21 March 2012

Cerita Cinta Enrico



Judul Buku: Cerita Cinta Enrico
Pengarang: Ayu Utami
Tebal:vii + 244 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia







Setiap orang memiliki kisah hidupnya sendiri. Tapi tidak semua orang bersedia atau mendapat kesempatan kisah hidupnya dijadikan novel. Salah satu pertimbangan untuk mendapatkan kesempatan yang dimaksud adalah popularitas. Orang itu bisa pahlawan, atau pesohor yang memiliki pengalaman hidup luar biasa, sehingga layak dibagikan kepada orang lain. Enrico bukanlah nama populer, kecuali mungkin bagi sebagian orang yang berkecimpung dalam dunia fotografi. Karena ia adalah Erik Prasetya atau Prasetya Riksa, seorang fotografer yang telah menerbitkan buku foto bertajuk  Jakarta Estetika Banal (2011). 

Dari situs sang pengarang, diketahui bahwa, Ayu Utami menulis novel ini karena kisah Enrico menggambarkan hidup seorang anak bangsa yang terpusar peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, dan karena kisah Enrico baginya adalah kisah tentang cinta seorang anak kepada ibunya, bukan dalam bentuk klise-ideal dan mulus. Menurut pengakuannya, ia telah mendengar penggalan-penggalan kisah Enrico selama lebih dari 11 tahun. Oleh sebab itu, hanya dalam waktu sekitar 2,5 bulan, Cerita Cinta Enrico pun tuntas ditulis. Dalam proses kreatifnya, Ayu mengaku tidak selalu setia pada versi asli yang diceritakan Enrico. Ia melakukan improvisasi dengan memoles cerita asli, mengatur kembali percakapan, dan melakukan pemaknaan dan penafsiran sendiri. 

Seperti judulnya, Cerita Cinta Enrico, buku yang oleh pengarangnya disebut novel kisah nyata, (kisah nyata yang ditulis dalam bentuk novel) bercerita tentang cinta. Ayu membagi cerita cinta ini ke dalam tiga bagian meliputi: Cinta Pertama, Patah Hati, dan Cinta Terakhir? (Pakai tanda tanya!). 

Cinta pertama Enrico adalah perempuan yang ia makan bagian puting payudaranya sewaktu bayi, yaitu ibunya sendiri. Ia lahir berbarengan dengan pengumuman deklarasi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan bergerilya di belantara hingga berusia 3 tahun mengikuti kelompok pemberontak. Dalam “Catatan Akhir”, Ayu menyatakan bahwa ia tidak melakukan penyesuaian terhadap cerita Enrico. Bahwa ia dibawa masuk hutan saat berumur satu hari (ia lahir 15 Februari 1958). Karena ternyata, catatan sejarah mengungkap bahwa penyerangan tentara pusat terhadap PRRI baru terjadi pada bulan Mei 1958. “Kemurnian persepsi anak-anak lebih utama daripada fakta-fakta obyektif,” dalih Ayu. Karena hidup di belantara, maka kehidupan cinta Enrico memang berawal dari sana. Ia mulai mengenali ibunya sebagai perempuan yang memberinya air susu walau dalam keadaan terbatas.

Seiring pertambahan usia, pengenalan akan ibunya kian bertambah. Bahwa ibunya adalah seorang perempuan modern, pernah menjadi pekerja kantor, fasih berbahasa Belanda, selalu memakai rok selutut, dan sejumlah kebisaan lainnya. Terutama, bahwa sang ibu memakai sepatu pantovel untuk kaki kokoh dengan betis penuhnya. Dalam periode kanak-kanak Enrico yang masih bergelimang cinta, demi pujian ibunya, Enrico akan memeragakan kemampuan menyemir sepatunya. Ibunya adalah pusat dunianya, dan ia mencintainya. Tapi, setelah kematian Sanda, kakaknya, ibunya berubah. Bagi Enrico, kematian Sanda adalah tikungan dalam hidup semua anggota keluarganya. Ibunya berubah dingin, keras, dan pahit. Enrico kehilangan kebanggaannya terhadap ibunya. Apalagi pada saat paling terpuruk dalam hidup ibunya, datang pengkabar dari Saksi Yehowa yang mengiming-iming ibunya. Bahwa Saksi Yehowa akan dibangkitkan kembali pada Hari Kiamat, di mana mereka akan bangkit dalam tubuh yang sama di muka bumi yang sama. Tak pelak lagi, ibunya percaya jika pada Hari Kiamat ia akan berjumpa kembali dengan Sanda. 

Keterlibatan ibunya dalam Saksi Yehowa membuat Enrico patah hati. Ia masih menyemir pantovel ibunya, tapi tidak lagi dengan cinta. Tanpa dicegah, Enrico pun tercebur dalam pergaulan anak-anak yang membuatnya nakal di mata ibunya. Kenakalan ini, menurut ibunya, akan mempersingkat umur ibunya. Di sisi lain, Enrico mulai tidak betah dengan ibunya. Ia merasa hidup dengan ibunya menjadi semacam penindasan, membuatnya bodoh seperti ayam broiler, dan ia ingin kuliah di Jawa untuk membebaskan diri. Tiket kebebasan Enrico adalah dibabtis sebagai Saksi Yehowa sesuai keinginan ibunya. Enrico sendiri tidak ingin menjadi bagian dari Saksi Yehowa sebab katanya: “Pembabtisan itu bagiku adalah titik di mana aku tak mau lagi percaya pada Tuhan. Persetan dengan Tuhan. Agama telah merusak ibuku. Ibuku yang dulu cantik, hebat, dan periang itu kini telah diringseknya menjadi makhluk yang lain sama sekali. Aku dendam pada agama.” (hlm.127). Setelah pembabtisan, ia bertekad tidak akan membiarkan kebebasannya dirampas orang lain. 

Lepas dari ibunya, kehidupan Enrico berubah. Ia bebas menentukan masa depannya, dan bebas terlibat hubungan asmara/seks ekstramarital. Sesuai dengan tekadnya, Enrico yang dulu mencintai ibunya meneguhkan prinsip hidupnya. Ia tidak ingin menikah. Tidak ingin punya anak. Dan sesuai dengan prinsipnya ini, ia bebas berpetualang dengan berbagai perempuan, yang masih mencari jodoh ataupun yang sudah terikat perkawinan. Baginya, perempuan hanyalah teman tidur. Prinsip ini ia pegang teguh hingga ia menyadari kesebatangkaraannya di dunia, sepeninggal kedua orangtuanya. Ia merasakan kekosongan dalam dirinya, yang hanya bisa diisi oleh perempuan yang tidak perlu ia waspadai, yang tidak akan merampok kebebasannya. Ia pun bertemu A, perempuan yang memiliki kesamaan prinsip dengannya. Sesudah episode pemotretan telanjang, mereka terlibat hubungan asmara dan seks bebas. 

Ayu Utami
Dalam pandangan A seks bukanlah sesuatu yang sakral, maka ia melakukan hubungan seks tanpa mau terikat perkawinan. Ia terlilit ambiguitas: melakukan seks bebas tetapi mengaku beragama. Ia Katolik, sebal pada khotbah pastor yang katanya patriarkal dan menggurui, tidak komuni karena berzinah melulu dan tidak merasa itu sebagai dosa. Ia merasa persetubuhannya dengan Enrico bukanlah dosa karena katanya: “Aku kan tidak mengkhianati dan membohongi siapapun.” (hlm. 201). Menurutnya, ia tidak berdosa karena berzinah, tetapi karena melepaskan seks dari fungsi reproduksi (hlm. 204). Sehabis bersetubuh, ia pun mengajak Enrico berbincang tentang seks dalam kitab suci. Poligami dan monogami. Sarai dan Abraham. Batseyba, Daud dan Uria (bukan Uriel). 

Daud sendiri adalah keturunan Isai. Nah, Isai lahir dari persetubuhan menantu dan mertua – sebuah pelanggaran hukum masyarakat! Tapi pelanggaran hukum ini terjadi karena hukum yang ada pun tidak adil pada yang lemah. Yang lemah dalam hal ini adalah Tamar, menantu perempuan Yehuda. Yehuda seharusnya memberikan anak bungsunya menggantikan suami Tamar yang mati – sesuai adat yang berlaku waktu itu. Tapi, Yehuda tidak mau melakukannya. Akibatnya Tamar tidak bisa mendapatkan keturunan. Maka, Tamar menjebak mertuanya sendiri, mertua yang curang itu, untuk menghamili dirinya.” (hlm. 203-204). A mungkin tidak tahu kalau Isai tidaklah lahir dari persetubuhan Yehuda dan Tamar tapi keturunan mereka. Ia mungkin tidak tahu kalau Isai terhubung dengan Tamar dan Yehuda dalam rantai silsilah yang sangat panjang. 

Karena memandang seks bukanlah sesuatu yang sakral, tanpa kawin, ia sudah bisa menikmati seks dengan bebas, yang penting suka sama suka. Perkawinan baginya merupakan penindasan atau tekanan (sama seperti yang dianut Enrico), dan harus ada pembebasan dari itu. Hukum perkawinan Indonesia menjadikan suami kepala keluarga, ia tidak mau itu. Ia mencari celah, dan menemukan dalam agamanya sendiri, Katolik. “Aku ternyata baru tahu bahwa dalam hukum perkawinan Katolik tidak ada itu ayat yang menyatakan suami menjadi kepala keluarga atau pemimpin keluarga,” katanya (hlm. 231). Ia pun mau mengubah keputusannya. Nah, lho, kenapa ini?  “Aku tak menemukan kesalahan ontologis pada konsep perkawinan Katolik.” (hlm. 232). Kondisi yang sama dalam keberlangsungan hubungan cintanya: Enrico tidak punya kesalahan ontologis!

Akhirnya, Enrico atau Erik Prasetya, dan A atau Ayu Utami, yang sama-sama memandang perkawinan sebagai penindasan, menikah secara gereja. Dengan pernikahan ini, Ayu Utami mematikan lagu lamanya yang telah lama berkumandang: Parasit lajang! Ia memberi gelar baru bagi dirinya sendiri dalam judul novel kisah nyata yang lagi dalam proses penulisan: Eks Parasit Lajang. Atau kalau membaca ‘bocoran’ yang ada (hlm. 244), mungkin juga cocok diberi judul: Cerita Cinta Eks Parasit Lajang atau Cerita Cinta A. Hehehe.

Setelah bagian Cinta Pertama dan Patah Hati, pembaca memang tiba di Cinta Terakhir? (dengan tanda tanya!). Mengapa pengarang membubuhi judul bagian terakhir dengan tanda tanya? Jawabannya jelas: keraguan! A masih ragu cinta Enrico padanya akan menjadi cinta terakhir. Jadi, kalau Enrico benar-benar serius menjadikan A cinta terakhir, maka ia harus menjaga dirinya. Jangan sampai melakukan kesalahan ontologis. Hehehe.

Enrico, pemilik biografi cinta dalam novel ini, mengatakan bahwa kisah hidupnya yang dinovelkan ini adalah: “Sebuah proses yang membantuku menerima mengapa ibuku tidak sanggup melihat kebaikan yang ada padaku. Sebuah proses yang membantuku berdamai.” (hlm. 235). Sebuah proses melepaskan cinta pertama untuk menyongsong cinta terakhir (sekali lagi, dengan tanda tanya!). Proses ini tidak gampang, karena Enrico harus melewati perguliran puluhan tahun yang membuat rambutnya berubah kelabu. Dan proses ini membutuhkan kemampuan merangkai kalimat bergizi nan apik. Ayu Utami memilikinya, dan di tangannya proses ini menjadi sedap dibaca. Walaupun pada banyak tempat terasa datar, karena kehidupan Enrico bukanlah fiktif tetapi nyata, seperti kehidupan kita sendiri. 

Di hadapan Ayu Utami, meskipun tidak bersunat, Enrico tidak perlu bersikap waspada, tidak perlu malu telanjang seperti Adam ketangkap basah berbuat dosa di Eden. Di hadapan pembaca, Erik Prasetya juga Ayu Utami, tidak perlu bersikap waspada dan tidak perlu malu dengan ketelanjangan yang ada: mengikatkan diri dalam pernikahan gereja, setelah sebelumnya tidak berniat menikah dan merayakan kehidupan seks bebas. 

Dari situs pribadinya, kita mengetahui bahwa selain novel Eks Parasit Lajang yang direncanakan terbit akhir tahun 2012, Ayu Utami juga sedang dalam proses penulisan novel seri Bilangan Fu yang kedua dari duabelas yang direncanakan. Lalita, demikian judul novel tersebut, akan mengikuti novel sebelumnya, Manjali dan Cakrabirawa (2010). 

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan