Showing posts with label Neil Gaiman. Show all posts
Showing posts with label Neil Gaiman. Show all posts
12 May 2013

The Graveyard Book


Judul Buku: The Graveyard Book
Pengarang: Neil Gaiman (2008)
Penerjemah: Lulu Wijaya
Tebal: 351 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Rudyard Kipling mengeset rimba sebagai tempat untuk membesarkan Mowgli dalam The Jungle Book. Terinspirasi karya Kipling itu, Neil Gaiman mengeset permakaman sebagai tempat untuk membesarkan Nobody Owens dalam The Graveyard Book (2008). Jika Mowgli dibesarkan oleh serigala India dibantu beruang dan harimau kumbang, maka nasib Nobody Owens tergantung pada hantu-hantu yang bergentayangan di permakaman tersebut. 

Permakaman yang dijadikan seting oleh Gaiman berada di puncak bukit dan telah ditetapkan sebagai cagar alam. Terdapat sekitar sepuluh ribu jiwa di pemakaman itu tapi sebagian besar dari mereka tidur lelap dan tidak menaruh minat pada kegiatan malam hari di tempat itu. Ke sanalah, pada malam pembunuhan keluarganya, anak laki-laki dan bungsu yang masih batita pergi setelah terjaga dari tidur. Ia tidak tahu kalau ayah, ibu, dan kakak perempuannya telah dibunuh oleh pria bernama Jack. Kegemaran berkeliaran inilah yang justru menyelamatkannya. Mistress Owens, salah satu hantu di permakaman itu, yang menyaksikan kemunculannya bertekad melindunginya. Apalagi, ibunya yang telah menjadi hantu meminta perlindungan bagi anaknya. Karena sewaktu hidup lebih dari 250 tahun lalu tidak memiliki anak, Mr. Owens bersetuju dengan istrinya untuk mengadopsi  anak itu. Singkat cerita, anak itu pun tinggal di permakaman. Silas, salah satu penghuni permakaman, menjadikan dirinya sebagai wali anak itu dan bertanggung jawab untuk menyiapkan semua kebutuhannya.  Anak itu diberi nama Nobody Owens dan nama panggilannya adalah Bod. "Dia tidak mirip siapa pun selain dirinya sendiri. Dia tidak mirip siapa pun -seperti nobody," kata Mrs. Owens (hlm. 35). Bod mendapatkan Kebebasan Permakaman (Freedom of the Graveyard) seperti yang sebelumnya didapatkan Silas. Kebebasan Permakaman membuatnya dilindungi, bisa melihat dalam kegelapan, berjalan di beberapa jalan yang tidak boleh ditempuh orang hidup, dan kalau ia menghendaki, mata orang hidup takkan bisa melihatnya. 

Para hantu-lah yang kemudian mengajarkan segala sesuatu kepada Bod dan berusaha menjawab semua pertanyaan yang terbentuk dalam benaknya. Silas memperkenalkan abjad dengan menggunakan batu-batu nisan yang ada. Tapi karena Silas sering meninggalkan permakaman, Bod juga mempunyai guru-guru lain yang mengajarnya bicara,  menulis, sejarah, geografi, astronomi, dan berbagai pengetahuan umum lainnya. Dan dengan Kebebasan Permakaman yang diberikan kepadanya, ia juga belajar Memudar, Menghantui, dan Merambah Mimpi. Selanjutnya, Bod malah mampu membuka gerbang ghoul -setan kuburan- dan mengenal ghoul seperti Presiden Amerika Serikat yang ke-33 (Harry S. Truman?) dan pengarang ternama Victor Hugo. 

Dengan menetap di permakaman Bod tidak hanya mengenal hantu-hantu yang berada di sana. Ia juga akan mengenal Miss Lupescu, salah satu Anjing Tuhan (Hound of God) yang menggantikan Silas menjaganya saat walinya itu bepergian dalam waktu lama. Juga Liza Hempstock, penyihir yang dimakamkan di Potter's Field -mengingatkan pada Tanah Tukang Periuk yang dibeli menggunakan uang yang diperoleh Yudas Iskariot dengan mengkhianati Yesus Kristus- di pinggiran permakaman dan tidak memiliki batu nisan. Lantaran ingin memberikan Liza batu nisan, Bod nyaris mencelakakan dirinya sendiri. Selain mereka, Scarlett Amber Perkins, seorang gadis nonhantu, akan memasuki kehidupan Bod. Setelah sempat terpisah karena Scarlett pergi ke Skotlandia, mereka bertemu kembali sepuluh tahun kemudian. Scarlett-lah yang berusaha menyelidiki kasus pembunuhan keluarga Bod yang dengan sengaja telah dipetieskan oleh pihak kepolisian. 

Tiga belas tahun telah berlalu, ternyata Bod belum aman, belum bisa diizinkan menengok dunia luar dengan bebas. Silas memberi tahu kepadanya bahwa pria bernama Jack masih terus mencarinya dengan tujuan untuk mencabut nyawanya.  

Bod mengangkat bahu. "Jadi?" katanya. "Itu hanya kematian. Maksudku, semua temanku yang terbaik sudah mati."

"Ya." Silas ragu sejenak. "Mereka memang sudah mati. Dan sebagian besar mereka sudah selesai menjalani hidup di dunia ini. Kau tidak. Kau hidup. Itu berarti kau punya potensi yang tak terbatas. Kau bisa melakukan apa pun, membuat apa saja, memimpikan apa saja. Kalau kau mengubah dunia, dunia akan berubah. Potensi. Begitu kau mati, potensi itu lenyap. Habis. Kau sudah membuat apa yang sudah kaubuat, memimpikan mimpimu, menuliskan namamu. Kau bisa dikubur di sini, kau bahkan bisa bergentayangan. Tetapi potensi itu sudah habis." (hlm. 205).

Mengapa pria bernama Jack bertekad membunuh Bod? Itulah pertanyaan terbesar yang akan mengikuti kita selama membaca The Graveyard Book (Cerita dari Pemakaman), novel fantasi karya Neil Gaiman. Gaiman akan menyingkapkan jawabannya dan menegaskan bahwa sebenarnya bukan keluarganya, melainkan Bod-lah target utama pria bernama Jack. Untuk mengelak dari ketajaman fatal pisau pria bernama Jack itu, Bod tidak hanya membutuhkan bantuan walinya yang bisa berpindah-pindah dunia orang hidup dan orang mati, tapi juga jiwa-jiwa penghuni permakaman. Dan permakaman itu sendiri akan menjadi saksi perjuangan Bod mempertahankan takdirnya sebagai seorang penyintas dari sebuah tragedi. 



Sekali lagi Neil Gaiman menunjukkan kemumpuniannya sebagai penulis fiksi fantasi yang menghanyutkan kita sejak kisahnya dibuka. Setelah membuyarkan batas antara kehidupan dan kematian, Gaiman menetaskan sebuah kisah unik berfondasikan cinta kasih dan kebaikan hati serta perjuangan bertahan hidup di tempat yang sebelumnya tidak terbayangkan. Gaiman bermain-main dengan penuh humor mengubah pandangan yang memvonis permakaman sebagai tempat angker ke pandangan yang mengindikasikan permakaman sebagai tempat di mana kisah-kisah yang menarik terpendam menanti digali. Dan memang, selama membaca kisah ini, bukan suasana permakaman yang membuat kita berdebar-debar, melainkan kemunculan pria bernama Jack yang akan menentukan keberlangsungan hidup Bod di permakaman itu.

Gaiman menutup novel ini dengan pilihan yang akan menggenapkan takdir Bod sebagai bocah yang diselamatkan dan tetap hidup. Sebuah penutup yang sangat mengharukan sekaligus indah dan menciptakan kehampaan seusai membacanya. Pada akhirnya, Mistress Owens, ibu Bod, akan mengingat kembali baris-baris terakhir lagu tua yang dinyanyikannya untuk meninabobokkan Bod saat masih kanak-kanak.

Hadapi hidupmu
Kepedihannya, kenikmatannya,
Jangan biarkan satu jalan pun tak tertempuh.
(hlm. 350)

The Graveyard Book telah memenangkan berbagai penghargaan yaitu Newbery Medal 2009, Hugo Award untuk Novel Terbaik 2009, Locus Award untuk Buku YA Terbaik 2009, dan Carnegie Medal 2010. Novel ini akan difilmkan oleh Walt Disney Pictures dengan format film animasi oleh Henry Selick, yang juga membuat film animasi dari novel Gaiman yang lain, Coraline. 




*Catatan: sebenarnya bukan pemakaman tapi permakaman yang paling tepat untuk tempat memakamkan jenazah. Pemakaman sendiri adalah proses atau perbuatan memakamkan.

12 February 2012

Good Omens


Judul Buku: Good Omens
Pengarang: Neil Gaiman & Terry Pratchett (1990)
Penerjemah: Lulu Wijaya
Tebal: 520 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan 1, April 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




"Dan Anjing Buas akan datang, dan Kedua Kuasa akan memandang dengan Sia-Sia, karena ia Turut ke mana pun Tuannya Pergi. Ke Mana Mereka Tak Bisa Ikut, dan dia akan menamainya, sesuai dengan Sifatnya, dan Neraka pun akan lari darinya" adalah ramalan nomor 1111 dari buku ramalan seorang penyihir perempuan bernama Agnes Nutter.




Buku ramalannya yang berisi lebih dari 4000 ramalan, terbit pertama kali September 1655, tidak laku, menghilang dari pasaran, dan tertinggal satu di dunia ini, yaitu di tangan salah satu keturunannya, Anathema Device. Ramalan yang akurat di atas berhubungan dengan kedatangan Antikristus di dunia yang akan menyebabkan terjadinya Armageddon saat mana akan terjadi peperangan besar, Pertempuran Terakhir antara Surga dan Neraka selama 3 ronde. Salah satunya akan mengalami kejatuhan dan akan tamat riwayatnya.

Antikristus memang tidak datang dalam wujud orang dewasa. Ia datang ke bumi sebagai bayi lelaki berambut emas. Telah dirancang, dalam biara yang dikelola para biarawati pemuja setan Ordo Celoteh, bayi antikristus akan ditukarkan dengan seorang bayi berdarah Amerika.

Crowley, salah satu anak buah Iblis, mantan malaikat pendosa yang dalam wujud ular membuat kedua manusia pertama diusir dari Eden, ditugaskan untuk membawa bayi Antikristus ke biara di Tadfield. Ia tidak sadar telah terjadi kesalahan pertukaran bayi hingga 11 tahun kemudian. Anjing buas utusan iblis yang akan menemani Antikristus tidak datang ke sebuah rumah di London. Anjing neraka ini pergi ke luar kota, ke dataran Oxfordshire, ke tempat tinggal Adam Young.

Hukuman segera membayangi Crowley. Ia tidak tahu di mana harus menemukan Antikristus. Petunjuknya ia peroleh dari satu-satunya buku ramalan Agnes Nutter yang tertinggal di dunia, yang ditemukannya di toko buku langka sahabatnya, Aziraphale.

Aziraphale adalah malaikat Tuhan. Ia berada di bumi sejak bertugas menjaga gerbang timur Eden sambil mengacungkan pedang berapi. Setelah melaksanakan tugas di Eden dan memberikan pedang yang ia pegang kepada sepasang manusia yang telanjur mengenyam buah terlarang, Aziraphale bermukim di bumi dalam wujud manusia dan menjalin pertemanan dengan setan yang menggodai manusia ciptaan Tuhan –yang dalam wujud ular bernama Crawly. Aziraphale mengetahui tempat tinggal Antikristus setelah membaca buku ramalan Agnes Nutter milik Anathema Device yang secara kebetulan jatuh ke tangannya.

Seperti leluhurnya, Anathema Device yang vivacious adalah seorang penyihir. Ia bekerja sebagai praktisi paranormal yang pindah ke Tadfield mengikuti tuntunan ramalan Agnes Nutter. Sayangnya, ia tidak menemukan kejahatan di tempat bercuaca indah tersebut. Ia justru merasakan adanya sebentuk kasih di tempat itu. Sebelum penyelidikannya tuntas, buku The Nice and Accurate Prophecis of Agnes Nutter miliknya hilang. Namun demikian, hal itu tidak merintangi terwujudnya ramalan sang nenek moyang. Sesuai ramalan pula, dari keturunan pemburu penyihir yang membakar Agnes Nutter hidup-hidup –hingga meledak, akan datang pemburu penyihir masa kini. Newton Pulsifer, keturunan pemburu penyihir Jangan-Berzinah Pulsifer datang sebelum Armageddon dan ramalan itu telah menjanjikan jika mereka, "akan bersama, sampai Akhir yang akan datang".

Tidak hanya Crowley, Aziraphale, dan Anathema yang tahu di mana Armageddon akan dimulai. Ada juga para pengendara kuda hari kiamat yang disebutkan dalam Wahyu 6: 2-8. Mereka adalah Perang, Kelaparan, Polusi, dan Kematian. Mereka akan membantu Antikristus untuk menyulut Armageddon.

Setelah enam ribu tahun berada di bumi, baik Crowley maupun Aziraphale telah berubah, mereka menyukai manusia dan gaya hidup mereka di bumi. Sayangnya sebuah rencana besar telah dirancang sejak sebelum ada segala zaman. Sebuah rencana yang secara tidak sadar telah ditopang oleh manusia pertama ciptaan Tuhan. Untuk mencegah terwujudnya rencana tersebut, di tengah kesiapsiagaan bala tentara Surga dan Neraka menunggu komando perang, tersisa satu jalan:  Antikristus harus dilenyapkan!

Good Omens (Pertanda-pertanda Baik) adalah novel kolaborasi dua pengarang terkenal, Neil Gaiman dan Terry Pratchett. Seusai membaca, kita akan mendapat kesan bahwa novel ini masih akan memiliki sekuel. Namun dalam Kata Pembuka sejoli pengarang ini telah menegaskan bahwa mereka tidak akan bekerja sama lagi. Jadi, pembaca harus puas sampai di sini, dan memang, tanpa sekuel pun, novel ini telah selesai. Dan diselesaikan dengan cukup memuaskan.

Gaiman dan Pratchett mengemas novel fantasi dewasa ini dengan semangat humoris blakblakan yang mewarnai sekujur novel. Begitu mulai memahami kehendak pengarang, pembaca kemungkinan besar akan kaget dengan ide yang dipilih mereka, ide yang mereka caplok dari Kitab Suci. Bayangkan, kedua tokoh utama yang menjalin pertemanan adalah malaikat Tuhan dan setan. Pertemanan mereka dimulai ketika dalam wujud ular Crowley menjebak manusia dan Aziraphale mencegah mereka memetik lagi pohon kehidupan di Eden dengan pedang yang menyala-nyala. Mereka tetap bertualang di bumi: Crowley doyan tidur dan mengemudikan Bentley hitam tahun 1926-nya sedangkan Aziraphale yang suka mengoleksi buku langka membuka toko buku tanpa berniat menjual isinya. Sepasang makhluk supernatural ini merasa sayang ketika Armageddon segera tiba dan mereka harus meninggalkan kenikmatan dunia. Benar jika Surga menang, hidup akan menjadi lebih baik. "Tapi tidak semenarik sekarang," kata Crowley. "Kau tidak mungkin puas hanya dengan harpa, seperti aku tidak mungkin puas hanya memegang garpu besar."(hlm. 65).

Tidak cukup kaget dengan identitas Crowley dan Aziraphale, pembaca akan bertambah kaget dengan ucapan-ucapan para tokoh yang menggugat "kebijakan" Tuhan –yang dianggap sebagai karakter biasa. Sebagai contoh:

1. Ketika manusia diusir dari Eden, Crowley yang dalam wujud ular berkomentar, "Jujur saja, menurutku reaksinya agak berlebihan. Bagaimanapun, itu kan pelanggaran pertama. Aku tidak mengerti, apa salahnya mengetahui perbedaan antara yang baik dan yang jahat." (nya yang dimaksud adalah Tuhan, hlm. 11).
2. Menanggapi tujuan diciptakannya bumi, kebaikan dan kejahatan, Adam, sang Antikris, berkata, "Aku tidak mengerti, apa hebatnya menciptakan manusia, lalu marah-marah hanya karena mereka bertingkah seperti manusia." (472).
3. "Orang yang bisa membangun semesta dalam enam hari tidak mungkin membiarkan urusan kecil seperti itu terjadi. Kecuali kalau mereka memang menginginkan itu terjadi, tentu saja," kata Crowley saat mempertanyakan pemberontakan yang disebut Aziraphale menyebabkan adanya Surga dan Neraka. "Kenapa membuat manusia penuh rasa ingin tahu, lalu menaruh buah terlarang di tempat yang bisa mereka lihat dengan jari neon raksasa berkedip-kedip dengan tulisan 'INI DIA'?"  (hlm. 505)

Good Omens adalah novel yang berani, provokatif, dan imajinatif. Juga menjadi novel humoris karena kandungannya sangat berpotensi menggelitik saraf tawa. Seolah tidak cukup, para pengarang menambahkan catatan kaki. Sayangnya tidak semua berhasil. Pada beberapa tempat bukannya menambah kejenakaan malah menjadi garing alias membosankan dibaca saking lewat dosis. Untunglah secara total, dalam kesegaran dan keunikannya, novel ini enak diselami dan tidak mengecewakan.

Menutup tulisan ini saya ingin mengutip rangkaian kalimat favorit dalam novel, seperti yang dituturkan Aziraphale:  

"Kejahatan selalu mengandung benih kehancurannya sendiri. Kejahatan itu pada akhirnya negatif, dan karenanya mencakup kejatuhannya sendiri, meski pada saat-saat kemenangan tampak sudah dekat sekalipun. Tak peduli berapa pun megahnya, berapa baik perencanaannya, tak peduli bagaimana sebuah rencana jahat mungkin tampak tak bisa gagal, keberdosaan yang sudah melekat di dalamnya, sesuai definisinya sendiri, akan terpental mengenai para pelakunya. Meskipun pada saat dilaksanakan kejahatan itu mungkin tampak berhasil, akhirnya kejahatan itu akan menghancurkan dirinya sendiri. Ia akan terpuruk di karang dosa dan tenggelam, kepala duluan, dan akhirnya lenyap tak berbekas di samudra kebinasaan." (hlm. 129-130). 
09 February 2012

Stardust


Judul Buku: Stardust
Penulis : Neil Gaiman
Penerjemah : Femmy Syahrani & Herman Ardiyanto
Tebal : 256 hlm; 20 cm

Cetakan: 1, Januari 2007
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama




Biasanya buku yang bermuatan kisah dongeng diterbitkan untuk pembaca anak-anak. Jika akhirnya buku tersebut bisa diterima segala usia, tentu akan menjadi berkah bagi pengarang dan penerbitnya. Kabarnya, saat pertama kali diterbitkan, serial tersohor Harry Potter ditujukan untuk pembaca dewasa. Tapi ternyata serial ini bisa diterima oleh pembaca segala usia. Dan baik pengarang maupun penerbit sudah pasti sukses menangguk laba. Hal ini tentu saja tidak menjadi masalah, karena kisah dalam Harry Potter tergolong layak dibaca segala usia. 

Stardust (Serbuk Bintang) karya Neil Gaiman lain ceritanya. Seperti Harry Potter, buku ini ditargetkan untuk pembaca dewasa. Bedanya, Stardust mengandung unsur yang membuatnya tidak layak dibaca anak-anak. Stardust memuat kurang lebih dua unsur yang menjelaskan penyebab buku ini mesti diberi label novel/dongeng untuk pembaca dewasa, yakni unsur kekerasan, dan unsur seks. Unsur kekerasan dalam Stardust yang paling menonjol adalah pembunuhan seekor kuda oleh penyihir perempuan yang dilakukan  dengan sadis. Setelah membunuh kuda tersebut, penyihir itu memancung kepala kuda hingga darah mengalir membentuk kolam. Sedangkan unsur seks diceritakan sekitar dua kali. Meski tidak vulgar, dan diterjemahkan dengan baik,  adegan seks dan deskripsi anatomi tubuh perempuan dewasa tidak layak dibaca oleh anak-anak (dan semoga tidak ada anak-anak yang 'kebetulan' membacanya karena melihat sampulnya yang menarik). 

Rupanya, Neil Gaiman, sang pengarang, menulis Stardust karena terinspirasi kreativitas pengarang kisah-kisah fantastis seperti C. S. Lewis yang kendati menargetkan pembaca anak-anak, karyanya tetap disukai oleh orang dewasa. Hanya saja untuk Stardust Neil Gaiman tidak berharap buku yang ia tujukan khusus pembaca dewasa ini terbaca oleh anak-anak yang gemar membaca kisah-kisah fantasi.

Awalnya Stardust diterbitkan dalam bentuk komik untuk pembaca dewasa pada tahun 1997 dengan ilustrasi yang dikerjakan Charles Veiss (namanya bisa ditemukan pada bagian ucapan terima kasih). Pada tahun 1999, Stardust diterbitkan sebagai novel dan mendapat sambutan meriah khalayak pembaca. Neil Gaiman berhasil memenangkan penghargaan prestisius Mythopoeic Award yang kedua kalinya berkat Stardust, yaitu sebagai pemenang novel dewasa terbaik tahun 1999 (tahun sebelumnya novel Neil Gaiman yang berjudul Neverwhere juga memenangkan novel terbaik Mythopoeic Award). 

Stardust memang sebuah dongeng yang menawan. Ditulis dengan alur yang menarik, Stardust melibatkan berbagai karakter unik khas dongeng yang mudah untuk dikenang. Tristran Thorn adalah karakter utama dari novel yang dikukuhkan sebagai salah satu buku terbaik versi Publishers Weekly tahun 1999. Sebelum sebuah bintang jatuh dari gugusan bintang Belantik, Tristran adalah seorang remaja biasa, canggung, dan pemalu. Ia jatuh cinta pada Victoria Forester sebagaimana setiap pemuda Desa Tembok, tempai ia tinggal. Hingga pada suatu senja musim dingin di bulan Oktober, bintang yang disebutkan tadi jatuh, dan demi cintanya pada Victoria, Tristran mencetuskan janji gegabah, yaitu  membawakan benda langit tersebut untuk sang gadis. Janji Tristran membuatnya harus meninggalkan Desa Tembok, melewati celah tembok yang selalu dijaga ketat, dan memasuki Negeri Peri. 

Bintang jatuh yang dilihat Tristran ternyata dilihat juga oleh dua pihak lain yang nasibnya sangat tergantung pada bintang tersebut. Yang pertama adalah tiga putra penguasa Stormhold yang bersaing untuk mendapatkan posisi penguasa Stormhold ke-82. Mereka adalah Primus, Tertius, dan Septimus. Penguasa Stormhold ke-81 telah melemparkan batu ratna cempaka yang dirangkaikan pada dua utas rantai perak ke langit dan menghantam bintang senja tersebut sehingga tercampak ke bumi. Batu ratna cempaka itulah yang menjadi lambang kekuasaan Stormhold, sehingga siapa yang mendapatkannya akan menjadi penguasa berikutnya. Yang kedua adalah tiga nenek kaum Lilim (ratu penyihir) yang tinggal di hutan. Untuk mempertahankan kehidupan mereka, mereka harus menyantap jantung bintang. Mereka menjadi semakin renta karena harus berbagi jantung bintang yang jatuh 200 tahun sebelumnya. Setelah melahap sisa bintang yang tinggal sedikit, Lilim tertua menjadi lebih muda dan mendapat tugas untuk mencari bintang jatuh tersebut untuk dikerat jantungnya. 

Tristran yang menemukan bintang jatuh pertama kali. Di negeri Peri, bintang jatuh ternyata seorang gadis berambut pirang, berpakaian sutra biru, berkaki patah, suka marah-marah, dan bernama Yvaine. Setelah kena hantaman rantai perak ratna cempaka, ia harus membawa milik penguasa Stormhold itu ke mana ia pergi. Tanpa daya, Yvaine harus mengikuti Tristran yang meretas jalan pulang ke Desa Tembok. Di tengah perjalanan mereka menemukan seekor kuda bertanduk gading yang kemudian dijadikan tumpangan Yvaine yang kakinya patah. Sebenarnya Yvaine tidak mau mengikuti Tristran ke Desa Tembok. Karenanya ia mencoba meninggalkan Tristran. Meski Yvaine berhasil meninggalkan Tristran, akhirnya mereka harus bertemu di sebuah penginapan di mulut celah Gunung Perut. Di sini mereka sekaligus berhadapan dengan Lilim yang mengincar jantung si bintang dan Primus yang hendak mengambil batu ratna cempaka yang dibawa Yvaine. Terjadi konflik yang kemudian menyebabkan Primus dan si kuda bertanduk gading tewas. Tristran dan Yvaine berhasil melarikan diri. Tapi Desa Tembok masih jauh, si penyihir masih berupaya mendapatkan jantung Yvaine dan masih ada satu putra raja yang membutuhkan batu ratna cempaka yang dibawa Yvaine --dan berkewajiban menegakkan hukum-darah Stormhold. 

Apakah Tristran akan menginjak Desa Tembok lagi dan mewujudkan keinginan remajanya untuk menikahi Victoria Forester? Bagaimana nasib Yvaine selanjutnya mengingat wujudnya akan berubah begitu memasuki Desa Tembok? 

Novel dongeng yang terdiri atas sepuluh bab (ditambah bab epilog) ini ternyata menyimpan kejutan tak terduga di penghujung kisah layaknya novel-novel biasa. Stardust mau tidak mau menjadi semacam pembuktian jika Neil Gaiman, lelaki kelahiran Inggris yang sekarang tinggal di  Minnesota (Amerika Serikat) ini, adalah seorang pendongeng modern yang piawai. Selain itu dengan Stardust secara telak Neil Gaiman menegaskan bahwa sebuah kisah dongeng bisa dihadirkan dalam alur yang bernas dan memesona tanpa menyebabkan kebosanan, dan akhirnya bisa diterima dan dinikmati oleh pembaca dewasa. 

Neil Gaiman adalah salah satu penulis prolifik yang menulis berbagai karya meliputi prosa, puisi, komik, lirik lagu, drama, skenario film, dan jurnal. Selain Stardust (novel dewasa), Coraline (novel anak), dan Neverwhere (novel dewasa) yang telah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Neil Gaiman juga telah menghasilkan karya seperti American Gods (novel), Anansi Boys (novel), Sandman (novel grafis), The Day I Swapped My Dad For Two Goldsfish (cerita anak), Smoke and Mirrors : Short Fictions and Illusions, dan Good Omens (bersama Terry Pratchett). Neil Gaiman juga telah memenangkan berbagai penghargaan seperti Hugo, Nebula, World Fantasy, Bram Stoker, Locus, British Fantasy, British SF, Geffens, International Horror Guild, dan Mythopoeic seperti disebutkan sebelumnya. Beberapa di antaranya diperoleh lebih dari 1 kali. 

Membicarakan Stardust edisi Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tentu saja tidak bisa mengabaikan upaya kedua penerjemahnya. Mereka bisa dikatakan berhasil menyajikan karya Neil Gaiman ini ke dalam bahasa Indonesia dengan penuh pesona. Femmy Syahrani, sebagai penerjemah utama buku ini, memang telah menghasilkan beberapa karya terjemahan yang telah meramaikan dunia buku Indonesia. Hasil terjemahannya antara lain Tsotsi (Bentang Pustaka, 2006), To Kill a Mockingbird (Qanita, 2006), dan The Remains of The Day (Hikmah, 2007). Apapun komentar pembaca lain, saya harus mengakui bahwa Femmy Syahrani adalah salah satu penerjemah terbaik di Indonesia saat ini.



Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan