Showing posts with label Okky Madasari. Show all posts
Showing posts with label Okky Madasari. Show all posts
15 June 2013

Pasung Jiwa

 
Judul Buku: Pasung Jiwa
Pengarang: Okky Madasari
Tebal: 328 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Mei 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Seluruh hidupku adalah perangkap.

Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku, tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku (hlm. 9)



Sasana dilahirkan sebagai laki-laki. Tapi ia mendambakan keindahan jasmani seperti perempuan. Ia belajar bermain piano tapi lebih menyukai musik dangdut yang memberinya kesempatan meliuk-liukkan tubuhnya dengan genit. Ketertarikannya pada dangdut menyulut kegeraman orangtuanya. Hingga sebelum menemukan Sasana tersihir oleh irama dan goyang dangdut, mereka telah berupaya menciptakan seorang pianis. 

Sasana melanjutkan kuliah di Malang, setelah lulus SMA. Ia berkenalan dengan Cak Jek, pemuda asal Batu yang sudah meninggalkan kuliahnya, dan bersama-sama menjadi pengamen. Cak Jek yang memainkan gitar dan Sasana bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya seheboh-hebohnya. Lambat laun Sasana meninggalkan kuliah dan beredar di jalan-jalan Kota Malang. Karena ingin menjadi profesional seperti keinginan Cak Jek, mereka membentuk Orkes Melayu. Cak Jek memberikan blus seksi warna-warni, rok-rok mini, BH, dan sepatu hak tinggi kepada Sasana dan mengubah Sasana menjadi Sasa. Bersama-sama, mereka mencapai ketenaran di Kota Malang. Mereka diundang untuk mengisi berbagai hajatan seperti sunatan, kawinan, dan perayaan tujuh belas Agustus. 

Suatu hari, Marsini -putri Cak Man, pemilik warung kopi di mana Sasa bertemu Cak Jek- menghilang setelah menuntut kenaikan upah di pabrik sepatu tempatnya bekerja di Sidoarjo. Sasana dan Cak Jek memutuskan untuk menemui pemilik pabrik, tapi karena mendapatkan penolakan, mereka mengadakan unjuk rasa di depan pabrik sepatu tersebut. Unjuk rasa berakhir rusuh. Sasa yang tampil hanya mengenakan BH, celana dalam, dan sepatu hak tinggi berwarna merah sambil memamerkan goyangan di tengah jalan mencetuskan kehebohan yang membuat tentara turun tangan. 

Sasa terpisah dengan Cak Jek. Ia ditangkap dan dikurung di tahanan Koramil. Di sana harga dirinya dicerabut, berhari-hari mengalami pelecehan dan penyiksaan secara seksual oleh para tentara. Dalam keadaan jiwa yang nyaris binasa, ia dilepaskan dan melarikan diri dari Kota Malang. Ia kembali ke rumah orangtuanya di Jakarta, tapi harus berakhir di rumah sakit jiwa. 

Ke mana Cak Jek setelah unjuk rasa di Sidoarjo? Ia pun ditangkap dan disiksa tentara. Setelah dibebaskan, ia diusir dari Kota Malang. Ia pun kembali ke nama aslinya, Jaka Wani. Akhirnya, ia pun memutuskan mengadu nasib di Batam. Tapi pekerjaan berkutat dengan kaca televisi tidak menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Apalagi ketidakadilan juga terjadi di sana. Supervisor, mandor, dan bahkan satpam pabrik itu tanpa malu-malu menggagahi para pekerja perempuan. Setelah para pekerja itu hamil, mereka tidak mau bertanggung jawab, dan terpaksa perempuan-perempuan malang itu harus melakukan aborsi. Pertemuan dan kerjasamanya dengan Elis, seorang pelacur, kian membuat Cak Jek terpuruk. Di Batam, setelah menggagas aksi mogok kerja, ia pun dikejar-kejar dan terpaksa harus melarikan diri dari kota itu. Akhirnya, Jaka Wani pun menghilang dari Batam. 

Apakah Sasana akan bertemu lagi dengan Cak Jek, laki-laki yang sudah menciptakan Sasa dan dianggapnya sebagai kakak? Ada perjalanan panjang yang mesti mereka tempuh untuk bertemu kembali. Tapi di ujung perjalanan itu, Sasa akan menemukan Cak Jek yang lain, Cak Jek yang telah berubah. Mereka berada di kutub yang berseberangan di mana sakit hati dan kebencian mengisi ruang kosong di antara kedua kutub itu. 

Kehendak bebas, seperti yang disebutkan dalam blurb di sampul belakang novel ini, adalah pertanyaan yang dikemukakan Okky Puspa Madasari dalam novelnya, Pasung Jiwa. Apakah kehendak bebas benar-benar ada? Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Seluruh perjalanan hidup Sasana (Sasa) adalah pergulatan untuk mengekspresikan kehendak bebas. Sejak kecil, ia telah hidup dalam perangkap yang menindas kehendak bebasnya. Ia dilahirkan sebagai anak laki-laki tapi menyimpan jiwa perempuan dalam tubuhnya. Ia tidak ingin menjadi pianis, tapi diupayakan seintensif mungkin oleh orangtuanya untuk berlatih. Ia ingin membebaskan jiwa melalui irama dan goyangan dangdut tapi berhadapan dengan larangan. Ia mempertontonkan kepada khayalak jati dirinya sebagai transgender, tapi mengalami pelecehan, penghakiman, bahkan pemerkosaan. Apakah ia berhasil mengekspresikan kehendak bebasnya? Melewati masa-masa sebelum lengsernya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaannya hingga masa-masa sesudahnya, Sasana tetap diperhadapkan dengan tantangan raksasa. Bahkan, ketika ibunya merestui apa yang ingin dilakukannya dalam hidupnya, kehendak bebasnya direnggutkan. Kesimpulannya adalah kehendak bebas itu ada dan merupakan hak asasi manusia, tapi manusia juga yang berusaha menindasnya, karena ada sementara orang yang tidak mau menerima perbedaan dan bersikukuh dalam kemunafikan moral. 

Melalui Masita, dokter yang sedang mengambil spesialisasi di bidang psikiatri, Okky menyampaikan kehendak bebas dari perspektif pribadinya. 

Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda (hlm. 146) 

Orang-orang di luar kalianlah yang punya masalah. Mengganggap kalian harus disingkirkan karena kalian merusak tatanan (hlm. 151).

Selain masalah kehendak bebas, Okky juga mengangkat ketidakadilan untuk menjadi bagian dari novelnya. Sasa telah merasakan ketidakadilan dalam hidupnya ketika digencet dan dibuat babak belur oleh kakak-kakak kelasnya di SMA. Jaka Wani, dalam sisa hidupnya setelah unjuk rasa di Sidoarjo, mesti berperang dengan ketidakadilan. Di Batam ia menyaksikan ketidakadilan bekerja, di tempat asalnya pun demikian. Dan celakanya, dalam merespons ketidakadilan ia pun menjadi bagian dari ketidakadilan dan terperangkap dalam kemunafikan. 

Okky sangat berhasil dalam mengemas karakternya. Penjiwaannya mengenai kedua karakter utamanya sangat intens. Apalagi ia memberikan kesempatan Sasana (Sasa) dan Cak Jek (Jaka Wani/Jaka Baru) menjadi narator orang pertama dalam novel ini. Keduanya bersuara sesuai dengan kepribadian dan jati diri. Sasa dengan kewariaannya dan Cak Jek dengan maskulinitasnya. 

Sasana memang karakter yang paling hidup dalam novel ini dan digali dengan sedalam-dalamnya. Meskipun waria dan dipanggil bencong, ia tidak mau dilecehkan. Uniknya atau malah anehnya, ia tidak menunjukkan ketertarikan pada laki-laki dan tidak berniat mengoperasi kelaminnya. 

Aku si Sasa. Saudara kembar Sasana. Kami kembar, tapi kami berbeda. Kami satu tubuh, tapi kami dua jiwa. Kami tak saling meniadakan. Kami sepasang jiwa yang saling merindukan. Menjadi dua bukanlah kesalahan. Menjadi satu bukanlah keharusan. Sasana memang berpenis, tapi Sasa punya lubang dan puting. Sasa menyanyi dan bergoyang, Sasana bersiul dan menabuh gendang. Kami satu, tapi kami dua. Kami dua, tapi kami satu (hlm. 232-233).

Okky pun sangat blakblakan dan keras dalam menyampaikan segala sesuatu, apalagi yang berhubungan dengan ketidakadilan dan kemunafikan moral. Tidak heran kalau sering kata-katanya serasa menghunus, menembus, dan mengoyak-ngoyak nurani pembacanya. Tidak perlu tersinggung ketika ia menyingkap borok-borok dalam eksistensi kita sebagai manusia.

Bagian pamungkas novel ini cukup mendebarkan. Meskipun terkesan Okky sedang meromantisasi realita, saya suka dengan adegan yang diciptakannya. Okky tidak terlalu banyak bicara, tidak memberi arah ke mana kisahnya akan berlanjut. Tapi sebagai pembaca kita tahu apa yang terjadi di bagian pamungkas itu sangat riskan dan akan menimbulkan permasalahan yang mempertaruhkan kehidupan para pelakunya.

Pasung Jiwa yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan 15 tahun runtuhnya Orde Baru ini adalah novel keempat Okky Madasari. Sebelumnya ia telah menerbitkan novel Entrok (2010), 86 (2011), dan Maryam (2012). Maryam membuatnya meraih Khatulistiwa Literary Award tahun 2012. Sesuai minatnya yang telah ditunjukkannya sejak novel perdananya, Okky selalu mengusung isu-isu kemanusiaan dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat Indonesia. 





Catatan:
Kasus Marsini mengingatkan pada kasus Marsinah, aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, yang diculik, kemudian ditemukan dalam keadaan tewas dengan tanda-tanda penyiksaan berat pada 8 Mei 1993 (Wikipedia). Marsini adalah nama kakak perempuan Marsinah.

Marjinal adalah band beraliran anarko-punk asal Jakarta yang menciptakan sebuah lagu berjudul Marsinah yang didedikasikan untuk perjuangan Marsinah (Wikipedia)


27 March 2012

Maryam



Judul Buku: Maryam
Pengarang: Okky Madasari
Tebal: 280 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

  
 



Sebenarnya, Maryam bukanlah seorang Ahmadi yang fanatik. Setelah meninggalkan Gerupuk, kampungnya di Lombok, ia kuliah di Surabaya. Di sana ia sempat berpacaran dengan sesama Ahmadi, tapi hubungan mereka kandas. Kekasihnya tidak hanya meninggalkan dirinya, tapi juga Ahmadiyah. Setelah bekerja di Jakarta, Maryam sendiri meninggalkan Ahmadiyah demi menikahi seorang pria di luar keyakinannya.

Keputusannya beralih keyakinan tidak otomatis membuat hidupnya bahagia. Perkawinannya tidak bahagia karena anak tidak kunjung hadir dalam rumah tangganya. Sementara ibu mertuanya terus-menerus menggerataki kehidupan rumah tangga anaknya. Maryam pun bercerai, dan memutuskan pulang kampung. Yang ia temukan membuatnya terpukul. Orangtuanya telah minggat dari Gerupuk. Sebagai pengikut Ghulam Ahmad, keluarga Maryam diusir dari rumah sendiri. Mereka tidak diterima lagi di Gerupuk, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dekat dengan mereka.

Pergi dari Gerupuk dengan terpaksa, bersama warga Ahmadiyah lainnya, keluarga Maryam membangun komunitas di Gegerung.  Di sanalah Maryam bergabung dan mencoba membangun kembali hidupnya. Ia tidak ingin kembali bekerja di Jakarta, bahkan kemudian menikah dengan sesama Ahmadi.

Setelah menikah, Maryam melihat Gegerung tidak juga menjadi tempat yang aman bagi keluarga dan sesama Ahmadi. Sekali lagi, mereka diusir dari rumah yang mereka bangun sendiri. Selama mereka masih menjadi bagian dari Ahmadiyah, mereka tidak bisa pulang. Lalu, apakah mereka harus meninggalkan iman demi diterima kalangan mayoritas?

Novel ini hadir sebagai wujud keprihatinan pengarang atas realitas yang berkembang di Indonesia terkait dengan kehidupan beragama. Tumbangnya toleransi dan diskriminasi yang dialami warga minoritas menjadi elemen utama yang dilemparkan pengarang ke hadapan pembaca. Sebagai wakil dari pihak yang dikalahkan gara-gara kedua permasalahan itu, pengarang mengedepankan kasus Ahmadiyah. Bagaimana hak asasi mereka dirampas dan mereka terpaksa berakhir di pengungsian. Hanya karena pilihan mereka yang berbeda.

Di sisi lain, novel ini juga memperlihatkan keteguhan hati dari pihak yang disepelekan. Mereka mampu menghalau tuntutan suara mayoritas untuk meninggalkan iman mereka. Bahkan lebih memilih tetap di pengungsian ketimbang pulang tapi melepaskan keimanan. Kata salah satu perempuan Ahmadi dalam novel: “Namanya orang sudah percaya. Semakin susah semakin yakin kalau benar” (hlm. 272).

Sesuai judul novel, Maryam, novel ini juga berbicara tentang perempuan, dan cara perempuan seharusnya menyikapi ketertindasan. Maryam digambarkan sebagai perempuan yang berani. Berani meninggalkan pernikahan yang berjalan tidak sesuai harapan. Berani melancarkan protes atas kesewenang-wenangan yang dialami sesama Ahmadi. Sampai novel berakhir, Maryam masih tetap memperjuangkan kaumnya. Menggugat dan menggugah pemerintah untuk mendengarkan suaranya yang mewakili suara semua Ahmadi.  “Benarkah sudah tak ada lagi yang bisa kami harapkan di negeri ini?” (hlm. 274). “Sampai kapan lagi kami harus menunggu?” (hlm. 275).

Maryam adalah novel ketiga Okky Madasari, setelah Entrok dan 86. Seperti kedua novel sebelumnya, ia masih berkutat dengan realitas sosial yang berkembang di Indonesia. Dan dengan pilihannya ini, ia tampil berbeda dengan kebanyakan pengarang perempuan (muda) di Indonesia. 
12 February 2012

Entrok




Judul Buku: Entrok
Pengarang: Okky Madasari
Tebal: 288 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, April 2010
Penerbit: Gramedia



"Anakku memang sudah mati. Ya, apakah masih hidup lagi ketika seseorang sudah menjadi PKI? Selama puluhan tahun, aku selalu berhati-hati menuruti apa pun yang diminta orang-orang yang punya kuasa hanya agar aku dan anak-cucuku tidak mendapat hukuman seperti ini. Tapi sekarang anak kandungku malah mendapat cap PKI. Duh, Gusti Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa, karma atas apakah itu?"   (Marni: 275-276).


Apa yang diratapi Marni berawal dari entrok, seperti judul dan gambar yang tampak pada sampul muka novel ini.

Singget, Magetan, 1950. Marni telah tumbuh menjadi perawan yang ditandai dengan mengalirnya haid dan tumbuhnya sepasang payudara di dadanya. Agar dadanya tidak nglawer-nglawer namun menyembul dengan indah, Marni membutuhkan entrok (bra atau BH). Sayangnya, Simbok tidak punya uang untuk beli entrok. Pekerjaan Simbok mengupas singkong di Pasar Ngranget hanya memberikan mereka makanan, dan bukan uang yang cukup dipakai membeli entrok. Entrok terlalu mewah, dan Marni tidak punya bapak yang bisa membanting tulang untuk mendapatkan uang.

Marni memutuskan untuk bekerja. Karena mengupas singkong tidak memberinya uang, ia terjun ke dalam pekerjaan laki-laki, yaitu menjadi kuli pasar. Setiap kali mengangkat barang, ia akan diupahi 1 Rupiah yang akan dikumpul membeli entrok. Setelah entrok terbeli, keinginan lain berkecamuk dalam hati Marni: punya uang banyak. Maka Marni membuka usaha bakulan setelah nyuwun (memohon) pada Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa yang disembah Simbok. Usahanya berhasil. Dari menjual sayur dan bumbu masak, Marni menjadi penjual alat-alat rumah tangga seperti wajan, panci, dan ember. Rupanya Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa berkenan dengan pekerjaan Marni, maka Marni pun bakulan duit, membungakan uangnya kepada pedagang-pedagang pasar. Marni menjadi kaya, bisa membangun rumahnya, membeli sawah-sawah yang ditanami tebu, membeli kendaraan roda dua dan roda empat, membeli televisi yang pada masanya masih tergolong barang mewah.

Untuk memiliki uang yang banyak sebenarnya bukanlah hal yang mudah bagi Marni. Perubahan hidupnya dari perempuan miskin menjadi makmur selalu menjadi bulan-bulanan warga kampung. Marni disebut sebagai pendosa yang memberi sesajen pada setan, memelihara tuyul untuk mendapatkan uang, dan mencari pesugihan dengan menjanjikan tumbal.

Marni memang memberi sesajen kepada leluhur sebagai ungkapan terima kasih, namun ia percaya ia tidak berhak disebut pendosa karena itu. Ia tidak membunuh, mencuri, ataupun menipu orang.

Pak Waji guru SD Rahayu Ningsih, putri semata wayang Marni dengan suaminya Teja, yang sebenarnya berhutang banyak pada Marni menciptakan situasi yang mendorong Rahayu untuk memusuhi ibunya. Apalagi pengajaran Pak Waji telah membuat Rahayu percaya kepada apa yang dikenal sebagai Tuhan dan berdoa kepadanya lima kali sehari. Maka semakin bertambah usia,  Rahayu semakin membuat jarak dengan ibunya. Apa saja yang dilakukan Marni yang tidak sesuai dengan agama samawi yang ia anut, mempertebal kebencian Rahayu pada agama leluhur ibunya. Mereka tidak pernah bisa memperbaiki hubungan hingga Rahayu meninggalkan Magetan untuk kuliah di Jogja.

Singget, Magetan, 15 Januari 1994. Rahayu telah kembali ke kampung halamannya, tanpa gelar sarjana, tanpa masa depan.  Ia telah menjadi janda dari seorang pria yang berpoligami, masuk penjara gara-gara memperjuangkan warga yang menariknya masuk ke dalam kepercayaan seperti ibunya, dan sebagai korban penyiksaan dan pemerkosaan pria-pria berpakaian loreng. Tidak ada lagi semangat kehidupan dalam diri Rahayu karena untuk mencari pekerjaan saja susah karena tulisan khusus di KTP-nya yang membuatnya setara dengan PKI. Ketika ibunya menyodorkan calon suami, Rahayu tidak menampik. Hari ini, ia akan menikah dengan seorang tukang andong. Namun ternyata, tulisan di KTP Rahayu membuyarkan impian Marni ibunya yang dalam puncak putus asanya mengalami gangguan jiwa. Menyempurnakan penderitaan Marni yang telah ditinggal mati suaminya, yang kekayaannya telah dirampas pria-pria berpakaian loreng yang membawa pistol, yang telah ditindas hingga ke titik nadir oleh perkembangan zaman.

Singget, Magetan, Januari 1999, Rahayu memulai novel ini dalam prolog bertajuk Sebuah Kematian. Katanya, "Lima tahun aku menunggu hari ini datang. Pagi-pagi aku sudah mandi lalu berdandan. Hari ini aku akan lahir kembali. Aku akan kembali menjadi manusia yang punya jiwa. Tidak hanya raga kosong yang menunggu kematian"(hlm.11).

Entrok adalah novel perdana Okky Madasari, wartawan kelahiran Magetan (Jawa Timur) 30 Oktober 1984. Novel ini dikatakan lahir sebagai kegelisahan atas menipisnya toleransi dan maraknya kesewenang-wenangan di negara kita. Dan memang kedua hal inilah yang digambarkan dalam novel yang dinarasikan menggunakan perspektif orang pertama, Marni dan Rahayu, dalam delapan bagian yang terbentang antara tahun 1950-1999 ini.

Marni adalah perempuan Jawa yang tidak pernah mengenal Gusti Allah, dan ia hanya memuja leluhur sesuai cara yang diwariskan orangtuanya. Namun apa yang ia lakukan, berdoa kepada leluhur dan mempersembahkan sesajen berupa ayam panggang dan tumpeng dianggap berdosa oleh orang lain. Akibatnya, Marni harus berhadapan dengan tindakan sewenang-wenang masyarakat tempat ia tinggal dan oknum TNI yang menyeretnya tumbang dari singgasana kemakmuran. Sikap tidak toleran –yang menjurus pada kesewenang-wenangan- kepada kepercayaan tertentu juga digambarkan melalui sahabat Marni, lelaki Cina bernama Koh Cayadi. Untuk bisa hidup dan diterima di Indonesia, ia mengikuti salah satu agama samawi yang dibolehkan di Indonesia. Ketika ia pergi ke kelenteng ia dianggap melanggar peraturan dan mendapat peringatan yang harus dibayarnya dengan uang yang ia pakai sebagai modal usaha. Lalu, gara-gara menyumbang uang untuk latihan tari naga yang dimainkan tanpa sepengetahuannya ia harus menjadi buronan dan berakhir dengan nasib tidak jelas dalam penjara.

Rahayu tidak mengalami intoleransi kehidupan beragama karena ia memang menganut agama yang diakui di Indonesia. Namun ia turut merasakan tindakan sewenang-wenang yang diwakili pihak yang sama yang merampok harta ibunya. Padahal ia hanya memperjuangkan nasib tukang becak dan orang-orang yang dirampas tempat tinggalnya menggunakan bantuan tentara.  Kehidupan idealisnya sebagai anak kampus berakhir dengan tulisan di KTP yang menggoyahkan semua sendi kehidupannya.

Ketidakadilan sosial mewarnai sekujur novel yang memberi efek menggetarkan hati ini. Dan ironisnya, hal ini dipantik oleh pemerintah yang mengakui bahwa negara ini berdiri di atas landasan Pancasila yang salah satu silanya berbunyi: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bagaimana mungkin sila itu diterapkan jika keadilan hanya bisa diperoleh lewat pertukaran materi? Yang tersisa hanyalah perasaan getir yang nyaris tidak berkesudahan.

Pak Tikno adalah gambaran tragis dari pelanggaran dasar tempat negara kita dibangun. Ia menjadikan kebun warisan leluhur yang hanya sepetak sebagai tempat mengais pencaharian. Demi supaya kampungnya ikut-ikutan punya gardu untuk pos keamanan, ia dipaksa menyerahkan kebunnya. Ketika ia menolak, ia dituduh PKI, diciduk dari rumah dan keluarganya, dipenjara dan hilang tak tentu rimbanya. Di kebun keluarganya didirikan gardu poskamling. Janji-janji pemerintah dalam kampanye pemilu untuk memberi ketenteraman bagi semua orang hanya menjadi pepesan kosong belaka.

Sebagai pengarang Okky bercerita dengan sederhana namun kuat. Ia memanfaatkan kata-kata yang tidak sulit dicerna, ia menghalau kemungkinan mempermolek ceritanya dengan metafora berbunga-bunga. Ia hadir bersahaja, namun meninggalkan parut yang susah hilang di benak pembacanya.

Pilihan Okky untuk tidak bermain di dunia chicklit atau teenlit patut dihargai. Bukan berarti kedua genre novel ini tidak bermanfaat, namun kenyataan membuktikan bahwa lebih sering memang tidak mencerminkan kehidupan yang sesungguhnya. Okky memilih menghamparkan keras dan jahatnya kehidupan ketimbang manis dan gurihnya percintaan romantis.

Pilihan yang mantap belum sepenuhnya diikuti Okky dengan penulisan yang teliti. Marni yang percaya pada kemampuan arwah leluhur untuk menolongnya memperbaiki kehidupan diceritakan memberi sesajen berupa tumpeng dan ayam panggang setiap hari kelahirannya (hlm. 56). Padahal sebelumnya (hlm. 15), melalui penuturan Marni sebagai narator, Okky menyatakan bahwa Marni tidak tahu kapan tepatnya ia dilahirkan.  Sungguh kelengahan yang patut disayangi.

Apa yang ditulis Okky Madasari juga berakhir dengan entrok. Tidak semua orang bisa dengan gampang melepaskan entrok untuk melihat rahasia di baliknya. 

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan