12 February 2012

The Book of Lost Things

 
Judul: The Book of Lost Things 
Penulis: John Connolly (2006)
Penerjemah: Tanti Lesmana
Tebal: 472 hlm, 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, 2008
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 


          


Yang namanya dongeng selalu diidentikkan dengan kanak-kanak. Saat kanak-kanak, tidak terhitung lagi dongeng yang telah saya baca. Tapi, John Connolly, seorang penulis Irlandia menulis The Book of Lost Things -Kitab Tentang Yang Telah Hilang, untuk pembaca dewasa dan hampir dewasa. Alasannya, "Sebab dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya, dan dalam diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa" (hlm. 5). Dengan kata lain, Connolly hendak mengatakan bahwa sebenarnya dongeng bisa pula dinikmati oleh orang-orang yang mulai dan telah meninggalkan masa kanak-kanak. Meski tidak mengandung elemen erotis seperti Stardust karya Neil Gaiman (tidak banyak sih, tetapi tetap erotis), label Novel Dewasa disematkan pada edisi Indonesia novel ini. 

Jagoan utama novel ini adalah David, seorang kutu buku, yang ketika diperkenalkan, baru berusia 12 tahun. Kala ibunya sakit, David sering membacakan cerita-cerita untuk ibunya yang gandrung mitos, legenda, dan dongeng-dongeng. Setelah ibunya meninggal, koleksi buku ibunya memperkaya koleksi David. Ayah David,  waktu itu seorang dosen matematika, memang tidak menggemari buku cerita. 

Sekitar 6 bulan sepeninggal ibunya, ayah David memutuskan menikahi pimpinan rumah sakit tempat ibu David pernah dirawat. Seorang perempuan bernama Rose, yang telah hamil lebih dahulu (tidak terdengar untuk konsumsi kanak-kanak kan?). Saat itu November 1939, perang siap meledak, tentara Hitler telah melintasi Eropa, banyak orang meninggalkan London menghindari perang. Tak lama lagi pesawat pengebom akan mampir di langit London, menghujani kota di bawahnya. Selang 6 bulan kemudian (tahun 1940), Rose melahirkan Georgie. Keluarga ini pun pindah ke barat laut London, mendiami sebuah rumah tua warisan kakek dan nenek Rose. David mendapatkan sebuah kamar penuh buku dan rak buku, bekas kamar Jonathan Tulvey, paman Rose yang hilang pada usia 14 tahun bersama seorang anak perempuan benama Anna. Dari Rose -kendati mereka sulit akur, David mengetahui jika Jonathan suka melahap buku seperti dirinya. Akan tetapi, akibat membaca, Jonathan menjadi takut serigala dan acap bermimpi dikejar-kejar serigala dari buku yang dibacanya. 

Sementara itu, sejak pingsan di Trafalgar Square pada pertemuan perdana dengan Rose, David bisa mendengar suara-suara di kepalanya. Menyusul suara-suara itu, berbagai citra tentang dunia yang tidak ia kenal menyerbu ingatannya. Kemudian, setelah menghuni kamar Jonathan Tulvey, ia bisa mendengar buku-buku bersuara. Dan dalam mimpinya, seorang lelaki bungkuk berwajah panjang menyatroninya. Pada salah satu mimpi, si Lelaki Bungkuk berkata: "Kami menunggu. Selamat datang, Yang Mulia. Beri hormat pada raja yang baru!" 

Semuanya keanehan itu terus mengusik David hingga suatu malam, ia terjaga dari tidur, keluar dari kamar, bertepatan dengan bom berjumpalitan dari pesawat pengebom di dekat rumahnya. Di kebun cekung, ia berlindung di lubang tembok. Seketika  ia  masuk ke sebuah hutan, menyeberang ke dunia lain yang telah mengusiknya sejak pingsan di Trafalgar Square. Manusia pertama yang dijumpainya adalah Tukang Kayu yang kebetulan baru memenggal leher sesosok Loup –manusia serigala. 

Dunia lain yang diseberangi David adalah sebuah kerajaan yang sedang mengalami perubahan. Raja tua yang sudah lama memerintah tidak bisa mengendalikan kerajaannya lagi. Kaum Loup dan simpatisannya (serigala-serigala) bermaksud melakukan kudeta; menegakkan pemerintahan baru.  Si Tukang Kayu ingin memulangkan David ke dunianya, Inggris. Sayangnya kejahilan si Lelaki Bungkuk –si penjelajah mimpi David, membuat David tidak bisa pulang. Diduga, Raja tahu alasan tindakan Lelaki Bungkuk dan bisa membantu David. Raja memiliki Kitab Tentang yang Telah Hilang yang telah menolongnya melewati masa-masa sulit dan penuh keraguan. Mungkin kitab itu memuat petunjuk bagi David untuk pulang. 

Kendati jalan menuju kastil tidak gampang ditempuh, Tukang Kayu siap menolong David menunju singgasana Raja. Serigala-serigala semakin banyak, semakin berani, semakin cerdas, semakin sulit dibunuh. Di bawah kepemimpinan Loup bernama  Leroi, para serigala menguntit dan menghalang-halangi perjalanan David. Mereka berhasil memepet David dan si Tukang Kayu di jembatan yang dijaga troll. David lolos, tetapi si Tukang Kayu terkepung serigala. Perjalanannya berlanjut, dan tanpa disadarinya Lelaki Bungkuk mengiringi perjalanannya. 

Maka, bertemulah David dengan tujuh kurcaci yang hidup dalam penindasan Snow-White; seorang pemburu perempuan yang ingin menjadi centaur; penunggang kuda putih bernama Roland yang sedang mencari sahabatnya yang hilang; tidak semuanya membantu memuluskan perjalanan David. Setelah Roland menemukan sahabatnya, David melanjutkan perjalanan. Ia tiba di  kastil kerajaan, tidak mengetahui Kaum Loup menyusul di belakangnya, siap menggulingkan kekuasaan Raja. 

Apakah David akan mendapatkan jalan pulang dari Kitab Tentang Yang Telah Hilang setelah meretas perjalanan panjang penuh marabahaya? Jawabannya terdapat pada bagian-bagian pamungkas novel. Namun sejatinya, kitab itu bukanlah hal paling krusial yang ditemukannya di kastil Raja. Sebab di sana, David akan menemukan jawaban semua misteri yang pernah didengar, dialami, dan dipertanyakannya. Jawaban-jawaban yang akan mencelikkan mata David bagaimana seharusnya menyikapi orang-orang terdekat, yang ada di sekitarnya. 

Menurut saya, novel ini adalah novel pendewasaan diri. "Kau masih anak kecil waktu pertama kali kutemukan, tapi sekarang kau telah menjadi orang dewasa," kata salah satu karakter yang ditemui David menjelang novel usai. Memang, tidak gampang menjadi orang dewasa. Berbagai tantangan yang lebih berat akan harus dihadapi. Perjalanan penuh marabahaya yang disusur David adalah proses pendewasaan dirinya, mengalihkannya dari amarah, iri, dan keangkuhan. Kita akan menemukan jika pada akhir perjalanan David benar-benar berhasil mendewasakan diri meski tidak otomatis dibarengi kematangan raga. David, seperti halnya si Raja, memiliki 'Kitab Tentang Yang Telah Hilang' sendiri. Tapi, dengan akhir yang jauh berbeda

Jujur, saya suka baca buku ini. Bukan sekedar karena kesadaran Connolly akan manfaat dongeng lalu melekatkan edukasi di tubuh novelnya dengan pas. Tapi, Connolly, yang dalam karier kepengarangannya telah mendapatkan penghargaan Shamus Award (2000) dan Barry Award (2003), memang narator lihai. Ia telah menghasilkan karya dalam berbagai genre: horor, detektif, sci-fi, dan drama. Novel ini menambah wilayah penulisannya, cerita fantasi yang imajinatif, nakal, dan kocak. 

Negeri tempat David terlontar dari Inggris adalah sebuah negeri tempat tokoh-tokoh dongeng tradisional diolok-olok. Alhasil, kita akan digelitik untuk tertawa. Little Red Riding Hood yang lugu bertindak sebagai perempuan penggoda. Ia berhasil 'bercampur' dengan serigala dan melahirkan generasi pertama kaum Loup. Snow-White malihrupa perempuan rakus menyebalkan yang menindas para kurcaci. Para kurcaci (sebenarnya ada 8, tetapi salah satunya telah dijauhi yang lain karena telah menjadi kapitalis) mencoba meracuninya dengan apel, tapi dosis racunnya kurang sehingga kecupan pangeran sialan segera membangunkannya. Sleeping Beauty yang tinggal di kastil yang berpindah-pindah seiring gerak perputaran bulan; dikutuk bukan untuk tidur, melainkan menjadi pembunuh. Belum lagi Rumpelstiltskin, si kate yang bisa meng-emas-kan jerami, menjadi si Lelaki Bungkuk pemakan jantung anak-anak. Atau kehidupan Hansel dan Gretel dengan akhir yang tidak menggembirakan. 

Novel yang membuat saya mengingat masa-masa meninggalkan periode kanak-kanak ini kabarnya akan diadaptasi ke dalam film oleh sutradara Irlandia, John Moore. Jadi, sebagai pemanasan, tidak rugi membaca novelnya dulu. Anda mungkin akan dibenturkan pada sebuah pertanyaan: kapan "The Book of Lost Things" Anda ditulis? Jangan-jangan, belum pernah ditulis sama sekali.


0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan