Showing posts with label John Grisham. Show all posts
Showing posts with label John Grisham. Show all posts
14 December 2012

Skipping Christmas


Judul Buku: Skipping Christmas (Absen Natal)
Penulis: John Grisham (2001)
Penerjemah: Budiyanto T. Pramono
Tebal: 240 hlm; 18 cm
Cetakan: 1, Januari 2003
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Pulang dari mengantarkan putrinya, Blair, yang hendak pergi ke Peru untuk menjadi sukarelawan Peace Corps, pada hari Minggu setelah Thanksgiving, Luther Krank segera merasakan dimulainya kerepotan musim Natal. "Alangkah enaknya kalau bisa menghindar dari Natal," Luther mulai berpikir. "Jentrikkan dua jari dan- "tak" -langsung sudah 2 Januari." (hlm. 27). 

Tidak lama setelah mulai berpikir, Natal pun menjadi kasus yang semakin menguat di benak Luther. Apalagi setelah ia mengumpulkan bukti-bukti bahwa Natal sekadar pemborosan yang merugikan dan tidak menyisakan apa-apa. Tahun sebelumnya, enam ribu seratus dolar -nilai yang sama dengan sembilan persen gaji kotornya setahun- terbuang percuma. Luther pun yakin, Natal harus diboikot.

Bagaimana caranya memboikot Natal? Bisakah Luther menghilangkan 25 Desember dari kalender? Oh, tentu saja, tidak. Bagi Luther yang berprofesi sebagai akuntan pajak, memboikot Natal adalah tidak melibatkan diri dalam kerepotan Natal. Tidak mengeluarkan uang untuk memestakan Natal.

Maka, Natal kali ini tidak ada pembelian kartu Natal di toko Pumpkin Seeds. Tidak ada pembelian Canadian blue spruce dari dari pramuka untuk dijadikan pohon Natal.
Tidak ada pembelian kalender dari kepolisian. Tidak ada pesta Natal legendaris yang dilangsungkan setiap Malam Menjelang Natal di rumah keluarga Krank. Tidak ada pemasangan Frosty di atas atap rumah. Tidak ada lampu Natal di pohon-pohon boxwood. Tidak ada fruitcake ataupun Christmas dinner.

Pada tengah hari di hari Natal, Luther akan pergi bersama istrinya, Nora, meninggalkan tempat tinggal mereka di Hemlock Street. Mereka akan berlayar dengan kapal pesiar mewah, mengelilingi Kepulauan Karibia selama sepuluh hari. Biayanya di bawah biaya Natal yang mereka keluarkan tahun sebelumnya. Cuma tiga ribu dolar. Bagi mereka, ini berarti penghematan. Kepada semua orang mereka mengatakan bahwa perjalanan ini mereka lakukan karena Blair telah pergi dan mereka butuh relaks sedikit.

Luther dan Nora mengira mereka bisa melewati hari-hari sebelum keberangkatan dengan mudah. Tapi, setelah keputusan memboikot Natal diketahui publik, ketenangan terhalau dari kediaman mereka. Secara terang-terangan mereka dicemooh. Kelompok-kelompok Pelantun Lagu Natal bergantian menyanyikan lagu-lagu Natal di jalan masuk rumah. Ketidakmunculan Frosty di atap rumah dipertanyakan. Seorang reporter melaporkan niat mereka absen Natal di sebuah koran. Puncaknya terjadi pada tanggal 24 Desember. Sebuah telpon datang dari Miami mengobrak-abrik rencana yang telah mereka susun.

Pada akhirnya, keluarga Krank menyadari, betapa memboikot Natal adalah sebuah gagasan yang konyol. Luther Krank bukan Scrooge dalam A Christmas Carol yang membutuhkan tiga hantu untuk mendapatkan kesadaran dari kekonyolannya. Tapi apa yang dialaminya akan sangat menyakitkan dan tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Apalagi ketika musim Natal tiba.  
 
Skipping Christmas adalah salah satu novel karya John Grisham yang melenceng dari genre yang membesarkan namanya, legal thriller. Selain Skipping Christmas, Grisham juga menulis novel-novel bukan legal thriller seperti A Painted House (2001), Bleachers (2003), Playing for Pizza (2007), dan Calico Joe (2012). Skipping Christmas merupakan novel komedi berlatar Natal yang ditulis penuh semangat. Luther Krank akan mengingatkan pada Scrooge, tapi kisah yang dialami tetap orisinil, tidak terbayangkan. Di tempat-tempat di mana Natal dirayakan, mungkin akan tercipta kesibukan yang kerap menjadi sangat merepotkan seperti yang dialami Krank. Hanya saja tidak ada yang menggunakan alasan kerepotan untuk memboikot Natal. Dampak dari keputusan Luther adalah kemunculan serangkaian pertanyaan, gugatan, dan keberatan yang dilontarkan secara berkesinambungan ke arahnya. Maka tak pelak lagi, kisahnya berbiak menciptakan kelucuan demi kelucuan yang akan membuat kita tersenyum bahkan tertawa selama membaca. 

Selain kisah yang unik, Skipping Christmas juga memiliki karakter-karakter yang tidak terlupakan di luar Luther Krank. Sebut saja Vic Frohmeyer, periset di universitas yang menggagas pemasangan Frosty di atas atap. Putranya, Spike, yang memata-matai Luther. Wes Trogdon, pialang asuransi yang merangkai lampu paling banyak di Hemlock Street. Walt Scheel, yang pekerjaannya tidak jelas serta Bev, istrinya yang sedang berjuang melawan kanker payudara. Luther kerap merasa kesal kepada mereka, tapi menjelang novel berakhir, ia akan merasa beruntung memiliki mereka.
Tanpa mereka, Luther tidak akan mengambil keputusan menyentuh hati di bab terakhir. Tanpa mereka, Skipping Christmas tidak akan ditamatkan dengan indah.

Satu hal yang saya tangkap dari novel ini melalui karakter Luther Frank adalah adanya pemaknaan yang keliru mengenai Natal. Perayaan kelahiran Kristus dipandang sebagai momen untuk menghambur-hamburkan uang sehingga akhirnya kehilangan esensinya. Oleh sebab itu, Luther tidak ingin merayakan Natal, dan penyebab utamanya adalah ia tidak mau kehilangan uangnya.

Skipping Christmas telah diadaptasi ke dalam film layar lebar berjudul Christmas with the Kranks pada tahun 2004.  Film yang disutradarai oleh Joe Roth ini mendapuk komedian Amerika terkenal, Tim Allen sebagai Luther Kranks dan Jamie Lee Curtis sebagai Nora Krank.







 




*Novel ini dibaca dalam rangka menyambut Natal 2012.


01 September 2012

Ford County

Judul Buku: Ford County
Penulis: John Grisham (2009)
Penerjemah: Fahmi Yamani
Cetakan: 1, Juni 2012
Tebal: 418 hlm; 18 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 


Ford County -terbit pertama kali tahun 2009- adalah koleksi cerita pendek pertama karya John Grisham, penulis sejumlah novel laris bergenre legal thriller. Ada tujuh cerita di dalam koleksi ini, dan hanya dua cerita dengan karakter utama yang berkecimpung di dunia hukum, latar utama novel-novel Grisham. Semua cerita terjadi atau dimulai di Ford County, tempat yang pernah dipakai John Grisham sebagai latar novel perdananya, A Time to Kill (1989).

Cerita kocak dan menggelikan bertajuk Perjalanan Berdarah (Blood Drive) membuka koleksi ini dengan kisah tiga pria desa di Ford County yang melakukan perjalanan ke Memphis, Missisippi. Mereka hendak mendonorkan darah kepada Bailey, rekan sedesa yang mengalami kecelakaan di Memphis. Sebenarnya, untuk tiba di Memphis, mereka hanya membutuhkan dua jam perjalanan. Tapi sesudah menenggak bir dan dikejar-kejar polisi, perjalanan mereka menjadi perjalanan panjang yang berakhir dengan cara mengenaskan. Seperti judulnya, gara-gara kebodohan, ketiga pria desa ini akan berlumur darah dalam perjalanan mereka, hingga akhirnya kembali setelah selesai dipermainkan nasib. 

Raymond Graney dalam Menjemput Raymond (Fetching Raymond) telah menghuni penjara selama sebelas tahun. Pada tahun kesebelas, keluarganya melakukan perjalanan dari Ford County menuju Parchman untuk menjemputnya. Belum ada keputusan final apakah Raymond akan dihukum mati karena kasus pembunuhan yang dilakukannya. Tapi keluarganya sudah bisa menduga apa yang akan terjadi. Maka Leon, kakak tertua Raymond, meminjam mobil van untuk dipakai menjemput Raymond. Sepanjang perjalananan, Grisham akan mengelupas kehidupan keluarga Graney, sejak Inez -ibu Leon, Butch, dan Raymond- diperkosa pada umur 17 tahun. Inez kemudian menikahi pemerkosanya pada umur 18 tahun. Mereka memiliki tiga orang anak laki-laki yang disiksa suami Inez, secara emosional dan fisik. Setelah suami Inez minggat dari rumah, ketiga anak mereka tumbuh menjadi pencuri kendaraan yang bergantian masuk penjara. Leon yang pertama dipenjara, setelah bebas menikah lagi (hlm. 93 disebut dengan istri kedua, hlm. 117 istri ketiga), bertobat dan bekerja di pabrik lampu. Demikian pula Butch yang bekerja di penggergajian kayu. Tapi Raymond tidak sempat bertobat. Ia membunuh seorang deputi dan kehilangan kesempatan kedua seperti Leon dan Butch. Pertanyaan yang muncul seiring perjalanan keluarga Graney menuju penjara adalah: apakah Raymond akan dibebaskan atau dihukum mati? Sepertinya kecuali Inez, apa pun vonis yang akan diterima Raymond tidak akan mengusik rutinitas orang-orang yang mengenalnya.

Setelah tujuh belas tahun berkarier di dunia hukum, Mack Stafford, karakter utama Arsip Bau Busuk (Fish Files) terpuruk sebagai pengacara kasus kebangkrutan dan perceraian di Clanton, Ford County. Jalan keluar dari kehidupan yang membosankan ini datang manakala suatu siang sebuah telepon dari New York City diterimanya. Beberapa tahun sebelumnya, Mack pernah menggugat Tinzo, perusahaan yang memproduksi gergaji mesin yang telah melukai empat penebang kayu yang menjadi kliennya. Gugatannya tidak berhasil dan kasus itu berakhir sebagai arsip bau busuk. Seorang pengacara dari New York dipekerjakan perusahaan Swiss yang telah membeli Tinzo untuk membersihkan kasus tersebut dari buku mereka. Setengah juta dolar ditawarkan apabila Mack bisa menuntaskan kasus itu secara damai dan rahasia. Mack bersepakat dan segera merumuskan rencana dalam benaknya guna mengakhiri pernikahannya yang tidak bahagia dan kariernya yang memudar. Dalam koleksi cerita ini, Mack Stafford adalah karakter antagonis pertama yang diberikan akhir membahagiakan oleh Grisham. Omong-omong, mengapa fish files diterjemahkan sebagai arsip bau busuk?

Bobby Carl Leach dalam Kasino (Casino) membangun kasino pertama di Clanton, Ford County. Ia berhasil meraup banyak keuntungan sampai Sydney, seorang pria dari kota kecil Karraway, masuk ke dalam kasinonya. Sydney bukan seorang penjudi, tapi sepertinya selalu dipihaki keberuntungan. Ia berubah menjadi penjudi ulung yang bertekad menghancurkan bisnis Bobby Carl Leach sekaligus menunjukkan 'taring'-nya kepada Stella, istri yang telah meninggalkannya. Inilah sebuah cerita mengenai seorang lelaki yang membangun bisnis dengan memanfaatkan tipu daya dan seorang lelaki lain yang menghancurkan bisnis laki-laki itu dengan kemampuan yang hampir terlambat disadarinya.

Sebagai seorang pengacara pembela, Stanley Wade dalam Kamar Michael (Michael's Room), sudah pasti berkewajiban membela kliennya, bahkan hingga bisa membebaskan dari tuntutan. Delapan tahun sebelumnya, egonya sebagai pembela telah menjerumuskan sebuah keluarga dalam kesulitan. Saat itu,  Wade membela Dokter Trane yang digugat melakukan malapraktik terkait Michael, anak laki-laki keluarga Cranwell yang mengalami kerusakan otak. Dokter Trane menang setelah Wade menyerang keluarga Cranwell dengan sejumlah kebohongan. Tidak ada sepeser pun diberikan sebagai kompensasi bagi Michael padahal setiap tahun perawatannya menghabiskan US$ 30.000. Saat persidangan, Michael baru berumur tiga tahun, dan berkebalikan dengan serangan Wade di pengadilan, Michael masih hidup hingga delapan tahun kemudian. Jim Cranwell, ayah Michael, menculik Wade dan membawa sang pengacara ke rumahnya, ke dalam ruangan yang ditempati Michael selama bertahun-tahun. Di sana ia mesti menyaksikan remuknya pembelaan yang dilakukannya untuk Dokter Trane. Kamar Michael adalah sebuah cerita tentang musnahnya kemanusiaan demi penegakan reputasi yang akan membuat mata kita berkaca-kaca. 

Quiet Haven
yang menjadi judul cerita keenam dan satu-satunya yang dikisahkan dari perspektif orang pertama dalam koleksi ini adalah sebuah panti jompo di luar batas kota Clanton, Ford County. Ke sanalah Gilbert Griffin -kemungkinan besar bukan nama asli- pergi menjalankan rencana yang telah disusunnya. Untuk tidak menonjolkan diri, Gilbert mengaku sebagai lulusan SMA, padahal ia lulus kuliah hanya tiga tahun dan menyelesaikan pascasarjana dalam waktu dua tahun. Alasannya pindah ke Clanton adalah karena putus cinta. Sebuah alasan yang kian memuluskan peluangnya bekerja di Quiet Haven. Tidak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri, karena riwayat hidupnya yang tidak tercela, tujuan sebenarnya dari kedatangannya. Gilbert adalah tokoh antagonis kedua -setelah Mack Stafford- yang dimenangkan oleh pengarang dalam koleksi cerita ini. Seorang pria licik dengan riwayat kejahatan tersimpan rapi yang mampu memanfaatkan keadaan untuk keuntungan dirinya sendiri. 

Di Clanton, Ford County, Adrian Keane dianggap sebagai anak yang aneh karena perilaku homoseksualnya. Dengan orientasi seksualnya yang berbeda itu, ia mengalami penolakan, bahkan oleh keluarganya sendiri. Karena tidak tahan dengan situasi yang dihadapinya, Adrian pergi ke California. Keluarganya tidak ingin ia kembali dan selama bertahun-tahun membayarnya untuk menjauh. Belakangan, ia tidak diakui lagi sebagai anggota keluarga dan disingkirkan dari surat wasiat ayahnya. Bertahun-tahun kemudian -tahun 1989- Adrian pulang kampung dan menciptakan badai gosip di seluruh penjuru Clanton. Saat itu AIDS dan penularannya belum diketahui banyak orang, sehingga tidak mengherankan jika Adrian yang mengidap AIDS menghadapi penolakan yang sengit. Keluarganya pun tidak ingin menampungnya di rumah mereka. Ia diungsikan ke sebuah rumah milik keluarga di bagian kota yang dihuni orang-orang kulit hitam. Rumah itu sedang disewa dan dihuni Emporia Nester, perawan tua kulit hitam. Sebuah pengaturan ditetapkan bahwa setelah Adrian meninggal, rumah itu akan menjadi milik Emporia. 


Seperti yang diinginkan keluarganya, Adrian memang meninggal di rumah itu. Ia bahkan mempercepat kematian dan mengatur apa yang akan dilakukan terhadap jenasahnya. Karena ia tahu, setelah meninggal pun, ia akan tetap ditolak di kampung halamannya. Tapi sebelum kematiannya, ia menemukan persahabatan yang membuat hari-hari terakhir kehidupannya menjadi lebih mudah dan terasa menyenangkan. Persahabatan yang ditawarkan Emporia, si baik hati yang membocorkan kepada Adrian rahasia pribadi yang disembunyikan sepanjang hidupnya dari orang lain. Rahasia yang kemungkinan besar membuat Emporia benar-benar bisa memahami Adrian. Dalam kepedihan yang mendominasi kisah ini, kita merasakan sakitnya berbeda dan ditolak. Ada yang mencoba menantang kehidupan dengan mengungkapkan pada dunia keberbedaannya, ada juga yang menyimpan rapat-rapat karena takut ditolak. Adrian, karakter dalam cerita Anak yang Aneh (Funny Boy) ini memilih yang pertama, dan mau tidak mau ia mesti menghadapi konsekuensi dari pilihan hidupnya.  

Grisham, dalam koleksi ceritanya ini, meneguhkan kepiawaiannya sebagai pencipta kisah-kisah memikat dengan karakter-karakter yang mencuri perhatian. Ia membuktikan pula, bahwa ia mampu menyentuh hati pembaca, tidak hanya mengandalkan kisah-kisah dari dunia hukum, tapi juga dari dunia di luar dunia hukum. 

Dalam kariernya sebagai pengarang, Grisham yang dikenal sebagai salah satu dari tiga pengarang -dua lainnya Tom Clancy dan J. K. Rowling- yang bisa menjual dua juta kopi buku pada cetakan pertama, telah menerbitkan sejumlah novel, koleksi cerita, dan karya nonfiksi. Ia mengaku membutuhkan waktu enam bulan untuk menulis sebuah buku.
Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan