12 February 2012

The Missing Rose


Judul Buku : The Missing Rose
Penulis : Serdar Özkan
Penerjemah : Rosemary Kesauli
Tebal: 224 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Mei 2009
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama


 





Ephesus! Kota bermuka dua. Tempat berdirinya Kuil Artemis serta Rumah Kudus Bunda Maria. Kota yang menampilkan ego sekaligus jiwa. Lambang kesombongan sekaligus kerendahan hati. Wujud nyata perbudakan sekaligus kemerdekaan. Ephesus! Kota tempat dua hal bertentangan saling terkait. Kota yang sama manusiawinya dengan setiap manusia (hal. 7 dan 219).

Ephesus adalah kota yang dibangun di sekitar Selcuk, sebelah barat Turki. Seperti pada kalimat di atas, di Ephesus terdapat kuil dewi Artemis dan rumah Bunda Maria (Miriam). Kabarnya, di sana Santo Paulus pernah berkhotbah kepada orang banyak mengenai Bunda Maria. Tetapi mengalami penolakan, karena penduduk Ephesus menyembah dewi mereka sendiri, yaitu Artemis.

"Aku mengenalnya seperti diriku sendiri," kata Diana Stewart mengenai Artemis. "Dia hanya ilusi, dibentuk dan dipuja orang lain. Dia dewi berburu. Dia berjiwa bebas sekaligus terkekang tergantung pada orang lain namun angkuh".

Sebelum tiba di Ephesus dengan seorang pelukis bernama Mathias (Jon), Diana tidak sadar dirinya adalah 'Artemis'. Ia adalah perempuan pertengahan 20-an, pewaris grup hotel internasional dan salah satu hotel paling bergengsi di San Francisco. Sebagai perempuan muda, ia punya masalah dengan diri sendiri. Ia merasa memikul kewajiban memenuhi harapan orang-orang dalam lingkup pergaulannya untuk tampil seperti apa yang mereka inginkan.

"Diana Stewart sudah menjadi trademark. Bagaimana aku bisa mengecewakan khayalak ramai, para penggemar yang selalu memuja-mujaku?" Beginilah Diana yang terlena di atas singgasana popularitas memandang hidupnya. Dan ia memang memiliki semua yang dibutuhkan untuk tampil bak dewi. Ia kehilangan dirinya sendiri, demi menurutkan dan menyenangkan orang lain. Bahkan ia menepis cita-cita menjadi seorang penulis karena terbelit ketakutan hanya akan menjadi penulis yang biasa-biasa saja untuk ukuran seorang 'dewi'. Maka, kendati tidak pernah bercita-cita menjadi pengacara, ia kuliah hukum, lulus dan sebelum diwisuda telah menerima tawaran pekerjaan dari biro hukum terkenal. Padahal ia tahu, ibunya yang menghargai cita-citanya pasti akan menolak tawaran itu dan mendesaknya untuk menjadi penulis. Bagi ibunya, "Satu-satunya hal yang kaubutuhkan untuk merasa istimewa adalah dirimu sendiri." (hlm. 25; 175). Namun Diana pun sadar, sangat sulit untuk menanggalkan topeng ilusi yang telanjur disukainya. Hingga suatu malam, surat yang diberikan ibunya sehari sebelum meninggal, membenturkannya pada kenyataan. Ia memiliki seorang saudari kembar identik bernama Mary.

Sebelum malam itu, Diana tahu ia adalah anak semata wayang seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Karenanya, pengakuan sang ibu mengejutkannya. Menurut ibunya, ayah Diana telah meninggalkan mereka ketika Diana berusia 1 tahun dan membawa pergi Mary bersamanya. Ibunya telah menerima 4 surat tanpa alamat pengirim dari Mary. Namun, sebelum mereka bertemu, Mary telah menghilang, hanya meninggalkan surat perpisahan.

Dalam surat perpisahannya, Mary menjelaskan alasan kepergiannya. Ia merasa mulai mengerti arti 'bertanggung jawab atas setangkai mawar'. Pemikiran ini timbul setelah ia membaca buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Baginya, mawarnya telah dicuri dan ia harus pergi untuk merebut mawarnya kembali.

Sang ibu berharap Diana akan mencari Mary dan menjaganya, karena saat pengungkapan itu tidak ada waktu lagi bagi ibunya yang sekarat. Spontan pengetahuan apa yang dilakukan Mary membuat Diana geram dan tidak mau mencarinya. Ia tidak ingin memaafkan Mary yang telah membuat hari-hari terakhir hidup ibunya terlilit rasa takut dan khawatir. Apalagi isi surat Mary terkesan gila. Bagaimana mungkin Mary meninggalkan rumah demi setangkai mawar, kemudian belajar mendengar dan bercakap-cakap dengan mawar?

"Dalam jangka waktu beberapa hari saja orang bisa berubah," kata Mathias, lelaki yang dikenal dalam kesendiriannya. Benar, hanya dengan bermodalkan tiga nama –Zeynep, Socrates, dan Istana Topkapi, Diana memutuskan meninggalkan San Francisco. Ia pergi ke Istanbul untuk 'berburu' adiknya (Diana adalah dewi berburu dalam mitologi Romawi). Seolah dituntun tangan takdir, di kota asing di negeri asing yang belum pernah ia pijak, ia bertemu Zeynep Hanim, perempuan tua yang pernah mengajar Mary berbicara dengan mawar. Pada saat yang sama, Zeynep sedang menanti kedatangan Mary.

Sambil menunggu kemunculan Mary, Diana meminta Zeynep mengajarnya berbicara dengan mawar. Di bawah arahan Zeynep, Diana sadar, sesungguhnya ia adalah setangkai mawar, yang diciptakan dengan wangi istimewa, tetapi tergoda oleh suara orang lain. Ia mengubah diri sesuai keinginan orang lain dan kehilangan wangi. Seperti Mary, Diana pun harus bertangggung jawab atas setangkai mawar. Cara satu-satunya adalah ia harus menanggalkan ke-artemisan-nya. Sebab, "Kita semua seperti Ephesus, rumah Artemis sekaligus Bunda Maria," kata Diana akhirnya (hlm. 214).

Lalu, apakah Diana bertemu Mary di Istanbul? Tidak, tentu saja! Mengapa? Jawabannya berada pada sepucuk surat yang hilang dari amplop keempat yang ditemukan Diana dalam peti antik ibunya.

Pencarian diri adalah muatan inti novel The Missing Rose (Mawar yang Hilang) karya pengarang Turki, Serdar Özkan. Özkan (namanya sama dengan nama pemain sepak bola Turki) pernah menetap di Amerika selama empat tahun ketika belajar Pemasaran dan Psikologi. Setelah kembali ke Turki pada 2002, Özkan memutuskan menjadi novelis. Menyusul The Missing Rose, Özkan telah menulis novel keduanya, When Life Lights Up, yang berkisah tentang persahabatan seorang bocah dengan seekor lumba-lumba. Berkat The Missing Rose, Özkan tercatat sebagai novelis Turki ketiga yang karyanya banyak diterjemahkan setelah Orhan Pamuk (peraih Nobel Sastra 2006) dan Yaşar Kemal (nomine Nobel Sastra 1973). The Missing Rose telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 25 bahasa di lebih dari 30 negara di dunia. Karena bertema sama, yaitu pencarian diri, karya Özkan ini sering dibanding-bandingkan dengan The Alchemist karya Paulo Coelho.

Pencarian diri adalah elemen krusial dalam kehidupan manusia, dari pelbagai usia. Özkan mengindikasikan bahwa pencarian diri selalu memiliki momen khusus atau tepatnya momen genting. Di dalam novel ini, momen meninggalnya sang ibu dan kejutan adanya saudari kembar, membuka pintu pencarian diri Diana. Özkan juga mengungkapkan bahwa sejatinya 'diri sendiri' tidak perlu dilacak dengan cara yang rumit dan jauh. Kesulitan dalam pencarian diri terletak pada citra semu yang telah terbentuk dalam lingkungan seseorang berada dan bersosialisasi. Özkan memanfaatkan ibu Diana tidak hanya untuk menciptakan momen genting, tetapi juga menjadi pemicu bagi putrinya untuk bersegera menentukan hidup tanpa terkekang pendapat orang lain.

Melalui The Missing Rose, Özkan juga seolah membangun jembatan yang menghubungkan Barat dan Timur; dua dunia yang kerap bertikai. Dalam novel ini, tampaknya Özkan hendak menyampaikan bahwa kedua dunia ini bisa berkolaborasi untuk mendatangkan manfaat bagi manusia. Maka di dalamnya pembaca tidak hanya menemukan perjalanan Diana dari Barat ke Timur (dari San Francisco ke Istanbul), tetapi perpaduan William Blake dan Yunus Emre; mitologi Yunani dan mistisme Timur; Socrates dan Nasreddin Hodja; Artemis dan Bunda Maria. Semuanya tertuang indah dan puitis pada saat Diana belajar mendengarkan mawar di taman Zeynep Hanim. 

Dengan komposisi seperti itu, tak pelak lagi pembaca akan bertemu persenyawan unsur realistis, mistis dan mitos. Lebih daripada itu, pembaca akan menemukan elemen psikologis di dalamnya, sebuah petunjuk untuk mendengarkan suara hati, sehubungan dengan pencarian diri seorang manusia. Sosialisasi adalah bagian kehidupan manusia, di dalamnya manusia butuh beraktualisasi diri. Tetapi, dalam mengaktualisasi dirinya, manusia tidak harus sampai mengabaikan suara hati.

"Dua adalah satu...." tulis sang pengarang setelah sebuah prolog, pada awal bab satu bagian pertama dari tiga bagian novel ini. Tatkala mencapai kulminasi, pembaca akan menyadari bahwa satu botol yang tampak bak dua botol dalam pandangan mata Diana yang mabuk (hlm. 11) sesungguhnya merupakan dasar pencarian diri Diana.

Tetapi, apakah Diana bisa menjangkau cita-cita menjadi penulis tanpa takut menghadapi kegagalan? Pengarang akan menjawabnya melalui perpindahan sudut pandang yang dilakukan secara tiba-tiba.

Tak bisa dilupakan karakter bernama Mathias (atau Jon). Berbeda dengan Diana, pada jumpa pertama mereka, Mathias telah menemukan dirinya. Lelaki ini berasal dari New York. Ia kuliah di Harvard membawa harapan orangtuanya bahwa ia akan mendapatkan pekerjaan layak seperti menjadi seorang bankir. Tetapi, ia meninggalkan kuliahnya di Harvard dan pindah ke San Diego untuk menjadi seorang pelukis laut dan camar. Kenyataannya, ia juga sedang dalam pencarian, yaitu pencarian seorang belahan jiwa: seorang perempuan dengan cahaya di wajahnya. Ia bertemu Diana, tapi tidak melihat cahaya di wajah perempuan itu sebagai tanda akhir pencariannya. Apakah prinsip belahan jiwa Mathias akan dimodifikasi?

Yang jelas, apa yang dikatakan sebelumnya oleh Mawar Kuning (hlm. 147) pada Diana benar adanya: "Hanya orang-orang yang tertarik pada wangi kami (mawar) yang bisa sungguh-sungguh mencintai kami".





2 comments:

Dita Rahmadita said... Reply Comment

Makasih yaaa,,,, udh ngebantu tugas banget^^
Salam kenal,,, Ijin Kopas yaaaaaa><

Roziku Nooriza said... Reply Comment

sangat menyentuh hati

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan