29 June 2012

Prophecy of the Sisters (Fiksi Gotik)

Judul Buku: Prophecy of the Sisters
Pengarang: Michelle Zink
Penerjemah: Ida Wajdi
Tebal: 359 halaman
Cetakan: 1, Maret 2011
Penerbit: Matahati


Prophecy of the Sisters adalah karya fiksi yang lagi-lagi mengangkat kisah malaikat terbuang. Kali ini malaikat yang dimaksud adalah Samael, salah satu dari tujuh archangel -yang lain adalah Anael, Gabriel, Raphael, Michael, Oriphiel, dan Zachariel. Umat Yahudi mengenal Samael sebagai malaikat kematian. Menurut legenda, Samael ditipu Maari, salah satu dari saudari kembar, sehingga ia terbuang, dipaksa mengembara sebagai roh yang tersesat ke delapan Dunia Lain untuk selamanya. Tapi ada ramalan yang menyatakan bahwa pengembaraan Samael akan berakhir jika ia masuk ke dunia kita melalui salah satu dari kembar perempuan yang disebut Gerbang. Masuknya Samael ke dunia kita, akan memicu terjadinya Malapetaka Tuhan atau kiamat. Samael disimbolkan dengan tanda Jorgumand, yaitu ular bersayap yang melingkar dan menggigit ekornya.

Ramalan mengenai Samael dan dua saudari kembar di dalam Librum Maleficii et Disordinae atau The Book of Chaos (Buku Kekacauan) yang ditemukan James di perpustakaan ayahnya mengusik kehidupan Amalia Milthrope (Lia) begitu ayahnya meninggal. Hal ini terjadi seiring munculnya tanda Jorgumand di tangan Lia. Tapi ternyata tanda Jorgumand tidak hanya muncul di tangan Lia, melainkan juga di tangan teman sekolahnya, Luisa Torelli dan Sonia Sorrensen, seorang spiritualis muda. Hanya saja, Jorgumand di tangan Lia memiliki tanda huruf C di tengah-tengah. Tanda huruf C itu menegaskan peran Lia sebagai Malaikat Kehancuran yang bisa membawa Samael ke dunia kita.

Ramalan itu mengatakan bahwa kembar yang bukan Gerbang akan berperan sebagai Garda. Lia mengira dirinya adalah Garda dan Alice, saudari kembarnya, Gerbang. Tapi ternyata, proses kelahiran telah membuat takdir Lia terbalik. Sewaktu mereka dilahirkan, ibu mereka menjalani persalinan yang sulit. Dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Sebenarnya, jika persalinan normal, Alice yang lebih dekat dengan jalan lahir, namun ketika dikeluarkan dari rahim ibu mereka, dokter mengambil lebih dulu Lia yang berada dekat irisan yang dibuatnya. Alhasil, Lia menjadi si sulung, dan sebagai anak sulung, Lia adalah Gerbang.
  
Lia tidak suka dengan peran yang menjadi takdirnya. Untunglah dari ramalan dalam buku yang sama, Lia mengetahui jika ia bisa mencegah Samael memanfaatkan dirinya. Untuk itu, ia mesti menemukan empat kunci. Secara mengejutkan diungkapkan jika yang dimaksud dengan kunci bukanlah benda, melainkan empat perempuan yang dilahirkan tanggal 1 November, bertepatan dengan Hari Samhain. Hari Samhain adalah hari libur Druid kuno yang menandai periode kegelapan. Luisa dan Sonia adalah dua dari empat kunci yang dimaksud. Keduanya ditemukan dalam pencarian ayah Lia di Eropa.

Di sisi lain, Alice yang ditakdirkan sebagai Garda justru menginginkan Samael dibawa dari Dunia Lain. Akibatnya, mereka berada dalam posisi yang berlawanan.

Untuk melindunginya dari serangan roh yang tersesat, Lia telah diberikan selubung. Seperti kunci, selubung juga bukan benda tapi manusia. Selubung itu mengayomi Lia hingga ia tumbuh dewasa dan bisa menentukan pilihan. Selama selubung itu masih hidup, iblis tidak akan bisa mengusiknya. Salah satu selubung telah meninggal dunia karena tipu daya roh yang tersesat dan tinggal ada satu selubung yang masih hidup. Selubung itu, diketahui belakangan, menyimpan daftar nama para kunci.

Setiap Gerbang memiliki medali yang secara sempurna cocok dengan Jorgumand di tangannya. Berabad-abad para roh yang tersesat telah memanfaatkan banyak Gerbang untuk menyusup ke dunia kita yaitu saat tanda di medali dipersatukan dengan tanda Jorgumand. Para roh yang tersesat melintas ke dunia kita menggunakan tubuh Gerbang. Kawat astral Gerbang akan terputus begitu dikuasai roh yang tersesat dan ia kehilangan tubuhnya untuk selamanya. Hanya saja, Samael cuma keluar dari Dunia Lain dan menyusup ke dunia kita melalui Sang Malaikat Kehancuran. Dan Amalia Mithorpe adalah Sang Malaikat Kehancuran.

Apakah akhirnya Lia akan menyerah dan mengorbankan tubuhnya bagi Samael, si iblis, atau justru ia akan terus berjibaku menghentikan ramalan itu? Jawabannya sudah jelas: Lia tidak akan menyerah. Dan hal pertama yang mesti ia lakukan adalah menemukan dua kunci lainnya.

Prophecy of the Sisters adalah novel pertama dari trilogi gubahan Michelle Zink yang telah diterbitkan. Setelah novel ini, Zink telah menuntaskan kedua sekuelnya, Guardian of the Gate dan Circle of Fire. Sebagai bagian pertama dari trilogi wajarlah kalau novel ini masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan. Tapi novel ini bukan sekadar perkenalan para tokoh cerita. Karena tidak lama setelah novel dibuka, Zink langsung mengangkat problem yang mesti dihadapi Lia.

Problem yang paling utama tentu saja adalah keengganan Lia menerima takdirnya sebagai Gerbang. Keengganannya melahirkan perlawanan untuk memutarbalikkan takdir itu. Problem kian menarik lantaran Alice yang ditakdirkan sebagai Garda tidak menerima takdirnya pula. Berdiri berseberangan di dua kutub, satu sama lain menginginkan takdir seterunya.

Karena bertindak sebagai narator orang pertama, pergolakan perasaan Lia mengubah takdirnya menjadi protagonis bagi dunia sangat terasa dan mencekam. Kita akan kurang menyelami pergumulan Alice, namun kehadirannya yang terus membayang-bayangi langkah Lia cukup mengundang perhatian.

Meskipun belum sekental yang diharapkan, sebagai fiksi gotik, Prophecy of the Sisters tetap menciptakan horor. Kehadiran malaikat-malaikat terbuang yang melakoni peran antagonis dalam karya fiksi seperti biasa akan memberi efek horor. Hanya saja karena dalam novel ini Samael masih terkurung di Dunia Lain dan tidak menebar tulah, efek horor yang muncul belum cukup intens.

Sebagaimana unsur horor yang belum kental, romansa yang biasa melengkapi fiksi gotik juga masih terlampau cair. Tokoh James yang berpeluang menciptakan romansa terkesan hanya sebagai ornamen belaka. Sampai novel berakhir saya tetap berkesimpulan bahwa seandainya ia dihilangkan dari halaman-halaman novel, tidak akan membuat perbedaan.

Edisi terjemahan Indonesia terbitan Matahati yang dikerjakan Ida Wajdi tidak mengecewakan. Hasil penerjemahannya terbilang mulus dan bebas dari kalimat-kalimat yang tidak sedap dibaca.

Michelle Zink, sang pengarang, selalu terpikat pada mitos dan legenda kuno serta tidak pernah berhenti mempertanyakannya. Saat ia menemukan jawaban atas apa yang dipertanyakannya, ia akan melahirkan sebuah kisah. Prophecy of the Sisters adalah salah satunya.



Catatan:
Review ini ditulis dalam rangka Posting Bersama BBI untuk kategori fiksi gotik. Ini adalah kali kedua saya membaca Prophecy of the Sisters.





 Pengunjung

15 comments:

Astrid said... Reply Comment

hmmm, penasaran sama sudut pandang alice, dan berharap alice bakal dibahas lebih banyak di sekuelnya =D

dion_yulianto@blogspot.com said... Reply Comment

wah saya udah beli tp belum dibaca hehehe kirain ceritanya "cewek banget" tp setelah baca resensimu jadi pgn membuka segel buku itu (buset beli 4 bulan yg lalu dan segelnya blm dibuka)

Tezar said... Reply Comment

padahal beberapa kali lihat covernya kurang tertarik, mungkin suatu saat coba baca

orybun said... Reply Comment

akku pernah baca buku ini dan ngga sabar nunggu lanjutannya terbit. *semoga terbit :)

Peri Hutan said... Reply Comment

fantasy pertama yg berbau dark yg aku baca, awalnya agak membingungkan tapi seru dengan misterinya :)

Jody said... Reply Comment

@Astrid: saya udah mulai baca buku keduanya, tapi ceritanya masih dari sudut pandang Lia.

Jody said... Reply Comment

@Dion: hehehehehe... karena cewek yg jadi narator, pasti tetap terasa ceweknya... tapi ini kan cewek jagoan... :)

Jody said... Reply Comment

@Tezar: ayo dibaca saja...mungkin akhirnya tertarik baca lanjutannya :)

Jody said... Reply Comment

@Orybun: kata penerjemahnya dulu sudah ditawarkan untuk diterjemahin, tapi ditolak krn punya bayi :)

Jody said... Reply Comment

@Peri Hutan: benar... tapi msh banyak yg belum terungkap.

Annisa Anggiana said... Reply Comment

Nungguin circle of fire yg bhs inggrisnya ngga terbit2 nih, atau emang belon nyampe ke indo ya seri ketiganya?

Jody said... Reply Comment

@nnisa: belum tahu juga.... tapi kayanya udah terbit.

desty said... Reply Comment

agak mirip dengan I am Number Four ga sih? sama-sama dari "dunia lain", dikasih tanda pengenal, trus ada penjaganya juga.
tapi menarik juga... jadi pengen baca :)

Jody said... Reply Comment

@Desty: "dunia lain" di sini bukan spt di I am Number Four... penghuninya bukan alien, tapi setan :)

Tiara Pangaribuan said... Reply Comment

bagus review-annya.. :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan