16 May 2013

Leafie



Judul Buku: Leafie - Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya
Judul Asli: Madangeul Naon Amtak
Pengarang: Hwang Sun-mi (2000)
Penerjemah: Dwita Rizki Nientyas
Tebal: 224 hlm; 20,5 cm
Cetakan: 1, Februari 2013
Penerbit: Qanita




"Orang yang memiliki mimpi adalah tokoh utama di muka bumi" (Hwang Sun-mi, halaman 7).








Leafie, itulah nama yang dipilihnya untuk dirinya sendiri. Ia adalah seekor ayam petelur yang dikurung dalam kandang, di mana melalui pintu yang tidak tertutup rapat, ia bisa melihat pohon akasia dan mengagumi dedaunannya.

"Dedaunan adalah ibu dari para bunga. Bernapas sambil bertahan hidup walau dihempas angin. Menyimpan cahaya matahari dan membesarkan bunga putih yang menyilaukan mata. Jika bukan karena dedaunan, pohon pasti tidak dapat hidup. Dedaunan benar-benar hebat." (hlm. 85).


Kekagumannya pada dedaunan itulah yang menginspirasinya untuk memberikan dirinya sendiri nama Leafie -dari leaf yang berarti daun. Tapi dengan nama seindah itu, tidak membuat hidupnya otomatis bahagia. Sebagai ayam petelur, Leafie tidak dapat mengerami telurnya. Padahal mengerami telur dan menyaksikan kelahiran anaknya adalah mimpi terbesar Leafie. Perasaan itu muncul setelah ia melihat ayam betina di halaman berkeliaran bersama anak-anaknya.

Telurnya selalu diambil oleh majikannya. Bahkan, suatu hari, telurnya yang masih lembek dengan cangkang yang belum matang diambil majikannya dan dicampakkan ke halaman. Anjing Tua di halaman menjilat telur itu hingga habis. Leafie pun memutuskan tidak akan bertelur lagi, dan berarti ia tidak akan menelan makanan yang diberikan majikannya.  Ia  menjadi kian kurus, buruk rupa, dan kemudian sekarat. Pada akhirnya, majikannya melemparkannya di lubang pembuangan.

Leafie masih belum mati ketika musang datang mengincarnya. Bebek liar, bebek dengan kepala berwarna hijau atau yang dikenal sebagai Bebek Pengelana yang memperhatikan situasi genting itu dan menyelamatkan Leafie. Setelah lolos dari incaran Musang, Leafie mencoba bergabung dengan keluarga halaman - Anjing Tua, Ayam Jantan dan Ayam Betina dengan anak-anak mereka,  dan keluarga bebek. Tapi ia ditolak mentah-mentah karena dianggap tidak layak berada di halaman.

Hidup Leafie terasa sangat berat sampai suatu hari ia menemukan sebuah telur yang besar dan indah berwarna putih kebiruan di tengah-tengah semak mawar liar. Leafie tidak tahu kalau telur itu milik Bebek Pengelana dan Bebek Putih Susu, pasangannya. Bebek Putih Susu telah dimangsa Musang, sedangkan Bebek Pengelana yang sempat tergigit Musang, terluka dan tidak bisa terbang untuk kembali ke negeri musim dingin.



Menemukan telur hanya berarti satu bagi Leafie: mimpinya menjadi nyata. Ia bisa mengerami telur dan menyaksikan keluarnya anak dari cangkang telur itu. Penemuan ini membuat semangat hidupnya menggelora dan memancing naluri keibuannya sebagai ayam betina. Maka ia pun mengerami telur itu, menjaga dengan penuh cinta. Sementara itu, Bebek Pengelana mencarikan makanan dan berjaga di luar rimbunan semak mawar liar. Saat akhirnya telur itu menetas, Bebek Pengelana mesti mengorbankan dirinya untuk menjadi santapan Musang yang sedang kelaparan. Sebelumnya, ia berpesan kepada Leafie untuk membawa anaknya ke bendungan, dan bukan halaman. Leafie tidak mengetahui tujuan Bebek Pengelana sampai musim dingin tiba. 

Hidup di luar  halaman semakin riskan bagi Leafie dengan adanya anak bebek itu. Si jahat Musang dan komplotannya masih terus memburunya. Leafie sangat mencintai anak bebek yang kemudian dinamainya Greenie dan bertekad melindunginya dari kejahatan Musang. Tapi, tatkala Greenie semakin besar, ternyata Greenie bisa melindungi dirinya, karena ia mampu mengepakkan sayap untuk terbang. Leafie-lah yang justru dikhawatirkan Greenie.

Mengikuti dan hidup bersama Leafie, sesungguhnya tidak mudah bagi Greenie. Ia tidak bisa berkokok karena bukan ayam, tapi kehadirannya dimusuhi oleh para bebek rumahan. Padahal, sebagai bebek Greenie ingin bergabung dalam sebuah kelompok. 

Apakah akhirnya Greenie bisa mendapatkan kelompok bebek untuk bergabung? Jawaban pertanyaan ini sekaligus akan memberikan jawaban kepada Leafie apa yang menjadi alasan Bebek Pengelana memintanya untuk pergi ke bendungan setelah Greenie lahir.

Pertanyaan berikut adalah: apakah Leafie mampu membebaskan dirinya dari perburuan yang dilakukan si Musang bermata satu? Saat mencoba menghadapi si Musang dengan menyandera anak-anaknya, terbit sebuah perasaan iba. Bagaimanapun, Musang itu adalah seorang ibu, seorang ibu dengan anak-anak yang membutuhkan makanan, dan tidak punya pilihan.

Tapi ternyata, setelah mimpi mengerami telur dan menyaksikan menetasnya telur itu, masih ada mimpi lain dari Leafie. Sebuah mimpi yang jauh lebih besar. Si Musanglah yang akan membantu terwujudnya mimpi ini.

Dulu aku memiliki sebuah keinginan. Mengerami telur dan melihat kelahiran seekor anak ayam!  Itu sudah terkabul. Hidupku memang menyedihkan, tapi aku bahagia. Aku bisa hidup sampai hari ini karena keinginanku. Sekarang, aku ingin terbang. Seperti Greenie, aku ingin terbang tinggi sampai ke tempat yang jauh!" (hlm. 214).

Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya adalah fabel kontemporer karya pengarang Korea Selatan, Hwang Sun-mi. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, kisah ini mengusung mimpi, cinta, dan kepasrahan dengan Leafie sebagai pusat kisahnya. Leafie-lah yang bermimpi, mencintai, dan pasrah dengan kehidupannya. Meskipun semenjak awal hingga kisah dituntaskan kehidupan Leafie tidak aman dan tenteram sehingga memberikan kesan 'gelap' bagi kisah ini, tapi kemunculan Greenie bahkan si Musang telah membuat kehidupan Leafie berarti. Greenie menggenapkan mimpi dan membuatnya mencintai, sedangkan si Musang membuatnya memahami arti kepasrahan. Sungguh sangat indah.

Seperti Leafie sebelum dikeluarkan dari kandang ayam petelur, kehidupan tanpa kesempatan mewujudkan mimpi memang membuat patah hati. Terkurung dalam kandang menghalangi realisasi mimpinya. Padahal kebebasan dalam mewujudkan mimpi membuat hidup menjadi indah dan berani. Mimpi yang terwujud pun tidak berbeda dengan sebuah keajaiban. Kesempatan mewujudkan mimpi akan direstui semesta, sebagaimana yang dialami Leafie, tergantung sekuat apa mimpi itu. Ancaman bisa menghadang, tapi akan selalu ada yang membantu mengatasinya.

Leafie - Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya dikisahkan dengan bahasa yang tidak rumit, tapi dirancang dengan baik, karakterisasi dan alur kisahnya. Para hewan begitu hidup dengan perasaan dan pikiran mereka sehingga dengan mudah bisa dikaitkan dengan kepribadian manusia -sebagaimana yang diharapkan dari sebuah fabel. Plotnya terjaga hingga bagian pamungkasnya yang hampir tidak terduga. Ada sejumput perasaan kehilangan begitu kita mencapai kalimat terakhir kisah ini. 

Apa yang dijalani Leafie menunjukkan kerasnya kehidupan. Dan Leafie memberikan teladan bagaimana seharusnya menghadapi kehidupan seperti itu, yaitu dengan cinta, semangat, tapi juga kepasrahan. Sehingga dari seekor ayam betina buruk rupa yang tidak berguna, Leafie bisa memberikan arti bagi hidupnya. Kehidupan Leafie akan menggema dalam sanubari kita: apakah kita sudah mampu memberi arti bagi hidup kita dengan melakukan yang baik bagi orang lain?

Meskipun anak-anak menjadi target utama buku ini -tapi umur berapa pun Anda, tetap wajib baca buku ini- pengarang tidak terjebak untuk bersikap menggurui. Kita tidak akan mendapatkan rombongan nasihat dijejali dalam bentuk narasi yang panjang. Karakterisasi para tokohnya yang dikemas dengan baiklah yang berbicara langsung melalui tindakan mereka sehingga kita bisa memilih akan menjadi seperti siapa. 

Leafie - Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya pertama kali dirilis di Korea Selatan pada tahun 2000 dan terjual lebih dari 1 juta eksemplar secara domestik. Buku yang laris terjual hingga lebih dari sepuluh tahun di Korea Selatan ini juga telah diterbitkan di beberapa negara lain termasuk Prancis, Polandia, Jepang, China, Vietnam, Thailand, Italia, dan -tentu saja- Indonesia. Pada tahun 2011 telah diadaptasi ke dalam film animasi yang disambut di Festival Cannes dan menjadi Best Family Film 2011 di Sitges Festival, Spanyol. 

Hwang Sun-mi, sang pengarang, adalah profesor di Fakultas Sastra Seoul Institute of Arts. Ia mengawali karier kepenulisannnya pada tahun 2005 dan sejak saat itu telah menerbitkan sekitar 30 buku yang meliputi kisah realis dan fantasi. Karyanya telah diadaptasi menjadi pertunjukan boneka, pertunjukan musikal, dan film animasi.



12 May 2013

The Graveyard Book


Judul Buku: The Graveyard Book
Pengarang: Neil Gaiman (2008)
Penerjemah: Lulu Wijaya
Tebal: 351 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Rudyard Kipling mengeset rimba sebagai tempat untuk membesarkan Mowgli dalam The Jungle Book. Terinspirasi karya Kipling itu, Neil Gaiman mengeset permakaman sebagai tempat untuk membesarkan Nobody Owens dalam The Graveyard Book (2008). Jika Mowgli dibesarkan oleh serigala India dibantu beruang dan harimau kumbang, maka nasib Nobody Owens tergantung pada hantu-hantu yang bergentayangan di permakaman tersebut. 

Permakaman yang dijadikan seting oleh Gaiman berada di puncak bukit dan telah ditetapkan sebagai cagar alam. Terdapat sekitar sepuluh ribu jiwa di pemakaman itu tapi sebagian besar dari mereka tidur lelap dan tidak menaruh minat pada kegiatan malam hari di tempat itu. Ke sanalah, pada malam pembunuhan keluarganya, anak laki-laki dan bungsu yang masih batita pergi setelah terjaga dari tidur. Ia tidak tahu kalau ayah, ibu, dan kakak perempuannya telah dibunuh oleh pria bernama Jack. Kegemaran berkeliaran inilah yang justru menyelamatkannya. Mistress Owens, salah satu hantu di permakaman itu, yang menyaksikan kemunculannya bertekad melindunginya. Apalagi, ibunya yang telah menjadi hantu meminta perlindungan bagi anaknya. Karena sewaktu hidup lebih dari 250 tahun lalu tidak memiliki anak, Mr. Owens bersetuju dengan istrinya untuk mengadopsi  anak itu. Singkat cerita, anak itu pun tinggal di permakaman. Silas, salah satu penghuni permakaman, menjadikan dirinya sebagai wali anak itu dan bertanggung jawab untuk menyiapkan semua kebutuhannya.  Anak itu diberi nama Nobody Owens dan nama panggilannya adalah Bod. "Dia tidak mirip siapa pun selain dirinya sendiri. Dia tidak mirip siapa pun -seperti nobody," kata Mrs. Owens (hlm. 35). Bod mendapatkan Kebebasan Permakaman (Freedom of the Graveyard) seperti yang sebelumnya didapatkan Silas. Kebebasan Permakaman membuatnya dilindungi, bisa melihat dalam kegelapan, berjalan di beberapa jalan yang tidak boleh ditempuh orang hidup, dan kalau ia menghendaki, mata orang hidup takkan bisa melihatnya. 

Para hantu-lah yang kemudian mengajarkan segala sesuatu kepada Bod dan berusaha menjawab semua pertanyaan yang terbentuk dalam benaknya. Silas memperkenalkan abjad dengan menggunakan batu-batu nisan yang ada. Tapi karena Silas sering meninggalkan permakaman, Bod juga mempunyai guru-guru lain yang mengajarnya bicara,  menulis, sejarah, geografi, astronomi, dan berbagai pengetahuan umum lainnya. Dan dengan Kebebasan Permakaman yang diberikan kepadanya, ia juga belajar Memudar, Menghantui, dan Merambah Mimpi. Selanjutnya, Bod malah mampu membuka gerbang ghoul -setan kuburan- dan mengenal ghoul seperti Presiden Amerika Serikat yang ke-33 (Harry S. Truman?) dan pengarang ternama Victor Hugo. 

Dengan menetap di permakaman Bod tidak hanya mengenal hantu-hantu yang berada di sana. Ia juga akan mengenal Miss Lupescu, salah satu Anjing Tuhan (Hound of God) yang menggantikan Silas menjaganya saat walinya itu bepergian dalam waktu lama. Juga Liza Hempstock, penyihir yang dimakamkan di Potter's Field -mengingatkan pada Tanah Tukang Periuk yang dibeli menggunakan uang yang diperoleh Yudas Iskariot dengan mengkhianati Yesus Kristus- di pinggiran permakaman dan tidak memiliki batu nisan. Lantaran ingin memberikan Liza batu nisan, Bod nyaris mencelakakan dirinya sendiri. Selain mereka, Scarlett Amber Perkins, seorang gadis nonhantu, akan memasuki kehidupan Bod. Setelah sempat terpisah karena Scarlett pergi ke Skotlandia, mereka bertemu kembali sepuluh tahun kemudian. Scarlett-lah yang berusaha menyelidiki kasus pembunuhan keluarga Bod yang dengan sengaja telah dipetieskan oleh pihak kepolisian. 

Tiga belas tahun telah berlalu, ternyata Bod belum aman, belum bisa diizinkan menengok dunia luar dengan bebas. Silas memberi tahu kepadanya bahwa pria bernama Jack masih terus mencarinya dengan tujuan untuk mencabut nyawanya.  

Bod mengangkat bahu. "Jadi?" katanya. "Itu hanya kematian. Maksudku, semua temanku yang terbaik sudah mati."

"Ya." Silas ragu sejenak. "Mereka memang sudah mati. Dan sebagian besar mereka sudah selesai menjalani hidup di dunia ini. Kau tidak. Kau hidup. Itu berarti kau punya potensi yang tak terbatas. Kau bisa melakukan apa pun, membuat apa saja, memimpikan apa saja. Kalau kau mengubah dunia, dunia akan berubah. Potensi. Begitu kau mati, potensi itu lenyap. Habis. Kau sudah membuat apa yang sudah kaubuat, memimpikan mimpimu, menuliskan namamu. Kau bisa dikubur di sini, kau bahkan bisa bergentayangan. Tetapi potensi itu sudah habis." (hlm. 205).

Mengapa pria bernama Jack bertekad membunuh Bod? Itulah pertanyaan terbesar yang akan mengikuti kita selama membaca The Graveyard Book (Cerita dari Pemakaman), novel fantasi karya Neil Gaiman. Gaiman akan menyingkapkan jawabannya dan menegaskan bahwa sebenarnya bukan keluarganya, melainkan Bod-lah target utama pria bernama Jack. Untuk mengelak dari ketajaman fatal pisau pria bernama Jack itu, Bod tidak hanya membutuhkan bantuan walinya yang bisa berpindah-pindah dunia orang hidup dan orang mati, tapi juga jiwa-jiwa penghuni permakaman. Dan permakaman itu sendiri akan menjadi saksi perjuangan Bod mempertahankan takdirnya sebagai seorang penyintas dari sebuah tragedi. 



Sekali lagi Neil Gaiman menunjukkan kemumpuniannya sebagai penulis fiksi fantasi yang menghanyutkan kita sejak kisahnya dibuka. Setelah membuyarkan batas antara kehidupan dan kematian, Gaiman menetaskan sebuah kisah unik berfondasikan cinta kasih dan kebaikan hati serta perjuangan bertahan hidup di tempat yang sebelumnya tidak terbayangkan. Gaiman bermain-main dengan penuh humor mengubah pandangan yang memvonis permakaman sebagai tempat angker ke pandangan yang mengindikasikan permakaman sebagai tempat di mana kisah-kisah yang menarik terpendam menanti digali. Dan memang, selama membaca kisah ini, bukan suasana permakaman yang membuat kita berdebar-debar, melainkan kemunculan pria bernama Jack yang akan menentukan keberlangsungan hidup Bod di permakaman itu.

Gaiman menutup novel ini dengan pilihan yang akan menggenapkan takdir Bod sebagai bocah yang diselamatkan dan tetap hidup. Sebuah penutup yang sangat mengharukan sekaligus indah dan menciptakan kehampaan seusai membacanya. Pada akhirnya, Mistress Owens, ibu Bod, akan mengingat kembali baris-baris terakhir lagu tua yang dinyanyikannya untuk meninabobokkan Bod saat masih kanak-kanak.

Hadapi hidupmu
Kepedihannya, kenikmatannya,
Jangan biarkan satu jalan pun tak tertempuh.
(hlm. 350)

The Graveyard Book telah memenangkan berbagai penghargaan yaitu Newbery Medal 2009, Hugo Award untuk Novel Terbaik 2009, Locus Award untuk Buku YA Terbaik 2009, dan Carnegie Medal 2010. Novel ini akan difilmkan oleh Walt Disney Pictures dengan format film animasi oleh Henry Selick, yang juga membuat film animasi dari novel Gaiman yang lain, Coraline. 




*Catatan: sebenarnya bukan pemakaman tapi permakaman yang paling tepat untuk tempat memakamkan jenazah. Pemakaman sendiri adalah proses atau perbuatan memakamkan.

Rapid Fire Questions






Menerima tongkat estafet dari Peri Hutan untuk menjawab sejumlah pertanyaan. Maaf, wahai Peri, karena responsku memang selalu terlambat (tapi aku bukan lemot lho).


Pertanyaan Wajib:

1. Nambah atau ngurangin timbunan?

Nambah timbunan sebenarnya mengasyikkan, tapi ngurangin timbunan itu keharusan.


2. Pinjam atau beli buku?  
Beli buku.


3. Baca buku atau nonton film? 
Gak bisa hidup tanpa keduanya, tapi baca buku tetap nomor satu.  


4. Beli buku online atau offline? (tobuk yang temboknya bisa disentuh) 
Kedua-duanya oke, online kalo udah kalap pengen baca tapi belum ada di toko buku terdekat. 


5. (penting) Buku bajakan atau ori? 
Gak pernah beli buku bajakan. Kasian para pekerja buku kalo beli buku bajakan. 


6. Gratisan atau diskonan? 
Gratisan tanpa syarat, tapi diskonan gak mau ketinggalan juga, apalagi untuk buku baru.  


7. Beli pre-order atau menanti dengan sabar? 
Menanti dengan sabar, gak biasa melakukan PO. 


8. Buku asing (terjemahan) atau lokal? 
Lokal.


9. Pembatas buku penting atau biasa aja? 
Penting untuk buku tebal. 


10. Bookmark atau bungkus chiki? 
Bookmark dong, gak pernah makan chiki untuk dimanfaatkan bungkusnya.   



Pertanyaan dari Peri Hutan:

1. Buku kipas atau buku kacrut? 
Buku kacrut udah pasti gak mau, tapi buku kipas oke-oke aja. Penting untuk pembelajaran dan peningkatan kinerja. Kinerja apaan? Hahahaha.


2. Sampul dulu dan dicium-cium dulu bau buku atau langsung baca? 
Kalo aromanya enak kaya buku Bliss, bolehlah dicium-cium. Tapi biasanya langsung baca, kebanyakan buku saya gak disampul, tapi semuanya tetap dalam kondisi baik.



 3. Baca sambil tiduran atau duduk? 
Paling enak sambil tiduran.


4. Nggak selesai baca atau baca kilat (skip)?
Nggak selesai baca. Gak pernah men-skip bacaan. 


5. Hero atau heroin?
 Paling suka kalo mereka berkolaborasi dalam satu buku. Tapi kalo harus milih satu, saya pilih hero, sesuai gender :) 



Karena belum sempat menyusun pertanyaan tambahan dan bingung siapa yang akan saya paksa mengerjakan tugas -kemungkinan saya yang paling terakhir mengerjakan tugas, maka saya mengakhirinya di sini.



Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan