26 June 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah


Judul Buku: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang: Tere Liye
Tebal: 512 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Januari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 





Perjuangan Borno menjadi bujang berhati paling lurus sepanjang tepian Sungai Kapuas dimulai pada umurnya yang kedua belas tahun. Bapaknya, tulang punggung keluarga, yang bekerja sebagai nelayan, meninggal dunia karena jatuh dari perahu dan disengat ubur-ubur. Bayangan yang tidak pernah hilang dari benak Borno adalah saat berada di rumah sakit dan mengetahui dada bapaknya dibelah padahal ia yakin bapaknya masih hidup. Jantung bapaknya diambil lalu disumbangkan kepada pasien gagal jantung yang sedang menunggu transplantasi. Menurut dokter yang menangani pembedahan, secara medis bapak Borno sudah meninggal. 

Sepuluh tahun kemudian, Borno sudah lulus SMA. Awalnya ia bekerja di pabrik pengolahan karet yang terkenal dengan baunya yang tidak enak. Ketika pabrik itu terpaksa harus menghentikan operasinya,  Borno memutuskan bekerja di dermaga kapal feri. Kota tempat Borno tinggal, Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, adalah kota air yang dibelah oleh aliran Sungai Kapuas. Untuk menghubungi kedua bagian kota yang terpotong, penduduk memanfaatkan sepit (dari kata speed), perahu kayu dengan mesin tempel, karena naik bus atau oplet biayanya lebih murah dan perjalanan lebih panjang. Belakangan, reputasi sepit sebagai angkutan umum terancam dengan hadirnya kapal feri atau yang disebut pelampung oleh penduduk. Tidak heran, ketika mendengar Borno bekerja di dermaga feri, Bang Togar, ketua Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta, langsung mencak-mencak. Akibatnya, Borno diboikot dan tidak bisa menumpang sepit lagi.

Situasi yang tidak menyedapkan membuat Borno meninggalkan pekerjaannya di dermaga feri. Jadilah dia mengerjakan berbagai pekerjaan serabutan seperti membantu Cik Tulani di warungnya, menunggui toko kelontong Koh Acong, ikut melaut mencari sotong dan kegiatan remeh lainnya. Semua tidak bisa menjamin kehidupannya menjadi lebih baik. Nasib Borno yang kurang beruntung mendorong Pak Tua Hidir, salah satu pengemudi sepit; Koh Acong, si pemilik toko kelontong, dan Cik Tulani si pemilik warung makan menjadikan Borno sebagai pengemudi sepit. Tentu saja Borno tidak langsung menerima. Pengemudi sepit adalah salah satu dari dua pekerjaan yang tidak diinginkan bapak untuk dilakoni Borno; lainnya adalah nelayan. Bapak Borno tidak pernah berharap putranya akan menjadi seperti dirinya (nelayan) dan kakek Borno (pengemudi sepit). Tapi rupanya Borno memang sudah ditakdirkan untuk pernah menjadi pengemudi sepit. Dan yang namanya takdir tidak mau ditepiskan. Maka akhirnya, sesudah berlatih mengemudi sepit dan menjalankan masa orientasi ala Bang Togar, resmilah Borno menjadi pengemudi sepit. 

Sebagai pengemudi sepit pemula, Borno tidak langsung dipercaya oleh para penumpang sepit. Tapi pada kesempatan perdana membawa penumpang inilah harga diri Borno dilambungkan. Seorang gadis manis, belakangan diketahui bernama Mei, menunjukkan keyakinannya pada Borno dengan tetap berada di atas sepit, sementara yang lain sudah ketakutan kembali ke dermaga. Saat genting inilah untuk pertama kalinya, cinta pertama Borno bersemi, ketika Mei meninggalkan sepucuk angpau merah di sepit Borneo. Angpau merah ini akan menjadi simpul yang mengikat Borno, Mei, dan seorang gadis menarik yang akan muncul ketika Borno sedang patah hati dalam satu jalinan takdir yang tidak terduga ujungnya. 

"Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini, Setiap hari ada berapa orang yang jatuh cinta dan patah hati? Setidaknya setiap detik ada tiga orang yang jatuh cinta. Tiga orang pula yang patah hati. Dengan demikian, satu jam berarti ada sepuluh ribu, satu hari berarti dua ratus ribu pasangan yang jatuh cinta dan patah hati," Pak Tua yang seiring perkembangan waktu menjadi sahabat Borno seperti halnya Andi, sahabat sebaya, menasihatinya (hlm. 256-257). Walaupun tidak menikah dan hidup sendiri, lelaki tua kaya pengalaman hidup itu mahir dalam hal membincang cinta. Karena itu, Pak Tua bisa memahami Borno yang sedang patah hati. Mei meninggalkannya, tidak hanya sekali, tapi dua kali, tanpa alasan jelas.

Pertanyaan yang terus mengikuti pembaca seiring perguliran plot adalah: apakah Borno benar-benar tidak akan berjumpa lagi dengan cinta sejatinya? Di titik kulminasi rasa kecewa dan putus asa yang melanda Borno, hanya satu yang menjadi semangat baginya untuk tetap bertahan: menjadi bujang berhati paling lurus sepanjang tepian Sungai Kapuas.

"Aku bangga sekali dengan kau, Borno. Anak bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Sungai Kapuas. Kau selalu berbakti dengan kami-kami yang lebih tua, selalu hormat, tidak pernah menolak disuruh-suruh, tidak pernah melawan meski sering diomeli.... Selalu merasa perlu mendengar pendapat kami, padahal semua orang tahu, kau lebih pandai dari siapa pun ...." kata Bang Togar (hlm. 348).

Selain kisah hidup dan cinta Borno, novel ini menyodorkan percabangan kisah terkait orang-orang yang berpengaruh dalam hidup Borno. Borno, sang narator orang pertama, sangat kentara bukanlah manusia bertipe lupa kacang akan kulitnya. Maka kita akan mengikuti kisah pengalaman hidup Pak Tua yang menarik, kisah cinta Bang Togar yang dramatis, dan usaha bengkel ayah Andi yang ditimpa musibah sampai nyaris merenggut kewarasan lelaki Bugis itu. Cabang kisah yang disebutkan terakhir akan meneguhkan tekad Borno untuk membuat keputusan terpenting dalam hidupnya. 

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah karya Tere Liye adalah buku gemuk yang membutuhkan cukup banyak waktu untuk dikhatamkan. Tapi bagusnya, selama membaca novel ini, ternyata tidak kunjung membosankan. Bukan cuma karena muatan kisah menawan di dalamnya, melainkan juga karena novel ini dihidangkan dengan matang. Tere Liye begitu luwes sekaligus santai dan lepas dalam menggulirkan kisahnya. Ekspresinya yang menggetarkan mampu memerangkap kita untuk kian menyusup ke dalam hiruk-pikuk kehidupan tepian dan sungai terpanjang di Indonesia itu. Kegetiran yang terasa di berbagai tempat berkelindan dengan atmosfer penuh humor hampir di sekujur tubuh novel menghasilkan satu kesimpulan. Sesungguhnya kisah Borno adalah perayaan atas kehidupan yang harus dijalani. Kehidupan yang diracik dari warna suka dan duka. 

Cinta, sudah pasti, menjadi elemen paling krusial yang menghidupkan kisah di dalam novel ini. Cinta menggerakkan optimisme Borno. Cinta membuat Borno menerima keberadaan hidupnya. Cinta mematahkan hati Borno tapi juga menjanjikan pemulihan pada suatu saat dalam kehidupannya. Cinta Borno akan membuat kita enggan melepaskan novel ini sebelum ditamatkan. 

“Kalian tahu, cinta itu beda-beda tipis dengan musik yang indah,” kata Pak Tua (hlm. 166). “Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.” (hlm. 167). “Untuk orang-orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, bekerja keras, dan sederhana, maka definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan.” (hlm. 175).

Oh, tentu saja, cinta bukanlah satu-satunya nuansa yang indah dalam novel ini. Masih ada nuansa lain yang tidak kalah indah. Nuansa yang menyeruak dari sebuah komunitas tepian Sungai Kapuas yang dibuhul semangat kebersamaan karena rasa senasib dan sepenanggungan. Di sini berlaku pepatah: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Tere Liye mengingatkan, betapa pentingnya nuansa semacam itu tetap terpelihara dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. 

Selain kisah bernas yang dipintal dengan kepiawaian seorang tukang cerita, hal menarik lainnya adalah penggunaan Kota Pontianak dan Sungai Kapuas sebagai seting. Sampai saat ini, saya belum pernah membaca karya fiksi yang menghidupkan kota dan sungai ini sebagai seting utama. Tere Liye memberdayakan seting ini secara intens sehingga kita seolah-olah dibawa ke kota yang didirikan Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771 ini dan mendengar lenguhan burung-burung walet terbang menuju sarang di bangunan paling banyak di Kota Khatulistiwa ini. Sementara di Sungai Kapuas, desau angin menciptakan riak-riak yang menerpa badan sepit yang sedang melenggang membelah permukaan sungai sepanjang 1.143 km. 

Belakangan, Tere Liye mengindikasikan dirinya sebagai salah satu pengarang prolifik di Indonesia. Karya fiksinya semakin banyak meramaikan dunia perbukuan kita. Kelugasan mendedahkan kisah yang kerap terkesan wajar dan membumi membuat karyanya mendapat tempat tersendiri di hati para pembaca buku.

Selain Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, Gramedia juga telah menerbitkan karya lain Tere Liye yaitu The Gogons : James & the Incredible Incidents, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, dan Ayahku (Bukan) Pembohong. Negeri Para Bedebah diterbitkan menyusul Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.



 Pengunjung

7 comments:

orybun said... Reply Comment

sukaa sama reviewnya :)

Putri Utama said... Reply Comment

reviewnya keren.... aku suka.... eng... ini diikutsertakan buat lombanya Gramedia yah????

Jody said... Reply Comment

@Orybun: terima kasih.... :)

Jody said... Reply Comment

@Putri: terima kasih, Putri... mungkin akan dicoba :)

htanzil said... Reply Comment

Om Jody, blog ini sudah terdata dalam Daftar Blog Buku Indonesia, silahkan pasang logo BBI-nya ya, bisa diperoleh di Fan Page BBI di : http://www.facebook.com/blogbukuindo

Jody said... Reply Comment

@Rahib: om, loginya sudah dipasang kok. Coba lihat sidebar.... hehehehe

Jody said... Reply Comment

uf, sori, logonya...

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan