13 February 2012

Madame Bovary



Judul Buku: Madame Bovary
Pengarang: Gustave Flaubert
Penerjemah: Santi Hendrawati
Tebal: 507 hlm
Cetakan: 1, Juni 2010
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta





Emma Rouault mengira menikahi seorang lelaki mapan akan mewujudkan fantasinya sebagai perempuan muda. Seusai kemeriahan pesta perkawinan, Emma meninggalkan rumahnya dan masuk ke dalam kehidupan Charles sebagai seorang officier de santé di Tostes. Seiring perjalanan waktu, Emma sadar telah menempuh jalan yang keliru. Perkawinan tidak mengarahkannya pada realisasi fantasi serupa yang ia baca dalam buku-buku percintaan. Charles tidak memiliki ambisi laiknya kaum lelaki dan romantisme bukanlah gaya hidupnya. Bagi Charles yang berpikiran sederhana, kebahagiaan hanya terletak pada kecakapannya menuntaskan pekerjaan sesuai jadwal. Kekecewaan Emma mengental saat menghadiri sebuah pesta kalangan borjuis dan menemukan kehidupan bergelimang kesenangan para duchess. Seketika, seolah-olah memandang melalui kaca pembesar, ketidakmenarikan Charles kian mencolok.

Demi Emma, Charles rela meninggalkan tempat yang telah memapankan hidupnya selama empat tahun. Mereka pindah ke Yonville, tempat yang mencelikkan Emma akan kebutuhan petualangan asmara bagi seorang istri yang tidak bahagia. Meskipun telah melahirkan seorang anak, Emma tidak mampu mencegah letupan gairah yang dibangkitkan oleh Léon Dupuis, anak muda yang bekerja di kantor notaris Monsieur Guillaumin. Sial baginya, sebelum sempat terbakar kepanasan gairah Léon, anak muda pergi ke Paris melanjutkan kuliah hukum.

Léon boleh saja berlalu, namun Yonville masih menyimpan lelaki lain. Meskipun Rodolphe Boulanger dikenal sebagai pemangsa perempuan, undangan perselingkuhannya tidak mungkin ditepis Emma. Emma tidak menyadari, bagi petualang syahwat semacam Rodolphe, begitu seorang perempuan jatuh cinta pada, ia menjadi kurang menarik. Yang tersisa sekadar hubungan demi menikmati momen-momen penuh berahi tanpa mengempiskan pundi-pundi uang. Dalam berhubungan dengan lelaki, Emma memiliki kecenderungan bersikap posesif. Merasa telah menguasai Rodolphe, ide melarikan diri bersama-sama tidak urung tercetus. Sayangnya, Rodolphe tidak mau bersifat murah hati dalam hal ini, baginya Emma tidak cukup layak dijadikan berhala. Terpuruk karena ditinggalkan Rodolphe, Emma hampir luluhlantak. Untunglah,  Léon muncul lagi dalam kehidupannya dan mampu membangkitkan semangat hidup Emma. Maka sekali lagi Emma terlena dan mengabaikan kenyataan, sangat sulit petualangan cinta berakhir bahagia.

Madame Bovary adalah salah satu dari dua novel yang disebut-sebut sebagai karya terbesar yang pernah ditulis―yang lain  Anna Karenina karya Leo Tolstoy. Merupakan novel Gustave Flaubert (1821-1880), pengarang Prancis, yang pertama kali diterbitkan sekaligus melambungkan namanya sebagai salah satu pengarang penting pada abad ke-19. Novel ini memiliki sejarah yang mengundang perhatian khalayak. Mulai ditulis tahun 1850, membutuhkan waktu lima tahun untuk bisa diselesaikan. Sebelum diterbitkan pada tahun 1857, novel ini dimuat secara bersambung dalam majalah sastra (1856) yang membuat Flaubert dipengadilankan karena dianggap menodai norma agama dan masyarakat. Flaubert dibebaskan dari tuduhan atas pertolongan Marie-Antoine Jules Sénard, pengacara dari Rouen, kepada siapa buku ini didedikasikan (hlm. 5).

Novel ini merupakan novel realis tragis. Ia mendedahkan kebangkitan dan kehancuran mimpi-mimpi romantis seorang perempuan muda dalam lembaga pernikahan. Ketika mimpi-mimpi itu sukar diwujudkan dalam hubungannya dengan suaminya (karena si suami tidak memahaminya), ia menengok ke luar jendela dan menemukan potensi di luar rumah. Menafikan semua norma yang berlaku, ia menjerumuskan diri dalam petualangan ekstramarital yang tidak memberikannya garansi kebahagiaan. Begitu sadar kemubaziran kelakuannya, ia tidak lagi punya optimisme untuk bermain-main dengan kehidupan. Tindakannya yang didominasi egoisme menciptakan efek domino yang mengenaskan bagi keluarganya. Kendati hanya sebaris, guratan Flaubert di penghujung novel terasa menggerogot: "Berthe hidup dalam kemiskinan dan ia terpaksa harus bekerja pada sebuah pemintalan kapas untuk membiayai hidupnya."(hlm. 503-504). Dari kisah tragis keluarga Bovary, tampaknya Flaubert hendak mengingatkan bahwa dalam sebuah ikatan pernikahan setiap pelaku perlu menciptakan kesepakatan untuk saling terbuka dan saling memahami, terlebih dalam segi seksualitas. Kesepakatan ini akan menjadi semacam kontrasepsi bagi pembuahan problem yang mungkin bisa dicegah.

Dalam hubungan lelaki-perempuan, Flaubert mencitrakan Emma alias Madame Bovary sebagai perempuan dengan kesadaran seksualitas yang tinggi. Meski Rodolphe menganggapnya tidak lebih dari pemuas nafsu belaka, ia berhasil mencuri kesempatan memanfaatkan lelaki itu untuk kepuasan ragawinya. Léon Dupuis, tidak hanya menyilih apa yang tidak ingin diberikan lagi oleh Rodolphe, tapi membalikkan posisi yang ditegakkan lelaki itu. Jika bagi Rodolphe, Emma adalah kekasih gelap, bagi Emma, Leon adalah kekasih gelapnya. Mungkin, inilah yang disebut-sebut mengilhami secara tidak langsung munculnya feminisme.

Bukan hanya Emma karakter yang dibangun dengan cermat oleh Flaubert. Charles, kendati didapuk sebagai lelaki tidak beruntung, karakternya sebagai lelaki tanpa ambisi membesut kuat. Demikian juga Rodolphe yang bergelimang hawa nafsu tapi memendam kepengecutan ataupun Leon yang lantaran pengejaran kepuasan seksual, tidak mampu merebut setir dari tangan Emma. Monsieur Lheureux pemilik toko sekaligus rentenir merupakan karakter yang berperan paling penting dalam kejatuhan Emma. Kemahiran manipulatifnya mengaburkan perspektif Emma. Belakangan terungkap, aktivitasnya sebagai rentenir berhubungan dengan lelaki lain, yang menawarkan bantuan kepada Emma dengan seks sebagai imbalan. Karakter Monsieur Hormais, lelaki yang tidak pernah tulus menolong orang lain, cukup mencuri perhatian. Lelaki yang berprofesi sebagai apoteker ini ateis tapi merasa lebih religius dari para pastur dan tidak segan untuk mengecam mereka. Sejak diperkenalkan hingga novel disudahi, Hormais adalah seorang pelanggar undang-undang sejati.

Sebagaimana lazimnya fiksi klasik yang dikisahkan dengan cara berbunga-bunga, novel ini menuntut semangat tinggi para pembaca. Penerjemah edisi Indonesia telah menghasilkan karya terjemahan yang mudah diikuti, tetap klasik tapi tidak kuno. Namun, napas panjang Flaubert yang menghasilkan deskripsi melimpah terasa sangat tumpat hingga memasuki bagian ketiga (dari tiga bagian) novel. Bisa dipastikan memasuki bagian ketiga, pembaca akan didorong untuk menuntaskan novel ini.

Setelah  berumur lebih dari seratus lima puluh tahun, efek menggegerkan seperti kali pertama dipublikasikan sudah mengendap. Bukan karena publik telah mengenal novel ini secara intim, tapi karena perselingkuhan dan religiositas Katolik bukan lagi tema yang cukup mencuri perhatian. Meski begitu, Madame Bovary tetap layak dibaca, paling tidak untuk mengetahui bagaimana fiksi klasik ini mampu memengaruhi banyak karya lain yang menyusulnya.
 

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan