Showing posts with label Maggie Tiojakin. Show all posts
Showing posts with label Maggie Tiojakin. Show all posts
08 October 2013

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa




Judul Buku: Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Pengarang: Maggie Tiojakin
Editor: Mirna Yulistianti
Tebal: 244 halaman
Cetakan: 1, Juli 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama







Seperti yang dikatakan oleh Maggie Tiojakin (Mengupas Absurditas..., hlm. 237), semua tentang kehidupan adalah hal yang absurd. Itulah sebabnya, pencantuman "Kumpulan Cerita Absurd" untuk kumpulan cerpen (kumcer) Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa tidaklah relevan. Semua hal yang tidak masuk akal, bodoh, konyol ataupun tidak layak sesuai definisi absurd yang terbaca dalam kumpulan cerpen ini bisa ditemukan dalam cerpen-cerpen pengarang lain yang tidak menobatkan karyanya sebagai cerita absurd. Dan semua hal itu memang bisa terjadi dalam kehidupan nyata. 

Terdapat 14 cerpen berbahasa Indonesia dan 5 bonus cerpen berbahasa Inggris karya Maggie dalam kumcer ini. Sebagaimana dalam kumcer sebelumnya yang merupakan kumcer kedua, Balada Ching-Ching (GPU, 2010) -kumcer pertama Maggie, Homecoming, diterbitkan sendiri pada tahun 2006- Maggie menulis cerpen-cerpennya dengan gaya berkisah yang enak dibaca dan bahasa baku yang tetap terasa segar. Nyaris di setiap penghujung cerpennya, kita akan dibenturkan dengan kejutan yang mengundang tanya.  

Tak Ada Badai di Taman Eden dijadikan cerpen pembuka kumpulan cerpen ini. Barney dan Anouk adalah pasutri yang telah menikah lebih dari sewindu. Tapi gara-gara sebuah kecelakaan di jalan tol tiga tahun berselang, hubungan di antara mereka berubah. 

Sejak saat itu, hidup mereka tak sama lagi. Di tempat ratusan, ribuan jejak memori - kejadian tersebut tersemat bagai duri. Kini mereka sibuk mencari mimpi dengan cara sendiri-sendiri: Anouk meyakini bahwa setahun sekali langit pecah berkeping-keping dan meninggalkan alam yang tak pasti, sementara Barney menghabiskan tiga ratus enam puluh empat hari dalam setahun memungut kepingan tersebut dan menyusunnya kembali, menciptakan sebuah ilusi. Satu demi satu. Bulan demi bintang demi gumpalan awan. Seperti pasang-pasangan. (hlm. 4-5). 

Mereka tidak sebahagia masa-masa awal pernikahan. Meskipun masih hidup serumah, Anouk  bersikap acuh tak acuh. Barney pun bersikap pura-pura, berusaha menyepelekan kondisi pernikahannya. "Cuma badai biasa," katanya (hlm. 9). Sementara kehidupan mereka terus berlanjut, kita bertanya-tanya: apakah mereka bisa bertahan dalam kehidupan seperti itu? 

Kristallnacht yang dijadikan judul cerpen adalah malam saat Nazi pimpinan Adolf Hitler melakukan pogrom kediaman, tempat usaha, dan sinagoga milik warga Yahudi di seluruh Jerman dan sebagian Austria pada 9-10 November 1938. Kaca-kaca bangunan milik warga Yahudi dihancurkan dengan palu godam sehingga pecahan bertebaran di jalan-jalan kota. Itulah sebabnya peristiwa itu dikenal sebagai Kristallnacht (Malam Kristal atau Malam Kaca Pecah). Tapi bukan kisah penghancuran ini yang menjadi fokus cerpen Kristallnacht. Malam kacah pecah hanya menjadi awal terjadinya Kindertransport. Sembilan bulan sebelum Perang Dunia II, Inggris membuka pintu bagi anak-anak Yahudi dari beberapa negara Eropa. Program yang berhasil mengungsikan sekitar 10 ribu anak-anak -balita sampai 17 tahun- ini dihentikan Hitler dengan menutup semua perbatasan negara-negara yang dikuasainya. Shir, perempuan Yahudi dalam cerpen ini, diwawancarai sebuah televisi nasional dalam rangka dokumentasi sejarah. Perempuan itu mengenang kembali peristiwa yang terjadi saat ia berusia delapan tahun dan diikutkan orangtuanya dalam Kindertransport. Sebuah peristiwa yang dipicu ayahnya membuatnya terpaksa berakhir di kamp konsentrasi. Apa yang dilakukan ayahnya, dan mampukah ia memaafkan laki-laki itu? Cerpen ini disusun dalam bentuk wawancara yang belum tuntas sampai ditamatkan. Sebuah keharuan akan menyeruak dalam hati saat Anda memikirkan jawaban dari pertanyaan pamungkas. 

Semestinya, saat banjir melanda, orang-orang akan mengungsi untuk menyelamatkan diri. Tapi Ahi, karakter utama cerpen Lompat Indah malah naik ke atas genteng rumahnya, menyaksikan situasi yang sedang berlangsung dan orang-orang yang mengungsi. Padahal, sudah tersiar kabar kalau kampungnya akan terbenam banjir saat malam hari. Kesadaran Ahi baru muncul ketika malam tiba dan banjir tak kunjung surut, malah menghasilkan kolam luas. 

Saat cahaya senja nyaris hilang diserap malam, dan seberkas warna lavender menghampar di langit kelam, Ahi mengerutkan dahi dan mengusap mata berkali-kali. Air berdesir, bergemericik, dan menggelembung dari kedalaman di bawah. Lalu -
 
Ahi terpingkal-pingkal sampai airmata membasahi pipi. (hlm.  38).  

Apakah Ahi sanggup menyelamatkan dirinya, ataukah ia akan diselamatkan, atau terpaksa harus berdamai dengan petaka? 

Dengan gamblang dan serius, dalam cerpen Fatima, Maggie mengisahkan misi pembebasan sandera yang dilakukan oleh Pinot. Ia mengikuti arahan Fatima, Sekretaris Eksekutif dari markas besar. Tapi rupanya keberuntungan tidak memihak Pinot karena ia malah tewas dalam pekerjaannya. 

Masih terngiang suara Fatima di telinganya. Ada debar aneh yang melanda setiap kali ia mengingat suara itu, menjalar ke sekujur tubuhnya, seperti sengatan lembut arus listrik yang membangkitkan bulu kuduk. (hlm. 49). 

Tidak ada yang absurd dalam cerpen ini, kecuali karakter Pinot sendiri. 

Mengulang apa yang pernah dilakukannya dengan istrinya, Nimbe, Leven menghabiskan waktu dengan putrinya, Bitya, menjelajahi sebuah hutan liar. Leven telah bercerai dengan Nimbe, dan Bitya tinggal bersama ibunya, sehingga kebersamaan mereka tidak lain untuk membangun hubungan ayah dan anak. Kebersamaan mereka terasa menyenangkan walaupun Bitya yang bertubuh gempal kerap merasa tidak sabar. Tapi petaka memang selalu mengintai dan menimbulkan pertanyaan yang tidak pernah terjawab: apakah Leven mampu melindungi anak perempuannya? Cerpen ini bisa dijadikan panduan bagi orang yang suka menjelajah, maka memang cocok diberi judul Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar. 

Begini Maggie menggambarkan seting cerpen Kota Abu-Abu: 
 
Terletak di ujung dunia, di mana hujan turun tanpa henti dan matahari terus bersembunyi di balik awan gelap, kota ini menelan, mengunyah, dan melepehkan segala macam warna hingga kusam tanpa nyawa. Merah, kuning, biru, hijau, jingga, ungu - semua tampak sama jika dibalut sendu. Hanya ada satu warna yang konstan di sini; yaitu abu-abu. Bahkan air laut yang mengelilingi tepian kota tampak keabuan. Begitu juga dengan langit yang memayungi serta tanah yang jadi pijakan kami. (hlm. 64). 

Kota Abu-Abu, seharusnya, bukanlah kota yang menarik untuk dihuni. Itulah sebabnya Temuji kerap meninggalkan kota ini untuk mencari kota-kota yang bersemburat warna. Tapi, Remos, sang narator cerpen, tidak pernah meninggalkan kota kelahirannya itu, dan ia memang tidak pernah berniat. 

Seperti yang terjadi pada Remos, kita memang sering terbuai dalam zona nyaman. Kita puas dengan kondisi kehidupan kita sekalipun tidak menjadi bahagia karenanya. Sebuah sindiran telak diberikan Temuji kepada Remos (dan kepada kita): "Memang sudah seharusnya begitu. Tak ada apa-apa untukmu di luar sana." (hlm. 70). 

Azmov, bocah laki-laki berumur 10 tahun dalam cerpen dies irae, dies illa tinggal di Distrik Rotan, Kota Pulveri, yang telah luluh lantak karena perang antara pemerintah Provinsi Pulverem dan pasukan pemberontak El Sadik. Agar keluarga tanpa ayahnya tidak kelaparan, Azmov nekat mencuri di toko roti Oviz Mabud. Dari perspektif bocah laki-laki itu, Maggie mengangkat kesadisan perang saudara dan dampak yang ditimbulkannya pada para warga dan tempat tinggal mereka. Menyedihkan dan bikin geram. 

Dalam waktu singkat, distrik itu akan rata dengan tanah dan tak ada seorang pun yang selamat. Dalam waktu singkat, dunia akan berkabung dan menyayangkan kepemimpinan seorang gubernur yang tak tanggung-tanggung menghajar warganya sendiri demi mempertahankan kekuasaan. Dalam waktu singkat, orang-orang yang tak pernah angkat senjata akan berakhir di layar kaca sebagai statistik. Angka yang terus membengkak. (hlm. 90). 

Saksi Mata mengisahkan tentang kasus pembunuhan seorang perempuan bernama Chaya di kompleks rumah susun tempat tinggalnya pada sebuah dini hari. Sebelum mati tersedak darah sendiri setelah ditusuk enam belas kali, Chaya sempat berteriak minta tolong. Tapi tidak ada yang datang sampai ia mengembuskan napas terakhir. Padahal, saat kejadian, masih ada penghuni rumah susun yang terjaga, bahkan sempat mendengar teriakan perempuan malang itu. Dalam penuturan Maggie, kita bisa memastikan kalau diabaikannya teriakan minta tolong Chaya tidak lain disebabkan oleh ketidakpedulian. Embra, istri Paprius, bahkan mencegah suaminya memberikan pertolongan dengan mengatakan: "Apa pun yang sedang terjadi di bawah, bukan urusanmu. Biar orang itu mengurus urusannya sendiri." (hlm. 97). Kejadian yang menimpa Chaya persis seperti yang terjadi pada Catherine "Kitty"  Genovese, warga New York City yang ditikam di depan apartemennya di Queens pada 13 Maret 1964. Saat kejadian, selusin tetangga mendengar teriakan minta tolongnya, tapi tidak ada yang datang menolong ataupun menelepon polisi.  

Danno dalam cerpen Labirin yang Melingkar-Lingkar dalam Sangkar memiliki ketertarikan pada bangunan terlantar. Ia akan memaksa Hattashi, narator cerpen ini, untuk mengikuti eksplorasinya. Sampai suatu hari, Hattashi terseret petualangan di Stasiun Kereta Kota Tua yang terbengkalai. Mereka masuk hingga ke lorong gelap tempat jalur kereta berada dalam terowongan panjang. Secara tiba-tiba, Hattashi merasa tidak enak dan ingin menghentikan petualangan mereka.  Tapi Danno tidak ingin berhenti karena bertekad melihat api abadi -yang katanya- berada di dalam terowongan. Apakah, kali ini, mereka bisa menyelesaikan petualangan dan kembali pada pekerjaan mereka? Ketegangan tak terjelaskan kian terasa saat cerpen ini mendekati ending-nya. 

Ro-Kok berkisah tentang betapa sukarnya seseorang melepaskan ketergantungannya pada rokok. Feri, karakter utama cerpen, telah merokok sejak umur sebelas tahun dan tidak gampang baginya untuk menghentikan kebiasaan ini. Tapi, Kirai, kekasihnya, tidak mampu menolerir kebiasaan Feri, dan memberikan ultimatum. "Kamu isap rokok itu. Kita selesai." (hlm. 136/137). Apakah Feri akan mengabaikan Kirai dan tetap merokok atau ia akan menghentikan kebiasaannya demi cinta Kirai? 

Masaai adalah lelaki pemberani. Ia telah melakukan kegiatan-kegiatan berbahaya seperti base jumping, cave diving, heli-skiing, balap motor, berselancar di pantai-pantai berombak ganas, mengikuti encierro di Pamploma saat Festival San Fermin. "Pada intinya, aku tidak mencoba untuk mati. Aku justru merayakan hidup," begitu alasan Masaai (hlm. 145). Meskipun demikian, Zaleb -istrinya- tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya. Cinta, itulah yang membuatnya mengalah, dan cinta pula yang membuatnya mengikuti suaminya yang akan menyelam di perairan Pasifik. Apakah Masaai tetap akan mendampingi Zaleb setelah sekali lagi ia menunjukkan keberaniannya? Lepas dari itu, cerpen Dia, Pemberani mencetuskan pertanyaan lain. Benarkah melakukan kegiatan berbahaya adalah bentuk perayaan kehidupan? Atau bentuk keegoisan dan sikap tidak bertanggung jawab? 

Salina, karakter utama cerpen Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini, sudah pasti berbeda dengan kakak perempuannya, Vora. Salina masih kuliah, sedangkan Vora sudah bekerja. Salina berpakaian seenaknya, sedangkan Vora selalu berpenampilan rapi. Saat Salina menceburkan dirinya dalam dunia game internet, Vora sedang kesal dengan pacarnya yang tidak menepati janji. Lalu, di mana mereka akan menemukan titik singgung? Setelah secara gamblang Maggie menceritakan permainan game internet Salina dan Arta, ia akan menunjukkan titik singgung kedua gadis bersaudara itu, untuk menemukan kembali arti persaudaraan. 

Aku yakin hal ini terjadi pada semua orang -bahkan, padamu juga. Suatu hari, di suatu tempat, seseorang pasti pernah menarik perhatianmu dan membuatmu berkhayal jauh tentang hidup yang bukan milik kalian berdua, tentang momen-momen intim yang tidak pernah terjadi (dan cenderung takkan pernah terjadi) serta argumen yang tak lebih dari sekadar hasil imajinasi.  (hlm. 182). Itulah yang dikatakan laki-laki yang menjadi narator cerpen Jam Kerja mengawali kisah pertemuannya dengan seorang perempuan yang menarik perhatiannya. Ia bertemu perempuan itu di sebuah ruangan ber-AC yang dingin dan menyadari "keindahan" sang perempuan. Tak terelakkan lagi, kesadaran itu memicu munculnya berbagai khayalan seperti yang dikatakannya pada kalimat pembukanya. Anda mungkin akan terkejut menyadari kebenaran yang disingkapkannya. 

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa sengaja ditulis sebagai 'cerita pendamping' untuk cerpen The Long Rain karya Ray Bradbudy. Jika dalam The Long Rain, Bradbury menceritakan tentang roket yang terdampar di Planet Venus (di mana hujan tak pernah berhenti), maka dalam cerpen ini, Maggie mendamparkan roketnya di Planet Merkurius (di mana matahari mempertahankan sinarnya sampai lebih dari 100 hari). Keempat prajurit-astronot dalam roket itu akan mengalami kesulitan untuk kembali ke bumi karena roket sudah rusak total. Maka Sang Kapten, Koveer, Yureko, dan Abatul meninggalkan roket dan berjalan di tengah teriknya matahari, hujan meteor, goncangan gempa, dan badai abu sementara planet itu mengalami kontraksi. Mereka seakan bertambah tua dan mengalami dehidrasi sampai buang air kecil pun tak mampu mengeluarkan cairan. Panas yang menyengat tidak bisa lagi memerah keringat mereka. Dan kematian pun menanti setiap organ tubuh mereka berhenti bekerja. Kisah yang ditulis Maggie tentu saja masih kalah dramatis dengan kisah dalam The Long Rain yang disinggungnya di halaman 195 tapi tetap memikat dengan tiadanya harapan seperti Kubah Matahari dalam karya Bradbury. 

Selain 14 cerpen yang ada, Maggie memberi bonus 5 cerpen yang ditulis dalam bahasa Inggris. An Evolutionary History berkisah tentang cinta segitiga antara Ruth, Taheer, dan Rora. Ruth yang pertama bertemu Taheer saat laki-laki itu datang ke Amerika untuk menjadi ichthyologist (ahli tentang ikan) Taheer datang ke restoran Indonesia tempat Ruth bekerja dan meminta rekomendasi makanan kepada Ruth. Mereka bertemu saat musim semi dan Ruth mengajak Taheer makan malam di apartemennya pada musim panas. Di sanalah Taheer berkenalan dengan Rora, teman sekamar Ruth, dan jatuh cinta pada gadis itu. Violet hanya merupakan curhat singkat seorang gadis bertubuh tinggi dan kurus yang memang tidak suka makan. Tiga belas tahun silam, saat gadis itu berusia 16 tahun, Violet duduk di sampingnya dan menawarkan sebatang Kit Kat. A Business Trip berkisah tentang perjalanan malam hari Henry, seorang feature writer, dari Jakarta ke Singapura untuk menulis. Rupanya ia sedang punya sedikit masalah, tapi sampai cerpen ini berakhir, Maggie tidak mengungkapkan masalahnya, kecuali kesan bahwa Henry adalah laki-laki kesepian. The Long March berseting saat terjadinya demonstrasi mahasiswa yang menuntut reformasi dan penurunan presiden. Dari kampus, Mara dan Joko mengikuti long march menuju kompleks parlemen. Joko, sudah pasti, khawatir, dan mengingatkan Mara kalau gadis itu bisa terluka. Tapi Mara pantang mundur. "I've never had to stand up for anything in my life. I think we should all be given the opportunity - or at least the option- to stand up for something," kata Mara (hlm. 221). Sunday Mass mengisahkan tentang Marlena dan Indriani, dua gadis yang pergi ke gereja St. Vincent pada sebuah Minggu pagi. Saat mereka tiba, gereja sudah penuh dan mereka tidak mendapatkan tempat duduk. Karena bosan, Indriani memutuskan keluar, menunggu kakaknya di depan  patung Perawan Maria dan berdoa. Ternyata, sebelum kebaktian selesai, Marlena juga sudah keluar. Di depan patung Perawan Maria, Marlena juga berdoa, dengan isi doa yang sangat jauh berbeda dengan adiknya. 

Secara keseluruhan saya menyukai gaya berkisah Maggie, kesederhanaannya yang memikat, keragaman pilihan tema kisahnya, dan observasi yang intens mengenai kehidupan yang dituang dalam setiap kisahnya. 

Saya akan selalu menantikan kehadiran karya-karyanya.


12 June 2012

Fiksi Lotus Volume 1


Judul Buku: Fiksi Lotus Volume 1
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Tebal: 194 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, April 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama






Bagi Maggie Tiojakin, cerita klasik adalah cerita yang tidak mengenal batasan waktu. Cerita klasik bisa dinikmati sekarang bahkan seribu tahun ke depan. Jika dikaitkan dengan tanaman lotus atau Nelumbo nucifera, cerita klasik ibarat bibit yang bisa bertahan hingga ribuan tahun. Bibit lotus tertua yang ditemukan berumur 1300 tahun. Tidak heran Maggie memilih nama Fiksi Lotus untuk situs cerita klasik yang dikelolanya. Di dalam situs ini, kita akan menemukan sejumlah cerita yang diterjemahkan Maggie untuk menambah perbendaharaan cerpen klasik  Indonesia sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi para pembacanya.

Tiga belas cerpen yang pernah dimuat di situs Fiksi Lotus dibuhul dengan satu cerpen lainnya menjadi kumpulan cerita pendek klasik dunia berjudul Fiksi Lotus Volume 1. Pencantuman nomor volume mengindikasikan kalau kumcer ini tidak akan menjadi buku satu-satunya dari Fiksi Lotus. 

Walter de la Mare dipilih membuka kumcer ini dengan cerpen berjudul Teka-Teki (The Riddle, 1923). Seperti judul terjemahan yang dipilih Maggie, cerpen ini memang bermuatan teka-teki yang sampai cerita dikhatamkan tetap tidak gampang dipecahkan oleh pembaca. Tujuh orang anak datang ke sebuah rumah tua untuk tinggal dengan nenek mereka. Nenek atau Oma membolehkan para cucu bermain di semua bagian rumah kecuali kamar berisi sebuah peti kayu. Sebagaimana yang sudah diduga, anak-anak itu akan melanggar peringatan Oma.

Kecemasan akan masa depan hubungannya dengan sang kekasih membuat Alan Austen, tokoh dalam cerpen Ramuan Cinta (The Chaser, 1951) karya John Collier, berniat membeli ramuan cinta. Selain dialog antara Alan dan si pedagang ramuan cinta, tidak ada lagi yang bisa kita nikmati dalam cerpen ini. 

Sang Ayah (The Father, 1907) karya Bjørnstjerne Bjørnson mendedahkan kisah cinta seorang ayah kepada anak laki-lakinya. Bagi pendeta yang membaptis anaknya, Thord Overaas adalah pria awet muda. Kesan ini terus tertanam hingga bertahun-tahun kemudian saat Thord berkunjung dan si pendeta nyaris tidak mengenalinya. Dalam keringkasannya, cerpen ini begitu kuat menarik kita ke dalam kumparan kesedihan Thord sebagai seorang ayah. 
 
Pengorbanan pasutri muda dalam cerpen abadi Pemberian Sang Magi (The Gift of the Magi, 1907) gubahan O. Henry disandingkan dengan apa yang dilakukan tiga orang majus pada saat kelahiran Yesus Kristus. Para majus membawa tiga hadiah yang memiliki arti besar: emas, kemenyan, dan mur. Pemberian hadiah ini telah melahirkan tradisi yang membuat Della dan Jim mengorbankan harta mereka yang paling berharga, demi orang yang mereka cintai. Meskipun berulang dibaca, cerpen ini tidak pernah membosankan. Penggunaan kata sandang ‘sang’ dalam judul terjemahan cerpen ini sebenarnya kurang pas karena magi adalah bentuk jamak (tunggal: magus) sedangkan ‘sang’ merujuk pada bentuk tunggal. 

Saki -nama pena Hector Hugh Munro- mengisahkan pertikaian turun-temurun terkait kasus sengketa kepemilikan lahan hutan dalam cerpen Menembus Batas (The Interlopers, 1919). Pertikaian itu tidak pernah bisa didamaikan lantaran kedua belah pihak tetap menyimpan dendam kesumat dan tidak pernah mau mengalah. Sampai suatu malam di musim dingin dalam hutan yang disengketakan, kedua pewaris konflik dari generasi ketiga bertemu dan badai menumbangkan sebatang beringin. Saki menyiapkan kejutan yang membuat ketar-ketir di bagian pamungkas. Selagi ada waktu, pertikaian memang mesti segera diselesaikan. 

Timothy Lean, pemimpin pasukan Spitzbergen, memutuskan untuk memakamkan rekannya yang tewas dalam perang melawan Rostina. Pemakaman ini tidak berlangsung mulus bahkan hingga si korban tertimbun tanah. Kisah pemakaman menggelikan di kancah peperangan ini terdapat dalam cerpen Dilema Sang Komandan (The Upturned Face, 1900) karya Stephen Crane. Penggunaan kata ‘menggonggong’ (hlm. 56) dalam cerpen ini sulit untuk diterima. Menggonggong (atau menyalak) dilakukan oleh anjing, bukan manusia.  

“Fungsi cahaya, kebersihan dan kenyamanan amat besar bagi orang-orang berjiwa kosong,” kata Ernest Hemingway dalam cerpen Persinggahan Malam (A Clean, Well-Lighted Place, 1926). Kemungkinan besar ketiga faktor inilah yang membuat seorang pria tua yang pernah mencoba bunuh diri betah berada di sana hingga lewat tengah malam.

Mitya Kuldarov, karakter ciptaan Anton Chekov dalam cerpen Gegap Gempita (Rapture, 1884), girang bukan kepalang lantaran namanya muncul di sebuah koran. Petugas administrasi (bukan prajurit seperti disebutkan di sampul belakang) ini yakin namanya telah dikenal semua orang Rusia. Padahal namanya muncul di koran bukan karena telah berhasil mencetak prestasi. 

Setelah masuk TK, Laurie selalu pulang membawa cerita kenakalan anak bernama Charles ke rumahnya. Tidak heran Charles menjadi tidak asing bagi kedua orangtuanya. Tapi, siapa sebenarnya anak nakal itu?  Kita akan menemukan jawabannya di kalimat penutup cerpen bertajuk Charles (1948) besutan Shirley Jackson. 

Dorothy Parker muncul dalam koleksi ini dengan cerpen The Telephone Call (1930) yang diterjemahkan sebagai Dering Telepon. Cerpen yang sangat lumrah ini merupakan racauan seorang gadis yang sedang resah menunggu kekasihnya menelepon. Bagi umat Kristen yang meyakini konsep Trinitas, Tuhan adalah Bapa di dalam surga, bukan Ayah di dalam surga seperti yang diterjemahkan Maggie dari ‘Father in heaven.” (hlm. 100). 

Cerpen Pesan Sang Kaisar (A Message from the Emperor, 1917) yang dianggit Franz Kafka dan merupakan cerpen tersingkat dalam kumcer ini mengajak pembaca menjadi bagian dari cerita. Pembacalah yang akan menerima pesan dari kaisar yang entah kapan tibanya.

Seorang pria tua mendatangi Khnum, sebuah wilayah di Lembah Sungai Nil yang tenteram, dengan tekad menjadi reformator. Ia berhasil, karena kehadirannya memicu perubahan yang meresahkan trio penguasa: hakim, kepala polisi, dan tabib. Keresahan mereka muncul karena ketiga orang ini termasuk ‘pemuja setan’ yang dimaksud si pria tua. Kisah ini dikemas Naguib Mahfouz dalam cerpen Evil Adored (1939) yang diterjemahkan sebagai Republick (?). 

Menjelang Fajar (The Wall, 1933), cerpen ‘terpanjang’ dalam kumcer ini, ditulis oleh Jean Paul-Sartre. Di sini kita akan menemukan tiga tahanan politik yang disekap di sebuah sel yang sama pada malam sebelum dihukum mati. Di antara mereka, hanya Pablo Ibbieta yang berpeluang menangguhkan kematiannya. Hanya saja, apakah ia akan mengkhianati Ramon Gris, sang pemimpin gerakan anarki, untuk kepentingan dirinya sendiri? Sartre akan menghantam benak pembaca dengan kejutan di bagian pamungkas. Penerjemahan yang mengindikasikan ‘Basque’ sebagai nama orang dalam cerpen ini merupakan hal yang keliru (hlm. 127). Basque bukanlah nama orang, tapi nama etnis. 

Kumcer Fiksi Lotus Volume 1 ditutup dengan cerpen William Somerset Maugham berjudul Kalung Mutiara (A String of Beads, 1921). Kisah tentang kalung mutiara yang mengubah kehidupan seorang pembantu ini disampaikan seorang perempuan bernama Laura kepada pengarang yang kemungkinan besar adalah W. Somerset Maugham sendiri.

Setiap cerpen dalam kumcer Fiksi Lotus ini memiliki keunikan tersendiri. Tapi tidak semua menghasilkan efek pembacaan yang mengesankan. Saya memilih Sang Ayah, Pemberian Sang Magi, Menembus Batas, Republick, dan Menjelang Fajar sebagai cerpen-cerpen favorit. 

25 March 2012

Winter Dreams



Judul Buku: Winter Dreams
Pengarang: Maggie Tiojakin
Tebal: 294 halaman
Cetakan: 1, November 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 





Sejak awal Nicky F. Rompa sudah digambarkan sebagai anak muda yang tidak punya mimpi, tidak tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Kuliah di jurusan komunikasi, tapi tidak tahu apa yang ia cari di sana. Disiksa, tapi bertahan hidup dengan ayahnya. Ibu Nickylah yang ikut campur dan memutuskan Nicky tinggal sementara di Amerika supaya tidak sampai mampus. Nicky mematuhi keinginan ibunya, tanpa mengeluh, tanpa protes, tanpa bertanya sampai kapan ia harus melarikan diri.

Karena tidak punya rencana apa-apa, Nicky pun luntang-lantung dengan Leah, putri Riesma, sepupu jauh ibunya di Boston, Massachusetts. Tidak ada yang dilakukan Nicky sampai Riesma mengusulkan agar Nicky bekerja. Artinya, bekerja pun bukanlah inisiatif Nicky. Maka, Nicky pun bekerja di sebuah toko serba ada milik pasangan imigran asal Vietnam, Mr. dan Mrs. Fong. Saat Mr. Fong bertanya soal mimpi apa yang ingin Nicky realisasikan di Amerika, Nicky mengatakan: “Baru kusadari bahwa aku tidak datang membawa mimpi ataupun aspirasi. Aku tidak ingin jadi apa-apa. Aku cukup puas berbaring telentang di atas ranjang sambil menatap langit-langit kosong. Aku seperti pelampung yang mengapung di atas permukaan laut luas dan terkatung-katung tanpa arah, menelan perguliran hari dan makan tanpa henti seolah aku abadi.” (hlm. 43).

Orang-orang yang Nicky jumpai, para imigran yang datang ke Amerika, digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai the American Dreams, sedangkan Nicky tidak punya sekerat mimpi pun. Richard Klaus, imigran dari Jerman. Polina si gadis Rusia. Keluarga Mr. dan Mrs. Fong dari Vietnam. Artin Ruci warga keturunan Albania. Esme, imigran asal Meksiko. Sammy, supir limusin dari
Bouaké, Ivory Coast. Mereka semua punya mimpi. Bahkan, Dev Akhtar, imigran asal Pakistan, telah meraih mimpi sekaligus seorang gadis Amerika. Apa yang akan Nicky ingin lakukan kalau ia tidak punya mimpi? Tetaplah ia menjadi seorang illegal alien, buronan, terancam dipenjara atau dideportasi jika tertangkap, setelah visa kunjungannya habis.

Di luar waktu kerjanya, Nicky ngelayap tanpa tujuan. Berpesta, tamasya, konsumsi narkoba, dan bercinta dengan Polina. Riesma menyarankan Nicky mengambil adult education, dan Nicky memutuskan mengikuti kursus creativie writing di bawah pimpinan Artin Ruci. Tapi, jangan salah. Nicky tidak pernah berpikir menjadi penulis. 


Winter Dreams adalah novel pencarian mimpi seorang anak muda yang tidak punya mimpi dalam hidupnya. Adakah sesuatu dalam perjalanan hidupnya di Boston yang mampu membuatnya bermimpi dan berkeinginan untuk mewujudkannya? Ada, tentu saja ada. Karena kalau tidak, novel ini tidak akan memberikan apa-apa bagi pembaca selain sekedar perjalanan seorang Nicky sewaktu hidup di Amerika. Artin Ruci membawa Nicky pada sebuah perenungan: “Semua orang ingin menjadi seseorang, terutama di Amerika – aku mengerti itu sekarang. Dan, entahlah, rasanya sungguh tidak nyaman jadi orang yang tidak ingin jadi apa-apa.” (hlm. 231).

Novel ini dituturkan dari perspektif orang pertama, yaitu perspektif Nicky F. Rompa. (Entah kenapa pengarang merasa perlu menambahkan huruf F di tengah nama Nicky dan tidak pernah mengungkap kepanjangannya. Padahal, Nicky kan bukan Charlotte A. Cavatica, si pemintal jaring dalam Charlotte’s Web, yang kepanjangan nama tengahnya tanpa diungkapkan tetap akan kita tahu dengan sendirinya). Seakan-akan pengarang mau menyatakan bahwa, inilah sebenarnya hasil dari keputusan akhir Nicky akan menjadi apa dirinya. Winter Dreams sesungguhnya merupakan hasil karya Nicky sebagai seorang penulis.

Winter Dreams menegaskan kepada kita bahwa keberhasilan sebuah novel tidak semata-mata karena memiliki cerita yang provokatif dan plot yang berpilin-pilin.  Tidak ada cerita yang menggemaskan di sini, tidak ada plot yang mencengangkan. Cara penyampaian yang lugas cerdas dengan diksi yang eklektis untuk mengemukakan permasalahan yang kerap tidak luput dari kehidupan manusia, itulah salah satu keberhasilan Winter Dreams

Keberhasilan lain adalah kepiawaian pengarang dalam menghadirkan karakter yang dirancang dengan baik. Keberadaan karakternya, Nicky F. Rompa, sangat membekas dalam benak pembaca. Seorang pria muda yang tidak punya mimpi, tidak punya hasrat untuk menjadi seseorang (ironisnya, ia berada di tengah orang-orang yang mengejar the American Dreams) sehingga otomatis tidak ada keinginan mencapainya. Sejak muncul hingga novel hampir berakhir, karakter ini tetap tak tergoyahkan.

Masih ada kelebihan lain yang sangat menonjol, yaitu seting Boston. Hampir sebagian besar cerita berlangsung di Boston, Massachusetts. Pengarang menunjukkan bahwa ia mengenal dan menguasai Boston sehingga bisa menghadirkan ke hadapan pembaca dengan enteng. Pada gilirannya, pengarang yang pernah enam tahun menetap di Boston, berhasil menebalkan kepercayaan pembaca pada ceritanya.

Akhirnya, sebagaimana semestinya sebuah karya fiksi, Winter Dreams juga membawa  pesan untuk kita. Bahwa kita sudah seharusnya bermimpi, sehingga kita bisa melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi itu. Di sinilah kelebihan lain novel ini, tidak membawa pesan dengan cara yang sama seperti dalam buku-buku lain berslogan seperti “novel pembangun jiwa”, “novel motivasi” atau “kisah sukses inspiratif”. Dan memang, tidak perlu.
 
Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan