Showing posts with label Leila S. Chudori. Show all posts
Showing posts with label Leila S. Chudori. Show all posts
03 June 2013

Malam Terakhir


Baca bareng BBI Mei 2013 kategori Kumpulan Cerpen


Judul Buku: Malam Terakhir
Pengarang: Leila S. Chudori
Tebal: xviii + 117 hlm; 13,5 x20 cm
Cetakan: 1, November 2009
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia






Bukan kemegahan dan keromantisan Paris yang diangkat Leila S. Chudori dalam cerpen pembuka kumpulan cerpennya -Malam Terakhir- yang berjudul Paris, Juni 1985.  Seorang gadis Asia tiba di Paris pada saat musim panas yang menggigit, kemudian menyewa kamar kecil di sebuah penginapan kumuh selama tiga minggu. Penginapan itu milik seorang perempuan tua yang memelihara sepasang tikus hitam besar, François dan Françoise. Tapi bukan kedua tikus itu yang membuat si gadis Asia terganggu. Di sebelah kamarnya, tinggal Marc, seorang pelukis yang sering menciptakan keriuhan dengan suara-suara aneh yang menghebohkan. Apa yang sebenarnya dilakukan Marc dalam kamarnya sehingga mengeluarkan suara-suara aneh, seolah-olah sedang melakukan persetubuhan? Leila menguak pikiran ganjil seorang lelaki muda yang mengagungkan birahi dalam berkarya.  

Kini gadis itu baru menyadari betapa dia berada di negara asing. Teritori tak dikenal..... Ada satu suasana yang terus-menerus mendesaknya agar ia merasa asing dan sendiri. Paris tak pernah menawarkan kehangatan dan tidak berpretensi untuk menjadi sosok yang hangat. Entah kenapa, ia semakin merasa Marc semakin membuat Paris menjadi kota yang paling sunyi (hlm, 14-15).

Gadis remaja dalam cerpen yang menggunakan namanya sebagai judul, Adila, lebih dekat dan lebih bisa dipahami ayahnya ketimbang ibunya. Mengabaikan semua teriakan, kecaman, dan penindasan ibunya, ia mengurung diri dan membaca buku di dalam kamar mandi. 

Aku tak mengerti kenapa aku lahir untuk harus selalu menjadi bayang-bayang ibuku. Semua tindakan dan pemikiran yang lahir dari diriku selalu salah. Karena itu, aku merasa, kamar mandi ini adalah tempat yang paling menyenangkan. Bak kamar mandi, gayung, odol, sabun, air, dan bahkan taik dalam jamban itu tak akan berteriak-teriak sekalipun aku ingin telanjang selama lima jam. Mereka semua memahami dan mentolerir keganjilanku.... (hlm. 21).

Buku-buku yang dibaca Adila membuatnya berimajinasi sedang berbicara dengan karakter maupun penulis buku. Maka Leila menyajikan percakapannya dengan Ursula Brangwen, karakter dalam The Rainbow; A.S. Neill, penulis buku dan pendiri sekolah, Summerhill; Stephen Dedalus, karakter ciptaan James Joyce dalam A Portrait of the Artist as a Young Man. Sebuah peristiwa tragis menjadi penutup yang menyedihkan dan membuat kita mengernyit dengan respons ibu Adila. Kerap, seperti ibu Adila, orangtua bersemangat memberi batas sehingga lebih suka anak mereka menjadi seperti katak dalam tempurung.

Leila menggugat standar yang secara jomplang diberlakukan dalam masyarakat terkait dengan kesetiaan dalam cerpen Air Suci Sita. Apakah seorang perempuan harus tetap setia dalam sebuah hubungan cinta sementara laki-laki boleh mengkhianati kesetiaan itu? Empat tahun di Kanada, seorang gadis Indonesia mati-matian mempertahankan kesetiaan kepada tunangannya di tanah air kendati godaan selalu datang. Tapi setelah empat tahun memelihara kesetiaan, tunangannya datang dan berkata:

Sayang, engkau ternyata seorang perempuan yang teguh dan kukuh. Sedangkan aku hanyalah lelaki biasa. Engkau begitu tegap, mandiri, dan mempertahankan kesucianmu seperti yang diwajibkan oleh masyarakat; sedangkan aku adalah lelaki lemah, payah, manja, tak bisa menahan diri. Kami, para lelaki, dimanjakan dengan apa yang dianggap sebagai kodrat, kami diberi permisi seluas-luasnya. Kalau kau yang berkhianat, pastilah kau dianggap nista. Tetapi jika aku yang berkhianat, maka itu dianggap biasa...." (hlm. 47).

Kemunafikan manusia dikecam Leila dalam cerpen Sehelai Pakaian Hitam melalui karakter Salikha dan Hamdani. Hamdani memberikan citra saleh di hadapan umum, seorang laki-laki berbaju putih tanpa noda. Sementara di sisi lain, ia berbaju hitam dan hidup dalam kemaksiatan. Salikha yang berbeda pandangan dengannya, berani telanjang dan jujur dalam berperilaku, tidak setuju dengan kemunafikan Hamdani.  

Kau mirip sekali dengan tokoh Stevenson, dr Jekyll. Tokoh yang tak ingin memperlihatkan keburukan dalam dirinya. Kemudian keburukan itu dimanifestasikan melalui tokoh Mr. Hyde. Kau membuat garis yang terlalu konkret antara malaikat dan setan di dalam dirimu. Itu kau lakukan demi masyarakat, karena penghormatanmu yang berlebihan terhadap mereka. Maka tuhanmu sebenarnya adalah masyarakat (hlm.54-55).

Mampukah Hamdani hidup terus dalam kemunafikan?

Para tokoh Mahabharata sangat hidup dalam benak Moko yang bermonolog dalam cerpen Untuk Bapak. Menurut Moko, meskipun merupakan lambang kebijaksanaan, Yudhistira sukar dimaafkan lantaran terlibat perjudian dengan Kurawa dan mempertaruhkan Drupadi. Sedangkan Kresna sering berbohong, walaupun demi menyelamatkan Pandawa. Sementara Arjuna, sekalipun tampan, sebenarnya tidak berhak memiliki banyak istri. Bagi Moko, Bhisma-lah yang patut dikagumi. Setelah orangtua Moko bercerai dan ibunya menikah, ternyata ayahnya tidak pernah berniat menikah lagi. Itulah yang membuat Moko melihat ayahnya semakin mirip dengan Bhisma. Dalam surat yang dikirimkan pada ulang tahun Moko yang ke-15, ayahnya mengatakan:

Anakku, panah-panah Bhisma itu sudah menjadi urat nadi Bapak. Tapi kamu tetap menjadi jantungku (hlm. 67).

Dalam perjalanan pulang dari Eropa menuju Jakarta, Tami dalam cerpen Keats berimajinasi sedang berbincang dengan John Keats, penyair Inggris awal abad 19 yang menulis sajak Tentang Mati (On Death). Keats mengusiknya terkait kepulangannya ke Indonesia. Tami, seorang sarjana sastra Inggris, mencintai seutuhnya Jean, seorang musisi Eropa, tapi pulang ke Indonesia untuk menikahi Hidayat, penyair yang direstui penuh oleh keluarganya. Apa yang akan dilakukan Tami setelah perbincangan panjang dengan John Keats? Apakah ia akan membiarkan gambaran bahagia luput seperti hantu berlalu? Tami berkata:

Saya tidak ingin menjadi seorang Hamlet kontemporer (hlm. 81).

Perempuan dalam cerpen berjudul Ilona memiliki keteguhan yang bertumbuh bersama kebebasan yang diberikan ayahnya. Keteguhan ini ditampakkannya melalui pandangannya mengenai pernikahan setelah orangtuanya bercerai pada tahun terakhirnya di SMA. 

Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pada saat itulah ia memulai suatu perjalanan yang panjang, asing, dan penuh tantangan.

Titik persoalannya adalah saya memilih untuk berjalan sendiri, tanpa kawan. Jadi, saya memilih rute yang berbeda dan tidak konvensional, saya akan menanggungnya sendiri tanpa membuat orang lain menderita (hlm. 90).

Setelah tiga setengah tahun tanpa kabar saat bersekolah di luar negeri, Ilona atau Ona pulang ke rumah ayahnya. Apakah ia masih menyimpan keteguhan yang sama dengan yang dimilikinya dulu?

Rain dalam Sepasang Mata Menatap Rain baru berusia dua setengah tahun tapi sangat cerdas dan peka. Dalam perjalanan menuju toko buku pada suatu hari Minggu, tanpa sengaja Rain melihat foto seorang anak perempuan dengan sepasang mata bulat yang pedih di majalah yang dilembari ibunya. Serombongan pertanyaan 'kenapa' pun menggelinding keluar dari mulutnya dan nyaris membuat ayah dan ibunya kelabakan. Hal yang sama terulang manakala Rain melihat anak perempuan pemain rebana menyanyi sambil menari dari jendela mobil. Mengapa Rain sangat gelisah setelah melihat mata pemain rebana itu? 

Matanya menangis, tapi tidak ada air matanya.... Itu pasti karena dia sudah kehabisan airmata, karena dia sudah lelah menangis (hlm. 104).

Malam Terakhir menjadi cerpen pamungkas dalam kumpulan cerpen ini. Setelah sebuah demonstrasi menentang pemerintah, tiga mahasiswa ditangkap tentara, disiksa sampai babak belur, dan dijebloskan ke dalam penjara. Ketiganya akan dieksekusi dengan cara digantung di hadapan umum. Pada malam terakhir mereka disekap, seorang gadis yang juga bagian dari demonstrasi dicampakkan ke dalam penjara yang sama. Gadis itu telah mengalami penyiksaan di luar batas kemanusiaan. 

Secara paralel, seorang gadis cantik berusia 22 tahun, putri seorang tokoh penting yang terlibat dalam pertumpahan darah mahasiswa, mempertanyakan hukuman mati yang ditimpakan pada keempat mahasiswa itu. Ia tidak bisa memahami bagaimana hukuman mati dilaksanakan tanpa bukti kesalahan para terhukum. Ia juga tidak bisa mengerti mengapa hukuman mati itu disebut ayahnya sebagai pertunjukan seni akbar.  Ia tidak bisa menerima penjelasan ayahnya yang menyatakan bahwa:

Dalam semua pertempuran, Sayang, segala gerunjal-gerunjal harus ditebas habis. Di dalam pertempuran, selalu ada kata 'kita' dan ada kata 'mereka'. Siapa saja yang menjadi unsur kata 'mereka' harus diterabas hingga ke akar-akarnya. Semua unsur harus menjadi bagian dari 'kita'.... (hlm. 112).


Edisi Pertama (Grafiti, 1989)

Setelah dua puluh tahun diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Pustaka Utama Grafiti (1989), kumpulan cerpen Malam Terakhir diterbitkan kembali oleh Kepustakaan Populer Gramedia (2009). Delapan cerpen disisihkan dan satu cerpen ditambahkan yaitu cerpen Sepasang Mata Menatap Rain. Boleh dibilang, penambahan cerpen ini terkesan dipaksakan dan tidak pada tempatnya berada di antara cerpen-cerpen lain. Leila tidak menjelaskan penambahan cerpen ini dalam Pulang: Setelah 20 Tahun.... Ia hanya mengatakan bahwa:

Malam Terakhir versi baru ini saya seleksi sesuai dengan keinginan periode masa kini. Saya hanya memilih beberapa cerita pendek yang menurut saya mewakili saya dan masih mewakili zamannya. Cerita yang saya pilih ini juga mewakili gaya yang saya pilih setelah 20 tahun berkelana: gaya sederhana yang mampu mengirim kompleksitas cerita.

Tidak cuma melakukan seleksi, Leila ternyata melakukan revisi dalam beberapa kalimat, meskipun sebenarnya tidaklah perlu. Membiarkan sebagaimana pertama diterbitkan, sama sekali tidak membuat cerita Leila berkurang kehebatannya.

Dalam keragaman tema yang dipilih Leila, kita bisa mengetahui bahwa kebebasan berekspresi, kemerdekaan dari penindasan, keleluasaan menetapkan pilihan hidup, kesetiaan, kejujuran, integritas, kepekaan, dan keberanian adalah hal-hal penting yang dianut dan diperjuangkan seorang Leila S. Chudori. 

 
Cetakan Kedua, November 2012


Catatan:
Tulisan ini sebetulnya sudah siap diposting pada 31 Mei 2013 untuk Baca dan Posting Bareng BBI dengan tema Kumpulan Cerpen. Tapi, karena saya harus pergi ke beberapa tempat di Jawa Timur selama tiga hari dimulai pada 30 Mei 2013, baru bisa diposting hari ini. 



06 March 2013

Pulang


Judul Buku: Pulang
Pengarang: Leila S. Chudori
Tebal: viii + 464; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Desember 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia



 
Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang - Dimas Suryo, hlm. 208.


 
Lintang Utara, mahasiswi Universitas Sorbonne, Paris, mendapat tugas akhir kuliah untuk membuat film dokumenter yang menyorot salah satu bagian dalam sejarah Indonesia. Tugas akhir ini mengarahkan Lintang pada peristiwa yang mengantar ayahnya, Dimas Suryo, menjadikan Paris sebagai tempat tinggal. Pertanyaan besar yang menggeliat dalam benak Lintang adalah:  apa yang bisa kita petik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A.?

Dimas Suryo adalah seorang eksil politik yang meninggalkan tanah air yang sangat dicintainya pada tahun 1965. Saat itu, Dimas  yang bekerja sebagai  redaktur Kantor Berita Nusantara sedang mengikuti konferensi jurnalis bertaraf internasional di Santiago, Cile. Pada waktu peristiwa 30 September 1965 terjadi, ia tidak bisa pulang ke Indonesia. Ia dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia yang dinobatkan sebagai dalang terbunuhnya para Pahlawan Revolusi. Dimas Suryo akhirnya terdampar di Paris bersama tiga rekan kerjanya -Nugroho Dewantoro, Risjaf, dan Tjai Sin Soe. Setelah mengerjakan berbagai pekerjaan serabutan, keeempat pria yang menamakan diri Empat Pilar Tanah Air ini mendirikan Restoran Tanah Air, restoran yang menyajikan masakan Indonesiaa di Rue de Vaugirard, Paris.

Pada Mei 1968, saat baru tinggal di Paris dan kota itu sedang bergolak oleh gerakan mahasiswa dan buruh yang menentang pemerintah De Gaulle, Dimas Suryo bertemu  Vivienne Deveraux. Mereka menikah, dan dari pernikahan ini, lahir putri semata wayang Dimas, Lintang Utara.

Selama menetap di Paris, berulang kali Dimas berusaha pulang ke Indonesia, tapi selalu gagal mendapatkan visa. Rezim Soeharto yang mengukuhkan sikap anti komunis dengan menegakkan berbagai peraturan yang bahkan berada di luar batas kemanusiaan, tidak memberikannya izin untuk pulang. Padahal, bertahun-tahun bermukim di Paris, kota itu hanya sekadar menjadi rumah persinggahan. Bagi Dimas, Indonesia adalah rumah sejatinya, tujuan kerinduannya untuk pulang. Bertahun-tahun menjadi penduduk Paris, bukan Cimetiere du Pere Lachaise, melainkan pemakaman Karet-lah yang ingin dijadikannya peraduan terakhir.

"Aku ingin pulang ke rumahku, Lintang. Ke sebuah tempat yang paham bau, bangun tubuh, dan jiwaku. Aku ingin pulang ke Karet,"  kata Dimas pada putrinya (hlm. 282).

Sesungguhnya, selain cinta kepada Indonesia, Dimas memendam cinta lain di Indonesia. Dimas tidak pernah bisa melupakan Surti Anandari, mantan kekasih yang meninggalkannya dan menikahi rekan kerja Dimas, Hananto Prawiro. Surti telah melahirkan tiga orang anak bagi suaminya dan menamai mereka dengan nama-nama yang awalnya direncanakan menjadi nama anak-anak Dimas. Tidak terelakkan lagi, cinta Dimas yang belum ditamatkan ini menjadi sumber keretakan dalam pernikahannya dengan Vivienne. Surti-lah yang membuat Vivienne memilih bercerai dengan Dimas, sekalipun tetap mencintai pria ini.

Ketika Lintang Utara berpacaran dengan Narayana Lafebre, pemuda blasteran Prancis-Indonesia tapi bukan anak eksil, hubungan Lintang dengan Dimas merenggang. Sikap Dimas yang tidak menyenangkan terhadap Narayana membuat Lintang terluka dan tidak ingin melihat wajah ayahnya lagi. Tapi saat Dimas jatuh sakit, tidak ada yang menahan langkah Lintang untuk mengunjungi ayahnya dan menyampaikan rencana perjalanan ke Indonesia guna merekam korban peristiwa 30 September 1965.

Sebagai anak dari eksil politik, tidak mudah bagi Lintang untuk masuk Indonesia. Apalagi kedatangannya ke Indonesia terkait dengan upaya menyingkapkan kembali tabir hitam dalam sejarah Indonesia. Di balik tabir itu, bertaburan darah orang-orang tidak berdosa yang dituduh komunis atau berhubungan dengan komunis. Untunglah Narayana memiliki koneksi di KBRI, para diplomat yunior berpikiran terbuka yang bersedia mengusahakan visa bagi Lintang.

Lintang tiba di Jakarta tatkala Indonesia sedang panas bergolak pada Mei 1998. Terjadi demonstrasi besar-besaran, mahasiswa melakukan unjuk rasa terkait kenaikan harga BBM dan KKN yang menjurus kepada tuntutan reformasi. Soeharto, pemimpin Orde Baru, diminta turun diri dari tampuk presiden yang telah didudukinya selama 32 tahun. Atas inisiatif Segara Alam, anak bungsu Hananto Prawiro yang bekerja di LSM Anak Bangsa, Lintang menyusup ke dalam hiruk-pikuk kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia, kerusuhan Mei 1998. Dan di tengah panasnya kondisi politik dan rentannya keamanan yang kian meningkat itu, Lintang berjibaku merekam film yang mengangkat para korban malapraktik sejarah Indonesia. Seiring dengan itu, ia tidak bisa menampik perasaan yang timbul dalam interaksinya dengan Alam, hasrat untuk menyatu secara ragawi di antara keturunan Dimas Suryo dan Surti Anandari.

Pulang, novel karya Leila S. Chudori adalah salah satu dari beberapa karya fiksi Indonesia berlatar peristiwa 30 September 1965 atau Gestapu yang diterbitkan pada tahun 2012. Boleh dikatakan, Pulang yang diterbitkan pada Desember 2012 adalah pamungkasnya. Sebelumnya telah diterbitkan novel-novel seperti Kubah karya Ahmad Tohari (penerbitan ulang) dan 65 (menyusul prekuelnya, Blues Merbabu, 2011) karya Gitanyali (Bre Redana), dan Amba yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak. Dibandingkan dengan keempat novel tersebut, Pulang yang dihiasi ilustrasi karya Daniel "Timbul" Cahya Krisna ini jauh lebih kental dan sarat membincang peristiwa yang melatarbelakangi kisahnya. Leila berhasil mengangkat topik yang pada masa lalu sangat rawan dibincangkan secara gemilang sehingga berhasil membawa kita mengarungi kisah yang terbentang sejak tahun 1960-an hingga 1990-an. Dari masa penegakan Orde Baru sampai keruntuhannya yang memalukan.

Yang sangat menarik adalah Leila mengisahkan putri seorang eksil politik yang datang ke Indonesia untuk menguak peristiwa yang menjauhkan ayahnya dari Indonesia. Menggunakan momen yang tepat, Leila menibakan Lintang Utara di Indonesia pada Mei 1998, masa-masa menjelang jatuhnya Soeharto dari kursi kepresidenan Indonesia. Dimas Suryo meninggalkan Indonesia dan tidak pernah diizinkan pulang menjelang berkuasanya Soeharto, sedangkan putrinya memasuki Indonesia menjelang tumbangnya kekuasaan Soeharto.

Leila membuka kisahnya dengan penangkapan Hananto Prawiro pada April 1968 di Jalan Sabang, Jakarta. Hananto yang menghilang dari peredaran sejak 30 September 1965, dijadikan target perburuan, ternyata bersembunyi di Jakarta. Sedihnya, sebenarnya Hananto-lah yang seharusnya berada di Santiago, Cile untuk mengikuti konferensi. Tabiat penjahat kelaminlah yang menahannya tetap berada di Indonesia. Hananto, walaupun telah menikahi Surti Anandari, gemar melakukan petualangan syahwat ekstramarital. Menjelang peristiwa Gestapu, Surti ingin meninggalkannya dan Hananto bertekad mempertahankan pernikahannya. Itulah sebabnya, Dimas Suryo yang menggantikannya pergi ke Santiago.

Setelah kisah penangkapan Hananto, Leila membagi kisahnya dalam tiga bagian besar yang diberi judul  Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam. Kita dibawa ke Paris pada saat terjadi revolusi Mei 1968 dan dalam perjalanan menuju epilog pada 10 Juni 1998, kita akan digempur dengan berbagai kilas balik seputar kehidupan Dimas Suryo dan keluarganya. Dalam perjalanan ini kita akan menemukan kisah kehidupan seorang pencinta tanah air yang terbuang, perjuangannya untuk pulang yang tidak mudah, persahabatannya dengan rekan-rekan senasib, dan semua dampak yang menciptakan konflik dalam keluarga dan cintanya. Semua elemen ini membentuk kisah yang sangat menyita perhatian dan simpati.

Sudah pasti, Dimas Suryo adalah karakter paling menarik dalam novel ini. Dialah yang menjadi karakter sentral dalam novel ini. Eksistensi Lintang dan perjalanannya ke Indonesia untuk membuat film dokumenter berawal dari Dimas Suryo. Laki-laki ini pula yang mempengaruhi kehidupan ketiga sahabatnya di Paris, perempuan Prancis yang menjadi istrinya, keluarga Surti Anandari, dan keluarga Aji, adiknya di Jakarta. Ia menjelma menjadi suara dari semua orang Indonesia yang tidak bisa pulang setelah Orde Baru mencengkeram segenap sendi dari tubuh Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, tapi sukar mengejawantahkan perasaan ini.

"Ayah tahu dia ditolak pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. Dia tidak ditolak oleh tanah airnya. Itulah sebabnya, dia meletakkan sekilo cengkih ke dalam stoples besar pertama dan beberapa genggam bubuk kunyit di stoples kedua di ruang tamu hanya untuk merasakan aroma Indonesia,"  kata Lintang (hlm. 198-199).  Dan setiap mengalami penolakan atas pengajuan visanya, Dimas akan melakukan upacara mencium bau cengkih dan memainkan wayang kulit Ekalaya. Ia memosisikan dirinya sebagai Ekalaya yang ditolak tapi akan tetap bertahan meski sangat sulit melakukannya.

Apakah akan ada kesempatan bagi Dimas untuk pulang ke pangkuan ibu pertiwi? Inilah pertanyaan besar dan paling emosionil dalam novel ini. Leila akan memberikan jawabannya pada bagian epilog, dengan tetap menyisakan kebimbangan dalam diri Lintang. Siapa pria yang akan dipilihnya? Segara Alam yang tidak begitu sulit membawanya ke tempat tidur, atau Narayana Lafebre, si tampan yang selalu memberi dukungan pada apa yang dilakukannya? 

Dengan menulis novel ini, Leila menjadi salah satu penulis yang mengingatkan kita bahwa sejarah Indonesia mengandung kisah perusakan harkat kemanusiaan yang telah memakan banyak korban. Ironisnya, pembasmian besar-besaran yang telah terjadi pasca peristiwa 30 September 1965 itu, dilakukan oleh orang-orang setanah air dan setumpah darah yang digerakkan ambisi penegakan sebuah rezim. Seiring dengan berlalunya waktu, masalah itu tetap tidak bisa dipulihkan dan mungkin tidak akan pernah dipulihkan. Tapi apa yang telah terjadi, akan memberikan pelajaran bagi kita untuk tidak bertindak sewenang-wenang dan selalu menghormati kehidupan manusia.

Meskipun padat dan sangat bergizi, saya suka dengan gaya penulisan Leila dalam novel yang ditulis selama enam tahun ini. Ia menulis dengan pilihan kata yang enak dibaca dengan kecenderungan puitis tapi tidak hiperbolis, dan cerdas dalam keseluruhannya. Pulang, novel pertama Leila S. Chudori, setelah bertahun-tahun meninggalkan penulisan novel-novel remaja, adalah sajian berkualitas yang tidak boleh dilewatkan oleh para pembaca Indonesia. 

Sebelum Pulang, Leila telah menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Malam Terakhir (pertama kali diterbitkan Pustaka Utama Grafiti, 1989, kemudian diterbitkan ulang Kepustakaan Populer Gramedia pada 2009 dan 2012). Kumpulan cerpen ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul Die Letzte Nacht (Horlemann Verlag). Penulis skenario sinetron Dunia Tanpa Koma (2006) ini juga telah meluncurkan kumpulan cerpen 9 dari Nadira. Baik Malam Terakhir maupun 9 dari Nadira sedang dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Yayasan Lontar. Kabarnya, Leila sedang menggarap lanjutan 9 dari Nadira dan kumpulan cerita seorang pembunuh bayaran, Lembayung Senja.





 Pengunduran diri Soeharto sebagai presiden pada 21 Mei 1998


12 February 2012

9 dari Nadira


 

Judul Buku: 9 dari Nadira
Pengarang: Leila S. Chudori
Tebal: xi + 270 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Oktober 2009
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

 



Leila Salikha Chudori dulu dikenal sebagai penulis cerita-cerita remaja tahun 1980-an. Ia telah menghasilkan banyak karya fiksi remaja semisal Seputih Hati Andra, Sebuah Kejutan, dan Kelopak-kelopak yang Berguguran. Setelah itu secara mengejutkan, namanya muncul sebagai cerpenis di koran seperti Kompas dan Suara Pembaruan serta majalah Horison dan Matra dengan tema dan teknik bercerita yang lebih mumpuni dari kisah-kisah remajanya. Lebih matang dan intelektual. Tidak ada nama penulis perempuan yang bisa menandingi pencapaian Leila yang luar biasa. Ia membukukan sejumlah cerpennya dalam kompilasi bertajuk Malam Terakhir (Grafiti, 1989). Usai kumpulan cerpen ini nama Leila nyaris tidak berkibar di dunia perbukuan Indonesia. Kalau tidak salah karyanya pernah disertakan dalam sebuah buku antologi penulis perempuan –saya lupa judulnya. Kemudian tahun 2006 namanya dikenal sebagai penulis drama TV kurang sukses, Dunia Tanpa Koma, yang ditayangkan RCTI.

Tahun 1991, cerpennya yang berjudul Melukis Langit dipublikasikan majalah Matra. Inilah yang menjadi awal terciptanya cerpen-cerpen tentang Nadira yang kemudian dihadirkan dalam buku yang disebut Leila sebagai kumpulan cerpen dengan judul 9 dari Nadira (Oktober, 2009).

Buku kumpulan cerpen ini, seperti judulnya, berisi sembilan cerpen tentang Nadira Suwandi, yang sedikit banyak disandarkan pada kehidupan pribadi Leila sendiri. Seperti Leila, Nadira seorang wartawan majalah berita yang berayah wartawan, bungsu dari tiga bersaudara, pernah bersekolah di Kanada, penulis dengan kehidupan pribadi dan kegemaran setara. Tidak heran Leila bisa menjiwai tokoh Nadira dengan mendalam.

Sambil menyaksikan riak-riak Pedder Bay, selama dua jam Nadira menceritakan sejarah kehidupannya selama 19 tahun, kepada salah satu lelaki yang mencintainya (At Pedder Bay). Setelah lulus kuliah di Kanada, Nadira kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai wartawan di majalah Tera. Ia berhasil mengukir namanya sebagai salah satu wartawan berbakat dengan mewawancarai Presiden Cory Aquino dan seorang psikiater pembunuh sejumlah perempuan paruh baya. Yang terakhir –tentu saja- menjadikannya buah bibir seisi kantor. Ia sukses menonjok si psikiater saking jengkelnya. Mengapa Nadira sampai menonjok orang yang ia wawancara? Karena si psikiater menghina ibunya. Menurutnya, Kemala Yunus –ibu Nadira yang mati akibat bunuh diri- menuntaskan hidupnya karena sudah lelah hidup.

Kematian ibunya memang tidak bisa dipahami Nadira. Secara berulang ia bertanya-tanya: mengapa ibunya memutuskan mati? Memang pada hari kematian ibunya Nadira tidak tersedu-sedu seperti kakak sulungnya, Yu Nina. Ia juga tidak bersimbah air mata seperti Kang Arya. Ia bahkan bertindak pragmatis, mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakaman ibunya. Dan tentu saja, mencari seruni berwarna putih, kembang kesayangan Kemala Yunus (Mencari Seikat Seruni). Ia bukan tidak bersedih, tetapi seperti pengakuannya, ia memiliki kekuatan luar biasa untuk mengunci gudang air matanya.

Atasannya di kantor, Utara Bayu, mencintai Nadira. Sejak Nadira menjadi salah satu wartawan di majalah Tera, ia telah merampas perhatian Tara. Semua orang bisa membaca perasan Tara, tetapi Nadira tidak. Tara tergolong lelaki yang tidak ekspresif, sehingga tidak pernah nyaman mencurahkan perasaannya. Ketika satu ekspresi simpati ditujukannya kepada Nadira dengan menawarkan cuti paska kematian ibunya, Nadira menolak. Ia tidak tahu saking pedulinya, Tara berusaha menemukan tasbih milik Kemala yang Nadira dambakan (Tasbih).

Setelah kepergian ibunya, Nadira yang tinggal serumah dengan ayahnya tidak lagi betah berada di rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk pekerjaan, bahkan ia tidur di kantor, di kolong meja kerjanya (Melukis Langit). Sepeninggal ibunya, Nadira juga berubah, ia terlalu sibuk dengan tragedi dalam hidupnya (Sebilah Pisau). Hingga akhirnya, Niko Yuliar, lelaki dengan ciuman maut, menyeruak masuk ke dalam hidup Nadira. Ia bangkit dari kolong meja, bersolek, kemudian secara mengejutkan minta cuti untuk menikah. Bagi Nadira, setelah kematian ibunya ia seperti berada dalam kubur, dan Niko telah mengulurkan tangan untuk mengangkatnya. Nadira memutuskan hendak hidup bahagia, menyamakan kegemaran dengan Niko, dan mempersetankan keraguan Arya, kakaknya, soal integritas lelaki yang ia hasrati (Ciuman Terpanjang). Kendati lelaki, Arya memiliki kepekaan yang tajam. Hal sama telah terjadi ketika Nina ingin menikahi seorang koreografer dan penari bernama Gilang Sukma. Akhirnya Nina menceraikan Gilang, dan sesudah itu kerasan tinggal di New York (Nina dan Nadira).

Seperti apa yang dialami Nina, Arya memang benar. Pernikahan Nadira dengan Niko berlangsung singkat. Walaupun telah memiliki satu anak , Niko tidak pernah meninggalkan kebiasaan memangsa perempuan. Saat Niko terlibat hubungan berbahaya dengan istri seorang pengusaha terkemuka, Nadira memutuskan mencerai suaminya (Kirana).

Adakah harapan bagi Tara yang seolah dadanya tertancap pisau ketika Nadira memutuskan menikah? Rupanya, tidak. Sebab, setelah bercerai, Nadira mengambil sabatikal dan memutuskan kembali ke Kanada. Tidak ada yang tersisa untuk Tara, kecuali cinta dari wartawan cantik bernama Kara Novena (Utara Bayu).

Seperti yang Leila mau, 9 dari Nadira hadir sebagai kumpulan cerpen. Artinya, masing-masing cerita bisa dinikmati sendiri-sendiri. Tampaknya ketika mulai menulis tentang Nadira, Leila juga tidak punya maksud merekatkan kesembilan kisahnya dalam satu buku. Memang, semua Nadira yang dikisahkan dalam buku ini adalah Nadira yang sama. Bahkan mungkin, jika tidak membaca seluruh cerpen yang ada, pembaca tidak akan memahami sepenuhnya kehidupan Nadira yang kompleks dan problematis. Oleh sebab itu, kumpulan cerpen ini hadir sebagai sebuah novel. Hanya karena ditulis satu per satu –dalam jarak waktu yang tidak dekat untuk setiap bagian, kecuali untuk proses revisi- gaya penulisannya memang tidak sama seperti penulisan sebuah novel. Sebagai contoh secara tiba-tiba kisah Nadira tidak lagi dituturkan dari perspektif Nadira –atau Nina, Arya, dan Tara, melainkan oleh 'karakter asing' yang hanya sekali muncul pada bagian yang dinarasikannya. Sebilah Pisau adalah kisah Nadira yang dituturkan Kris, salah satu ilustrator di majalah Tera. Ia memperhatikan dan mengamati kehidupan Nadira, mengungkapkan persepsinya sendiri, dan diam-diam membuat sketsa-sketsa yang berhubungan dengan Nadira. Terlepas dari penceritaan yang menarik –apalagi disertai dengan sketsa-sketsa karya Ario Anindito, sesungguhnya Sebilah Pisau sekadar repetisi cerita yang sudah dibaca dan dipahami oleh pembaca.

Ide cerita tentang Nadira cukup menarik. Ia adalah seorang perempuan muda cerdas, semangat dalam bekerja, pragmatis, tetapi punya kecenderungan eksplosif. Namun ia juga rapuh dan menyimpan kegetasannya dalam diam. Saat terjerat kemarahan, ia tidak bisa membahasakan kemarahannya, malah mencelupkan kepala ke dalam bak mandi –karena dulu kerap dihukum Nina dengan cara kepalanya dicelupkan dalam jamban berisi kencing. Ia mengira kerapuhan yang ditimbulkan oleh ketidakseimbangan dalam keluarganya bisa dilenyapkan dalam pelukan laki-laki, tetapi ternyata tidak seperti itu. Pernikahan tidak menyediakan solusi bagi kehidupannya yang hampir merenggut kewarasannya. Leila menyisakan satu pertanyaan pada lembar terakhir ceritanya: apa yang akan terjadi dengan kerapuhan Nadira?

Kemampuan merangkai kalimat yang sedap dibaca masih bisa ditemukan di sini. Sejak menjadi penulis cerita-cerita remaja, Leila memang dikenal gesit bermain kata-kata. Sekarang kegesitan Leila makin terasah; semakin bernas dan intektual. Namun saya sedikit kehilangan pesona Leila yang ia tebar dalam kumpulan cerpen Malam Terakhir. Memang menarik menengok dunia wartawan yang sesungguhnya –termasuk politik kantor yang melibatkan kecemburuan akan prestasi seseorang. Menarik pula mengikuti kehidupan keluarga disfungsional yang ditampilkan melalui keluarga Suwandi. Ibu bunuh diri, ayah mengalami post power syndrome, kakak perempuan yang terus dibayangi masa lalu, kakak lelaki yang betah melajang demi cintanya pada hutan. Namun daya pikat ini jauh lebih encer dari kandungan Malam Terakhir yang bergizi. Kegesitan Leila bermain kata-kata juga membuat Leila terjebak untuk menghomogenkan seluruh pencerita yang mengambil bagian. Baik surat atau buku harian yang melengkapi narasi Leila, ditulis dengan gaya bahasa yang sama. Dan sebenarnya buku harian Kemala Yunus terkesan tidak realistis: terlalu melimpah dialog untuk sebuah buku harian. Satu lagi, kendati cerpen terakhir menjadi pemantik kesedihan ternyata tidak cukup menggetarkan. Yang bisa dipungut di sana untuk melengkapi karakterisasi Nadira adalah: sesungguhnya ia termasuk salah satu penganut aliran seks bebas.

Tentu saja ini tidak berarti kumpulan cerpen 9 dari Nadira boleh dilewatkan kemunculannya. Apalagi bagi pembaca yang pernah tertenung cerita-cerita Leila di masa lalu. Semoga buku ini bisa menjadi karya pembuka untuk karya-karya Leila selanjutnya.

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan