Showing posts with label The Hunger Games. Show all posts
Showing posts with label The Hunger Games. Show all posts
24 March 2012

The Hunger Games (Edisi Cover Film)



Judul Buku: The Hunger Games
Penulis: Suzanne Collins (2008)
Penerjemah: Hetih Rusli
Tebal: 408 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 

 




Setelah serombongan malapetaka berupa kekeringan, badai, kebakaran, banjir dan perang brutal, Amerika Utara hampir hilang. Dari sisa-sisanya, muncul sebuah negara baru bernama Panem dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi tiga belas distrik. Capitol yang dibangun di tempat yang dulunya Pegunungan Rocky, mengatur setiap distrik untuk menyediakan kebutuhan warganya. Rangkaian perlawanan terhadap hegemoni Capitol meledak, tapi bisa dipadamkan. Distrik 13 bahkan dimusnahkan. Sebagai pengingat atas pengkhianatan setiap distrik dan agar revolusi tidak terjadi lagi, Capitol menciptakan acara yang diberi nama Hunger Games. Sebuah reality show tahunan yang mewajibkan kedua belas distrik mengirimkan sepasang remaja untuk mengikuti acara itu. Sepasang remaja yang ditetapkan dalam sebuah acara pengundian itu harus berjuang mati-matian untuk meraih kemenangan. Hanya satu orang yang bisa keluar sebagai pemenang setelah 23 peserta yang lain mampus.

Untuk lebih memalukan dan menyiksa semua distrik, Capitol mengharuskan mereka memperlakukan Hunger Games sebagai perayaan, peristiwa olahraga yang membuat satu distrik berkompetisi dengan distrik lainnya. Peserta terakhir yang hidup akan menikmati hidup enak saat pulang, dan distriknya akan dilimpahi berbagai hadiah, yang kebanyakan berupa makanan. Sepanjang tahun, Capitol akan menunjukkan bagaimana distrik yang jadi pemenang menerima hadiah gandum, minyak, bahkan makanan lezat seperti gula, sementara distrik-distrik lain harus berjuang agar tidak mati kelaparan.
 
Katnis Everdeen gadis yatim dari Distrik 12 menuturkan: “Mengambil anak-anak dari distrik kami, memaksa mereka untuk saling membunuh sementara kami menontonnya –ini adalah cara Capitol untuk mengingatkan kami betapa sesungguhnya kami berada di bawah belas kasihan mereka. Betapa kecil kemungkinan kami bisa selamat jika timbul pemberontakan lain. Apa pun kata-kata yang mereka gunakan, pesan yang mereka sampaikan jelas. ‘Lihat bagaimana kami mengambil anak-anakmu dan mengorbankan mereka, dan tak ada yang bisa kaulakukan untuk menghalanginya. Kalau kau sampai berani mengangkat satu jari saja, kami akan menghancurkan semuanya. Sebagaimana yang kami lakukan di Distrik Tiga Belas.’” (hlm. 26-27).

Memasuki umur 12 tahun, setiap anak wajib menyertakan nama mereka sebagai calon peserta Hunger Games. Setiap tahun hingga mereka berumur 18 tahun, nama mereka sebagai peserta digandakan. Pada umur 12 tahun dimasukkan satu kali, umur 13 tahun dimasukkan dua kali, dan seterusnya. Bagi anak yang miskin dan kelaparan, boleh memasukkan nama lebih banyak untuk ditukar dengan tessera. Setiap tessera bisa disilih dengan persediaan setahun gandum dan minyak untuk satu orang. 
 
Katniss Everdeen
Pada umur 12 tahun, Katniss memasukkan namanya 4 kali, satu sebagai keharusan dan tiga untuk mendapatkan tessera atas namanya sendiri, ibunya, dan adiknya, Primrose. Karena setiap tahun nama yang dimasukkan diakumulasi, pada usia 16 tahun, ia memasukkan namanya 20 kali dalam pengundian. Semakin bertambah umur dan tetap menginginkan tessera, semakin banyak nama yang dimasukkan. Ini berarti, semakin tinggi probabilitas terpilih sebagai peserta Hunger Games. Gale Hawthorne, teman Katniss yang berumur 18 tahun yang menafkahi keluarganya seorang diri seperti Katniss, memasukkan namanya 42 kali.
 
Pada hari pengundian, jalan-jalan hitam di Seam kosong melompong. Warga berkumpul di alun-alun untuk mendengarkan Effie Trinket, perempuan Capitol pengiring Distrik 12, mengulurkan tangan ke dalam bola kaca, mengaduk-aduk dan menarik selembar kertas. Kerumunan massa tercekat senyampang para calon peserta berharap namanya tidak dibacakan. Kamera sedang bergerak merekam proses pengundian, saat Katniss terperanjat mendengar nama yang dibacakan Effie. Primrose, adik semata wayangnya, terpilih mewakili anak perempuan. Masih sambil direkam, karena aturan permainan membolehkan, Katniss memutuskan menggantikan adiknya dalam Hunger Games ke-74. Sejarah Panem mencatat, selama penyelenggaraan Hunger Games, baru dua kali Distrik 12 memenangkan Hunger Games.
 
Galau  hati Katniss manakala mengetahui Peeta Mellark terpilih mewakili anak laki-laki. Tukang roti itu pernah sengaja menghanguskan roti yang akan dijual agar Katniss dan keluarganya tidak mati kelaparan, dengan risiko ia dipukuli ibunya. Sebagai tukang roti, Peeta menjadi kekar karena terbiasa mengangkat nampan-nampan roti. Namun ia tidak punya kemampuan bertarung. Berkebalikan dengan Katniss yang sejak ayahnya tewas dalam ledakan di tambang batu bara, telah menggunakan panah untuk berburu. 
  
Peeta Mellark
Haymitch Abernathy, salah satu dari 2 pemenang Hunger Games dari Distrik 12, seorang lelaki pemabuk setengah baya, menjadi mentor bagi Katniss dan Peeta. Meskipun awalnya Katnis tidak menyukainya, ia tidak bisa menolak Haymitch. Sebagai mentor, Haymitch akan menjadi penyambung hidup perwakilan Distrik 12 dengan dunia luar dalam Hunger Games. Ia akan memberikan petunjuk, mencari sponsor, dan menentukan hadiah-hadiah apa yang akan diberikan.
 
Pada upacara pembukaan Hunger Games, para penata gaya memakaikan Katniss dan Peeta pakaian penambang batu bara. Api sintetis telah disiapkan untuk membakar mantel mereka pada prosesi peserta. Penampilan mereka yang luar biasa, tidak hanya mencuri perhatian para penonton, tapi juga merampas kewibawaan Presiden Panem, Snow. Baik kostum yang terbakar maupun cara Katniss dan Peeta berpegangan tangan, ditafsirkan sebagai bentuk pembangkangan. Meskipun demikian, Haymitch ingin mereka tampil sebagai pasangan kekasih yang tidak mungkin bersatu. Peeta sangat mendukung nasihat Haymitch. Pada malam wawancara, ia menyebut Katniss sebagai gadis istimewa di hatinya.
 
Sebelum pergi ke Capitol, Madge, putri walikota Distrik 12, memberikan pin emas burung mockingjay untuk Katniss pakai di arena Hunger Games. Mockingjay sebetulnya merupakan simbol pengkhianatan terhadap Capitol. Pada masa pemberontakan distrik, Capitol membiakkan serangkaian hewan rekayasa genetika sebagai senjata (mutan atau mutt), salah satunya jabberjay. Burung ini memiliki kemampuan mengingat dan mengulang seluruh percakapan manusia. Mereka dilepaskan di wilayah-wilayah tempat persembunyian pemberontak, merekam percakapan, sehingga apa yang terjadi di distrik-distrik bisa diketahui pihak Capitol. Para pemberontak tahu dan mengibuli Capitol. Sarang jabberjay ditutup dan burung-burung itu dibiarkan punah di alam liar. Hanya saja mereka tidak punah, malah burung yang semuanya berkelamin jantan itu kawin dengan mockingbird. Hasilnya, mockingjay, spesies baru yang bisa meniru siulan burung dan melodi manusia. Kemampuan mengulang percakapan jabberjay memang hilang, tapi mockingjay bisa meniru suara manusia sampai tingkat tertentu dan menciptakan ulang lagu yang mereka dengar.
 
Sebuah hutan ditetapkan sebagai arena Hunger Games ke-74. Sejak para peserta memasuki arena, pertarungan telah meletus dan menewaskan sejumlah peserta. Kematian para peserta diumumkan dalam bentuk dentuman meriam dan tayangan foto serta nama mereka di layar raksasa. Karena Katniss merupakan narator novel yang memiliki sekuel, tentu saja ia tidak langsung mati. Demikian pula pasangannya, Peeta. Tapi perjuangan untuk tetap hidup juga bukanlah hal mudah. Mereka harus berkelit, dari ancaman kematian sesama peserta yang masih tersisa dan usaha juri Hunger Games yang tidak suka dengan acara yang berjalan lambat. 
 
Setelah awalnya terpisah dan Peeta mengikuti kawanan Peserta Karier (peserta yang telah mempersiapkan diri sebelum pelaksanaan Hunger Games), mereka pun harus berjuang bersama. Kemenangan tidak menjadi tujuan utama. Bagaimana cara bertahan hiduplah yang menggerakkan otak mereka. Sementara itu, mereka juga dipermainkan oleh aturan pertarungan yang berubah-ubah untuk meningkatkan daya tarik reality show. Sekalipun begitu, mereka memegang himbauan Haymitch untuk menampilkan pasangan yang tidak mungkin bersatu. Hanya ketika lakon itu tidak berhasil, atas gagasan Katniss, mereka memutuskan menggunakan buah-buah berry nightlock. Keputusan itu akan membidani sekuel yang diberi judul Catching Fire (2009). 
 
The Hunger Games, bagian pertama dari trilogi, disajikan penulis dalam tiga bagian besar untuk menggambarkan proses yang dilalui para peserta dalam Hunger Games. Bagian pertama, Para Peserta; bagian kedua, Pertarungan; bagian ketiga, Sang Pemenang.  Katnis Everdeen yang berusia 16 tahun dipilih untuk menyuarakan hasil pengamatan dan pengalamannya sebagai salah satu peserta Hunger Games. Ia seorang gadis pemarah yang emosinya mudah tersulut, dan ketika itu terjadi, ia tidak segan menghantam orang lain, seperti yang dialami Peeta. Pengarang sangat jitu mengemas kemarahannya sebagai karakterisasi yang mumpuni. Sejak awal Katniss telah memperkenalkan dirinya sebagai gadis temperamental yang marah pada Capitol, marah pada kenyataan hidupnya, marah pada ibu yang tidak bisa diandalkan. Kemudian setelah terpilih sebagai peserta, ia marah pada Peeta, marah pada Haymitch, marah pada Peserta Karier, marah pada para juri Hunger Games, pada pada perubahan aturan pertarungan. Tapi sifat pemarah inilah yang memberikannya peluang untuk keluar sebagai pemenang. 
 
Sebaliknya, Peeta adalah anak laki-laki dengan hati yang baik dan lembut. Ia sangat mudah mencuri hati orang. Dalam kemurnian hatinya, ia menegaskan bahwa seandainya harus mati dalam Hunger Games, ia harus mati sebagai dirinya sendiri. Ia tidak mau membiarkan Capitol mengubah dan menjadikannya monster. Ia memutuskan hanya akan membunuh jika terpaksa. Dengan caranya sendiri, ia ingin menunjukkan kepada Capitol bahwa sebenarnya mereka tidak bisa memilikinya, dan ia bukan sekadar pion mereka dalam Hunger Games. 

 
The Hunger Games tergolong novel distopia dari sisi seting Amerika Utara post-apokaliptik-nya, tapi gerakan plotnya yang dahsyat menunjukkan kehadirannya sebagai kombinasi aksi dan thriller. Ada sedikit unsur fantasi, ditinjau dari seting yang imajinatif dan kemunculan burung mockingjay, tapi unsur realisnya jauh lebih kental. Usaha untuk bertahan hidup adalah hal yang sangat nyata, menggetarkan, dan merupakan bagian kehidupan manusia sepanjang zaman. 
 
Brutalisme menjadi warna dominan novel ini. Tanpa kebrutalan, novel ini akan datar-datar saja. Penulis sejak awal telah memberikan bayangan kemunculan brutalisme yang akan pembaca temukan dalam perguliran plot. Sehingga, kalau pembaca tidak berminat melanjutkan, dipersilakan meninggalkan novel ini. 


Romansa hanya memakan ruang sempit, karena walaupun ditargetkan untuk pembaca remaja, cinta-cintaan bukanlah tema sentral. Cinta hanya menjadi elemen pelunak dalam kemencekaman plot, demi menunjukkan kemanusiaan para karakter utama. Tidak seperti serial Twilight Saga (Stephenie Meyer) yang menampilkan cinta segitiga secara blakblakan, cinta segitiga di sini digambarkan samar. Katniss memang belum memutuskan siapa yang akan dicintainya, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk meyakinkan perasaannya. 
 
Gagasan yang digelontorkan dalam The Hunger Games sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru. Bagaimanapun, struggle for survival semacam ini, sudah muncul sebelumnya dalam Battle Royale, novel karya penulis Jepang Koshun Takami, yang diadaptasi ke dalam film oleh Kinji Fukasaku (2000).
 
Katniss dan Peeta dalam persiapan Hunger Games








Katniss dan Gale sebelum Hunger Games
19 March 2012

Catching Fire


Judul Buku: Catching Fire
Penulis: Suzanne Collins (2009)
Penerjemah: Hetih Rusli
Tebal: 424 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juli 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



 


“Akulah mockingjay. Orang yang selamat dari rencana-rencana jahat Capitol. Lambang pemberontakan” (Katniss Everdeen, hlm. 415)
 

 







Di atas panggung, Katniss mendengar penonton menjerit. Api melahap gaun pengantin yang dipaksakan Presiden Snow untuk ia kenakan. Asap menebar membuatnya panik. Potongan-potongan sutra yang terbakar berputar di udara, dan mutiara yang bertaburan di gaun itu rontok satu demi satu. Katniss tetap berputar, mengangkat kedua tangan di atas kepala. Lalu api yang memerangkapnya lenyap, dan ia perlahan-lahan berhenti berputar. Awalnya ia mengira dirinya telanjang. Tapi ternyata ia mengenakan gaun yang sama persis dengan rancangan gaun pengantinnya, hanya saja berwarna batu bara dan terbuat dari bulu-bulu kecil. Dengan heran Katniss mengangkat lengan gaunnya yang berkibar membentuk sayap. Cinna, penata gayanya, telah mengubah Katniss menjadi mockingjay. 

Katniss Everdeen, si gadis terbakar, kembali  bertarung dalam Hunger Games. Lho, bukankah setiap orang cuma punya satu kesempatan menjadi peserta? Selama 74 tahun penyelenggaraan Hunger Games, aturannya memang seperti itu. Hanya saja, pada Hunger Games ke-75, dengan ketua juri yang baru, aturan pun berubah. Perubahan itu semata-mata disebabkan oleh kepentingan politik. Dan Katniss Everden-lah yang menjadi pemicu karena menantang juri dengan buah berry nightlock di Hunger Games ke-74. 

Nightlock
Insiden yang terjadi di bagian akhir Hunger Games ke-74, tanpa Katniss duga seperti sebelum-sebelumnya, menjadi tindakan pembangkangan terhadap Capitol. Presiden Snow merasa perlu mendatangi Katniss di Desa Pemenang di Seam dan memberi tahu konsekuensi dari tindakannya. Apa yang Katniss lakukan berpotensi menyulut pemberontakan distrik-distrik dan memunculkan revolusi, yang sebenarnya  sudah coba ditindas dalam Hunger Games. Presiden Snow menuntut Katniss meredam kemungkinan munculnya pemberontakan dalam Tur Kemenangan di seluruh distrik. Katniss harus meyakinkan warga Panem bahwa insiden buah berry hanyalah tindakan yang digerakkan cintanya pada Peeta Mellark.

Sayangnya, Tur Kemenangan berakhir sebagai malapetaka. Katniss pula yang menjadi pemicu hingga terjadi pembunuhan di Distrik 11, distrik asal Rue, anak laki-laki yang bersahabat dengannya dalam Hunger Games ke-74. Pemberontakan mulai mendesis, distrik 8 bergolak, dan pin mockingjay yang dipakai Katniss menjadi simbol pemberontakan. Dengan kata lain, Katniss gagal memenuhi tuntutan Presiden Snow.

Sebenarnya pada Hunger Games yang ke-75 yang adalah Quarter Quell ketiga untuk menyegarkan ingatan tentang mereka yang terbunuh akibat pemberontakan di distrik-distrik, Katniss akan menjadi mentor. Namun, Presiden Snow membatalkan dengan mengumumkan bahwa: “Pada perayaan  yang ketujuh puluh lima, sebagai pengingat bagi para pemberontak bahwa bahkan yang terkuat pun takkan bisa mengalahkan kekuatan Capitol, para peserta lelaki dan perempuan akan dipilih dari nama-nama pemenang yang masih hidup.” (hlm. 191). Pengumuman ini otomatis memastikan Katniss kembali ke arena pertarungan.

Tentu saja Peeta tidak akan membiarkan Katniss bertarung tanpa dia. Saat Haymitch terpilih, Peeta langsung menggantikan. Tidak heran Haymitch berkata kepada Katniss: “Kau tahu, kau bisa hidup menjalani ratusan kehidupan dan tetap tidak layak mendapatkan dia.” (hlm. 196).

Pada malam wawancara sesuatu yang mengejutkan terjadi. Untuk tampil di atas panggung, Presiden Snow menuntut Katniss memakai gaun pengantin. “Aku menduga karena aku penentangnya yang paling hebat, deritaku, kehilanganku, dan penistaan terhadapku harus mendapat sorotan paling terang. Dia pikir, ini akan menjadikannya jelas. Sepertinya sangat barbar, sang presiden ingin mengubah gaun pengantinku menjadi kain kafan, sehingga hantamannya akan terasa langsung, hanya menyisakan rasa hampa yang menyakitkan di dalam diriku.” (hlm. 268).  Sedangkan Peeta mengenakan tuksedo elegan dan sarung tangan putih seperti yang dipakai pengantin pria saat menikah di Capitol. Malam itu, ketika sedang diwawancara, gaun pengantin Katniss terbakar, dan televisi nasional menampilkan perubahannya yang dramatis menjadi mockingjay, simbol pemberontakan. Sebaliknya Peeta, sekali lagi, memanfaatkan manajemen gosip. Ia mengatakan bahwa ia dan Katniss telah menikah, dan Katniss sedang hamil. Lalu terjadilah hal mengejutkan. Untuk pertama kalinya selama penyelenggaraan Hunger Games, para peserta berpegangan tangan, dan panggung kontan mengalami kekacauan.

Arena pertarungan kali ini mencakup rimba belantara dan pantai, yang seiring dengan berbagai kejadian, terungkap merupakan jam analog. Meskipun sudah tidak berminat, Katniss dan Peeta mendapatkan sekutu. Mereka adalah Finnick Odair, pemuda luar biasa tampan dari distrik 4 dengan Mags, mentornya yang berumur 80 tahun. Bersama-sama, mereka menghadapi rupa-rupa tantangan di arena. Petir, hujan darah, kabut, gas beracun, ombak, suara jabberjay, dan medan gaya. Katniss merasa gelisah ketika memperhatikan para peserta seolah-olah ingin melindungi Peeta, bahkan sekalipun harus mengorbankan diri.

Adakah sesuatu yang sedang berkembang di arena pertarungan tanpa sepengetahuan Katniss? Benar. Memang ada, dan baru akan disingkap Suzanne Collins pada bab terakhir novel yang harus Anda baca sendiri.

Catching Fire (Tersulut) adalah sekuel dari The Hunger Games, yang sama-sama menjadi bagian trilogi The Hunger Games. Novel ini tetap sama menarik dengan novel pertama trilogi. Hanya saja,  novel ini menyimpan kejutan yang tidak kalah mencengangkan. Kejutan yang akan meretas konflik baru dalam buku ketiganya, Mockingjay.

Sama seperti pendahulunya, Catching Fire dihidangkan ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, Percikan, berkisah tentang Katniss dan Peeta yang telah kembali ke Distrik 12, tinggal di Desa Pemenang, dan mengadakan Tur Kemenangan. Bagian kedua, Quell, merangkaikan keterlibatan kembali Katniss dan Peeta dalam Hunger Games. Bagian ketiga, Sang Musuh, menggiring pembaca pada pertarungan dalam Hunger Games ke-75. Konflik utama dalam novel ini terletak pada aksi dan respons yang terjadi antara Katniss dan Presiden Snow.

Catching Fire masih bertutur tentang perjuangan untuk bertahan hidup. Bagi Katniss dan Peeta, tentunya ada hasrat untuk memenangkan pertarungan sehingga harus tepat menetapkan strategi. Bagi sebagian peserta yang sudah bukan remaja lagi (baca: 12-18 tahun), memenangkan pertarungan tidak lagi menjadi target utama. Pengorbanan sudah menduduki prioritas utama hidup mereka. Mags, pasangan Finnick dari Distrik 4 misalnya, rela mati menghirup gas beracun. Bahkan, ia hanya sukarelawan yang menggantikan seorang perempuan histeris.

Berbeda dengan novel sebelumnya, novel distopia ini tidak cukup brutal. Tapi hal ini sama sekali tidak menurunkan intensitas penulisan Suzanne Collins, karena merupakan kesengajaan untuk membuka jalan cerita baru bagi novel ketiganya. Tidak ada kesengajaan memanjang-manjangkan cerita. Durasi novel ini kurang lebih sama dengan The Hunger Games.

Cinta tetap cuma mendapat porsi kecil dalam novel ini. Saat muncul untuk menggerakkan karakter, efeknya sangat membias dan mengharukan. Apalagi saat keluar dari ketulusan hati Peeta Mellark. Bagi orang lain mungkin cuma sandiwara. Bagi Peeta, sungguh sebuah cinta sejati. Dan sebagaimana  adanya cinta sejati, sangat tidak mudah diwujudkan.
 
12 February 2012

The Hunger Games




Judul Buku: The Hunger Games
Pengarang: Suzanne Collins (2008)
Penerjemah: Hetih Rusli
Tebal: 408 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Oktober 2009
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Setelah serombongan malapetaka berupa kekeringan, badai, kebakaran, banjir dan perang brutal, Amerika Utara hampir hilang. Dari sisa-sisanya, muncul sebuah negara baru bernama Panem dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi tiga belas distrik. Capitol yang dibangun di tempat yang dulunya Pegunungan Rocky, mengatur setiap distrik untuk menyediakan kebutuhan warganya. Rangkaian perlawanan terhadap hegemoni Capitol meledak, tapi bisa dipadamkan. Distrik 13 bahkan dimusnahkan. Sebagai pengingat atas pengkhianatan setiap distrik dan agar revolusi tidak terjadi lagi, Capitol menciptakan acara yang diberi nama Hunger Games. Sebuah reality show tahunan yang mewajibkan kedua belas distrik mengirimkan sepasang remaja untuk mengikuti acara itu. Sepasang remaja yang ditetapkan dalam sebuah acara pengundian itu harus berjuang mati-matian untuk meraih kemenangan. Hanya satu orang yang bisa keluar sebagai pemenang setelah 23 peserta yang lain mampus.

Untuk lebih memalukan dan menyiksa semua distrik, Capitol mengharuskan mereka memperlakukan Hunger Games sebagai perayaan, peristiwa olahraga yang membuat satu distrik berkompetisi dengan distrik lainnya. Peserta terakhir yang hidup akan menikmati hidup enak saat pulang, dan distriknya akan dilimpahi berbagai hadiah, yang kebanyakan berupa makanan. Sepanjang tahun, Capitol akan menunjukkan bagaimana distrik yang jadi pemenang menerima hadiah gandum, minyak, bahkan makanan lezat seperti gula, sementara distrik-distrik lain harus berjuang agar tidak mati kelaparan.
 
Katnis Everdeen gadis yatim dari Distrik 12 menuturkan: “Mengambil anak-anak dari distrik kami, memaksa mereka untuk saling membunuh sementara kami menontonnya –ini adalah cara Capitol untuk mengingatkan kami betapa sesungguhnya kami berada di bawah belas kasihan mereka. Betapa kecil kemungkinan kami bisa selamat jika timbul pemberontakan lain. Apa pun kata-kata yang mereka gunakan, pesan yang mereka sampaikan jelas. ‘Lihat bagaimana kami mengambil anak-anakmu dan mengorbankan mereka, dan tak ada yang bisa kaulakukan untuk menghalanginya. Kalau kau sampai berani mengangkat satu jari saja, kami akan menghancurkan semuanya. Sebagaimana yang kami lakukan di Distrik Tiga Belas.’” (hlm. 26-27).
 
Memasuki umur 12 tahun, setiap anak wajib menyertakan nama mereka sebagai calon peserta Hunger Games. Setiap tahun hingga mereka berumur 18 tahun, nama mereka sebagai peserta digandakan. Pada umur 12 tahun dimasukkan satu kali, umur 13 tahun dimasukkan dua kali, dan seterusnya. Bagi anak yang miskin dan kelaparan, boleh memasukkan nama lebih banyak untuk ditukar dengan tessera. Setiap tessera bisa disilih dengan persediaan setahun gandum dan minyak untuk satu orang.
 
Pada umur 12 tahun, Katniss memasukkan namanya 4 kali, satu sebagai keharusan dan tiga untuk mendapatkan tessera atas namanya sendiri, ibunya, dan adiknya, Primrose. Karena setiap tahun nama yang dimasukkan diakumulasi, pada usia 16 tahun, ia memasukkan namanya 20 kali dalam pengundian. Semakin bertambah umur dan tetap menginginkan tessera, semakin banyak nama yang dimasukkan. Ini berarti, semakin tinggi probabilitas terpilih sebagai peserta Hunger Games. Gale Hawthorne, teman Katniss yang berumur 18 tahun yang menafkahi keluarganya seorang diri seperti Katniss, memasukkan namanya 42 kali.
 
Pada hari pengundian, jalan-jalan hitam di Seam kosong melompong. Warga berkumpul di alun-alun untuk mendengarkan Effie Trinket, perempuan Capitol pengiring Distrik 12, mengulurkan tangan ke dalam bola kaca, mengaduk-aduk dan menarik selembar kertas. Kerumunan massa tercekat senyampang para calon peserta berharap namanya tidak dibacakan. Kamera sedang bergerak merekam proses pengundian, saat Katniss terperanjat mendengar nama yang dibacakan Effie. Primrose, adik semata wayangnya, terpilih mewakili anak perempuan. Masih sambil direkam, karena aturan permainan membolehkan, Katniss memutuskan menggantikan adiknya dalam Hunger Games ke-74. Sejarah Panem mencatat, selama penyelenggaraan Hunger Games, baru dua kali Distrik 12 memenangkan Hunger Games.
 
Galau  hati Katniss manakala mengetahui Peeta Mellark terpilih mewakili anak laki-laki. Tukang roti itu pernah sengaja menghanguskan roti yang akan dijual agar Katniss dan keluarganya tidak mati kelaparan, dengan risiko ia dipukuli ibunya. Sebagai tukang roti, Peeta menjadi kekar karena terbiasa mengangkat nampan-nampan roti. Namun ia tidak punya kemampuan bertarung. Berkebalikan dengan Katniss yang sejak ayahnya tewas dalam ledakan di tambang batu bara, telah menggunakan panah untuk berburu.
 
Haymitch Abernathy, salah satu dari 2 pemenang Hunger Games dari Distrik 12, seorang lelaki pemabuk setengah baya, menjadi mentor bagi Katniss dan Peeta. Meskipun awalnya Katnis tidak menyukainya, ia tidak bisa menolak Haymitch. Sebagai mentor, Haymitch akan menjadi penyambung hidup perwakilan Distrik 12 dengan dunia luar dalam Hunger Games. Ia akan memberikan petunjuk, mencari sponsor, dan menentukan hadiah-hadiah apa yang akan diberikan.
 
Pada upacara pembukaan Hunger Games, para penata gaya memakaikan Katniss dan Peeta pakaian penambang batu bara. Api sintetis telah disiapkan untuk membakar mantel mereka pada prosesi peserta. Penampilan mereka yang luar biasa, tidak hanya mencuri perhatian para penonton, tapi juga merampas kewibawaan Presiden Panem, Snow. Baik kostum yang terbakar maupun cara Katniss dan Peeta berpegangan tangan, ditafsirkan sebagai bentuk pembangkangan. Meskipun demikian, Haymitch ingin mereka tampil sebagai pasangan kekasih yang tidak mungkin bersatu. Peeta sangat mendukung nasihat Haymitch. Pada malam wawancara, ia menyebut Katniss sebagai gadis istimewa di hatinya.
 
Sebelum pergi ke Capitol, Madge, putri walikota Distrik 12, memberikan pin emas burung mockingjay untuk Katniss pakai di arena Hunger Games. Mockingjay sebetulnya merupakan simbol pengkhianatan terhadap Capitol. Pada masa pemberontakan distrik, Capitol membiakkan serangkaian hewan rekayasa genetika sebagai senjata (mutan atau mutt), salah satunya jabberjay. Burung ini memiliki kemampuan mengingat dan mengulang seluruh percakapan manusia. Mereka dilepaskan di wilayah-wilayah tempat persembunyian pemberontak, merekam percakapan, sehingga apa yang terjadi di distrik-distrik bisa diketahui pihak Capitol. Para pemberontak tahu dan mengibuli Capitol. Sarang jabberjay ditutup dan burung-burung itu dibiarkan punah di alam liar. Hanya saja mereka tidak punah, malah burung yang semuanya berkelamin jantan itu kawin dengan mockingbird. Hasilnya, mockingjay, spesies baru yang bisa meniru siulan burung dan melodi manusia. Kemampuan mengulang percakapan jabberjay memang hilang, tapi mockingjay bisa meniru suara manusia sampai tingkat tertentu dan menciptakan ulang lagu yang mereka dengar.
 
Sebuah hutan ditetapkan sebagai arena Hunger Games ke-74. Sejak para peserta memasuki arena, pertarungan telah meletus dan menewaskan sejumlah peserta. Kematian para peserta diumumkan dalam bentuk dentuman meriam dan tayangan foto serta nama mereka di layar raksasa. Karena Katniss merupakan narator novel yang memiliki sekuel, tentu saja ia tidak langsung mati. Demikian pula pasangannya, Peeta. Tapi perjuangan untuk tetap hidup juga bukanlah hal mudah. Mereka harus berkelit, dari ancaman kematian sesama peserta yang masih tersisa dan usaha juri Hunger Games yang tidak suka dengan acara yang berjalan lambat. 
 
Setelah awalnya terpisah dan Peeta mengikuti kawanan Peserta Karier (peserta yang telah mempersiapkan diri sebelum pelaksanaan Hunger Games), mereka pun harus berjuang bersama. Kemenangan tidak menjadi tujuan utama. Bagaimana cara bertahan hiduplah yang menggerakkan otak mereka. Sementara itu, mereka juga dipermainkan oleh aturan pertarungan yang berubah-ubah untuk meningkatkan daya tarik reality show. Sekalipun begitu, mereka memegang himbauan Haymitch untuk menampilkan pasangan yang tidak mungkin bersatu. Hanya ketika lakon itu tidak berhasil, atas gagasan Katniss, mereka memutuskan menggunakan buah-buah berry nightlock. Keputusan itu akan membidani sekuel yang diberi judul Catching Fire (2009). 
 
The Hunger Games, bagian pertama dari trilogi, disajikan penulis dalam tiga bagian besar untuk menggambarkan proses yang dilalui para peserta dalam Hunger Games. Bagian pertama, Para Peserta; bagian kedua, Pertarungan; bagian ketiga, Sang Pemenang.  Katnis Everdeen yang berusia 16 tahun dipilih untuk menyuarakan hasil pengamatan dan pengalamannya sebagai salah satu peserta Hunger Games. Ia seorang gadis pemarah yang emosinya mudah tersulut, dan ketika itu terjadi, ia tidak segan menghantam orang lain, seperti yang dialami Peeta. Pengarang sangat jitu mengemas kemarahannya sebagai karakterisasi yang mumpuni. Sejak awal Katniss telah memperkenalkan dirinya sebagai gadis temperamental yang marah pada Capitol, marah pada kenyataan hidupnya, marah pada ibu yang tidak bisa diandalkan. Kemudian setelah terpilih sebagai peserta, ia marah pada Peeta, marah pada Haymitch, marah pada Peserta Karier, marah pada para juri Hunger Games, pada pada perubahan aturan pertarungan. Tapi sifat pemarah inilah yang memberikannya peluang untuk keluar sebagai pemenang. 
 
Sebaliknya, Peeta adalah anak laki-laki dengan hati yang baik dan lembut. Ia sangat mudah mencuri hati orang. Dalam kemurnian hatinya, ia menegaskan bahwa seandainya harus mati dalam Hunger Games, ia harus mati sebagai dirinya sendiri. Ia tidak mau membiarkan Capitol mengubah dan menjadikannya monster. Ia memutuskan hanya akan membunuh jika terpaksa. Dengan caranya sendiri, ia ingin menunjukkan kepada Capitol bahwa sebenarnya mereka tidak bisa memilikinya, dan ia bukan sekadar pion mereka dalam Hunger Games. 
 
The Hunger Games tergolong novel distopia dari sisi seting Amerika Utara post-apokaliptik-nya, tapi gerakan plotnya yang dahsyat menunjukkan kehadirannya sebagai kombinasi aksi dan thriller. Ada sedikit unsur fantasi, ditinjau dari seting yang imajinatif dan kemunculan burung mockingjay, tapi unsur realisnya jauh lebih kental. Usaha untuk bertahan hidup adalah hal yang sangat nyata, menggetarkan, dan merupakan bagian kehidupan manusia sepanjang zaman. 
 
Brutalisme menjadi warna dominan novel ini. Tanpa kebrutalan, novel ini akan datar-datar saja. Penulis sejak awal telah memberikan bayangan kemunculan brutalisme yang akan pembaca temukan dalam perguliran plot. Sehingga, kalau pembaca tidak berminat melanjutkan, dipersilakan meninggalkan novel ini. 
 
Romansa hanya memakan ruang sempit, karena walaupun ditargetkan untuk pembaca remaja, cinta-cintaan bukanlah tema sentral. Cinta hanya menjadi elemen pelunak dalam kemencekaman plot, demi menunjukkan kemanusiaan para karakter utama. Tidak seperti serial Twilight Saga (Stephenie Meyer) yang menampilkan cinta segitiga secara blakblakan, cinta segitiga di sini digambarkan samar. Katniss memang belum memutuskan siapa yang akan dicintainya, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk meyakinkan perasaannya. 
 
Gagasan yang digelontorkan dalam The Hunger Games sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru. Bagaimanapun, struggle for survival semacam ini, sudah muncul sebelumnya dalam Battle Royale, novel karya penulis Jepang Koshun Takami, yang diadaptasi ke dalam film oleh Kinji Fukasaku (2000).

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan