12 February 2012

Bonjour Tristesse


 

Judul Buku: Lara Kusapa
Diterjemahkan dari: Bonjour Tristesse (1954)
Penulis: Françoise Sagan
Penerjemah: Ken Nadya
Tebal: 164 hlm; 13 x 20,5 cm
Cetakan: 1, Februari 2009
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta




Bonjour Tristesse adalah novel debutan Françoise Sagan (1935-2004), seorang penulis  Prancis, yang diterbitkan ketika ia berusia delapan belas tahun. Diterbitkan pertama kali pada 1954 di Prancis, buku ini segera menjadi best-seller, dianugerahi Prix Des Critiques, dan membuat heboh: ditulis seorang remaja, tetapi secara terbuka bertutur tentang seksualitas. Berkat novel ini, nama Sagan melejit sebagai sosok terkemuka dalam sastra Prancis. Novel ini diedisi-indonesiakan oleh Penerbit Serambi dengan judul Lara Kusapa dan merupakan karya penerjemahan Ken Nadya.

Lara Kusapa dikisahkan menggunakan perspektif orang pertama. Naratornya seorang perempuan bernama Cécile, yang menceritakan pengalamannya pada usia tujuh belas tahun. Kisah utamanya terjadi di pesisir Laut Tengah, ketika Cécile sedang menikmati liburan musim panas bersama ayahnya, Raymond. Ikut dengan mereka Elsa Mackenbourg, kekasih Raymond, yang berusia dua belas tahun tahun lebih tua dari Cécile. Dalam usia empat puluh tahun, di mata Cécile, Raymond hanyalah seorang bocah besar yang hidup tanpa beban. Sepeninggal ibu Cécile, meski menjalin hubungan dengan banyak wanita, Raymond tidak berniat menikah. Dan karena inilah, ia menjalin hubungan dengan Elsa, yang juga tidak pernah berniat menikah.

Pada hari keenam liburan musim panas itu, Raymond mengumumkan kedatangan Anne Larsen, teman lama mendiang ibu Cécile yang meninggal lima belas tahun silam. Perempuan rupawan inilah yang telah menerima Cécile, ketika dua tahun silam (atau tiga?) Cécile keluar dari asrama pedesaan dan menetap di Paris. Ia yang mengajari Cécile sehingga bisa berdandan dan bergaul. Namun, setelah tinggal dengan Raymond, Cécile menyadari jika gaya hidup mereka tidak selaras dengan gaya hidup Anne.

Ketika Anne hadir memenuhi undangan Raymond, dalam tempo singkat, Raymond menyerah dan mau menerima gagasan pernikahan. Tentu saja, perubahan ini mengejutkan Cécile dan Elsa. Keputusan Raymond menikahi Anne bagi Elsa, pasti disebabkan karena Raymond benar-benar mencintai Anne. Bagi Cécile, keputusan Raymond untuk menikahi Anne adalah ancaman. Menurut Cécile, ayahnya sama sekali bukan tipe Anne, mereka memiliki kehidupan yang bertolak belakang. Jika Raymond menikahi Anne, baik Cécile maupun ayahnya akan kehilangan kebebasan dan hidup dalam aturan-aturan Anne. Maka, Cécile pun memutuskan untuk menggagalkan pernikahan mereka.

Novel ini mengetengahkan kebingungan seorang anak remaja dalam sosok Cécile. Ia bingung dengan perlakuan orang dewasa yang berpengaruh dalam hidupnya. Ia kehilangan sosok ibunya dan setelah hidup di asrama belasan tahun, ia mencari sosok ibunya dalam diri Anne. Perempuan empat puluh dua tahun ini (atau empat puluh tahun?) mencoba mengisi peran ibu dalam diri Cécile dan memperlakukan Cécile sebagai anak kecil. Tetapi, ketika tinggal dengan ayahnya, Cécile diperlakukan seperti orang dewasa, dibawa larut dalam pergaulan sang ayah. Tentu saja perlakuan mereka membuat Cécile bingung bagaimana mesti bersikap. Kebingungan Cécile tampak jelas pada responsnya atas kehadiran Cyril, pemuda berparas Latin yang menawarkan gairah. Cécile mengaku tidak suka pada anak muda karena terbiasa bergaul dengan teman-teman ayahnya. Namun, pesona dan sensualitas yang dimiliki Cyril tidak bisa ditampiknya. Maka wajarlah, ketika Anne mulai menguasai Raymond, Cécile tidak bisa menentukan sikap. Keadaan ini bahkan mengantarnya pada rencana untuk mempertahankan status quo yang telah lama dikokohkannya bersama sang ayah.

Sagan menjalin perkembangan kejiwaan Cécile ke dalam dua bagian novel. Sebagai penulis yang saat itu masih berusia remaja, ia terkesan cukup dewasa. Dengan baik, ia bisa mengantar pembaca memahami kondisi kejiwaan Cécile yang labil. Di dalam perkembangan karakter Cécile, Sagan juga mampu membangun dengan baik karakter seperti Anne dan Elsa. Karakter Raymond sebenarnya telah dikemas cukup apik, sayang kurang menggigit pada bagian yang menentukan. Meski perangainya yang tidak pernah dewasa menjadi pemicu konflik tragis di penghujung novel, namun Sagan tidak mengolah dengan logis proses metamorfosis Raymond dari lelaki yang tak ingin berkomitmen menjadi seorang lelaki yang ingin menikah dalam tempo singkat. Padahal, dari sinilah benih konflik ditabur oleh Sagan.

Apakah Anne memiliki daya sihir yang sanggup mengubah prinsip hidup Raymond? Ataukah Raymond baru sadar setelah 15 tahun istrinya meninggal jika ia sesungguhnya mencintai Anne? Ataukah udara pesisir Laut Tengah berhasil menghamburkan rangsangan kimiawi tersendiri dengan kedatangan Anne yang membuat Raymond bertekuk lutut? Tentu saja, tidak satu pun dari jawaban ketiga pertanyaan ini bisa ditemukan dalam novel (apalagi untuk pertanyaan ketiga).

Bagi yang suka membaca fiksi klasik, novel yang judulnya dipetik dari puisi karya Paul Eluard (bisa dibaca pada bagian awal buku) ini, akan menjadi bacaan pembuka untuk karya-karya Sagan atau penelusuran jejak awal karya Sagan bagi yang telah membaca buku-buku sesudahnya. Penulis kelahiran 21 Juni 1935 ini telah menulis hingga 30-an novel dan telah menerima Prix La Fondation dari Pangeran Pierre de Monaco untuk keseluruhan karyanya (1985).

Edisi Indonesia novel yang telah difilmkan pada tahun 1958 ini tergolong enak dibaca. Pada beberapa bagian terasa puitis, namun tidak terpuruk membosankan seperti novel yang ditulis bergaya puisi. Kekurangtelitian pada angka sepertinya berasal dari Sagan. Sebagai contoh, pada halaman 12, disebutkan Cécile keluar dari asrama dua tahun sebelumnya, namun pada halaman 28, disebutkan Cécile keluar asrama tiga tahun silam. Demikian juga usia Anne. Pada halaman 62, ditulis jika Anne berusia 40 tahun (sama dengan pada halaman 154), sedangkan pada halaman 16 berusia 42 tahun. Sedangkan dari segi judul, boleh dikata, Lara Kusapa adalah pilihan yang bagus, diselaraskan dengan hasil terjemahan puisi Paul Eluard (hlm. 7) yang menjadi sumber judul, dan sesuai dengan selera puitis Sagan (jika dilihat dari hasil terjemahannya).
  
Lara Kulupa
Lara Kusapa
Engkau terukir pada garis-garis pagu
Engkau terukir dalam sepasang mata
yang kucinta
Engkau bukan sengsara telak
Karena bibir yang termalang mengungkapmu
Dengan seulas senyum
Lara kusapa
Asmara raga-raga hangat
Daya asmara
Yang mencari kehangatan
Laksana monster tanpa tubuh
Kandas akalnya
Lara elok paras.

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan