27 March 2013

One Amazing Thing


Posting bersama BBI kategori Sastra Asia Maret 2013



Judul Buku: One Amazing Thing
Pengarang: Chitra Banerjee Divakaruni (2009)
Penerjemah: Sujatrini Liza
Penyunting: Nuraini Mastura
Tebal: 422 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juni 2011
Penerbit: Qanita

 



Sembilan orang terperangkap di kantor permohonan visa di ruang bawah tanah gedung konsulat India ketika terjadi gempa bumi yang cukup dahsyat. Tujuh orang sedang menunggu visa mereka yang tidak kunjung diselesaikan karena pelayanan yang buruk, sedangkan dua orang lainnya adalah pegawai kantor permohonan visa.

Uma Sinha, perempuan  berdarah India, bermaksud pergi ke Kolkata (Calcutta), India, untuk mengunjungi kedua orangtuanya. Ayahnya telah meninggalkan pekerjaannya di Amerika dan menerima pekerjaan sebagai konsultan di India. Setelah menetap di India, kedua orangtuanya tenggelam dalam gaya hidup hedonis dan ingin putri semata wayang mereka ikut merasakannya.

Jiang, perempuan tua berdarah China, datang dengan Lily, cucunya yang masih remaja dan berpenampilan pemberontak. Jiang hendak mengunjungi Calcutta untuk bertemu Vincent, kakak laki-lakinya, di rumah masa lalu mereka yang ditinggalkan dalam keadaan terpaksa.

Lancelot Pritchett, seorang laki-laki tua kaya, berencana pergi ke India untuk menginap di salah satu istana tua yang telah diubah menjadi hotel. Ia akan berangkat dengan Vivienne, istrinya. Perjalanan ini digagasnya untuk menghibur sang istri yang telah melakukan usaha  bunuh diri dengan menenggak sebotol pil tidur.

Tariq Husein, pemuda India berkulit cerah dan berjenggot, berkeinginan pergi ke Delhi. Di sana ia akan menjumpai gadis yang dicintainya, Farah, gadis India yang sempat tinggal di rumahnya ketika mendapat beasiswa untuk kuliah di Amerika. Karena Farah-lah pemuda temperamental ini memelihara jenggot meskipun saat itu situasi tidak menguntungkan bagi laki-laki Muslim berjenggot setelah peristiwa 11 September.

Cameron Grant, laki-laki kulit hitam berkepala plontos dengan sepasang giwang di telinganya hendak pergi ke India untuk bertemu dengan seorang bernama Sava. Pengidap asma yang pernah bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat dan terjun ke dalam Perang Vietnam ini terbiasa menangani kondisi darurat. Dialah yang secara instingtif mengambil kendali sebagai pemimpin.

Dua pegawai kantor permohonan visa adalah Malathi Rawaswamy dan penyelianya, Mr. Mangalam. Malathi adalah perempuan India yang datang ke Amerika dengan tujuan mengumpulkan uang dan bercita-cita kembali ke India untuk membuka salon kecantikan. Ia terpesona pada Mangalam, sekalipun laki-laki India ini masih terikat pernikahan dengan istrinya yang bermukim di India. Mangalam yang berwajah menarik untuk ukuran India memang memiliki kegemaran bermain mata dengan perempuan yang bukan istrinya.

Langit-langit ruangan kantor permohonan visa itu ambruk, palang-palangnya patah, lampu pecah berkeping-keping, reruntuhan berhamburan, dan listrik pun mati. Seakan-akan belum cukup, air tiba-tiba merembes dari tempat yang tidak terdeteksi, yang seiring dengan berlalunya waktu menggenangi ruangan dan merambat naik dalam kegelapan. Kemudian ada mayat jatuh dari lantai atas, kendati tidak semua orang menyadarinya.

Situasi pun berubah kalut, ketika mereka sadar terperangkap dan pertolongan tidak juga datang. Pertengkaran begitu mudah tersulut, apalagi di antara mereka terdapat anak muda berdarah panas. Melihat situasi yang mengarah pada kondisi berbahaya, sebuah ide muncul di benak Uma Sinha.

"Masing-masing kita bisa menceritakan sebuah kisah penting dari kehidupan kita. Setiap orang punya cerita. Aku tidak percaya setiap orang bisa melalui kehidupan tanpa menemukan sedikitnya satu hal yang menakjubkan. " (hlm. 130).

Tidak ada yang ingin kehidupan pribadinya diketahui orang lain, apalagi yang baru pertama kali bertemu. Tapi Jiang bisa menangkap maksud Uma. Dialah yang mengajukan diri untuk menjadi pencerita pertama. Dan setelah dia menceritakan kisah hidupnya beserta satu hal menakjubkan yang terjadi dalam hidupnya, menjadi mudah bagi yang lain untuk mengikutinya.

Ternyata, menceritakan pengalaman hidup khususnya yang telah mengubah kehidupan menjadi pengalih perhatian dari situasi genting yang sedang berlangsung. Selain itu, ketika masing-masing mengungkapkan dengan jujur apa yang dialami dalam kehidupan pribadi, lambat laun tumbuh saling pengertian dan perasaan senasib di antara mereka. Seperti kata Tariq, "Setelah membandingkan ceritaku dengan yang lain, aku bisa menarik kesimpulan ini: setiap orang menderita dengan cara-cara yang berbeda. Sekarang aku tak  merasa begitu kesepian." (hlm. 269).

Aktivitas bertukar cerita ini pun membuat mereka yang memiliki hubungan keluarga menjadi lebih saling mengenal. Apa yang sebelumnya tersembunyi disingkapkan apa adanya. Mengejutkan, mengecewakan, tapi tetap saja menciptakan empati dan keinginan memaafkan.

Lily misalnya tidak pernah mengetahui kalau Jiang sebenarnya menguasai bahasa Inggris karena seingatnya neneknya hanya berkomunikasi dengan bahasa Mandarin. Tapi dengan menggunakan bahasa Inggris Jiang mampu mengajarkannya cara melepaskan masa lalu untuk menyongsong masa depan khususnya dalam hal cinta.

"Kapan itu terjadi? Saat mengingat kembali, aku tak bisa menunjukkan satu waktu khusus dan berkata, Itu dia saatnya! Itulah yang membuatnya begitu menakjubkan. Kita bisa benar-benar berubah, tanpa menyadarinya sendiri. Kita selalu mengira kejadian-kejadian mengerikan telah mengubah kita menjadi batu. Tapi cinta menyisip seperti pahat -dan tiba-tiba menjadi kampak yang mematahkan kita menjadi berkeping-keping dari dalam," kata Jiang (hlm. 170).

Vivienne alias Mrs. Pritchett jelas merasa kecewa karena sebelumnya suaminya tidak pernah berkeinginan berbagi kenangan dengannya. Tapi bagaimanapun, kisah suaminya saat masih bocah membuatnya lebih memahami laki-laki itu. Sungguh sulit bagi Lance untuk  mencintainya dengan cara yang ia butuhkan. Pengakuannya sendiri sudah pasti mengejutkan Lance tapi membuat suaminya itu memahami apa sesungguhnya yang dibutuhkannya.

One Amazing Thing karya Chitra Banerjee Divakaruni adalah sebuah novel inspiratif yang ditulis dengan indah -bahkan setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia keindahannya tetap bisa dipertahankan. Pemilihan dan perangkaian diksi yang tepat menghasilkan kalimat-kalimat yang anggun dan enak dibaca. Pengimbuhan metafora yang segar kian mengikat dalam pembacaan.

Contoh penggunaan metaforanya:

Dia telah memasuki kehidupan Tariq begitu saja, seperti sebuah pisau surat mengiris bawah lipatan penutup amplop, memotong yang sebelumnya terekat rapat, sehingga menumpahkan rahasia di dalamnya. (hlm. 57).

Suara Jiang yang tegas, membicarakan tentang cinta yang kisut dan terbuang seperti selembar surat dengan terlalu banyak kesalahan di dalamnya, tentang keluarga yang tertiup seperti spora di padang pasir dunia... (hlm. 165).

Dalam hal karakterisasi, Chitra tidak perlu diragukan. Setiap karakter dirancangnya dengan baik sehingga akan terasa hidup di dalam benak kita. Meskipun mereka berasal dari berbagai latar belakang kebangsaan -tidak hanya India sebagaimana pencipta mereka, Chitra tidak mengindikasikan kekagokan dalam hal penggambaran asal-usul dan personalitas mereka. Detail-detail kehidupan, perasaan, kenangan, dan impian mereka berhasil dijabarkan dengan memukau.

Seiring pergeseran plot yang dibangun Chitra, kita akan dibawa hanyut dalam situasi yang dialami para karakter novel. Saat gempa terjadi kita akan merasa cemas, dan ketika para karakter bercerita, kita akan dialihkan sementara, sebelum kemudian sadar dan gentar dengan adanya potensi gempa susulan, keruntuhan yang kian gawat, dan tubuh yang pelan-pelan dilahap rambatan air. Seperti para karakter, benak kita akan dikerubuti berbagai pertanyaan terkait apa yang akan terjadi sementara pertolongan seakan-akan tidak akan pernah datang. Situasi begitu mengancam dan menegangkan, tapi bisa dikendalikan dengan baik oleh sang pengarang sampai alinea terakhir yang membuat kita mencelus.

One Amazing Thing sungguh sebuah karya yang menakjubkan dan sulit dihentikan pembacaannya sebelum mencapai halaman terakhir. 





Chitralekha Banerjee Divakaruni
memulai karier penulisannya sebagai penulis puisi dan telah menerbitkan empat kumpulan puisi. Karya prosanya yang pertama diterbitkan adalah kumpulan cerita pemenang American Book Award berjudul Arranged Married (1995). Dia tidak hanya menulis prosa untuk pembaca dewasa, tapi juga remaja dan anak-anak. Trilogi Brotherhood of the Conch yang terdiri dari The Conch Bearer, The Mirror of Fire and Dreaming, dan Shadowland adalah novel-novel untuk remaja. Grandma and the Great Gourd adalah buku bergambar untuk anak-anak pertamanya (2012). Sekarang Chitra menetap di Texas dan mengajar Penulisan Kreatif di Universitas Houston.
25 March 2013

The London Eye Mystery


 
Judul Buku: The London Eye Mystery 
Pengarang: Siobhan Dowd (2007)
Penerjemah: Yoga Nandiwardhana
Penyunting: Primadonna Angela
Tebal: 256 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Januari 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




London Eye atau disebut juga Millenium Wheel adalah kincir observasi terbesar di dunia. Dengan tinggi 135 meter dan roda berdiameter 120 meter, London Eye memiliki 32 kapsul pengamatan di sisi luar lingkarannya. The Eye -demikian julukan bagi London Eye- berputar dengan kecepatan 0,26 meter/detik, dan satu putaran memakan waktu sekitar 30 menit. Kincir yang diresmikan oleh Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, pada 31 Desember 1999 dan baru dibuka untuk publik pada 9 Maret 2000 ini menjadi objek pariwisata terkenal sekaligus ikon London.

Menaiki London Eye adalah kegiatan yang paling disukai Ted Sparks, seorang bocah laki-laki penyandang Sindrom Asperger. Ke sanalah, Ted dan Kat, kakak perempuannya, membawa Salim -putra Bibi Gloria- karena merupakan pengalaman baru baginya.  Tapi saat ketiga anak ini mengantre untuk membeli tiket, seorang laki-laki asing yang mengaku klaustrofobik menawarkan satu tiket gratis. Diputuskan, hanya Salim yang akan naik London Eye, pada pukul 11.32. Sebelum kapsul berpenumpang 21 orang yang dinaiki Salim tertutup, ia tampak berbalik dan melambai kepada kedua saudara sepupunya.

Tiga puluh menit kemudian, pukul 12.02, tatkala kapsul mendarat, pintu terbuka dan para penumpangnya keluar, Ted dan Kat tidak melihat Salim di antara mereka. Salim yang disebut-sebut ibunya sebagai pelawak penuh aksi dan pengagum gedung-gedung tinggi, menghilang. Padahal, Salim dan ibunya hanya singgah di London -dan menginap di rumah keluarga Sparks- dalam perjalanan dari tempat tinggal mereka, Manchester, menuju New York. Mereka akan pindah ke Amerika Serikat karena Gloria mendapat pekerjaan sebagai kurator seni.

Menghilangnya Salim secara misterius, tentu saja, menimbulkan kehebohan di rumah keluarga Sparks. Bagaimana mungkin Salim yang naik London Eye tidak turun? Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Ketika polisi pun dibuat bingung, bersama-sama, melupakan sementara ketegangan di antara mereka, Ted dan Kat, memutuskan untuk memecahkan kasus menghilangnya Salim. Ted merumuskan delapan teori mengenai hilangnya Salim dan bertindak untuk menguji kedelapan teorinya.

1. Salim bersembunyi di dalam kapsul.
2. Arloji Ted Salah.
3. Salim keluar dari kapsul, tapi mereka tidak saling melihat.
4. Salim sengaja menghindari Ted dan Kat atau mengalami amnesia (hilang ingatan).
5. Salim terbakar secara spontan.
6. Salim keluar dari kapsul dalam samaran.
7. Salim masuk ke lengkungan waktu sehingga nyasar di waktu lain atau di dunia paralel.
8. Salim keluar dari kapsul bersembunyi di balik pakaian orang lain.

Satu demi satu teori itu dicoret dari daftar, tapi sebelum selesai diuji, Ted menambahkan teori kesembilan. Menurut teori ini, sejak awal Salim memang tidak pernah naik London Eye. Tapi bukankah mereka melihat Salim melambai dan memasuki salah satu kapsul? Ted dan Kat harus berusaha lebih giat, sampai terpaksa berbohong pada ibu mereka, untuk mengikuti semua petunjuk yang mengarah pada keberadaan Salim. 

Mampukah mereka? Dalam kesedihannya, ada optimisme dalam kata-kata Bibi Gloria.  "Kadang aku pikir ada yang lebih dari otakmu itu, Ted, daripada seluruh otak kami disatukan. Kalau saja otak dapat mengembalikan Salim, otakmulah yang mampu melakukannya." (hlm. 157). 

Dan  Bibi Gloria memang tidak salah. Ted Sparks, sang narator orang pertama dalam novel The London Eye Mystery (Misteri London Eye) karya Siobhan Dowd, akan menemukan jalan menuju Salim, pada tendangan kedelapan puluh tujuh ke gudang di kebun belakang rumahnya.

Ted Sparks, tentu saja, merupakan karakter sentral yang paling menarik dan mengundang rasa sayang dalam novel ini. Siobhan Dowd tidak menyebut secara langsung kalau Ted menyandang Sindrom Asperger. Tapi dari penuturan Ted mengenai kondisinya -antara lain kepada Salim- kita bisa memastikan kalau Ted memiliki sindrom yang ditemukan pada tahun 1944 oleh Hans Asperger, seorang dokter anak asal Austria.

"Ada sesuatu di otakku," kata Ted. "Aku bukannya sakit. Atau bodoh. Tapi aku tidak normal. Seolah otak itu adalah komputer. Otakku berjalan pada sistem operasi yang lain dibandingkan orang-orang biasa. Kabel-kabelnya pun berbeda. Karena itu, aku sangat hebat dalam memikirkan fakta dan cara kerja berbagai hal, dan dokter bilang aku berada pada bagian spektrum yang berfungsi tinggi. Tapi aku tidak pandai melakukan hal-hal seperti bermain bola. Olahraga favoritku adalah trampolin. Aku suka melompat di atasnya setiap hari karena itu membantuku berpikir. Sindromku membuatku hebat dalam mengingat hal-hal besar, seperti fakta penting tentang cuaca. Tapi aku selalu melupakan hal-hal kecil, seperti tas olahragaku. Ibuku bilang otakku seperti saringan. Maksudnya banyak hal jatuh melalui lubang-lubang di memoriku." (hlm. 33-34).

Selain Ted, Salim adalah karakter lain yang mengundang simpati. Ia adalah anak semata wayang Gloria dengan Rashid, dokter berdarah India, yang telah diceraikannya. Saat bertemu dengan Ted, bukannya menghina Ted, Salim malah memperlihatkan keakraban dan pemahaman yang manis. Lalu ketika terlibat perbincangan dengan Ted di kamar tidur, ia mengindikasikan empati yang mendalam. 

"Aku tidak suka menjadi berbeda. Aku tidak suka berada di dalam otakku. Kadang rasanya seperti berada sendirian di ruangan luas yang kosong. Dan tidak ada apa pun di situ, hanya aku," kata Ted.

"Aku tahu tempat itu," kata Salim. "Aku di dalam situ juga. Sangat sepi di sana, ya kan?" (hlm. 35).

Lewat novel ini, Siobhan Dowd tidak hanya memberikan pembaca sebuah kisah menarik mengenai pemecahan kasus hilangnya seorang anak menggunakan karakter anak-anak, tapi juga edukasi mengenai anak-anak penyandang Sindrom Asperger. Karena penyandang Sindrom Asperger - seperti pernyataan Ted- memiliki otak aneh yang bekerja dengan sistem yang berbeda dengan orang lain, cara menangani dan menghadapinya tentu saja berbeda dengan orang-orang biasa. Bagi anak-anak penyandang Sindrom Asperger sendiri, kondisi mereka telah menjadi tantangan hidup yang berat. Tidak semua orang bisa menerima mereka dengan baik. Dengan menampilkan Salim yang menganggap Ted keren -belakangan menyebutnya unik- Siobhan Dowd tentunya berharap adanya penerimaan yang sama baiknya dialami anak-anak penyandang Sindrom Asperger di dunia nyata. 

Karena Ted Sparks menyandang Sindrom Asperger, mau tidak mau, novel ini mengingatkan pada novel The Curious Incident of the Dog in the Night-time karya Mark Haddon (2003). Apalagi baik Ted Sparks maupun Christopher Boone dikisahkan melakukan penyelidikan untuk memecahkan sebuah kasus. Tapi kendati sesama penderita Sindrom Asperger, keduanya memiliki cara berbeda mendedahkan kisah. Christopher yang memiliki minat lebih beragam tidak hanya menggunakan kata-kata tapi juga gambar. Ia pun lebih meyakinkan sebagai penyandang Sindrom Asperger ketimbang Ted. (BTW, Siobhan adalah nama salah satu karakter dalam The Curious Incident of the Dog in the Night-time).  Meskipun begitu, hal ini tidak lantas membuat The London Eye Mystery kehilangan daya tariknya. Karena begitu mulai membaca novel pemenang penghargaan NASEN/TES Special Educational Needs Children's Book 2007 ini akan terasa sulit untuk melepaskannya sebelum berhasil ditamatkan. Coba saja!

Ada kekeliruan mengenai London Eye dalam edisi Indonesia ini. Disebutkan bahwa London Eye memiliki dua puluh tiga kapsul (hlm. 7), padahal sebenarnya ada tiga puluh dua kapsul. Setelah membaca bab satu edisi Inggris, baru saya mengetahui kalau kekeliruan ini disebabkan oleh penerjemahnya. 

Kau masuk ke dalam salah satu dari dua puluh tiga kapsul bersama orang lain yang mengantre bersamamu, dan ketika pintu ditutup, suara bising kota tak lagi terdengar.

You are sealed into one of the thirty-two capsules with the strangers who were next to you in the queue, and when they close the doors, the sound of the city is cut off.


Siobhan Dowd (4 Februari 1960 - 21 Agustus 2007) menerbitkan buku pertamanya, A Swift Pure Cry, pada tahun 2006 dan memenangkan Brandford Boase dan Eilis Dillon. Saat meninggal karena kanker payudara  dalam usia 47 tahun, ia telah menyelesaikan dua novel yang belum diterbitkan. Bog Child diterbitkan pada tahun 2008 (dan memenangkan Carnegie Medal), sedangkan Solace of the Road menyusul setahun kemudian. Semua royalti bukunya diberikan pada Siobhan Dowd Trust yang didirikan beberapa saat sebelum ia meninggal. Badan amal ini bertujuan mendukung kesenangan membaca bagi anak-anak berkebutuhan khusus dalam bidang sosial. 












Informasi mengenai London Eye bisa dibaca di sini 

14 March 2013

Paris

 
Judul Buku: Paris
Pengarang: Prisca Primasari
Tebal: x
+
214 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2012
Penerbit; GagasMedia

 




Memanfaatkan Paris sebagai seting utama, Prisca Primasari dalam novelnya yang berjudul Paris menceritakan kisah cinta anak muda asal Indonesia yang menimba ilmu di kota itu.  Aline Ofeli berada di Paris karena kuliah S2 di Sejarah Pantheon-Sorbonne, sesuai dengan keinginan mendiang ayahnya, yang selalu menganggapnya inferior. Ia meninggalkan Indonesia, ibunya, dan mengalami kesulitan beradaptasi di Paris. Sebenarnya ia lebih berbakat menggambar ketimbang belajar sejarah, dan terbukti dengan IP yang tidak pernah bagus. Sambil kuliah, Aline bekerja di Bistro Lombok, restoran makanan Indonesia milik Monsieur Borodin, pria Prancis yang menikahi perempuan Indonesia. Di restoran ini, ia bertemu Putra, pemuda Indonesia yang bekerja sebagai koki. Aline menyukai Putra sejak pertama melihatnya, tapi perasaannya bertepuk sebelah tangan. Putra yang digelarinya Ubur-Ubur tidak menyukainya dan tidak jarang meremehkannya. Yang paling membuat Aline mutung, Putra kemudian memacari Lucie François, gadis Prancis secantik Marion Cottilard, rekan sekerja di Bistro Lombok.

Dalam keadaan patah hati, saat sedang berada di Jardin du Luxembourg, Aline menemukan sebuah porselen yang sudah pecah. Setelah mencoba menyatukan pecahannya, Aline menemukan nama Aeolus Sena dimaktubkan pada porselen itu. Penelusurannya di dunia maya berakhir pada janji untuk bertemu.
 
Anehnya, Sena ingin mereka bertemu di Place de la Bastille -lokasi yang dulunya dijadikan tempat para tahanan menerima hukuman pemenggalan kepala- pada jam 12 malam. Saking penasarannya, Aline setuju dengan janji pertemuan ini. Sayangnya, kendati Aline telah berjibaku melawan rasa takutnya, Sena tidak muncul. Ia baru menampakkan diri pada malam ketiga. Porselen yang ditemukan Aline di Jardin du Luxembourg itu ternyata dibuat oleh Marabel, kakak perempuan Sena yang menikahi pria Prancis.

Aeolus Sena sendiri sudah menetap di Paris selama delapan tahun. Ia pun sudah dua tahun menyelesaikan kuliahnya di jurusan perfilman di Eicar International. Saat ini, bukannya membuat film, Sena mengaku bekerja paruh waktu di tempat reparasi mesik tik. Anehnya, bertahun-tahun menetap di Paris, ia tidak mengindikasikan keakraban dengan kota ini. Tidak kalah anehnya, ia tidak pernah bertemu Marabel yang sama-sama berada di Paris. Mereka hanya berhubungan melalui surel. Setelah bertemu Aline, Sena bersemangat mengunjungi beberapa tempat yang ingin dikunjunginya. Bukan cuma Place de la Bastille, tapi juga Maison Victor Hugo -kediaman pengarang Victor Hugo yang dijadikan museum- dan Cimetière du Père-Lachaise.

Untuk apa yang telah dilakukan Aline, Sena memberikan Aline kesempatan untuk mengajukan tiga permintaan. Diberi kesempatan seperti itu, Aline jadi ingin pulang ke Indonesia, dengan harapan, Sena akan membiayai perjalanannya. Dua tahun bermukim di Paris, tidak pernah bisa membuatnya betah. Tapi bukannya menyanggupi permintaan ini, Sena malah mengarahkan Aline untuk tetap menuntaskan kuliah dan mengundang ibu Aline berkunjung ke Paris dengan biayanya.

Saat berdua akhirnya pergi ke Bistro Lombok, Aline mendapatkan kesempatan mengajukan permintaan kedua. Ia ingin Sena melakukan sesuatu yang akan memisahkan Lucie dan Ubur-Ubur. Meskipun menyanggupi permintaan Aline, Sena merasa perlu mempelajari situasi. Alhasil, ia malah mengecam Aline yang  begitu terobsesi pada Ubur-Ubur. "Pikiran sempit. Nggak percaya diri, tapi sok kuat. Melankolis tidak pada tempatnya. Suka berjibaku pada hal-hal tidak penting," katanya (hlm. 97).

Sebenarnya cerita berpotensi menjadi lebih menarik karena Prisca memunculkan karakter pemuda kedua, Ezra Yoga. Ezra yang bekerja di Musèe de Cluny adalah pemuda Indonesia yang mengambil peminatan yang sama dengan Aline di Pantheon-Sorbonne, setahun di atas Aline. Diam-diam, Ezra mencintai Aline tapi tidak menemukan cara untuk secara langsung menunjukkan kepada gadis itu. Senalah yang menemukan cara paling jitu agar Ezra bisa mengekspresikan perasaannya, dengan kemampuan yang ia miliki. Hal ini dilakukan Sena karena sebenarnya ia memang tidak tertarik pada Aline kendati pernah menciumnya. Sebaliknya, tanpa bisa dikekang, kebersamaan dengan Sena telah memunculkan perasaan cinta di hati Aline. Potensi ini tidak begitu digali oleh Prisca sehingga kehadiran Ezra pun menjadi tidak cukup signifikan.

Selain masalah percintaan dan masalah pribadi Aline, Sena, dan Ezra, Prisca juga menghadirkan permasalahan yang dialami Sêvigne Devereux, sahabat Aline. Sêvigne berbakat membuat vignet tapi tidak dihargai oleh ibunya sehingga nyaris membuatnya putus asa. Menuju ke bagian-bagian akhir novel, Prisca menghadirkan permasalahan lain, yaitu permasalahan yang merundung pasutri Apollinaire dan Nelly Poussin. Semua permasalahan yang dimunculkan Prisca ini mempengaruhi kehidupan karakter utama novel.

Seiring perguliran plot akan muncul pertanyaan demi pertanyaan dalam benak pembaca. Mengapa porselen karya Marabel ditemukan Aline di Jardin du Luxembourg? Apa yang membuat Sena kerap bersikap aneh? Mengapa ia tidak pernah bertemu Marabel, kakaknya, walaupun tinggal sekota? Siapa yang akhirnya menggantikan Ubur-Ubur di hati Aline? Aeolus Sena atau Ezra Yoga?  Jangan lupa, Aline masih menyimpan permintaan terakhir dari tiga permintaan yang disanggupi Sena. Apakah yang akan menjadi permintaan terakhir Aline?

Paris menambah perbendaharaan koleksi novel romantis Indonesia. Tema utamanya tergolong generik, kisah cinta anak-anak muda Indonesia di perantauan. Sebagaimana jamaknya novel romantis, para pencinta ini dipertemukan, berinteraksi, dibubuhi konflik secukupnya, kemudian diberi kesempatan untuk memilih pendamping hidup. Prisca menambahkan konflik yang tidak biasa ke dalam novel ini, menarik tapi sayangnya kurang meyakinkan dan terasa aneh bagi seorang Aeolus Sena yang sudah dewasa. Penuntasan konflik pun terlalu gampang dan tidak menimbulkan sengatan berarti.

Sesuai judulnya, ibukota Prancis itu tetaplah menjadi daya pikat novel ini. Prisca memang tidak lagi mengagung-agungkan Menara Eiffel -yang disebutnya klise, tapi ia tetap memunculkan tempat-tempat yang bisa kita kunjungi saat berada di Paris. Place de la Bastille, Maison de Victor Hugo, Cimetière du Père-Lachaise, Mariage Frères, toko buku Shakespeare and Company, dan Boulangerie Patisserie Beaumarchais. Dengan cukup meyakinkan, Prisca membingkai perjalanan para karakternya melalui tempat-tempat itu.

Hampir semua kisah yang kita baca disajikan dalam bentuk catatan harian, lengkap dengan tanggal dan perasaan Aline -si penulis catatan harian- pada saat ia menulisnya. Setelah kembali ke Indonesia, Aline mengirimkan catatan hariannya kepada Sêvigne Devereux dengan harapan bisa dijadikan vignet atau novel oleh sahabat Prancisnya ini. Aline memiliki bakat menggambar sehingga kemungkinan besar ilustrasi cantik karya Diani Apsari yang bertaburan dalam novel ini dimaksudkan sebagai gambar-gambar buatan Aline. Karena kisah mengenai Aline Ofeli yang kita baca merupakan isi dari catatan hariannya yang dibaca Sêvigne -Prisca memulai dengan kalimat "Sêvigne mulai membuka halaman pertama." (hlm. 3)- semestinya Prisca mengakhiri novel ini dengan mengembalikan ceritanya pada Sêvigne, yang telah menamatkan catatan harian Aline. Tapi anehnya, bukan itu yang dilakukan Prisca.

Paris adalah novel pertama dari proyek kolaborasi GagasMedia dan Bukune, Setiap Tempat Punya Cerita, yang diterbitkan GagasMedia. Seri ini ditujukan untuk memberikan pembaca novel-novel terbitan kedua penerbit ini fiksi dengan pengalaman traveling ke mancanegara. Saat GagasMedia menerbitkan Paris, Bukune menerbitkan Last Minute in Manhattan *) karya Yoana Dianika. Menyusul kedua novel ini, akan terbit Roma (Robin Wijaya, GagasMedia) dan Barcelona Te Amo (Kireina Enno, Bukune).

Paris adalah buku keempat Prisca Primasari yang diterbitkan GagasMedia setelah Éclair, Beautiful Mistake (Gagas Duet dengan Sefryana Khairil), dan Kastil Es dan Air Mancur Berdansa. Ini adalah novel Prisca Primasari yang sudah bisa saya tamatkan, dan dalam waktu tidak terlalu lama. 


*) sedang dibaca 












10 March 2013

Singgah


Judul Buku: Singgah
Editor: Siska Yuanita & Jia Effendie
Ilustrasi Sampul dan Isi: Hafidh Idris
Tebal: 232 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Januari 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Singgah adalah antologi cerpen yang ditulis oleh sebelas orang penulis. Setiap penulis berupaya memanfaatkan tempat-tempat persinggahan seperti terminal, bandara, pelabuhan/dermaga, dan stasiun, sebagai bagian dari seting ceritanya. 
 
Jia Effendie membuka antologi ini dengan cerpen horor berjudul Jantung. Setelah membunuh kekasih yang mencampakkannya dalam keadaan hamil, perempuan yang menjadi narator cerpen ini merogoh jantung kekasihnya, memasukkannya dalam ice box, dan melakukan perjalanan menumpang kereta api. Ia kemudian tiba di sebuah stasiun asing yang aneh dan sepi. Di sinilah dimulai petualangan horor yang diawali dengan pertemuannya dengan nenek penjual gorengan yang bermata oranye dan bertelinga runcing. Jantung adalah cerpen yang absurd dan terasa tidak cocok dijadikan pembuka antologi ini.
 
Setelah kisah horor di stasiun kereta api, kita dibawa ke dalam suasana sendu di sebuah kapal yang sedang menuju pelabuhan di sebuah pulau. Taufan Gio dengan cerpen Dermaga Semesta menuntun kita pada perjalanan seorang lelaki menapaktilasi jejak kekasihnya yang telah tiada. Ia membawa lima lembar foto yang diambil kekasihnya di pulau itu dan bermaksud menjalankan ritual yang sering dilakukan kekasihnya. Perjalanan ini berakhir menjadi perjalanan pribadi untuk membebaskan dirinya dari kenangan masa lalu. Sederhana tapi memberikan sentuhan yang indah. 
 
Arya dalam cerpen Menunggu Dini karya Alvin Agastia Zirtaf, tiba di Stasiun Tugu di Yogyakarya selewat tengah malam. Saat menunggu teman yang akan menjemputnya, ia terlibat komunikasi dengan seorang lelaki tua. Dari perbincangan mereka, Arya mengetahui kalau lelaki berkopiah tua itu sedang menunggu kedatangan Mardini (Dini), kekasihnya, dari Jakarta. Tapi mengapa Dini tidak kunjung tiba? Alvin akan memberikan jawabannya pada bagian pamungkas cerpennya yang mengharukan. Sayangnya, perpindahan perspektif yang dilakukannya secara tiba-tiba terasa janggal dan dipaksakan.
 
Shivani Gupta, narator  cerpen Moksha karya Yuska Vonita, pergi ke India dengan alasan mencari kebenaran dan pencerahan spiritual. Ia memang sedang dibelit problem yang menciptakan goncangan dalam keluarganya. Shivani yang tanpa direncanakan sebelumnya menggeluti modeling, jatuh cinta pada Panji, seorang fotografer dan tidak berdarah India. Padahal, ia telah dijodohkan dengan Vikram Bhatnagar, dokter lulusan Harvard. Ia berharap, perjalanannnya ke India akan memampukannya menentukan lelaki yang akan menjadi suaminya. Di Indira Gandhi International Airport, Delhi, ia akan bertemu lelaki yang akan menggenapkan reinkarnasinya. 
 
Apuk, seorang anak yatim piatu, bertekad membuktikan kalau dirinya tidak berbeda dengan anak-anak Kapuas lainnya: bisa berenang. Padahal,  sepanjang hidupnya, ia belum pernah berenang di Sungai Kapuas. Santi, sahabatnya, mencoba mengingatkan Apuk, tapi bagi Apuk, tantangan dari teman-temannya adalah masalah harga diri. Meskipun bisa dipahami maksudnya, cerpen Kemenangan Apuk karya Bernard Batubara ini terasa kurang pada bagian penutupnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Apuk di akhir kisah, tidak dijelaskan dengan memadai, sehingga kita terhanyut dalam kemenangannya.  
 
Dalam film When Harry Met Sally... (Rob Reiner,1989),  tokoh Harry menyatakan kalau seks tidak akan terhindarkan dari persahabatan sepasang insan berbeda gender. Hal inilah yang diangkat Dian Harigelita dalam cerpen Langit di Atas Hujan. Kinan dan Angga bertemu di Yogyakarta, menjalin persahabatan, kemudian berpisah saat Kinan pulang dan bekerja di Jakarta. Ketika bertemu kembali di Yogyakarta,  dan terjadi beberapa kali, mereka akhirnya meneguhkan pendapat Harry. Sayangnya, setelah itu, mereka tetap tidak bisa menjadi sepasang kekasih. Apa yang menjadi rintangan mereka? 
 
Anggun Prameswari menyertakan dua cerpennya yang menyentuh dalam antologi ini. Semanis Gendhis, cerpen pertama, berlatar sebuah terminal yang hendak dipindahkan lokasinya karena akan dijadikan mal. Gendhis yang membuka warungnya di pintu masuk terminal itu memesona Sukro, bocah pedagang asongan. Sayangnya, Gendhis adalah perempuan dewasa yang sudah menikah. Suaminya, Broto, adalah sopir angkot yang memimpin penolakan pemindahan terminal. Ending yang disajikan Anggun cukup memiuhkan hati. Cerpen kedua, Rumah Untuk Pulang, tidak memberikan dampak yang kuat seperti cerpen pertama, tapi tetap menarik. Berkisah tentang Arum, yang setiap hari duduk di bangku peron stasiun, menunggu kereta dengan gerbong kosong yang diharapnya akan membawanya pulang ke rumah. Tapi ia sendiri tidak tahu rumah yang akan menjadi tujuan pulang. Apakah rumah orangtua yang telah dikecewakannya? Atau rumah tempat suami dan anak-anaknya berada? Arum tidak bisa memutuskan, karena hatinya telah hilang. 
 
Memancing bersama adalah ritual yang setia dijalankan selama bertahun-tahun oleh Grace dan Nic, sejoli karakter dalam Memancing Bintang karya Aditia Yudis. Suatu hari, Grace harus pergi karena melanjutkan kuliahnya. Karena ia hanya datang kemudian pergi dan tidak menetap, pelabuhan dengan dermaga yang mereka jadikan tempat memancing akhirnya sekedar menjadi tempat persinggahan baginya. Dalam suatu momen persinggahannya, Grace menemukan kalau Nic sudah memiliki gadis lain yang menemaninya memancing. Apakah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk memancing bersama Nic? Kendati ditulis dengan puitis dan rapi, cerpen ini tidak memberikan sentuhan yang mendalam. 
 
Para Hantu & Jejak-Jejak di Atas Pasir karya Adellia Rosa berkisah tentang perempuan yang tidak bisa menghadapi kenyataan. Setelah nelayan yang membesarkannya tidak kembali dari melaut, hidup Roesa hancur. Tidak seperti Rosetta, saudari kembarnya, ia tidak mau menerima kehilangan ini. Cerpen yang dibagi ke dalam delapan bagian ini sulit dinikmati karena ditulis dengan kecenderungan dirumit-rumitkan. 
 
Sebenarnya cerpen Koper karya Putra Perdana cukup menarik. Tapi cara penulis merunyamkan cerita dan enggan memberikan kepastian apa yang sebenarnya terjadi membuat cerpen ini kandas. Sang narator hendak ke Singapura sehubungan dengan penandatanganan kontrak bernilai miliaran rupiah oleh calon partner bisnis kantornya. Tapi setelah melewati detektor logam dan menuju boarding lounge, ia dikejar-kejar oleh petugas bandara. Padahal tidak lama lagi pesawatnya akan berangkat. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia lupa telah menaruh sisa ganja yang diisapnya semalam ke dalam koper Samsonite-nya? Setelah adegan kejar-kejaran yang menegangkan, kita dibenturkan dengan pertanyaan menjengkelkan: apakah kejadian yang dialami sang narator benar-benar terjadi? Ataukah hanya mimpi? 
 
Apa maksud Artasya Sudirman memberi cerpennya judul Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita, tidak bisa saya pahami. Untuk mencoba memahaminya, saya berkonsentrasi mengikuti perjalanan Venus di Eropa. Ia pergi ke Athena, lalu Selianitika, dan bermaksud pergi ke Jerman melewati Italia dan Austria. Di Selianitika, ia bertemu Andreas, sahabat mendiang ayahnya sewaktu kuliah di Jerman. Melalui rute berbeda, Venus dan Andreas berencana untuk bertemu di Jerman. Sampai tuntas membaca cerpen ini, saya tetap tidak bisa memahami maksud Artasya. Saya juga tidak bisa menikmati ceritanya karena tidak ada konflik penting di dalamnya. 
 
Jia Effendie menutup antologi ini dengan cerpen Pertemuan di Dermaga. Hilya, karakter perempuan ciptaannya dalam cerpen ini, pergi berlibur sendirian di sebuah pulau setelah dicampakkan kekasihnya. Ketika terkurung di pulau itu karena cuaca buruk, Hilya bertemu Adam, yang bernasib sama dengannya: berlibur saat bukan musim liburan. Apakah Adam mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan kekasih Hilya? Pertemuan di Dermaga yang lempeng dan tidak terarah ini menutup antologi Singgah dengan sebuah kekecewaan. 
06 March 2013

Pulang


Judul Buku: Pulang
Pengarang: Leila S. Chudori
Tebal: viii + 464; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Desember 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia



 
Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang - Dimas Suryo, hlm. 208.


 
Lintang Utara, mahasiswi Universitas Sorbonne, Paris, mendapat tugas akhir kuliah untuk membuat film dokumenter yang menyorot salah satu bagian dalam sejarah Indonesia. Tugas akhir ini mengarahkan Lintang pada peristiwa yang mengantar ayahnya, Dimas Suryo, menjadikan Paris sebagai tempat tinggal. Pertanyaan besar yang menggeliat dalam benak Lintang adalah:  apa yang bisa kita petik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A.?

Dimas Suryo adalah seorang eksil politik yang meninggalkan tanah air yang sangat dicintainya pada tahun 1965. Saat itu, Dimas  yang bekerja sebagai  redaktur Kantor Berita Nusantara sedang mengikuti konferensi jurnalis bertaraf internasional di Santiago, Cile. Pada waktu peristiwa 30 September 1965 terjadi, ia tidak bisa pulang ke Indonesia. Ia dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia yang dinobatkan sebagai dalang terbunuhnya para Pahlawan Revolusi. Dimas Suryo akhirnya terdampar di Paris bersama tiga rekan kerjanya -Nugroho Dewantoro, Risjaf, dan Tjai Sin Soe. Setelah mengerjakan berbagai pekerjaan serabutan, keeempat pria yang menamakan diri Empat Pilar Tanah Air ini mendirikan Restoran Tanah Air, restoran yang menyajikan masakan Indonesiaa di Rue de Vaugirard, Paris.

Pada Mei 1968, saat baru tinggal di Paris dan kota itu sedang bergolak oleh gerakan mahasiswa dan buruh yang menentang pemerintah De Gaulle, Dimas Suryo bertemu  Vivienne Deveraux. Mereka menikah, dan dari pernikahan ini, lahir putri semata wayang Dimas, Lintang Utara.

Selama menetap di Paris, berulang kali Dimas berusaha pulang ke Indonesia, tapi selalu gagal mendapatkan visa. Rezim Soeharto yang mengukuhkan sikap anti komunis dengan menegakkan berbagai peraturan yang bahkan berada di luar batas kemanusiaan, tidak memberikannya izin untuk pulang. Padahal, bertahun-tahun bermukim di Paris, kota itu hanya sekadar menjadi rumah persinggahan. Bagi Dimas, Indonesia adalah rumah sejatinya, tujuan kerinduannya untuk pulang. Bertahun-tahun menjadi penduduk Paris, bukan Cimetiere du Pere Lachaise, melainkan pemakaman Karet-lah yang ingin dijadikannya peraduan terakhir.

"Aku ingin pulang ke rumahku, Lintang. Ke sebuah tempat yang paham bau, bangun tubuh, dan jiwaku. Aku ingin pulang ke Karet,"  kata Dimas pada putrinya (hlm. 282).

Sesungguhnya, selain cinta kepada Indonesia, Dimas memendam cinta lain di Indonesia. Dimas tidak pernah bisa melupakan Surti Anandari, mantan kekasih yang meninggalkannya dan menikahi rekan kerja Dimas, Hananto Prawiro. Surti telah melahirkan tiga orang anak bagi suaminya dan menamai mereka dengan nama-nama yang awalnya direncanakan menjadi nama anak-anak Dimas. Tidak terelakkan lagi, cinta Dimas yang belum ditamatkan ini menjadi sumber keretakan dalam pernikahannya dengan Vivienne. Surti-lah yang membuat Vivienne memilih bercerai dengan Dimas, sekalipun tetap mencintai pria ini.

Ketika Lintang Utara berpacaran dengan Narayana Lafebre, pemuda blasteran Prancis-Indonesia tapi bukan anak eksil, hubungan Lintang dengan Dimas merenggang. Sikap Dimas yang tidak menyenangkan terhadap Narayana membuat Lintang terluka dan tidak ingin melihat wajah ayahnya lagi. Tapi saat Dimas jatuh sakit, tidak ada yang menahan langkah Lintang untuk mengunjungi ayahnya dan menyampaikan rencana perjalanan ke Indonesia guna merekam korban peristiwa 30 September 1965.

Sebagai anak dari eksil politik, tidak mudah bagi Lintang untuk masuk Indonesia. Apalagi kedatangannya ke Indonesia terkait dengan upaya menyingkapkan kembali tabir hitam dalam sejarah Indonesia. Di balik tabir itu, bertaburan darah orang-orang tidak berdosa yang dituduh komunis atau berhubungan dengan komunis. Untunglah Narayana memiliki koneksi di KBRI, para diplomat yunior berpikiran terbuka yang bersedia mengusahakan visa bagi Lintang.

Lintang tiba di Jakarta tatkala Indonesia sedang panas bergolak pada Mei 1998. Terjadi demonstrasi besar-besaran, mahasiswa melakukan unjuk rasa terkait kenaikan harga BBM dan KKN yang menjurus kepada tuntutan reformasi. Soeharto, pemimpin Orde Baru, diminta turun diri dari tampuk presiden yang telah didudukinya selama 32 tahun. Atas inisiatif Segara Alam, anak bungsu Hananto Prawiro yang bekerja di LSM Anak Bangsa, Lintang menyusup ke dalam hiruk-pikuk kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia, kerusuhan Mei 1998. Dan di tengah panasnya kondisi politik dan rentannya keamanan yang kian meningkat itu, Lintang berjibaku merekam film yang mengangkat para korban malapraktik sejarah Indonesia. Seiring dengan itu, ia tidak bisa menampik perasaan yang timbul dalam interaksinya dengan Alam, hasrat untuk menyatu secara ragawi di antara keturunan Dimas Suryo dan Surti Anandari.

Pulang, novel karya Leila S. Chudori adalah salah satu dari beberapa karya fiksi Indonesia berlatar peristiwa 30 September 1965 atau Gestapu yang diterbitkan pada tahun 2012. Boleh dikatakan, Pulang yang diterbitkan pada Desember 2012 adalah pamungkasnya. Sebelumnya telah diterbitkan novel-novel seperti Kubah karya Ahmad Tohari (penerbitan ulang) dan 65 (menyusul prekuelnya, Blues Merbabu, 2011) karya Gitanyali (Bre Redana), dan Amba yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak. Dibandingkan dengan keempat novel tersebut, Pulang yang dihiasi ilustrasi karya Daniel "Timbul" Cahya Krisna ini jauh lebih kental dan sarat membincang peristiwa yang melatarbelakangi kisahnya. Leila berhasil mengangkat topik yang pada masa lalu sangat rawan dibincangkan secara gemilang sehingga berhasil membawa kita mengarungi kisah yang terbentang sejak tahun 1960-an hingga 1990-an. Dari masa penegakan Orde Baru sampai keruntuhannya yang memalukan.

Yang sangat menarik adalah Leila mengisahkan putri seorang eksil politik yang datang ke Indonesia untuk menguak peristiwa yang menjauhkan ayahnya dari Indonesia. Menggunakan momen yang tepat, Leila menibakan Lintang Utara di Indonesia pada Mei 1998, masa-masa menjelang jatuhnya Soeharto dari kursi kepresidenan Indonesia. Dimas Suryo meninggalkan Indonesia dan tidak pernah diizinkan pulang menjelang berkuasanya Soeharto, sedangkan putrinya memasuki Indonesia menjelang tumbangnya kekuasaan Soeharto.

Leila membuka kisahnya dengan penangkapan Hananto Prawiro pada April 1968 di Jalan Sabang, Jakarta. Hananto yang menghilang dari peredaran sejak 30 September 1965, dijadikan target perburuan, ternyata bersembunyi di Jakarta. Sedihnya, sebenarnya Hananto-lah yang seharusnya berada di Santiago, Cile untuk mengikuti konferensi. Tabiat penjahat kelaminlah yang menahannya tetap berada di Indonesia. Hananto, walaupun telah menikahi Surti Anandari, gemar melakukan petualangan syahwat ekstramarital. Menjelang peristiwa Gestapu, Surti ingin meninggalkannya dan Hananto bertekad mempertahankan pernikahannya. Itulah sebabnya, Dimas Suryo yang menggantikannya pergi ke Santiago.

Setelah kisah penangkapan Hananto, Leila membagi kisahnya dalam tiga bagian besar yang diberi judul  Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam. Kita dibawa ke Paris pada saat terjadi revolusi Mei 1968 dan dalam perjalanan menuju epilog pada 10 Juni 1998, kita akan digempur dengan berbagai kilas balik seputar kehidupan Dimas Suryo dan keluarganya. Dalam perjalanan ini kita akan menemukan kisah kehidupan seorang pencinta tanah air yang terbuang, perjuangannya untuk pulang yang tidak mudah, persahabatannya dengan rekan-rekan senasib, dan semua dampak yang menciptakan konflik dalam keluarga dan cintanya. Semua elemen ini membentuk kisah yang sangat menyita perhatian dan simpati.

Sudah pasti, Dimas Suryo adalah karakter paling menarik dalam novel ini. Dialah yang menjadi karakter sentral dalam novel ini. Eksistensi Lintang dan perjalanannya ke Indonesia untuk membuat film dokumenter berawal dari Dimas Suryo. Laki-laki ini pula yang mempengaruhi kehidupan ketiga sahabatnya di Paris, perempuan Prancis yang menjadi istrinya, keluarga Surti Anandari, dan keluarga Aji, adiknya di Jakarta. Ia menjelma menjadi suara dari semua orang Indonesia yang tidak bisa pulang setelah Orde Baru mencengkeram segenap sendi dari tubuh Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, tapi sukar mengejawantahkan perasaan ini.

"Ayah tahu dia ditolak pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. Dia tidak ditolak oleh tanah airnya. Itulah sebabnya, dia meletakkan sekilo cengkih ke dalam stoples besar pertama dan beberapa genggam bubuk kunyit di stoples kedua di ruang tamu hanya untuk merasakan aroma Indonesia,"  kata Lintang (hlm. 198-199).  Dan setiap mengalami penolakan atas pengajuan visanya, Dimas akan melakukan upacara mencium bau cengkih dan memainkan wayang kulit Ekalaya. Ia memosisikan dirinya sebagai Ekalaya yang ditolak tapi akan tetap bertahan meski sangat sulit melakukannya.

Apakah akan ada kesempatan bagi Dimas untuk pulang ke pangkuan ibu pertiwi? Inilah pertanyaan besar dan paling emosionil dalam novel ini. Leila akan memberikan jawabannya pada bagian epilog, dengan tetap menyisakan kebimbangan dalam diri Lintang. Siapa pria yang akan dipilihnya? Segara Alam yang tidak begitu sulit membawanya ke tempat tidur, atau Narayana Lafebre, si tampan yang selalu memberi dukungan pada apa yang dilakukannya? 

Dengan menulis novel ini, Leila menjadi salah satu penulis yang mengingatkan kita bahwa sejarah Indonesia mengandung kisah perusakan harkat kemanusiaan yang telah memakan banyak korban. Ironisnya, pembasmian besar-besaran yang telah terjadi pasca peristiwa 30 September 1965 itu, dilakukan oleh orang-orang setanah air dan setumpah darah yang digerakkan ambisi penegakan sebuah rezim. Seiring dengan berlalunya waktu, masalah itu tetap tidak bisa dipulihkan dan mungkin tidak akan pernah dipulihkan. Tapi apa yang telah terjadi, akan memberikan pelajaran bagi kita untuk tidak bertindak sewenang-wenang dan selalu menghormati kehidupan manusia.

Meskipun padat dan sangat bergizi, saya suka dengan gaya penulisan Leila dalam novel yang ditulis selama enam tahun ini. Ia menulis dengan pilihan kata yang enak dibaca dengan kecenderungan puitis tapi tidak hiperbolis, dan cerdas dalam keseluruhannya. Pulang, novel pertama Leila S. Chudori, setelah bertahun-tahun meninggalkan penulisan novel-novel remaja, adalah sajian berkualitas yang tidak boleh dilewatkan oleh para pembaca Indonesia. 

Sebelum Pulang, Leila telah menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Malam Terakhir (pertama kali diterbitkan Pustaka Utama Grafiti, 1989, kemudian diterbitkan ulang Kepustakaan Populer Gramedia pada 2009 dan 2012). Kumpulan cerpen ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul Die Letzte Nacht (Horlemann Verlag). Penulis skenario sinetron Dunia Tanpa Koma (2006) ini juga telah meluncurkan kumpulan cerpen 9 dari Nadira. Baik Malam Terakhir maupun 9 dari Nadira sedang dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Yayasan Lontar. Kabarnya, Leila sedang menggarap lanjutan 9 dari Nadira dan kumpulan cerita seorang pembunuh bayaran, Lembayung Senja.





 Pengunduran diri Soeharto sebagai presiden pada 21 Mei 1998


Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan