29 March 2013

Last Minute in Manhattan



Judul Buku: Last Minute in Manhattan
Pengarang: Yoana Dianika
Editor: Yulliya Febria & Widyawati Oktavia
Tebal: vi + 402 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, Desember 2012
Penerbit: Bukune


 

Callysta Nararya meninggalkan Indonesia untuk menetap sementara di Hermosa Beach, salah satu dari tiga kota pantai di California, Amerika Serikat. Di Hermosa Beach, ia tinggal di rumah Sophie Hamilton, perempuan bule beranak satu, yang dinikahi ayahnya. Karena belum berniat melanjutkan kuliah selulus SMA dan baru saja dikhianati Abram Gunawijaya, pacarnya, yang berselingkuh dengan gadis lain, Hermosa Beach menjadi tempat berlibur untuk jangka waktu yang belum dipastikan. Sophie dan putranya, Marquez Stanley atau biasa dipanggil Mark, pun sangat senang menerima Callysta di kediaman mereka.

Kita sudah bisa menebak apa yang akan dialami Callysta di Hermosa Beach. Mark memperkenalkan Callysta kepada cowok tampan berambut coklat side swept bangs bernama Vesper Skyller. Vesper atau Vessy atau Sky bagi Callysta adalah teman sekelas Mark di Oaks Christian School, dan sedang berada di tahun terakhir. Tidak membutuhkan waktu yang lama, keduanya berhasil mengakrabkan diri. Keakraban mereka terbangun dalam perjalanan mengunjungi Westlake Village -di mana Sophie mempunyai rumah dan peternakan kuda- dan Mystery Spot di Santa Cruz yang berjarak enam jam lebih perjalanan dari Hermosa Beach.

Sayangnya, pada perjalanan kedua ke Westlake Village, Vesper memicu kekacauan yang berakhir petaka di peternakan kuda. Topi bubble tiga warna milik Callysta, pemberian neneknya sebelum meninggal, rusak dan hilang. Sekalipun Vesper telah berusaha menyelamatkannya dalam keadaan darurat di dalam istal, Callysta tetap tidak bisa menahan kemarahannya kepada cowok itu. 

Apakah hubungan mereka akan membaik kembali? Atau tidak ada harapan seperti yang kemudian dipikirkan Callysta?  Sementara Vesper berjibaku memperjuangkan cintanya pada Callysta, Rachel Claudio pun tak kekurangan siasat untuk memisahkan mereka. Sementara di sisi lain, ada Maggie, gadis yang membuat Abram berpaling dari Callysta, semakin menyulitkan keadaan. Dari Silicon Valley ke summer camp di Frost Valley, kemudian berpindah ke Manhattan saat terjadi Manhattanhenge atau Manhattan Solstice, cinta Callysta dan Vesper akan mengalami ujian, dan mendapatkan kepastiannya.

Tidak ada cerita dan konflik yang istimewa dalam Last Minute in Manhattan karya Yoana Dianika ini. Isi novel benar-benar cinta remaja sehingga novel ini mutlak masuk dalam kategori TeenLit. Seorang cewek patah hati karena pacarnya berselingkuh, meninggalkan rumahnya dalam ketidakpastian, berjumpa dengan calon pengganti pacarnya, mengalami konflik cinta, kemudian diselesaikan tanpa kesulitan berarti. Untuk membuat perjalanan cinta cewek ini terkesan rumit, dihadirkan cewek lain yang juga mencintai calon pengganti pacar yang berkhianat. Dan agar semakin terkesan rumit, si mantan pacar dibuat berubah pikiran dan ingin kembali padanya. Akibatnya, cewek yang merebut pacarnya berlagak seperti nemesis, terus mengejarnya dan mencari gara-gara. 

Kisah klise ini kemudian diperkaya dengan semangat kebetulan. Kebetulan yang sudah dimulai sejak novel ini dibuka. Saat Callysta diperkenalkan ayahnya kepada Sophie dan Mark, di tempat yang sama ia bertemu ibu kandungnya yang telah menikahi pengusaha kaya dari Singapura. Juga Maggie, cewek yang merebut Abram dari Callysta yang kebetulan adalah anak tiri ibu kandung Callysta atau putri dari si pengusaha Singapura dari istri sebelumnya. Saat Callysta pergi ke Amerika, Maggie juga pergi ke sana, dan mereka dipertemukan lagi, dalam dunia yang mendadak mengecil seukuran globe. 

Untuk membuat cerita terkesan lebih berbobot -tapi tentu tidak berhasil- para karakter utama diberi latar belakang yang kompleks. Callysta ditinggalkan ibunya, seorang penyanyi yang menceraikan ayahnya karena dianggap menghambat kariernya. Kemudian ibunya menikahi pengusaha kaya Singapura yang adalah duda beranak perempuan sebaya Callysta. Ayah Callysta menikahi janda bule beranak satu yang dijumpainya di Amerika, membuat Callysta memiliki ibu dan adik tiri. Vesper Skyller, kehilangan ibunya yang meninggal tidak lama setelah melahirkannya. Ia tidak tinggal bersama ayahnya yang mempunyai perusahaan di Silicon Valley melainkan bersama adik perempuan ayahnya di Hermosa Beach. Hidupnya tidak terlalu mudah karena ayahnya ingin ia menjadi insinyur yang nantinya akan bekerja di perusahaannya. Padahal Vesper bercita-cita menjadi astronom atau astronaut.

Latar belakang rumit yang diberikan kepada para karakter utama, ternyata, tidak membuat kisah dalam novel ini menjadi menarik. Justru kian membuat ceritanya menjelma cerita-cerita dalam sinetron.

Dalam hal karakterisasi, Yoana menampilkan Callysta sebagai seseorang yang kerap terkesan lugu-lugu bodoh. Ia hadir bagaikan rusa masuk kampung karena tidak mengetahui tentang Silicon Valley, teflon sebagai alat masak (bukan cuma) di Amerika, atau tanda rusa di jalan-jalan Amerika. Dan hanya karena topi bubble pemberian neneknya yang rusak, ia marah besar pada Vesper. Karakter Mark pun membuat bimbang. Usianya lebih muda dari Callysta, tapi dalam kebeliaannya, ia berpikir dan berbicara seperti orang-orang tua, lagaknya bagaikan buku motivasi berjalan. Untunglah ada Vesper yang digambarkan dengan wajar sebagai cowok berhati lurus di sepanjang Hermosa Beach.

Yoana Dianika menggunakan plot lurus tanpa kelok dalam mengalirkan ceritanya. Untuk membuat terkesan tampil beda, ia sedikit bereksperiman dalam hal sudut pandang pengisahan. Ia membuka kisahnya dengan menggunakan Callysta sebagai narator orang pertama dan menghadirkan kisahnya sebagai isi dari catatan harian Callysta. Itulah sebabnya ia menyematkan informasi: 1st Diary untuk cerita sebelum Callysta pergi ke Amerika dan 2nd Diary untuk memulai dan menciptakan konflik terkait dengan cinta yang dialami Callysta di Amerika. Lalu secara tiba-tiba, Yoana meninggalkan catatan harian Callysta dan memindahkan persperktif pengisahan menjadi perspektif orang ketiga.  Eksperimen ini mungkin dilakukannya agar lebih leluasa menceritakan perasaan dan pikiran karakter selain Callysta. Tapi kurang berhasil karena perasaan dan pikiran mereka kurang tergali. Apalagi karena Yoana bermaksud memberikan kejutan sehubungan dengan tindak-tanduk Vesper yang berubah aneh semenjak insiden di Westlake Village. Menjelang novel berakhir, Yoana kembali pada catatan harian Callysta, 3nd Diary.

Meskipun disunting dua orang editor, novel ini masih tetap membutuhkan penyiangan, minimal sekali lagi. Masih terdapat kalimat-kalimat yang tidak enak dibaca dan penggambaran fisik karakter yang diulang-ulang hingga sedikit membosankan.

Boleh dibilang, ilustrasi cantik karya Lia Natalia yang bertaburan di dalam novel ini menjadi penyelamat isi novel. Tanpa ilustrasinya, novel Last Minute in Manhattan hanya akan hadir dan terpuruk sebagai novel yang terlalu biasa.

Last Minute in Manhattan adalah novel pertama dari proyek kolaborasi Bukune dan GagasMedia, Setiap Tempat Punya Cerita, yang diterbitkan Bukune. Seri ini ditujukan untuk memberikan pembaca novel-novel terbitan kedua penerbit ini fiksi dengan pengalaman traveling ke mancanegara. Saat Bukune menerbitkan Last Minute in Manhattan, GagasMedia menerbitkan Paris karya Prisca Primasari.

Selain Last Minute in Manhattan, Yoana Dianika yang menjadi pemenang ketiga untuk dua lomba menulis -100% Roman Asli Indonesia dan 30 Hari 30 Buku- telah menerbitkan Till We Meet Again, Soba Ni Iru Yo, Hujan Punya Cerita tentang Kita, Truth or Dare (Gagas Duet dengan Winna Efendi), dan Kynigos. Menyusul Last Minute in Manhattan, Yoana telah menerbitkan novel lain, Pandangan Pertama (2013). 



 




13 comments:

Peri Hutan said... Reply Comment

dua kali baca bukunya Yoana Dianika dan belum merasa sreg,cerita dan karakter tokohnya terlalu klise :)

Jody said... Reply Comment

Aku juga kurang suka, tapi ini mau coba baca buku terbarunya, Pandangan Pertama. Siapa tahu ada perkembangan... hehehe

Peri Hutan said... Reply Comment

genre bacaannya mas Jody ini gado-gado yah dan cepet banget kalo nulis review padahal reviewnya panjang dan komplit, ak lama banget kalo nulis review, harus semedi dulu :))

Jody said... Reply Comment

Pada dasarnya aku suka baca genre apa saja, kecuali horor Indonesia. Aku gak pernah mau baca horor Indonesia.

balidogen said... Reply Comment

Bali Spa
Home Balinese Traditional
Kampung Ubud
Ibunda Bungalow
Bali Wisata Murah
Bali Paket Wisata
Sewa Mobil di Bali
Bali Car Rental
Bali Car Hire
Bali Car Transport
Bali Transportation Service

bali car transport said... Reply Comment

mantap gan

sewa mobil di bali said... Reply Comment

keren brooo

bali transport said... Reply Comment

blog keren

bali spa said... Reply Comment

cool blog

home balinese traditional said... Reply Comment

cool info

jasa seo bali said... Reply Comment

numpang lapak gan

jasa web design bali said... Reply Comment

info brooo bagus

shubham grover said... Reply Comment

ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE
ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE
ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE
ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE
ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE
ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE
ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE
ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE
ICC CRICKET WORLD CUP 2015 SCHEDULE

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan