18 November 2012

Manjali dan Cakrabirawa


Judul: Manjali dan Cakrabirawa
Penulis: Ayu Utami 
Tebal: x + 252; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Juni 2010
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia






Ayu Utami, saat ini, adalah salah satu penulis papan atas di Indonesia. Setelah melejit lewat novel Saman yang memenangkan sayembara Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1988, Ayu dikenal tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Ia telah menerima Prince Claus Award dari Belanda dan penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara 2008 karena dianggap memperluas batas cakrawala sastra Indonesia. Selain Saman, Ayu Utami juga telah menerbitkan Larung, lanjutan dari Saman, dan tentu saja, Bilangan Fu, yang diganjar Khatulistiwa Literary Award untuk kategori prosa tahun 2008.

Dalam  Bilangan Fu, Ayu memperkenalkan tiga karakter utamanya yaitu Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja. Selama membaca Bilangan Fu, tidak ditemukan penegasan bahwa mereka terlibat cinta segitiga sebagaimana yang disebutkan di sampul belakang novel Bilangan Fu.  Ketiga karakter ini dimunculkan kembali dalam Seri Bilangan Fu. Kita bisa menyatakan bahwa serial ini bersetingkan waktu sebelum Bilangan Fu berakhir. Sebab, yang sudah membaca Bilangan Fu pasti tahu kalau Ayu telah mematikan karakter Parang Jati. 

Manjali dan Cakrabirawa adalah judul yang dipakai untuk novel pembuka Seri Bilangan Fu. Judul ini langsung menetaskan pertanyaan lantaran Cakrabirawa dikenal sebagai pelaku pembunuhan para Pahlawan Revolusi pada September 1965. Dan ternyata, novel ini memang mengangkat peristiwa
G-30S/PKI sebagai landasan utama.

Marja, yang adalah kekasih Yuda, senang menghabiskan liburan di tempat tinggal keluarga Parang Jati di Sewugunung. Ke sanalah ia berencana pergi dengan Parang Jati saat Yuda mesti  ke Gunung Burangrang untuk berlatih panjat tebing dengan militer. Karena Parang Jati harus mengantar Jacquez Cherer, arkeolog Prancis, ke lokasi penemuan sebuah candi di Girah, sebuah dukuh di kaki Gunung Lawu, ia mengajak Marja untuk ikut. 

Diduga, candi tersebut berasal dari masa pemerintah Airlangga, raja Kerajaan Kahuripan, di awal abad ke-11. Tidak banyak bangunan peninggalan dari masa itu, sehingga Airlangga dan kerajaannya lebih merupakan dongeng ketimbang sejarah. Salah satu kesaksian mengenai keberadaan Kerajaan Kahuripan adalah dongeng Calwanarang (Calon Arang). Tidak pelak lagi, oleh arkeolog lokal, candi itu disebut sebagai candi Calwanarang dan disebut-sebut sebagai makam perempuan yang dikenal sebagai tukang teluh yang mengacaukan Kerajaan Kahuripan itu. 

"Dan jika sesuatu yang istimewa terjadi akibat segala hal berada bersama dalam suatu orbit, maka orang beriman menyebutnya 'rencana gaib' atau 'rencana ilahi'. Tapi orang yang tidak percaya menyebutnya sebagai 'kebetulan'," kata Jacques (hlm. 16).  "Dan jika kebetulan-kebetulan itu terlalu banyak dan cocok satu sama lain... Anda percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka?" (hlm. 17).

Bagaikan pembelaan dari apa yang hendak disodorkan Ayu kemudian, maka setelah itu dimulailah kebetulan demi kebetulan, yang menjadi andalannya dalam novel yang disebut penerbit sebagai Roman Misteri ini. 

Ternyata, nama lengkap Marja adalah Marja Manjali. Manjali adalah nama belakang dari putri Calwanarang -Ratna Manjali- yang tanpa sadar telah membuka jalan bagi kematian ibunya dengan menikahi Bahula, putra Mpu Barada. Tapi kesamaan nama ini bukanlah apa-apa, karena memang semata-mata kebetulan yang tidak penting. 

Kebetulan berikunya adalah penemuan arca Syiwa Bhairawa yang mengingatkan Marja pada Cakrabirawa, pasukan elit pengaman Presiden Sukarno yang menghabisi para Pahlawan Revolusi. Marja mengabarkan penemuan tersebut -termasuk kemungkinan keberadaan sebuah prasasti berisikan mantra Bhairawa Cakra- kepada Yuda yang sedang berada di Gunung Burangrang. Dan secara kebetulan pula, Yuda menceritakan penemuan ini kepada Musa Wanara, prajurit yang dikenalnya dalam latihan panjat tebing. 

Musa Wanara adalah prajurit pasukan elit yang tumbuh di era militer, ia didoktrin membenci semua yang terlibat dalam peristiwa
Gestapu. Tapi anehnya, di dalam dompetnya yang berisi jimat, Yuda menemukan sepotong kain bersulamkan nama Cakrabirawa. Musa memiliki alasan soal ini. Menurutnya, Cakrabirawa adalah mantra sakti yang tidak ada hubungannya dengan komunisme dan PKI. Dikatakannya pula, mantra Cakrabirawalah yang telah menyelamatkan Indonesia dari komunisme. Jika Cakrabirawa tidak melakukan kudeta, tidak ada alasan bagi Angkatan Darat untuk menumpas komunisme, dan jika Angkatan Darat tidak bertindak, maka PKI akan menang dalam pemilihan umum. Begitu mengetahui penemuan arca Syiwa Bhairawa, Musa pun bertekad memilikinya, dan sudah pasti, ia membutuhkan bantuan Yuda. 

Sementara itu, kebetulan lain terjadi lagi. Marja bertemu seorang perempuan tua yang tinggal di tengah hutan di dekat lokasi penemuan candi Calwanarang. Satinem atau Murni adalah perempuan terpelajar pada masanya dan tergabung dalam Gerwani. Suaminya adalah anggota Cakrabirawa bernama Sarwengi. Setelah peristiwa Gestapu, ia dipenjarakan selama sepuluh tahun dan menjadi korban pemerkosaan anggota militer. Sementara ia ditahan, suaminya ditembak mati dan dikuburkan dalam lubang yang digalinya sendiri. Murni tiba di kaki Gunung Lawu untuk mencari jenazah suaminya, tapi tidak menemukannya. Pertemuan Marja dengan Murni membuatnya memiliki misi lain, sebuah misi baru, untuk mempertemukan perempuan tua itu dengan jenazah suaminya. 

Seperti yang dicantumkan pada sampul belakang, Manjali dan Cakrabirawa adalah kisah petualangan memecahkan teka-teki. Menariknya, teka-teki yang ada bertalian dengan sejarah dan warisan budaya Nusantara. Dan itulah yang membuat novel ini bermakna, sehingga menjadi layak dikonsumsi. Memang tidak ada candi Calwanarang, tapi dengan mengetengahkan topik tentang candi, Ayu mencoba membangkitkan kesadaran sejarah dan warisan budaya Nusantara dalam diri para pembaca. Diharapkan,  pembaca bisa lebih mengenal  sejarah sendiri dan mau menjaga warisannya dengan penuh tanggung jawab. Setidaknya, sejarah bisa menjadi pelajaran berharga, terutama untuk mencegah terulangnya peristiwa yang menghancurkan kemanusiaan sebagaimana yang diwakili oleh peristiwa Gestapu.

Manjali dan Cakrabirawa
- buku pertama dari duabelas buku Seri Bilangan Fu yang direncanakan- juga menjadi pengembangan dari apa yang dijanjikan dalam novel Bilangan Fu, yaitu cinta segitiga antara Marja, Yuda, dan Parang Jati. Hanya saja cinta di sini tidak sempat menjadi berahi yang panas membara. Karena Parang Jati, sekalipun sama jatuh cintanya dengan Marja, tidak bisa mengejewantahkan hasratnya sebagaimana Yuda kepada Marja dengan kemahirannya dalam bercinta. Meskipun kesempatan berkali datang dan nyaris lepas kendali.

Tergolong ringan, apalagi bila dibandingkan dengan novel Bilangan Fu yang memabukkan itu,  Manjali dan Cakrabirawa bukanlah karya yang buruk. Ayu Utami tetap membuktikan dirinya sebagai pengrajin kata yang mampu menghasilkan untaian kalimat yang selalu enak untuk dibaca. 

 
* Karena saya telah menamatkan
Lalita (2012), buku kedua Seri Bilangan Fu, maka sebelum mempublikasikan review-nya, saya menampilkan review buku pertamanya lebih dulu, Manjali dan Cakrabirawa (2010).

3 comments:

sinta nisfuanna said... Reply Comment

Jadi urutannya seperti apa Mas Jody, Bilangan Fu, Manjali & Cakrabirawa, lalita?

Jody said... Reply Comment

tidak jelas urutannya, tapi bisa dipastikan Manjali & Cakrabirawa dan Lalita terjadi di tengah2 Bilangan Fu :)

Rosita Armah said... Reply Comment

Bilangan Fu dulu, Manjali baru Lalita... Itu yang saya baca

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan