04 March 2012

Lampuki



Judul Buku: Lampuki
Pengarang: Arafat Nur
Tebal: 433 hlm
Cetakan: 1, Mei 2011
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta



Sejarah Aceh yang kelam semenjak bergabung dengan Negara Kesatuan RI merupakan tema yang diangkat dalam novel Lampuki karya penulis Aceh, Arafat Nur. Novel ini dinobatkan sebagai pemenang unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010. 

Lampuki adalah nama kampung di wilayah Pasai, Aceh, yang terletak di daerah perbukitan. "Pertemuan dua bukit itu menyerupai tubuh manusia telentang dengan kedua sisi kakinya merenggang terkuak serupa selangkang perempuan. Sebab, di seluk situ tak ada gumpalan, melainkan lubang," demikian kalimat pembuka sang pengarang menceritakan bentangan alam Lampuki, yang mungkin menjadi sumber nama kampung itu (hlm. 10). 

Teungku Muhammad, didapuk Arafat Nur sebagai narator novel yang benar-benar menguasai seting ceritanya, Lampuki. Ia adalah seorang guru mengaji dan sesekali bekerja sebagai tukang bangunan. 

Dari narasi yang ia sampaikan, pembaca belajar mengenai kehidupan orang Aceh yang menetap di Lampuki. Menurutnya, orang-orang Lampuki, baik penduduk asli maupun pendatang sama-sama memiliki perangai menyimpang. Mereka memiliki perangai beringas dan pongah yang telah berubah menjadi semacam penyakit turunan, yang dengan bangga mereka tularkan kepada generasi-generasi berikutnya.  

Perangai seperti itu memang hanya ditampakkan dalam hubungan dengan sesama warga Aceh, tetapi ketika berhadapan dengan serdadu pemerintah yang dikirim dari Jawa, mereka tidak berkutik. Mereka hidup dalam ketakutan, dibayang-bayangi oleh kematian yang disebabkan oleh pistol dan bedil para serdadu, dan juga angan-angan kosong. 

"Mereka terus terbuai angan-angan panjang, beranggapan tak lama lagi kesultanan Aceh yang gemilang bakal bangkit kembali, lalu memberangus semua serdadu pemerintah yang pernah menampar dan memukuli wajah dungu mereka. Mereka yakin Allah akan membela tanah ini--sebagaimana mereka meyakini bahwa tanah ini adalah tanah suci dan mulia, bagian dari tanah Mekah, yang akan selalu berada dalam lindungan dan rahmat Allah. Lalu Allah akan mengirimkan tentara-Nya untuk melindungi Aceh sebagaimana saat ababil membinasakan pasukan Abrahah yang hendak melumatkan Ka'bah---sementara mereka sendiri melalaikan sembahyang dan semakin terlena oleh bualan tukang lamun di kedai kopi Pasar Simpang sehingga mereka terus berleha-leha sepanjang hari, tanpa menghiraukan pekerjaan" (hlm. 70).  

Ketika cerita bergulir, Aceh memang telah menjadi kancah pembantaian militer. Dari halaman novel kita mengetahui bahwa semua berawal dari pemberontakan Teungku Daud. Sang ulama adalah pemimpin perjuangan rakyat Aceh dalam menghadapi Belanda. Reputasinya yang terhormat dan kelembutan hatinya dimanfaatkan oleh Soekarno, presiden RI pertama. Rakyat Aceh mengumpulkan banyak sumbangan kepada pemerintah pusat. Hasil sumbangan mereka dibelikan pesawat terbang untuk menyokong kebebasan dari penjajah. Tapi setelah Indonesia merdeka, Soekarno berkhianat dan menghapus kekuasaan sang ulama. Akibatnya, Teungku Daud memberontak, dan perang demi perang meletus. Pada saat rezim Soekarno tumbang dan digantikan oleh Soeharto, sang teungku tidak berdaya. Soeharto memulai Tahun-Tahun Pembantaian di Aceh, mengasingkan Teungku Daud, hingga akhirnya ia meninggal setelah kembali dari pengasingan. Tahun-Tahun Pembantaian di Aceh adalah tahun-tahun ketika nyawa penduduk Aceh nyaris tidak berharga, dianiaya dan dibunuh, dan kaum perempuannya diperkosa.

Setelah periode Teungku Daud, muncullah Hasan Tiro yang mengadakan perlawanan terhadap pemerintah pusat. Pada masanya, warga Aceh kian hidup dalam kesulitan di antara pertentangan dua kubu: penjajah dan pemberontak. Menyusul Hasan Tiro, lahirlah para pembangkang yang bergerilya melawan para serdadu pemerintah. Salah satunya Ahmadi, tokoh sentral novel Lampuki, yang adalah mantan berandalan. 

Ahmadi muncul di bagian kedua novel sebagai panglima laskar Sagoe Peurincun yang menguasai Lampuki dan wilayah sekitarnya. Ia terkenal dengan kumisnya yang lebat. Oleh narator, selanjutnya kumis ini akan menjadi bahan olok-olok. Narator yang kesal dengan kumis Ahmadi, akan mengisahkan pula soal kumis sang gerilyawan yang mendatangkan bencana bagi warga Lampuki yang berkumis tebal. Dengan suaranya yang lantang Ahmadi menentang pemerintah dan menantang warga untuk mendukung serta ikut dalam laskarnya. Menurut Ahmadi ia menjadi pembangkang karena ia tidak bakal membiarkan serdadu pemerintah menistakan Aceh untuk selama-lamanya. Tentu saja, umumnya warga menolak ajakan berperang Ahmadi. Orang-orang tidak ingin mencari-cari penyakit dengan serdadu pemerintah. Mereka telah lelah, jiwa dan raga, selama Tahun-Tahun Pembantaian. Dalam kondisi terdesak, mereka mendukung perlawanan Ahmadi dengan setengah hati, menjadi bagian dari wajib pajak yang ditagih oleh Halimah, istri Ahmadi. 

Salah satu pemuda yang tidak mengikuti ajakan Ahmadi adalah Jibral si Rupawan. Anak muda ini justru terlibat perselingkuhan dengan Halimah. Perselingkuhan itu terjadi karena Ahmadi hidup di gunung dan hanya mengunjungi Lampuki pada waktu-waktu tertentu. Jibral tidak hanya melakukan perzinahan dengan Halimah, tapi kemudian dengan Hayati, istri Puteh yang ikut bergerilya dengan Ahmadi. 

Untuk mengisahkan semua cerita dalam novel, Teungku Muhammad berhasil mengorek informasi berbagai kejadian dari  orang-orang yang menjadi saksi mata Oleh karena itu, ia menjadi bebas mengomentari apa saja, sesuka hati, sesekali mengolok-olok, menertawakan para karakter dan diam-diam menista mereka. 

Cerita utama dalam novel ini terjadi setelah Tahun-Tahun Pembantaian berlalu, meskipun kemudian pembantaian tetap terjadi di tanah Aceh. Masa-masa itu disebut sebagai Tahun-Tahun Perlawanan yang dimulai saat para serdadu kembali ke tanah Aceh, setelah Soeharto lengser. Masa-masa itu berkelanjutan hingga Megawati menjadi presiden. Narator menginformasikan pada kita besarnya kekecewaan orang Aceh pada perempuan yang pernah menjadi presiden RI. Sebelumnya si presiden telah ‘merengek-rengek’ meminta mereka untuk memilih partainya dalam pemilihan umum (yang gara-gara perdebatan soal binatang yang menjadi lambang partainya, nyaris terjadi pertumpahan darah di Lampuki). Dengan air mata berlinang, perempuan ini berkata: "Percayalah, kalau saya jadi presiden, tidak akan ada lagi darah orang Aceh yang tumpah setetes pun!" (hlm. 414). Tapi, ketika ia jadi presiden, ia mengirimkan ribuan prajurit ke Aceh. Ia adalah perempuan ular, narator menyampaikan sebutan warga Lampuki, dan pasukan yang ia kirim adalah pasukan ular. Warga Aceh kecewa dengan janji palsunya dan menyadari kesamaan dengan ayahnya: pengkhianat. Padahal orang Aceh benci kepala negara yang berkhianat. Dalam hal ini, mau tidak mau, sang narator, kendati kesal dengan kumis Ahmadi, harus bersimpati pada perjuangan Ahmadi, apalagi pada Tahun Penuh Bencana ketika Megawati menjadi presiden. 

Tahun Penuh Bencana adalah masa-masa menakutkan ketika ulah gerilyawan pemberontak harus ditanggung oleh warga yang tidak bersalah. Untuk menghadapi gerilyawan, serdadu pemerintah menjalankan taktik membinasakan gerilyawan yang mana warga menjadi sasaran pembantaian. Padahal sebelumnya warga juga telah mengalami penganiayaan yang kerap di luar batas kemanusiaan. Kumis ala Ahmadi mendatangkan bencana, dan serangan-serangan Ahmadi terhadap serdadu pemerintah membuat warga hidup dalam ketakutan. Kaum pria harus mengikuti ritual penyuluhan, ritual yang dikatakan sebagai ritual isi kepala warga Aceh yang dianggap kotor. Manakala serangan gerilyawan di bawah pimpinan Ahmadi berulang, menghindari penganiayaan dan ritual cuci isi kepala itu, kaum pria melarikan diri ke hutan, termasuk si narator. 

Narator mengatakan: "Hari-hari yang berlaku sekarang tidak kurang menakutkan dari Tahun-Tahun Pembantaian" (hlm.417). Para serdadu melakukan pembunuhan secara terbuka, dan "setidaknya rata-rata setiap hari ada tujuh sampai selusin orang mati mengenaskan." (hlm. 422). "Waktu tinggal sebatang rokok lagi" bagi Aceh untuk mendapatkan kemerdekaan tidak pernah tercapai. 

"Siapa sangka, kecintaan, mimpi liar, hasrat, dan nasib malah menghancurkan dan membinasakan banyak orang," kata narator di tengah-tengah kemalangan warga Aceh yang tidak terhindarkan (hlm. 424). Warga Aceh terjepit di antara dua pihak yang sama kasarnya: para serdadu dan para pemberontak. "Kelak, setelah salah satu kelompok binasa, mereka yang keluar sebagai pemenang akan mendapati tanah ini telah hancur luyak." (hlm. 425).

Tak pelak lagi, pada masa-masa itu Ahmadi menjadi sasaran kebencian warga Lampuki. 

Lampuki adalah novel yang menggores hati ketika ia menyingkapkan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang terjadi di tanah Aceh. Pengarang adalah orang Aceh yang memiliki kepedihan terkait dengan penderitaan yang dialami kaumnya. Oleh karena itu, semua yang disampaikannya bukanlah racauan kosong. Ia mencabik semua kenangan ke atas permukaan agar pembaca bisa menyelami lagi tragedi yang meluluhlantakkan Serambi Mekah. Mungkin, kendati telah membaca berita-berita seputar pembantaian warga Aceh, pembaca akan terperangah dengan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Tentu saja, ada harapan dalam penyajiannya sebagai novel, tragedi kemanusiaan seperti itu tidak lagi akan terjadi di Negeri Indonesia. 

Selain menggambarkan pembantaian di Tanah Aceh secara blakblakan, pengarang juga tak segan melakukan kritik terhadap perangai kaumnya melalui komunitas Lampuki. Sebagai orang Aceh, tindakannya menjadi cermin bagi warga Aceh untuk merekonstruksi tabiat yang menghambat kemajuan. Rekonstruksi tabiat seperti ini akan menghindarkan terwujudnya pemikiran konyol seperti yang muncul di benak Teungku Muhammad menanggapi kemarahan Sukijan, seorang serdadu pemerintah.  "... Aku tidak setuju kalau bangsaku yang malang ini sampai harus dilenyapkan semua. Perlu disisakan beberapa orang saja sebagai bibit agar negeri yang sudah rusak luyak ini tidak tambah sepi, tambah senyap mati." (hlm. 285).  

Kekuatan yang mendominasi novel ini adalah kepiawaian pengarang menuliskan kepedihan dalam untaian kalimat berbobot dengan sentuhan humor yang menggelitik. Perangai orang Aceh diolok-olok dan para karakter ciptaannya ditertawakan. Tak terhindarkan, saat membaca novel ini, kita akan tersenyum ataupun tertawa di tengah-tengah keresahan warga Lampuki. 

Keberanian pengarang hadir dalam caranya menyentil tanpa tedeng aling-aling orang-orang yang benar-benar pernah hidup. Soekarno, Soeharto, dan Megawati menjadi sasaran karena tindakan mereka yang terkait dengan penderitaan orang Aceh. Ia juga mengemukakan apa yang disebut mafia Jakarta, yang melakukan transaksi penjualan senjata dengan pemberontak. Para pecundang tanpa jabatan itu menyerahkan senjata kepada pemberontak, dan pemberontak membayar mereka dengan uang hasil penjualan ganja. 

Novel apik ini disudahi sebelum Tahun Penuh Bencana berakhir dan meninggalkan pertanyaan: apakah yang terjadi pada Ahmadi dan rekah-rekan gerilyanya yang terus diburu oleh pasukan ular? Sepertinya cerita akan berlanjut karena sebelumnya, terkait dengan nasib Jibral si Rupawan sang narator menyampaikan: "Kelak, lama sesudahnya, setelah kumis Ahmadi dipensiunkan Tuhan, Jibral akan segera menunjukkan kebolehan pesongnya, dan tak seorang pun menyangka bagaimana semua kemusykilan itu dapat terjadi begitu saja atas dirinya." (hlm. 383).

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan