Showing posts with label Jonathan Stroud. Show all posts
Showing posts with label Jonathan Stroud. Show all posts
11 February 2012

Ptolemy's Gate




Judul : The Bartimaeus Trilogy
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2007





Melalui Trilogi Bartimaeus, Jonathan Stroud menciptakan dunia sihir yang berbeda dengan dunia sihir yang ada dalam karya-karya tentang penyihir lainnya. Dalam dunia sihir Stroud, para penyihir adalah para penguasa, Inggris adalah kerajaan yang dikuasai, dan London adalah pusat pemerintahan. Untuk mempertahankan kekuasaan, para penyihir memanggil para demon dan memaksa mereka mematuhi segala perintah. Tanpa demon para penyihir sebenarnya tidak ada giginya. Kemampuan berkomunikasi dengan demon lah yang mengangkat para penyihir ke strata tinggi, sedangkan manusia yang disebut commoner, adalah kelas rendahan dan mesti tunduk di bawah kendali penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Hal ini tentu saja menimbulkan amarah commoner. 

Dalam dunia fantasi Stroud, para demon dipanggil dari sebuah tempat yang disebut Dunia Lain. Berdasarkan kekuatan yang dimiliki, dari yang lemah hingga kuat, berturut-turut demon memiliki hierarki sebagai berikut: sprite, imp, foliot, jin, afrit, dan marid. Di atas marid masih terdapat demon yang memiliki kekuatan lebih seperti Ramuthra atau Nouda. Para demon dipanggil dari dunia lain, sesuai kebutuhan. Terdapat berkompi-kompi jenis sprite yang lebih lemah dari imp, tapi penyihir tak berminat memanggil mereka. Sedangkan entitas di atas marid, dengan kekuatan yang luar biasa jarang berada di Bumi karena hanya sedikit penyihir yang berani memanggilnya. Para demon ini dipanggil secara khusus, yaitu melalui pentacle yang digambar oleh penyihir yang akan memanggilnya.

Meskipun pemerintahan sihir mendapatkan tentangan keras dari commoner yang diam-diam mendirikan kelompok oposisi bernama Resistance, konflik utama dari trilogi Stroud ini bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Di antara mereka tercipta kompetisi, baik yang terbuka maupun tersembunyi. Masing-masing ingin lebih berkuasa dari yang lain. Mereka sanggup melaksanakan berbagai cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Seperti kata salah satu penyihir (Simon Lovelace): "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang" (The Amulet of Samarkand, hlm. 329 ).

 The Amulet of Samarkand

Trilogi Bartimaeus, pada dasarnya, mengisahkan hubungan antara seorang penyihir bernama Nathaniel dengan jin bernama Bartimaeus. Dalam The Amulet of Samarkand (Amulet Samarkand), untuk pertama kalinya, Bartimaeus dipanggil Nathaniel ketika penyihir ini belum genap berusia 12 tahun. Tindakan pemanggilan yang dilakukan Nathaniel sebetulnya prematur, karena ia belum boleh melakukan pemanggilan. Jika saatnya tiba, untuk pemanggilan pertama, Nathaniel pun hanya bisa memanggil demon jenis imp.

Nathaniel memang memiliki agenda pribadi dengan berani melakukan pemanggilan langsung demon level ke-4 (jin). Saat itu dia adalah murid dari master bernama Arthur Underwood, penyihir kelas menengah yang bekerja sebagai Menteri Muda di Kementerian Dalam Negeri Inggris. Nathaniel dijual orang tuanya ke Kantor Tenaga Kerja untuk dididik menjadi penyihir pada usia 5 tahun. Pada usia 10 tahun, Simon Lovelace, penyihir yang bekerja sebagai Menteri Muda Perdagangan telah mempermalukan Nathaniel. Hal ini melahirkan dendam dalam hati Nathaniel, dan dengan berjalannya waktu kian menuntut untuk dilampiaskan. Langkah awal yang ia tempuh adalah melakukan pemanggilan demon lebih awal dari seharusnya untuk mengintai aktivitas Simon Lovelace. Nathaniel adalah seorang anak yang lapar dengan pengetahuan, sehingga bukan hanya pelajaran wajib yang ia tekuni. Ia juga membaca terlalu dini hal-hal seperti ritual pemanggilan jin dan mantra-mantra. Selanjutnya ia mempelajari demonologi yang lalu memberinya gagasan memanggil Bartimaeus guna mencuri amulet Samarkand. 

Sebagai jin yang cerdas, Bartimaeus segera tahu kualitas penyihir yang memanggilnya sehingga jin sinis dan egomaniak ini mencoba menggertak Nathaniel. Tentu saja meski masih terbata-bata, Nathaniel tidak kalah digertak, dan tidak bodoh untuk merespons strategam Bartimaeus. Hasil pengintaian Bartimaeus membuat Nathaniel memutuskan mencuri amulet Samarkand yang sebenarnya baru dirampok Simon dari pemerintah.

Amulet adalah jimat pelindung; benda yang menghalau kekuatan jahat, obyek pasif yang dapat mengisap atau memantulkan segala jenis sihir berbahaya meski tak dapat secara aktif dikontrol pemiliknya (hlm. 103).  Dalam amulet bersarang entitas yang telah ditangkap dan dijebak. Tapi amulet Samarkand bukanlah jenis amulet biasa, ini yang tidak diketahui Nathaniel. Dan memang, Nathaniel sama sekali tidak tertarik pada amulet. Simon lah targetnya. Ia mengetahui bahwa Simon memperoleh amulet ini lewat pertumpahan darah. Ia bertekad menjatuhkan reputasi Simon dengan mengungkapkan kebobrokan sang menteri sihir.  

Setelah berhasil mencuri amulet tersebut, Nathaniel memerintah Bartimaeus untuk menyembunyikan jimat itu di ruang kerja Arthur Underwood,. Tindakan yang tanpa diduganya akan mencelakakan masternya dan membuatnya kehilangan  orang yang menyayanginya.

Apa sesungguhnya amulet Samarkand, dan alasan pentingnya jimat ini, akan terungkap sejalan dengan perkembangan cerita yang mencapai puncak pada Konferensi Tahunan Parlemen dan Pesta Musim Dingin yang diselenggarakan di Heddleham Hall milik Amanda Catchcart.


The Golem's Eye

The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir 3 tahun setelah pertemuan pertama Bartimaeus dan Nathaniel (Amulet Samarkand). Saat cerita digulirkan Stroud, Nathaniel, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nathaniel antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Rupert Devereaux, Perdana Menteri Sihir. 

Menjelang berlangsungnya Founder's Day (Hari Lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nathaniel tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nathaniel tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Bahkan, bukan pula perbuatan demon. Menjadi tugasnya sebagai pegawai bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nathaniel menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.

Seperti yang telah diduga, tindakan Nathaniel menimbulkan kemarahan Bartimaeus yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bartimaeus akan melayani Nathaniel selama 6 minggu. 

Dugaan Nathaniel memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bartimaeus yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan  bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan cara menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat. 

Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tentangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhir. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nathaniel dan Bartimaeus ke Praha. 

Simultan dengan kepergian Nathaniel ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey  dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir. 

Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nathaniel karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nathaniel bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bartimaeus tidak bisa menolong karena menolong Nathaniel berarti mengorbankan nyawanya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Nathaniel? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nathaniel tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bartimaeus. Sangat menarik ketika Nathaniel, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Dalam situasi ini  sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance.


Ptolemy's Gate

Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) adalah judul pamungkas trilogi Bartimaeus. Sekitar 3 tahun telah berlalu sejak kasus mata golem. Nathaniel telah menjadi anggota Dewan, menjabat sebagai Menteri Penerangan dan larut dalam perang kekuasaan di Kerajaan sihir Inggris Raya. Ia terlibat dalam pengambilan keputusan Perang Amerika yang ditentang keras oleh kelompok commoner yang menamakan diri sebagai Aliansi Commoner.

Sudah 2 tahun Bartimaeus berada di Bumi, dipanggil sang master untuk membantu pekerjaannya. Ia memang semakin sering bekerja untuk masternya sehingga energinya lebih cepat memudar. Tidak ada waktu yang cukup baginya untuk memulihkan diri di Dunia Lain. 

Di tengah-tengah kesibukan Nathaniel sebagai Menteri Penerangan dan kelelahan roh Bartimaeus, ditengarai adanya komplotan yang mengancam kerajaan Inggris. Pada saat melakukan pengintaian, Bartimaeus nyaris tewas. Dengan kondisinya, ia berhasil menggemparkan acara yang dihadiri Nathaniel dan membuat masternya dalam posisi terancam. Keadaannya membuat Nathaniel mengirimkan Bartimaeus ke Dunia Lain dengan harapan, setelah jin ini pulih, akan dipanggil kembali untuk memberikan laporan pengintaiannya. 

Ketika Nathaniel hendak memanggil Bartimaeus kembali, ternyata jin ini sudah lebih dulu dipanggil pihak lain. Hal ini tentu saja membuat Nathaniel gusar. Jika jin ini membocorkan namanya pada penyihir lain, habislah riwayatnya. Pada usia 12 tahun, ia mendapatkan nama baru, nama resmi yang akan dikenal sepanjang hidupnya, yaitu John Mandrake. Jika nama aslinya, Nathaniel, diketahui pihak lain, baik demon atau penyihir akan berakibat buruk baginya.

Ternyata pada saat itu, Bartimaeus dipanggil oleh Kitty Jones, nama yang terus mengikuti hidup Nathaniel. Setahu Nathaniel, Kitty Jones telah meninggal di tangan golem seperti yang dikatakan Bartimaues. Makanya, Nathaniel kaget ketika commoner yang ditawan oleh penyihir penulis drama bernama Quentin Makepeace, yaitu Nicholas Drew, mengungkapkan keberadaan Kitty Jones yang hidup dengan dua identitas palsu, dalam dua lingkup kehidupan yang dijalaninya. 

Nathaniel bertemu dengan Kitty Jones dan mengajaknya menyaksikan pementasan drama karya Quentin Makepeace, yang selama ini memperlihatkan persahabatan kepada Nathaniel. 

Tak disangka, malam pementasan drama ini menjadi awal dari kekacauan yang bersumber dari konspirasi mengerikan yang melibatkan para penyihir yang haus kekuasaan dan jin berkekuatan dahsyat yang dikuasai dendam 5000 tahun. Kerajaan Inggris digiring ke tepi jurang kehancuran. 

Pada saat berbarengan, Kitty Jones menjalankan agendanya sendiri. Ia meminta bantuan Bartimaeus mengatasi pengaruh para penyihir yang menindas commoner. Kitty rela melakukan apa saja untuk mendapatkan persetujuan Bartimaeus yang sedang merevitalisasi rohnya yang remuk redam. Dengan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan riset, Kitty mengulangi apa yang pernah dilakukan oleh Ptolemy (Ptolemaus), master yang disayangi Bartimaus. 

Kenangan akan Ptolemy membuat Bartimaeus menyanggupi permintaan Kitty. Tapi kondisinya masih sangat lemah. Ia tidak bisa menolong Kitty dengan situasi fisiknya saat ini. Kitty lah yang kemudian mencetuskan gagasan, gagasan sama yang dicetuskan oleh Quentin Makepeace, gagasan serupa yang tengah mengacaubalaukan otoritas dunia sihir Inggris. 

Setelah berhasil membuat Bartimaeus dan Nathaniel menyatukan kekuatan, sehingga lahir kekuatan baru untuk melawan sumber kekacauan saat itu, Kitty melihat justru, saat yang sama, hasil kerja samanya dengan Nathaniel dan Bartimaeus, tidak saja akan menyelamatkan dunia sihir, tapi juga para commoner. Dunia yang lebih baik, di mana para commoner akan berdiri setara dalam berbagai otoritas dengan para penyihir telah terbuka. Kendati Kitty tidak ingin terlibat di dalamnya. 

Tapi dunia itu hanya akan tercapai jika Nathaniel dan Bartimaeus berhasil menjalankan misi. Musuh mereka kali ini bukan musuh yang setara dengan musuh-musuh sebelumnya. Bahkan tongkat Gladstone yang mereka andalkan tidak serta-merta menuntaskan pekerjaan mereka. Pada saat yang sangat kritis, pengalaman hidup Bartimaeus yang mirip dengan apa terjadi di penghujung hidup master yang disayanginya, Ptolemy, kembali terjadi. 

"Sebegitu saja janji kalian," kata Kitty Jones akhirnya (hlm. 565). Baik Bartimaeus maupun Nathaniel tidak pernah memenuhi janji yang dituntut Kitty sebelumnya (hlm. 558).


Trilogi Yang Tak Terlupakan

Dalam The Amulet of Samarkand secara berganti-ganti, meski tidak terlalu runtut, cerita disampaikan menggunakan 2 perspektif penceritaan. Pertama, menggunakan orang pertama, dengan Bartimaeus selaku narator (diberi judul Bartimaeus) dan kedua, menggunakan orang ketiga (diberi judul Nathaniel). Yang paling asyik dibaca, tentu saja saat kisah digulirkan menggunakan Bart sebagai narator. Ia menarasikan cerita secara energik, lengkap dengan sikap sinis, sok tahu, sok pintar, dan egomaniak. Ia bahkan tidak segan melecehkan masternya karena masalah usia dan pengalaman Nat. Untuk mengekspresikan karakter seperti itu, tidak cukup dengan narasi, Bart juga membutuhkan catatan kaki untuk mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. Anehnya, teknik yang dipakai penulis ini membuat ceritanya kian memikat. Bartimaeus menjadi karakter favorit. Rasanya tidak ada pembaca yang tidak akan merasa geli membaca celotehan jin satu ini. 

Dalam Golem's Eye, selain dua perspektif yang sama dengan buku pertama untuk mengisahkan sepak terjang Nathaniel, Stroud juga menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Sesuai pengakuannya, keberadaan Kitty di alam imajinasinya telah mendorong Stroud untuk merangkai kisah Nathaniel dan Bart dalam bentuk trilogi. Dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart.  

Hal yang sama berkembang lebih baik dalam Ptolemy's Gate. Selain Nathaniel dan Bartimaeus, Kitty Jones juga mendapatkan porsi penceritaan yang lebih banyak dan memiliki peran yang penting dalam keseluruhan rangkaian cerita. Mereka bertiga mesti menjalin kerja sama untuk menyelamatkan Kerajaan Inggris dari kehancuran total.

Dari segi cerita, Gerbang Ptolemy merupakan puncak dari seluruh kisah yang merentang dalam plot rancak trilogi ini. Sungguh sayang jika telah membaca dua buku sebelumnya, tapi melewatkan buku terakhir ini. Jika Anda pernah menonton film trilogi Scream, Anda dapat melihat pola yang sama dengan trilogi ini. Kejahatan-kejahatan yang terjadi pada dua bagian awal memiliki sulur yang, ternyata, tertanam di bagian akhir. Sungguh tak terduga.

Pada pamungkas Trilogi Bartimaeus ini, John Stroud, sebagaimana sejak awal, tetap memperlihatkan kepiawaiannya dalam bertutur dan mengolah plot. Cerita yang disuguhkan terus memiliki daya pikat, kian meruncing mencapai akhir. Dan hebatnya, sampai akhir, selain menyentuh hati pembaca (malah mungkin ada yang sampai tidak rela), Stroud tidak ketinggalan untuk menggelitik saraf humor pembaca. 

Bagian terakhir Ptolemy's Gate, yang dituturkan dengan menggunakan Bartimaeus sebagai narator, menjadi bagian yang paling menyentuh dalam keseluruhan trilogi ini. Bagian inilah yang memberikan alasan petualangan Bartimaeus dan Nathaniel harus berakhir. Dan itu bukan cuma sekedar karena Mantra Pembebasan telah selesai dirapalkan untuk Bartimaeus. Baca saja sendiri. 

Secara keseluruhan, Jonathan Stroud, dengan kepiawaiannya, sukses menghadirkan kisah yang memuaskan dan sangat menghibur. Trilogi yang idenya lahir pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan 2 tahun untuk diwujudkan dalam bentuk novel ini (kemudian terbit berturut-turut setiap tahun sejak 2003 hingga 2005) memang layak untuk memenangkan berbagai penghargaan, termasuk Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis) pada tahun 2006. 

Secara keseluruhan, edisi Indonesia Trilogi Bartimaeus terbilang bagus. Penerjemahannya juga oke sehingga kita bisa menikmati dengan enak. Meski diterjemahkan dengan bahasa Indonesia yang baik (sekarang ada juga yang menerjemahkan fiksi asing dengan memanfaatkan kosa kata gaul), ketiga buku karya Jonathan Stroud sama sekali tidak kehilangan jiwa. Sebagai contoh,  kita masih bisa menikmati eksplorasi emosi dan pikiran Bartimaeus yang menggelitik, faktor terbesar yang membuat trilogi ini menjadi karya yang tidak mudah dilupakan.

The Golem's Eye


 

Judul Buku: The Golem's Eye
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Tebal: 624 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juli 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 





Setelah The Amulet of Samarkand (Mei, 2007), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan bagian kedua dari Trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud, The Golem's Eye (Juli 2007). Bagian ketiga,  Ptolemy's Gate, akan terbit September 2007. Mengingat trilogi ini mengisahkan tentang hubungan penyihir dan jin, Nathaniel (Nat) dan Bartimaeus (Bart), maka sekali lagi, Bart, jin sombong dan berlidah tajam akan dipanggil dari Dunia Lain (dunia asal demon). Membaca ocehan-ocehan pedas Bartimaeus di buku pertama, jelaslah pemanggilan dirinya merupakan hal yang sangat tidak ia harapkan. Jika ia dipanggil, mau tak mau ia kembali lagi menjadi budak yang mesti menjalankan semua perintah sang master –penyihir yang memanggilnya.

The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir tiga tahun setelah pertemuan pertama Bart dan Nat. Saat cerita digulirkan sang penulis, Nat, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nat antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan kelompok commoner yang dikenal sebagai Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Trilogi Bartimaeus ini memang berlatar Inggris ketika manusia biasa (commoner) telah kehilangan kekuasaan dan pemerintahan berada di tangan para penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Rahasia kekuasaan para penyihir terletak pada kemampuan mereka berkomunikasi dengan para demon, memanggil dari Dunia Lain, dan memaksa melaksanakan apa yang mereka inginkan. Kekuasaan para penyihir yang kerap bertindak congkak membuat sebagian commoner menjadi oposan. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Perdana Menteri Sihir, Rupert Devereaux. 
 
Menjelang berlangsungnya Founder's Day (hari lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nat tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nat tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Menjadi tugasnya sebagai pekerja bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nat menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.

Seperti yang telah diduga, tindakan Nat menimbulkan kemarahan Bart yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bart akan melayani Nat selama 6 minggu. 
 
Dugaan Nat memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bart yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat.

Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tantangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhir. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nat dan Bart ke Praha. 
 
Simultan dengan kepergian Nat ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone, sang Pendiri Negara di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir. 
 
Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nat karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nat bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bart tidak bisa menolong karena menolong Nat berarti mengorbankan nyawanya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Nat? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nat tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bart. Sangat menarik ketika Nat, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Bart tahu benar siapa dia, dan tahu benar juga, commoner ini tidak akan tega membiarkan Nat meregang nyawa percuma. Dalam situasi ini sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance. Apa yang pernah dikatakan Simon Lovelace dalam The Amulet of Samarkand (hlm. 329), bahwa di dunia sihir, "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang", tetap akan berlaku. Seperti bagian pertama, The Amulet of Samarkand, konflik utama tetap bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Siapa pencetus konflik dalam The Golem's Eye, akan Anda temukan setelah membaca buku setebal 624 halaman ini. Yang jelas, ia (ternyata) memiliki hubungan dengan karakter antagonis dalam The Amulet of Samarkand, Simon Lovelace.

The Golem's Eye terdiri atas 4 bagian besar yang dijabarkan dalam 48 bab. Kisah dibuka dengan sebuah prolog yang menceritakan serangan Gladstone atas Praha pada tahun 1868, saat Bartimaeus bermasterkan seorang penyihir Ceko. Tentu saja prolog ini memiliki pertalian dengan konflik yang akan dijabarkan pada bagian novel selanjutnya. Seandainya The Golem's Eye ini sebuah film (dan memang akan difilmkan), prolognya menjadi semacam teaser yang mengasyikkan.

Jika dalam buku pertama penulis mengalirkan plot melalui dua perspektif, yakni orang pertama dengan Bart sebagai narator dan orang ketiga untuk mengisahkan sepak terjang Nat, kali ini Jonathan Stroud menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik. 
 
Seperti buku pertama, ketika membaca cerita yang dielaborasi Bart, kita tetap akan menemukan eskpresi yang sinis, sok tahu, dan egomaniak yang tidak cukup hanya menggunakan narasi biasa, tapi juga catatan kaki yang menggelikan. Tak dapat dibantah, hal inilah sesungguhnya yang menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik Trilogi Bartimaeus. Tapi dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Keberadaannya di alam imajinasi Jonathan Stroud telah menjadi salah satu pendorong dirangkainya kisah Nat dan Bart dalam bentuk trilogi.

Masih menggunakan latar dunia sihir yang berbeda dengan kisah-kisah dunia sihir lainnya (dunia sihir tempat penyihir berkuasa, ritual pemanggilan demon dengan menggambar pentacle dan tujuh tingkat keberadaan (plane)), karakter-karakter yang menarik, plot terjaga yang kian meruncing mencapai bagian akhir, sekali lagi Jonathan Stroud membuktikan dirinya sebagai penulis kisah fantasi yang tangguh. Ia memiliki kemampuan meramu kisah dengan sangat mengasyikkan, yang akan terus menghasut pembaca untuk menuntaskan seluruh buku begitu membaca dan menemukan daya tariknya. Menurut Jonathan Stroud ide kisah Bartimaeus muncul pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan dua tahun penggarapan dalam bentuk novel yang siap diterbitkan. Ketiga buku dari Trilogi Bartimaeus ini diterbitkan pertama kali berturut-turut tahun 2003, 2004, daan 2005. Pada tahun 2006, Trilogi Bartimaeus memenangkan Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis). 

Edisi Indonesia diterjemahkan dengan asyik sehingga kita dapat menikmati The Golem's Eye dengan nyaman. Membaca buku kedua Trilogi Bartimaeus ini, tak pelak lagi, akan membuat pembaca yang telah menikmati petualangan Bartimaeus dan Nathaniel sejak buku pertama, akan tidak sabar untuk menanti jilid pamungkas kisah berlatar dunia sihir Inggris ini. 

Mengutip School Library Journal (sampul belakang novel), secara keseluruhan, saya mesti bersetuju bahwa inilah, "karya fantasi yang harus dimiliki", terutama oleh penggemar novel fantasi dengan latar dunia sihir.

The Amulet of Samarkand

 

Judul : The Amulet of Samarkand
Penulis : Jonathan Stroud
Penerjemah : Poppy Damayanti Chusfani
Tebal : 512 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Mei 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



"Aku Bartimaeus! Aku Sakhr al-Jinni, N'gorso yang Hebat, dan sang Ular dari Silver Plumes! Aku membangun kembali tembok-tembok Uruk, Karnak, dan Praha. Aku berbicara dengan Solomon. Aku pernah berlari bersama nenek moyang kerbau-kerbau di padang rumput. Aku menjaga Zimbabwe Tua hingga hujan batu menghancurkannya dan anjing-anjing memakan tuan-tuan mereka. Aku Bartimaeus! Aku tak bertuan. Maka aku memerintahkanmu menjawab sekarang, bocah. Siapa kau yang berani memanggilku?" (hlm.12). 
 

Demikianlah Bartimaeus memproklamasikan dirinya di hadapan seorang penyihir muda yang memanggilnya dari Dunia Lain. Bartimaeus adalah jin, salah satu jenis demon yang secara hierarki berada pada level ke-4. Dari yang terkuat hingga yang terlemah urutannya adalah ramuthra, marid, afrit, jin, foliot, imp, kemudian sprite. 

Sesungguhnya Nathaniel belum genap 12 tahun, dan belum layak melakukan pemanggilan demon, apalagi jenis jin. Untuk pemanggilan demon pertama, ia diperbolehkan memanggil demon jenis imp. Nathaniel (Nat) adalah murid dari seorang master bernama Arthur Underwood, penyihir kelas menengah yang bekerja sebagai Menteri Muda di Kementerian Dalam Negeri Inggris. Nat dijual orang tuanya ke Kantor Tenaga Kerja untuk dididik menjadi penyihir pada usia 5 tahun. Pada usia 12 tahun, ia akan mendapatkan nama baru, nama resmi yang akan dikenal sepanjang hidupnya. Nama aslinya pantang untuk diketahui pihak lain, baik demon atau penyihir. Pada saat ini, ia akan melakukan pemanggilan demon yang pertama.

Pada waktu berusia 10 tahun, Simon Lovelace, penyihir yang bekerja sebagai Menteri Muda Perdagangan, telah mempermalukan Nat. Hal ini melahirkan dendam dalam hatinya, dan dengan berjalannya waktu kian menuntut untuk dilampiaskan. Langkah awal yang ia tempuh adalah melakukan pemanggilan demon lebih awal dari seharusnya untuk dipakainya mengintai aktivitas Simon Lovelace. Hasil pengintaian membuat Nat memutuskan untuk mencuri amulet Samarkand yang sebenarnya baru dirampok Simon dari pemerintah. Nat adalah seorang anak yang lapar dengan pengetahuan, sehingga bukan hanya pelajaran wajib yang ia tekuni. Ia juga membaca terlalu dini hal-hal seperti ritual pemanggilan jin dan mantra-mantra. Selanjutnya ia mempelajari demonologi yang lalu memberinya gagasan memanggil Bartimaeus guna mencuri amulet Samarkand.

Sebagai jin yang cerdas, Bart segera tahu kualitas penyihir yang memanggilnya, sehingga jin sinis dan egomaniak ini mencoba menggertak Nat. Tapi meski masih terbata-bata menjalankan ritual pemanggilan jin, Nat tidak kalah digertak, dan tidak bodoh untuk merespons strategam Bart.

Amulet adalah jimat pelindung; benda yang menghalau kekuatan jahat, obyek pasif yang dapat mengisap atau memantulkan segala jenis sihir berbahaya meski tak dapat secara aktif dikontrol pemiliknya (hlm. 103). Dalam amulet bersarang entitas yang telah ditangkap dan sengaja dijebak di dalamnya. Tapi Amulet Samarkand bukanlah jenis amulet biasa, ini yang tidak diketahui Nat. Dan memang, Nat sama sekali tidak tertarik pada amulet. Simonlah targetnya. Ia mengetahui bahwa Simon memperoleh amulet ini lewat pertumpahan darah. Ia bertekad menjatuhkan reputasi Simon dengan mengungkapkan kebobrokan sang menteri sihir. 

Setelah berhasil mencuri amulet tersebut, Nat memerintah Bart untuk menyembunyikan jimat itu di ruang kerja Arthur Underwood. Tindakan yang tanpa diduganya akan mencelakakan masternya dan membuatnya kehilangan orang yang menyayanginya.

Apa sesungguhnya amulet Samarkand, dan alasan pentingnya jimat ini, akan terungkap sejalan dengan perkembangan cerita yang mencapai puncak pada Konferensi Tahunan Parlemen dan Pesta Musim Dingin yang diselenggarakan di Heddleham Hall milik Amanda Catchcart. 

Amulet Samarkand dikembangkan dalam tiga bagian besar dimana secara bergantian, meski tidak terlalu runtut, cerita disampaikan menggunakan 2 perspektif. Pertama, menggunakan orang pertama, dengan Bartimaeus selaku narator (diberi judul Bartimaeus) dan kedua, menggunakan orang ketiga (diberi judul Nathaniel). Karena pergantian perspektif tidak terjadi setiap kali pergantian bab, terkadang walau sudah berpindah bab, jika masih menggunakan perspektif yang sama, tidak lagi dicantumkan judulnya. Dengan menggunakan 2 perspektif penceritaan, cerita mengalir dengan 2 gaya berbeda yang asyik. Yang paling asyik dibaca, tentu saja saat kisah digulirkan dengan Bart sebagai narator. Ia menarasikan cerita secara energik, lengkap dengan sikap sinis, sok tahu, dan egomaniak yang ia miliki. Ia bahkan tidak segan melecehkan Nat, masternya, karena masalah usia dan pengalaman. Untuk mengekspresikan diri, tidak cukup dengan narasi, Bart juga membutuhkan catatan kaki untuk mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Anehnya, teknik yang dipakai penulis ini membuat ceritanya mengayun sarat jerat.

Lewat narasi Bart, Jonathan Stroud menaburkan humor yang berpotensi menerbitkan tawa. Rasanya, tidak ada pembaca yang tidak akan merasa geli membaca celotehan jin satu ini. Humor juga dipoles sang penulis ke berbagai dialog antara karakter ciptaannya. Selain penuturan cerewet versi Bart, kita misalnya akan digelitik dengan dialog konyol antara Nat dengan imp berwajah bayi yang dipanggilnya atau dialog antara Bart dan imp pembawa pesan Simon Lovelace. Lebih dari 10 kali si imp mengganti-ganti sapaannya pada Bart, dari O Sang Pemurah dan Pengampun hingga O Meteor Megah dari Timur. Dengan membaca sembari membayangkan dialog-dialog tersebut hidup, mustahil pembaca tidak akan merasa geli dan mungkin, terpingkal-pingkal. 

Tak pelak lagi Jonathan Stroud, sang penulis, memang menjadikan Bartimaeus sebagai karakter favorit. Karakter inilah yang menjadi jantung kisah berbaur dengan karakter penuh ingin tahu, pemarah, tidak sabaran, dan pendendam dari si penyihir muda, Nathaniel alias John Mandrake. Bart, meski tidak berhasil mengakali Nat yang cerdik, digambarkan sebagai karakter yang mendinginkan emosi Nathaniel, terkadang hadir, justru layaknya master buat Nat dengan sejumlah nasihatnya. Tak bisa disangkal, ketika kisah mencapai bagian akhir, antara kedua karakter ini telah terjalin semacam ikatan yang membuat Bart khawatir harus meninggalkannya. Mungkin ikatan ini yang ikut memaksa Jonathan Stroud untuk menjabarkan lebih jauh hubungan mereka ke dalam 2 buku selanjutnya. Sebagaimana yang pernah dituturkan Jonathan Stroud, ide kisah Bartimaeus ini hadir secara simultan. Tapi karena idenya mekar meluas, dengan penambahan berbagai karakter penting lain, ia memutuskan untuk membentangkan ide cerita ke dalam bentuk trilogi. 

Dilihat dari kisahnya, Amulet Samarkand memiliki ide kisah yang sangat menarik. Bukan hanya karakter yang memikat, tapi latar dunia sihir yang digunakan. Dunia sihir yang diusung Jonathan Stroud agak berbeda dengan dunia sihir yang pernah diungkapkan oleh penulis-penulis sebelumnya. Menggunakan Inggris sebagai latar belakang, London dijadikan pusat pemerintahan dengan para penyihir sebagai penguasa. Untuk mempertahankan kekuasaan, para penyihir memanggil para demon dan memaksa mereka untuk mematuhi segala perintah. Tanpa demon, sebenarnya para penyihir tidak ada giginya. Kemampuan berkomunikasi dengan demonlah yang mengangkat para penyihir ke strata tinggi, sedangkan manusia biasa yang disebut commoner, tergolong kelas rendahan dan mesti tunduk di bawah kendali penyihir. 

Di kalangan penyihir ini berkembang kompetisi untuk meraih posisi terhormat dengan memanfaatkan berbagai cara. Seperti kata Lovelace, di dunia sihir, "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang." (hlm. 329). Benturan antara sesama penyihir inilah yang mencetuskan konflik utama buku pertama dari trilogi Bartimaeus ini. 

Hanya, walau mengetengahkan dunia sihir, dan tentu pasti ada elemen-elemen dunia sihir di dalamnya, kita tidak akan menemukan banyak teknik sihir atau mantra yang dirapalkan dengan berbagai bahasa aneh seperti pada kisah lain berlatar dunia sihir. Ada disebutkan mantra seperti mantra penjepit sistematis, mantra pengikat total atau mantra pembebasan, tapi sekadar disebutkan kegunaannya. Di sini ritual sihir yang penting adalah ritual pemanggilan demon. Tapi hal ini sama sekali tidak mengurangi kenikmatan membaca buku satu ini.


Jonathan Stroud memaparkan kisah seru ambisi penyihir dalam plot yang dirancang secara yahud. Pembaca akan didorong untuk terus mengikuti aksi Bart dan Nat yang dipicu oleh amarah dan dendam si penyihir muda. Plotnya semakin lama semakin runcing hingga mencapai akhir, yang tidak saja melegakan, tapi juga memuaskan. Plot bertaburan ornamen menggelitik seperti transformasi Bart yang bisa menjadi apa saja yang ia inginkan, prosedur pemanggilan demon dengan tatacara menggambar pentacle, atau soal plane (tingkat keberadaan), yang mana diceritakan Bart memiliki akses ke tujuh plane secara berurutan.

Secara keseluruhan, kisah Bartimaeus ini merupakan sebuah kisah yang menarik yang sayang untuk diabaikan. Edisi Indonesia diterjemahkan dan disunting dengan gurih, sehingga kita tetap bisa merasakan suasana latar yang dibangun Jonathan Stroud lengkap dengan humornya yang menyengat. Buku bagian pertama trilogi ini menjadi semacam suguhan renyah yang akan terus dikunyah, sehingga tak terasa sudah habis dilahap. Mungkin, kepuasan pembaca hanya akan terpenuhi secara tuntas setelah kehadiran buku kedua, The Golem's Eye, dan buku ketiga, Ptolemy's Gate.
 
Menurut pengakuan Stroud, ide kisah Bartimaeus muncul pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan dua tahun untuk merangkainya menjadi novel yang siap diterbitkan. Untuk pertama kalinya, judul pertama, The Amulet of Samarkand (Amulet Samarkand), dipublikasikan Oktober 2003. Dua buku berikutnya berturut-turut terbit tahun 2004 dan 2005. Pada tahun 2006, The Bartimaeus Trilogy (Trilogi Bartimaeus) memenangkan Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis). Amulet Samarkand sendiri telah memenangkan sejumlah penghargaan seperti Boston Globe/Horn Book Honor 2004 (USA) dan Lancashire Children's Book Award 2005 (Inggris).

Selain trilogi ini, penulis  telah menghasilkan sejumlah puzzle-book, karya nonfiksi, dan novel seperti Buried Fire, The Leap, dan The Last Siege. Trilogi Bartimaeus yang hak pembuatan versi filmnya telah terjual sebelum bukunya diterbitkan membuat nama Jonathan Stroud semakin moncer di dunia fiksi fantasi internasional. Dengan kemungkinan ekranisasi kisah Bartimaeus ini, tak ayal mantan editor buku anak-anak di Walker Books ini akan menjajarkan namanya dengan penulis kisah fantasi dunia sihir sukses seperti J. K. Rowling atau Christopher Paolini.

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan