Showing posts with label Isabel Allende. Show all posts
Showing posts with label Isabel Allende. Show all posts
23 April 2012

Kingdom of the Golden Dragon


Judul Buku: Kingdom of the Golden Dragon
Judul Asli: El Reino del Dragón de Oro (2004)
Pengarang: Isabel Allende
Tebal: 360 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Pada bagian akhir City of the Beasts, Alexander (Alex) mengatakan kepada Nadia ikhwal Kate Cold yang ditugaskan International Geographic pergi ke Kerajaan Naga Emas. Kingdom of the Golden Dragon (2004) merupakan perwujudan dari apa yang dikatakan Alex, meskipun kejadian pada buku kedua ini baru terjadi berbulan-bulan kemudian dari akhir buku pertama.

Isabel Allende membuka Kingdom of the Golden Dragon langsung di Kerajaan Naga Emas, tepatnya, di pegunungan Himalaya. Kita akan mengikuti perjalanan Tensing, seorang biksu Budha dan muridnya, Pangeran Dil Bahadur, menuju Lembah Para Yeti. Di buku pertama, City of the Beasts, disebutkan bahwa Profesor Ludovic Leblanc telah menghabiskan waktu bertahun-tahun meneliti Yeti di perbatasan Cina dan Tibet. Leblanc tidak pernah menemukan Manusia Salju Buruk Rupa ini dan menyimpulkan bahwa Yeti hanyalah legenda. Rupanya Leblanc mencari di tempat yang salah. Karena Tensing dan Dil Bahadur bisa bertemu langsung dengan para Yeti, bahkan tinggal bersama dengan mereka beberapa hari agar Dil Bahadur bisa mempelajari bahasa Yeti.

Meskipun Allende memunculkan Yeti, perjalanan yang akan ditempuh rombongan Kate Cold bukanlah untuk mencari Yeti. Kate Cold hanya akan menulis tentang Kerajaan Naga Emas.

Karena Kingdom of the Golden Dragon adalah buku kedua petualangan Alex dan Nadia, maka tentu saja, Kate mengajak mereka. Nadia tidak lupa membawa  si monyet Borobá. Ikut bersama mereka Timothy Bruce, si fotografer berkebangsaan Inggris dan asistennya yang pernah dibelit anakonda, Joel Gonzáles, Bagi Kate, Raja Kerajaan Naga Emas adalah pahlawan ekologi, dan karena Raja berlangganan International Geographic, visa mereka disetujui. Raja juga memperbolehkan Kate menggarap artikel tentang Kerajaan Naga Emas.

Dalam perjalanan menuju Kerajaan Naga Emas, Alex dan Nadia bertemu dengan dua orang yang mencuri perhatian mereka. Yang pertama Tex Armadillo, pria Amerika bergaya hippie yang berencana mengunjungi Kerajaan Naga Emas. Yang kedua, Judith Kinski, wanita yang memperkenalkan diri sebagai ahli pertamanan yang diundang secara resmi oleh Raja Kerajaan Naga Emas. Raja ingin menanam bunga tulip di kerajaannya dan Judith menawarkan jasa untuk membantu.

Pada hari terakhir di New Delhi –sebelum terbang ke Kerajaan Naga Emas, Alex dan Nadia mengunjungi Red Fort, benteng kuno dekat hotel tempat menginap. Di sana, keduanya melihat Tex Armadillo bertemu orang-orang dari Sekte Kalajengking. Sekte yang juga dikenal sebagai Pejuang Biru ini memiliki reputasi haus darah, tidak berpendidikan, dan percaya takhayul. Mereka menyambung hidup sebagai bandit, penyelundup, atau pembunuh bayaran.
   

Dari Wandgi, pemandu di Tunkhala, ibu kota Kerajaan Naga Emas, rombongan Kate Cold mengetahui bahwa bagi penduduk kerajaan ini, Raja adalah satu-satunya pemimpin spiritual.  Sebelum menjadi raja, kehidupannya dihabiskan di sebuah biara di Tibet. Setelah masa pemerintahannya berakhir, ia akan digantikan oleh salah satu pangeran yang dinilai memiliki hati paling bersih. Rombongan Kate mengetahui pula jika Naga Emas, si patung misterius, memang bisa meramalkan masa depan. Tapi, keajaiban ini hanya dipakai untuk melindungi negara dan bukan untuk kepentingan pribadi. Naga Emas yang menurut Raja menggambarkan jiwa bangsanya tidak pernah meninggalkan kerajaan. Dan hanya Raja yang bisa menguraikan bahasa sandinya.  

Allende mendeskripsikan Naga Emas itu dengan indah: “Bentuk tubuh mirip singa, cakar-cakar berkuku besar, ekor melingkar seperti binatang melata, sayap-sayap berbulu, kepala menyeramkan dengan empat tanduk, dua mata menonjol, dan mulut menganga dipenuhi dua baris geligi tajam dan lidah bercabang seperti ular. Lapisan emasnya sangat halus dan sempurna, tiap sisik pada bagian tubuh dan ekor terbuat dari permata, bulu-bulu pada sayap dari berlian, bagian ekornya menampilkan pola rumit mutiara dan zamrud, geliginya dari gading, dan kedua mata dari batu delima besar, masing-masing berukuran sebesar telur merpati. Binatang legenda itu dipasang di atas batu hitam, di bagian tengahnya terdapat barisan batu kuarsa kuning.” (hlm. 229).

Sang Kolektor, pria terkaya nomor dua di dunia, mengetahui rahasia Naga Emas yang bisa meramalkan masa depan dan terobsesi memilikinya. Jika Naga Emas berada di tangannya, ia akan bisa memenuhi mimpi terbesarnya: menjadi Nomor Satu. Demi mendapatkan Naga Emas, ia membayar mahal seorang berjuluk Spesialis.

Pada saat perayaan keagamaan yang bertepatan dengan bulan purnama dan hari kelahiran Raja, Pejuang Biru menculik Nadia bersama lima gadis lainnya. Penculikan itu adalah bagian dari rencana sang Spesialis agar tercipta sebuah kondisi yang tepat untuk membawa pergi Naga Emas dan sang Raja dari istana.

Dalam usaha menyelamatkan Nadia, Alexander (dan Borobá) bertemu Tensing dan Dil Bahadur. Bersama-sama, mereka tidak hanya akan membebaskan Nadia dan para gadis yang ditawan, tapi juga akan menghadapi Spesialis dan kaki tangannya.

Sampai di situ, kita akan bertanya-tanya. Apakah Naga Emas bisa dikembalikan ke alas batunya? Apakah Raja bisa diselamatkan? Kedua pertanyaan ini akan bergulung dengan pertanyaan yang paling menggoda: siapakah sosok yang bersembunyi di balik julukan Spesialis? Anda harus membaca habis buku ini agar mendapatkan jawaban yang memuaskan. Yang pasti, Allende telah menyiapkan rangkaian kejutan yang mungkin akan membuat Anda tertegun.

 

Seperti dalam City of the Beasts, di bagian pamungkas novel ini, Allende akan menyisakan cerita sedih. Sebagaimana Mata Dunia tidak bisa menangkal gerusan zaman, demikian pula Kerajaan Naga Emas. Diproteksi dengan cara apapun, Kerajaan Naga Emas tetap harus bersiaga menanti bertiupnya angin perubahan.

Tapi berbeda dengan City of the Beasts, di sini kita akan menemukan sebuah kisah cinta yang manis di antara dua orang yang sangat menarik. Kemunculan kisah cinta ini akan mengobati cerita sedih di bagian pamungkas novel.
 
Sekali lagi, Kingdom of the Golden Dragon (Kerajaan Naga Emas) membuktikan kepiawaian Isabel Allende menghasilkan novel fantasi remaja yang bergizi. Tertangkap jelas bahwa Allende tidak cuma berniat menyajikan kisah yang dibungkusnya dengan selaput fantasi. Sejak perjalanan Tensing dan Dil Bahadur menuju Lembah Yeti sampai sehari sebelum rombongan Kate Cold meninggalkan Kerajaan Naga Emas, kita akan disodorkan berbagai hal yang mengundang perenungan. Bacalah dengan saksama, Anda akan menemukannya, kalau bukan dari perkataan para karakter, dari tindakan mereka. 

Budi yang luhur dalam diri remaja, oleh Allende, masih diawetkan dengan indah dalam novel ini. Sewaktu menginap di sebuah hotel di New Delhi, Alex nyaris remuk terinjak-injak para pengemis. Setelah menukar beberapa dolar dari sedikit yang ia miliki dengan rupee, tanpa memikirkan konsekuensinya, hanya karena didorong kebaikan hati, ia membagi-bagikan uang itu kepada para pengemis. Untunglah Tex Armadillo sempat menolongnya. Demikian pula saat Nadia diculik. Alex tidak tahan hanya berdiam diri, maka dengan nekat, ia pergi mencari Nadia. Alex memang selalu memancarkan kebaikan. Tidak heran ketika mengetahui punya kekuatan menyembuhkan, ia membatalkan niat menjadi musisi dan memutuskan menjadi dokter agar bisa menggunakan kemampuannya untuk kebaikan.

Secara keseluruhan, Kingdom of the Golden Dragon tetap mengikuti pendahulunya. Bila dipaparkan dalam satu kalimat novel ini adalah: sebuah sajian cerdas yang ditulis dengan serius.

Tidak sabar rasanya segera membaca buku terakhir trilogi petualangan Alex dan Nadia, Forest of the Pygmies (El Bosque de los Pigmeos).
22 April 2012

City of the Beasts


Judul Buku: City of the Beasts
Judul Asli: La ciudad de las bestias (2002)
Pengarang: Isabel Allende
Penerjemah: Fanny Yuanita
Tebal: 352 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Desember 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Krisis yang menimpa keluarganya membuat Alexander Cold terpaksa meninggalkan rumahnya di pesisir pantai California dan pergi ke rumah nenek dari pihak ayahnya di New York. Kate Cold bukanlah nenek idaman para cucu, sehingga bisa dimengerti jika awalnya Alex keberatan. Untunglah, ia tidak akan menghabiskan seluruh waktunya berduaan saja dengan Kate. Karena Kate mengajaknya ikut dalam ekspedisi menuju jantung hutan Amazon yang dibiayai International Geographic, majalah tempat Kate bekerja sebagai penulis.

Ekspedisi yang dipimpin Profesor Ludovic Leblanc ini bertujuan menemukan Makhluk Buas, makhluk raksasa serupa Yeti di Himalaya (bukan Yeti seperti ditulis di sampul belakang). Leblanc dikenal pernah meneliti Yeti si Manusia Salju Buruk Rupa dan bekerja di antara suku Indian di Amazon.

Selain Kate, Alex, dan Leblanc, dalam ekspedisi tersebut terdapat Timothy Bruce, fotografer Inggris dan asistennya, Joel Gonzáles; Omayra Torres, dokter Venezuela dari Dinas Kesehatan Nasional yang akan memvaksinasi orang-orang Indian. Sebagai pemandu menuju jantung hutan Amazon adalah César Santos yang diekori anak gadisnya, Nadia, yang membawa monyet bernama Borobá. Ikut juga bersama mereka: Karakawe, pria Indian yang ditugaskan untuk menjadi asisten Leblanc; Matuwe, pemandu berkebangsaan Indian yang dipekerjakan César Santos; lima tentara yang disediakan Kapten Ariosto, pemimpin tentara di Santa Maria de la Lluvia

Dalam perjalanan menyusuri Sungai Amazon, tak terelakkan lagi, tim ekspedisi dibayang-bayangi para Manusia Kabut, suku Indian yang bisa membuat diri mereka tidak kasatmata. Lalu kecelakaan dan kematian terjadi sebagaimana diperingatkan Walimai, cenayang Indian yang sudah uzur. Namun perjalanan harus dilanjutkan, karena Makhluk Buas belum menampakkan diri.


Menurut Nadia, semua manusia memiliki roh binatang. Hanya saja, tidak semua manusia bisa menemukan lambang totem binatangnya. Selain cenayang, hanya pejuang hebat yang bisa menemukannya. Sesudah Alex menemukan lambang totem binatangnya, yaitu jaguar, Nadia menyusul menemukan lambang totemnya, elang. Kedua roh binatang ini yang akan menolong Alex dan Nadia ketika diculik para Manusia Kabut dan dibawa ke Tapirawa-Teri, kampung Indian di Mata Dunia.

Pada upacara pemakaman kepala suku Tapirawa-Teri, Walimai, si cenayang, menggunakan ramuan ayahuasca untuk membuka pintu-pintu kerajaan dewa totem. Manakala pintu-pintu terbuka, Alexander dan Nadia masuk dalam wujud binatang yang menjadi lambang totem mereka. Dalam wujudnya sebagai elang, Nadia melihat tiga butir telur kristal di sebuah sarang di puncak tepui (=rumah para dewa) yang paling tinggi. Begitu kembali dari dunia totem, Nadia bertekad menemukan ketiga telur itu. Karena ia tahu, telur-telur itu bisa menyelamatkan para Manusia Kabut. Maka, bersama Walimai, Alex dan Nadia pergi ke gunung keramat mencari ketiga telur kristal itu. 


Untuk mendapatkan tiga butir telur itu, mereka harus mencapai El Dorado, kota para Makhluk Buas -yang pernah menjadi kota emas impian para penakluk. Di sana, hukum pertukaran berlaku tegas: setiap permintaan harus diimbangi dengan sebuah penawaran. Saat akhirnya mereka meninggalkan El Dorado, Rahakanariwa, roh burung kanibal yang ditakuti suku Indian, telah siap menyerang Mata Dunia. Dan sebagaimana keduanya telah dipanggil masuk ke dalam dunia Manusia Kabut karena kemurnian jiwa mereka, mereka pun harus menyelamatkan suku Indian tersebut. 

City of the Beasts yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Negeri Yang Buas -sungguh bukan judul yang tepat, karena tidak ada Negeri Yang Buas di sini, melainkan Kota Para Makhluk Buas- adalah novel young adult (YA) pertama yang ditulis Isabel Allende. Setelah City of the Beasts, Allende telah menggiring Alex dan Nadia ke dalam petualangan selanjutnya dalam Kingdom of the Golden Dragon (El Reino del Dragón de Oro, 2004) dan Forest of the Pygmies (El Bosque de los Pigmeos, 2004). 
 
Menulis novel YA ternyata tidak membuat kemumpunian menulis Allende menurun. City of the Beasts tetap ditulis dengan keseriusan yang sama dengan novel-novel dewasanya. 

Ada beberapa kelebihan novel YA satu ini.

Pertama, bagi Allende keluhuran budi sangat penting tumbuh dalam diri remaja, dan hal ini ditampakkannya dalam diri Alex dan Nadia. Mendekati puncak petualangan mereka, Alex teringat pada ibunya yang sakit kanker, sedangkan Nadia pada nasib Manusia Kabut di Mata Dunia. Hanya cinta kasih dan kepedulian yang membuat Nadia mampu memanjat ke bagian tepui yang paling tinggi dan Alex sanggup menuruni kedalaman bumi. Di sana mereka akan mempersembahkan pengorbanan masing-masing, bagi kemanusiaan.

Kedua, setiap karakter dirancang solid dan digerakkan dengan cermat. Karakter Alex dan Nadia memang akan jadi favorit, tapi Kate Cold dan Ludovic Leblanc sungguh tidak bisa diabaikan. Dari semua karakterisasi yang dibangun Allende, keduanya yang paling solid. Kate Cold ditampilkan sebagai wanita tua nyentrik, sinis, ketus, tapi diam-diam menyayangi cucunya. Sedangkan Ludovic Leblanc diindikasikan sebagai pria pengecut dan banyak tingkah. Sepanjang perjalanan mereka akan memicu perang mulut dengan gampang, dan tentu saja, Kate yang selalu menang setelah menghempaskan harga diri Leblanc. Dalam ketegangan meretas Amazon, keduanya memberikan sentuhan humor.

Ketiga, cerita dituturkan dengan berbagai kejutan tersimpan di uliran plot. Memang awalnya cerita terkesan lamban, tapi cara bercerita yang prima akan menarik pembaca hingga menemukan ritme yang pas dan mampu menyantap habis novel ini. Di tengah-tengah narasi yang ciamik, Amazon bak mengambang di pelupuk mata dengan kegarangan hutan dan kekayarayaan koleksi flora dan fauna yang luar biasa.

Keempat, novel fantasi petualangan ini juga berkembang menjadi novel ekologi. Di sini, Allende menggelitik kesadaran ekologis pembaca melalui kedua karakter remaja –terutama Nadia- yang melahirkan gagasan mencagaralamkan Mata Dunia sehingga bisa dicegah dari pengrusakan akibat keserakahan manusia. Memang, selain menyimpan pepohonan yang bisa dijadikan kayu, Amazon juga menyembunyikan emas dan permata yang memprovokasi ketamakan. Tanpa disadari hampir semua anggota ekspedisi, perjalanan mereka sedang diboncengi sebuah rencana berbahaya yang dilandasi oleh ketamakan.

Kesimpulannya, City of the Beasts adalah sebuah novel yang sangat layak baca dan memberi nuansa segar dalam dunia fiksi fantasi yang disesaki para vampir, manusia siluman, manusia berkemampuan adikodrati, dan para penyihir yang saling cekcok.

Ada satu yang ingin saya koreksi. Di halaman 192, Nadia mengatakan bahwa ada wanita lain yang sangat hebat –maksudnya Omayra Torres- yang punya serum yang bisa mencegah wabah penyakit. Di banyak halaman lain disebutkan bahwa yang dibawa Omayra adalah vaksin. Terlepas dari apa sesungguhnya yang dibawa Omayra, dari tujuan yang ia sebutkan, yang benar adalah vaksin dan bukan serum. Vaksin dan serum tidak sama dan tujuan penggunaannya juga berbeda.

 
13 February 2012

The House of the Spirits




Judul Buku: The House of the Spirits (Rumah Arwah)
Diterjemahkan dari: La casa de los espíritus
Pengarang: Isabel Allende (1982)
Penerjemah: Ronny Agustinus
Tebal: 600 halaman
Cetakan: 1, Juni 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 

 

"Rumah besar di pojokan" adalah rumah yang dibangun Esteban Trueba, menjelang pernikahannya dengan Clara del Valle. Dirancang oleh arsitek Prancis, rumah itu sengaja dibuat berbeda dengan arsitektur lokal—sebuah rumah anggun dengan pilar-pilar putih, tangga lebar, serambi bermarmer putih, jendela lebar, dan taman ala Versailles. Pada waktunya, rumah itu akan dipenuhi kamar-kamar kosong karena setiap ada tamu baru, Clara pun menggagas pembangunan kamar baru. Saat arwah-arwah mengisiki keberadaan harta terpendam atau mayat yang belum dikubur semestinya di fondasinya, Clara akan meminta dinding diruntuhkan, sehingga rumah itu membiakkan banyak labirin. Sesungguhnya, rumah itu dibangun sebagai kompensasi atas kemelaratan yang dialami Esteban Trueba di masa kecilnya sekepergian ayahnya. Clara akan menjadi ruh dari rumah besar itu, maka begitu ia mangkat, tak pelak lagi zaman kemunduran melanda bangunan megah itu.

Clara del Valle, si cenayang, masih gadis cilik manakala Esteban Trueba merencanakan pernikahan dengan kakaknya, Rosa.  Sebelum pernikahan mereka digelar, Rosa si rambut dedalu dengan penampilan bak putri duyung tewas, menjadi tumbal bagi ayahnya, pengacara yang mulai berkarier di dunia politik. Ditengarai, racun tikus yang membunuh Rosa, sebenarnya ditujukan kepada ayahnya.

Meninggalkan pertambangan emas, di mana ia bekerja guna mendapatkan dana pernikahan, setelah kematian Rosa, Esteban Trueba tidak ingin lagi hidup miskin. Ia pergi ke Tres Marías, perkebunan ayahnya yang terbengkalai. Dengan keuletan tanpa kenal capai, Esteban Trueba berhasil mengembangkan Tres Marías, mengubah kehidupan orang-orang yang tinggal di sana, dan dengan segera menjelma menjadi tuan tanah kaya. Tuan tanah yang dengan serakah mengumbar syahwat pada gadis-gadis pedesaan dan tidak bertanggung jawab saat mereka berbadan dua. Bagi Esteban Trueba, gadis-gadis desa itu memang hanya sekadar pemuas berahi, lantaran istri yang didambakannya mesti datang dari kota.

Setelah membisu selama sembilan tahun sejak kematian Rosa, pada umur 19 tahun, Clara mengumumkan pernikahannya dengan Esteban Trueba. Bukan hal yang aneh, karena Clara memang memiliki kemampuan supranatural. Clara tidak hanya mampu menakbirkan mimpi, ia juga bisa memindai masa depan, dan mengenali maksud hati orang lain. Clara dapat menggerakkan benda tanpa menyentuhnya dan bermain piano tanpa membuka tudungnya. Sebagaimana kematian Rosa, Clara menikahi Esteban Trueba, seperti yang diumumkannya. Kecuali pergi ke Tres Marías di musim liburan, mereka menetap di rumah besar di pojokan itu. Ketiga anak mereka, si sulung Blanca dan kedua adik kembarnya, Jaime dan Nicolás, dilahirkan di rumah besar itu.

Dibandingkan dengan rumah besar di pojokan, Blanca lebih menyukai Tres Marías. Di sana ia menghabiskan masa-masa liburan dan menjalin persahabatan, yang seiring perjalanan waktu, berubah menjadi romansa penuh gairah, dengan Pedro Tercero García, anak mandor perkebunan. Hubungan cinta yang tidak berkenan di hati Esteban Trueba itu menciptakan serangkaian kekisruhan yang berakhir pada pemukulan yang mengompongkan Clara. Sejak peristiwa pemukulan itu, kendati hidup di bawah satu atap, Clara tidak pernah bicara pada suaminya lagi, seumur hidupnya.

Dengan harapan akan mendapat hadiah, Esteban García—cucu perempuan yang diperkosa Esteban—membocorkan tempat persembunyian Tercero. Akibatnya, pria yang senang bermain gitar itu, kehilangan tiga jari tangan kanannya. Permusuhan antara Tercero dengan ayah gadis yang dicintainya akan berlangsung hingga puluhan tahun kemudian sampai Esteban Trueba merasa tidak mampu membasmi cinta mereka.

Hamil dan ditinggalkan kekasihnya membuat Blanca menerima kehendak ayahnya untuk menikahkannya dengan seorang bangsawan Prancis, Jean de Satigny. Rumah tangga mereka tidak bertahan lama, Blanca akan meninggalkannya, pulang ke rumah besar di pojokan, dan tidak bertemu Jean hingga saat ajalnya. Sudah menjadi panggilan hidup Blanca, hanya mengenal satu cinta saja.

Alba yang berambut hijau seperti Rosa, lahir sungsang. Menurut Clara, Alba akan beruntung—bukan cuma karena sungsang disebut-sebut sebagai tanda keberuntungan—dan bahagia. Seorang bocah laki-laki yang menonton kelahiran Alba, kelak membuat Alba menampik niat baik kakeknya untuk kabur ke luar negeri, kala tanah airnya dikerakahi junta militer. Alba akan menyaksikan bahwa setelah neneknya mangkat, ramalannya tidak makbul lagi.

Rumah besar di pojokan itu berdiri melewati arus pergantian kekuasaan. Esteban Trueba tahu, diam-diam, rumah dengan banyak kamar itu telah menyembunyikan atau menjadi saluran bagi para pelarian untuk meninggalkan negeri yang diguncang prahara politik. Itulah takdir rumah yang dibangun Esteban Trueba dengan ambisius, setelah ditinggal mati Clara yang diikuti menghilangnya orang-orang para anggota semesta gaib di belakang rumah. Rumah itu terabaikan, diterpa usia, dan isinya satu demi satu dijual Alba. Belakangan, para arwah menyaksikan rumah ini direnovasi kembali menjelang kematian Esteban Trueba.

Di masa sepuhnya, Esteban tidak mampu menggapai semua perempuan yang pernah muncul dalam hidupnya. Kerap ia teringat kutukan Férula, sebelum kakak perempuannya itu hengkang dari rumah besar di pojokan, untuk selamanya. "Terkutuk kau, Esteban! Kau akan selalu sendirian! Mengkerutlah jiwa ragamu dan kau akan mati seperti anjing!"  (hlm. 191). Akankah kutukan ini mewujud dalam kehidupan Esteban? Yang jelas, setelah puluhan tahun hidup sebagai tuan atas dirinya sendiri, mendekati tenggat kehidupannya, Esteban Trueba akan menghadapi getirnya kebenaran. Meskipun telah berperan dalam penegakan junta militer di negerinya, ia tidak punya secuil pun otoritas untuk melindungi orang yang dicintainya.

The House of the Spirits yang ditulis dalam tradisi realisme magis adalah novel perdana Isabel Allende, pengarang berdarah Chili, yang pertama kali terbit dalam bahasa Spanyol di Barcelona tahun 1982. Di kampung halamannya, novel ini menjadi Best Novel of the Year 1982 dan membuatnya dianugerahi penghargaan Panorama Literario. Novel ini mulai ditulis saat Allende yang menetap di Venezuela—melarikan diri pasca kudeta militer di Chili—menerima kabar kematian kakeknya, 8 Januari 1981. Awalnya ia menulis surat yang ditujukan pada almarhum, tetapi kemudian berkembang menjadi novel ikhwal tiga generasi perempuan keluarga Trueba, yang mengalir dari perspektif seorang kakek dan cucu perempuannya. Tanggal 8 Januari menjadi momen penting bagi proses kreatif Allende. Menurut pengakuan pengarang kelahiran 2 Agustus 1942 ini, sejak The House of the Spirits,  ia selalu mulai menulis pada tanggal 8 Januari.

Kendati tidak sampai tahap ekstrem, tiga perempuan keluarga Trueba―Clara, Blanca, dan Alba―tak bisa lepas dari kegilaan. Clara mengakui, di dalam keluarganya, kegilaan terbagi rata buat semua, dan tak ada sisanya untuk dikuasai satu orang. Blanca dan Alba mungkin tidak mau mengakui, namun perjalanan hidup mereka akan memberi tahu pembaca bahwa sesungguhnya mereka memiliki kegilaan sendiri. Trueba yang berumur panjang, sama sekali tidak bisa menangkal kegilaan ketiga perempuan itu. Ia mengasihi mereka—sebenarnya—dan terpaksa pasrah pada pilihan hidup mereka.

Isabel Allende adalah pengarang dengan semangat mendongeng yang tinggi. Ia mengalirkan cerita dengan indah, pada setiap tikungan menerbitkan rasa penasaran. Kalimat-kalimat panjang yang digelontorkannya tidak menghambat aliran pesona yang disemburkannya sejak novel dibuka. Keulungannya kian terasa ketika membeberkan kenyentrikan para karakter perempuan ciptaannya.

Rumah besar yang digentayangi para arwah itu bisa jadi merupakan miniatur Chili—yang dijadikan seting novel—saat itu. Di dalamnya kita bisa menemukan menggeliatnya segi-segi magis dan percikan marxisme yang ditolerir salah satu dari tiga perempuan Trueba, tetapi tidak dikenan Esteban Trueba. Tentu saja, jika salah satu negara America Latin ini, benar-benar seperti yang dikatakan seseorang saat semangat marxisme mulai merebak: "Marxisme tak punya peluang sedikit pun di Amerika Latin. Kau tak tahu kalau Marxisme itu tidak mempertimbangkan segi-segi magis dari segala sesuatu? Ini doktrin yang ateistik, praktis, fungsional. Tidak mungkin bisa berhasil di sini!"  (hlm.428).

Allende menyebut-nyebut 'Sang Penyair' yang acap bertandang di rumah besar di pojokan itu. Tidak dipastikan identitasnya, namun tidak diragukan lagi, yang dimaksud Allende adalah Pablo Neruda yang puisinya dikutip sebelum novel dimulai.

Edisi Indonesia novel diterjemahkan dengan penguasaan kosakata bahasa Indonesia yang menakjubkan. Sambil menikmati dunia yang dibangun Allende, saya mesti membolak-balik KBBI, untuk memeriksa berbagai kata yang digunakan penerjemah. Walaupun begitu, saya tidak pernah merasa terganggu apalagi merasa bosan.
 
Apa yang saya rasakan selama membaca The House of the Spirits, sama dengan yang dinyatakan Allison Hoover Bartlett dalam bukunya "The Man Who Loved Books Too Much".  "Aku begitu menghargai keadaan larut dalam sebuah buku sehingga aku membatasi jumlah halaman yang boleh kubaca setiap hari agar bisa menangguhkan akhir yang tak terhindarkan, dan terusir dari dunia itu" (hlm. 13, Pustaka Alvabet, April 2010).

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan