19 June 2013

Bangkok




Judul Buku: Bangkok
Pengarang: Moemoe Rizal
Editor: Ibnu Rizal
Tebal: viii + 436 hlm; 13 x 10 cm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit: GagasMedia







Sudah sepuluh tahun Edvan Wahyudi meninggalkan keluarganya -ibu dan Edvin, adik laki-lakinya- untuk mengejar karier sebagai arsitek di Singapura. Ia meninggalkan keluarga karena membenci ibunya yang telah mencegahnya menyelamatkan warisan mendiang ayahnya dan memberikan kebebasan kepada Edvin untuk mengekspresikan dirinya sebagai transgender. Kabar kematian ibunya memaksanya pulang ke Bandung untuk menghadiri pemakaman ibunya. Tapi setibanya di Bandung, ibunya telah dimakamkan dan ia tidak sempat melihat jasad ibunya untuk yang terakhir kalinya.

Edvin yang telah mengubah namanya menjadi Edvina dan tampil sebagai perempuan dengan kemiripan tidak terbantahkan dengan ibu mereka menjumpai Edvan dan menyampaikan amanat sang ibu. Ia menyerahkan jurnal berjudul The End yang ditulis pada selembar kertas kalender bulan September 1980. Artika Sulistika, sang ibu, pernah berada di Bangkok, Thailand, selama delapan bulan untuk melakukan riset semasa kuliah. Di sana ia berkenalan dengan sejumlah orang dan bertemu dengan laki-laki yang menjadi ayah dari Edvan dan Edvin. Sebelum meninggalkan Bangkok, ia telah menulis tujuh jurnal, membawa jurnal ketujuh dan menitipkan enam jurnal lainnya kepada orang-orang yang dikenalnya di kota itu. Di setiap penghujung jurnalnya, Artika mengungkapkan identitas penyimpan jurnal sebelumnya dan tempat tinggalnya.

Sebelum meninggal,  melalui Edvin, Artika meminta  anak sulungnya yang telah menghilang selama satu dekade untuk mengumpulkan semua jurnal yang disebarkannya di Bangkok. Jauh di dalam hatinya, Edvan tetap menyayangi ibunya, dan itulah sebabnya ia bersedia melaksanakan amanat Artika. Padahal, bukan hal yang gampang mencari peninggalan ibunya yang telah berusia lebih dari tiga puluh tahun. Bagaimanapun, Bangkok telah mengalami perubahan, demikian pula orang-orang yang menyimpan jurnal. Edvan mengambil cuti dari kantornya dan pergi bersama dengan Edvin ke Thailand. Tentu saja sesuai amanat Artika, Edvan-lah yang akan mencari jurnal. Edvin sendiri hendak pergi ke Pattaya untuk mengikuti kontes waria, Miss International Queen. 


Grand Palace

Edvan pernah mengunjungi Bangkok, tapi tidak mengenal lekuk liku kota lima puluh distrik itu. Maka untuk memandunya, ia menyewa jasa Chananporn Watcharatrakul, gadis 26 tahun, mantan pramugari yang pernah kuliah di Indonesia. Charm, nama panggilan gadis charming itu, tinggal bersama Max, adik laki-lakinya, dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Maka bersama Edvan dan Charm, kemudian dengan Max, karena Charm terkadang harus meninggalkan Edvan, kita akan mengikuti perjalanan seorang laki-laki berusia 30 tahun, berupaya menemukan enam jurnal yang ditulis ibunya. Seiring dengan perjalanannya, ia akan mengelupas masa lalu sang ibu, dan memahami tindakan serta keputusan yang pernah diambil perempuan itu, terkait warisan suaminya dan hidup anak bungsunya sebagai transgender. Ia akan memahami pentingnya keluarga, persaudaraan, persahabatan, dan juga cinta. 

Mengapa cinta? Karena sejak pertama kali bertemu dengan Charm, Edvan telah jatuh hati. Ia menemukan sosok perempuan yang berbeda dari perempuan yang pernah dikenalnya dalam diri Charm. Sayangnya, Charm tidak berniat merespons secara positif perasaan Edvan. Ia menolak laki-laki itu dan bertekad tidak melewati garis profesional yang menciptakan pertemuan mereka. Bagaimanapun, sikap Charm memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Edvan, dan tanpa dicegah, memukul mundur semangat laki-laki itu untuk menemukan semua jurnal ibunya.

Apakah semua jurnal yang disebarkan Artika di Bangkok bisa ditemukan? Ataukah Edvan harus menyerah dan menerima kenyataan kalau ia terpaksa gagal menunaikan amanat ibunya? Benarkah jurnal-jurnal itu akan mengungkapkan warisan yang sebenarnya bagi Edvan? Semua jawaban dari pertanyaan yang mungkin akan berkecamuk dalam benak setiap pembaca selama mengikuti plot dari novel Bangkok karya Moemoe Rizal ini akan terjawab tuntas begitu novel ini bisa dikhatamkan. 

Secara pribadi saya berani menyatakan bahwa dari semua novel Setiap Tempat Punya Cerita -baik yang diterbitkan GagasMedia maupun Bukune- yang telah saya baca, Bangkok adalah yang terbaik dan paling mengesankan. Kisah di dalam novel ini, deretan karakternya, plot yang dirancang sang pengarang dan cara penyajiannya yang luwes terus-menerus mendorong saya untuk menamatkan novel ini. Kisahnya memiliki konflik menarik yang tidak sepenuhnya bermain di wilayah romansa. Keluarga, persaudaraan dan konflik internalnya memberikan novel ini daya pikat yang di tempat-tempat tertentu membuat terharu sekaligus menghangatkan hati. Dalam penuturannya yang kocak dan kerap menghalalkan kata-kata vulgar, pengarang mampu mengikat perhatian dan simpati pembaca, ketika pelan-pelan, seiring perguliran plot, kekerasan hati Edvan melumer dan mampu menerima realita.
 
Menyinggung penggunaan kosakata vulgar, bagi saya, mai pen rai (=tidak masalah). Memanfaatkan Edvan sebagai narator orang pertama yang menjalin persahabatan dengan orang bermulut mesum seperti Stevan, kata-kata vulgar menjadi sangat wajar dan bisa diterima. Malah akan terasa janggal jika ia bertutur penuh kesantunan dan basa-basi yang akan membuatnya menjadi narator yang tidak jujur.

Mengangsurkan kisah berisikan karakter waria, pengarang mencoba melerai pro dan kontra keberadaan kaum waria. Ia tidak membela habis-habisan kehidupan waria yang ditonjolkan melalui karakter Edvin, tapi ia mencoba memberikan perspektif berbeda. Bagaimana kalau secara genetis seseorang dilahirkan untuk menjadi waria alias ladyboy?

Kenapa harus dipertanyakan? Bukan aku yang menciptakan diriku sendiri. Aku nggak punya jawaban (Edvin, hlm. 25).

Seolah Tuhan memang sengaja menciptakan mereka. Seolah memang ada gender ketiga selain pria dan wanita (Edvan, hlm. 386).

Pengarang tidak menjelaskan proses kreatif yang ditempuhnya dalam penulisan novel ini. Apakah ia pernah menginjakkan kakinya di Bangkok, ataukah ia melukiskan Bangkok dalam novel ini hanya berdasarkan riset saja? Apapun jawabannya, selama berusaha menamatkan novel ini, saya merasa sedang bersama para karakter novel menyusuri Bangkok untuk mengumpulkan jurnal yang ditulis Artika. Dari SamphanThawong, Sukhumvit, Thon Buri hingga Pattaya. Mengagumi tanda mata sejarah berupa kuil-kuil dan patung Budha, lalu menyaksikan Bangkok sambil menyusuri sungai Chao Phraya.

Ada hal yang luput dari penyuntingan dan yang mengganggu pembacaan.

Jurnal yang disimpan Apsara, gadis berbakat dari Thon Bori utara, seharusnya ditulis pada April 1980, bukan April 1992 (hlm. 350). Khun Ungsowat pada kalimat "Sewaktu Khun Ungsowat cerita soal Ibu, aku cuma bisa nangis..." (hlm. 405) seharusnya Apsara, karena Apsara yang menceritakan soal Artika pada Edvin. Lagi pula, Ungsowat kan sudah meninggal.

Yang mengganggu, pertama, mengapa harus ada dua perempuan yang terkena kanker payudara? Kalau perempuan yang kedua harus dibuat sakit, memangnya tidak ada penyakit lain? Kedua, mengapa semua jurnal yang ditulis Artika harus dicetak dengan huruf model tulisan tangan yang tidak nyaman dibaca? 




Moemoe Rizal




Tentang Pengarang:

Bangkok adalah buku keenam Moemoe Rizal yang diterbitkan GagasMedia. Sebelumnya, ia telah meluncurkan buku Satu Cinta Sejuta Repot, Oh Baby, Outrageous, Jump, dan Fly to the Sky. Ketiga judul terakhir menjadi judul-judul bab dalam Bangkok.



6 comments:

vaan said... Reply Comment

Review yang menarik Mas. Saya jadi ingin segera membaca buku ini.

ErnieFaizal Siti said... Reply Comment

Menarik. Novel travelog ya?

Jody said... Reply Comment

@vaan:

Novelnya bagus juga, wajib baca :)

Jody said... Reply Comment

@ErnieFaizal Siti:
ada unsur traveling-nya, tapi bukan kisah utamanya.

dun pangae said... Reply Comment

Terkesan & pengen baca,,

Jody said... Reply Comment

@dun pangae:
Bagus kok

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan