21 May 2012

Perkara Mengirim Senja


Judul Buku: Perkara Mengirim Senja
Penyunting: Jia Effendie
Penyelaras: Ida Wajdi
Desain sampul dan ilustrasi isi: Lala Bohang
Cetakan: 1, April 2012
Penerbit: Serambi




Sebagai tribute kepada Seno Gumira Ajidarma, salah satu penulis papan atas Indonesia, empat belas pengarang dari berbagai latar belakang menulis cerpen dan mengoleksinya dalam antologi berjudul Perkara Mengirim Senja. Karena senja dan cinta kerap dimunculkan Seno dalam cerita-ceritanya, dalam koleksi ini para pengarang juga memunculkan cinta dan senja. Menurut Anton Kurnia dalam pengantarnya  –Tentang Senja dan Cinta yang Galau-  terdapat 169 kata senja dan 105 kata cinta.

Valiant Budi Yogi membuka koleksi cerpen ini dengan cerpen Gadis Kembang. Meskipun tidak terinspirasi dari cerpen Seno, cerpen Vabyo menyajikan cinta haram seperti yang kerap muncul dalam karya rekaan Seno. Melalui dialog-dialog yang ada, pembaca bisa memahami jalinan kisah  manipulatif yang dilakonkan sepasang manusia. Bagian penutup tidak saja menggambarkan apa yang terjadi dalam cerita, tapi juga mengolok-olok pembaca. “Ada yang teperdaya, sebagian terlena, sisanya hanya bisa menerka.” (hlm. 10).

Perkara Mengirim Senja, cerpen yang menjadi judul antologi ditulis oleh Jia Effendie. Cerpen ini terinspirasi dari cerpen Seno yang terkenal, Sepotong Senja Untuk Pacarku (Sepotong Senja Untuk Pacarku, 2002). Seorang perempuan mengerat senja seperti yang dilakukan Sukab dan bermaksud mengirimkannya dalam amplop kepada seorang pacar. Padahal ia sedang tidak punya pacar. Jadilah senja itu ditawarkannya kepada seorang lelaki. Atas permintaan kekasihnya, lelaki itu memutuskan untuk membeli. Cerpen yang ditulis dengan manis dan berbunga-bunga ini dikisahkan secara berganti-ganti menggunakan perspektif orang pertama oleh si perempuan pengerat senja (aku) dan laki-laki pembeli senja (saya). Sebuah twist ending menutup cerpen ini.

Selepas membaca Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, Alina menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya adalah judul cerpen yang terdiri dari dua cerita karya M. Aan Mansyur. Judul ini unik, bukan karena sangat panjang untuk sebuah judul buku, tapi merupakan pengumuman pengarang bahwa dua cerita di dalamnya ditulis oleh Alina –nama karakter perempuan yang sering digunakan Seno. Makanya tidak mengherankan jika kedua cerpen yang ada, Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi dan Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan menampilkan dua perempuan yang diam-diam berhasil mengecundangi suami mereka. Sangat mengasyikkan mengikuti kedua cerita yang ditulis dengan tenang dan sangat terkendali ini. Apalagi untuk cerpen pertama yang dipungkas dengan kalimat yang tidak hanya mengejutkan, tapi juga menggelikan. Satu pertanyaan untuk cerpen yang mengingatkan pada film parodi Robin Hood: Men in Tights ini: apakah ketika menyaksikan perselingkuhan suaminya di mal, Rahasia sedang memakai celana dalam besi?

Kurnia Effendi pernah menulis cerpen Aku Mulai Mencintaimu (Bercinta di Bawah Bulan, 2004) untuk merespons cerpen Menepis Harapan karya Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang, Saya Monyet!,  2002). Teknik yang persis sama dipakai Lala Bohang dalam cerpen Kuman yang merespons cerpen Seno, Lipstick (Atas Nama Malam. 1999). Jika dalam Lipstick si bartender yang menjadi narator, dalam Kuman digantikan si penyanyi bar. Dalam cerpennya, Lala melakukan eksplorasi cerita yang lebih dalam. Lala tidak saja menambahkan gambaran yang tidak ada dalam Lipstick bahwa si bartender seorang pria dengan wajah dihiasi luka dan berkaki pendek, ia juga menciptakan cinta di antara bartender dan si penyanyi bar. Di sini, Lala bahkan mengimbuhkan kisah cinta bercabang. 
 
Cerpen Seno berjudul Jawaban Alina (Sepotong Senja Untuk Pacarku, 2002) adalah  surat yang ditulis Alina sebagai balasan surat Sukab dalam Sepotong Senja Untuk Pacarku. Alina menerima surat Sukab sepuluh tahun setelah dikirimkan gara-gara kelancangan seorang tukang pos. Begitu surat dibuka Alina, petaka terpicu dan mengundang air bah seperti zaman Nabi Nuh. Alina pun terdampar di puncak Himalaya bersama sebuah sampan dan sepasang dayung serta sebungkus supermie. Cerpen Ulang yang ditulis Putra Perdana berangkat dari cerpen Jawaban Alina yang merupakan sekuel dari cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku. Cerpen ini dikombinasikan dengan gagasan yang dipulung dari cerpen Tukang Pos dalam Amplop (Sepotong Senja Untuk Pacarku, 2002), Sarman (Penembak Misterius, 1993), dan Rembulan dalam Cappuccino (Linguae, 2007) menghasilkan cerpen yang berisi tiga penyimpangan terhadap cerita yang pernah dibuat Seno. Inilah satu-satunya cerpen dalam koleksi ini yang memunculkan Sukab, karakter yang acap digunakan Seno.

Sundea mengawinkan cerpen Seno Pelajaran Mengarang (Atas Nama Malam, 1999) dan Joko Swiwi (Linguae, 2007) dalam cerpen Akulah Pendukungmu. Judul cerpen ini merupakan bagian dari syair lagu Garuda Pancasila gubahan Sudharnoto. Pada Hari Kesaktian Pancasila, foto presiden Soeharto bercakap-cakap dengan Garuda Pancasila  yang sama-sama bertengger di dinding dalam kelas yang diasuh Ibu Tati (ibu Tati muncul dalam kedua cerpen yang menginspirasi karya Sundea ini). “Mau kaugunakan bagaimana kesaktianmu kali ini?” tanya foto presiden. Awalnya Garuda Pancasila tidak berencana melakukan apa-apa. Namun, setelah dialog yang menyinggung  Sandra, salah satu murid Ibu Tati (Sandra adalah anak perempuan dari seorang pelacur dalam cerpen Pelajaran Mengarang), Garuda Pancasila pun menetapkan sebuah rencana yang akan dijalankan saat upacara bendera dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila. Sundea adalah satu-satunya pengarang dalam koleksi cerpen ini  yang berhasil menjadikan informasi yang ada dalam cerpen Seno sebagai ‘petunjuk’ untuk  mengembangkan cerita yang benar-benar baru. Kreativitas Sundea yang sungguh brilian ditunjukkannya pula dalam cerpen lain yang dijadikan penutup koleksi cerpen ini. Satu Sepatu, Dua Kecoak… ditulis untuk merespons cerpen Lelaki yang Terindah (Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, 1996). Oom Arnold dalam cerpen ini tidak lain adalah lelaki yang menjadi narator dalam cerpen Seno yang menginspirasinya. Cerpen kedua Sundea dalam koleksi cerpen ini menggaungkan apa yang dikatakan Reta, anak adopsi Oom Arnold. “Lengkap nggak selalu harus sepasang,” (hlm. 185). 

Empat Manusia karya Faizal Reza yang terinspirasi cerpen Empat Adegan Ranjang (Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, 1996) sayangnya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Cerpen ini terlalu identik dengan cerpen yang menginspirasinya sehingga malah terkesan plagiat. 

Cerpen Saputangan Merah menurut pengarangnya, Utami Diah Kusumawati, terinspirasi dari cerpen Lipstick. Bertolak dari cerpen yang sama, cerpen Utami dan Lala sampai di tujuan dengan cara yang sangat jauh berbeda. Lipstick hanya menginspirasi Utami sebatas pada keberadaan seorang lelaki yang jatuh cinta pada seorang perempuan yang dijumpainya, sedangkan Kuman sampai pada tahap pengembangan karakter ciptaan Seno. 

Sebagaimana dalam cerpen Seno Hujan, Senja dan Cinta (Sepotong Senja Untuk Pacarku, 2002), Mudin Em juga memanfaatkan kata ganti ia untuk karakter lelaki dan dia untuk karakter perempuan dalam cerpennya Senja dalam Pertemuan Hujan. Membaca apa yang dikatakan si lelaki dalam pembicaraan telepon dengan salah satu selingkuhannya, langsung teringat pada cerpen Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta. Rupanya, lelaki dalam Senja dalam Pertemuan Hujan sedang berbicara dengan perempuan dalam Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta. Bagian paling mengesankan dari cerpen Mudin ini adalah ketika terungkap identitas narator cerpen.

Seperti Gadis Kembang, cerpen Kirana Ketinggalan Kereta tidak terinspirasi dari cerpen Seno. Maradilla Syachridar agaknya hanya ingin menghadirkan cerpen absurd seperti yang banyak dihasilkan Seno.

Sama dengan judulnya, narator orang pertama dalam cerpen Theoresia Rumthe adalah seorang Gadis Tidak Bernama. Si gadis yang manipulatif ini bekerja sebagai peneliti senja di Dinas Penelitian Senja. Mengenai pekerjaannya, ia mengatakan, “Bayangkan yang kaulakukan adalah pergi ke sebuah tempat di mana kau bisa melihat senja dengan luas. Lalu menghitung serat-serat jingganya. Semburat warna yang dikeluarkannya. Mengukur diameter senja: apakah lebih lebar atau bertambah sempit dibandingkan kemarin. Mengukur hangatnya. Dan kemudian mencatatnya sekaligus membuatkannya menjadi sebuah laporan lengkap.” (hlm. 124). Gadis tanpa nama memilih bekerja sebagai peneliti senja tidak lain karena kisah perempuan bernama Alina yang dihadiahi sepotong senja oleh seorang lelaki. Cerpen ini hadir seabsurd Sepotong Senja Untuk Pacarku, cerpen yang menginspirasinya.

Arnellis menghadirkan cerita menarik mengenai penjaga sekolah yang diminta menggantikan seorang guru yang berhalangan hadir dalam cerpen Guru Omong Kosong. Karena bukan guru,  tentu saja Dikin tidak mengajar. Ia hanya menuliskan satu kalimat  di papan tulis, sebuah instruksi yang harus dikerjakan para murid. Sambil menunggu para murid menyelesaikan tugas, Dikin membuka-buka buku Kitab Omong Kosong  karya Seno yang ditulis dengan mengidentifikasikan dirinya sebagai Togog. Melalui Dikin, Arnellis melontarkan kritik pada guru yang mengajar dengan metode yang tidak mampu mencerdaskan murid. Guru  seperti itu adalah guru omong kosong.

Kisah seorang lelaki yang mengabaikan surat-surat yang dikirim seorang gadis hingga mencapai 93 surat  dimunculkan Seno dalam cerpen Surat  (Atas Nama Malam, 1996). Feby Indirani merespons cerpen Seno itu dengan cerpen Surat ke-93 yang mengharukan.  “Apa lawan dari cinta? Bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian,” kata si gadis (hlm. 157). Kalimat ini  kemudian beranak-pinak, “… pengabaian adalah bentuk hukuman paling kejam. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada keberadaan yang dinafikan sehingga tak ada bedanya kau itu dinding, pulpen kayu atau gembok besi. Dan tak ada yang paling menusuk ketimbang diabaikan oleh lelaki yang kaucintai.” 

Bahasa Sunyi, cerpen yang ditulis Rita Achdris, menggunakan POV yang sama dengan cerpen Mudin Em. Cerpen ini berkisah tentang sepasang kekasih yang membuat kontrak untuk tidak berkata-kata. Kontrak itu membuat mereka hanya bisa saling kirim emoticon menggunakan Blackberry untuk mengungkapkan perasaan. Komunikasi aneh seperti ini berlangsung hingga sebuah emoticon yang mengisyaratkan kemarahan dikirimkan dia kepada ia. Bahasa Sunyi tidak cukup menggelitik sampai Rita menyodorkan pembicaraan soal BBM di bagian akhir yang mengingatkan pada persidangan menghebohkan beberapa bulan silam.

Pujian patut dialamatkan kepada Lala Bohang, pengarang yang juga mengerjakan sampul dan ilustrasi isi. Sampul yang didominasi warna biru tampil elegan, sedangkan ilustrasi isi berpadu indah dengan cerpen-cerpen yang ada.

Akhirnya, sebelum senja pudar dan cinta makin galau,  saya akan mengakhiri tulisan sekadarnya ini.* Selamat membaca dan selamat berperkara  dengan senja. Jangan biarkan kegalauan mencuri kesempatan Anda untuk membaca sampai selesai koleksi cerpen ini.  


* = meniru Anton Kurnia dalam pengantarnya: Tentang Senja dan Cinta yang Galau.


6 comments:

hurufkecil said... Reply Comment

terima kasih atas ulasan yang menarik di atas. salam ~

Jody said... Reply Comment

Sama-sama.

ukhti lis said... Reply Comment

bisa jadi referensi koleksi selanjutnya .. tapi buku seno atau sastra surealis itu aga sulit yah kang .. kunjungan perdanaku , terimakasih ulasannya :)

Jody said... Reply Comment

@Ukhti: terima kasih sudah berkunjung...Betul sekali, memang cerita surealis biasanya tdk mudah dibaca. Aku sendiri lebih suka baca cerita realis :)

ukhti lis said... Reply Comment

aku lebih suka surealis susah dibaca iyah tapi bukankah memang sastra itu menyembunyikan makna di dalam makna dan itu menyenangkan membuat pembaca banyak berpikir, pembaca akan diuji sejauh mana bisa memahami apa yang dibaca dan bagaimana mereka bisa berpikir positive tentang makna bacaanya , maksudku sulit di temukan bukunya ...:D

Jody said... Reply Comment

Tapi aku tetap suka yg realis. Kl surealis dan maknanya bisa ditangkap boleh juga sih. Hanya saja sekarang banyak cerita2 surealis yg sengaja dirumit2kan. Padahal sastra yg baik kan harus memberi dampak pada pembaca,dampak yg berguna tentu saja :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan