12 February 2012

The Road


Judul Buku: The Road (Jalan)
Pengarang: Cormac McCarthy (2006)
Penerjemah: Sonya Sondakh
Penyunting: Sapardi Djoko Damono
Format: 264 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Januari 2009
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  




Berlatar masa depan, The Road (Jalan) karya Cormac McCarthy mengisahkan perjalanan seorang ayah dengan anak lelakinya yang masih kecil melintasi Amerika, dari suatu tempat menuju wilayah pantai. Saat itu Amerika habis dilanda musibah yang membuat negeri ini porak poranda. Di sepanjang jalan tanpa panduan waktu, mereka menyaksikan lanskap muram yang seolah-olah tidak berkesudahan. Suasana tandus yang hening mencekam di mana tampak debu beterbangan di jalanan sepi, pepohonan gosong di wilayah terbakar, dan rumah terbengkalai karena dirampok dan kosong. Sesekali meningkah pemandangan suram itu adalah bangkai manusia di kota terjarah –tersula ataupun tergeletak kerontang, makanan sisa di rumah tanpa tuan, hujan jelaga, dan salju kelabu. Dunia tampak sekarat dalam balutan udara kotor.

Mereka meretas jalan sambil mendorong kereta belanja dengan sisa-sisa makanan yang mereka bagi tanpa pernah merasa kenyang. Perjalanan sangat riskan, maut mengiring dalam bungkam. Sang ayah telah menyiapkan sepucuk revolver dengan dua butir peluru yang tersisa. Dunia telah kehilangan kemanusiaan, orang baik menjadi langka dan orang jahat merajalela mengincar tubuh sesama untuk dijadikan penyumpal perut yang lapar. Maka, dua butir peluru itu telah direncanakan: ajal bagi mereka berdua sebelum jadi santapan para kanibal. Awalnya ada tiga butir peluru, tapi salah satunya sudah terpakai dan membuat istrinya memutuskan bunuh diri dalam perjalanan. Kendati demikian, ada saat-saat sang ayah meragukan dirinya mampu melakukan bunuh diri. "Pukul delapan bunga primrose menguncup. Ia memperhatikan anak itu lelap. Mampukah kaulakukan itu? Kalau nanti saatnya tiba? Mampukah kau?"(hlm. 30).  

Dalam perjalanan ini sang anak kerap mempertanyakan kehidupan pada ayahnya. Sebab ia tahu mereka menuju pada ketidakpastian dan segalanya menciptakan ketakutan dalam batinnya. Ia pun bertanya-tanya seperti dalam percakapan berikut:
 
Apa kita akan mati?
Suatu saat. Bukan sekarang.
....
Apa yang Papa lakukan jika aku mati?
Jika kau mati aku ingin mati juga.
Supaya Papa bisa bersamaku?
Ya. Supaya Papa bisa bersamamu.
Oke.
(hlm. 14).

Sang ayah bertekad melindungi anaknya. "Tugasku adalah menjagamu. Aku ditunjuk Tuhan untuk melakukan itu. Aku akan membunuh siapa saja yang menyentuhmu," katanya pada si anak ketika mereka dibayang-bayangi kematian (hlm. 74).

Bagi sang ayah, dalam diri anaknya ada harapan bagi dunia yang remuk. Ada kebaikan yang berkelindan indah dalam sanubarinya yang tampak dalam responsnya ketika berjumpa dengan segelintir manusia di dalam perjalanan. Ada api yang dapat memerangi dunia yang dingin dan kelam. Maka sang ayah berharap, akan ada tempat bagi anaknya di selatan, tempat si anak membawa apinya. Ayahnya sadar, dengan batuk berdarah yang merongrong tubuhnya, ia tidak akan berumur panjang.

Kau harus membawa api itu.
Aku tak tahu caranya.
Kau tahu.
Apa itu nyata? Api itu?
Ya.
Di mana itu? Aku tak tahu di mana.
Kau tahu. Ada di dalam dirimu. Selalu ada di sana. Aku bisa melihatnya.
(hlm. 253)

Cormac McCarthy -yang karena The Road disebut-sebut sebagai salah satu dari 50 orang yang bisa menyelamatkan planet bumi- mempersembahkan novel ini kepada putranya, John Francis McCarthy. Ide novel memang muncul ketika bersama putranya itu, pengarang gaek penerima National Book Award 1992 (untuk novel All the Pretty Horses) ini berkunjung ke El Paso, Texas, pada tahun 2003. Sembari membayangkan El Paso masa depan, ia mengimajinasikan "kebakaran di bukit"dan memikirkan apa yang akan terjadi pada putranya. Lalu, setelah pertama kali diterbitkan 26 September 2006, novel ini secara gemilang meraih penghargaan James Tait Black Memorial Prize 2006 dan Pulitzer Prize for Fiction 2007.

Pengarang masih tetap menggunakan gaya penulisan yang bisa ditemukan dalam novel-novelnya yang lain seperti The Blood Meridian dan No Country for Old Men. Ia menghadirkan cerita dalam novel kesepuluhnya ini tanpa membagi-baginya ke dalam bab. Dialog-dialognya minimalis, tanpa tanda kutip, dan kerap ditulis sealinea dalam narasi yang liris. Ia adalah pakar ekonomi kata-kata yang brilian bermain diksi dan metafora dengan cantik. Dengan gaya seunik ini, tanpa plot berkilau dengan konflik berpilin, novel ini telah memiliki pesona sendiri yang tidak terbantah. Sebuah mahakarya dalam kelugasannya.

Membawa api boleh disebut sebagai pesan sentral dalam novel ini. Berulang-ulang pembaca bisa menemukan hal ini disinggung. Dalam dunia rusak yang gelap dan dingin, dalam dunia yang telah kehilangan belas kasihan, selalu ada harapan (dan kasih sayang) yang dibawa oleh orang-orang baik. Ketika si ayah tidak bisa melanjutkan perjalanan –dan sudah sedari awal disadarinya, si anaklah yang bertugas untuk terus membawa api itu. "Aku tak bisa pergi bersamamu. Kau harus terus berjalan. Kau tak tahu apa yang mungkin terjadi di jalan. Kita selama ini selalu beruntung. Kau akan beruntung lagi. Lihat saja. Pergilah. Tak apa-apa," demikian kata si ayah pada saat perpisahan (hlm. 252). Bagi yang pernah membaca No Country for Old Men, hal ini akan mengingatkan pada Sheriff Ed Tom Bell, yang pernah melihat ayahnya dalam mimpinya, sedang membawa api obor untuk membuat api unggun di tengah udara yang gelap dan dingin.

Edisi Indonesia ini boleh dibilang diterjemahkan dengan baik, keindahan yang puitis dan mengharukan tetap terukir di banyak tempat. Hanya saja, penerjemah memang tidak bisa memindahkan secara sempurna gaya penulisan McCarthy. Hilangnya apostrof pada beberapa kata –seperti don't, won't menjadi dont, wont- tidak bisa dipadankan dengan cara penulisan bahasa Indonesia. Tentu saja hal ini bukanlah kesalahan penerjemah. Demikian juga sejumlah kata arkais yang digunakan McCarthy, tidak bisa dipertahankan oleh penerjemah. Kemungkinan besar sebaris kalimat yang hilang -terjemahan dari kalimat: You know what, Papa; hlm. 35- dan penggunaan kata zombe-zombe untuk menerjemahkan the walking dead (hlm. 55) adalah kesalahan cetak (?).

Sehabis membaca novel ini pembaca mungkin akan lebih mencintai kehidupan, kemanusiaan, dan lingkungan hidup. Pembaca juga mungkin berharap akan ada sosok penting dalam hidupnya yang mau berkata kepadanya, "Seluruh hatiku untukmu. Kau selalu ada dalam hatiku. Kau yang terbaik. Kau selalu begitu. Seandainya aku tidak berada di sini, kau tetap dapat bicara padaku. Kau dapat bicara padaku dan aku bicara padamu. Lihat saja." (seperti pada halaman 253). Dan pembaca akan terdorong untuk membawa apinya sendiri ke dalam dunia yang gelap dan dingin.

Gelap dan berat, itulah kesan dominan selama membaca The Road. Tampaknya beginilah kesan yang selalu muncul ketika membaca novel berseting post-apokaliptik. Namun khusus untuk novel ini, sama sekali bukan petualangan membaca yang mengecewakan. Tidak heran, Holywood pun tergugah memvisualisasikan novel ini menjadi film layar lebar. Filmnya telah diproduksi tahun 2009 dan hampir dua jam kita akan menyaksikan Viggo Mortensen dan pemain cilik Kodi Smit-McPhee, memainkan pasangan ayah dan anak yang terkatung-katung membawa api yang tak gampang padam, di dunia Amerika yang rusak binasa.

Lima bintang untuk The Road.

3 comments:

killuakillua said... Reply Comment

saya mau bukunya, gimana cara dapetinnya ya?

Sinta Ch. Faiwari said... Reply Comment

Saya butuh buku ini untuk skripsi saya. Dan susah sekali mendapatkannya. Kira2 bisa bantu buat dapatin bukunya? Trims

Jody said... Reply Comment

@Sinta Ch. Faiwari:
Waduh, maaf ya, beberapa bulan ini aku ga bisa ngeblog. Banyak kesibukan. Kalo masih butuh buku ini, aku punya satu.

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan