22 March 2012

Charlotte's Web



Judul Buku: Charlotte’s Web
Pengarang: Elwyn Brooks White (1952)
Penerjemah: Dina Begum
Editor: Salahuddien Gz
Tebal: 240 halaman
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: Dolphin

 

 




Persahabatan adalah salah satu dari hal-hal yang paling memuaskan di dunia, demikian yang dirasakan Wilbur terhadap persahabatan yang dijalinnya dengan Charlotte. Bisa dimaklumi mengapa Wilbur merasa seperti itu. Karena nasibnya tergantung dari persahabatannya dengan Charlotte. Wilbur dan Charlotte adalah tokoh-rokoh utama dalam novel anak-anak –tapi bagus juga dibaca orang dewasa- karya Elwyn Brooks White bertajuk Charlotte’s Web yang diedisiindonesiakan dengan judul Laba-laba dan Jaring Kesayangannya.

Wilbur adalah seekor babi yang tidak memenuhi syarat untuk tetap dipelihara di pertanian. Ia terlahir kerdil sehingga pemiliknya segera memutuskan untuk membunuhnya. Fern, gadis kecil delapan tahun, putri pemilik Wilbur keberatan dengan rencana ayahnya. “Babi itu tidak mau terlahir kecil, kan? Kalau aku sangat kecil sewaktu lahir, apakah Papa akan menyuruh orang untuk membunuhku?” tanya Fern (hlm. 14-15). Kita memang selalu seperti Pak Arable, kan? Tidak mau menerima sesuatu yang tidak masuk kriteria kita.

Pak Arable mengurungkan niatnya dan membiarkan perawatan Wilbur ke tangan putrinya. Dari Fernlah Wilbur menerima cinta yang tulus pertama kali. Fern mencintainya dan Wilbur membalas cinta Fern. Ketika Fern pergi ke sekolah, Wilbur akan menemani Fern hingga bus tiba. Ia baru akan kembali ke tempat tinggalnya di bawah sebatang pohon apel yang sedang berbunga setelah bus tidak kelihatan lagi. Sayangnya, ketika Wilbur berumur lima minggu, Pak Arable tidak mau lagi memberikan dia makan. Karena bukan babi yang diharapkan, Wilbur dijual dengan harga murah.

Wilbur pun memasuki lumbung di tanah pertanian keluarga Zuckerman. White mengantar kita masuk ke lumbung itu, seolah-olah ia sedang membimbing kita, benar-benar masuk ke sana, satu kelebihan istimewa yang pengarang ini miliki. Kita bisa mencium aroma yang berserakan di dalamnya: aroma jerami dan pupuk kandang, keringat kuda, dan harum sapi-sapi, dan ketika pintu lumbung dibuka, angin musim panas menyejukkan udara. Di sana, Wilbur tinggal bersama kuda, sapi, domba, ayam, angsa, dan  seekor tikus bernama Templeton. Tidak ada yang tahu kecuali Fern bahwa lumbung itu berpenghuni binatang-binatang yang senang bercakap-cakap. Wilbur mendapatkan tempat tidur di ruangan bawah lumbung, di bawah sapi-sapi, dan yang menjadi kasurnya adalah tumpukan kotoran sapi.

Pengarang menciptakan suasana yang membuat kita berpikir, seharusnya Wilbur hidup bahagia di sana. Tapi ternyata, pada hari-hari pertama tinggal di sana, ia sulit mendapatkan teman. Fern juga tidak selalu ada, sehingga Wilbur merasa kesepian. Pengarang melukiskan kesunyian dengan keadaan cuaca yang gelap ketika hujan turun. Di tengah kegelapan yang menyedihkan itu, justru Wilbur menemukan sosok yang akan menjadi sahabat sejatinya.

Charlotte A. Cavatica, itulah nama laba-laba kelabu sahabat Wilbur, laba-laba yang memintal jaringnya di atas ambang pintu kandang Wilbur. Bagi Wilbur, Charlotte adalah laba-laba yang cantik, tapi sulit baginya untuk segera bersahabat dengan Charlotte. Karena sebagai laba-laba, Charlotte hidup dari memangsa serangga seperti lalat. “Kamu diberi seember makanan tiap hari. Tidak ada yang memberiku makan. Aku harus cari makan sendiri. Aku hidup berkat kecerdikanku. Pikiranku harus tajam dan cerdas. Kalau tidak, aku bisa mati kelaparan,” kata Charlotte menanggapi keberatan Wilbur (hlm. 59).

White, si pengarang menyampaikan apa yang berkecamuk dalam benak si babi, dan diterjemahkan seperti ini: “Yah,” pikirnya, “aku memang mendapat teman. Tapi rupanya berteman itu seperti berjudi! Charlotte buas, brutal, licik, haus darah. Semua itu tidak aku sukai. Bagaimana aku bisa menyukainya walaupun ia cantik dan cerdik?” (hlm. 60). Keraguan Wilbur hilang bersama datangnya musim panas dan menyadari lalat adalah binatang yang tidak perlu dikasihani.

Musim panas menunjukkan bahwa Wilbur semakin besar, semakin berat dan semakin padat. Musim panas juga membawa berita buruk padanya. Pemiliknya menggemukkan Wilbur dengan makan tiga kali sehari dalam porsi banyak karena ketika musim dingin tiba, ia akan diubah menjadi daging asap dan ham, dan disajikan di atas meja makan. Sebagai babi yang sangat mencintai kehidupan, kontan Wilbur panik. Tapi tidak ada babi yang dipelihara sekadar agar dia makan, tidur, bermimpi, dan bermain-main seperti yang dilakukan Wilbur, kan? Dan untunglah ada Charlotte yang sangat mencintainya. Inilah cinta kedua yang Wilbur terima dalam hidupnya. Charlotte berjanji akan menyelamatkan Wilbur. Gagasan yang muncul mengejutkan Charlotte, karena ternyata untuk menyelamatkan Wilbur, dia hanya harus membuat orang percaya tipu muslihatnya. Di sinilah pengarang memberitahukan pada kita bahwa yang memegang peranan penting dalam novel ini bukanlah nasib Wilbur, tapi jaring Charlotte. Itulah sebabnya Wilbur tidak muncul dalam judul buku ini.

Suatu pagi berkabut, Charlotte memamerkan muslihatnya. Ia memintal sebuah jaring besar, seperti cadar yang sangat halus. Jaring itu dihiasi embun dan berkilau ketika tertimpa cahaya. Suatu pagi di musim gugur 1949, White berjalan masuk ke dalam lumbung di tanah pertaniannya di Maine, dan melihat jaring laba-laba yang mirip pintalan Charlotte. Apa yang ia lihat menginspirasinya untuk menulis buku dengan laba-laba sebagai tokoh pahlawan di dalamnya, maka lahirlah Charlotte. Hanya saja pada 1949, White tidak melihat sebuah pesan dipintal di tengah-tengah jaring. Charlotte telah memintal sebuah pesan untuk menciptakan reputasi si babi.

Usaha Charlotte membuat Wilbur tersohor. Apa yang Charlotte anggap muslihat dianggap mukjizat oleh manusia. Waktu berlalu, dan Charlotte terus memintal pesan di jaringnya yang cantik. Templeton, si tikus yang suka menggerutu, mendapatkan tugas mencari kata yang Charlotte inginkan. Ketika Wilbur dibawa ke Pekan Raya, Charlotte memutuskan untuk memintal pesan terakhir memastikan Wilbur tidak pernah muncul di atas meja makan. Ia sekaligus akan membuat magnum opus atau mahakaryanya. Sesudah itu, Charlotte akan menghilang ke balik layar dan membiarkan Wilbur mendapatkan kejayaannya. “Lihatlah kecemerlangan binatang itu! Kemudian ingatlah hari ketika kata ‘cemerlang’ muncul di jaring laba-laba. Dari manakah tulisan misterius itu? Pasti bukan dari laba-laba! Kita tahu itu! Laba-laba memang sangat cerdas dalam memintal jaring! Tapi tidak diragukan lagi, laba-laba tidak bisa menulis!” (hlm. 205)
 

E.B. White
Suatu ketika Wilbur bertanya kepadanya, “Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Aku tidak pantas menerimanya. Aku tak pernah melakukan apa pun untukmu?” “Kau sudah menjadi temanku,” jawab Charlotte. “Itu saja sudah hal yang luar biasa. Aku memintal jaringku karena aku menyukaimu. Lagi pula, apa sih sebenarnya hidup ini? Kita lahir, kita hidup untuk sementara waktu, lalu kita mati. Aku sadar, mau tak mau, hidup seeekor laba-laba kurang disukai, dengan semua urusan menjerat dan memakan lalat seperti ini. Dengan membantumu, mungkin aku bisa meningkatkan derajat kehidupanku sedikit. Yang Kuasa tahu, kehidupan siapa pun akan lebih baik jika derajatnya terangkat.” (hlm. 212-213).

Charlotte sudah memberikan makna bagi kehidupannya yang tidak abadi dengan menyelamatkan Wilbur. Tidak ada manusia yang tahu apa yang sudah Charlotte lakukan untuk Wilbur, tapi Wilbur tahu itu, dan menghargainya. “… kamu telah menyelamatkanku, Charlotte, dan dengan senang hati aku akan memberikan nyawaku untukmu.” (hlm. 213). Kelak, kebaikan Charlotte akan menjadi kenangan indah yang terpatri di dalam hati Wilbur. Bukankah kebaikan orang kepada kita akan menjadi kenangan indah dalam hidup kita?

Persahabatan adalah tema utama novel Charlotte’s Web. Setelah persahabatannya dengan Fern tidak berkembang (karena tampaknya pengarang lebih ingin menonjolkan persahabatan di antara karakter antromorfisnya), Wilbur menjalin persahabatan dengan Charlotte. Persahabatan menjadi sangat berarti di sini terkait upaya yang dilakukan Charlotte demi menyelamatkan Wilbur. Cinta memegang peranan penting dalam persahabatan mereka, karena tanpa cinta tanpa pamrih, Charlotte tidak akan mau menolong Wilbur, ia akan jadi sama dengan si tikus, Templeton.

Sebelum Wilbur bertemu Charlotte, novel ini belum berbicara banyak. Novel mulai berbicara banyak ketika Wilbur dan Chalotte bertemu dan Charlotte bersedia menjadi sahabat sejatinya. Kata-kata di jaring Charlotte yang paling banyak bercerita dan merupakanh hadiah terindah Charlotte bagi Wilbur, karena ketika jaring itu bercerita, Wilbur pun terselamatkan.

Dalam hal menghidupkan dunia Charlotte, pengarang adalah juaranya.  Ia telah melakukan riset pustaka untuk memberikan kepada kita sesuatu yang terpercaya. Sesuatu yang membuat kita ikut bersepakat pada apa yang dikatakan dokter Dorian: “Ketika kata-kata itu muncul, semua orang mengatakannya sebagai mukjizat. Tapi tak seorang pun yang menyadari bahwa jaring laba-laba itu sendiri adalah mukjizat.” (hlm. 143).

Jika dengan memintal kata-kata itu di jaringnya Charlotte telah memberikan hadiah terindah kepada Wilbur, dengan membaca novel ini, kita menerima hadiah terindah dari Elwyn Brooks White. Dan seperti orang-orang percaya pada pesan yang dipintal Charlotte, kita juga percaya dengan pesan dalam buku ini.

Ada satu kalimat yang agak mengganggu saat Bu Zuckerman mengumumkan kalau dia akan memandikan Wilbur dengan susu mentega. Terjemahannya menjadi seperti ini: “… aku akan memandikan babi itu dengan susu mentega, cairan sisa setelah mentega dipisahkan dari susu.” (hlm. 15). Seharusnya kalimat yang ditulis miring  itu tidak perlu dimasukkan dalam ucapan Bu Zuckerman karena ucapannya menjadi janggal (Coba Anda ucapkan kalimat itu). Itupun kalau maksudnya sudah benar. Sebaiknya diberi keterangan saja, semacam catatan kaki, apa itu susu mentega (dalam bahasa asli buttermilk bath). Masukkan saja kata ‘buttermilk bath’ ke mesin pencari Google, Anda akan menemukan berbagai jenis buttermilk bath di sana.

Novel yang mendapatkan penghargaan Newberry Honors pada 1953 ini telah diadaptasi ke dalam film dua kali dan telah dibuatkan versi video game-nya. Nasib Wilbur setelah novel ini berakhir pernah dilanjutkan, tidak dalam bentuk buku, tapi sebuah film animasi berjudul Charlotte’s Web 2: Wilbur’s Great Adventure. Bagi saya, kisah Wilbur cukuplah sampai di sini, tidak akan ada lagi jaring yang sama seperti jaring Charlotte.

Judul edisi Indonesia terbitan penerbit Dolphin sudah tepat, namun sebaiknya judul aslinya tetap disematkan, kalau perlu di sampul novel ditampilkan menggunakan font berukuran besar. Kritik yang lain untuk edisi Indonesia ini adalah terlalu banyak individu yang menyampaikan endorsement. Setelah dihitung-hitung ada duapuluh delapan orang. Sungguh berlebihan, dan jujur saja, cukup mengganggu.
 

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan