12 February 2012

The Hunt For Atlantis



Judul Buku: The Hunt For Atlantis
Penulis: Andy McDermott (2007)
Penerjemah: Yohanna Yuni
Tebal: vi + 642 hlm; 14 X 20 cm
Cetakan: 1, 2008
Penerbit; GagasMedia





Kehidupan Nina Wilde tidak dapat dilepaskan dari legenda Atlantis, pulau yang terbenam ke dalam laut dan hilang dari sejarah, yang disinggung Plato dalam karyanya, Timaeus dan Critias. Sejak kecil, ia telah mengenal Atlantis dari kedua orangtuanya. Karenanya, hingga ia dewasa, dan kedua orangtuanya telah tiada –tewas dalam ekspedisi mencari Atlantis di Tibet, pulau itu terus mengusik keingintahuannya.

Setelah menjadi doktor di bidang arkeologi, Nina mengajukan proposal kepada universitasnya untuk membiayai ekspedisi pencarian pulau yang konon telah menghilang lebih dari 11 ribu tahun ini. Ia bermaksud menyelesaikan obsesi Henry dan Laura Wilde. Sayangnya, bahkan Profesor Jonathan Philby, yang adalah teman orangtua Nina, tidak mendukung proposalnya. Padahal, Nina yakin, Atlantis benar-benar tidak sekadar legenda dan ia bisa memastikan lokasinya di peta.

Kekecewaan Nina karena proposalnya ditampik, tidak berlangsung lama. Adalah Kristian Frost, seorang milyarder asal Norwegia, menawari Nina untuk membiayai ekspedisi yang akan Nina lakukan. Ia juga yang dulu mendanai orangtua Nina dalam ekspedisi pencarian Atlantis ke Himalaya yang mengakhiri hidup mereka. Tetapi belum bertemu Frost, Nina sudah nyaris dibunuh. Untunglah, Frost telah mengutus Eddie Chase, mantan anggota SAS yang bekerja untuknya, menyelamatkan dan membawa Nina ke kediamannya di Ravnsfjord, Norwegia.

Sebagai langkah awal, mereka harus mengambil pecahan orichalcum, (logam yang ditambang di Atlantis) dan hologram yang dijual Yuri Volgan melalui Failak Hajjar, seorang mantan penjarah makam asal Iran. Nina akan memastikan bahwa artefak yang dijual itu benar-benar seperti pengakuan Volgan. Meski gentar pergi ke negara bagian dari Poros Setan, Nina diteguhkan karena Chase dan Kari, putri Frost, akan bersamanya. Tetapi, urusan dengan Hajjar tidak berjalan dengan baik. Sebab, Hajjar tidak akan membiarkan artefak yang diinginkan Frost melayang dari tangannya, tanpa mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Nina dan kawan-kawan tidak tinggal diam. Hajjar tidak boleh merintangi perjalanan mereka.

Setelah menaklukkan Hajjar, Nina dan kawan-kawan pergi ke Prancis. Di sana, Nina mencoba menerjemahkan simbol yang ada pada artefak. Namun, tidak semua bisa diterjemahkan. Jonathan Philby diundang Frost untuk menolong menganalisis artefak itu. Berhasil, misteri pun terpecahkan. Perburuan segera diarahkan ke pedalaman Amazon. Benar, di pedalaman Amazon, tim ekspedisi Nina menemukan replika kuil Poseidon lengkap dengan peta yang menunjukkan keberadaan Atlantis. Kekaguman mereka tak berlangsung lama, karena secara tiba-tiba, Qobras datang bersama gerombolannya dan menghancurkan kuil ini.

Untunglah Nina telah mengetahui di mana Kuil Poseidon yang asli berada, yang menunjukkan tempat Atlantis dulu menghias sejarah. Qobras memang bisa menjangkaunya terus hingga di lokasi tersebut dan menjadikan Nina tawanan. Tetapi, Nina masih memegang rahasia keberadaan Kuil Poseidon yang terakhir. Qobras harus menemukan kuil itu untuk memusnahkannya. Supaya tidak ada peninggalan Atlantis yang tersisa.

Mengapa Persaudaraan Selasphorus merintangi terus usaha pencarian peradaban yang hilang ini? Mengapa juga dengan mudah mereka bisa menemukan jejak Nina dan kawan-kawan? Lalu, apakah kucuran dana dari Frost untuk menemukan Atlantis hanya sekadar sumbangannya untuk kejayaan dunia arkeologi?

Dalam perburuan tersebut, Nina tidak hanya bakal mengetahui rahasia kematian orangtuanya. Ia juga bisa mengetahui rahasia yang disembunyikan Kristian Frost sehubungan dengan kerelaannya mendanai perburuan mencari Atlantis. Maka, perjuangan Nina untuk menuntaskan obsesi kedua orangtuanya, berubah menjadi perjuangan hidup dan mati.

Sebuah novel yang menegangkan, bergerak sangat cepat, dan nyaris tidak menyisakan peluang bagi pembaca untuk menarik napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan. Bahkan sejak prolog, sang novelis telah memantik ketegangan yang terus berkelanjutan seolah-olah tak akan bersudah. Beberapa adegan sanggup membuat pembaca tercekat karena sangat mudah dibayangkan. Belum lagi intrik yang mengundang rasa penasaran yang tinggi. Alhasil, novel ini menjadi suguhan sinematis yang seru dan memikat yang tidak akan ditinggalkan pembaca sebelum habis disikat. Tidak heran jika suatu waktu ada yang tertarik untuk memindahkan adegan-adegan dalam novel ini ke versi layar lebar beranggaran besar.

The Hunt For Atlantis (Perburuan Jejak Atlantis) merupakan novel debutan nan eksplosif dari Andy McDermott, penulis kelahiran Halifax (West Yorkshire) yang sekarang tinggal di Bournemouth. Telah dialihkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, salah satunya bahasa Indonesia. Edisi Indonesia ini diterbitkan oleh GagasMedia, yang tampaknya, mulai mengarahkan perhatian pada penerbitan novel terjemahan yang tidak kalah dengan penerbit lain.

Oleh McDermott, pada akhir novel, kita bisa mengetahui jika ada cinta muncul di antara mereka. Tentu saja hal ini bukan sekedar memberi warna romantis dalam The Hunt For Atlantis. Sebab, McDermott tidak akan mengakhiri petualangan mereka di sini.

Pada penghujung novel, kita juga diberi tahu jika Eddie Chase pindah ke New York. Ia ditawari pekerjaan baru yang sangat menantang. Setelah tahu Atlantis, yang dikenal sebagai legenda, benar-benar nyata, Perserikatan Bangsa-bangsa akan membentuk semacam badan pelestarian arkeologi internasional untuk mencari mitos-mitos kuno lain yang kemungkinan juga memang ada dengan maksud melindunginya. Dan Nina dipilih sebagai penanggung jawab. Jadi, Eddie akan terus menemani Nina.

Maka, setelah The Hunt For Atlantis (November 2007), McDermott telah menerbitkan seri petualangan Eddie dan Nina yang lain, yakni The Tomb of Hercules (Juni 2008), The Secret of Excalibur (November 2008) dan The Covenant of Genesis (beredar Mei 2009). Melihat jarak penerbitan antara satu buku dengan buku yang lain, kalau tidak McDermott ngebut menulis, tampaknya sebelum diterbitkan, ia telah menulis setidaknya 2 sekuel. 

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan