21 November 2012

Lalita


Judul Buku: Lalita
Penulis: Ayu Utami
Tebal: x + 251; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, September 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
 

 




Lalita Vistara, pemilik sebuah galeri, adalah perempuan setengah baya yang memesona. Ia berhasil menyembunyikan bercak dan kerut penuaan di balik kosmetika berat yang digunakannya setiap hari. Lalita percaya pada reinkarnasi dan yakin kalau dirinya terlahir  kembali setiap sekitar lima abad.  Pertama, ia terlahir sebagai perempuan yang mempelajari Budhisme di Sriwijaya-Nepal pada abad ke-5. Kedua, menjelang abad ke-10, ia terlahir sebagai seorang putri dari wangsa Syailendra yang terlibat dalam pembangunan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Ketiga, pada abad ke-15, ia menjadi putri Pangeran Vlad Dracula di Transylvania. Dan pada abad ke-20, ia terlahir di Indonesia dengan nama Ambika Putri Nataprawira sebelum menggantinya dengan Lalita Vistara -dari Lalitavistara, biografi Siddharta Gautama yang adalah relief di candi Borobudur. Lalita abad ke-20 adalah cucu Anshel Eibenschutz, seorang lelaki Austria yang mengalami moksa di candi Borobudur. 

Lalita memiliki sebuah rencana terkait apa yang telah ditemukan kakeknya, sejak di Wina, Austria, hingga candi Borobudur di Jawa Tengah. Anschel Eibenschutz, lelaki berkepala miring dengan sikap kaku dan telapak kaki yang mengarah ke depan itu telah mendalami berbagai ilmu. Tanpa memberitahukan kepada dunia, Anschel telah menemukan hal-hal seperti memori nirsadar kolektif dan arketipe sebelum Carl Gustav Jung, kimatologi sebelum Hans Jenny, dan bahwa manusia mempunyai aura. Di Jawa Tengah, Anshel menemukan bahwa candi Boroubudur dengan tiga tingkatan dunianya -kamadatu, rupadatu, dan arupadatu- memberi satu model peta jiwa yang dicari oleh para psikonalis. Selain itu, ia telah menemukan gelombang tak terdeteksi yang menciptakan mandala Borobudur, apa yang telah menjadi obsesi Lalita Vistara, cucunya.

Tapi keinginan Lalita agar kakeknya diakui dunia bukanlah usaha yang gampang. Karena ada pihak yang tergiur pada iming-iming banyak uang untuk sejilid kertas yang ditinggalkan Anshel pada cucu perempuannya. Lalita mencoba mempertahan dan terus menggeluti peninggalan kakeknya, bahkan mencoba memindahkannya ke dalam bukunya sendiri. Akibatnya ia mesti menerima penghinaan dalam bentuk pemerkosaan dan penghapusan kosmetika yang menyembunyikan kerut dan bercak penuaannya dalam sebuah perampokan di rumahnya. Kemudian, setelah itu, ia meninggalkan rumahnya, galerinya, pekerjaannya, dan Jakarta, lantas menghilang tak tentu rimbanya.


Bagi Sandi Yuda, Lalita adalah Perempuan Indigo, perempuan yang memiliki kemampuan membawanya ke dalam petualangan seks yang baru. Dengan pesonanya, Lalita yang menyukai lelaki muda,  berhasil menghalau Marja dari pikiran Yuda dan memenangkan tubuh Yuda. Ia menuntun Yuda mencapai apa yang ia sebut axis mundi, sebuah poros dunia, yang adalah celah kecil lembut di antara tonjolan leher rahim dan dinding terdalam vaginanya. Yuda berhasil mencapai poros dunia kecil itu dalam sensasi serupa tutup sampanye yang disumbatkan di leher botol. Setelah pengalaman persetubuhan yang disebut Yuda sebagai dialog seks yang utuh itu, berulang terjadi pencapaian axis mundi yang membuat Yuda tergila-gila. Saat ia mencoba mencapainya dalam persetubuhan dengan Marja, ia gagal dan Marja justru menganggapnya seperti robot. Sampai novel berakhir, Yuda tidak bisa melupakan perempuan itu. 

Gara-gara pencapaian axis mundi yang berulang itu, hubungan Yuda dengan Marja, juga dengan Parang Jati, tergantung di ujung tanduk. Parang Jati marah, sebab ia sendiri telah menahan-nahan hasrat untuk menyetubuhi Marja. Demikian pula Marja yang seperti Parang Jati nyaris tak mampu menahan gairah pria dengan jari tangan sejumlah dua belas itu. Namun, karena Seri Bilangan Fu masih akan berlanjut dengan ketiga karakter ini, penulis memutuskan merahibilitasi hubungan mereka sambil tetap menyimpan gairah Marja dan Parang Jati serupa api dalam sekam. 

"Kalau aku mencintai seseorang, aku mau melekat, aku mau mencintainya tanpa jarak," kata Marja kepada Parang Jati. "Aku mau... tidak takut untuk menderita." (hlm. 197). Prinsip inilah yang membukakan jalan pengampunan Marja bagi Yuda. 

Sebenarnya Lalita karya Ayu Utami adalah sebuah novel yang tidak cukup istimewa. Isinya hanyalah perselingkuhan dan misteri yang menyelubungi kehidupan seorang cendekiawan dengan semua penemuannya. Masih terdapat hal-hal yang menimbulkan pertanyaan. Masa lalu Lalita -apalagi jika benar dirinya perempuan yang diindikasikan Janaka terlibat dalam kematian empat pria asing- dan hubungannya dengan saudara laki-lakinya tidak terjelaskan secara memadai. Dampaknya, kisah mereka di masa kini kurang bisa diterima sepenuhnya. Ayu, tampaknya, telah melakukan sejumlah riset untuk mendapatkan berbagai informasi yang ia paparkan dalam novel ini dan berhasil menghidangkan dengan cara berkisahnya yang khas. Ia, boleh dikata, mampu membangun kisah dengan konflik dan misteri dengan baik sehingga pembaca akan tetap melanjutkan pembacaan. Sayangnya, setelah berbagai informasi -yang akhirnya menjadi terkesan dilekatkan begitu saja ke dalam novel- kisahnya terasa kandas. Penyelesaian terlampau gampang dan terburu-buru, dengan motivasi kriminal seputar Buku Indigo yang tidak terlalu mendebarkan pula.   

Dibagi ke dalam tiga bagian yaitu Indigo, Hitam, dan Merah, tanpa tedeng aling-aling Ayu menyatakan bahwa buku ini ditulis dengan sebuah pola konsentris, sebagaimana Buku Indigo versi Lalita Vistara. Kira-kira seperti penjelasan Ayu berikut, yang kalau tidak bisa Anda pahami, tidak apa-apa, lewatkan saja.

"Ini perjalanan dari kehidupan sehari-hari yang riuh, masuk ke wilayah dalam yang semakin tenang, dunia lain yang lebih luas, atau melihat struktur jiwamu. Kepada memori kolektif bawah sadar. Perjalanan yang belum tentu menyenangkan seleramu. Setelah itu orang kembali ke dalam hidup sehari-hari dengan membawa pengertian yang diambilnya dari alam mimpi. Jika kita tidak menyadari apapun dari alam itu, maka itu berarti kau kini berjalan mundur." (hlm. 155).

Lalita adalah buku kedua dari Seri Bilangan Fu setelah pendahulunya, Manjali dan Cakrabirawa. Penulis,  tentu saja, bisa menyinggung-nyinggung apa yang terjadi pada buku pertama karena buku ini merupakan lanjutannya. Tapi tidak perlu sampai menulis kalimat seperti ini: 

"Dan aneh sekali, seperti cerita terdahulu, tepat pada akhir bab tujuh dari belakang, dialog itu terjadi lagi. Nyaris persis; hanya dengan sedikit pengurangan dan penambahan." (hlm. 205). Ayu, dengan kalimat  'tepat pada akhir bab tujuh dari belakang' sudah pasti merujuk pada percakapan Marja dan Parang Jati dalam bab 32 Manjali dan Cakrabirawa

Sebagian pembaca mungkin akan terkagum-kagum dengan berbagai informasi yang dijejalkan Ayu dalam novel ini, terutama pada bagian kedua, Hitam. Tapi sebagian mungkin merasa sesak dan mengalami kesulitan, apalagi ketika dipaksa memahami berbagai pemikiran Anshel Eibenschutz. Tidak heran kalau muncul kecurigaan hal ini dilakukan sekadar untuk membuat novelnya terkesan berbobot dan tidak semua orang bisa membacanya. Sangat disayangkan jika hanya Ayu yang benar-benar paham dengan apa yang sebenarnya ia ingin dipahami pembaca bukunya.

Omong-omong, saya suka ilustrasi sampul Lalita yang langsung mengingatkan saya pada gambar-gambar dalam buku botani. Ternyata, ilustrasi yang dikerjakan sendiri Ayu Utami ini memang dibuat untuk mengenang dan menghormati para pelukis botani, yaitu Amir Hamzah dan Mohamad Toha. Walaupun, tetap saja, buah bergetah dengan lapisan dalam berwarna merah di tengah-tengah itu mengingatkan pada ilustrasi sampul Bilangan Fu, yang juga dikerjakan sendiri oleh Ayu Utami.

Berhasil atau tidak Lalita di mata para pembaca, Ayu Utami tetap memikat dengan cara berkisah menggunakan kalimat-kalimat matang dan pemilihan diksi yang mumpuni.



4 comments:

desty said... Reply Comment

Bukannya Bilangan Fu itu lanjutan dari Saman dan Larung? Saya berhenti membaca karya Ayu Utami di Bilangan Fu (yang njelimet menurut saya).

Jody said... Reply Comment

@Desty: betul, Bilangan Fu memang terkesan dibikin2 rumit, jauh lebih susah dibaca drpd Saman dan Larung. Bilangan Fu gak berhubungan dengan Saman dan Larung.

Alena said... Reply Comment

Bahkan, saya belum bisa memahami hingga tuntas apa yang tengah dibicarakan oleh tokoh-tokoh dalam buku ini. Saya sampai membaca dua kali. Dan tetap tidak berhasil, atau belum atau bagaimana, saya tidak mengerti. Saya sampai angkat bendera putih x))

Dwi Riswanandi said... Reply Comment

Bilangan Fu merupakan novel yang utuh tanpa harus ada serinya; Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, Maya, dst hingga dua belas seri. Tampaknya seri Bilangan Fu ingin menghubungkan diri dengan dwilogi Ayu Utami; Saman dan Larung. Hal itu tampak pada novel Maya yang mulai menggunakan tokoh Yasmin.....

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan