12 February 2012

The Wind in the Willows


Judul Buku: The Wind in the Willows
Pengarang: Kenneth Grahame (1908)
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Tebal: 135 hlm, hardcover
Cetakan: 1, April 2010
Penerbit: Mahda Books





Pada tahun 1908, Kenneth Grahame, penulis berkebangsaan Inggris, berhenti dari pekerjaannya di Bank of England dan menetap di sebuah kota tua di tepi Sungai Thames. Kehidupannya di sana mengeriapkan ide sejumlah karakter yang kemudian dituangkannya dalam buku anak-anak berjudul The Wind in the Willow (Embusan Angin di Pohon Dedalu). Buku yang ditulis sebagai hadiah untuk putranya Alastair yang mengalami gangguan penglihatan ini meraih kesuksesan dan disukai banyak orang; tua maupun muda. Popularitasnya dikukuhkan dalam bentuk sandiwara, film layar lebar dan film TV, serta drama radio.

The Wind in the Willow berkisah tentang petualangan dan persahabatan empat karakter antropomorfis  yaitu Tikus Tanah,  Tikus Air,  Luak, dan Katak. Tikus Tanah yang agak pemalu meninggalkan rumah dan pekerjaannya menuju Tepi Sungai. Di sana ia bertemu dan menjalin persahabatan dengan Tikus Air yang ramah dan sangat mencintai sungai. Berkat Tikus Air, Moly mengenal Luak yang pendiam, bijaksana, dan senang menyendiri. Luak akan selalu mendatangi para sahabat jika mereka terlibat masalah. Satu-satunya yang kerap bermasalah adalah Katak yang berperangai sombong dan suka membual. Dengan kekayaannya, Katak bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Tetapi karena tidak terlalu cerdas, ia tidak pernah belajar dari pengalaman. Tidak heran, suatu hari, ulahnya mengantarnya terperangkap dalam penjara. Untunglah ada yang mau membantunya minggat sehingga tidak usah terkurung selama 20 tahun sesuai vonis. Saat pulang kampung, Katak mendapati purinya yang ditinggalkannya selama bertualang telah diduduki rase, cerpelai, dan musang. Katak memang tidak pernah mempan dinasihati, namun ketika ia membutuhkan bantuan, para sahabat tidak mungkin hanya bergeming.

Mustahil menahan tawa –atau minimal senyum, selama membaca buku ini. Bayangkan saja: para hewan yang sejatinya berpenampilan tidak 'ramah mata' hidup, bersikap dan bertingkah persis seperti manusia. Mereka menyandang kekurangan dan kelebihan manusia yang bisa membuat pembaca malu hati. Yang paling merebut perhatian –sekaligus menyebalkan- so pasti karakter Katak yang hiperaktif, kekanak-kanakan, dan tinggi hati. Setelah ditolong merebut kembali purinya, alih-alih berterima kasih atas kebaikan para sahabat, ia menganggap dirinya pahlawan. Untunglah belakangan, ia mau mengubah sikapnya yang tidak terpuji.

Sebagai bacaan yang ditujukan kepada pembaca anak-anak, The Wind in the Willows sudah pasti berlumur elemen didaktis. Karenanya, dengan membaca buku ini, pembaca anak-anak berpotensi terdorong untuk bersosialisasi, solider jika ada yang tertimpa masalah, saling menghargai, dan tentu saja, tidak bersikap tinggi hati.

Kenneth Grahame tidak menulis sekuel buku yang disebut-sebut terjual lebih dari 100 juta kopi dan telah dicetak lebih dari 250 edisi berbagai versi ini. Namun pesona kisahnya tidak terkikis waktu (salah satu bukti adalah terbitan Mahda Books ini). William Horwood telah melanjutkan kisah empat sekawan antropomorfis ini dalam sekuel: The Willows in Winter, Toad Triumphant, The Willows and Beyond, dan The Willows at Christmas

Edisi Indonesia ini merupakan versi yang lebih ramping dari edisi asli berbahasa Inggris. Meskipun demikian, dari cerita tidak ada masalah dan penerjemah tetap konsisten dengan penokohan yang dikemas secara gemilang oleh pengarang. Barangkali, karena target utamanya pembaca anak-anak, penerjemah tidak terlalu setia dalam penerjemahan judul-judul bagian dalam buku. Tidak masalah sebenarnya, namun berkemungkinan menghalang maksud pengarang. Pada bagian penutup yang berjudul "The Return of Ulysses" diterjemahkan sebagai "Kepulangan Katak". Saya percaya melalui judulnya, Grahame sedang berolok-olok, membandingkan petualangan si katak dengan Ulysses (Odysseus).

Walaupun sudah tua lontok, kisah dalam buku ini tidak melapuk, masih bernilai untuk ditambang. Nasibnya memang sudah lama ditentukan: menjadi bacaan klasik yang akan tetap dibaca sepanjang masa. Sudahkah Anda membacanya?

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan