30 March 2012

T(w)itit!



Judul Buku: T(w)itit!
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Tebal: 100 halaman
Cetakan: 1, Januari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 

 




Penulis adalah tulang rusuk Adam dari karakter ciptaannya,” kata Nadine Gordimer dalam Writing and Being (1995). Djenar Maesa Ayu, tanpa henti-hentinya menjadi tulang rusuk Adam bagi karakter bernama Nayla. Nama ini selalu muncul dalam buku-buku Djenar, bahkan salah satu bukunya menggunakan nama ini sebagai judul. Tidak peduli dari mana nama ini muncul dan digunakan penuh kasih sayang oleh Djenar, lama-kelamaan bosan rasanya melihat Nayla terus beranak-pinak. Apalagi kalau membaca T(w)itit! buku keenam Djenar, sebuah koleksi cerpen. Semua karakter penting sebelas cerpen di sini bernama Nayla.

Secara tema, Djenar Maesa Ayu masih tetap berjalan di tempat, ia masih berkutat dengan sejumlah kekacauan yang lahir dari hubungan antar manusia, hubungan anak-anak dan orangtua dan hubungan antar pasangan, yang tentu saja, seperti adatnya Djenar, ada yang melibatkan seks. Kekacauan hubungan anak dan orangtua bisa dibaca dalam cerpen bertajuk Nayla (nah, kan, Nayla lagi), Jinxie, Bung, dan Petasan, Setan!.

Nayla dalam cerpen Nayla adalah anak seorang pelacur, yang menjadi pelacur setelah ditinggalkan suaminya yang bejat. Nayla dan ibunya terpaksa harus tinggal di rumah bilik karena diusir dari rumah gara-gara si suami sontoloyo kalah judi. Nayla terpaksa membuka kelim pertama rok merah seragam SD-nya yang sudah berubah warna menjadi warna bata karena tidak punya uang untuk membeli yang baru (digambarkan ia melakukan dalam keadaan lapar). Celakanya, rok yang kelimnya dibuka itu mendatangkan petaka bagi Nayla, yang hanya membuat ibunya semakin marah-marah.
 
Jinxie yang menjadi judul cerpen adalah seekor anjing yang ditemukan Nayla, seorang penulis, ketika bermobil di suatu hari hujan. Hujan mengguyur basah anjing itu, dan membuat Nayla menarik persamaan dengan nasibnya sewaktu masih anak-anak. Dua kali ia lari dari rumah karena menjadi korban pelecehan pacar ibunya. Tapi, bukannya membela Nayla, ibunya justru murka.
 
Bung (yang kemungkinan besar mengacu pada ayah Djenar sendiri) berkisah tentang Nayla yang mempunyai tiga telinga. Dari kedua telinga yang ada di samping kanan dan kiri kepalanya ia mendengar bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Dari  telinga di dada yang mendengar hatinya berbicara, di telapak kaki ibunya sama sekali tidak ada surga, melainkan kekuatan untuk menyiksa. Nayla bingung, mau jadi ibu seperti apa jika ia punya anak. Ibu versi kedua telinga di samping kanan dan kiri kepalanya atau ibu versi telinga di dadanya. 

Nayla dalam cerpen Petasan, Setan! (pakai tanda seru) membenci hari besar. Kedua orangtuanya menjadi munafik di hari besar, padahal hubungan mereka di rumah begitu dingin sehingga membuat Nayla kesepian. Gara-gara kesepian, Nayla menciptakan dunia dengan taman imajinasi yang dinaungi langit berwarna ungu, dipenuhi bermacam bunga, pepohonan, kicau burung, gemericik air terjun susu, dan awan yang sesekali menitikkan hujan bunga sepatu. Di sana ia hidup bahagia dengan kedua orangtuanya, dan tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari gula-gula, cokelat, kue, irisan keju, dan semen madu. Ketika ibunya mencoba merenggut dunia ini darinya, ia hanya punya satu cara untuk membalas ibunya.

Entah kenapa hampir semua cerpen Djenar yang ada tokoh ibu, ibu digambarkan secara tidak ideal. Demikian juga tokoh ibu dalam koleksi ini. Ibu-ibu yang baik di dunia ini kan banyak juga? Syukurlah, dalam koleksi ini masih ada ibu yang bisa dikategorikan baik. Dan ya ya ya, ibu yang baik itu bernama Nayla (karena ibu-ibu jahat pasti bukan Nayla namanya). Ibu baik bernama Nayla yang paling menonjol baiknya adalah janda muda dalam cerpen T(w)itit! yang meninggalkan suaminya karena tidak mau dipoligami. Tapi dengan meninggalkan rumah mantan suaminya, ia harus mampu membiayai sekolah putrinya. Sudah menjadi single parent, eh, kalau menulis status di Twitter, ia kerap disalahpahami. Ibu yang baik juga sedikit tersirat di cerpen Mimpi Nayla. Kebaikan Nayla satu ini tidak menonjol karena tema utama cerpen ini memang bukan tentang kebaikan seorang ibu, tapi kematian.

Kekacauan hubungan antara pasangan terlukis dalam cerpen UGD, It Takes to Tattoo, Check In, dan Kosong. UGD yang menjadi cerpen pertama dalam koleksi ini adalah Unit Gawat Darurat, tempat dimana nasib kedua karakter dalam cerpen berakhir. Sumali Sentioko, pria pekerja seni dan berstatus menikah, menjalin hubungan dengan Nayla Soetisna, janda cerai yang usianya lebih muda hampir 30 tahun, tapi memutuskan untuk mengakhiri cinta mereka. It Takes Two to Tattoo dan Coffeewar berkisah tentang cinta yang meredup dalam hubungan pria dan wanita manakala mereka telah hidup bersama. Nayla dalam It Takes Two to Tattoo tidak lagi bisa menoleransi kegilaan pasangannya pada tato. Nayla dalam Coffeewar tidak lagi bisa menoleransi kebiasaan memaki dan keengganan pasangannya membelikan kopi rasa buah cherry kesukaannya. Kosong berkisah tentang Nayla yang senang bertandang ke sebuah kedai kopi, tertarik pada pemiliknya, dan ketakutan menunggu kepastian perasaan laki-laki itu.

Kesebelas cerpen dalam koleksi T(w)itit! ini dikembangkan dari sebelas tweet dari akun twitter milik Djenar. Menurut situs penerbit, akun twitter milik Djenar adalah salah satu akun terbesar dan terpopuler penulis perempuan Indonesia. Saat buku ini dirilis, memiliki 61 ribu lebih follower. Kabarnya, ada pembaca Djenar yang kadang salah arti dan salah tangkap hingga kege-eran. Untuk mereka, ia menulis tweet berbunyi: “Status Twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!” Tweet inilah yang melahirkan cerpen T(w)itit yang jadi judul koleksi cerpen ini.

Penggarapan tema yang sudah berkali-kali dipakai banyak penulis, termasuk Djenar, jika dilakukan dengan cara yang sama, akan membosankan pembaca. Dalam koleksi ini tampak usaha Djenar bermain-main dengan teknik bertutur meskipun temanya sudah usang. Tapi sayangnya tidak berhasil, hanya membuat karyanya kehilangan gravitasi.

UGD misalnya memunculkan keinginan Djenar untuk menghadirkan ceritanya secara berbeda. Cerpen ini mengalir bagaikan sebuah film pendek dengan alur mundur-maju. Tapi seperti yang disampaikan Lori Ostlund, penulis kumpulan cerpen The Bigness of the World (2009), jiwa sebuah cerita ada pada rangkaian kalimat di dalamnya. Sedangkan UGD kelihatan sekali dirancang sekadar untuk memenuhi tuntutan plot.

Kritik untuk cerpen berjudul Nayla adalah mengenai rok seragam yang dipakai karakter Nayla yang mendatangkan musibah. Djenar menulis bahwa Nayla memakai, “rok seragam yang pendeknya sudah berada di atas tumit.” (hlm. 16). Kemungkinan besar maksudnya, LUTUT, dan bukan TUMIT. Tumit adalah bagian telapak kaki sebelah belakang, di bawah mata kaki (KBBI). Mana ada seragam SD dibuat setumit/di bawah tumit sehingga menimbulkan nafsu karena sudah di atas tumit? Kesalahan seperti ini untuk sebuah cerpen sangat mengganggu karena pada dasarnya, penulisan cerita pendek seharusnya tidak terdapat kesalahan.

Ada harapan, suatu waktu, tulang rusuk Adam bernama Djenar ini, akan lebih kreatif memunculkan karakter, dan tidak lagi menamai mereka Nayla. Ia seharusnya sadar, nama yang sama untuk banyak karakter fiksi akan membuat karakternya menjadi generik, dan tidak lagi meninggalkan kesan di hati pembaca.

1 comments:

Aksiku - Toko Buku Bekas Online said... Reply Comment

Permisi Min, mau ngasih tauh buat pengunjung blog anda, toko buku bekas online milik saya, kebetulan memiliki koleksi novel karya djenar maesa ayu yang berjudul "T(w)ITIT! ini, silahkan bagi yang berminat kunjungi link ini http://www.aksiku.com/2014/11/jual-novel-twitit.html

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan