Showing posts with label Dalih Sembiring. Show all posts
Showing posts with label Dalih Sembiring. Show all posts
12 February 2012

Nel


Judul: Nel
Penulis: Dalih Sembiring
Tebal: 161 halaman
Cetakan: 1, 2009
Penerbit: Pink Ink Publisher

 

Nel merupakan novel perdana bertema dewasa dari penulis muda Dalih Sembiring. Sebelumnya, ia telah menulis cerpen-cerpen yang dipublikasikan di media seperti Jurnal ON/OFF, Horison, Jurnal Cerita Pendek Indonesia, dan The Jakarta Post. Dalih menyumbang cerpen Sebuah Ruangan Berdinding Abu-abu dalam antologi cerpen LGBT  Rahasia Bulan (Gramedia, 2006). Dalam perjalanan kepenulisannya, bersama Abmi Handayani, ia telah menerbitkan novel remaja berjudul Cha untuk Chayang (Maret, 2007). Nel pertama kali disinggung ketika fragmennya yang berjudul Ilham dimuat di Jurnal ON/OFF pada Mei 2005. Disebutkan bahwa Nel yang sedang ditulis Dalih adalah sebuah novel semi autobiografis. 

Membaca cerpen-cerpen penulis yang juga telah menulis naskah film berjudul Kado Hari Jadi (disutradarai Paul Agusta) ini, saya melihat bakat yang belum banyak terekspos dalam dunia sastra Indonesia. Sehingga, ketika bertemu Dalih di Yogya suatu kali, saya sempat menanyakan nasib novelnya yang belum rampung. Tentu saja saya gembira ketika akhirnya menerima kabar kalau Nel berhasil dituntaskan. Novel bertema homoseksualitas ini akhirnya diterbitkan pada Mei 2009 oleh Pink Ink Publisher yang memiliki misi menyediakan bacaan bertema LGBT yang berkualitas.

Pada awal novel, Dalih menyorongkan kepada pembaca kisah seorang gadis bernama Vian yang sedang bersedih. Ia harus berpisah dengan lelaki yang ia cintai, Daniel Sebayang atau Nel. Vian menghadapi kenyataan getir: mencintai seorang lelaki yang pernah mencintai dua laki-laki sebelumnya. Dua lelaki yang merongrong jalinan cintanya dengan teman sekelas di Arsitektur UGM ini. Bahkan dengan telak sanggup merenggut sang kekasih dari sisinya.

Lelaki pertama bernama Ilham. Dalam diri teman masa kecil di Binjai inilah Nel memastikan orientasi seksualnya. Cinta sejenis tumbuh hingga masa remaja menyapa. Kendati mesti berpisah 3 tahun karena Nel mengikuti ayahnya yang melanjutkan studi di Canberra (Australia), cinta di antara mereka tidak merenggang. Upaya Ilham untuk memacari perempuan tidak bisa menggusah rasa yang sudah ditanamkan. Sayangnya, sebelum Nel menyatakan cinta, pada 29 Juni 2001, Ilham dirampas dari sisinya karena tewas dalam sebuah kecelakaan.

Pada September 2002, Nel yang telah bermukim di Yogya dengan keluarganya, kembali ke kota kelahirannya, Binjai. Tujuan Nel tidak lain adalah untuk berziarah ke makam kekasihnya. Di Binjai, Nel juga akan berjumpa Elis, perempuan yang dikenalnya di Australia. Elis telah menerima undangan Nel, dan akan datang bersama Shane, lelaki bule yang sudah 6 tahun hidup bersama dengannya. Perempuan berdarah Manado ini telah tergiur dengan kabar Nel tentang durian dan mawas.

Dalam perjalanan menuju Binjai, di atas Kapal Sinabung, Nel bertemu lelaki misterius yang memperkenalkan diri sebagai Aryo. Anehnya, Aryo tampaknya telah mengenal Nel. Aryo yang mengaku sebagai lulusan States konon punya urusan di Medan. Pilihan Aryo untuk menumpang Sinabung tidak mengusik benak Nel: betapa seorang yang mengaku lulusan States dan tampaknya punya bisnis meraup rupiah mau berlelah-lelah di kelas ekonomi sebuah kapal laut. Karenanya Nel bingung, ketika tiba di Batam, Aryo mendadak meninggalkannya. Tapi tak diragukan lagi, Aryo menjadi lelaki kedua yang berhasil membuat Nel mencampakkan Vian.

Tujuan Nel ke Binjai pun tercapai. Ia bisa menyambangi makam Ilham. Hanya saja, kedatangannya di kota ini mengundang Ilham dalam mimpinya.  Pada salah satu mimpi, Ilham berkata: "Pilihannya cuma dua, Nel. Kau yang mati, atau aku. Kau dan aku sudah berbuat terlalu jauh. Bukan, bukan karena kita sama-sama laki-laki. Kematian adalah satu-satunya cara menebus ketidakpahaman kita, sementara kita paham bahwa kita laki-laki." Nel sama sekali tidak bisa menafsirkan mimpinya. Dan mimpi seakan tidak mau bersudah, bahkan setelah Elis dan Shane yang sudah tiga tahun tak bersua menjejak Binjai. Dalam perjalanan dengan kedua sahabatnya menuju Bukit Lawang, Ilham menyelip dalam mimpi Nel, mengangsurkan teka-teki kematiannya. Apa sebenarnya yang hendak disampaikan Ilham lewat mimpi Nel? Apa maksud Ilham dengan ucapan-ucapannya yang berkisar pada dua kata: payudara dan ketidakpahaman? Mungkinkah mimpi itu hanyalah kembang tidur yang tidak bermakna apa-apa?

Masih di Bukit Lawang, Nel mendapat kabar jika Gurung, kakeknya, masuk rumah sakit. Begitu menerima kabar itu, tanpa pikir panjang, Nel ngotot kembali ke Binjai. SMS seseorang bernama Mageng Sadewa mencoba mengurungkan niat Nel. Saat itu, Binjai memang tengah dilanda ketegangan. Kerusuhan dipantik kalangan yang seharusnya menjaga keamanan: polisi dan tentara. Belum lagi kasus perusakan rumah keluarga Tionghoa yang berpotensi membakar situasi. Tapi, siapa sebenarnya Mageng Sadewa yang kelihatannya diam-diam membuntuti perjalanan Nel? Jati diri Mageng Sadewa baru menjadi jelas ketika hari berikutnya Nel dan kedua sahabatnya memutuskan kembali ke Binjai. Pada penghujung perjalanan mengundang maut itu, Nel akhirnya menyaksikan jika mimpinya tidak hanya sekadar kembang tidur. Ia mendapatkan jawaban teka-teki Ilham. Dan mesti menerima pesan lelaki pertamanya itu,  "Kisahku telah digenapi, Nel. Bukan kisahmu. Kau harus hidup untuk meneruskan ceritamu sendiri."  Di dalam kehidupan itu, Aryo telah menanti, dengan cinta yang penuh ketidakpastian, namun sanggup menggeser sekuntum teratai putih nan cantik.

Novel ini merupakan pembuktian kemampuan estetika Dalih Sembiring sebagai pencerita. Saya suka banyak rangkaian kalimatnya yang diuntai dengan indah. Kosakatanya terasa kaya, tetapi selektif. Simak guratan Dalih seperti berikut: 

"Bahtera Sinabung terbebat gelap pekat seperti seekor sotong raksasa yang kehilangan pigmennya setelah menyemprotkan tinta hitam ke sekitar." Atau "Mereka menyaksikan matahari merayap naik mengutuhkan bulatannya di atas horison. Cahayanya kuning lemon dan laut beriak runtut. Langit tersapu awan kabu-kabu seperti selendang flanel putih yang robek belasan perca. "

Simak pula keelokan Dalih merangkai kalimat berikut  ini: "Bahwa makhluk paling indah yang pernah diciptakan masih ada di bumi. Ia hadir berulang kali dalam wujud dan anasir apapun, namun kini ia punya nama: candu, cemburu, cinta, coba, cura. Kau tak dapat memilih kapan ia datang. Dan saat benar ia datang, cobalah untuk tidak buru-buru menampiknya. Bila akal telah tunduk, segenap rasamu telah takluk, rengkuh dia di dada, jadikan bagian yang baru dari sebelah hatimu."

Pada banyak bagian, kita akan menemukan kecanggihan Dalih berbahasa. Termasuk dalam menarasikan riwayat seseorang. Perhatian saya terbetot pada kisah hidup Alicia Martina Litaray. Diam-diam, Elis yang begitu terbuka dan bebas, menyimpan masa lalu yang kelam sebagai pengidap sindroma Capgras. Sindroma yang pertama kali didiagnosis pada tahun 1920 di Prancis ini membuat Elis memandang kedua orangtuanya sebagai duplikat orangtuanya yang sejati. Jujur, saya belum pernah membaca kasus sindroma Capgras dalam sejarah penyakit di Indonesia. Namun seperti beberapa kasus yang pernah terjadi di Barat, kasus sejenis mungkin saja terjadi di sini. Bisa dikatakan, Dalih berhasil menjabarkan pergumulan pikiran penderita sindroma ini dengan tangkas dan memberikan efek yang menggetarkan. Sayangnya, ide brilian ini hanya mengambil tempat di masa lalu Elis. Apakah di masa kini Elis akhirnya pulih? Oh, tentu saja saya menyangsikan. Karenanya, saya membayangkan sindroma ini akan membuat hubungan Elis dan Shane tercabik-cabik saat mereka berada di Binjai. Saya mengira Dalih akan melakukannya manakala ia menyampaikan bahwa sejak kedatangan di Binjai pasangan itu lebih banyak diam. Tapi ternyata perkiraan saya meleset. Mungkin karena masalah Elis memang bukan topik utama yang hendak disampaikan. Namun, karena kadung diangkat, kenapa tidak dibeber lebih tanpa menjuruskan novel ini pada genre thriller?

Dalam bertutur Dalih dengan bebas berganti-ganti perspektif, yang kadang-kadang terkesan 'blur', kendati tidak membuat bingung. Kerap sedang menggunakan perspektif orang ketiga, Dalih bermain-main dengan orang pertama. Kadang juga ia menggunakan perspektif orang kedua, seolah-olah ia sendiri sedang berbicara pada pembaca. Alhasil, apa yang disampaikan Dalih tersaji lebih menarik, tidak monoton dan pembaca tetap bisa mengikuti plotnya.

Untuk menggulirkan plot, Dalih tidak hanya mengandalkan teknik penulisan konvensional. Ia pun tak segan menggunakan bentuk penulisan skenario ketika mengungkapkan penyebab dan terjadinya kerusuhan di Binjai. Hal ini bisa dipandang sebagai cara untuk berkelit dari potensi terjadinya lanturan. Sebab, dengan menggunakan teknik penulisan konvensional, kemungkinan Dalih akan terlalu mengalihkan konsentrasi pembaca terhadap cerita utama -meskipun dampak kerusuhan ini membuat Nel memahami arti pesan Ilham dalam mimpi-mimpinya. Bentuk penulisan skenario yang diimbuhkan dalam novel bukanlah hal baru. Clara Ng pernah menggunakan gaya yang sama pada beberapa bagian novelnya yang bertajuk The Un(Reality) Show (Gramedia, 2005). Demikian juga penyajian isi chatting antara Nel dan Vian yang digunakan Dalih pada penghujung novel, sudah banyak diterapkan dalam novel-novel Indonesia.

Tema utama novel ini sudah jelas: homoseksualitas. Namun perlu dicatat: Dalih tidak jalan di tempat. Ia tidak menyampaikan kisah stereotipikal laki-laki homoseks yang acap dikemukakan, bermasalah dengan keluarga dan penerimaannya di tengah masyarakat. Bagi Dalih, hubungan cinta homoseksual bukanlah sesuatu yang harus dijadikan beban. Sama wajarnya dengan cinta heteroseksual, dengan batasan-batasan yang sama. Dalih juga meninggalkan kisah cinta sejenis yang menggebu-gebu. Kecuali identifikasi orientasi seksual antara Nel dan Ilham pada masa kecil mereka yang dibentangkan pada bagian berjudul Ilham (yang juga dimuat dalam jurnal ON/OFF, Cinta Pertama:  Kisah Pramoedya, Remaja dan Homoseksual), Dalih tidak menghidangkan sajian seks tak penting yang berkesinambungan di sekujur novel. Bagaimanapun, tidak semua pembaca bisa menikmati eksplorasi aktivitas seksual dalam karya fiksi: hetero atau homo. Saya kira, Dalih sangat menyadari hal ini.


10 February 2012

Cha untuk Chayang



Judul Buku: Cha untuk Chayang
Penulis : Dalih Sembiring & Abmi Handayani
Tebal : 224 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2007
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama



Jogja menjadi latar kisah Cha Untuk Chayang, TeenLit karya Dalih Sembiring dan Abmi Handayani. Di dalamnya ada seorang gadis bernama Herlina Salim, seorang pendatang di kota pelajar ini. Karakter ini dibawa dari Balikpapan, lengkap dengan penampilannya yang lugu-lugu cerdas, untuk menjadi mahasiswa Fakultas Hukum UGM. Setelah kehilangan ponsel di bus Jogja yang pengemudinya tak kalah ugal-ugalan dengan pengemudi bus di Jakarta, Lina memutuskan mencari pekerjaan. Secara kebetulan, Bebe's Burger yang baru dibuka membutuhkan karyawan. Maka, pemilik kafe tersebut, Bebe –terlahir sebagai Burhan- menerima Lina untuk menjadi karyawannya. Kebaikan Bebe, sang mbak jadi-jadian, membuat Lina lekas dekat dengannya. Selain Bebe, pekerjaan Lina akan mempertemukannya dengan Imam, koki Bebe's Burger, dua pudel jelita : Zeta dan Lili, dan Eno, si jutek berpenampilan lesbian. Mereka akan menyertai hari-hari Lina bersama Helmi, cowok imut yang mencintai Lina dan Yogi, cowok indie idaman Lina yang sayangnya tidak tertarik padanya. Untuk mendapatkan perhatian Yogi, Lina sengaja bermetamorfosis menjadi seorang cewek pudel yang gemar berdandan seperti kesukaan Yogi yang memang poodleaholic. Selain itu, demi Yogi, Lina belajar membuat bubuk cha latte yang tidak disukainya. Sayangnya lagi, situasi tidak mendukung proses metamorfosisnya. Lina memang menjadi kupu-kupu nan cantik, tapi kehilangan orang-orang terdekatnya. 

Cha untuk Chayang, seperti umumnya TeenLit, tidak menjauh dari dunia remaja kosmopolitan dengan aksesori pernak-pernik cinta. Di sini kita akan menemukan remaja putri yang jatuh cinta, melakukan usaha untuk mendapatkan cinta meskipun terpaksa mengenyahkan kepribadian aslinya. Dengan rancangan kisah seperti ini, awalnya saya hampir kehilangan minat karena terkesan basi. Tapi setelah membaca novel ini sampai tuntas –dalam waktu yang sangat singkat- saya menemukan ada yang menarik. Pertama, Dalih dan Abmi, bukanlah pencerita yang bertele-tele. Mereka menggulirkan cerita dengan cepat, cerdas, dan kocak. Tetap ringan, sekaligus wajar dan tidak mengada-ada. Kedua, tidak seperti pakem TeenLit umumnya, novel ini tidak hanya berkutat dalam kisah cinta stereotipikal. Dalih dan Abmi mengangkat topik pengenalan karakter utama terhadap kehidupan dan pada kesadaran bahwa perubahan bisa terjadi asalkan tidak mengorbankan identitas. Oleh sebab itu, akhir yang dipintal sejoli penulis ini tidak hanya sekadar manis melainkan juga pintar.

 Giling, ada jemurannya, bo!


Dalam bertutur, kedua penulis terkadang menyemburkan sindiran. Simak saja percakapan warung kopi (Manut Nite) soal penggunaan bahasa yang terasa ironis. Sekelompok anak muda terdiri atas binan, penggemar pantat bahenol, pencinta ChickLit, dan pelaku seks bebas dengan sok mempreteli penggunaan bahasa. Padahalmereka sendiri yang notabene 'warga' Jogja berbusa-busa menggunakan kata ganti 'gue' dan 'lu'. Saat ini memang Jogja sudah sangat heterogen. Bukan hanya dari segi penduduk, latar belakang sosial, orientasi seksual, tapi juga dari segi bahasa. Toh tetap terasa aneh, di Jogja mendengar anak-anak mudanya bercuap-cuap menggunakan kata ganti 'gue' dan 'lu'. 

Hal menarik lainnya dalam novel ini adalah kehidupan binan Jogja yang dilekapkan dalam plot novel. Kita akan menemukan ungkapan register binan yang belepotan tapi membuat novel ini terasa semakin hidup. Tidak perlu khawatir, kedua penulis sebisa mungkin memberikan padanan kata bagi pembaca yang asing terhadap bahasa binan. 

Cha untuk Chayang adalah novel tentang pendatang di Jogja. Maka, kita akan menemukan cerita tentang rumah kos, teman-teman kos, tempat mangkal anak-anak kos seperti angkringan dengan nasi kucing dan kopi jos, burjo dengan beraneka jualan yang cukup digemari anak muda, juga warung kopi dan Momento yang menyajikan cha latte. Untuk menyemarakkan Jogja dalam fiksi, ada Bebe's Burger dengan Embes Bembes Burger andalannya dan sebuah hidangan bernama Horny Soup (bayangkan saja sendiri seperti apa).

Selain Lina sebagai tokoh sentral, Bebe, sang peri wandu, adalah karakter yang sangat menonjol dalam buku ini. Kehadiran Bebe bukan saja mempercantik cerita, tapi memberi makna bagi keseluruhan kisah. Seandainya karakter Bebe dicopot dan diganti dengan karakter normal yang sangat umum, Kisah Lina, Pudel, dan Cha latte ini akan kehilangan greget. 

Secara keseluruhan, Cha Untuk Chayang adalah sebuah TeenLit yang enak dibaca dan tidak garing. Cukup bisa membangkitkan energi positif untuk memahami hakikat kehidupan sebenarnya. Bahwa kehidupan tidak melulu berisikan hal-hal yang indah, melainkan juga yang mengecewakan. Karenanya, harus dijalani apa adanya, dengan ketegaran yang disertai keyakinan jika hidup mempunyai metode sendiri untuk memecahkan masalah.

Bagi Dalih Sembiring dan Abmi Handayani, Cha Untuk Chayang adalah novel pertama yang telah diterbitkan.


Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan