08 November 2012

Cerita Calon Arang




Judul Buku: Cerita Calon Arang
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Tebal: 96 hlm; 13 x 20 c
Cetakan: 5, Februari 2010.
Penerbit: Lentera Dipantara






Tidak diketahui siapa pencipta kisah Calon Arang. Kisah ini merupakan salah satu cerita rakyat yang dikenal di Bali dan Jawa dan dihidupkan dalam tradisi dongeng. Usaha untuk melestarikan kisah Calon Arang telah dilakukan beberapa kali dalam karya fiksi Indonesia. Toeti Heraty dengan prosa lirik berjudul Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (2000), Femmy Syahrani dengan novel Galau Putri Calon Arang (2005), dan Cok Sawitri dengan Janda dari Jirah (2007). Sebelum ketiga perempuan penulis itu, Pramoedya Ananta Toer telah mendokumentasikan kisah Calon Arang dalam buku berjudul Dongeng Calon Arang yang kemudian diterbitkan kembali dengan judul Cerita Calon Arang (diterbitkan pertama kali oleh penerbit Lentera Dipantara, 2003). 

Calon Arang adalah seorang perempuan setengah tua yang mempelajari mantra hitam dan menebarkan teluh kepada banyak orang dengan izin Dewi Durga yang disembahnya. Pramoedya menggambarkan bahwa sebenarnya sebelum Calon Arang mengganas dengan teluhnya, ia telah dikenal sebagai perempuan jahat yang tidak disukai warga sedusun, Girah. Akibatnya, warga pun menjauhi putri tunggalnya, Ratna Manggali. Tidak ada seorang lelaki pun yang mau meminang Ratna Manggali untuk menjadi istri walaupun ia seorang perempuan cantik. 

Gara-gara tidak ada lelaki yang berminat memperistri putrinya, Calon Arang yang pada dasarnya sudah jahat, memutuskan untuk membalas dendam dengan menebarkan teluh di dusunnya. Akibatnya banyak orang yang tewas, dan kegelisahan pun menyebar hingga ibukota kerajaan Daha. Raja Erlangga segera mengutus pasukannya untuk menangkap Calon Arang, dan menyabdakan bahwa jika ia melawan, Calon Arang boleh dibunuh. Tapi ketika para prajurit berhadapan dengan Calon Arang, mereka tidak sanggup melawan perempuan itu. Tiga di antara mereka bahkan terbakar oleh api yang disemburkan dari mata, hidung, kuping, dan mulut Calon Arang. 

Kedatangan pasukan Raja Erlangga untuk menangkapnya membuat Calon Arang semakin murka. Kali ini meminta restu Dewi Durga, Calon Arang memutuskan menebarkan teluh hingga ke ibukota kerajaan, termasuk ke dalam istana raja. 

Erlangga tidak tinggal diam. Atas arahan sembahannya, Dewa Guru, ia meminta bantuan Empu Baradah, satu-satunya orang yang bisa mengatasi keganasan Calon Arang. Tindakan pertama yang dilakukan Empu Baradah adalah menikahkan Empu Bahula, salah satu muridnya dengan Ratna Manggali. Apa yang menjadi tujuan Empu Baradah sangat jelas yaitu bahwa setelah menikah dengan Ratna Manggali, Empu Bahula bisa menemukan rahasia gelap Calon Arang. Rencana Empuh Baradah berhasil karena dengan memperdaya istrinya, Empu Bahula bisa membawa rahasia kekuatan Calon Arang ke hadapan gurunya.

Pada akhirnya, Empu Baradah siap berhadapan langsung dengan Calon Arang. Mengira bisa mengalahkan Empu Baradah, Calon Arang tidak segan melecehkan sang pertapa. Tapi nasibnya telah ditentukan, Calon Arang tetap harus mati, dan ia mengalami dua kali kematian.

Dari pengantar yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, diketahui bahwa buku ini disusun sebagai buku anak-anak untuk membangkitkan cerita lama dalam diri mereka. Itulah sebabnya, gaya bercerita Pramoedya di sini seperti orangtua yang sedang menceritakan dongeng kepada anak-anak. Dan sebagai buku anak-anak -kendati tidak semua isinya cocok untuk konsumsi anak-anak- tentu saja tidak dibutuhkan permainan metafora, kalimat-kalimat yang terlampau rumit, dan deskripsi yang sulit dicerna. Alhasil, cerita dalam buku ini menjadi terlalu biasa, lempeng, dan jauh dari memuaskan, bagi para pembaca dewasa.

Sebagai buku anak-anak, pesan yang disampaikan juga harus jelas, hitam-putih, diserap tanpa banyak berpikir. Bahwa kejahatan tidak akan abadi, dan kebaikan akan mampu mengalahkan kejahatan. Bahwa pelaku kejahatan selalu memiliki kesempatan untuk mengubah perilakunya jika mau. 

Selain kisah utama yang berpusat pada Calon Arang, buku tipis ini juga memuat kisah tentang putri Empu Baradah, Wedawati, yang menjadi pertapa. Bila dihilangkan, tidak akan mempengaruhi sajian utamanya. Demikian pula bagian penutup yang mengisahkan tentang Empu Baradah yang pergi ke Bali menaiki daun nangka. Agaknya, kedua bagian ini dimasukkan agar Cerita Calon Arang tidak menjadi terlalu pendek. Tapi, jujur saja, terutama yang berkisah tentang Wedawati adalah bagian yang membosankan dibaca dalam buku ini.

Sudah pasti Cerita Calon Arang tidak bisa dibandingkan isi dan cara penggarapannya dengan Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki dan Galau Putri Calon Arang. Apalagi dengan Janda dari Girah yang ditulis dengan  indah. Cerita Calon Arang terlalu sederhana dan dangkal. Tidak ada kedalaman yang perlu diselami selama membaca buku ini. 

Tapi ada pesan penting yang disampaikan Pramoedya melalui Wedawati, bahwa: "Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap-tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara."


0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan