23 June 2014

Galila


 
Judul Buku: Galila
Pengarang: Jessica Huwae
Editor: Rosi L. Simamora
Tebal: 336 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

  


Bukankah begitu seharusnya cinta? Membebaskan. Berdiri bersama, berpegangan tangan dan menguatkan, bahkan saat hidup seakan tidak mungkin untuk dijalani sekalipun, Cinta mungkin tidak bisa melupakan, namun dia memaafkan (hlm. 256).




Dalam kumpulan cerpen perdananya, Skenario Remang-Remang (2013) terdapat sebuah cerpen tentang seorang gadis kecil yang menjadi anak pertama di kampungnya yang tidak memiliki nama belakang (marga). Cerpen itu berjudul Galila, dan ternyata merupakan salah satu bab dari novel kedua Jessica Huwae yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama yang diberi judul Galila juga.

Galila - sang perempuan tanpa nama belakang- sudah bukan gadis kecil lagi yang memimpikan Jakarta sebagai kota harapan. Saat kisah dalam novel ini dimulai, ia telah menaklukkan ibu kota dan menjadi diva tersohor negeri ini.  Tidak banyak sesumbar mengenai dirinya, Galila dikenal sebagai bintang cantik eksotis asal Saparua, Maluku, yang namanya melejit setelah  menang dalam kontes bakat Indonesia Mencari Diva.

Setelah beberapa kali jatuh cinta dan ditinggalkan laki-laki, Galila bertahan dengan status lajangnya. Ada laki-laki yang mencoba mendekatinya, tapi Galila tidak tertarik. Cinta baru menghuni kembali hatinya setelah ia bertemu Edward Silitonga atau lebih dikenal sebagai Eddie (nama ini  otomatis akan mengingatkan pada salah satu penyanyi top Indonesia di masa lalu). Sepulangnya dari Amerika setelah menuntaskan kuliah, Eddie langsung mendapatkan tanggung jawab menjadi direktur perusahaan keluarganya. Saat syukuran pembukaan cabang baru perusahaannya, Galila diundang menyanyi untuk meramaikan acara tersebut. Di sanalah mereka bertemu, dan memulai hubungan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan keluarga Eddie.

Bagi Eddie, cinta bukanlah sesuatu yang rumit. Tapi tentu saja, sebelum Hana, ibunya, mengetahui kalau dirinya berhubungan dengan Galila. Bagi Hana, pasangan tepat bagi Eddie haruslah perempuan yang memiliki iman yang sama, berasal dari suku yang sama yaitu Batak, dan harus memiliki marga (marga Batak, sudah pasti). Galila tidak memenuhi kriteria baginya untuk dijadikan menantu. Hana sudah memiliki kandidat yang dipandangnya sesuai dan sederajat dengan anak laki-laki semata wayangnya. Tanpa memedulikan kebahagiaan Eddie, yang sejak kecil hidupnya sudah diarahkan untuk kepentingan keluarga.

Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang statis. Dia harus dicari dan ditemukan terus-menerus. Diusahakan. Diperjuangkan. Komitmen, kata Eddie pada Galila (hlm. 161). Aku cuma mau bilang bahwa kamu adalah sebentuk kebahagiaan yang selama ini aku cari dan akan terus aku perjuangkan. Kebahagiaan kita adalah cita-cita (hlm. 162).

Tapi, dengan sikap Hana yang otoriter, cita-cita itu amat tidak mudah diwujudkan. Eddie harus berjuang keras untuk memiliki Galila. Hingga sebuah realita kejam menghantam hubungan mereka, saat masa lalu kelam Galila, yang sudah dikuburnya, bangkit dan menebarkan tulah ke dalam hubungan mereka. Apakah Eddie akan terus bertahan untuk berjuang memenangkan perempuan yang dicintainya, atau ia malah bertekuk lutut pada kehendak ibunya yang tanpa ampun?

Sebagai pengarang yang memuja cinta -novel pertamanya pun tentang cinta, pada novel ini, Jessica Huwae, masih menawarkan problematika cinta kepada pembacanya. Cinta yang dimunculkannya, dibenturkannya dengan permasalahan yang tak lekang oleh perkembangan zaman: adat -atau sukuisme- dan perjodohan. Semodern apa pun zaman, bibit-bebet-bobot masih dijadikan kriteria penting bagi sementara orang untuk menuju ke pelaminan.

Omong kosong. Apa benar bibit saja cukup untuk menentukan masa depan seseorang? Ada begitu banyak hal yang menyerbu bibit ketika dia baru selesai disemai. Ada yang jatuh di tanah berbatu-batu, yang tumbuh sejenak lantas layu karena tidak berakar. Ada yang jatuh di semak duri yang terus membesar dan mengimpitnya sampai mati - namun ada juga yang jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah sampai berpuluh-puluh kali lipat. Demikian pun dengan hidup manusia. Manusia tidak pergi sebagaimana ketika dia datang, karena ada begitu banyak hal yang terjadi dalam perjalanan. Yang terdepan menjadi yang terbelakang, yang terdahulu menjadi yang terkemudian. Begitulah cara hidup memelihara dan memberimu kejutan (hlm. 144-145).

Kriteria bibit-bebet-bobot yang dipegang teguh Hanna memang bukan sekadar dalih baginya untuk memisahkan Eddie dan  Galila. Berasal dari suku Batak, menikahi laki-laki Batak, tidak bercerai dalam rentang pernikahan mereka, memberikannya teori bahwa apa yang ia alami dan imani merupakan solusi tokcer bagi masa depan anak laki-lakinya. Tanpa mau menyadari Eddie bukan anak-anak lagi, sudah bisa menentukan siapa yang tepat dijadikan pasangan hidup, dan tidak selalu ingin hidupnya berjalan menurut kuasa orang lain.

Hana tahu bahwa dia harus mengambil tindakan. Eddie tidak boleh dibiarkan sewenang-wenang memutuskan hidupnya sendiri. Dia tidak berani membayangkan anak laki-laki kesayangannya itu terjebak dalam pilihan salah yang harus dijalaninya seumur hidup. Dulu opung-nya selalu berpesan, "Bila salah potong rambut, menyesal hanya sebulan. Bila kau salah makan, perutmu hanya sakit satu atau dua jam. Tapi bila kau salah pilih jodoh, seumur hidup kau tinggal dalam duka dan penyesalan." (hlm. 111-112).

Untuk memperkompleks percintaan Galila dan Eddie, Jessica memberikan Galila sebuah masa lalu kelam. Masa lalu itu menimbulkan pertanyaan: apakah perempuan dengan masa lalu kelam tidak berhak dengan masa depan penuh kebahagiaan? Eddie-lah yang mesti menjawab pertanyaan ini. Seperti apa jawaban Eddie, akan kita temukan sebelum novel ini kita tamatkan.

Membaca Galila merupakan pengalaman baca yang menyenangkan. Selain konflik yang masih cukup menggelitik yang diletakkannya dalam plot yang tidak cuma linier sehingga menumbuhkan kepenasaranan, Jessica menyajikan kisahnya dengan indah. Rangkaian kalimat bernas dimunculkan dengan memanfaatkan diksi yang tepat. Banyak kalimat yang tetap impresif meskipun dibaca beberapa kali. Dialog dan narasi atau deskripsi yang dibuatnya cukup berimbang, tidak ada yang kebanyakan sehingga menjadi mubazir. Dibandingkan dengan novel pendahulunya, Soulmate.com (2006), Galila jauh lebih menarik, baik dari konflik, karakterisasi, maupun penyajiannya.

Jessica sangat mengenal tanah leluhur ayahnya yang dipinjam menjadi tempat asal Galila. Kondisi kehidupan di Saparua dengan kemiskinan dan kesusahan hidup karena tidak adanya pemerataan pembangunan. Mata pencaharian sebagai nelayan yang tidak pernah memakmurkan penduduknya. Dan tidak terlupakan adalah kerusuhan antaragama yang sempat memorakporandakan semua sendi kehidupan masyarakat. Tapi Jessica juga akrab dengan kultur Batak, suku ibunya, yang dijadikan asal-muasal Eddie. Sehingga hasilnya, konflik kesukuan yang ditampilkannya tidak meragukan.

Ada satu karakter yang terus melekat dalam ingatan saya. Ia tidak tampil dominan tapi ia mengingatkan saya pada karakter tidak menyenangkan dalam novel Carrie karya Stephen King. Siapa lagi kalau bukan Greta -ibu Galila- yang memutuskan anak perempuannya tidak membutuhkan nama belakang ayahnya. Religiositasnya yang banal membuat Greta memiliki kesamaan dengan Margaret White -ibu Carrie- yang menjadi sumber masalah dalam hidup Carrie.

Akhirnya -meskipun novel ini masih belum steril dari typo- hanya satu kata yang mencerminkan hasil pembacaan novel ini: memuaskan!

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan