27 March 2012

Maryam



Judul Buku: Maryam
Pengarang: Okky Madasari
Tebal: 280 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

  
 



Sebenarnya, Maryam bukanlah seorang Ahmadi yang fanatik. Setelah meninggalkan Gerupuk, kampungnya di Lombok, ia kuliah di Surabaya. Di sana ia sempat berpacaran dengan sesama Ahmadi, tapi hubungan mereka kandas. Kekasihnya tidak hanya meninggalkan dirinya, tapi juga Ahmadiyah. Setelah bekerja di Jakarta, Maryam sendiri meninggalkan Ahmadiyah demi menikahi seorang pria di luar keyakinannya.

Keputusannya beralih keyakinan tidak otomatis membuat hidupnya bahagia. Perkawinannya tidak bahagia karena anak tidak kunjung hadir dalam rumah tangganya. Sementara ibu mertuanya terus-menerus menggerataki kehidupan rumah tangga anaknya. Maryam pun bercerai, dan memutuskan pulang kampung. Yang ia temukan membuatnya terpukul. Orangtuanya telah minggat dari Gerupuk. Sebagai pengikut Ghulam Ahmad, keluarga Maryam diusir dari rumah sendiri. Mereka tidak diterima lagi di Gerupuk, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dekat dengan mereka.

Pergi dari Gerupuk dengan terpaksa, bersama warga Ahmadiyah lainnya, keluarga Maryam membangun komunitas di Gegerung.  Di sanalah Maryam bergabung dan mencoba membangun kembali hidupnya. Ia tidak ingin kembali bekerja di Jakarta, bahkan kemudian menikah dengan sesama Ahmadi.

Setelah menikah, Maryam melihat Gegerung tidak juga menjadi tempat yang aman bagi keluarga dan sesama Ahmadi. Sekali lagi, mereka diusir dari rumah yang mereka bangun sendiri. Selama mereka masih menjadi bagian dari Ahmadiyah, mereka tidak bisa pulang. Lalu, apakah mereka harus meninggalkan iman demi diterima kalangan mayoritas?

Novel ini hadir sebagai wujud keprihatinan pengarang atas realitas yang berkembang di Indonesia terkait dengan kehidupan beragama. Tumbangnya toleransi dan diskriminasi yang dialami warga minoritas menjadi elemen utama yang dilemparkan pengarang ke hadapan pembaca. Sebagai wakil dari pihak yang dikalahkan gara-gara kedua permasalahan itu, pengarang mengedepankan kasus Ahmadiyah. Bagaimana hak asasi mereka dirampas dan mereka terpaksa berakhir di pengungsian. Hanya karena pilihan mereka yang berbeda.

Di sisi lain, novel ini juga memperlihatkan keteguhan hati dari pihak yang disepelekan. Mereka mampu menghalau tuntutan suara mayoritas untuk meninggalkan iman mereka. Bahkan lebih memilih tetap di pengungsian ketimbang pulang tapi melepaskan keimanan. Kata salah satu perempuan Ahmadi dalam novel: “Namanya orang sudah percaya. Semakin susah semakin yakin kalau benar” (hlm. 272).

Sesuai judul novel, Maryam, novel ini juga berbicara tentang perempuan, dan cara perempuan seharusnya menyikapi ketertindasan. Maryam digambarkan sebagai perempuan yang berani. Berani meninggalkan pernikahan yang berjalan tidak sesuai harapan. Berani melancarkan protes atas kesewenang-wenangan yang dialami sesama Ahmadi. Sampai novel berakhir, Maryam masih tetap memperjuangkan kaumnya. Menggugat dan menggugah pemerintah untuk mendengarkan suaranya yang mewakili suara semua Ahmadi.  “Benarkah sudah tak ada lagi yang bisa kami harapkan di negeri ini?” (hlm. 274). “Sampai kapan lagi kami harus menunggu?” (hlm. 275).

Maryam adalah novel ketiga Okky Madasari, setelah Entrok dan 86. Seperti kedua novel sebelumnya, ia masih berkutat dengan realitas sosial yang berkembang di Indonesia. Dan dengan pilihannya ini, ia tampil berbeda dengan kebanyakan pengarang perempuan (muda) di Indonesia. 

2 comments:

desty said... Reply Comment

Saya belum pernah baca bukunya Okky. Sepertinya bisa dimasukkan ke wishlist :)

Jody said... Reply Comment

buku2nya Okky layak dibaca :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan