18 June 2012

Sunrise Serenade


Judul Buku: Sunrise Serenade
Penulis: Sundea dan Dian Syarief Pratomo
Tebal: xiv + 298 hlm; 14 x 20 cm
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: GagasMedia


 




"Ini cerita tentang matahari pagi. Namun, untuk melihat bagaimana ia terbit, cerita ini kita mulai ketika langit masih gulita. Ketika dingin dan suara menjadi runcing menusuk kulit dan telinga. Ketika yang kita miliki hanya janji cahaya dan keteguhan untuk memercayainya. Saat itu kita menanam hidup pada sebuah kata sederhana: harapan." Demikian Sundea memulai kisah persahabatan Dian Syarief Pratomo dengan penyakit lupus yang diidapnya di bagian prolog memoar bertajuk Sunrise Serenade

Sebelumnya, hidup Dian Syarief sangat sempurna. Ia adalah sarjana Farmasi dari Institut Teknologi Bandung yang membangun karier di dunia perbankan. Selepas kuliah, Dian menggeluti bidang marketing credit dan corporate communication di salah satu bank swasta nasional. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia sudah menempati posisi public relations manager. Kehidupan karier yang cemerlang masih ditambah lagi dengan pernikahan yang menjanjikan kebahagiaan dengan Eko Pratomo, presdir salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.

Sekonyong-konyong kegelapan mendatangi hidupnya. Diawali dengan bintik-bintik merah di kulit yang diduga dokter sebagai gejala demam berdarah. Kemudian masuk ke dalam kondisi dimana trombosit turun secara drastis tanpa diketahui penyebabnya yang disebut idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP). Lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan sumsum tulang belakang, maka kegelapan itu pun memperkenalkan dirinya: Systemic Lupus Erythematosus alias penyakit lupus. Penyakit ini adalah penyakit autoimun yang sering terbaca sebagai penyakit lain sehingga disebut-sebut sebagai penyakit seribu wajah. Belum ada pengobatan yang mujarab untuk mengatasi penyakit ini. Dan Dian harus menerima kenyataan pahit sewaktu harus mengkonsumsi prednison, salah satu obat dari golongan kortikosteroid, sebanyak 20 tablet setiap hari. 

 


Menenggak prednison yang begitu banyak menimbulkan efek samping yang merenggut kepercayaan diri Dian. Moonface, kulit menggelambir seperti kulit sapi, munculnya flek-flek di kulit, dan kaki serta tangan mengecil. Belakangan ketahuan prednison yang dikonsumsi Dian telah melebihi takaran. Dian menduga, asupan prednison inilah yang membuatnya menderita abses otak yang merampas 95% penglihatannya dan hampir membuatnya mati. Menghilangnya kemampuan melihatnya, menjadikan Dian penderita lupus sekaligus low vision. Ayahnya berkata, "Jika mata kamu tidak bisa melihat lagi, maka fungsinya akan digantikan dengan indra yang lain."  (hlm. 45).
 
Gangguan penglihatan tidak membuat Dian menyerah. Dia berusaha belajar orientasi mobilitas agar tetap bisa beraktivitas. Dia juga menggunakan telepon yang bisa membacakan SMS dan belajar huruf Braille.  

Abses otak yang membuatnya berkali-kali dioperasi dan kehilangan penglihatan seolah-olah belum cukup. Setelah rahimnya dibakar berkali-kali untuk menghentikan vaginal bleeding yang dialaminya, Dian terpaksa harus membunuh keinginan  mempunyai anak. Rahimnya diangkat untuk menyelamatkan hidupnya.
 
Pada situasi seperti itu, Dian berusaha mencegah keruntuhan jiwanya. Beruntung karena ia memiliki keluarga dan suami yang sangat mencintainya. Mereka tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan terpuruk. 
 
Dian tidak akan bisa mengusir lupus sepenuhnya dari tubuhnya. Solusi yang harus ditempuh tinggal berdamai dan bersahabat dengan lupus. Seperti yang disampaikan Shania Park, salah satu odapus (orang dengan lupus) dari Korea yang juga Presiden Asosiasi Lupus Korea. "Berhentilah bertanya 'kenapa saya' karena itu hanya akan menimbulkan kemarahan, penolakan, kekecewaan, dan keputusasaan. Karena pengetahuan adalah sumber kekuatan, pelajari lebih banyak mengenai penyakit ini. Batasi aktivitas sesuai kekuatan, pelihara kebiasaan dan pola hidup yang baik, dan jangan lupa lupa untuk selalu berpikir positif dan mencintai diri kita." (hlm. 147). Tidak mudah memang, tapi Dian memang mesti memilih. 
 
Pada akhir tahun 2003, Dian dan suaminya mendirikan Syamsi Dhuha Foundation (SDF) dengan dua divisi utama: Care for Lupus (CFL) dan Care for Low Vision (CFLV). Meskipun dalam kondisi kesehatan yang naik-turun, Dian berusaha mengembangkan SDF. Melaksanan kegiatan dalam rangka sosialisasi lupus dan merangkul sesama odapus. Mengusahakan jalur obat murah bagi odapus. Sementara harus mengatasi deraan sakit akibat macetnya slang VP shunt -slang untuk mengalirkan cairan otak ke dalam perut- yang dipasang di kepalanya sejak operasi abses otak, ia juga memperkenalkan yayasannya ke forum internasional.

 


Atas upaya yang dilakukan Dian Syarief, pada tahun 2010 ia dianugerahi International Lifetime Achievement Award dari International Congress on SLE di Vancouver Canada. Pada tahun yang sama ia juga dihargai Danamon Award. Syamsi Dhuha Foundation yang dikelola bersama suaminya mendapatkan penghargaan Sasakawa Health Prize dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2012.
 
Di bagian epilog Sundea menulis, "Cerita ini dimulai dari kegulitaan dan rasa percaya terhadap janji cahaya. Ketika kita tahu cahaya menepati janjinya, jadilah cahaya juga. Berpendarlah dengan ikhlas dan sebaik-baiknya." (hlm. 289). Bercahaya seperti mentari pagi, itulah yang kemudian dilakukan Dian dengan Syamsi Dhuha Foundation. 

Membaca memoar yang ditulis dengan bahasa yang renyah dan enak dibaca oleh Sundea ini adalah sebuah pengalaman mencerahkan dan penuh inspirasi. Dian, dalam keterbatasannya, memberi teladan bagi kita semua bahwa kendala yang kita hadapi dalam hidup, jika kita mau, tidak akan mencegah kita berbuat baik bagi kemanusiaan. 

 
Sunrise Serenade sungguh sebuah buku yang layak dibaca. Kita mungkin akan merasa iba pada awalnya, tapi semakin ke belakang mendekati akhir kisah, kita akan ikut disuntik semangat hidup sebagaimana yang menyusup dalam diri Dian.

Akhirnya, mau tidak mau, saya harus mengalamatkan salut kepada Eko Pratomo, suami yang telah menemani Dian dengan kesetiaan dan cinta yang tidak pernah terpukul mundur oleh situasi sulit. Pada minggu terakhir di bulan Desember 1990 mereka menikah. Sundea melukiskan harapan Dian pada momen pernikahan itu dengan indah, "Sejak hari itu, perjalanan aku dan Mas Eko sebagai 'kami' yang utuh dimulai.... Tak lagi akan terpisah, tak dapat lagi disapih...." (hlm. 91). 

Dan memang, kendati dalam kesulitan, harapan Dian Syarief Pratomo telah menjadi nyata. 


Pengunjung

3 comments:

desty said... Reply Comment

Sampulnya keren ya :)
Segera masuk wishlist.

Jody said... Reply Comment

iya, sampulnya keren...
tapi isinya juga tidak mengecewakan :)

zuhrotul millah said... Reply Comment

ckup 3 huruf
WOW :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan