12 February 2012

Honeymoon With My Brother


 

Judul Buku: Honeymoon with My Brother
Penulis: Franz Wisner (2005)
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Anton Kurnia
Tebal: 488 hlm;  15 x 23 cm
Cetakan: 1, Desember 2008
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta



Bulan Madu Tanpa Mempelai 






Pernah nonton film Runaway Bride arahan sutradara Garry Marshall? Film yang sempat disinggung dalam Honeymoon with My Brother karya Franz Wisner ini, mengisahkan tentang seorang perempuan bernama Maggie Carpenter (Julia Roberts) yang menjadi legenda karena 3 kali meninggalkan calon suaminya di altar penikahan. Ketika film bergulir, Maggie menambahkan Ike Graham (Richard Gere) ke dalam barisan lelaki tercampak. Apa yang dilakukan Annie, calon istri Franz Wisner, tentu saja tidak separah yang dilakukan Maggie. Meski persiapan pernikahan semuanya telah rampung, undangan sudah disebar, para undangan dari luar negeri mulai berdatangan, Annie meninggalkan Franz sebelum menapak altar pernikahan.

Namun, lelaki mana sih yang tidak menjadi 'cengeng' bila dicampakkan perempuan yang dicintainya seminggu sebelum mengikat janji dalam lembaga pernikahan? Mungkin ada, tetapi Franz Wisner tidak termasuk di dalamnya. Sepuluh tahun yang dilewatinya dengan Annie adalah hal yang sangat berarti dalam hidupnya, apalagi sebelum memutuskan menikah mereka telah hidup bersama. Sambil menahan rasa malu, Franz sepakat untuk melanjutkan rencana yang telah disusun, mengadakan acara di Sea Ranch (California), tempat janji pernikahannya seharusnya dikukuhkan. Selanjutnya, bulan madu di Kosta Rika pun dijalani, meski tanpa mempelai  perempuan di sisinya. Sebagai ganti Annie, Kurt Oscar Wisner, adik Franz yang sudah tidak akrab dengannya, meninggalkan pekerjaannya di Seattle dan menemani Franz berbulan madu. Di Kosta Rika-lah ide untuk keliling dunia tercetus dan menjadi alasan untuk keputusan meninggalkan The Irvine Company yang telah mendemosikan posisi Franz.

Keputusan pun bulat sudah. Kurt yang sudah menduda menjual rumahnya di Seattle; pakaian dan perabotan yang dimiliki disumbangkan, ponsel dan penyeranta disingkirkan. Kemudian, pada pertengahan Agustus 2000, kedua bersaudara Wisner meninggalkan Amerika Serikat. LaRue Bocarde Daulton, nenek tiri mereka, dengan antusias mendukung pengembaraan kedua lelaki tercampak ini. Ia hanya minta dikirimi satu kartu pos dari setiap negara yang dikunjungi cucu-cucunya, dan ia akan menandai perjalanan mereka dengan paku, di peta dunia miliknya.

Eropa menjadi tujuan awal perjalanan. Dimulai dari Krosia, mereka melintas Eropa Timur hingga Suriah. Setelah itu mereka kembali ke Amerika untuk persiapan menjelajah Asia Tenggara. Kali ini Indonesia dengan Bali dan Lombok menjadi pintu perjalanan yang dirintis hingga Thailand. Pulang ke Amerika lagi, mereka mengambil keputusan melanglang Amerika Selatan. Dari Venezuela, perjalanan Amerika Selatan mereka disudahi di Brazil. Pulang dari Brazil, Franz  menjual rumahnya di Newport Beach, mendapatkan suntikan dana guna meneruskan perjalanan ke Afrika. Petualangan di Benua Hitam ini dilakukan selama 4 bulan, sebelum mereka kembali ke Amerika Serikat, untuk menghadiri ulang tahun ke-100 LaRue. Maka, genaplah 2 tahun perjalanan mereka. Manakala menginjak Amerika Serikat lagi, mereka dihadapkan dengan kejutan yang dipersiapkan sang nenek tiri, yang meyakinkan mereka, bahwa perjalanan yang telah mereka retas belum paripurna. Perjalanan mereka berikutnya akan digelar dalam buku kedua Franz Wisner yang diberi judul: How the World Makes Love. 

Honeymoon with my Brother merupakan perwujudan dari apa yang disampaikan Kurt Wisner di penghujung perjalanan mereka di Afrika. Setelah Afrika mereka memutuskan pulang, tetapi tidak ingin melekatkan diri lagi dengan rutinitas yang dulu menguasai hidup mereka. Kurt ingin Franz menuliskan pengalaman mereka untuk dikomersialkan. Sebelumnya atas permintaan Justine Amodeo, editor dari Coast Magazine, Franz telah menulis berbagai artikel sehubungan dengan perjalanan mereka.  Namun, menulis buku belum terpikir sama sekali. Justine-lah yang kemudian mendorong Franz untuk menulis catatan perjalanan ini, bahkan memberi inspirasi untuk judul yang dipakai. Penerbit St. Martin's Press memberikan kesempatan bagi Franz untuk menjadi penulis yang ternyata, bisa meletakkan bukunya di daftar The New York Times Bestseller. Bahkan hak cipta pembuatan film memoar ini telah diserahkan kepada Sony yang gosipnya akan mendapuk kakak-beradik Owen dan Luke Wilson untuk memerankan Franz dan Kurt.

Perjalanan bulan madu yang berkesinambungan hingga menyinggahi 53 negara ini akan menjadi proses rekonsiliasi persaudaraan dua individu yang mulai kehilangan 'kemesraan' sekaligus terapi untuk menyembuhkan hati lelaki yang merana. Melintasi berbagai negara, terutama Franz, dimotivasi untuk berpikir tentang hidupnya. Antara lain tatkala menyaksikan Rusia yang mulai berbenah diri tetapi tidak bisa menanggulangi perempuan-perempuannya yang melacurkan diri untuk menghidupi anak atau orangtua mereka. Mengabsorpsi keramahan orang Suriah dalam setiap pertolongan yang dilakukan dengan ketulusan hati. Menghayati perjuangan perempuan Indonesia yang bertekad kuat mengubah nasibnya dengan optimisme. Atau meresapi rasa kekeluargaan di Ekuador saat menyaksikan 28 orang menjemput keluarganya yang kembali dari Amerika Serikat. Semuanya itu menempatkan kerapuhan ditinggal calon istri ke recycle bin yang tidak signifikan. Orang-orang yang dijumpai Franz dalam perjalanan kian mengukuhkan dirinya untuk melihat dunia dan dirinya dengan kacamata yang lebih jernih. Baik atau tidak kontribusi yang diberikan mereka: Dean, Helga, Quandy, Pen, Abdullah, atau Douglas, telah menjadi pembelajaran yang berharga yang tidak pernah dicicipi di tanah air sendiri. Dan ketika waktu memaksa Franz bertemu dengan Annie kembali,  daya tenung yang pernah memikat Franz selama 10 tahun, bersikeras memudar.

Sembari menginjak berbagai negara, Franz mendendangkan semua rasa yang berkecamuk dalam jiwanya. Lewat tulisannya dalam surat-surat kepada neneknya, kita akan menemukan persepsi dan kritisasinya terhadap negara-negara yang disinggahinya. Mungkin Anda akan tersenyum ketika membaca apa yang ditulisnya tentang Indonesia pada masa kepresidenan Gus Dur, dalam surat kepada LaRue (hlm. 248):

"Salah satu dari pemandangan yang kulihat di Indonesia adalah wanita cantik berkain yang melangkah di sepanjang jalan pedesaan dengan membawa keranjang berisi tumpukan tinggi buah-buahan di kepalanya. Anak perempuannya berjalan di sampingnya. Tanpa peringatan, wanita itu berputar, membungkuk, dan memukul pantat anaknya, semua dilakukannya tanpa menjatuhkan buah-buahan di kepalanya. Pemandangan itu adalah metafora yang tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia saat ini –indah, tertata dengan serasi, dan tidak ragu-ragu menggunakan kekerasan (lihatlah Timor)."

Mugkin Anda juga akan bersepakat ketika kemolekan Bali sebagai pulau para dewa meluntur dari jiwa Franz. Ia menemukan keeksotisan pemandangan kerbau berkubang lumpur, candi-candi berlapis lumut, pantai-pantai cantik terpencil, dan perahu nelayan dalam kondisi mengenaskan, kehilangan pesona oleh pesatnya keramaian.

Membaca kisah perjalanan yang menyentuh yang diselingi berbagai pengalaman mengundang senyuman, sepertinya Anda akan tergelitik untuk memeriksa kehidupan saat ini yang mungkin terkungkung dalam rutinitas yang stagnan. Barangkali, Anda akan terpikir mengambil keputusan untuk minggat dari semuanya, membawa diri ke dalam arus petualangan yang baru, menyatroni lokasi-lokasi unik dan menarik yang selama ini hanya merayap dalam imajinasi Anda. Bisa saja Anda akan membayangkan hal anyar yang belum pernah mekar dalam benak Anda: tawar-menawar permadani yang dijual pedagang permadani Turki. Atau percintaan singkat penuh gairah dengan seorang penyanyi dan model yang lagi populer di negeri asing. Atau, bahkan mengindikasikan diri Anda sebagai suporter dari salah satu tokoh dunia yang dikagumi di berbagai negara (seperti George W. Bush di Suriah dan Pulau Komodo).

Honeymoon with My Brother membuktikan bahwa memoar pun jika ditulis dengan baik dan menarik, akan membuat pembaca terpaku tak berhenti membaca sebelum kata demi kata habis disadap bak getah pohon karet yang terus deras mengalir. Franz berhasil menyuguhkan kisah perjalanan dengan narasi yang bernas dan mengharukan serta tak pernah kehilangan pesonanya. Hingga pada akhirnya, ketika metamorfosis berlangsung, dari seorang lelaki 'cengeng' menjadi pejantan tangguh yang sanggup menghadapi apa yang dunia anugerahkan padanya.

Tak terlupakan esai-esai menarik yang diselipkan Franz Wisner dalam mengapresiasi berbagai pengalaman yang dihadapinya. Mungkin apa yang ditulisnya bisa menolong Anda ketika bertualang dan menemukan: pedagang asongan yang keras kepala, kehidupan mencengangkan para backpacker, buku panduan perjalanan yang obsolet, kemampuan Brazil menciptakan kecanduan, dan sopir-sopir taksi di Dunia Ketiga yang menyebalkan. Selain itu, Anda juga bisa mengikuti tulisan berjudul Quincy yang singkat namun menyentuh,   dan tentu saja, Dunia Kita Yang Miskin (The Poor Ole World of Ours), yang jadi favorit saya.

Salut buat penerjemahan yang dilakukan Berliani M. Nugrahani untuk mentransformasi apa yang disampaikan Franz Wisner ke dalam bahasa Indonesia. Kalimat-kalimat terangkai elegan dengan tingkat keterbacaan yang tinggi. Alhasil, pemikiran seorang asing bisa mengendap dengan enteng ke dalam benak pembaca Indonesia. Ya, setidaknya, itulah persepsi saya.

Bagi yang belum tahu, Franz Wisner benar-benar sudah tidak patah hati lagi. Ia telah menikahi Tracy Middendorf, seorang aktris beranak satu. Perempuan yang antara lain pernah tampil dalam serial Angel, Ally McBeal, dan Six Feet Under telah memberikannya seorang anak laki-laki. Menurut pengakuan Franz, Tracy telah menjadikan hidupnya selalu ceria (baca bagian 'ucapan terima kasih') dan mengukuhkan mantan pelobi, eksekutif humas, dan sekretaris pers pemerintah ini sebagai ayah kandung dari seorang anak laki-laki, Juli  2005. 

Waktu telah membuktikan, Annie memang bukan jodoh Franz Wisner. Karena kalau tidak, saya dan kau, mungkin, tidak akan pernah membaca Honeymoon with My Brother.  Bisa jadi, inilah yang disebut ibu Franz sebagai 'berkah' ketika putranya memberitahunya tentang pembatalan pernikahannya (hlm. 14). 

1 comments:

Annur Raushania said... Reply Comment

bagus resensinya

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan