak ada yang paling menusuk ketimbang diabaikan oleh lelaki yang kaucintai.” 

Bahasa Sunyi, cerpen yang ditulis Rita Achdris, menggunakan POV yang sama dengan cerpen Mudin Em. Cerpen ini berkisah tentang sepasang kekasih yang membuat kontrak untuk tidak berkata-kata. Kontrak itu membuat mereka hanya bisa saling kirim emoticon menggunakan Blackberry untuk mengungkapkan perasaan. Komunikasi aneh seperti ini berlangsung hingga sebuah emoticon yang mengisyaratkan kemarahan dikirimkan dia kepada ia. Bahasa Sunyi tidak cukup menggelitik sampai Rita menyodorkan pembicaraan soal BBM di bagian akhir yang mengingatkan pada persidangan menghebohkan beberapa bulan silam.

Pujian patut dialamatkan kepada Lala Bohang, pengarang yang juga mengerjakan sampul dan ilustrasi isi. Sampul yang didominasi warna biru tampil elegan, sedangkan ilustrasi isi berpadu indah dengan cerpen-cerpen yang ada.

Akhirnya, sebelum senja pudar dan cinta makin galau,  saya akan mengakhiri tulisan sekadarnya ini.* Selamat membaca dan selamat berperkara  dengan senja. Jangan biarkan kegalauan mencuri kesempatan Anda untuk membaca sampai selesai koleksi cerpen ini.  


* = meniru Anton Kurnia dalam pengantarnya: Tentang Senja dan Cinta yang Galau.


20 May 2012

Lelaki yang Membelah Bulan


Judul buku: Lelaki Yang Membelah Bulan
Pengarang: Noviana Kusumawardhani
Tebal: xiv + 82 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Juni 2011
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
                                     





Sebagai koleksi cerpen, Lelaki Yang Membelah Bulan karya Noviana Kusumawardhani tergolong irit. Di dalamnya hanya terdapat delapan cerpen yang lima di antaranya pernah dipublikasikan. Tapi, meskipun hanya delapan cerpen, koleksi ini cukup memberikan pengalaman baca yang mengasyikkan. Karena kedelapan cerpen ini ditulis berdasarkan gagasan simpel tapi imajinatif dengan rangkaian kalimat yang diolah dengan matang dan indah. Dalam cerpen-cerpen ini kita akan menemukan berbagai kisah dalam nuansa melankolis yang disampaikan lewat senja, malam, air mata, dan hujan.

Rongga adalah cerpen pembuka yang langsung menetaskan kesedihan. Di sebuah desa, kesedihan dipandang sebagai kejahatan sehingga tidak boleh dijadikan bahan pembicaraan meskipun serasa hendak memecahkan dada. Ketika penduduk desa membincangkan kesedihan, kerongkongan mereka akan berlubang dengan sendirinya dan mereka tidak akan bisa berbicara lagi. Rongga di kerongkongan ini mesti ditutup untuk mencegah infeksi yang menyebabkan kesakitan yang hebat. Karena itu, setiap kesedihan datang, orang-orang akan menyembunyikan dengan sekuat tenaga. Kemplu, jagoan desa, begitu gencar mengkampanyekan kesedihan sebagai kejahatan besar. Pada waktu keluarganya hilang, ia tertawa gembira dan mengadakan pesta besar.  “Hanya orang-orang lemah yang menangis, emosi yang diumbar itu hanya milik orang-orang tak bermartabat. Air mata adalah kebodohan,” kata Kemplu (hlm. 4). Lalu, setiap senja datang di mana situasi membuat kesedihan tidak tertahankan lagi, Kemplu menghilang di Hutan Gembira yang terletak di ujung desa. Setiap pagi, ia keluar dari sana dengan penuh kegembiraan. Manakala kepala desa memutuskan membabat hutan untuk membuat taman keriaan demi meningkatkan kebahagiaan, Kemplu tidak terima. Apa sebenarnya yang disembunyikan Kemplu di dalam hutan? Sebelum benar-benar memungkas cerpen ini, Noviana menulis: “Berterima kasihlah kepada kesedihan dan air mata, karena bersamanya kita belajar kekuatan yang sempurna.  Sebuah lingkaran tidak harus bulat penuh seperti halnya garis tidak selalu lurus.“ (hlm. 10).

Setiap senja datang, perempuan dalam cerpen Perempuan Senja menari dengan sangat gembira, dan saking gembiranya, ia pun menangis dengan luar biasa. Tariannya bagaikan afrodisiak yang  menggelitik kehidupan para lelaki yang pada gilirannya akan menghidupkan gairah kehidupan. Kebiasaan menari ini berhenti begitu si perempuan menikahi lelaki yang memberikannya saputangan bersulam sepasang kolibri berwarna ungu. Dengan berhentinya tarian si perempuan, warna-warna di desa berangsur-angsur memudar. Setelah hanya tersisa hitam, putih, dan abu-abu, kebahagiaan menjadi barang langka. Ketidakbahagiaan mencetus kemarahan para warga desa dan mengakibatkan perginya suami si perempuan senja.

Ketika dengan mencintai seseorang kita kehilangan kebebasan, salah satu yang kita lakukan mungkin sama dengan apa yang dilakukan oleh perempuan dalam cerpen Lampion Merah Bergambar Phoenix. “Lampion adalah tanda bahwa tak boleh ada tangan-tangan lain yang melata di atas gairahku,” kata si perempuan pembuat lampion (hlm. 24). Setelah membuat hingga beratus-ratus lampion bagi kekasihnya, ia memutuskan berhenti dan meninggalkan sang kekasih.

Di dalam cerpen Lelaki yang Membelah Bulan ada seorang pelacur berjumpa lelaki dengan separuh tubuh mengeluarkan sinar keemasan. Lelaki ini telah mencoba membelah bulan untuk melihat warna hitam di balik cahaya terangnya. Negeri bulan murka dan merajamnya hingga separuh cahaya bulan ada di tubuh si lelaki. Bertemu dengan pelacur pemilik kedai ini, si lelaki berharap akan mengisi separuh gelap tubuhnya dengan cahaya. Harapan yang sukar diwujudkan si pelacur karena, “Begitu banyak lelaki yang membutuhkan malam-malamku,” katanya (hlm. 39).

Cerpen Peti Mati mengisahkan tentang seorang lelaki yang mati dalam kesepian. Sebelum mati, ia berpesan pada ketua RT setempat untuk menguburkannya dalam peti mati. Amanatnya dipatuhi, tapi mayat lelaki itu tidak bisa masuk ke dalam peti mati. Berkali-kali peti diganti, mayatnya selalu memanjang sehingga tidak muat dalam peti. Secara mengejutkan, keberadaan mayat yang tidak bisa dikuburkan itu mendatangkan kemakmuran bagi penduduk desa. Hanya saja, kemakmuran itu diikuti keserakahan yang membuat desa itu mengalami kemunduran sosial yang pada gilirannya menularkan kesedihan si lelaki yang sudah mati. Cuma ada satu jalan berisiko yang akan ditempuh oleh ketua RT untuk menghentikan kondisi ini.

Cinta sejati tidak selalu mesti bersatu. Ungkapan ini terlukis dalam cerpen Penari Hujan. Seorang lelaki ingin menikahi perempuan yang ia cintai, tapi si perempuan masih ingin mengejar mimpi-mimpinya. Meskipun menyatakan kepada si lelaki bahwa cinta yang ia miliki selalu 'adi busana', selalu sejati, tetap ia meninggalkan si lelaki.

“Kekasihku, kematian harus dirayakan. Tertawalah seperti ketika hari kelahiranku disambut dengan suka cita. Bunyikan musik penuh keriaan dan menarilah dalam dentam riang, karena rohku akan kembali pulang. Kesedihan dan air mata tak akan menjadi bukan apa-apa,” tulis seorang pelacur tua kepada kekasihnya yang entah berada di mana dalam cerpen Sebuah Pagi dan Seorang Lelaki Mati. Saat menulis, pelacur ini memang sudah siap untuk benar-benar mati, yaitu rohnya dilepaskan dari tubuhnya. Ia telah mempersiapkan dirinya dan menunggu kemunculan si pencabut roh. Tapi, si pencabut roh tidak kunjung datang. Mengapa? Noviana memberikan sentuhan humor pada bagian penutup cerpen ini terkait apa yang terjadi pada si pencabut roh. Si pelacur tua yang pernah kehilangan cinta itu pun berkata: “Mungkin sebenarnya aku memang tidak usah mencari ke mana-mana cinta itu, karena rohku adalah cinta itu sendiri.” (hlm. 68)

Koleksi cerpen ini ditutup dengan cerpen berjudul Pemburu Air Mata. Adalah sebuah desa di kaki gunung, luar biasa indah dengan segala sesuatu yang dibuat dari kristal-kristal air mata yang membeku. Jalan-jalan, rumah, bahkan beberapa baju yang dipakai warga dibuat dari pintalan kristal air mata. Memang, kehidupan penduduk desa itu tergantung dari air mata. Semakin banyak seseorang mengeluarkan air mata, maka semakin bahagialah orang itu. Ke mana saja mereka pergi, warga desa selalu membawa botol besar air mineral kosong dan spons. Saat air mata mengucur deras, mereka menyapu dengan spons, dan memeras air mata ke dalam botol. Air mata itu dikumpulkan di sebuah koperasi unit desa untuk diolah menjadi balok-balok kristal air mata sebagai bahan dasar benda apapun yang ada di desa. Namun, kedamaian desa itu terusik dengan kemunculan salah satu warga yang sudah lama merantau dan tidak bisa lagi mengeluarkan air mata. “Air mata hanya untuk perempuan. Lelaki tidak menangis. Karena hanya lelaki pengecut saja yang menangis.” (hlm. 74). Para lelaki yang mendengar perkataannya spontan berhenti mengeluarkan air mata, dan tatkala mereka berhenti mengeluarkan air mata, balok-balok kristal air mata yang dihasilkan menurun kualitasnya. “Air mata pada akhirnya menjadi absurd maknanya, dan para pemburu air mata tak pernah lelah memburunya. Mereka benar-benar  tahu bahwa hidup mereka akan kembali penuh  bila dengan air mata. Ya, karena dari air mata akan lahir tawa,” tulis Noviana (hlm. 78).

Membaca cerpen-cerpen Noviana dalam koleksi ini adalah semacam menikmati perayaan terhadap kesedihan, perpisahan, dan kematian. Hal yang lumrah bila mengingat kehidupan manusia tidak akan pernah steril dari tiga hal itu. Namun, seperti pelangi sehabis hujan, di dalam kesedihan, perpisahan, dan kematian, Noviana juga mengisyaratkan adanya kegembiraan, penerimaan, dan kehidupan dalam semua cerpen yang ditulisnya dalam  genre realisme magis ini. 

19 May 2012

Memori


Judul Buku: Memori
Pengarang: Windry Ramadhina
Desain Sampul: Jeffri Fernando
Tebal:viii + 304 hlm; 13 x19 cm
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: GagasMedia





Salah satu keunggulan novel-novel produksi GagasMedia adalah desain sampul yang ciamik. Demikian pula desain sampul yang dikerjakan Jeffri Fernando untuk novel ketiga Windry Ramadhina yang bertajuk Memori. Apa yang hendak disampaikan dalam novel terwakili dengan baik dan elegan dalam sampul. Rumah. 

Novel ini memang bercerita tentang rumah. Setelah meninggalkan rumah ayahnya bertahun-tahun termasuk empat tahun menetap di Virginia, Mahoni, seorang arsitek, kembali ke rumah ayahnya. Ia memutuskan pulang walaupun tidak akan bertemu dengan ayahnya lagi. Sebuah kecelakaan mobil telah memutuskan kemungkinan mereka bisa bertemu.

Sebenarnya, Mahoni sangat mencintai ayahnya, hanya saja sikapnya berubah semenjak laki-laki itu berpisah dengan Mae, ibu Mahoni, kemudian menikahi Grace. Mahoni mengikuti ibunya, dan setelah lulus kuliah bertahun-tahun kemudian, ia pergi ke Amerika. Di Virginia, ia bekerja di sebuah biro arsitek yang meneguhkan idealismenya selaku arsitek.

Rencana untuk segera balik Virginia terpaksa tertunda karena tidak ada yang akan mengawasi Sigi, anak ayahnya dan Grace. Padahal Mahoni membenci Sigi sebagaimana ia membenci Grace. Tapi yang terjadi kemudian, demi Sigi, ia malah urung balik Virginia, dan tinggal lebih lama di Jakarta. Meskipun keputusannya ini membuatnya harus mengorbankan ambisi untuk bekerja sama dengan arsitek yang dipujanya, Frank O. Gehry.

Kepulangannya ke Jakarta secara tidak terduga membuka jalan ke ‘rumah’ lain yang ia tinggalkan begitu lulus kuliah. Terkadang, rumah memang berbentuk darah dan daging, dan rumah yang satu ini bernama Simon Marganda, si pemuja arsitek Rem Koolhaas. Tapi, rumah yang adalah kekasih masa lalunya ini telah dimiliki perempuan lain.

Semula, saya mengira, tulisan di sampul belakang novel dikutip dari dalam novel, sebagaimana mestinya. Ternyata, tulisan tidak penting itu berdiri sendiri dan tidak terkait secara signifikan dengan isi novel. Tulisan di sampul belakang ini berpotensi menyesatkan pembaca karena apa yang terkandung di dalamnya bukanlah inti permasalahan dalam novel. Memori memang bermuatan kisah cinta, tapi hanya salah satu lapisan dari berbagai lapisan cerita lainnya.

Lapisan dalam Memori terdiri dari jalinan cinta yang rumit, hubungan anak dan orangtua yang tidak harmonis, kegagalan rumah tangga yang menggerogot nyali, kebencian yang tidak bisa dilampiaskan, dan rasa kekeluargaan yang tumbuh pelan-pelan seiring terbangunnya kebersamaan. Semua materi itu diletakkan dalam sebuah dunia profesi bernama arsitek lengkap dengan problematika yang biasa muncul di dalamnya. Baik Mahoni maupun Simon berprofesi sebagai arsitek seperti pengarang.

Meskipun tidak istimewa dari segi cerita, Memori bukanlah novel yang membosankan dibaca. Pengarang sangat bertalenta dalam hal membangun karakterisasi dan mengolah rangkaian kalimat. Hal yang sama telah ia tunjukkan dalam dua novel sebelumnya, Orange dan Metropolis. Sehingga dalam waktu singkat, didukung penyuntingan yang apik, novel ini akan bisa dikhatamkan.

Berbeda dengan Orange dan Metropolis, dalam novel ini pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama. Penggunaan sudut pandang ini hampir sempurna kalau saja ia tidak sempat sedikit terpeleset. Seharusnya, adegan Sofia mengajak bersulang teman-teman di Studio Moss tidak boleh muncul karena narator tidak menyaksikannya (hlm. 276-277).

Lalu, mengapa judul novel ini Memori? Karena memori yang menggerakkan kehidupan Mahoni. Ia meninggalkan Jakarta dan pergi ke Virginia karena memori. Ia meninggalkan Virginia dan kembali ke Jakarta karena memori juga. Lantas, setelah tinggal di rumah almarhum ayahnya, rombongan memori yang umumnya getir itu bermunculan satu demi satu, kemudian dinikmati oleh kita, para pembacanya. 

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan