Showing posts with label Ayu Utami. Show all posts
Showing posts with label Ayu Utami. Show all posts
21 November 2012

Lalita


Judul Buku: Lalita
Penulis: Ayu Utami
Tebal: x + 251; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, September 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
 

 




Lalita Vistara, pemilik sebuah galeri, adalah perempuan setengah baya yang memesona. Ia berhasil menyembunyikan bercak dan kerut penuaan di balik kosmetika berat yang digunakannya setiap hari. Lalita percaya pada reinkarnasi dan yakin kalau dirinya terlahir  kembali setiap sekitar lima abad.  Pertama, ia terlahir sebagai perempuan yang mempelajari Budhisme di Sriwijaya-Nepal pada abad ke-5. Kedua, menjelang abad ke-10, ia terlahir sebagai seorang putri dari wangsa Syailendra yang terlibat dalam pembangunan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Ketiga, pada abad ke-15, ia menjadi putri Pangeran Vlad Dracula di Transylvania. Dan pada abad ke-20, ia terlahir di Indonesia dengan nama Ambika Putri Nataprawira sebelum menggantinya dengan Lalita Vistara -dari Lalitavistara, biografi Siddharta Gautama yang adalah relief di candi Borobudur. Lalita abad ke-20 adalah cucu Anshel Eibenschutz, seorang lelaki Austria yang mengalami moksa di candi Borobudur. 

Lalita memiliki sebuah rencana terkait apa yang telah ditemukan kakeknya, sejak di Wina, Austria, hingga candi Borobudur di Jawa Tengah. Anschel Eibenschutz, lelaki berkepala miring dengan sikap kaku dan telapak kaki yang mengarah ke depan itu telah mendalami berbagai ilmu. Tanpa memberitahukan kepada dunia, Anschel telah menemukan hal-hal seperti memori nirsadar kolektif dan arketipe sebelum Carl Gustav Jung, kimatologi sebelum Hans Jenny, dan bahwa manusia mempunyai aura. Di Jawa Tengah, Anshel menemukan bahwa candi Boroubudur dengan tiga tingkatan dunianya -kamadatu, rupadatu, dan arupadatu- memberi satu model peta jiwa yang dicari oleh para psikonalis. Selain itu, ia telah menemukan gelombang tak terdeteksi yang menciptakan mandala Borobudur, apa yang telah menjadi obsesi Lalita Vistara, cucunya.

Tapi keinginan Lalita agar kakeknya diakui dunia bukanlah usaha yang gampang. Karena ada pihak yang tergiur pada iming-iming banyak uang untuk sejilid kertas yang ditinggalkan Anshel pada cucu perempuannya. Lalita mencoba mempertahan dan terus menggeluti peninggalan kakeknya, bahkan mencoba memindahkannya ke dalam bukunya sendiri. Akibatnya ia mesti menerima penghinaan dalam bentuk pemerkosaan dan penghapusan kosmetika yang menyembunyikan kerut dan bercak penuaannya dalam sebuah perampokan di rumahnya. Kemudian, setelah itu, ia meninggalkan rumahnya, galerinya, pekerjaannya, dan Jakarta, lantas menghilang tak tentu rimbanya.


Bagi Sandi Yuda, Lalita adalah Perempuan Indigo, perempuan yang memiliki kemampuan membawanya ke dalam petualangan seks yang baru. Dengan pesonanya, Lalita yang menyukai lelaki muda,  berhasil menghalau Marja dari pikiran Yuda dan memenangkan tubuh Yuda. Ia menuntun Yuda mencapai apa yang ia sebut axis mundi, sebuah poros dunia, yang adalah celah kecil lembut di antara tonjolan leher rahim dan dinding terdalam vaginanya. Yuda berhasil mencapai poros dunia kecil itu dalam sensasi serupa tutup sampanye yang disumbatkan di leher botol. Setelah pengalaman persetubuhan yang disebut Yuda sebagai dialog seks yang utuh itu, berulang terjadi pencapaian axis mundi yang membuat Yuda tergila-gila. Saat ia mencoba mencapainya dalam persetubuhan dengan Marja, ia gagal dan Marja justru menganggapnya seperti robot. Sampai novel berakhir, Yuda tidak bisa melupakan perempuan itu. 

Gara-gara pencapaian axis mundi yang berulang itu, hubungan Yuda dengan Marja, juga dengan Parang Jati, tergantung di ujung tanduk. Parang Jati marah, sebab ia sendiri telah menahan-nahan hasrat untuk menyetubuhi Marja. Demikian pula Marja yang seperti Parang Jati nyaris tak mampu menahan gairah pria dengan jari tangan sejumlah dua belas itu. Namun, karena Seri Bilangan Fu masih akan berlanjut dengan ketiga karakter ini, penulis memutuskan merahibilitasi hubungan mereka sambil tetap menyimpan gairah Marja dan Parang Jati serupa api dalam sekam. 

"Kalau aku mencintai seseorang, aku mau melekat, aku mau mencintainya tanpa jarak," kata Marja kepada Parang Jati. "Aku mau... tidak takut untuk menderita." (hlm. 197). Prinsip inilah yang membukakan jalan pengampunan Marja bagi Yuda. 

Sebenarnya Lalita karya Ayu Utami adalah sebuah novel yang tidak cukup istimewa. Isinya hanyalah perselingkuhan dan misteri yang menyelubungi kehidupan seorang cendekiawan dengan semua penemuannya. Masih terdapat hal-hal yang menimbulkan pertanyaan. Masa lalu Lalita -apalagi jika benar dirinya perempuan yang diindikasikan Janaka terlibat dalam kematian empat pria asing- dan hubungannya dengan saudara laki-lakinya tidak terjelaskan secara memadai. Dampaknya, kisah mereka di masa kini kurang bisa diterima sepenuhnya. Ayu, tampaknya, telah melakukan sejumlah riset untuk mendapatkan berbagai informasi yang ia paparkan dalam novel ini dan berhasil menghidangkan dengan cara berkisahnya yang khas. Ia, boleh dikata, mampu membangun kisah dengan konflik dan misteri dengan baik sehingga pembaca akan tetap melanjutkan pembacaan. Sayangnya, setelah berbagai informasi -yang akhirnya menjadi terkesan dilekatkan begitu saja ke dalam novel- kisahnya terasa kandas. Penyelesaian terlampau gampang dan terburu-buru, dengan motivasi kriminal seputar Buku Indigo yang tidak terlalu mendebarkan pula.   

Dibagi ke dalam tiga bagian yaitu Indigo, Hitam, dan Merah, tanpa tedeng aling-aling Ayu menyatakan bahwa buku ini ditulis dengan sebuah pola konsentris, sebagaimana Buku Indigo versi Lalita Vistara. Kira-kira seperti penjelasan Ayu berikut, yang kalau tidak bisa Anda pahami, tidak apa-apa, lewatkan saja.

"Ini perjalanan dari kehidupan sehari-hari yang riuh, masuk ke wilayah dalam yang semakin tenang, dunia lain yang lebih luas, atau melihat struktur jiwamu. Kepada memori kolektif bawah sadar. Perjalanan yang belum tentu menyenangkan seleramu. Setelah itu orang kembali ke dalam hidup sehari-hari dengan membawa pengertian yang diambilnya dari alam mimpi. Jika kita tidak menyadari apapun dari alam itu, maka itu berarti kau kini berjalan mundur." (hlm. 155).

Lalita adalah buku kedua dari Seri Bilangan Fu setelah pendahulunya, Manjali dan Cakrabirawa. Penulis,  tentu saja, bisa menyinggung-nyinggung apa yang terjadi pada buku pertama karena buku ini merupakan lanjutannya. Tapi tidak perlu sampai menulis kalimat seperti ini: 

"Dan aneh sekali, seperti cerita terdahulu, tepat pada akhir bab tujuh dari belakang, dialog itu terjadi lagi. Nyaris persis; hanya dengan sedikit pengurangan dan penambahan." (hlm. 205). Ayu, dengan kalimat  'tepat pada akhir bab tujuh dari belakang' sudah pasti merujuk pada percakapan Marja dan Parang Jati dalam bab 32 Manjali dan Cakrabirawa. 

Sebagian pembaca mungkin akan terkagum-kagum dengan berbagai informasi yang dijejalkan Ayu dalam novel ini, terutama pada bagian kedua, Hitam. Tapi sebagian mungkin merasa sesak dan mengalami kesulitan, apalagi ketika dipaksa memahami berbagai pemikiran Anshel Eibenschutz. Tidak heran kalau muncul kecurigaan hal ini dilakukan sekadar untuk membuat novelnya terkesan berbobot dan tidak semua orang bisa membacanya. Sangat disayangkan jika hanya Ayu yang benar-benar paham dengan apa yang sebenarnya ia ingin dipahami pembaca bukunya.

Omong-omong, saya suka ilustrasi sampul Lalita yang langsung mengingatkan saya pada gambar-gambar dalam buku botani. Ternyata, ilustrasi yang dikerjakan sendiri Ayu Utami ini memang dibuat untuk mengenang dan menghormati para pelukis botani, yaitu Amir Hamzah dan Mohamad Toha. Walaupun, tetap saja, buah bergetah dengan lapisan dalam berwarna merah di tengah-tengah itu mengingatkan pada ilustrasi sampul Bilangan Fu, yang juga dikerjakan sendiri oleh Ayu Utami.

Berhasil atau tidak Lalita di mata para pembaca, Ayu Utami tetap memikat dengan cara berkisah menggunakan kalimat-kalimat matang dan pemilihan diksi yang mumpuni.



18 November 2012

Manjali dan Cakrabirawa


Judul: Manjali dan Cakrabirawa
Penulis: Ayu Utami 
Tebal: x + 252; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Juni 2010
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia






Ayu Utami, saat ini, adalah salah satu penulis papan atas di Indonesia. Setelah melejit lewat novel Saman yang memenangkan sayembara Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1988, Ayu dikenal tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Ia telah menerima Prince Claus Award dari Belanda dan penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara 2008 karena dianggap memperluas batas cakrawala sastra Indonesia. Selain Saman, Ayu Utami juga telah menerbitkan Larung, lanjutan dari Saman, dan tentu saja, Bilangan Fu, yang diganjar Khatulistiwa Literary Award untuk kategori prosa tahun 2008.

Dalam  Bilangan Fu, Ayu memperkenalkan tiga karakter utamanya yaitu Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja. Selama membaca Bilangan Fu, tidak ditemukan penegasan bahwa mereka terlibat cinta segitiga sebagaimana yang disebutkan di sampul belakang novel Bilangan Fu.  Ketiga karakter ini dimunculkan kembali dalam Seri Bilangan Fu. Kita bisa menyatakan bahwa serial ini bersetingkan waktu sebelum Bilangan Fu berakhir. Sebab, yang sudah membaca Bilangan Fu pasti tahu kalau Ayu telah mematikan karakter Parang Jati. 

Manjali dan Cakrabirawa adalah judul yang dipakai untuk novel pembuka Seri Bilangan Fu. Judul ini langsung menetaskan pertanyaan lantaran Cakrabirawa dikenal sebagai pelaku pembunuhan para Pahlawan Revolusi pada September 1965. Dan ternyata, novel ini memang mengangkat peristiwa
G-30S/PKI sebagai landasan utama.

Marja, yang adalah kekasih Yuda, senang menghabiskan liburan di tempat tinggal keluarga Parang Jati di Sewugunung. Ke sanalah ia berencana pergi dengan Parang Jati saat Yuda mesti  ke Gunung Burangrang untuk berlatih panjat tebing dengan militer. Karena Parang Jati harus mengantar Jacquez Cherer, arkeolog Prancis, ke lokasi penemuan sebuah candi di Girah, sebuah dukuh di kaki Gunung Lawu, ia mengajak Marja untuk ikut. 

Diduga, candi tersebut berasal dari masa pemerintah Airlangga, raja Kerajaan Kahuripan, di awal abad ke-11. Tidak banyak bangunan peninggalan dari masa itu, sehingga Airlangga dan kerajaannya lebih merupakan dongeng ketimbang sejarah. Salah satu kesaksian mengenai keberadaan Kerajaan Kahuripan adalah dongeng Calwanarang (Calon Arang). Tidak pelak lagi, oleh arkeolog lokal, candi itu disebut sebagai candi Calwanarang dan disebut-sebut sebagai makam perempuan yang dikenal sebagai tukang teluh yang mengacaukan Kerajaan Kahuripan itu. 

"Dan jika sesuatu yang istimewa terjadi akibat segala hal berada bersama dalam suatu orbit, maka orang beriman menyebutnya 'rencana gaib' atau 'rencana ilahi'. Tapi orang yang tidak percaya menyebutnya sebagai 'kebetulan'," kata Jacques (hlm. 16).  "Dan jika kebetulan-kebetulan itu terlalu banyak dan cocok satu sama lain... Anda percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka?" (hlm. 17).

Bagaikan pembelaan dari apa yang hendak disodorkan Ayu kemudian, maka setelah itu dimulailah kebetulan demi kebetulan, yang menjadi andalannya dalam novel yang disebut penerbit sebagai Roman Misteri ini. 

Ternyata, nama lengkap Marja adalah Marja Manjali. Manjali adalah nama belakang dari putri Calwanarang -Ratna Manjali- yang tanpa sadar telah membuka jalan bagi kematian ibunya dengan menikahi Bahula, putra Mpu Barada. Tapi kesamaan nama ini bukanlah apa-apa, karena memang semata-mata kebetulan yang tidak penting. 

Kebetulan berikunya adalah penemuan arca Syiwa Bhairawa yang mengingatkan Marja pada Cakrabirawa, pasukan elit pengaman Presiden Sukarno yang menghabisi para Pahlawan Revolusi. Marja mengabarkan penemuan tersebut -termasuk kemungkinan keberadaan sebuah prasasti berisikan mantra Bhairawa Cakra- kepada Yuda yang sedang berada di Gunung Burangrang. Dan secara kebetulan pula, Yuda menceritakan penemuan ini kepada Musa Wanara, prajurit yang dikenalnya dalam latihan panjat tebing. 

Musa Wanara adalah prajurit pasukan elit yang tumbuh di era militer, ia didoktrin membenci semua yang terlibat dalam peristiwa
Gestapu. Tapi anehnya, di dalam dompetnya yang berisi jimat, Yuda menemukan sepotong kain bersulamkan nama Cakrabirawa. Musa memiliki alasan soal ini. Menurutnya, Cakrabirawa adalah mantra sakti yang tidak ada hubungannya dengan komunisme dan PKI. Dikatakannya pula, mantra Cakrabirawalah yang telah menyelamatkan Indonesia dari komunisme. Jika Cakrabirawa tidak melakukan kudeta, tidak ada alasan bagi Angkatan Darat untuk menumpas komunisme, dan jika Angkatan Darat tidak bertindak, maka PKI akan menang dalam pemilihan umum. Begitu mengetahui penemuan arca Syiwa Bhairawa, Musa pun bertekad memilikinya, dan sudah pasti, ia membutuhkan bantuan Yuda. 

Sementara itu, kebetulan lain terjadi lagi. Marja bertemu seorang perempuan tua yang tinggal di tengah hutan di dekat lokasi penemuan candi Calwanarang. Satinem atau Murni adalah perempuan terpelajar pada masanya dan tergabung dalam Gerwani. Suaminya adalah anggota Cakrabirawa bernama Sarwengi. Setelah peristiwa Gestapu, ia dipenjarakan selama sepuluh tahun dan menjadi korban pemerkosaan anggota militer. Sementara ia ditahan, suaminya ditembak mati dan dikuburkan dalam lubang yang digalinya sendiri. Murni tiba di kaki Gunung Lawu untuk mencari jenazah suaminya, tapi tidak menemukannya. Pertemuan Marja dengan Murni membuatnya memiliki misi lain, sebuah misi baru, untuk mempertemukan perempuan tua itu dengan jenazah suaminya. 

Seperti yang dicantumkan pada sampul belakang, Manjali dan Cakrabirawa adalah kisah petualangan memecahkan teka-teki. Menariknya, teka-teki yang ada bertalian dengan sejarah dan warisan budaya Nusantara. Dan itulah yang membuat novel ini bermakna, sehingga menjadi layak dikonsumsi. Memang tidak ada candi Calwanarang, tapi dengan mengetengahkan topik tentang candi, Ayu mencoba membangkitkan kesadaran sejarah dan warisan budaya Nusantara dalam diri para pembaca. Diharapkan,  pembaca bisa lebih mengenal  sejarah sendiri dan mau menjaga warisannya dengan penuh tanggung jawab. Setidaknya, sejarah bisa menjadi pelajaran berharga, terutama untuk mencegah terulangnya peristiwa yang menghancurkan kemanusiaan sebagaimana yang diwakili oleh peristiwa Gestapu.

Manjali dan Cakrabirawa
- buku pertama dari duabelas buku Seri Bilangan Fu yang direncanakan- juga menjadi pengembangan dari apa yang dijanjikan dalam novel Bilangan Fu, yaitu cinta segitiga antara Marja, Yuda, dan Parang Jati. Hanya saja cinta di sini tidak sempat menjadi berahi yang panas membara. Karena Parang Jati, sekalipun sama jatuh cintanya dengan Marja, tidak bisa mengejewantahkan hasratnya sebagaimana Yuda kepada Marja dengan kemahirannya dalam bercinta. Meskipun kesempatan berkali datang dan nyaris lepas kendali.

Tergolong ringan, apalagi bila dibandingkan dengan novel Bilangan Fu yang memabukkan itu,  Manjali dan Cakrabirawa bukanlah karya yang buruk. Ayu Utami tetap membuktikan dirinya sebagai pengrajin kata yang mampu menghasilkan untaian kalimat yang selalu enak untuk dibaca. 

 
* Karena saya telah menamatkan
Lalita (2012), buku kedua Seri Bilangan Fu, maka sebelum mempublikasikan review-nya, saya menampilkan review buku pertamanya lebih dulu, Manjali dan Cakrabirawa (2010).

21 March 2012

Cerita Cinta Enrico



Judul Buku: Cerita Cinta Enrico
Pengarang: Ayu Utami
Tebal:vii + 244 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia







Setiap orang memiliki kisah hidupnya sendiri. Tapi tidak semua orang bersedia atau mendapat kesempatan kisah hidupnya dijadikan novel. Salah satu pertimbangan untuk mendapatkan kesempatan yang dimaksud adalah popularitas. Orang itu bisa pahlawan, atau pesohor yang memiliki pengalaman hidup luar biasa, sehingga layak dibagikan kepada orang lain. Enrico bukanlah nama populer, kecuali mungkin bagi sebagian orang yang berkecimpung dalam dunia fotografi. Karena ia adalah Erik Prasetya atau Prasetya Riksa, seorang fotografer yang telah menerbitkan buku foto bertajuk  Jakarta Estetika Banal (2011). 

Dari situs sang pengarang, diketahui bahwa, Ayu Utami menulis novel ini karena kisah Enrico menggambarkan hidup seorang anak bangsa yang terpusar peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, dan karena kisah Enrico baginya adalah kisah tentang cinta seorang anak kepada ibunya, bukan dalam bentuk klise-ideal dan mulus. Menurut pengakuannya, ia telah mendengar penggalan-penggalan kisah Enrico selama lebih dari 11 tahun. Oleh sebab itu, hanya dalam waktu sekitar 2,5 bulan, Cerita Cinta Enrico pun tuntas ditulis. Dalam proses kreatifnya, Ayu mengaku tidak selalu setia pada versi asli yang diceritakan Enrico. Ia melakukan improvisasi dengan memoles cerita asli, mengatur kembali percakapan, dan melakukan pemaknaan dan penafsiran sendiri. 

Seperti judulnya, Cerita Cinta Enrico, buku yang oleh pengarangnya disebut novel kisah nyata, (kisah nyata yang ditulis dalam bentuk novel) bercerita tentang cinta. Ayu membagi cerita cinta ini ke dalam tiga bagian meliputi: Cinta Pertama, Patah Hati, dan Cinta Terakhir? (Pakai tanda tanya!). 

Cinta pertama Enrico adalah perempuan yang ia makan bagian puting payudaranya sewaktu bayi, yaitu ibunya sendiri. Ia lahir berbarengan dengan pengumuman deklarasi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan bergerilya di belantara hingga berusia 3 tahun mengikuti kelompok pemberontak. Dalam “Catatan Akhir”, Ayu menyatakan bahwa ia tidak melakukan penyesuaian terhadap cerita Enrico. Bahwa ia dibawa masuk hutan saat berumur satu hari (ia lahir 15 Februari 1958). Karena ternyata, catatan sejarah mengungkap bahwa penyerangan tentara pusat terhadap PRRI baru terjadi pada bulan Mei 1958. “Kemurnian persepsi anak-anak lebih utama daripada fakta-fakta obyektif,” dalih Ayu. Karena hidup di belantara, maka kehidupan cinta Enrico memang berawal dari sana. Ia mulai mengenali ibunya sebagai perempuan yang memberinya air susu walau dalam keadaan terbatas.

Seiring pertambahan usia, pengenalan akan ibunya kian bertambah. Bahwa ibunya adalah seorang perempuan modern, pernah menjadi pekerja kantor, fasih berbahasa Belanda, selalu memakai rok selutut, dan sejumlah kebisaan lainnya. Terutama, bahwa sang ibu memakai sepatu pantovel untuk kaki kokoh dengan betis penuhnya. Dalam periode kanak-kanak Enrico yang masih bergelimang cinta, demi pujian ibunya, Enrico akan memeragakan kemampuan menyemir sepatunya. Ibunya adalah pusat dunianya, dan ia mencintainya. Tapi, setelah kematian Sanda, kakaknya, ibunya berubah. Bagi Enrico, kematian Sanda adalah tikungan dalam hidup semua anggota keluarganya. Ibunya berubah dingin, keras, dan pahit. Enrico kehilangan kebanggaannya terhadap ibunya. Apalagi pada saat paling terpuruk dalam hidup ibunya, datang pengkabar dari Saksi Yehowa yang mengiming-iming ibunya. Bahwa Saksi Yehowa akan dibangkitkan kembali pada Hari Kiamat, di mana mereka akan bangkit dalam tubuh yang sama di muka bumi yang sama. Tak pelak lagi, ibunya percaya jika pada Hari Kiamat ia akan berjumpa kembali dengan Sanda. 

Keterlibatan ibunya dalam Saksi Yehowa membuat Enrico patah hati. Ia masih menyemir pantovel ibunya, tapi tidak lagi dengan cinta. Tanpa dicegah, Enrico pun tercebur dalam pergaulan anak-anak yang membuatnya nakal di mata ibunya. Kenakalan ini, menurut ibunya, akan mempersingkat umur ibunya. Di sisi lain, Enrico mulai tidak betah dengan ibunya. Ia merasa hidup dengan ibunya menjadi semacam penindasan, membuatnya bodoh seperti ayam broiler, dan ia ingin kuliah di Jawa untuk membebaskan diri. Tiket kebebasan Enrico adalah dibabtis sebagai Saksi Yehowa sesuai keinginan ibunya. Enrico sendiri tidak ingin menjadi bagian dari Saksi Yehowa sebab katanya: “Pembabtisan itu bagiku adalah titik di mana aku tak mau lagi percaya pada Tuhan. Persetan dengan Tuhan. Agama telah merusak ibuku. Ibuku yang dulu cantik, hebat, dan periang itu kini telah diringseknya menjadi makhluk yang lain sama sekali. Aku dendam pada agama.” (hlm.127). Setelah pembabtisan, ia bertekad tidak akan membiarkan kebebasannya dirampas orang lain. 

Lepas dari ibunya, kehidupan Enrico berubah. Ia bebas menentukan masa depannya, dan bebas terlibat hubungan asmara/seks ekstramarital. Sesuai dengan tekadnya, Enrico yang dulu mencintai ibunya meneguhkan prinsip hidupnya. Ia tidak ingin menikah. Tidak ingin punya anak. Dan sesuai dengan prinsipnya ini, ia bebas berpetualang dengan berbagai perempuan, yang masih mencari jodoh ataupun yang sudah terikat perkawinan. Baginya, perempuan hanyalah teman tidur. Prinsip ini ia pegang teguh hingga ia menyadari kesebatangkaraannya di dunia, sepeninggal kedua orangtuanya. Ia merasakan kekosongan dalam dirinya, yang hanya bisa diisi oleh perempuan yang tidak perlu ia waspadai, yang tidak akan merampok kebebasannya. Ia pun bertemu A, perempuan yang memiliki kesamaan prinsip dengannya. Sesudah episode pemotretan telanjang, mereka terlibat hubungan asmara dan seks bebas. 

Ayu Utami
Dalam pandangan A seks bukanlah sesuatu yang sakral, maka ia melakukan hubungan seks tanpa mau terikat perkawinan. Ia terlilit ambiguitas: melakukan seks bebas tetapi mengaku beragama. Ia Katolik, sebal pada khotbah pastor yang katanya patriarkal dan menggurui, tidak komuni karena berzinah melulu dan tidak merasa itu sebagai dosa. Ia merasa persetubuhannya dengan Enrico bukanlah dosa karena katanya: “Aku kan tidak mengkhianati dan membohongi siapapun.” (hlm. 201). Menurutnya, ia tidak berdosa karena berzinah, tetapi karena melepaskan seks dari fungsi reproduksi (hlm. 204). Sehabis bersetubuh, ia pun mengajak Enrico berbincang tentang seks dalam kitab suci. Poligami dan monogami. Sarai dan Abraham. Batseyba, Daud dan Uria (bukan Uriel). 

“Daud sendiri adalah keturunan Isai. Nah, Isai lahir dari persetubuhan menantu dan mertua – sebuah pelanggaran hukum masyarakat! Tapi pelanggaran hukum ini terjadi karena hukum yang ada pun tidak adil pada yang lemah. Yang lemah dalam hal ini adalah Tamar, menantu perempuan Yehuda. Yehuda seharusnya memberikan anak bungsunya menggantikan suami Tamar yang mati – sesuai adat yang berlaku waktu itu. Tapi, Yehuda tidak mau melakukannya. Akibatnya Tamar tidak bisa mendapatkan keturunan. Maka, Tamar menjebak mertuanya sendiri, mertua yang curang itu, untuk menghamili dirinya.” (hlm. 203-204). A mungkin tidak tahu kalau Isai tidaklah lahir dari persetubuhan Yehuda dan Tamar tapi keturunan mereka. Ia mungkin tidak tahu kalau Isai terhubung dengan Tamar dan Yehuda dalam rantai silsilah yang sangat panjang. 

Karena memandang seks bukanlah sesuatu yang sakral, tanpa kawin, ia sudah bisa menikmati seks dengan bebas, yang penting suka sama suka. Perkawinan baginya merupakan penindasan atau tekanan (sama seperti yang dianut Enrico), dan harus ada pembebasan dari itu. Hukum perkawinan Indonesia menjadikan suami kepala keluarga, ia tidak mau itu. Ia mencari celah, dan menemukan dalam agamanya sendiri, Katolik. “Aku ternyata baru tahu bahwa dalam hukum perkawinan Katolik tidak ada itu ayat yang menyatakan suami menjadi kepala keluarga atau pemimpin keluarga,” katanya (hlm. 231). Ia pun mau mengubah keputusannya. Nah, lho, kenapa ini?  “Aku tak menemukan kesalahan ontologis pada konsep perkawinan Katolik.” (hlm. 232). Kondisi yang sama dalam keberlangsungan hubungan cintanya: Enrico tidak punya kesalahan ontologis!

Akhirnya, Enrico atau Erik Prasetya, dan A atau Ayu Utami, yang sama-sama memandang perkawinan sebagai penindasan, menikah secara gereja. Dengan pernikahan ini, Ayu Utami mematikan lagu lamanya yang telah lama berkumandang: Parasit lajang! Ia memberi gelar baru bagi dirinya sendiri dalam judul novel kisah nyata yang lagi dalam proses penulisan: Eks Parasit Lajang. Atau kalau membaca ‘bocoran’ yang ada (hlm. 244), mungkin juga cocok diberi judul: Cerita Cinta Eks Parasit Lajang atau Cerita Cinta A. Hehehe.

Setelah bagian Cinta Pertama dan Patah Hati, pembaca memang tiba di Cinta Terakhir? (dengan tanda tanya!). Mengapa pengarang membubuhi judul bagian terakhir dengan tanda tanya? Jawabannya jelas: keraguan! A masih ragu cinta Enrico padanya akan menjadi cinta terakhir. Jadi, kalau Enrico benar-benar serius menjadikan A cinta terakhir, maka ia harus menjaga dirinya. Jangan sampai melakukan kesalahan ontologis. Hehehe.

Enrico, pemilik biografi cinta dalam novel ini, mengatakan bahwa kisah hidupnya yang dinovelkan ini adalah: “Sebuah proses yang membantuku menerima mengapa ibuku tidak sanggup melihat kebaikan yang ada padaku. Sebuah proses yang membantuku berdamai.” (hlm. 235). Sebuah proses melepaskan cinta pertama untuk menyongsong cinta terakhir (sekali lagi, dengan tanda tanya!). Proses ini tidak gampang, karena Enrico harus melewati perguliran puluhan tahun yang membuat rambutnya berubah kelabu. Dan proses ini membutuhkan kemampuan merangkai kalimat bergizi nan apik. Ayu Utami memilikinya, dan di tangannya proses ini menjadi sedap dibaca. Walaupun pada banyak tempat terasa datar, karena kehidupan Enrico bukanlah fiktif tetapi nyata, seperti kehidupan kita sendiri. 

Di hadapan Ayu Utami, meskipun tidak bersunat, Enrico tidak perlu bersikap waspada, tidak perlu malu telanjang seperti Adam ketangkap basah berbuat dosa di Eden. Di hadapan pembaca, Erik Prasetya juga Ayu Utami, tidak perlu bersikap waspada dan tidak perlu malu dengan ketelanjangan yang ada: mengikatkan diri dalam pernikahan gereja, setelah sebelumnya tidak berniat menikah dan merayakan kehidupan seks bebas. 

Dari situs pribadinya, kita mengetahui bahwa selain novel Eks Parasit Lajang yang direncanakan terbit akhir tahun 2012, Ayu Utami juga sedang dalam proses penulisan novel seri Bilangan Fu yang kedua dari duabelas yang direncanakan. Lalita, demikian judul novel tersebut, akan mengikuti novel sebelumnya, Manjali dan Cakrabirawa (2010). 

12 February 2012

Bilangan Fu


Judul Buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Tebal: x + 537 hlm; 13,5 X 20 cm
Cetakan: 1, Juni 2008
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)






Menggunakan nama Jambu Air, Justina Ayu Utami berhasil menempatkan Saman (KPG, 1998), novel perdananya sebagai pemenang Sayembara Roman DKJ 1998. Saman menjadi salah satu novel laris dalam jagad sastra Indonesia. Hingga saat ini, Saman telah dicetak 27 kali dan telah diterbitkan dalam 6 bahasa asing. Berkat Saman, Ayu dipandang telah mengembangkan cakrawala sastra Indonesia dan mendapatkan Prince Claus Award dari Belanda pada tahun 2000. Apa yang ditawarkan Saman dipandang menabrak tabu seks hingga menjadi tren yang banyak diikuti oleh penulis-penulis perempuan lain. Tetapi akibatnya, oleh Taufik Ismail, Ayu Utami disebut sebagai pelopor angkatan Sastra Fraksi Alat Kelamin (FAK). 

Menurut Ayu Utami, Saman merupakan fragmen dari novel yang direncanakannya berjudul Laila Tak Mampir di New York. Tetapi novel ini tidak sempat terwujud, malah menjadi 2 novel yang dianggap sebagai novel yang tidak berbentuk novel, Saman dan kemudian Larung (KPG, 2001). Hampir 7 tahun setelah Larung terbit untuk pertama kalinya, akhirnya novel ketiga Ayu, Bilangan Fu, terbit. Sebelum Bilangan Fu, Ayu yang mendapatkan penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara tahun 2008, telah menghasilkan kumpulan esai, Si Parasit Lajang (GagasMedia, 2003),  dan naskah drama berjudul Sidang Susila (Spasi, 2008).

Pengerjaan Bilangan Fu, menurut pengakuan Ayu Utami, memakan waktu 4 tahun. Merupakan novel yang terinspirasi dari dunia panjat tebing, dan sebuah kenangan untuk seorang pemanjat tebing bernama Sandy Febijanto (sahabat Erik Prasetya, seniman foto, kepada siapa Ayu mendedikasikan novel ini), yang meninggal dunia dalam kecelakaan ganjil di bukit kapur Citatah. Untuk mendapatkan detail dunia panjat tebing, sejak akhir tahun 2003, Ayu Utami bergabung dengan kelompok panjat tebing Skygers yang didirikan Harry Suliz.  

Menggunakan seting dunia panjat tebing, Ayu Utami, lajang kelahiran Bogor 21 November 1968, mencoba mendakwahkan gagasannya untuk mengkritisasi apa yang dikenal sebagai 3 M: modernisme, monoteisme, dan militerisme. Baginya 3 M ini merupakan musuh dunia postmodern. Dan untuk itu, dia mengkreasi karakter nan bijak bernama Parang Jati, seorang mahasiswa semester akhir geologi ITB dengan dua jari manis di setiap tangannya. Lewat Parang Jati inilah Ayu Utami menggelontorkan gagasannya.

Kisah dalam Bilangan Fu diceritakan dari perspektif Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang gemar bertaruh, bersikap skeptis, sinis dan melecehkan nilai-nilai masyarakat. Tetapi menurut Yuda, sang narator, kisah ini ditulis ulang oleh seorang penulis yang dikenalnya di acara Ruwatan Bumi, yang tidak lain, adalah Ayu Utami, penulis novel ini (hlm. 463). 

Mengambil seting utama daerah di selatan Jawa, daerah Sewugunung dengan perbukitan gamping bernama Watugunung, Ayu Utami memperkenalkan Yuda, seorang pemanjat tebing yang menggunakan pemanjatan artifisial dalam aktivitasnya. Ketika membuka jalur pemanjatan baru di Watugunung, Yuda bertemu dengan Parang Jati, warga Sewugunung yang hendak mengadakan penelitian arkeogeologi di perbukitan gamping ini. Parang Jati dilanda kekuatiran akan nasib pegunungan gamping Watugunung yang akan habis suatu hari gara-gara penambangan kapur dan penebangan pohon yang tidak terkendali. Parang Jati yakin, akan tiba saatnya orang akan kehilangan pemandangan indah Watugunung, geolog kehilangan dokumen, pemanjat kehilangan tebing, dan masyarakat kehilangan matair ( kawasan gamping adalah spons alam tempat air disimpan dan disuling menjadi sumber-sumber air jernih). Parang Jati tidak ingin Watugunung mengalami nasib yang sama dengan bukit Citatah.

Bagi Yuda, Watugunung adalah Batu Menyanyi. Di bagian hidung Watugunung, ada sebuah lubang tebing yang menyiulkan angin dengan suara magis dan syahdu, seperti fu, alat musik orang Asmat. Yuda menamakan tebing itu sebagai Sebul yang menjelma makhluk cantik bertubuh manusia  dengan kepala dan kaki serigala yang menyebabkan Yuda ketindihan dan mimpi basah. 

Tetapi Parang Jati membuka mata Yuda bahwa Watugunung laksana vagina raksasa. Maka, Yuda harus menggunakan cara lain untuk 'ibundanya' dan bukannya memaku dan mengebor seperti yang dilakukan Yuda di ranjang dengan kekasihnya, Marja. Dengan kata lain, Parang Jati menghendaki Yuda untuk mengubah agama pemanjatannya, dari pemanjatan artifisial (yang disebut Parang Jati sebagai pemanjatan kotor/dirty climbing) menjadi pemanjatan bersih (clean climbing). Bagi Yuda, hanya ada dua jenis pemanjatan, pemanjatan bersih dan pemanjatan artifisial. Pemanjatan bersih adalah pemanjatan tanpa menggunakan alat bantu untuk menambah ketinggian, sedangkan pemanjatan artifisial adalah pemanjatan dengan menggunakan peralatan untuk sesekali menderek badan ke atas. Kedua pemanjatan ini mengizinkan pemanjat mengebor gantungan pada tebing baik untuk pengamanan maupun untuk mengatrol. Tetapi pemanjatan bersih menurut Parang Jati adalah pemanjatan suci (sacred climbing), tidak ada pemanjat yang boleh melukai tebing. Dalam pemanjatan jenis ini tidak boleh ada bor, piton, paku maupun pasak, hanya boleh ada pengaman perangko, penahan, sisip, pegas, dan tali-tali ambin. Pengaman untuk jenis pemanjatan ini bahkan hanya dipasang sesuai dengan sifat batu tanpa merusaknya sama sekali. Menurut Parang Jati, sudah saatnya alam raya dikasihi. "Menyetubuhinya tanpa memaksakan diri kepadanya. Memasukinya hanya jika ia membuka diri dan membiarkan ia melahap ujung-ujung tubuh kita..." (hlm. 82). 

Diawali dari perpindahan agama yang terjadi dalam diri Yuda, hubungan mereka menjadi dekat seperti saudara. Parang Jati bagaikan malaikat jatuh bagi Yuda, lelaki bermata polos bak bidadari yang harus dibebaskan dari tanggung jawab yang ditaruh pada dirinya oleh Suhubudi, sang ayah angkat. Sesuai kehendak Suhubudi, Parang Jati tergabung  dalam sirkus orang aneh yang disebut Saduki Klan di mana dia berteman dengan berbagai makhluk aneh seperti manusia gelembung, manusia gajah, manusia badak, macan jadian, manusia kadal, manusia gendruwo, tuyul, dan manusia pohon. 

Sementara itu, Parang Jati harus berhadapan dengan adik yang tidak pernah diketahuinya, Kupukupu yang telah mengganti namanya menjadi Farisi, di tengah-tengah kegemparan menghilangnya orang mati dari kuburnya –yang dianggap telah bangkit dari kubur. Dan dalam pengungkapan misteri menghilangnya orang mati yang hilang dari kuburnya, tanpa sengaja, Yuda telah menyeret Parang Jati menghadap ajal dan mengandaskan hubungan cintanya dengan Marja. 

Bilangan Fu menyorot situasi yang tengah berkembang masa setelah reformasi. Menurut Ayu, ada tiga serangkai perusak bumi (3 M) yang terdiri atas modernisme, monoteisme, dan militerisme. Ketiganya bersengkarut menciptakan banyak masalah yang melanda bangsa kita. 

Modernisme, menurut Ayu, tidak hanya membawa perkembangan positif (pembebasan) tetapi juga negatif (perusakan alam). Modernisme membuat manusia kehilangan rasa takut sehingga hilang pula penghormatan terhadap alam. Di masa lalu, hutan dan kawasan perbukitan gamping Sewugunung terpelihara oleh kepercayaan lokal atau takhayul. Kepercayaan akan roh-roh, mambang, demit, siluman mencegah manusia melakukan perusakan alam. Tetapi kapitalisme melalui perusahaan penambangan kapur dan penebangan pohon dan izin pemerintah mengabaikan kepercayaan tersebut. Bahkan pertahanan masyarakat setempat dilemahkan dengan menggunakan pasukan keamanan berbaju agama, memberi stigma pada kepercayaan lokal sebagai praktik penyembahan berhala. Sebagai metafora dari pencegahan perusakan alam secara sengaja,  Ayu Utami menyodorkan pemanjatan bersih bahkan pemanjatan suci seperti yang diinginkan Parang Jati untuk dianut Yuda.     

Setelah periode Orde Lama (1959-1965), Indonesia masuk dalam era militerisme (Orde Baru). Pada zaman Orde Baru, banyak orang menjadi korban pembantaian. Kekerasan, termasuk di dalamnya operasi intelijen, menjadi bahasa satu-satunya yang berlaku. Dan di negara seperti Indonesia, negara dengan kekayaan hutan dan alam luar biasa, militer dan kapitalis saling memperkuat dengan jahat untuk mengeksploitasi alam. Di Sewugunung terjadi penebangan jati legal maupun ilegal dengan Pontiman Sutalip, kepala desa yang adalah prajurit angkatan darat berada di belakangnya. Masyarakat setempat tidak bisa melakukan apa-apa untuk menantangnya. Adalah Parang Jati yang diciptakan Ayu Utami untuk menantang aksi militerisme yang terjadi dengan mengusahakan pegunungan gamping Watugunung untuk dijadikan kawasan konservasi. 

Pada era 70-an eksperimen modernisme, seperti demokrasi, hak asasi manusia, dan sosialisme, di negara-negara berkembang mengalami kegagalan. Sebagai gantinya, 'fundamentalisme' agama bangkit bersamaan dengan semaraknya monoteisme. Bagi monoteisme, Tuhan adalah satu dan bukan nol seperti dalam agama-agama Timur. Akibatnya, monoteisme sulit menerima perbedaan dan bersikap intoleran. Bahkan, dalam menegakkan kebenarannya sendiri, penganut monoteisme kerap memakai bahasa kekerasan. Bergandengan dengan praktik modern, monoteisme mengisbatkan kepercayaan lokal sebagai takhayul kegelapan dan menjadi agen penghancur kebudayaan lokal. Pertentangan monoteisme dengan kepercayaan lokal digambarkan Ayu melalui pertentangan Parang Jati yang menghormati kepercayaan lokal dan Kupukupu, saudaranya sendiri. Kupukupu yang munafik menghujat kepercayaan lokal untuk memaksakan kebenaran agamanya sendiri. Kelahiran Parang Jati dan Kupukupu yang mengingatkan pada kelahiran Nabi Musa, seolah-olah hendak menggambarkan bagaimana monoteisme masuk ke Indonesia setelah adanya kepercayaan lokal dengan tujuan untuk membantai kepercayaan lokal.  

Untuk itu, Ayu menawarkan apa yang ia sebut spiritualisme kritis. Di dalam konsep spiritualisme kritis, orang tetap percaya apa yang ia yakini, Tuhan atau apa pun, tetapi tetap bersikap kritis pada apa yang dipercayanya itu. Tujuannya supaya orang tidak buru-buru dan gegabah menerapkan kebenarannya pada orang lain, karena kebenaran yang sebenarnya tetap menjadi misteri.  

Tak pelak lagi, Bilangan Fu menjadi sebuah novel yang cukup berat. Bahkan seolah-olah diupayakan untuk hadir sebagai novel yang sesak karena dijejali berbagai hal yang ingin dimuatkan Ayu ke dalam alur novel yang enteng. Temukan serakan hal-hal seperti legenda Sangkuriang-Dayang Sumbi, Panembahan Senopati-Nyi Rara Kidul, Prabu Watugunung-Permaisuri Dewi Sinta, Siung Wanara, ikan pelus, upacara sesajen, Bekakak, sejarah Mataram, petikan-petikan kisah dalam Alkitab sampai hal-hal seperti babi ngepet, hewan moluska dan ubur-ubur. Sungguh melelahkan, perlu kesabaran membaca untuk menamatkannya. Belum lagi kliping-kliping berita dari koran dan majalah yang direkatkan di sana-sini. Nyaris menghilangkan kesabaran!

Untunglah novel ini sempat memberikan tempat kepada kisah-kisah kehidupan Yuda dan Parang Jati beserta kisah cinta Yuda dengan Marja, perempuan dengan tubuh teji dan senyuman matahari. Meskipun khusus untuk hubungan Yuda-Parang Jati-Marja yang coba diperkuat Ayu Utami dengan mengambil perumpamaan ozon,  tidak tampil kuat dalam isi novel yang begitu panjang. Cinta segi tiga nan lembut seperti disebutkan dalam sampul belakang novel bahkan tidak terasa.  

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Parang Jati dikreasi Ayu untuk mendakwahkan gagasannya terhadap apa yang disebutnya modernisme, monoteisme, dan militerisme. Sebuah karakter menarik dengan keunikan pada tangan berjari dua belas (yang kelebihan jarinya oleh Parang Jati disebut Jari Hu). Meski tidak menganut agama langit tertentu, bahkan lebih suka melakukan sinkretisme, Parang Jati terkadang tampil bagaikan Yesus Kristus di Sewugunung, melakukan khotbah di bukit dan melontarkan kalimat-kalimat yang disitir dan dimodifikasi dari ayat-ayat Alkitab.  Para pembaca Alkitab tentu saja akan mengenali kalimat-kalimat seperti ini: "Saya datang membawa pedang, Bung" (hlm. 78), "Jangan dianggap saya datang untuk menghujat pemanjatan artifisial. Tidak satu iota pun akan dihilangkan" (hlm. 82), "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, untuk apa selain dibuang dan diinjak-injak?" (hlm. 83) atau "Berbahagialah orang yang tidak melihat tapi percaya" (hlm. 84). 

Ayu menyebutkan jika Parang Jati berusia 20 tahun pada tahun 1995 (hlm. 184) ketika ia menulis artikel yang dijuduli Ayu "Kritik Atas Modernisme". Jadi, Parang Jati yang ditemukan Mbok Manyar, juru kunci mata air dalam keranjang serat pandan yang tersangkut di lumut hutan, lahir tahun 1975. Karena disebutkan Yuda 3 tahun lebih muda dari Parang Jati (dan seumur dengan Kupukupu, adik Parang Jati), berarti Yuda lahir tahun 1978. Persahabatan Yuda dan Parang Jati dimulai saat Yuda berusia 20 tahun (hlm. 209), berarti sekitar tahun 1998. Ayu menyebutkan kisah di Sewugunung berakhir tahun 2001 (hlm. 356) ketika Yuda berusia 23 tahun dan Parang Jati 26 tahun. Jadi dapat disimpulkan jika kisah Yuda dan Parang Jati dalam novel ini berlangsung sekitar 3 tahun (1998 – 2001). Pada halaman 343, Ayu menyebutkan jika 'si aku" (Yuda) menuliskan kembali kejadian yang dialaminya dengan Parang Jati setelah 13 tahun berlalu (Yuda kira-kira berusia 36 tahun). Jadi, kisah dalam novel ini ditulis Yuda pada tahun (2001 + 13)  2014?

Bilangan Fu yang menjadi judul novel, menurut Ayu adalah bilangan yang senantiasa menghasilkan satu jika dibagi maupun dikali satu, namun bilangan itu bukan satu. Bilangan mistis ini, katanya, hadir dalam mimpi-mimpi Yuda yang beraroma seksual sebagai bilangan yang diwahyukan Sebul. Katanya juga, pengertian bilangan ini hanya bisa ditularkan lewat gigitan. Jujur saja, sampai novel berakhir, saya masih bingung dengan apa yang Ayu sebut sebagai Bilangan Fu. Jadi, jangan tanya saya tentang pendapat saya mengapa novel ini diberi judul Bilangan Fu (dan bukan 3 M, misalnya). Sad

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan