08 August 2012

The Tokyo Zodiac Murders


Judul Buku: The Tokyo Zodiac Murders
Judul Asli: Senseijutsu Satsujinjiken (1981)
Penulis: Soji Shimada
Penerjemah: Barokah Ruziati

Desain & Ilustrasi kover: Staven Andersen
Tebal: 360 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juli 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Pada 26 Februari 1936 Heikichi Umezawa, seorang seniman, ditemukan tewas di studio yang terletak di belakang rumahnya. Ia dibunuh dengan cara dihantam bagian belakang kepalanya dengan benda tumpul. Sebulan kemudian, Kazue Kanemoto, putri tertuanya, tewas dipukul sampai mati dengan vas beling setelah diperkosa. Menyusul kematian Kazue, keenam gadis yang tinggal di rumah keluarga Umezawa, dibunuh secara bersamaan, lalu mayat mereka dimutilasi dan dibuang ke berbagai lokasi. 

Ketiga kasus pembunuhan itu dikenal sebagai Pembunuhan Zodiak Tokyo. Pihak berwenang, para cendekiawan, dan detektif amatir telah berupaya membongkar kasus pembunuhan itu, tapi misteri yang menyelimutinya belum terkuak hingga lebih dari 40 tahun. Kasus itu berlalu setelah ditetapkannya Masako Umezawa, istri kedua Heikichi, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan pertama dan ketiga.

Sebelum menikahi Masako, Heikichi pernah menikah dengan Tae dan memiliki seorang anak perempuan, Tokiko. Setelah Heikichi menceraikan Tae untuk menikah dengan Masako, Tokiko tetap tinggal bersama ayahnya. Dari hubungannya dengan Masako, Heikichi mendapatkan seorang putri, Yukiko. Saat menikah, Masako yang adalah mantan penari balet, sudah mempunyai tiga putri dari pernikahan pertamanya: Kazue, Tomoko, dan Akiko. Kazue tinggal sendiri di rumahnya setelah menikah kemudian bercerai dengan suaminya. Ditambah anak dari adik laki-laki Heikichi, Reiko dan Nobuyo, jadilah ada enam gadis di rumah keluarga Umezawa. 

Kasus ketiga dalam Pembunuhan Zodiak Tokyo terjadi persis seperti yang diuraikan dalam catatan yang ditinggalkan Heikichi Umezawa. Dalam catatannya, Heikichi telah merencanakan penciptaan Azoth, sang wanita sempurna, dari potongan-potongan tubuh para gadis dalam rumahnya. Kepala dari Tokiko, dada dari Yukiko, perut dari Reiko, pinggul dari Akiko, paha dari Nobuyo, dan kaki dari Tomoko. Semua akan dibuat berdasarkan prinsip astrologi yang dijelaskan dengan gamblang oleh Heikichi. Azoth akan menjadi sebuah magnum opus atau mahakarya baginya. 

Suatu hari pada tahun 1979, Misako Iida, putri dari polisi yang terkait dengan kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo, mendatangi Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib dan detektif partikelir. Misako berharap Kiyoshi Mitarai bisa menemukan penjelasan yang masuk akal untuk keterlibatan ayahnya dengan kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo. Kazumi Ishioka, teman Kiyoshi yang sangat menggemari kisah detektif dan bekerja sebagai ilustrator lepas, memperkenalkan kepadanya kasus pembunuhan menghebohkan yang terjadi sebelum Perang Dunia Kedua itu. Maka dimulailah analisis mereka mengenai kasus itu dengan berpatokan pada buku berjudul Pembunuhan Zodiak Tokyo yang merupakan gabungan dari dokumen kasus dan catatan Heikichi. Bagi Kazumi yang berperan sebagai narator, mereka bertindak dan memosisikan diri seperti Sherlock Holmes dan Dr. Watson.

Seiring dengan upaya yang mereka lakukan, pertanyaan demi pertanyaan datang menghampiri dan menciptakan keraguan. Siapakah sebenarnya yang membunuh Heikichi Umuezawa? Adakah hubungan kematian Kazue dengan kematian ayah tirinya dan para gadis di rumah keluarga Umezawa? Benarkah Masako yang bertanggung jawab atas kematian suami, anak-anak mereka, dan keponakan suaminya?  Pertanyaan terakhir, jika Azoth telah diciptakan dari potongan-potongan tubuh para gadis, di manakah Azoth berada? 

Ketika mereka semakin masuk dalam kumparan misteri kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo dan seseorang memberi batas waktu bagi mereka untuk menuntaskan penyelidikan, Kiyoshi memutuskan pergi ke Kyoto. Di sana ia bermaksud menggali informasi dari orang yang pernah mengenal Heikichi dan masih hidup. 

Mungkinkah pasangan detektif partikelir ini akan memecahkan misteri seputar Pembunuhan Zodiak Tokyo di Kyoto? Lebih dari empat puluh tahun sebelumnya kasus ini memang tidak bisa dipecahkan, apalagi dengan keterbatasan teknologi dan ilmu pengetahuan. Tahun 1979 seharusnya kasus ini lebih mudah disingkapkan, dan seiring dengan penyelidikan mereka, Kiyoshi mengakuinya. 

"Ada sesuatu yang hilang... Dan kemungkinan itu sesuatu yang sangat, sangat sederhana. Kasus ini memang ganjil dan tidak dapat dipahami, tetapi aku punya firasat bahwa kasus ini sebenarnya tidak terlalu sulit dipahami. Kalau kita bisa menemukan mata rantai yang hilang, kita akan memahami keseluruhan kisah ini. Kita mungkin harus meninjau kasus ini dari awal, terutama setengah bagian pertamanya. Ya, aku rasa jawabannya terletak pada mata rantai yang hilang itu..."
(hlm. 196).

Di mana mata rantai yang hilang itu? Seperti biasa dalam kisah-kisah sejenis, jawabannya akan muncul secara tidak terduga. Kali ini, dimulai dari salah satu lembaran uang kertas seribu yen yang robek dan disatukan kembali dengan selotip. 


The Tokyo Zodiac Murders
(Pembunuhan Zodiak Tokyo) adalah novel perdana Soji Shimada, penulis kisah-kisah detektif-misteri asal Jepang. Novel yang dinominasikan untuk menerima Edogawa Rampo Award ini merupakan kisah pertama dari serial Detective Mitarai's Casebook. Selanjutnya, Shimada telah menulis puluhan kisah lainnya dengan Kiyoshi Mitarai sebagai karakter utama dalam bentuk novel, novela, dan kumpulan cerita pendek. 

Novel ini disusun bagaikan sebuah pementasan drama yang diawali dengan perkenalan nama-nama para pemain, lalu sebuah pengantar, dan dilanjutkan dengan babak demi babak -yang dipecah dalam dua hingga tujuh adegan- hingga lima babak (sangat jelas dalam Daftar Isi yang sayangnya keliru dalam penomoran halaman). Sebelum memasuki babak satu, Shimada menyajikan prolog berjudul Azoth. Di bagian ini, kita akan membaca catatan yang ditulis sehubungan dengan rencana untuk menciptakan Azoth. Setelah babak lima, sebuah epilog berjudul Suara Azoth akan membuhul keseluruhan kisah melalui pengakuan pelaku dari berbagai pembunuhan yang telah terjadi. 

Di setiap pergantian babak Shimada menyelipkan intermeso. Ada empat intermeso yang isinya ditulis secara berbeda. Dua intermeso terakhir adalah tantangan yang dilemparkan Shimada kepada pembaca untuk membongkar misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo sebelum tirai pentas ditutup. Silahkan mencoba-coba merangkai jawaban kalau bisa. Tapi kalau tetap terbentur tembok penghalang seperti para detektif di seluruh penjuru Jepang selama lebih dari 40 tahun, lanjutkan saja ke babak lima.

Jadi, siapakah pembunuh yang disebut Shimada sebagai pembunuh siluman ini? Tentu saja saya tidak akan menyebutkannya di sini. Kalau Anda sudah terbiasa membaca kisah-kisah detektif-misteri, Anda mungkin akan dengan gampang dan lekas mendapatkan nama sekaligus motifnya, sebelum diungkapkan oleh Kiyoshi Mitarai. Yang jelas, setelah mengetahui wajah sang pembunuh, saya kembali melembari halaman-halaman novel ini untuk mencari peneguhan bagi karakternya sebagai pembunuh berdarah dingin. Seseorang yang membunuh dan memutilasi beberapa tubuh manusia  harusnya memiliki alasan kuat untuk melakukannya, kecuali dia sakit jiwa. Sayangnya, saya tidak menemukan apa yang saya cari. 

Untuk mempermudah pemahaman, Shimada menyertakan sejumlah gambar. Kita akan menemukan gambar silsilah keluarga, denah studio Heikichi, denah rumah Kazue, peta daerah tambang, posisi garis lintang utara-bujur timur dalam peta, tipuan sulap menggunakan uang kertas, dan ilustrasi keenam tubuh gadis yang dimutilasi. Gambar-gambar itu bekerja sama dengan tulisan yang ada dan menghasilkan karya yang memberikan pengalaman baca yang mengesankan. Tidak hanya dari segi kualitas penyajian, melainkan juga dari tantangan untuk melibatkan pembaca ke dalam pengejaran Azoth. 

Ada bagian menarik terkait kegemaran Kazumi akan kisah-kisah detektif. Sebagai pembaca yang tergila-gila dengan kisah semacam ini, Kazumi adalah pemuja Sherlock Holmes dan mengganggapnya sesuatu yang keramat. Ketika Kiyoshi belum berhasil memecahkan kasus, Kazumi membandingkannya dengan karakter ciptaan Arthur Conan Doyle itu. Kiyoshi, tentu saja, tidak terima. 

"Sherlock Holmes? Siapa itu? Oh, maksudmu pria Inggris yang lucu itu - pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan kenyataan dengan khayalan?" demikian tanggapan Kiyoshi. Dan saat Kazumi protes, Kiyoshi memberikan penjelasan mengenai komentar sinisnya terhadap Sherlock Holmes (hlm. 169-170). Saking kesalnya, Kazumi pun menyebutkan nama-nama detektif yang kisahnya pernah ia baca. Kiyoshi memberikan respons yang membuatnya semakin mendongkol.

"Aku tidak tahu harus berkata apa. Kau tidak pernah membaca satu pun cerita detektif, tapi kau tetap berkeras bahwa kisah Sherlock Holmes itu konyol."

Kiyoshi menyahut, "Aku tidak bilang aku membencinya. Bahkan dia salah satu detektif yang paling aku sukai. Aku suka selera humornya. Kita tidak tertarik pada orang yang bertingkah seperti komputer, bukan? Holmes memperlihatkan kepada kita sifat manusia yang sesungguhnya. Dalam hal itu, dia sangat hebat." 

Oh, tentu saja Kiyoshi Mitarai juga sangat hebat. Ingin tahu kehebatannya? Ayo baca The Tokyo Zodiac Murders dulu. 

4 comments:

oky septya said... Reply Comment

Ini nih review buku yg aku tunggu2.. akhirnya ada juga yg ngereview.

Nice review!!

fiberia said... Reply Comment

lama pengin baca karya dari Jepang lagi...
menarik...

Jody said... Reply Comment

@Oky: ayo baca bukunya, dan tulis review-nya... hehehehe

Jody said... Reply Comment

@Fiberia: novel ini memang cukup menarik, terutama karena ditulis seperti pementasan drama.
Terima kasih sudah berkunjung.

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan