31 March 2013

Kiss the Sky




  
Judul Buku: Kiss the Sky
Penulis: Liz Lavender & Raziel Raddian
Penyunting: Evi Mulyani & Delia Angela
Tebal: 202 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, November 2012
Penerbit: Elf Books





"Suatu saat aku akan mengajakmu terbang bersamaku, Em."
"Hanya berdua?"
"Iya. Berdua. Ke langit kita."  (hlm. 31)


 

Hayden Fontana meninggalkan Oak Ridge, Louisiana, untuk mengikuti pendidikan di United States Air Force Academy (USAFA) di Colorado Springs, Colorado. Saat yang sama, kekasihnya sejak high school, Emma Shelby, pergi ke New York City dan bekerja sebagai pramuniaga di pusat perbelanjaan.

Selama empat tahun mereka tidak bertemu, dan seperti janji Hayden,  selama ia belajar menjadi pilot pesawat tempur, mereka berkomunikasi menggunakan ponsel atau surel. Dua tahun berada di USAFA, cinta mereka mulai menghadapi tantangan. Hayden tidak lagi membalas surel dari Emma dan ponselnya tidak pernah aktif. Emma sudah pernah menghubunginya di akademi lewat surat, tapi suratnya tidak pernah dibalas. Tanpa sepengetahuan Emma, Denise, petugas administrasi dan resepsionis di akademi, telah merusakkan komunikasinya dengan Hayden..

Hayden mengetahui sebab musabab rusaknya komunikasinya dengan Emma setelah menyelesaikan pendidikannya. Sebelum berangkat ke tempat tugasnya di Hurlburt Field Air Force Base Florida, ia mencoba memperbaiki hubungan mereka. Tapi mereka baru bisa bertemu setelah Hayden berada di Florida. Dalam pertemuan yang mereka lakukan di Driskill Mountain, Lousiana, Hayden mencetuskan sebuah janji. Ia akan mengajak Emma terbang berdua.

Sayangnya, tidak mudah bagi Hayden merealisasikan janjinya. Selain tinggal berjauhan, selalu ada saja yang mengusik hubungan mereka. Pertama, secara tiba-tiba, Denise yang terobesi pada Hayden menyusul ke Florida dan bekerja di tempat yang sama dengan pemuda itu. Kedua, Hayden harus pergi bertempur ke Nicaragua ketika terjadi perang saudara. Dan yang ketiga, Frederick Fontana, abang Hayden, pengacara dan calon senator New York City, memaksa masuk ke dalam kehidupan Emma. Frederick berniat menikahi Emma sebagaimana yang telah diatur ibu mereka di Lousiana. Tapi, tentu saja, Emma menolak. Karena  ia telah berjanji akan menunggu Hayden.

Frederick bersikeras merampas kekasih adiknya. Seumur hidupnya, ia telah mengalahkah Hayden, membuat adiknya tersisih, dari rumah dan dari kasih sayang orangtua mereka. Ia menegaskan kepada Emma kalau ia bisa mempermainkan nasih Hayden sesuai kehendaknya. Ia bisa membuat Hayden pulang dan tidak lagi terlibat perang di Nicaragua. Ia juga bisa membuat Hayden tetap berada di kancah peperangan dengan nyawa dipertaruhkan.

Demi Hayden, Emma menerima lamaran Frederick. Keputusannya ini menghancurkan hati Hayden tatkala meninggalkan Nicaragua dan menemukan kenyataan gadis yang dicintainya tidak lagi menunggunya. Saking putus asanya, tanpa surat perintah, Hayden menggantikan temannya kembali ke Nicaragua.

I'm flying, Emma... I'm flying in our sky... So close that I could feel like I'm kissing the sky... I will tell you how it feels to kiss the sky... I love you, Emma... (hlm. 71).

Terjadi pertempuran udara, pesawat  Hayden tertembak dan jatuh di wilayah musuh. Ia dinyatakan hilang.

Tapi sekalipun kabar menghilangnya Hayden menyambarnya bagaikan petir, Emma tetap percaya Hayden masih hidup. Di mana dia, pemuda yang dicintainya, yang pernah menulis kalimat di bawah ini dalam salah satu surelnya?

Emma, saat kau memandang langit, ingatlah bahwa aku pernah ada di sana, terbang di sana, melintasi langit itu. Langit yang sama seperti yang kau pandangi. Dan saat aku terbang, aku akan melihat ke bawah sana, yakin bahwa kau terus memandang langit dan mengingatku.
(hlm 12).

Kiss the Sky adalah novel kolaborasi dua penulis, Liz Lavender dan Raziel Raddian, yang sebelumnya telah menggunggah karya fiksi mereka di situs kepenulisan www.kemudian.com. Dengan novel ini, mereka menambah ke dalam perbendaharaan fiksi poluler Indonesia (bukan sastra populer, karena tidak ada yang namanya sastra populer), novel yang ditulis tanpa senoktah pun menyinggung Indonesia. Seting dan karakternya jelas, hanya saja terasa asing dan muluk-muluk. Persis seperti yang dilakukan Prisca Primasari dalam novel
Éclair: Pagi Terakhir di Rusia dan Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa (GagasMedia). Atau Delia Angela -salah satu penyunting novel ini- dalam novel Perfect Ten dan Another Idol.

Meskipun begitu, bukan berarti Kiss the Sky tidak menarik. Kedua penulis memang masih berasyik masyuk dengan cinta, tema generik yang tidak pernah lapuk digerus waktu. Mereka pun memunculkan kisah cinta yang membutuhkan banyak ujian sebelum berakhir bahagia. Ya, Kiss the Sky memang hadir bagai film romantis Hollywood yang senantiasa bersetia dengan happy ending -karena kalau sad ending akan kurang laku. Atau mirip novel-novel cinta berliku Danielle Steel, minus deskripsi dan narasi yang menggurita. Tapi mereka berhasil menyuguhkan sebuah kisah cinta yang kendati cukup berpilin memiliki plot apik dan bergulir lancar sampai bagian penutupnya. Kalimat-kalimat penyusun kisah pun terbilang enak dibaca, tampaknya diusahakan semaksimal mungkin untuk tidak berlarat-larat dan membuat pembaca bosan.

Saya suka banyak kalimat dalam novel ini, seperti yang saya kutipkan di bawah ini:

Hayden... masihkah kau titipkan ciuman-ciumanmu di ranting-ranting udara saat kau terbang? Agar aku bisa memetiknya, ketika langit yang kau lalui kini berada di atasku. (hlm. 161).

Sepertinya takkan ada lagi kerinduan yang akan kau sematkan di jantung udara dan kelopak langit senja untukku, Hayd. Sudah cukup bertahun-tahun aku tersiksa oleh perasaan ini. (hlm. 171).

Untuk membuat novel ini lebih menarik, kisah cinta yang ada dibumbui dengan cerita kampanye pemilihan senator, perdagangan heroin, dan aksi balas dendam. Bumbunya cukup untuk menghalau romantisme yang menjurus cengeng. Hanya saja, saya berharap cerita yang bukan sekadar bumbu ditambah porsinya. Pertempuran udara yang dilakukan Hayden cukup mengalihkan perhatian, apalagi disertai dengan perasaannya yang sedang patah hati. Tapi perjuangan Hayden menyelesaikan pendidikan di USAFA perlu mendapat tambahan cerita supaya lebih meyakinkan.

Karakter-karakter yang menarik simpati, kisah yang romantis dan berliku-liku dalam plot yang bergerak tanpa tersendat belumlah cukup. Sidney Sheldon -misalnya- dengan kisah-kisahnya yang megah dan bergerak cepat, tetap tidak mengabaikan detail-detail lokasi yang menjadi seting novelnya. Membaca novel-novelnya, kita serasa dibawa ke tempat kejadian perkara. Hal ini dimungkinkan karena Sheldon mengenal dan pernah menginjak lokasi-lokasi yang ia gunakan sehingga mampu mengejawantahkannya dalam kata-kata tanpa menimbulkan kesangsian. Kedua penulis Kiss the Sky masih memiliki kekurangan dalam hal ini. Kemungkinan besar mereka memang belum pernah mengunjungi lokasi-lokasi dalam novel. Tapi sebagai penulis, semestinya punya siasat meyakinkan pembaca bahwa kisah mereka benar-benar terjadi di lokasi-lokasi itu. Melakukan riset yang lebih intensif, misalnya. Itulah konsekuensi memilih seting mancanegara. 








0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan