22 January 2013

The Fault In Our Stars



Review + Giveaway

Judul Buku: The Fault In Our Stars
Pengarang: John Green
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Tebal: 424 hlm; 20,5 cm
Cetakan: 1, Desember 2012
Penerbit: Qanita


 



Tiga bulan setelah mendapatkan menstruasi pertama pada umur tiga belas tahun, Hazel Grace Lancaster didiagnosis mengidap kanker tiroid stadium empat. Penyakit itu bermetastasis hingga ke paru-parunya dan membuatnya terserang pneumonia. Selain harus menelan Phalanxifor  untuk memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker, Hazel mesti membawa BiPAP (Bilevel Positive Airway Pressure) ke mana-mana untuk membantu pernapasannya.

Atas dorongan ibunya, Hazel yang sudah berusia enam belas tahun, mendatangi kegiatan Support Group (Kelompok Pendukung) yang dilaksanakan di ruang bawah tanah sebuah Gereja Episkopal. Kelompok Pendukung ini dipimpin oleh seorang penyintas kanker buah pelir. Di sana, Hazel bertemu Augustus Waters, cowok seksi berumur tujuh belas tahun, mantan pemain basket. Augustus atau Gus bergabung dengan Kelompok Pendukung karena diminta sahabatnya, Isaac, yang terkena kanker mata. Gus sendiri adalah penyintas osteosarkoma -kanker tulang- yang membuatnya kehilangan salah satu kakinya karena harus diamputasi.

Hazel memiliki perbedaan pandangan dengan Gus mengenai kehidupan yang sedang dijalaninya. Gus hidup dalam ketakutan akan dilupakan untuk selamanya ketika meninggal. Sedangkan Hazel tidak begitu peduli. Ia telah belajar dari buku An Imperial Affiction (Kemalangan Luar Biasa) yang ditulis Peter Van Houten bagaimana menyikapi kondisi sekarat. Bagi Hazel, kematian adalah suatu kelumrahan. "Jika kau khawatir dilupakan untuk selamanya oleh manusia, aku mendorongmu untuk mengabaikannya saja. Tuhan tahu, itulah yang dilakukan semua orang lainnya." (hlm. 23).

Meskipun tidak sependapat, Gus tertarik pada Hazel. Ketertarikannya langsung diwujudkannya dengan mengajak Hazel menonton film V for Vendetta di rumahnya. Hazel pun tidak bisa menepis ketertarikan pada cowok seksi bermata biru itu. Ketika Hazel memperkenalkan An Imperial Affiction pada Gus, hubungan mereka pun kian akrab. Apalagi Gus memberikan novel yang ditulis berdasarkan permainan video favoritnya, The Price of Dawn (Ganjaran Fajar).

Sebagaimana Hazel, Gus pun terobsesi dengan ending terbuka yang diberikan Peter Van Houten untuk bukunya. Mereka ingin tahu apa yang terjadi pada Anna, ibunya yang bermata satu, pedagang tulip Belanda yang disebut Anna sebagai Lelaki Tulip Belanda, dan Sisyphus, hamster milik Anna. Sayangnya, Peter Van Houten telah lama meninggalkan Amerika dan kembali ke Belanda. Hazel telah menulis selusin surat kepada penulis itu melalui penerbitnya, tapi tidak pernah dibalas.

Secara mengejutkan, Gus ternyata berhasil menghubungi Peter Van Houten menggunakan surel melalui asistennya, perempuan Belanda bernama Lidewij Vliegenthart.  Hazel mencoba sekali lagi menghubungi Peter melalui surel hingga akhirnya mendapat balasan. Dalam suratnya, Peter menyatakan tetap tidak mau memberikan kisah para karakter bukunya setelah bukunya berakhir. Tapi ia mengundang Hazel datang ke rumahnya jika Hazel berada di Amsterdam.

Gus memberikan solusi untuk Hazel agar bisa pergi ke Amsterdam. Yayasan Peri (The Genie Foundation) -semacam Make a Wish Foundation- bisa mewujudkan satu keinginan untuk anak yang sedang sakit. Hazel berkesempatan mengunjungi Peter asalkan kondisinya mengizinkan. Untunglah, hasil pemindaian PET (Positron Emission Tomography) mengindikasikan tidak ada pertumbuhan tumor.

Sebelum pergi ke Amsterdam, Gus telah melakukan pemindaian PET saat mulai merasakan nyeri pinggul. Ia telah berada dalam kondisi NEC (no evidence of cancer = tidak ada bukti kanker) selama empat belas bulan. Tapi hasilnya ternyata menunjukkan kekambuhan. Gus hanya bisa bertekad memerangi penyakitnya untuk Hazel dan salah satu penyemangatnya adalah meletakkan rokok yang tidak diisapnya di antara bibirnya. .Sebuah tindakan metaforis untuk menyatakan bahwa dia tidak memberi kekuatan untuk membunuh pada si pembunuh. Gus pernah kehilangan kekasihnya karena kanker otak dan ia tidak mau kehilangan lagi.

Peperangan yang hebat. Apa yang kuperangi? Kankerku. Dan, apakah kankerku itu? Kankerku adalah aku. Tumor-tumor itu adalah bagian dari diriku. Mereka adalah bagian dari diriku, sama seperti otak dan jantungku adalah bagian dari diriku. Ini perang saudara, Hazel Grace, dengan pemenang yang sudah ditentukan sebelumnya. (hlm. 291).

Perjalanan ke Amsterdam bisa terwujud. Sayangnya, Peter tidak menyambut mereka dengan antusias. Ternyata, mengasingkan diri di Belanda telah membuatnya menjadi pemabuk yang menyebalkan setiap berbicara. Ia sama sekali tidak mau memuaskan keinginan kedua tamunya mendapatkan kisah setelah bukunya berakhir. Untuk menghibur Hazel, Gus berjanji membuatkan epilog untuk kekasihnya itu.


Bagaimana nasib kisah kasih Hazel dan Gus? Apakah mereka akan tetap keluar sebagai penyintas kanker? Atau sama-sama akan menyerah kalah pada keganasan kanker yang mereka derita? Sebelum semuanya itu, apakah Hazel dan Gus bisa mewujudkan obsesi mereka terkait An Imperial Affiction?  Dan jangan lupa Peter Van Houten. Karena ternyata, ia memiliki rahasia masa lalu yang memerangkapnya dalam kehidupan mubazir.

The  Fault In Our Stars karya John Green adalah novel yang bikin sesak dan tidak nyaman. Meskipun kedua karakter utama -Hazel dan Gus- mencoba optimis menghadapi penyakit mereka, tapi kerap kesedihan mengambil tempat terbesar di antara mereka. Mungkin terkadang pembaca remaja -target utama novel ini- harus diberikan kisah-kisah realis agar memahami kehidupan yang sebenarnya. Tapi, bukan novel dengan kisah semuram The Fault In Our Stars. Memang benar, kita akan menemukan tebaran humor yang disampaikan Hazel sebagai narator orang pertama, tapi tidak cukup membuat gembira. 

John Green sama sekali tidak gagal dalam membangun kisah, merancang karakter, dan menata plot. Kisahnya pun disampaikan dengan cara yang sedap dibaca. Tapi kanker-kanker yang dimunculkannya, menurut saya, berlebihan. Seakan berada di mana-mana. Coba saja hitung berapa kanker dalam novel ini. Kanker tiroid, osteosarkoma, kanker buah pelir, leukemia, kanker mata, kanker usus buntu, kanker otak. Benar-benar kemalangan luar biasa.

Lalu apa maksud judul The Fault In Our Stars? Judul ini bisa ditemukan dalam surat Peter Van Houten yang ditujukan kepada Gus.

Semua orang di dalam cerita itu punya hamartia (=cacat fatal) yang begitu mantap: hamartia gadis itu adalah keparahan penyakitnya; hamartia-mu adalah kesehatanmu yang luar biasa. Seandainya gadis itu lebih sehat atau kau lebih sakit, maka bintang-bintang tidak akan membawa takdir, walaupun secara alami bintang-bintang memang membawa takdir, dan Shakespeare sangatlah keliru ketika menyuruh Cassius berkata, "Kesalahannya, Brutus tersayang, bukanlah pada bintang-bintang/Melainkan pada diri kita sendiri". Itu cukup mudah untuk dikatakan jika kau bangsawan Romawi (atau Shakespeare), tapi kesalahan selalu bisa ditemukan di antara bintang-bintang. (hlm. 151-152).

Edisi Indonesia novel ini yang diberi judul terjemahan Salahkan Bintang-Bintang cukup sedap dibaca. Tapi karena sempat membaca edisi Inggrisnya (saya punya edisi hardcover bertanda tangan pengarang), saya menemukan ada bagian yang dihilangkan dalam edisi Indonesia, yaitu ketika Hazel dan Gus bercinta di Amsterdam. Sebenarnya adegan percintaan mereka tidak bisa dikatakan vulgar, hanya saja cukup mesra. Sementara di bagian penutup, tepatnya dalam surat Gus kepada Peter Van Houten, saya menemukan  "A nurse guy"  diterjemahkan menjadi "Seorang suster laki-laki." Padahal seharusnya "Seorang perawat laki-laki". Bukankah suster itu jelas-jelas sebutan untuk perawat perempuan? 



John Green



The Fault In Our Stars Giveaway



Ada satu buku The Fault In Our Stars  edisi Indonesia khusus untuk salah satu Follower blog ini -yang berdomisili di Indonesia. Bagi yang ingin menjadi Follower dan mengikuti giveaway ini, disilakan. Cukup meninggalkan jawaban di kotak komentar. Pertanyaannya adalah: jika mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan satu keinginan Anda, keinginan apa yang akan diwujudkan? Jangan lupa berikan alasannya. Pemenang akan ditentukan berdasarkan jawaban yang diberikan.

Ditunggu sampai 27 Januari 2013. Pemenangnya akan diumumkan pada 28 Januari 2013.


26 comments:

Oky @ Kumpulan Sinopsis said... Reply Comment

Lanjutin review Looking For Alaska - John Green juga dong mas Jody. Eh, aku ikutan GAnya yaa:

Aku pengen bgt punya kekuatan untuk memanipulasi waktu. Bisa kembali ke masa lalu utk memperbaiki hal-hal yg sempat rusak/salah. Bisa melambatkan waktu supaya bisa menikmati momen spesial lebih lama.. menurutku yg paling berharga selain kesehatan ya cuma waktu~ sedangkan hal2 esensial lain seperti kebahagiaan dan rasa syukur itu pilihan.

orybun said... Reply Comment

keinginan yang akan diwujudkan? punya pintu ke mana saja.
sampai sekarang saya beneran berharap ada pintu kaya gituan suatu hari nanti, biar gampang berangkat kuliah, biar masih bisa anter jemput anak sekolah, biar bisa optimal di lab, biar bisa.. yah..banyak hal..

desty said... Reply Comment

Memang boleh ya kalau yang diterjemahkan itu menghilangkan salah satu bagian dalam cerita? padahal bagian percintaan Gus dan Hazel itu kan salah satu yang membangun emosi pembaca terhadap hubungan keduanya...

Ohya, ikutan GA ya
Kalau saya bisa mewujudkan keinginan sendiri, saya ingin punya anak.
Itu rahasia Tuhan yang belum terjawab dalam 4 tahun resolusi hidup saya.
*halah curcol deh*

Jody said... Reply Comment

Sebenarnya ga boleh. Ada penulis yg protes kl bukunya disensor.
Agak sebal juga sih sebenarnya.

Nur Aulia Afina said... Reply Comment

Sebenarnya banyak novel young-adult yang diperhalus sama Mizan, terutama yang ada adegan ciumannya.

Jody said... Reply Comment

Menurutku adegan percintaannya ga kasar sama sekali. Jauh banget dr novel2 romance dewasa yg byk beredar skrg.

Yg ini bukan diperhalus, tapi dipangkas.

Jody said... Reply Comment

Punya Looking for Alaska tapi ebook. Pdhl aku payah kalo baca ebook, lebih suka buku konvensional. Ntar dicoba, semoga ga lama :)

Jody said... Reply Comment

Pernah liat bukunya di Periplus Bandara Soetta. Mahal :)

daneeollie said... Reply Comment

Salam kenal...
aku ikut giveaway-nya ya...
Satu keinginanku saat ini? Memberangkatkan haji bapak dan ibu :)

Hermione-Malfoy said... Reply Comment

aku ikut Give Away nya ya ka c:

kalau aku bisa wujudin keinginanku, aku pengen bisa masuk ke dalam buku dan berubah jadi karakter yang berbeda2 disetiap buku. pasti seru bisa ngerasain sendiri bagaimana rasanya jadi si 'tokoh' itu. :)

Theresiaah said... Reply Comment

Ikutan GA ya.

Kalau keinginan ku bisa terwujud aku ingin hidup seperti bintang, yang selalu menyinari indahnya malam. Dan bisa menjadi penerang dalam setiap kegelapan. Agar nama yang diberikan oleh orang tuaku berarti. Theresia Bintang

Unknown said... Reply Comment

Hi. Ikutan GA-nya ya.
Jika mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan satu keinginan Anda, keinginan apa yang akan diwujudkan?
Muter2 dulu ya jawabnya. Aku mikir banget nih buat jawab pertanyaan ini, apakah mo jalan2 ke luar negeri bareng sohib atau ngelanjutin studi di luar negeri. Setelah dipikir2, it's all pretty selfish. Jadi diputuskan jawabannya adalah:
Ngasih kesempatan ini buat seseorang (kalo banyak orang boleh ga?) yang ingin sembuh dari penyakit dan karena itu butuh banyak biaya, tapi ga punya kemampuan untuk bayar.
Setelah nonton K-drama "Alice in Cheomdangdong" jadi inget tokoh utama cowoknya bilang kurang lebih: CHARITY HEALS. I'm not very big on charity, yet, but I think I should start now.

Unknown said... Reply Comment

Btw, my blog is http://reviewsbythegeek.wordpress.com/
Mau reply pake akun Wordpress ga bisa. :(

Oli_Lizzy said... Reply Comment

Ikut giveaway nya ya~ ^^
kalau bisa mewujudkan satu keinginan, saya ingin punya ruangan khusus buat semua buku saya..
Sekarang aja rak belum punya, masih ditaruh dengan rapi di meja :'\
Agak selfish memang, tapi itu salah satu keinginan saya ;)

Linda Zunialvi said... Reply Comment

Satu keinginanku simple aja (meskipun sedikit weird): "bisa punya perpustakaan gede!"
Lemari bukuku udah nggak muat lagi buat nampung buku, sih. >,<
Perpustakaan kayaknya solusi yang paling tepat, deh. Huehehe.

Oky @ Kumpulan Sinopsis said... Reply Comment

Aku juga kalo ebook agak malas bacanya, ga kuat >.<

Ratih Widyastuti said... Reply Comment

keinginan buat q itu susah,,,krn kdg aq tkut klo mnginginkan sswtu trlalu brharap.... dan aq blm bisa bkin itu nyata,,,trlebih sring bingung ttg ap yg aq ingin *so pathetic* inti ny: keinginan q adalah bisa tau apa yang aq inginin,, dan gg takut untuk mlih atau ngambil langkah bsar dlm hdup buat wujudin -at least- keinginan2 q itu sndiri. hhehe....

Jody said... Reply Comment

@Ratih Widyastuti:
Terima kasih, Ratih.

anggit budi pawestri said... Reply Comment
This comment has been removed by the author.
Taiga Ryuuji said... Reply Comment

Ikut GAnya ya ^^

Pertanyaan : jika mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan satu keinginan Anda, keinginan apa yang akan diwujudkan?
Jawaban : Keinginan terdalam saya sih sebenernya simpel banget, saya cuma pengen enggak bikin susah orang tua dan bisa bikin mereka bahagia :)
Saya merasa banget kalau saya ini bukan anak yang baik dan selalu menyusahkan, dan kalau diberi kesempatan untuk mewujudkan keinginan saya yang terdalam, saya pengin nggak bikin susah orang tua, bisa mandiri, dan bisa bahagiain orang tua ^^

Jody said... Reply Comment

@Taiga Ryuuji:
Wah, sayangnya GA-nya udah lama ditutup. Tunggu aja kesempatan berikutnya ya :)

Toko Buku said... Reply Comment

Resensi novel yang bagus, salam kenal dari kami. Semoga bermanfaat.

Anonymous said... Reply Comment

mau nanya dong buku yang versi inggrisnya beli dimana kalo di indonesia?

Anonymous said... Reply Comment

periplus atau book and beyond

Anonymous said... Reply Comment

Di Gramedia ada gak?;D

Liza Mawarni said... Reply Comment

Keberanian. Aku ingin Tuhan berbaik hati memberiku rasa keberanian. Saat seseorang kesulitan, aku ingin menjadi berani dgn menawarkan bantuan. Saat melihat seorang penjahat tengah melakukan kejahatan, aku ingin menjadi berani dgn memukul mereka.

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan