Showing posts with label Sidney Sheldon. Show all posts
Showing posts with label Sidney Sheldon. Show all posts
12 April 2013

Are You Afraid of the Dark?


Judul Buku: Are You Afraid of the Dark?
Penulis: Sidney Sheldon (2004)
Penerjemah: Gita Yuliani Koesbaroto
Tebal: 436 hlm; 18 cm
Cetakan: 1, Januari 2005
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





"Biarkan lampu-lampu menyala."
Dengan mencemooh Diane bertanya, "Kau takut gelap?"
"Ya. Aku -aku takut gelap."
(hlm. 254-255)




 



Sonja Verbrugge dibunuh menyusul menghilangnya suaminya, Franz Verbrugge -yang  bisa dipastikan mengalami nasib yang sama. Ia ditemukan tergeletak telanjang di dasar bak mandi apartemennya di Berlin, Jerman. 

Di tengah-tengah hujan lebat yang mengguyur Paris, Prancis, Mark Harris, warga negara Amerika, dibunuh dan terlempar dari teras observasi di Menara Eiffel.

Gary Reynolds, sedang menerbangkan Cessna Citation II untuk mengunjungi adik perempuannya, ketika pesawatnya diterjang badai secara tiba-tiba. Pesawat itu menghantam sisi gunung di luar Denver, Colorado. Menyusul kematian Gary, Lois, adik perempuannya, menjadi korban dalam peristiwa kebakaran rumahnya.

Setelah mengalami penyiksaan yang teramat sadis, Richard Stevens dibunuh, dan ditemukan di bawah jembatan Manhattan di East River. Di dalam saku jaketnya, ditemukan surat yang ditulis dalam bahasa Italia. Pembunuhnya sengaja mengatur supaya kematian Richard tampak sebagai perbuatan mafia Italia. Kebetulan, pada saat yang sama, Diane, istri Richard, menjadi saksi dalam sidang pembunuhan yang dilakukan Anthony Altieri, capo di antara para capo.

Franz Verbrugge, Mark Harris, Gary Reynolds, dan Richard Stevens adalah nama-nama ilmuwan yang bekerja di Kingsley International Group (KIG), wadah pemikir terbesar di dunia. KIG yang berkantor pusar di New York menampung sejumlah orang pintar untuk menemukan solusi bagi masalah seperti keamanan nasional, komunikasi, mikrobiologi, dan lingkungan hidup.

Keempat ilmuwan itu dibunuh karena mereka berencana pergi ke Washington untuk menemui seseorang. Setelah kematian mereka, orang yang terdekat dengan mereka menjadi target pembunuhan. Sonja Verbrugge dan Lois Reynolds adalah buktinya. Dengan demikian yang tersisa adalah orang terdekat Mark Harris dan Richard Stevens. 

Kelly Harris -terlahir di Philadelphia sebagai Kelly Hackworth- adalah supermodel Afro-Amerika yang berdomisili di Paris. Karena trauma yang dialaminya di masa kecilnya, Kelly tumbuh sebagai perempuan yang takut kegelapan. Penerimaannya terhadap Mark Harris dalam kehidupannya, membuat ketakutan terhadap kegelapan tersingkir. Namun, setelah kematian Mark, ketakutan itu menyeruak kembali.

Diane Stevens -terlahir di New York sebagai Diane West- memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada Kelly. Ia dibesarkan dalam keluarga berada yang membuat hidupnya aman sentosa. Saat mengadakan pameran tunggal lukisan-lukisannya, ia bertemu Richard Stevens, pria yang kemudian menjadi suaminya.


Percobaan pembunuhan Kelly dan Diane terjadi setelah kedua perempuan itu meninggalkan Kantor Pusat KIG untuk bertemu dengan Tanner Kingsley. Kelly dan Diane, yang masih belum melepaskan duka karena ditinggal suami mereka, terpaksa harus berusaha menyelamatkan diri mereka. Menjadi target pembunuhan, menerbitkan keinginan kedua perempuan itu menyelidiki sebab-musabab situasi yang membuat hidup mereka kacau balau. Tidak ada kecakapan bertarung ataupun senjata yang bisa membantu usaha mereka. Mereka hanya mempunyai otak cerdas, yang sejalan dengan waktu, kian terasah membaca pertanda. Maka tidak ada jalan lain selain bahu-membahu bermain kucing-kucingan dengan nyawa mereka sebagai taruhannya. Berulang kali berkelit dari maut membuat Diane percaya kalau Richard menyertai perjalanannya. Hal yang sulit diterima Kelly yang takut kegelapan.

Tidak mudah bagi kedua perempuan itu mengurai simpul misteri yang membelit pikiran mereka. Kecanggihan teknologi membuat mereka terpapar dan dengan mudah bisa dibuntuti oleh si pembunuh. Sebuah informasi mereka dapatkan dari Lois yang tengah sekarat di Denver, bahwa penyebab kematian Gary adalah apa yang disebut Prima.

Menyusul kematian keempat ilmuwan KIG,  Interpol menemukan bukti-bukti keterkaitan KIG. Bahkan untuk dua kematian sebelumnya. Akira Ison, ilmuwan Jepang ditemukan tewas karena gantung diri di kamar hotelnya di Tokyo. Madeleine. ilmuwan Swiss, ditemukan tewas di apartemennya di Zurich, karena menghirup gas yang dinyalakan. Padahal, mereka berdua sedang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan terjadinya tindakan bunuh diri. Merespons kabar Interpol, Tanner Kingsley mengakui bahwa kematian kedua ilmuwan itu memang terkait dengan KIG. Karena sebelumnya, menurut Tannner, keduanya telah setuju bergabung dengan KIG.

Tanner Kingsley, pemilik KIG, sedang giat memperjuangkan pengalokasian dana penelitian masalah lingkungan hidup di hadapan Komite Khusus Senat untuk Lingkungan Hidup. Andalannya adalah isu pemanasan global yang telah memicu sejumlah bencana di berbagai belahan dunia. Angin ribut dan hujan es menghantam Iran. Kekeringan di Jerman yang menyebabkan kematian dan kegagalan panen. Gangguan kabut di  kota-kota besar Jerman yang memandekkan berbagai aktivitas. Tornado yang aneh menimpa Australia. Tapi bukan hal yang gampang bagi Tanner menundukkan komite yang dipimpin Senator Pauline van Luven itu.

Mampukah Kelly dan Diane menemukan penyebab dan dalang kematian suami-suami mereka? Apa sesungguhnya yang disebut Prima? Sidney Sheldon, sang novelis ulung, akan memberikan jawaban yang memuaskan dan mencengangkan setelah kita bersetia mengikuti petualangan Kelly dan Diane.

Are You Afraid of the Dark?
adalah novel terakhir yang dianggit Sidney Sheldon, sebelum kematiannya pada 30 Januari 2007. Seperti yang telah menjadi ciri khasnya, ia menggunakan perempuan sebagai karakter protagonis utamanya. Perempuan dalam novelnya biasanya merupakan perempuan tangguh, dan berasal dari berbagai latar belakang. Sebelumnya ada pengacara, duta besar, wartawan televisi, konglomerat, biarawati, pencuri, dokter, dan ratu media massa. Dalam novel ini, Kelly Harris adalah supermodel, sedangkan Diane Stevens seorang pelukis berbakat. Kedua profesi ini memperkuat kesan kalau mereka adalah pihak yang tidak berdaya. Tapi, Sheldon menunjukkan kalau profesi mereka tidak membuat mereka bodoh, malahan mempertajam intuisi mereka. Karena dengan otak cerdas, Kelly dan Diane, berhasil mengubah posisi. Dari yang diburu menjadi pemburu. Kedua perempuan gemulai ini menjelma menjadi perempuan tangguh yang sanggup merongrong ketenangan sang karatakter antagonis.

Sebagaimana dalam novel-novel terdahulu, Sheldon mengindikasikan kemumpuniannya sebagai pengarang yang mampu membetot perhatian pembaca dari awal hingga akhir. Dibuka dengan Prolog yang mengguncang, kita akan dibawanya menyusuri plot yang bergerak cepat dan tangkas, menuju bagian pamungkas yang memuaskan. Meski menyajikan adegan-adegan kilas balik yang cukup banyak, kita tidak akan terganggu. Karena, setiap menarasikan apa yang terjadi, Sheldon tidak pernah bertele-tele. Kalimat-kalimatnya padat, ekonomis, dan tanpa bunga-bunga, bahkan untuk menceritakan sesuatu yang romantis. Itulah sebabnya, dalam waktu singkat, kita bisa menamatkan novel ini.

Sheldon tidak berlama-lama untuk menampilkan wajah sang dalang kepada kita. Begitu kita mengetahuinya, dengan segera kita masuk ke dalam ambisinya yang berlandaskan sifak tamak yang aje gile. Sang karakter antagonis tidak segan menyingkirkan orang-orang yang menghambat realisasi ambisinya. Bahkan sekalipun jika orang itu darah dagingnya sendiri. Bertahun-tahun tidak membangun keluarga dan menampilkan citra manusia patah hati yang sukar bangkit dari masa lalunya, ia menyimpan kejutan yang akan menghantam tidak saja kedua karakter protagonis tapi juga kita sebagai pembaca. Sebuah twist ending yang akan membuat kita mencelus.

Tapi jangan kuatir, Sidney Sheldon tidak pernah memenangkan karakter antagonis semacam sang dalang ini. Bagaimanapun, akhir mengenaskan telah tersedia baginya. Senjata makan tuan.

Are You Afraid of the Dark? tidak sekadar menjadi sajian thriller berbungkus misteri dan sains. Tapi juga perjuangan dua perempuan mengatasi ketakutan-ketakutan yang mengunjungi hidup mereka. Seiring perguliran plot, mereka akan mampu mengalahkan semua ketakutan itu dan keluar sebagai pemenang. Khususnya Kelly, akan mampu tidur dengan lampu dipadamkan.

Diane berkata, "Rasanya sudah saatnya tidur."
Kelly menguap. "Aku mengantuk, Diane. Padamkan saja lampunya." (hlm. 433).

Sheldon meninggalkan sebuah pesan bagi pembaca. Bahwa sebuah teknologi semestinya diciptakan dengan tujuan untuk kemaslahatan manusia. Bukan untuk menghancurkan. Bukan untuk kepentingan segelintir orang. Sebuah pesan yang sangat mulia. 




 Sidney Sheldon (1917-2007)

21 March 2012

Mistress of the Game



Judul Buku: Mistress of the Game
Pengarang: Tilly Bagshawe (2009)
Penerjemah: Hidayat Saleh & Rully Larasati
Tebal: 600 halaman, 18 cm 

Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 
 



Sidney Sheldon telah meninggal dunia. Tapi novel-novel yang pernah dilahirkannya meninggalkan bekas dalam benak para pembacanya. Tilly Bagshawe mungkin dulunya pembaca novel-novel Sidney Sheldon, dan tidak bisa melupakan kesan yang ia dapatkan ketika membaca Master of The Game (1982). Dalam novel ini, Sidney Sheldon mengangsurkan kepada pembaca karakter paling sentral bernama Kate Blackwell, seorang perempuan ambisius dan manipulatif.  Kate Blackwell menggerataki kehidupan orang lain, termasuk putra semata wayangnya, Tony Blackwell, demi menuntaskan ambisinya. Ambisi terbesar dan terakhir Kate Blackwell adalah menemukan pengganti untuk duduk di tampuk kekuasaan perusahaannya, Kruger-Brent Limited. 

Di penghujung novel Master of The Game, Kate Blackwell harus meredam ambisinya ketika Alexandra Blackwell, cucunya, dan Peter Templeton, suami Alexandra, menolak untuk mengambil kendali konglomerasinya. Pasutri itu juga menghempaskan harapan Kate yang ia taruh pada Robert Templeton, anak mereka. Jauh sebelumnya, Kate pernah menggantungkan harapannya pada Eve Blackwell, saudari kembar Alexandra. Tapi, kejahatan Eve membuat Kate jera, dan melepaskan harapannya. Eve Blackwell adalah seorang pembunuh dengan riwayat petualangan seks yang panjang. Petualangan seks Eve baru berakhir manakala Keith Webster, dokter bedah plastik yang menjadi suaminya, merusakkan kecantikan wajahnya, dan membuatnya menjadi tawanan di rumah sendiri. 

Tilly Bagshawe
Dua tahun sepeninggal Sidney Sheldon, Tilly Bagshawe 'mengenakan sepatu' Sidney Sheldon, dan melanjutkan kisah dalam Master of The Game. Masih dalam tradisi Sheldon, Tilly Bagshawe menciptakan karakter perempuan bernama Lexi Templeton. Cantik, pintar, ambisius, dan tuli! Ia diculik pada umur delapan tahun, mengalami pelecehan seksual dan kehilangan pendengaran. Menginjak masa remaja, Lexi melibatkan dirinya dalam petualangan seks untuk menunjukkan pada dunia kalau penculikannya tidak membuatnya kalah. Ketika diculik dan dilecehkan, Lexi tidak melawan, tetapi mengingat baik-baik para penculiknya dan menetapkan pembalasan dendam dalam hatinya.

Lexi lahir dua tahun setelah Kate Blackwell meninggal dan akhirnya dengan terpaksa Peter Templeton meninggalkan praktek psikiaternya untuk memegang kendali Kruger-Brent. Kelahiran Lexi –nama panjangnya Alexandra seperti nama ibunya- membuat Peter kehilangan istri, dan Robert kehilangan ibu. Peter mencintai Lexi dan cemburu pada kedekatan Lexi dengan abangnya, Robert. Bagi Peter, Robert telah mencuri istri dan anak perempuannya. Psikiater yang biasanya menangani pasien gangguan kejiwaan, mulai kehilangan kewarasannya, dan hampir membunuh kedua anaknya. Hubungannya dengan Robert memburuk, Robert menyerahkan haknya atas Kruger-Brent kepada Lexi dan meninggalkan rumahnya. Dalam petualangannya, Robert menemukan cinta sejatinya dalam diri seorang konduktor terkenal di Paris: Paolo Cozmici. Pria ini membantu memuluskan karier Robert sebagai pianis terkenal dunia. Meskipun terpisah jauh dengan adiknya, Robert tetap mencintai Lexi. Demikian pula sebaliknya.

Tanpa Robert di Kruger-Brent, Lexi harus menghadapi pesaing beratnya, sesama buyut Kate Blackwell. Max Webster, adalah putra dari Eve Blackwell dan Keith Webster yang lahir pada tahun yang sama dengan Lexi. Kelahiran Max direncanakan Eve untuk mendapatkan: “Seseorang yang bisa ia cetak sesuai citranya sendiri, ia beri makan dengan kebenciannya sendiri, dan ia kirim ke dunia untuk melakukan segala yang ia, seorang tawanan di rumah sendiri, tidak lagi bisa laksanakan.” (hlm. 56). Max tidak hanya membunuh Keith Webster untuk Eve, tapi juga akan membawa Kruger-Brent kepada ibunya. Ia hanya harus menjalankan semua strategi busuk yang dirancang Eve.

Celakanya, Max adalah pria menarik yang tidak sanggup ditolak Lexi. Tanpa peduli lagi jika hubungan mereka sebenarnya inses, Lexi terlibat percintaan dan hubungan seks dengan Max. Celakanya lagi, dalam hubungan seks dengan Max, Lexi menemukan gelora seks yang ia dambakan, seks yang seharusnya: brutal dan menyimpang. Lexi terlambat menyadari rencana busuk yang dijalankan Max, yang diskenariokan Eve Blackwell. Ia harus menanggung malu dan didepak dari Kruger-Brent.

Kate Blackwell, si Ratu Berlian, adalah Master of The Game -penguasa permainan, tapi yang diinginkan Lexi adalah menjadi Mistress of The Game. “Mistress of The Game. Inilah yang sesungguhnya ingin aku capai, apa pun yang kau atau Max atau orang brengsek lainnya di sini (Kruger Brent) pikirkan,” kata Lexi kepada Peter Templeton (hlm. 305). Itulah Lexi. Maka, setelah ia dicampak keluar dari konglomerasi yang diidam-idamkannya, ia menyusun rencana untuk kembali. Bersamaan dengan usaha Lexi untuk merebut kembali Kruger-Brent, kehidupannya akan diwarnai cinta Gabriel McGregor, pengkhianatan, kematian, kasih sayang Robert Templeton, kecurangan, dan di ujungnya, terdapat sebuah pernikahan. Tapi Eve Blackwell tidak akan tinggal diam. Perempuan tua itu akan terus menjadi Nemesis, yang akan membuntuti kehidupan Lexi hingga yang tampak seolah-olah tidak ada jalan kembali.

Mistress of The Game yang diedisiindonesikan sebagai Penguasa Berlian masih sama ambisiusnya dengan pendahulunya kendati dengan takaran yang lebih encer. Jika Master of The Game membentangkan, terutama, lima generasi McGregor-Blackwell, fokus utama novel ini adalah generasi keenam: Lexi Templeton dan Max Webster. Kendati merupakan sekuel, pembaca yang belum pernah membaca Master of The Game, dapat juga menikmati novel ini. Pengarang tidak membiarkan pembaca baru dililit kebingungan, karena sebelum cerita semakin jauh dari bagian Prolog, ia akan menyajikan secara garis besar isi Master of The Game.

Sebelum mencapai akhir novel, mungkin akan timbul pertanyaan dalam benak pembaca. Cerita dimulai tahun 1984 ketika Kate Blackwell meninggal dalam usia 92 tahun diikuti kelahiran dua buyutnya, Lexi Templeton dan Max Webster. Menjelang novel berakhir, Lexi, si Penguasa Berlian, melewati usia 40 tahun. Dalam bagian prolog yang merupakan fragmen dari bagian akhir novel disebutkan Lexi berusia 41 tahun. Kalkulasi otomatis di kepala akan menginformasikan kalau usaha Lexi untuk merebut Kruger-Brent terjadi di masa depan dari sekarang (novel terbit pertama kali tahun 2009). Pembaca mungkin akan mengira dari segi latar tahunnya, Mistress of The Game retak dan mengalami cacat. Tapi saat pembaca tiba di halaman 594, baru akan mengetahui, novel ini memang berakhir tahun 2025.

Satu pertanyaan yang belum terjawab setelah novel benar-benar habis adalah: bagaimana caranya Eve Blackwell dari ranjang di griya tawangnya di Manhattan bisa mengetahui kejahatan yang dilakukan Lexi Templeton? Pertanyaan ini akan membiakkan pertanyaan baru. Mungkinkah Mistress of The Game masih akan memiliki sekuel?

Tilly Bagshawe, jurnalis dan novelis asal Inggris, mampu berjalan dalam sepatu Sidney Sheldon dengan baik, sehingga jika tidak membaca namanya sebelumnya, pembaca akan mengira novel ini masih keluar dari kepala Sidney Sheldon. Mistress of The Game masih merupakan novel thriller yang sanggup merebut perhatian pembaca. Novel ini dibentangkan dalam plot yang bergulir cepat dan dramatis dengan kekuatan ekonomi kata-kata khas Sidney Sheldon, direntangkan di antara berbagai negara: Amerika Serikat, Inggris, Afrika Selatan, dan beberapa Negara Eropa. Kita tidak membutuhkan banyak waktu untuk menandaskan novel ini dengan mudah.

Masih dalam tradisi Sidney Sheldon, Tilly Bagshawe telah menerbitkan After the Darkness (2010) dan akan menerbitkan Angel of The Dark (2012) untuk melengkapi serial Sidney Sheldon-nya. Jika saat membaca Master of The Game, dengan mudahnya pembaca akan menetapkan sebenarnya Sidney Sheldon-lah si penguasa permainan, demikian juga saat membaca Mistress of The Game. Tilly Bagshawel-ah si Mistress of The Game yang sesungguhnya.

Mistress of The Game sungguh sebuah novel yang tidak bisa ditolak kehadirannya. 

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan