27 March 2013

One Amazing Thing


Posting bersama BBI kategori Sastra Asia Maret 2013



Judul Buku: One Amazing Thing
Pengarang: Chitra Banerjee Divakaruni (2009)
Penerjemah: Sujatrini Liza
Penyunting: Nuraini Mastura
Tebal: 422 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juni 2011
Penerbit: Qanita

 



Sembilan orang terperangkap di kantor permohonan visa di ruang bawah tanah gedung konsulat India ketika terjadi gempa bumi yang cukup dahsyat. Tujuh orang sedang menunggu visa mereka yang tidak kunjung diselesaikan karena pelayanan yang buruk, sedangkan dua orang lainnya adalah pegawai kantor permohonan visa.

Uma Sinha, perempuan  berdarah India, bermaksud pergi ke Kolkata (Calcutta), India, untuk mengunjungi kedua orangtuanya. Ayahnya telah meninggalkan pekerjaannya di Amerika dan menerima pekerjaan sebagai konsultan di India. Setelah menetap di India, kedua orangtuanya tenggelam dalam gaya hidup hedonis dan ingin putri semata wayang mereka ikut merasakannya.

Jiang, perempuan tua berdarah China, datang dengan Lily, cucunya yang masih remaja dan berpenampilan pemberontak. Jiang hendak mengunjungi Calcutta untuk bertemu Vincent, kakak laki-lakinya, di rumah masa lalu mereka yang ditinggalkan dalam keadaan terpaksa.

Lancelot Pritchett, seorang laki-laki tua kaya, berencana pergi ke India untuk menginap di salah satu istana tua yang telah diubah menjadi hotel. Ia akan berangkat dengan Vivienne, istrinya. Perjalanan ini digagasnya untuk menghibur sang istri yang telah melakukan usaha  bunuh diri dengan menenggak sebotol pil tidur.

Tariq Husein, pemuda India berkulit cerah dan berjenggot, berkeinginan pergi ke Delhi. Di sana ia akan menjumpai gadis yang dicintainya, Farah, gadis India yang sempat tinggal di rumahnya ketika mendapat beasiswa untuk kuliah di Amerika. Karena Farah-lah pemuda temperamental ini memelihara jenggot meskipun saat itu situasi tidak menguntungkan bagi laki-laki Muslim berjenggot setelah peristiwa 11 September.

Cameron Grant, laki-laki kulit hitam berkepala plontos dengan sepasang giwang di telinganya hendak pergi ke India untuk bertemu dengan seorang bernama Sava. Pengidap asma yang pernah bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat dan terjun ke dalam Perang Vietnam ini terbiasa menangani kondisi darurat. Dialah yang secara instingtif mengambil kendali sebagai pemimpin.

Dua pegawai kantor permohonan visa adalah Malathi Rawaswamy dan penyelianya, Mr. Mangalam. Malathi adalah perempuan India yang datang ke Amerika dengan tujuan mengumpulkan uang dan bercita-cita kembali ke India untuk membuka salon kecantikan. Ia terpesona pada Mangalam, sekalipun laki-laki India ini masih terikat pernikahan dengan istrinya yang bermukim di India. Mangalam yang berwajah menarik untuk ukuran India memang memiliki kegemaran bermain mata dengan perempuan yang bukan istrinya.

Langit-langit ruangan kantor permohonan visa itu ambruk, palang-palangnya patah, lampu pecah berkeping-keping, reruntuhan berhamburan, dan listrik pun mati. Seakan-akan belum cukup, air tiba-tiba merembes dari tempat yang tidak terdeteksi, yang seiring dengan berlalunya waktu menggenangi ruangan dan merambat naik dalam kegelapan. Kemudian ada mayat jatuh dari lantai atas, kendati tidak semua orang menyadarinya.

Situasi pun berubah kalut, ketika mereka sadar terperangkap dan pertolongan tidak juga datang. Pertengkaran begitu mudah tersulut, apalagi di antara mereka terdapat anak muda berdarah panas. Melihat situasi yang mengarah pada kondisi berbahaya, sebuah ide muncul di benak Uma Sinha.

"Masing-masing kita bisa menceritakan sebuah kisah penting dari kehidupan kita. Setiap orang punya cerita. Aku tidak percaya setiap orang bisa melalui kehidupan tanpa menemukan sedikitnya satu hal yang menakjubkan. " (hlm. 130).

Tidak ada yang ingin kehidupan pribadinya diketahui orang lain, apalagi yang baru pertama kali bertemu. Tapi Jiang bisa menangkap maksud Uma. Dialah yang mengajukan diri untuk menjadi pencerita pertama. Dan setelah dia menceritakan kisah hidupnya beserta satu hal menakjubkan yang terjadi dalam hidupnya, menjadi mudah bagi yang lain untuk mengikutinya.

Ternyata, menceritakan pengalaman hidup khususnya yang telah mengubah kehidupan menjadi pengalih perhatian dari situasi genting yang sedang berlangsung. Selain itu, ketika masing-masing mengungkapkan dengan jujur apa yang dialami dalam kehidupan pribadi, lambat laun tumbuh saling pengertian dan perasaan senasib di antara mereka. Seperti kata Tariq, "Setelah membandingkan ceritaku dengan yang lain, aku bisa menarik kesimpulan ini: setiap orang menderita dengan cara-cara yang berbeda. Sekarang aku tak  merasa begitu kesepian." (hlm. 269).

Aktivitas bertukar cerita ini pun membuat mereka yang memiliki hubungan keluarga menjadi lebih saling mengenal. Apa yang sebelumnya tersembunyi disingkapkan apa adanya. Mengejutkan, mengecewakan, tapi tetap saja menciptakan empati dan keinginan memaafkan.

Lily misalnya tidak pernah mengetahui kalau Jiang sebenarnya menguasai bahasa Inggris karena seingatnya neneknya hanya berkomunikasi dengan bahasa Mandarin. Tapi dengan menggunakan bahasa Inggris Jiang mampu mengajarkannya cara melepaskan masa lalu untuk menyongsong masa depan khususnya dalam hal cinta.

"Kapan itu terjadi? Saat mengingat kembali, aku tak bisa menunjukkan satu waktu khusus dan berkata, Itu dia saatnya! Itulah yang membuatnya begitu menakjubkan. Kita bisa benar-benar berubah, tanpa menyadarinya sendiri. Kita selalu mengira kejadian-kejadian mengerikan telah mengubah kita menjadi batu. Tapi cinta menyisip seperti pahat -dan tiba-tiba menjadi kampak yang mematahkan kita menjadi berkeping-keping dari dalam," kata Jiang (hlm. 170).

Vivienne alias Mrs. Pritchett jelas merasa kecewa karena sebelumnya suaminya tidak pernah berkeinginan berbagi kenangan dengannya. Tapi bagaimanapun, kisah suaminya saat masih bocah membuatnya lebih memahami laki-laki itu. Sungguh sulit bagi Lance untuk  mencintainya dengan cara yang ia butuhkan. Pengakuannya sendiri sudah pasti mengejutkan Lance tapi membuat suaminya itu memahami apa sesungguhnya yang dibutuhkannya.

One Amazing Thing karya Chitra Banerjee Divakaruni adalah sebuah novel inspiratif yang ditulis dengan indah -bahkan setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia keindahannya tetap bisa dipertahankan. Pemilihan dan perangkaian diksi yang tepat menghasilkan kalimat-kalimat yang anggun dan enak dibaca. Pengimbuhan metafora yang segar kian mengikat dalam pembacaan.

Contoh penggunaan metaforanya:

Dia telah memasuki kehidupan Tariq begitu saja, seperti sebuah pisau surat mengiris bawah lipatan penutup amplop, memotong yang sebelumnya terekat rapat, sehingga menumpahkan rahasia di dalamnya. (hlm. 57).

Suara Jiang yang tegas, membicarakan tentang cinta yang kisut dan terbuang seperti selembar surat dengan terlalu banyak kesalahan di dalamnya, tentang keluarga yang tertiup seperti spora di padang pasir dunia... (hlm. 165).

Dalam hal karakterisasi, Chitra tidak perlu diragukan. Setiap karakter dirancangnya dengan baik sehingga akan terasa hidup di dalam benak kita. Meskipun mereka berasal dari berbagai latar belakang kebangsaan -tidak hanya India sebagaimana pencipta mereka, Chitra tidak mengindikasikan kekagokan dalam hal penggambaran asal-usul dan personalitas mereka. Detail-detail kehidupan, perasaan, kenangan, dan impian mereka berhasil dijabarkan dengan memukau.

Seiring pergeseran plot yang dibangun Chitra, kita akan dibawa hanyut dalam situasi yang dialami para karakter novel. Saat gempa terjadi kita akan merasa cemas, dan ketika para karakter bercerita, kita akan dialihkan sementara, sebelum kemudian sadar dan gentar dengan adanya potensi gempa susulan, keruntuhan yang kian gawat, dan tubuh yang pelan-pelan dilahap rambatan air. Seperti para karakter, benak kita akan dikerubuti berbagai pertanyaan terkait apa yang akan terjadi sementara pertolongan seakan-akan tidak akan pernah datang. Situasi begitu mengancam dan menegangkan, tapi bisa dikendalikan dengan baik oleh sang pengarang sampai alinea terakhir yang membuat kita mencelus.

One Amazing Thing sungguh sebuah karya yang menakjubkan dan sulit dihentikan pembacaannya sebelum mencapai halaman terakhir. 





Chitralekha Banerjee Divakaruni
memulai karier penulisannya sebagai penulis puisi dan telah menerbitkan empat kumpulan puisi. Karya prosanya yang pertama diterbitkan adalah kumpulan cerita pemenang American Book Award berjudul Arranged Married (1995). Dia tidak hanya menulis prosa untuk pembaca dewasa, tapi juga remaja dan anak-anak. Trilogi Brotherhood of the Conch yang terdiri dari The Conch Bearer, The Mirror of Fire and Dreaming, dan Shadowland adalah novel-novel untuk remaja. Grandma and the Great Gourd adalah buku bergambar untuk anak-anak pertamanya (2012). Sekarang Chitra menetap di Texas dan mengajar Penulisan Kreatif di Universitas Houston.

14 comments:

orybun said... Reply Comment

wah sama sama baca bukunya Divakaruni :D
Sepertinya dia memang mengangkat tema-tema sosial, yah..

desty said... Reply Comment

Membaca review ini serasa menonton trailer filmnya (seandainya saja difilmkan). Masuk wishlist :)

Peri Hutan said... Reply Comment

selalu suka deh sama reviewnya bang Jodi, lengkap :)
baru mau nyoba baca Divakaruni yang Palace of Illution :0

Tezar said... Reply Comment

Divakaruni memang keren ya

Oky @ Kumpulan Sinopsis said... Reply Comment

Ceritanya kok seru.. belum lagi karakterisasinya menarik semua

dion_yulianto@blogspot.com said... Reply Comment

Reviewnya indah sekali, seindah bukunya. Kudu dibaca ini setelah sekian lama tertimbun

JamaL said... Reply Comment

bukuku yg ini dah laris terjual, tanpa menyisakan satu buatku.. hahaha.. *sekarang nangis begitu tau ceritanya keren begini*

Jody said... Reply Comment

iya, divakaruni memang senang mengangkat tema2 sosial. aku udah punya kumcernya tapi belum sempat baca.

Jody said... Reply Comment

Terima kasih. Bukunya bagus, memang layak dibaca :)

Jody said... Reply Comment

Terima kasih, Sulis, aku malah belum selesai baca Palace of Illution :)

Jody said... Reply Comment

Betul, mas. Cuma memang yang satu ini agak beda teknik berceritanya dgn buku2nya yg lain.

Jody said... Reply Comment

Setuju banget, Oky :)

Jody said... Reply Comment

Terima kasih, mas, bukunya memang indah :)

Jody said... Reply Comment

hehehehe, Jamal jualan buku juga ya? Coba dulu disisakan satu buat koleksi pribadi. Ceritanya memang keren banget.

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan