03 June 2013

Malam Terakhir


Baca bareng BBI Mei 2013 kategori Kumpulan Cerpen


Judul Buku: Malam Terakhir
Pengarang: Leila S. Chudori
Tebal: xviii + 117 hlm; 13,5 x20 cm
Cetakan: 1, November 2009
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia






Bukan kemegahan dan keromantisan Paris yang diangkat Leila S. Chudori dalam cerpen pembuka kumpulan cerpennya -Malam Terakhir- yang berjudul Paris, Juni 1985.  Seorang gadis Asia tiba di Paris pada saat musim panas yang menggigit, kemudian menyewa kamar kecil di sebuah penginapan kumuh selama tiga minggu. Penginapan itu milik seorang perempuan tua yang memelihara sepasang tikus hitam besar, Fran├žois dan Fran├žoise. Tapi bukan kedua tikus itu yang membuat si gadis Asia terganggu. Di sebelah kamarnya, tinggal Marc, seorang pelukis yang sering menciptakan keriuhan dengan suara-suara aneh yang menghebohkan. Apa yang sebenarnya dilakukan Marc dalam kamarnya sehingga mengeluarkan suara-suara aneh, seolah-olah sedang melakukan persetubuhan? Leila menguak pikiran ganjil seorang lelaki muda yang mengagungkan birahi dalam berkarya.  

Kini gadis itu baru menyadari betapa dia berada di negara asing. Teritori tak dikenal..... Ada satu suasana yang terus-menerus mendesaknya agar ia merasa asing dan sendiri. Paris tak pernah menawarkan kehangatan dan tidak berpretensi untuk menjadi sosok yang hangat. Entah kenapa, ia semakin merasa Marc semakin membuat Paris menjadi kota yang paling sunyi (hlm, 14-15).

Gadis remaja dalam cerpen yang menggunakan namanya sebagai judul, Adila, lebih dekat dan lebih bisa dipahami ayahnya ketimbang ibunya. Mengabaikan semua teriakan, kecaman, dan penindasan ibunya, ia mengurung diri dan membaca buku di dalam kamar mandi. 

Aku tak mengerti kenapa aku lahir untuk harus selalu menjadi bayang-bayang ibuku. Semua tindakan dan pemikiran yang lahir dari diriku selalu salah. Karena itu, aku merasa, kamar mandi ini adalah tempat yang paling menyenangkan. Bak kamar mandi, gayung, odol, sabun, air, dan bahkan taik dalam jamban itu tak akan berteriak-teriak sekalipun aku ingin telanjang selama lima jam. Mereka semua memahami dan mentolerir keganjilanku.... (hlm. 21).

Buku-buku yang dibaca Adila membuatnya berimajinasi sedang berbicara dengan karakter maupun penulis buku. Maka Leila menyajikan percakapannya dengan Ursula Brangwen, karakter dalam The Rainbow; A.S. Neill, penulis buku dan pendiri sekolah, Summerhill; Stephen Dedalus, karakter ciptaan James Joyce dalam A Portrait of the Artist as a Young Man. Sebuah peristiwa tragis menjadi penutup yang menyedihkan dan membuat kita mengernyit dengan respons ibu Adila. Kerap, seperti ibu Adila, orangtua bersemangat memberi batas sehingga lebih suka anak mereka menjadi seperti katak dalam tempurung.

Leila menggugat standar yang secara jomplang diberlakukan dalam masyarakat terkait dengan kesetiaan dalam cerpen Air Suci Sita. Apakah seorang perempuan harus tetap setia dalam sebuah hubungan cinta sementara laki-laki boleh mengkhianati kesetiaan itu? Empat tahun di Kanada, seorang gadis Indonesia mati-matian mempertahankan kesetiaan kepada tunangannya di tanah air kendati godaan selalu datang. Tapi setelah empat tahun memelihara kesetiaan, tunangannya datang dan berkata:

Sayang, engkau ternyata seorang perempuan yang teguh dan kukuh. Sedangkan aku hanyalah lelaki biasa. Engkau begitu tegap, mandiri, dan mempertahankan kesucianmu seperti yang diwajibkan oleh masyarakat; sedangkan aku adalah lelaki lemah, payah, manja, tak bisa menahan diri. Kami, para lelaki, dimanjakan dengan apa yang dianggap sebagai kodrat, kami diberi permisi seluas-luasnya. Kalau kau yang berkhianat, pastilah kau dianggap nista. Tetapi jika aku yang berkhianat, maka itu dianggap biasa...." (hlm. 47).

Kemunafikan manusia dikecam Leila dalam cerpen Sehelai Pakaian Hitam melalui karakter Salikha dan Hamdani. Hamdani memberikan citra saleh di hadapan umum, seorang laki-laki berbaju putih tanpa noda. Sementara di sisi lain, ia berbaju hitam dan hidup dalam kemaksiatan. Salikha yang berbeda pandangan dengannya, berani telanjang dan jujur dalam berperilaku, tidak setuju dengan kemunafikan Hamdani.  

Kau mirip sekali dengan tokoh Stevenson, dr Jekyll. Tokoh yang tak ingin memperlihatkan keburukan dalam dirinya. Kemudian keburukan itu dimanifestasikan melalui tokoh Mr. Hyde. Kau membuat garis yang terlalu konkret antara malaikat dan setan di dalam dirimu. Itu kau lakukan demi masyarakat, karena penghormatanmu yang berlebihan terhadap mereka. Maka tuhanmu sebenarnya adalah masyarakat (hlm.54-55).

Mampukah Hamdani hidup terus dalam kemunafikan?

Para tokoh Mahabharata sangat hidup dalam benak Moko yang bermonolog dalam cerpen Untuk Bapak. Menurut Moko, meskipun merupakan lambang kebijaksanaan, Yudhistira sukar dimaafkan lantaran terlibat perjudian dengan Kurawa dan mempertaruhkan Drupadi. Sedangkan Kresna sering berbohong, walaupun demi menyelamatkan Pandawa. Sementara Arjuna, sekalipun tampan, sebenarnya tidak berhak memiliki banyak istri. Bagi Moko, Bhisma-lah yang patut dikagumi. Setelah orangtua Moko bercerai dan ibunya menikah, ternyata ayahnya tidak pernah berniat menikah lagi. Itulah yang membuat Moko melihat ayahnya semakin mirip dengan Bhisma. Dalam surat yang dikirimkan pada ulang tahun Moko yang ke-15, ayahnya mengatakan:

Anakku, panah-panah Bhisma itu sudah menjadi urat nadi Bapak. Tapi kamu tetap menjadi jantungku (hlm. 67).

Dalam perjalanan pulang dari Eropa menuju Jakarta, Tami dalam cerpen Keats berimajinasi sedang berbincang dengan John Keats, penyair Inggris awal abad 19 yang menulis sajak Tentang Mati (On Death). Keats mengusiknya terkait kepulangannya ke Indonesia. Tami, seorang sarjana sastra Inggris, mencintai seutuhnya Jean, seorang musisi Eropa, tapi pulang ke Indonesia untuk menikahi Hidayat, penyair yang direstui penuh oleh keluarganya. Apa yang akan dilakukan Tami setelah perbincangan panjang dengan John Keats? Apakah ia akan membiarkan gambaran bahagia luput seperti hantu berlalu? Tami berkata:

Saya tidak ingin menjadi seorang Hamlet kontemporer (hlm. 81).

Perempuan dalam cerpen berjudul Ilona memiliki keteguhan yang bertumbuh bersama kebebasan yang diberikan ayahnya. Keteguhan ini ditampakkannya melalui pandangannya mengenai pernikahan setelah orangtuanya bercerai pada tahun terakhirnya di SMA. 

Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pada saat itulah ia memulai suatu perjalanan yang panjang, asing, dan penuh tantangan.

Titik persoalannya adalah saya memilih untuk berjalan sendiri, tanpa kawan. Jadi, saya memilih rute yang berbeda dan tidak konvensional, saya akan menanggungnya sendiri tanpa membuat orang lain menderita (hlm. 90).

Setelah tiga setengah tahun tanpa kabar saat bersekolah di luar negeri, Ilona atau Ona pulang ke rumah ayahnya. Apakah ia masih menyimpan keteguhan yang sama dengan yang dimilikinya dulu?

Rain dalam Sepasang Mata Menatap Rain baru berusia dua setengah tahun tapi sangat cerdas dan peka. Dalam perjalanan menuju toko buku pada suatu hari Minggu, tanpa sengaja Rain melihat foto seorang anak perempuan dengan sepasang mata bulat yang pedih di majalah yang dilembari ibunya. Serombongan pertanyaan 'kenapa' pun menggelinding keluar dari mulutnya dan nyaris membuat ayah dan ibunya kelabakan. Hal yang sama terulang manakala Rain melihat anak perempuan pemain rebana menyanyi sambil menari dari jendela mobil. Mengapa Rain sangat gelisah setelah melihat mata pemain rebana itu? 

Matanya menangis, tapi tidak ada air matanya.... Itu pasti karena dia sudah kehabisan airmata, karena dia sudah lelah menangis (hlm. 104).

Malam Terakhir menjadi cerpen pamungkas dalam kumpulan cerpen ini. Setelah sebuah demonstrasi menentang pemerintah, tiga mahasiswa ditangkap tentara, disiksa sampai babak belur, dan dijebloskan ke dalam penjara. Ketiganya akan dieksekusi dengan cara digantung di hadapan umum. Pada malam terakhir mereka disekap, seorang gadis yang juga bagian dari demonstrasi dicampakkan ke dalam penjara yang sama. Gadis itu telah mengalami penyiksaan di luar batas kemanusiaan. 

Secara paralel, seorang gadis cantik berusia 22 tahun, putri seorang tokoh penting yang terlibat dalam pertumpahan darah mahasiswa, mempertanyakan hukuman mati yang ditimpakan pada keempat mahasiswa itu. Ia tidak bisa memahami bagaimana hukuman mati dilaksanakan tanpa bukti kesalahan para terhukum. Ia juga tidak bisa mengerti mengapa hukuman mati itu disebut ayahnya sebagai pertunjukan seni akbar.  Ia tidak bisa menerima penjelasan ayahnya yang menyatakan bahwa:

Dalam semua pertempuran, Sayang, segala gerunjal-gerunjal harus ditebas habis. Di dalam pertempuran, selalu ada kata 'kita' dan ada kata 'mereka'. Siapa saja yang menjadi unsur kata 'mereka' harus diterabas hingga ke akar-akarnya. Semua unsur harus menjadi bagian dari 'kita'.... (hlm. 112).


Edisi Pertama (Grafiti, 1989)

Setelah dua puluh tahun diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Pustaka Utama Grafiti (1989), kumpulan cerpen Malam Terakhir diterbitkan kembali oleh Kepustakaan Populer Gramedia (2009). Delapan cerpen disisihkan dan satu cerpen ditambahkan yaitu cerpen Sepasang Mata Menatap Rain. Boleh dibilang, penambahan cerpen ini terkesan dipaksakan dan tidak pada tempatnya berada di antara cerpen-cerpen lain. Leila tidak menjelaskan penambahan cerpen ini dalam Pulang: Setelah 20 Tahun.... Ia hanya mengatakan bahwa:

Malam Terakhir versi baru ini saya seleksi sesuai dengan keinginan periode masa kini. Saya hanya memilih beberapa cerita pendek yang menurut saya mewakili saya dan masih mewakili zamannya. Cerita yang saya pilih ini juga mewakili gaya yang saya pilih setelah 20 tahun berkelana: gaya sederhana yang mampu mengirim kompleksitas cerita.

Tidak cuma melakukan seleksi, Leila ternyata melakukan revisi dalam beberapa kalimat, meskipun sebenarnya tidaklah perlu. Membiarkan sebagaimana pertama diterbitkan, sama sekali tidak membuat cerita Leila berkurang kehebatannya.

Dalam keragaman tema yang dipilih Leila, kita bisa mengetahui bahwa kebebasan berekspresi, kemerdekaan dari penindasan, keleluasaan menetapkan pilihan hidup, kesetiaan, kejujuran, integritas, kepekaan, dan keberanian adalah hal-hal penting yang dianut dan diperjuangkan seorang Leila S. Chudori. 

 
Cetakan Kedua, November 2012


Catatan:
Tulisan ini sebetulnya sudah siap diposting pada 31 Mei 2013 untuk Baca dan Posting Bareng BBI dengan tema Kumpulan Cerpen. Tapi, karena saya harus pergi ke beberapa tempat di Jawa Timur selama tiga hari dimulai pada 30 Mei 2013, baru bisa diposting hari ini. 



3 comments:

Peri Hutan said... Reply Comment

wah tampilan blognya baru, lebih fresh :)

Peri Hutan said... Reply Comment

btw cara bilin emoticon di kolom komentar gimana , mas? aku nyoba nggak pernah bisa :(

Jody said... Reply Comment

Terima kasih :))

Cara memasukkan emoticon ke dalam kotak komentar, coba ikuti langkah2 di:

http://mkr-site.blogspot.com/2013/02/emoticon-pada-komentar-blogspot.html

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan