12 February 2012

First Love Forever Love


Judul Buku: First Love Forever Love
Pengarang: Shu Yi (2009)
Penerjemah dari Bahasa Mandarin: Pangesti Bernardus
Format: 13 x 20,5; 545 hlm
Cetakan: 1, Maret 2010
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta






"Semasa remaja, aku mengira, cinta bisa melebihi segalanya. Ketika itu aku belumlah mengerti bahwa ternyata di dunia ini masih ada kekuatan lain, yang dinamakan takdir. Kita tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya, dan hanya bisa menerimanya."



Kutipan di atas menjadi pembuka novel bertajuk First Love Forever Love (Cinta Pertama Abadi Selamanya) karya pengarang novel populer Hongkong, Shu Yi. Kenyataanya, kutipan ini menggambarkan secara ringkas novel yang berlatar utama Odessa, sebuah kota pantai di selatan Ukraina.

Menggunakan sudut pandang orang pertama, Shu Yi mengisahkan kehidupan Zhao Mei, seorang gadis Cina berusia awal 20-an yang bersekolah di sebuah sekolah musik di Odessa. Ia belum pernah mencintai seorang lelaki dengan dalamnya hingga mau memberikan keperawanannya kepada lelaki itu. Namun, ketika bertemu Sun Jiayu, lelaki Cina yang menjalankan bisnis perusahaan pabean yang dikenal sebagai Pabean Abu-abu di Odessa, ia tidak menolak mencintai lelaki dengan sangat, termasuk merelakan keperawanannya direnggut sebelum terikat pernikahan.

Sun Jiayu adalah lelaki berduit dan bermata keranjang. Setelah memerawani Mei ia mengigatkan, "Jika kau bersedia mengikutiku, aku tidak akan menyia-nyiakanmu, tetapi aku harus mengatakan kepadamu bahwa aku tidak berencana menikah. Seumur hidupku tidak akan menikah. Jika kau merasa keliru, hubungan kita berakhir sampai di sini." (hlm. 130).

Kendati awalnya gemas dengan kelakuan Sun Jiayu, Mei mengikuti irama kehidupannya. Ketika laki-laki yang menjadi target operasi kepolisian Odessa karena bisnis penyelundupan ini mengajak Mei hidup bersama tanpa menikah, Mei tidak berpikir panjang lagi. Jiayu memang bukan sekadar memiliki kegantengan yang dengan mudah membawa banyak perempuan ke dalam pelukannya, ia juga seorang lelaki baik hati yang mudah tergerak membantu orang lain. Untuk Mei, Jiayu memberikan piano yang tidak terbeli oleh Mei dan seorang guru piano berkelas untuk membantu Mei mengasah kemampuannya. Mei menerima kebaikan hati Jiayu dan juga syarat yang ditetapkan bahwa ia tidak boleh lagi bertemu sahabatnya, Andrei Vladiminovic, polisi muda Odessa yang mencintainya. Tidak terlalu berat bagi Mei karena ia memang tidak mencintai Andrei. Apalagi, Jiayu telah merencanakan masa depan bagi Mei: meneruskan sekolah musik di Austria.

Lama setelah meninggalkan Odessa, Mei baru menyadari suatu hal. "Aku tidak pernah tahu seperti apa masa lalunya dan tidak pernah bisa menggenggam masa depannya."(hlm, 382). Jiayu memang memiliki masa lalu yang tidak pernah disingkapkannya kepada Mei. Ia tidak saja mengalami pengkhianatan dalam bercinta, tetapi juga dalam berteman. Ketika Mei mengetahui apa yang telah membuat Jiayu tampil sebagai pribadi yang ia kenal, semuanya sudah terlambat. Sekalipun Jiayu berkata, "Seandainya aku punya kesempatan untuk menikah, aku tak keberatan menikahimu." (hlm. 449).

Apa yang kemudian dilakukan Mei untuk memperjuangkan cintanya, untuk mencoba menggenggam masa depan Jiayu, menggiringnya pada akhir kisah cinta mereka yang mengenaskan. Baik Mei maupun Jiayu sama-sama harus merasakan kehilangan. 

Mei harus menghadapi kenyataan, maka ia pun menyudahi kisah cintanya sambil berkata, "Semuanya telah ditentukan sejak awal. Aku menerima takdirku. Seperti apa pun caraku menjalani hidup ini, semuanya adalah kisah hidupku" (hlm. 545).

Sudah lama rasanya tidak menikmati novel dengan kisah cinta menggetarkan dan menggetirkan namun tidak membuat saya merasa cengeng. Kesan yang muncul saat membaca novel ini hampir setara dengan saat membaca dwilogi karya Erich Segal: Love Story dan Oliver's Story. Selama membaca segenap perhatian seolah dirampas dan setelah lembar terakhir berlalu, seolah memberikan sayatan kecil di hati.

Edisi Indonesia menunjukkan novel ini sebagai novel yang ditulis dengan bahasa yang enteng. Tidak sulit membacanya sampai habis walaupun memakan lebih dari 500 halaman. Dalam novel bertabur puisi Pushkin ini, Shi Yu yang dikenal di Hongkong sebagai pengarang prolifik, menunjukkan diri sebagai penutur yang mampu merebut perhatian pembaca dalam kelugasannya.

Memang belum menjadi karya penting yang harus dibaca setiap orang, namun novel yang disebut-sebut terjual 80 juta eksemplar di Cina ini bisa menjadi kunci pembuka untuk mengenal karya-karya pengarang berbahasa Mandarin lainnya. Apa yang dilakukan penerbit Serambi juga layak diacungi jempol karena bisa menerbitkan buku yang langsung diterjemahkan dari bahasa aslinya.

Yang perlu ditinjau kembali dalam edisi Indonesia ini adalah dari segi penyuntingannya yang masih kurang prima. Masih banyak ditemukan dialog yang disambung dengan narasi sehingga terasa mengganggu. Selain itu ada penerjemahan yang terkesan keliru yang tidak dibereskan. Sebagai contoh 'pangsit isi daging sapi' (hlm 96) menjadi 'pangsit isi daging babi' (hlm 98). Kemudian dalam bagian yang mengisahkan Mei melewatkan Natal di rumah Andrei, sebelum tahun baru telah muncul kalimat 'malam tahun baru berakhir' (hlm. 107) dan kembali menjadi 'malam Natal' pada halaman berikutnya (hlm. 108). Demikian juga kalimat janggal "Kadang dia bisa menghilang lima hingga tiga hari.... " (hlm. 141).

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan