Showing posts with label The Floods. Show all posts
Showing posts with label The Floods. Show all posts
12 February 2012

The Floods: Prime Suspect

 

Judul Buku: Keluarga Flood Tersangka Utama
Judul Asli: The Floods: Prime Suspect
Penulis: Colin Thompson (2007)
Penerjemah: Ferry Halim 

Tebal: 200 hlm; 13 x 20 cm 
Cetakan: 1, Maret 2009 
Penerbit: Atria



 

Bagi Colin Thompson, ada tiga jenis orang: super keren, super keren dan brilian, dan pecundang sejati. Pembaca mungkin langsung akan memosisikan diri sebagai super keren dan brilian. Padahal sebenarnya pecundang sejati. Bagaimana bisa masuk kategori pecundang sejati? Jawabannya mudah saja: Anda tidak tahu buku berjudul Tersangka Utama (Prime Suspect) ini merupakan buku kelima dari serial The Floods (Keluarga Flood). Berarti Anda juga tidak tahu, sebelum Tersangka Utama, telah terbit Tetangga Menyebalkan, Sekolah Sihir, Asal Usul Keluarga Flood, dan Tetangga Culun.

Maka, jika Anda ingin menjadi super keren dan brilian, Anda sebaiknya terus membaca tulisan di bawah ini.

Sebuah rencana brilian yang akan tercatat dalam sejarah sebagai rencana tercerdik dan terlicik telah ditetapkan.
Si perencana menamakan rencana enam langkahnya sebagai Rencana Profesor Belgia Yang Mati. Tujuan dari rencana ini tidak lain adalah untuk membuat Mordonna dan Nerlin, kepala keluarga Flood, keluar dari persembunyian. Si perencana akan menaruh sosok mayat di Quicklime College, sekolah khusus penyihir di Patagonia dan menciptakan situasi yang akan membuat lima anak keluarga Flood – Winchflat, Morbid, Silent, Merlinmary, dan Satanella- yang bersekolah di sana dicurigai sebagai pembunuh.

Si perencana berhasil. Departemen Penyidikan Khusus Forensik atau Forensic Special Investigators mengutus Grusom, legenda di dalam keremangan dunia ilmu forensik, untuk memecahkan kasus pembunuhan ini. Berbekal metode Lemparkan-Segenggam-Kacang-Polong-Ajaib-Ke-Udara dan Avid, asisten barunya yang menawan, Grusom melakukan investigasi yang sukses mengarahkan kecurigaan pada Flood Bersaudara.

Namun Colin Thompson, sang pengarang, telah memperingatkan. "Rencana itu brilian dan sangat rumit serta licik sehingga bahkan .... (nama si perencana sengaja dikosongkan, walau jika Anda selesai baca tulisan ini, Anda yang super keren dan brilian akan menebak dengan jitu) sendiri pun tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian" (hlm. 107). Si Perencana memang tidak tahu, baginya telah disiapkan sebuah Botol-Super-Kuat-Yang-Sangat-Tembus-Pandang-Sehingga-Kau-Tidak-Melihatnya untuk menjadi peraduannya.

Tersangka Utama masih dimasak dengan metode dan bahan penyedap yang sama seperti pendahulunya. Sejak halaman awal, yang menjelaskan jika kisah dalam buku kelima ini terjadi setahun setelah buku keempat (Tetangga Culun), Thompson telah membubuhkan bahan penyedap, yang mungkin bagi sebagian pembaca akan terasa terlampau gurih. Buku ini memang tidak berisi cerita fantasi biasa yang kerap masih bisa diraba logikanya. Hampir semua yang disampaikan pengarang bersifat hiperbolis. Pengarang sama sekali tidak malu membangun kesan sebagai pribadi 'lewat takaran'. Seakan-akan apa yang di dalam kisahnya belum cukup gokil, atas namanya sendiri (yang harusnya berada di luar garis kisahnya), pengarang mengimbuhkan catatan kaki konyol. Gaya seperti ini telah dipraktikkannya sejak buku pertama (Tetangga Menyebalkan). Ia, jelas hendak menegaskan, serial ini ditulis tidak dengan maksud dibaca secara serius. Semua kisah yang ia beber hanya sekadar hiburan yang bisa dinikmati untuk mengusir kesuntukan. Makanya, pembaca tidak perlu tersiksa dengan semua aspek mustahil di dalamnya.

Meskipun begitu, sebagaimana buku-buku sebelumnya, Tersangka Utama tidak sampai kehilangan arah. Pengarang tetap meletakkan konflik di dalamnya, konflik yang dipicu di Transylvania Waters, tempat asal Mordonna dan Nerlin Flood. Kapan konflik itu akan berakhir, pembaca akan tahu begitu serial ini ditamatkan.

Selain menulis cerita, pengarang yang telah menerima penghargaan seperti Kate Greenaway Medal, Aurealis Award, dan Hampshire Illustrated Book Award ini juga seorang ilustrator. Ia menghias buku ini dengan gambar-gambar hitam putih yang boleh dibilang, sangat jauh dari kesan manis.

Edisi Indonesia terbitan Atria (imprint dari penerbit Serambi) enak dan gampang dibaca. Penerjemah yang pada 2 buku pertama serial ini bertindak sebagai penyunting (diterjemahkan oleh Shinta Harini) berhasil menerjemahkan dan tetap konsisten dengan gaya penerjemahan sebelumnya. Satu yang tidak konsisten adalah pemakaian nama Hearse Whisperer, agen rahasia kesayangan Raja Quatorze. Jika pada buku ini muncul nama Hearse Whisperer, pada buku sebelumnya (Asal Usul Keluarga Flood), pernah muncul nama Pembisik Maut. Namun, terlepas dari itu, hasil penerjemahannya sama sekali tidak mengecewakan.

Nah, pasti Anda sudah tahu ruginya tidak jadi super keren dan brilian.



The Floods: Survivor



Judul Buku: Keluarga Flood Tetangga Culun
Judul Asli: The Floods : Survivor
Penulis: Colin Thompson (2007)
Penerjemah: Ferry Halim
Tebal: 222 hlm; 13 x 20 cm
Cetakan: 1, Januari 2009
Penerbit: Penerbit Atria




Dari 'Enggak Banget' Menjadi 'Keren Abis'





Colin Edward Thompson, mantan penderita depresi –sehingga tidak heran ia menulis buku Keluarga Flood yang antidepresi, hingga kini telah menulis 8 judul untuk serial keluarga penyihir ini. Buku kedelapan akan terbit Februari 2009 dengan judul Floods 8: Better Homes & Gardens. Penerbit Atria, sampai Januari 2009, telah menerbitkan edisi Indonesia Keluarga Flood sebanyak 4 judul. Yang telah beredar adalah Neighbours (Tetangga Menyebalkan), Playschool (Sekolah Sihir), Home & Away (Asal-usul Keluarga Flood), dan Survivor (Tetangga Culun).

"Kalau kamu belum membaca ketiga buku Keluarga Flood yang pertama, kamu mungkin merasa seperti pecundang sejati, yang tentu saja memang benar," begitu tulis Thompson pada prolog Tetangga Culun. Untuk berhenti menjadi pecundang, katanya, kamu hanya perlu membaca ketiga buku sebelumnya. Bahkan "kalau membeli sendiri, kamu akan menjadi orang yang benar-benar brilian dan dijamin akan sukses besar, luar biasa populer, kaya-raya, serta bertampang keren," lanjut Thompson. 

Kalau dulu, Keluarga Flood mendapatkan tetangga menyebalkan, yaitu Keluarga Dent (Floods 1: Neighbours), kali ini mereka mendapatkan tetangga culun, Keluarga Hulbert. Sepasang suami-istri yang tampak sangat kolot, membosankan, dengan sejoli anak yang juga membosankan, Ffiona –sebenarnya Fiona tapi menjadi keliru karena Mr. Hulbert menulisnya dengan tergagap, dan Claude –yang untungnya tidak menjadi Cccclaude. Keluarga menyedihkan yang 'enggak banget' ini memutuskan pindah ke Acacia Avenue untuk memberikan tempat bagus dan damai bagi Ffiona. Anak perempuan dengan koleksi ratusan bintik di wajah ini telah mengalami serangkaian pelecehan di sekolah terdahulu.
                                                                         
Oleh mantra Mrs. Flood alias Mordonna, Betty yang secantik boneka porselen, menjalin pertemanan dengan si culun Ffiona. Bahkan, Betty tertarik untuk mengajari Ffion melakukan sihir. Padahal, Betty masih sering melakukan kesalahan, melafalkan mantra secara keliru. Contohnya, bukannya menjadi sepatu keemasan bertabur batu permata, Betty menyihir sepatunya menjadi seekor buaya kecil.  Mengerikan bukan? Kasus sihir sukses Betty tidak banyak, antara lain mengubah Dickie Dent menjadi kulkas dan Mr. Dent menjadi robot penyedot debu.

Ketika Ffiona berkunjung ke rumah Betty ia meninggalkan kesan yang baik pada Keluarga Flood. Apalagi, ia sukses membuat si kembar Morbid dan Silent jatuh cinta. Karena jatuh cinta, Silent yang belum pernah ngomong, sanggup mengeluarkan sepatah kata. Tentu saja Mordonna menjadi gembira karenanya.

Betty pun bertekad membantu Ffiona, menghalangi murid lain di Sunnyview yang coba mengulang kejadian memilukan yang dialami Ffiona di sekolah-sekolah terdahulunya. Masalahnya, di sekolah ada anak perempuan gembrot bernama Birdie McTort, yang suka sekali mencari gara-gara. Ia terkenal sebagai tukang tindas nomor satu dan punya pengikut, yang semuanya goblok-goblok.

Ketika benar Birdie mencari gara-gara, Betty pun menyiapkan cara untuk mempermalukannya. Tambahan 15 jerawat yang sangat menyakitkan; lima ekor burung magpie besar yang bisa mencabut rambut, mencuri iPod, dan memecahkan jerawat; pantat seekor gajah besar yang habis menyantap 200 kg kacang panggang dan belum buang air selama seminggu; membungkam Birdie. Tapi dasar bodoh, Birdie tetap mencari gara-gara dengan mencoba menculik Ffiona. Betty pun punya cara mendepak Birdie selama-lamanya dari Sunnyview.

Nasib malang rupanya menimpa Mr. Hulbert alias Lionel di kantornya. Mr. Groos, sang bos, memperlakukannya dengan buruk. Mr. Gross sering mencari cara untuk menindas Lionel. Bahkan memanggil Lionel dengan nama Halibut (sejenis ikan). Begitu tahu, Betty pun menyiapkan cara untuk mengatasi penindasan Mr. Gross ini. Winchflat, sang kakak yang jenius, tidak tinggal diam. Ia siap menolong ayah si culun. Walaupun Winchflat sedang sibuk dengan proyek sendiri: menciptakan sahabat seperti dalam film Frankestein yang ditontonnya, Igorina.

Bagaimana cara Betty dan kakaknya menyingkirkan Mr. Gross untuk selamanya menjadi penghuni hutan hujan tropis Amazon?

Masih dengan formula yang sama dengan ketiga buku sebelumnya, Thompson akan mengocok perut Anda. Lelaki kelahiran Ealing, London, 18 Oktober 1942 ini adalah seorang pendongeng yang kocak, konyol, dan ngaco. Ia juga seorang yang ceriwis, sehingga membutuhkan catatan kaki untuk menambah keterangan pada apa yang disampaikannya dalam narasi. Namun, dalam semua kekonyolannya, Thompson tetap tak abai menghadirkan pesan dalam bukunya. Ia menunjukkan betapa pentingnya persahabatan yang sejati, tindakan tulus menolong orang yang tertimpa masalah, dan tidak bersikap sombong sekalipun kita berada pada posisi yang lebih baik dari orang lain.

Terlepas dari muatan pesan yang ditorehkan, kita bisa menyimpulkan jika, Tetangga Culun (Survivor) ini ditulis bukan dengan tujuan untuk mengaduk-aduk pikiran, tetapi  untuk tujuan menghibur. Sering terasa hiperbolis, namun secara mujarab, akan mereduksi stres sesegera kita membacanya.

Setelah menjalin pertemanan dengan Keluarga Flood, kita akan mengetahui Keluarga Hulbert akhirnya mengalami transformasi. Dari keluarga kelabu dan membosankan yang 'enggak banget' menjadi keluarga cerah ceria yang 'keren abis'. Jika sebelumnya tampak 20 tahun lebih tua, sesudahnya terlihat 10 tahun lebih muda, dari yang sebenarnya. Keluarga Flood memang hebat, luar biasa, sama sekali 'nggak ngebosenin'.

Sebagai penulis yang juga ilustrator, Thompson juga menghiasi buku ini dengan gambar-gambar hitam putih yang lucu-lucu. Setiap bab diawali dengan gambar tengkorak mengenakan topi wisudawan, di atas kitab. Sedangkan setiap peralihan cerita dalam setiap bab, terdapat gambar botol tergeletak dengan isi yang keluar bertuliskan "Aku Tidak Percaya Ini Bukan Saus Berbecue Darah".

Sedikit bocoran, jika kau berani membaca buku ini, kau akan tahu kalau penyihir menjadikan rambut sebagai penyedap makanan; ada kue bernama Kue Terbalik, yang dalam versi Mordonna dibuat dengan cara menggantung tubuh terbalik; juga acara barbie yang bukan acara membawa boneka barbie, tetapi acara barbecue.

Setelah Survivor (Tetangga Culun), Colin Thompson telah melanjutkan kisah kehidupan keluarga penyihir ini ke dalam buku-buku berjudul: Prime Suspect (Tersangka Utama), The Great Outdoors, Top Gear, dan yang terakhir, Better Homes & Gardens.

Penulis yang sampai usia 11 tahun menyandang nama Colin Willment ini sekarang menetap di Australia dan telah menghasilkan serial baru, The Dragons. Serial ini direncanakan akan terbit paling kurang 6 judul. Berkat karya-karyanya, Thompson telah menerima penghargaan seperti Kate Greenaway Medal, Aurealis Award untuk Best Children's Long Fiction, dan Hampshire Illustrated Book Award.

The Floods: Home and Away



Judul Buku: Keluarga Flood Asal-usul Keluarga Flood
Judul Asli: The Floods: Home & Away
Penulis: Colin Thompson (2006)
Penerjemah: Ferry Halim
Tebal: 250 hlm; 13 x 20 cm
Cetakan: 1, Agustus 2007
Penerbit: Penerbit Atria



Kisah Cinta Putri Raja dan Manusia Kotor




Seperti disebutkan dalam Sekolah Sihir (Floods 2: Playschool), Nerlin –Mr. Flood, dan Mordonna –Mrs. Flood, berasal dari sebuah negara nan gelap dan misterius bernama Transyvlania Waters. Nerlin adalah salah satu manusia kotor penghuni saluran pembuangan di bawah kota. Di buku pertama, Neighbours (Tetangga Menyebalkan), disebutkan, Nerlin adalah cucu buyut Merlin, penyihir paling terkenal yang pernah hidup. Sebenarnya ia bisa dipanggil Merlin, tapi pendeta yang melantiknya terserang flu sehingga mengucapkan keduanya saling cinta. Dalam Sekolah Sihir disebutkan mereka kawin lari dan keliling dunia untuk menghindari kejaran agen-agen Raja Quatorze.

Kisah cinta Nerlin dan Mordonna sekedar disinggung sedikit dalam buku kedua. Colin Edward Thompson, sang pencipta Keluarga Flood, ingin masa lalu mereka diketahui publik. Ia pun memutuskan menceritakan asal-usul mereka dalam buku ketiga, Home & Away. Edisi Indonesianya telah diterbitkan oleh Penerbit Atria, imprint dari Penerbit Serambi. Penerjemahnya bukan lagi Shinta Harini seperti dua buku terdahulu tetapi Ferry Halim..

Sayangnya, Thompson, saking gila-gilaan, agak terpeleset ketika menceritakan kelahiran anak-anak Keluarga Flood. Mengapa? Dalam buku pertama, Neighbour, Thompson bilang, kecuali Betty, enam anak lain diciptakan berdasarkan 'sebuah buku resep kuno di dalam sebuah laboratorium, menggunakan tongkat sihir berkekuatan turbo dan seperangkat panci mengilap produksi juru masak terkenal dari Inggris, Jamie Oliver'. Namun, setelah membaca buku ketiga ini, sekuat apapun usaha saya mengais-ngais, saya tak menemukan buku resep kuno, juga tongkat sihir berkekuatan turbo dan seperangkat panci mengilap itu. Sepertinya, Thompson lupa deh, apa yang pernah ia bilang di buku pertama.

Okay, awalnya Keluarga Flood hanya tinggal di Acacia Avenue nomor 13. Mereka punya tetangga menyebalkan, Keluarga Dent. Keluarga beranggotakan 4 orang ini dikerjai habis-habisan, antara lain disihir menjadi kulkas, televisi, dan robot penyedot debu nirkabel. Rumah keluarga menyebalkan itu akhirnya menjadi milik Keluarga Flood.  (Ah, kau harusnya tahu, kalau nggak, kau pasti pecundang).

Tetapi lebih awalnya lagi, mereka tinggal jauh di Transylvania Waters (TW). Saat itu, ketujuh anak Keluarga Flood belum ada di dunia.  Valla, si sulung, dan adiknya, Satanella, lahir dalam perjalanan mereka menujui Acacia Avenue. Sedangkan Winchflat, Merlinmary, si kembar Morbid-Silent, dan Betty diciptakan di Acacia Avenue, dengan proses yang berbeda-beda.

Kata sahibulhikayat, suatu ketika, Mordonna, gadis termolek di seluruh TW, putri sulung Raja Quatorze, yang akan dikawinkan dengan Pangeran Nochyn dari Battenberg, terperosok ke saluran pembuangan. Di dalam lubang itu, Nerlin, seorang pembersih kakus, dari golongan Manusia-manusia Kotor, tengah bekerja. Mereka bersitatap, dan sinar mata masing-masing memercikkan api cinta (ehemm...). Dalam tempo singkat, setelah saling mencium ketiak, Nerlin menyematkan cincin dari jalinan benang emas ke jemari Mordonna.

Jika Raja Quatorze murka sampai ia meledak berkeping-keping, seperti kebiasaannya, istrinya, Ratu Scratchrot, mendukung percintaan Nerlin & Mordonna. Ia menyuruh mereka meninggalkan TW, dan ia akan ikut mereka. M. T. Vessel, ajudan ratu yang sudah lama mencintai dan dicintai ratu, juga akan menyertai mereka.

Pelarian pun terjadi setelah Nerlin dan Mordonna menikah. Namun, sebelum pergi lebih jauh, mereka minta petunjuk Sheman –dukun wanita, tentang masa depan. Menurut Sheman, akan ada 7 anak dan kehidupan yang bahagia. Mengikuti usul Sheman yang serba tahu, mereka melewati Jalur Suaka dan melarikan diri ke arah Pegunungan Himalaya, dari sana mereka akan lanjut ke Cina.

Raja geram ketika Baines LeClaude, penasihatnya yang sudah 40 tahun bekerja untuknya, tidak berhasil menemukan Mordonna. Masalahnya, Mordonna sudah digadaikan kepada Pangeran Nochyn dari Battenberg. Setelah mengemas Baines dalam kotak karton Burger Ekspor dan mengirimnya ke Eropa Barat, raja mengganti penasihatnya. Penasihat ini gagal juga dan menyarankan raja untuk memakai jasa mata-mata. Trio mata-mata, Cliché, Stain, dan Ooze, pun digerakkan untuk memulangkan sang putri jelita –yang lain, termasuk istri Raja boleh dibunuh. Tapi mereka gagal, malah tersesat dalam hutan yang sudah digeserkan Sheman.

Raja memutuskan untuk memanggil Pembisik Maut, agen rahasia yang telah mengabdi pada keluarga raja sejak generasi pertama –yang berhasil menggulingkan kekuasaan Merlin dan keturunannya sebagai penyihir kondang. Pembisik Maut ini terkenal karena kejahatan dan kemampuan mencibirnya. Dengan kemampuannya yang lain, yaitu mengubah diri (menjadi keong tak bercangkang atau seekor merpati,) Pembisik Maut diharapkan bisa menemukan Mordonna.

Di tengah perjalanan, Mordonna hamil dua kali dalam tempo yang begitu cepat (dia tidak hamil 9 bulan 10 hari seperti biasanya). Ia melahirkan Valla –si peminum darah, di Pegunungan Himalaya dan Satanella, yang malih menjadi seekor anjing, di Pulau  Tristan da Cunha.

Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang dan tidak mengenakkan, mereka pun tiba di sebuah pantai yang sepi. Kemudian, dari sana, mereka terus bertualang dari kota ke kota hingga tiba di sebuah jalan di sebuah kota. Yang mengejutkan nama jalan itu memuat nama tumbuhan yang tidak disukai penyihir, akasia (acacia). Di sanalah, lima anak Keluarga Flood 'tercipta' menuntaskan ramalan Sheman. Setelah Satanella, lahir Merlinmary, yang tak bisa diketahui gendernya. Winchflat menyusul kakak-kakaknya, dibuat menggunakan bahan dasar bonghir (kecebong penyihir). Lalu, dengan bantuan sebuah mesin karya Wonchflat dan kedua orangtuanya, terciptalah si kembar Morbid dan Silent di dalam bak cuci.
 
"Satu lagi," kata Mordonna. "Satu bayi lagi. Seorang anak perempuan kecil yang manis. Aku tidak ingin ia dibuat di dalam botol selai atau di ruang bawah tanah."

Kau tahu pasti siapa anak perempuan kecil yang manis itu kan? Seperti kakak-kakaknya, ia telah diperkenalkan dalam buku pertama, Neighbours. Seorang anak perempuan berambut pirang mirip boneka porselen. Ia tidak bersekolah di sekolah yang sama dengan kakak-kakaknya, Quicklime College. Seperti penampilannya yang normal, ia bersekolah di sekolah yang normal, SD Sunnyview. Ya, kau benar, namanya Betty. Meski terlihat normal, Betty juga punya kekuatan sihir.

Kau mungkin bertanya-tanya: Apa yang terjadi pada ketiga mata-mata dan Pembisik Maut mengingat akhirnya Keluarga Flood berhasil menetap di Acacia Avenue (ini bukan spoiler, sudah dikisahkan dalam buku-buku sebelumnya)? Sempatkah mereka berhadap-hadapan? Lantas, bagaimana nasib Vessel, kekasih tercinta Ratu Scratchrot? Apakah kau (yang sudah baca) pernah membaca tentang dia di Neighbours atau Playschool? Tidak kan? Jadi, apa yang membuatnya tidak tinggal bersama sang ratu di Acacia Avenue? Satu lagi, mengapa ratu yang sebenarnya belum mati ingin dirinya di kubur di kebun belakang? Oh, kau pasti penasaran. Tapi, aku nggak akan kasih tahu. Kau harus membacanya. Selain akan mengetahui jawabannya, kau akan berhenti menjadi pecundang –efek bagi yang nggak baca kisah Keluarga Flood.

Namun, kau jangan khawatir. Aku mau kasih bocoran sedikit: kalau kau mau baca buku ini, kau akan tahu tentang Danau Tarnish yang menyeramkan, adik Mordonna yang buruk rupa, gagak yang bicara dalam bahasa Inggris dengan logat merpati, kumbang vampir untuk membersihkan gigi, dan seekor keledai bernama neurotik bernama George-Si-Keledai-Yang-Sebelumnya-Dikenal-Sebagai-Pangeran-Kevin-Dari-Asisi, yang punya kalimat favorit: "Aku tidak menyukai hal ini".

Setelah baca buku satu ini, kau pasti akan setuju denganku: Colin Edward Thompson, memang 'gendeng'. Coba saja baca halaman persembahan pada buku ini: "Buku ini kupersembahkan untuk cucuku Walter yang lahir pada 7 Januari 2006, tapi ia sebenarnya berusia 287 tahun". Tapi kau pasti tak akan membenci Thompson. Sepertiku, kau malah mungkin akan menyukainya. Sebab, kau tidak akan murung (Morbid) jika membaca buku ini. Atau juga diam (Silent). Aku berani bertaruh, kau akan geleng-geleng atau bahkan terbahak-bahak. Jadi, kau boleh menjadikan buku ini pilihan, jika buku-buku lain terasa membuat kepalamu nyut-nyutan saking seriusnya.

Omong-omong, Thompson, mana acara pelantikan yang membuat Nerlin tidak bisa dipanggil Merlin karena pendeta yang melantik terserang flu? Mana juga dunia tenung dan sihir yang melegendariskan Mordonna? Kapan Mordonna tampil di halaman tengah Magic Monthly?

Kau mungkin bertanya kenapa aku menanyakan semua itu. Jawabannya: karena Thompson bilang seperti itu dalam Neighbours.
Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan