27 June 2014

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas



Judul Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas 
Pengarang: Eka Kurniawan 
Editor: Mirna Yulistianti 
Tebal: 243 halaman 
Cetakan: 1, Mei 2014 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




Ajo Kawir mengalami disfungsi ereksi, momok yang paling menakutkan bagi kaum pria. Burungnya tidak bisa ngaceng. Sudah berbagai cara ditempuh Ajo Kawir seperti masturbasi di depan foto artis seksi, mengoles dengan potongan cabai rawit, menyengat dengan lebah, membaca koleksi stensilan Iwan Angsa, bahkan memanfaatkan kemampuan pelacur. Tapi burungnya tetap tidak bisa bangun. 

Si Burung berpikir dirinya seekor burung kutub yang harus tidur lama di musim dingin yang menggigilkan. Ia memimpikan butir-butir salju yang turun perlahan, yang tak pernah dilihat oleh tuannya. (hlm. 1-2). 

Saking frustrasinya, Ajo Kawir hampir memotong burungnya. Untunglah tindakan nekat itu tidak jadi dilakukan karena dipergoki Si Tokek. BFF-nya inilah yang menyadarkan Ajo Kawir untuk tidak telalu mempermasalahkan burung kebluk itu. 

Suatu ketika, burungmu akan berdiri lagi. Percaya saja, Lagipula, kalau sekarang bisa berdiri, memangnya mau kamu pakai untuk siapa? (hlm. 41). 

Bagaimanapun, Si Tokek merasa bersalah kepada Ajo Kawir. Karena dialah burung Ajo lebih suka tidur ketimbang berkicau. Saat berusia awal belasan tahun, Si Tokek mengajak Ajo Kawir mengintip apa yang terjadi di rumah Rona Merah, perempuan yang menjadi sinting setelah kematian suaminya, Anton Klobot, seorang perampok. Meskipun sinting, tidak menghalangi dua polisi -Si Pemilik Luka dan Si Perokok Kretek- untuk memerkosa Rona Merah. Apesnya, mereka ketahuan sedang mengintip. Maka, sehabis memerkosa Rona Merah, kedua polisi cabul itu memaksa Ajo Kawir untuk memerkosa Rona Merah juga. Mungkin karena takut atau terkejut melihat selangkangan Rona Merah, burung Ajo Kawir pun terkulai malu.  ... sejak hari itu kemaluan Ajo Kawir tak pernah bisa berdiri. Tetap tak berdiri meskipun dua belas pelacur telanjang di depannya, dan segala hal telah dicoba untuk membangunkannya.  (hlm. 29-30). 

Bertahun-tahun setelah Si Tokek sukses menenangkan dirinya, Si Burung yang asyik terlelap menjadi masalah lagi. Bagaimanapun, Ajo Kawir laki-laki, sekalipun burungnya tidak bisa berkicau. Makanya, saat ia bertemu cewek petarung bernama Iteung, ia jatuh cinta. Ajo bisa memuaskan Iteung menggunakan jarinya, tapi tidak cukup bagi Iteung. Sesakti apa pun jari Ajo Kawir, Iteung tetap membutuhkan burung yang lincah. Tak pelak lagi, frustrasi menguasainya lagi, dan Ajo Kawir semakin nekat, kepengin menghajar orang. Apalagi setelah mereka menikah, Iteung hamil, padahal mereka tidak pernah bersetubuh. 

Apakah ceritanya berakhir di sini? Oh, tentu saja belum. Setelah Iteung ketahuan hamil karena laki-laki yang bukan dirinya, Ajo Kawir telah menjadi supir truk  antarkota, dari Jawa sampai Sumatra. Ajo telah berubah setelah ditempa oleh sebuah pengalaman hidup yang memisahkannya dengan Iteung. Ia lebih bisa memahami jalan sunyi yang dipilih burungnya.  "Apa kabarmu hari ini, Burung? Jika kau masih ingin tidur, tidurlah yang lelap. Aku tak akan menganggu tidurmu." (hlm. 127). 

Sebagai keneknya, Ajo Kawir memilih Mono Ompong, anak muda bertemperamen tinggi yang selalu penasaran dengan masa lalu bosnya. Mono Ompong memusuhi supir truk lain, Si Kumbang, yang berniat membokongnya.  Saat sesuatu terjadi pada Mono Ompong yang membuatnya istirahat sebagai kenek, posisinya digantikan oleh Jelita, perempuan aneh yang tiba-tiba -entah darimana datangnya- sudah berada dalam truk Ajo Kawir. 

Perempuan itu tak seperti namanya, sama sekali tak bisa dibilang jelita. Siapa pun yang memberi nama Jelita untuk perempuan ini, begitu Ajo Kawir selalu berpikir, pasti sedang membuat lelucon hebat. Perempun ini buruk. Ia tak perlu menggambarkan seperti apa mukanya, tapi menurut Ajo Kawir, perempuan ini buruk. Ia tak yakin perempuan ini berkata jujur. Lari dari suami? Apakah di atas muka bumi ini ada lelaki yang mau kawin dengan perempuan begini? (hlm. 212). 

Siapakah Jelita? Benarkah ia lari dari suaminya? Atau ia orang suruhan Paman Gembul yang juga merasa bersalah karena secara tidak langsung telah membuat Ajo Kawir impoten? Eka Kurniawan membiarkan identitas perempuan itu tak terjelaskan. Ajo Kawir memiliki dugaan sendiri (hlm. 240) tapi tetap tidak memberikan jawaban memuaskan mengenai siapa sebenarnya Jelita. Yang paling penting di sini, Jelita memegang peranan yang sangat signifikan dalam transformasi yang dialami Ajo Kawir. Itulah sebabnya, sebelum ditampilkan orangnya, Eka sudah mengisyaratkan keberadaannya sejak awal. 

Jadi, apakah burung Ajo Kawir akan bangun dari tidurnya yang panjang? Benarkah, seperti yang diyakini Paman Gembul dan Iteung, satu-satunya cara memulihkan Ajo Kawir adalah menemukan kedua polisi cabul yang memerkosa Rona Merah dan menghabisi mereka? Anda bisa menemukan sendiri jawabannya dengan membaca lengkap novel ketiga Eka Kurniawan ini. 

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas bukanlah novel biasa. Setelah dibuka dengan rangkaian kalimat mengundang yang langsung menohok permasalahan inti, kita akan mengikuti kisah laki-laki impoten yang disampaikan secara blakblakan. Segala perkara mengenai burung  dan memek akan disampaikan apa adanya. Kata-kata seperti ngaceng, pelber (baru nempel langsung nyembur), dan lonte akan disampaikan dengan enteng dan tanpa basa-basi. Demikian pula adegan-adegan seks yang bermunculan memanaskan plot. Vulgar memang, sudah jelas dan tidak bisa disangkal, tapi jujur dan apa adanya. Mungkin, kevulgaran memang tidak bisa dilepaskan dari lingkup pergaulan para tokoh utama novel, karenanya apa yang dibeberkan dalam novel ini bisa dibilang lumrah. 

Bagi sementara pembaca, mungkin akan menganggap gaya berkisah Eka Kurniawan hal yang biasa. Cukup menikmati dan dan tertawa sepuasnya. Tapi mungkin, bagi pembaca tertentu, agak sulit untuk menerima, bahkan merasa jijik. Hal yang lumrah, selumrah kevulgaran novel ini. Saya sendiri merasa jijik -siapa yang tidak?- ketika membaca adegan Ajo Kawir sedang berak dan tainya ke mana-mana. 

Kosakata vulgar, problematika burung yang tidak bisa berkicau, dan kebrutalan yang menyertainya, dimunculkan Eka Kurniawan dalam plot maju-mundur yang bergerak agresif. Perpindahan adegan yang rapat dengan gampang bisa dipahami, memberikan kesan kita sedang mengikuti sebuah film dengan kejutan yang diungkapkan di sana-sini. Penggunaan kalimat-kalimat pendek tapi efektif memperkuat kesan ini. Eka Kurniawan memang tidak mengggunakan kalimat-kalimat panjang seperti dalam Cantik Itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004). 

Kebiasaan Eka menggunakan karakter dengan nama-nama yang unik dan sering merupakan julukan ditunjukkan juga di sini. Ajo Kawir, Si Tokek, Iwan Angsa (ayah Si Tokek), Iteung, Jelita, Mono Ompong, Si Kumbang, Si Macan (mantan penjahat), Paman Gembul (yang meminta Ajo Kawir untuk membunuh Si Macan), Rona Merah, Agus Klobot, Budi Baik (sesama petarung yang mencintai Iteung), Si Janda Muda, Perokok Kretek, dan Pemilik Luka adalah nama-nama yang imajinatif. Setiap nama menjadi tidak terlupakan karena punya peran masing-masing. Setiap nama dipertimbangkan dengan baik kemunculannya,dan khususnya nama-nama yang tidak berperan utama, memberikan kontribusi pada tindakan, pemikiran, dan transformasi dalam hidup para karakter utama. 

Judul novel yang panjang dengan mudah akan melekat di lidah dan ingatan. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas sesungguhnya melukiskan problematika yang dialami Ajo Kawir sebagai laki-laki impoten yang menginginkan kemaluannya bisa ereksi lagi (dan digunakan juga, tentu saja). Itulah sebabnya, sampul novel yang dirancang Eka Kurniawan sendiri, termasuk ilustrasinya, sebenarnya termaktub pada truk Ajo Kawir. Gambar seekor burung yang sedang tertidur pulas, nyaris seperti burung mati, dan di atasnya ada tulisan "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".


0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan