12 February 2012

The Last Concubine


Judul Buku: The Last Concubine
Penulis: Lesley Downer
Penerjemah: Yusliani Zendrato
Penyunting: Nadya Andwiani
Tebal: 658 hlm; 14 x 21 cm
Cetakan: 1, November 2008
Penerbit: Matahati



Bunga Lili Putih di Atas Tandu Permata




1861. Putri Kazu (1846-1877), putri bungsu Kaisar Ninkô dari selirnya Hashimoto Tsuneko, meninggalkan Kyoto menuju Edo. Dara berusia 15 tahun ini dipersunting Shogun Iemochi, shogun ke-14 dari klan Tokugawa. Menjadi istri Iemochi, berarti Kazu harus mengakhiri pertunangannya dengan Pangeran Arisugawa Taruhito. Di Edo, Putri Kazu terperangkap dalam kehidupan Kastil Edo, sebuah kastil yang dibangun pada masa kekuasaan Lord Ieyasu, shogun Tokugawa yang pertama. Namun, pernikahan Kazu dengan Iemochi tidak berlangsung lama. Pada usia 19 tahun, shogun yang berkuasa sejak usia 12 tahun ini meninggal. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan menuju Osaka. Sejarah mencatat, setelah Iemitsu, shogun Tokugawa ke-3, berkunjung ke Kyoto, di era Kan'ei, tak seorang pun shogun pernah meninggalkan kastil. Iemochi, menjadi shogun kedua yang melakukannya. Sebelum Iemochi pergi, Putri Kazu memberikan salah seorang pelayannya untuk menjadi teman tidur shogun. Pelayan itu menjadi selir terakhir shogun Tokugawa.

Latar historis inilah yang dijadikan sandaran novel The Last Concubine karya Lesley Downer. Perempuan yang pernah tinggal dan bekerja selama 5 tahun di Jepang ini mengadoptasi selir yang tak terkenal itu untuk menjadi karakter utama novel. Sang selir diberi nama Sachi seperti nama istri Lord Ieyoshi, shogun Tokugawa ke-12.

Sachi, yang berarti 'Kebahagiaan' diperkenalkan sebagai gadis petani yang tinggal di sebuah desa di Lembah Kiso. Tatkala Putri Kazu singgah di rumahnya dalam perjalanan menuju Edo, ia memutuskan membawa Sachi untuk melayaninya. Dalam usia 11 tahun, Sachi memang sudah menampakkan kecantikan aristokrat. Ia berkulit pucat, bermata hijau dan, tentu saja, tidak pantas menjadi istri petani.

Pada usia 15 tahun, atas keinginan shogun, Sachi, yang diberi nama Oyuri (Bunga Lili Putih), naik pangkat menjadi dayang berpangkat menengah. Status barunya ini mengukuhkan dirinya sebagai selir sang shogun. Ia pun diberikan Putri Kazu kepada suaminya yang hendak melakukan perjalanan ke Osaka. Diharapkan, Sachi bisa melahirkan keturunan guna mewarisi kekuasaan Iemochi. Kenaikan status Sachi menjadi Lady Shoko-in mengejutkan hampir 3000 perempuan yang tinggal di Kastil Edo. Sebab, di antara mereka, hanya sedikit yang punya peluang dipilih sebagai selir meski banyak yang mendambakan kehormatan itu. Sisanya, akan menghabiskan hidup dalam kastil tetap sebagai perawan.

Namun, menurut Haru – penghuni kastil yang menjadi guru Sachi-  menjadi selir shogun tidak lantas mengantar seorang perempuan ke puncak kebahagiaan. Seorang selir shogun Ieyoshi, yang berwajah cantik seperti Sachi, pernah mencari kebahagiaan dengan mengkhianati shogun. Hingga kini, ia lenyap tanpa jejak.

Setelah meniduri Sachi semalam, shogun meretas perjalanan menuju Osaka. Dan, ia tidak pernah kembali menginjak tampuk kekuasaan. Diberitakan, ia meninggal karena serangan jantung yang disusul dengan penyakit beri-beri. Tidak semua penghuni kastil percaya. Ada yang menduga, shogun mati karena diracun.

Kematian Lord Iemochi memanaskan situasi politik Jepang yang mulai menghangat sejak datangnya Kurofune (Kapal Hitam), 4 kapal besar Amerika yang berlabuh di Pelabuhan Uraga (Yokosuka) 14 Juli 1853. Apalagi setelah Lord Yoshinobu yang menggantikan Iemochi mencampakkan kekuasaan dan menyerahkannya kepada kaisar. Tak dapat dicegah lagi, perang saudara pun meledak, membagi Jepang dalam dua kutub, Utara dan Selatan (Downer menyatukan Satsuma, Choshu, Tosa, sekutu-sekutu mereka dan menyebut sebagai 'orang selatan' berdasarkan letak geografis). Para ronin, samurai tak bertuan dari selatan menyerbu Edo, membunuh pendukung shogun Tokugawa, dan bermaksud menculik Putri Kazu setelah membakar kastil.

Sachi harus mengorbankan diri. Ia diminta menyamar sebagai Putri Kazu dan ditandu meninggalkan kastil. Sachi sudah berusia tujuh belas tahun dan harus bisa menepis rasa gentar. Bagaimanapun, selama berada di kastil ia telah dilatih menjadi seorang samurai. Taki, pelayan asal Kyoto, bersikeras mengikuti Sachi. Dalam perjalanan, rombongan yang membawa Sachi diserang orang-orang selatan. Sachi dan Taki bisa selamat atas pertolongan tiga ronin pro Tokugawa asal Kano. Ronin-ronin itu bahkan memutuskan melindungi Sachi yang dikira sebagai Putri Kazu dengan membawanya menuju Kano. Namun, meski selamat sampai Kano, bahkan sempat singgah di Kiso untuk bertemu keluarganya, Sachi mesti tetap kembali ke Edo. Selain ia merasa tidak seperti dulu lagi, di rumah orangtua angkatnya ia mengetahui jika Daisuké, ayah kandungnya, tengah mencarinya. Lelaki yang belum pernah ditemuinya ini sedang dalam perjalanan menuju Edo. Karena Shinzaemon, salah satu dari ketiga ronin yang menolong Sachi, memutuskan akan kembali bergabung dengan pasukan pembela Klan Tokugawa di Bukit Ueno, Edo, maka Sachi dan Taki berangkat ke Edo bersama-sama. Meretas kembali jalan yang pernah mereka tempuh sebelumnya.

Di ujung perjalanan mereka, pertempuran menanti. Dan ketika Sacchi akhirnya bersua dengan ayahnya, ia menemukan kenyataan jika Shinzaemon mungkin telah tewas dalam pertempuran di Bukit Ueno.

Apakah Shinzaemon benar-benar telah tewas tanpa ditemukan jenazahnya? Akankah Sachi bertemu dengan perempuan yang telah melahirkannya? Siapa sebenarnya perempuan ini sehingga tega  melepas anaknya untuk diasuh orang lain? 


Lesley Downer
The Last Concubine yang pertama kali diterbitkan tahun 2008 merupakan karya fiksi pertama Lesley Downer. Sebelumnya, perempuan kelahiran London ini dikenal sebagai penulis buku-buku nonfiksi yang berkaitan dengan Jepang seperti On the Narrow Road to the Deep North, The Brothers, serial A Taste of Japan, The Secret History of a Vanishing World, dan Madame Sadayakko. Untuk itu, demi menghidupkan penghujung zaman Edo hingga Restorasi Meiji, Downer melakukan serangkaian riset. Tentu saja masa tinggalnya di Jepang membantu proses kreatifnya. Tetapi hal itu tidak lantas membuatnya enteng mengeksplorasi Jepang masa lampau. Ia pun melakukan sejumlah konsultasi dengan pakar sejarah Jepang; membaca biografi samurai-samurai zaman Edo (1603-1867), novel-novel, puisi, karya akademis tentang zaman Edo; bahkan juga kehidupan para perempuan penghuni Kastil Edo.

Oleh sebab itu, The Last Concubine hadir dengan sejumlah fakta historis. Sachi dan kisah hidupnya memang hanya lahir dari imajinasi Downer. Namun, kerangka sejarah yang ada dirangkai seakurat mungkin. Pertempuran, kejadian politik, bahkan cuaca yang digambarkan Downer benar-benar seperti yang pernah terjadi. Demikian juga intrik dan pembunuhan yang ada. Nama-nama selir sesuai catatan sejarah; bahkan Lady Okoto, selir Ieyoshi, yang menjalin hubungan dengan tukang kayu berparas seperti pemain kabuki, Sojiro Sawamura. Referensi mengenai emas Tokugawa yang diselundupkan Lord Oguri keluar Edo ketika Lord Yoshinobu berkuasa dan dikuburkan di kaki Gunung Akagi didapatkannya dari catatan kaki sejarah perusahaan Mitsui. Sedangkan kehidupan perempuan dalam kastil Edo diperolehnya dari buku karya penulis Jepang, Takayanagi Kaneyoshi, Edojo ook no seikatsu (Life in the Women's Palace at Edo Castle). Ia mengkreasi istana yang tampak tenang tetapi penuh persaingan dan kebencian, tempat para perempuan Jepang berkubang, mendambakan kekuasaan dan kehormatan. Juga tempat perempuan berselingkuh, dan tak tertutup kemungkinan, menjalin hubungan sesama jenis.

Menurut Downer, sejarah selalu ditulis oleh pemenang (perang) dan bukan pihak lain. Seperti dalam kasus perang saudara Jepang yang memuncak tahun 1868 –Restorasi Meiji. Perang saudara ini digambarkan sebagai revolusi 'tak berdarah'. Tetapi, menurutnya, perang ini pasti bukannya tidak berdarah. Maka, ia pun menggelar perang berlepotan darah antara orang utara dan selatan yang menggiring pihak selatan pada kekalahan.

Dalam novel setebal 658 halaman ini, kita tidak hanya akan bersamplokan dengan fakta sejarah dan pertempuran berdarah. Menggunakan karakter fiktif Sacchi, yang ditempatkan di tengah-tengah fakta, Downer mengkreasi kisah cinta yang lembut dengan Shinzaemon, ronin pro Klan Tokugawa. Downer mengaku menjadi tantangan baginya menulis kisah cinta berlatar belakang suatu masyarakat yang tidak memiliki konsep tentang cinta yang romantis dan tak mengenal kata 'cinta'. Tapi toh ia bisa juga menghasilkan kisah cinta dengan takaran yang cukup yang bisa menyelamatkan novel ini dari stempel novel romantis belaka. 

Tapi, tentu saja, The Last Concubine, tidak bisa begitu saja dikategorikan sebagai novel sejarah. Downer memang memanfaatkan salah satu bagian sejarah Jepang yang menjadi tonggak keterbukaan mereka dengan dunia luar, menggunakan beberapa tokoh yang pernah hidup masa itu, tetapi Sachi, sang karakter utama tidak pernah hidup. Demikian juga Shinzaemon. Apakah sebuah karya fiksi yang menggunakan latar belakang sejarah otomatis bisa disebut novel sejarah padahal tokoh utamanya sekedar fiktif belaka?

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan