18 February 2014

Barbitch


Judul Buku: Barbitch
Pengarang: Sagita Suryoputri
Penyunting: Mirna Yulistianti
Tebal: 178 halaman
Cetakan: 1, September 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




Berbagai perempuan bisa kita temukan dalam kumpulan cerpen Barbitch karya Sagita Suryoputri. Bukan perempuan konvensional yang tunduk pada norma dan etika yang berlaku. Bukan perempuan biasa. Perempuan-perempuan dalam cerpen-cerpen Sagita bersikap seenak perutnya dalam menyikapi kehidupan dan tidak pantang melakukan hal-hal yang dianggap negatif oleh masyarakat.

Raya -karakter perempuan dalam cerpen pembuka yang bertajuk BFF- adalah seorang pemabuk yang mencari nafkah dengan cara melacur. Ia berasal dari keluarga disfungsional dan memiliki masa lalu yang kelam. Ia menjalin persahabatan dengan Bram -seorang penulis sekaligus penjual narkoba paruh waktu- yang bisa menerima ketidakberesan hidup dan perilakunya. Bagi Raya, Bram merupakan pantulan cermin dari sosoknya. Bram sangat mengenalnya dan paham berbagai kebiasaan dan kesukaannya. Seperti persahabatan kedua manusia berbeda gender dalam film  When Harry Met Sally, cinta pun muncul di antara mereka. Bram yang tidak bisa menahan dirinya. Pertanyaannya, apakah Raya bisa menerima cinta seorang sahabat? Sebagai sebuah cerpen, BFF sebenarnya bisa dipadatkan agar lebih fokus dan lebih jelas mau dibawa ke mana. Perampingan akan membuat cerpen ini tidak terlalu menjemukan dibaca.

Barbitch yang dijadikan judul cerpen dan dinobatkan sebagai judul kumpulan cerpen ini merupakan singkatan dari Barbie Bitch. Cerpen ini berkisah tentang perempuan-perempuan yang tidak berparas cantik ataupun bertubuh molek seperti Barbie. Tapi mereka bersikeras bergaya seperti Barbie dan tidak segan mengambil jalan pintas. Mereka adalah Vega, Mila, dan Mentari yang menjadi narator cerpen. Sangat sedikit kesan yang tersisa setelah membaca cerpen yang terasa kerontang ini.

Narator cerpen Lipstik Merah Tua kerap melihat ibunya bersolek dan memakai  lipstik merah muda. Suatu kali ia bertanya: “Kenapa Mama pakai warna itu?”  Ibunya menjawab: “Mama kurang suka dan nggak cocok pakai warna merah tua, Mama jadi kelihatan lebih tua.” (hlm. 52). Setelah berumur 19 tahun dan menjadi pramugari, ia memilih memakai lipstik merah tua. Alasannya: "Karena aku suka. Supaya terlibat lebih dewasa." (hlm. 63). Kisah dalam cerpen ini juga kurang jelas mau dibawa ke mana. Awalnya saya mengira akan berkisah tentang pertemanan sang narator dengan Mey Mey, tapi ternyata kisahnya tidak berkembang ke sana. Tiba-tiba, kisah yang dibuka oleh narator yang masih SMP telah berpindah kepada narator yang sudah bekerja, punya pacar tapi tetap memoroti laki-laki beristri.

Perempuan lain yang menganggap memoroti laki-laki berduit yang terpikat padanya merupakan hal yang wajar muncul lagi dalam cerpen Kakak. Sejak SMA kelas dua, perempuan yang menjadi narator cerpen ini telah berhubungan dengan laki-laki berduit berusia lebih dari 50 tahun. Laki-laki itu meminta si perempuan memanggilnya Kakak. Berkat Kakak, perempuan ini bisa memenuhi segala kebutuhannya, bahkan menuntaskan masalah finansial keluarga. Tapi mereka akhirnya berpisah. Perempuan yang akhirnya menjadi pramugari ini yang memutuskan, dan kelak mesti menyaksikan perubahan Kakak ketika mereka bertemu lagi.

Wajar kalau kekasihnya memutuskan hubungan dengan Mala untuk keempat kalinya. Mala yang adalah narator cerpen Pesta seorang perempuan pemabuk yang dituduh kekasihnya tidak bisa memperbaiki dan mempertahankan hubungan mereka.  Untuk mengobati kesedihan dan kesepiannya, Mala mencemplungkan diri ke dalam pesta demi pesta. Apakah ia akan tetap berpesta terus dan tidak mau berubah?  Mungkin ia akan berubah, karena katanya: Tiba-tiba aku kangen sama siang. Maaf ya malam, aku harus pulang. (hlm. 96). Terlalu rempong berpuitis-ria, cerpen ini semakin tidak jelas arahnya. Dan yang menjengkelkan, nama Pratama berubah menjadi Radja di halaman yang sama (hlm. 86).

Judul Stranger in My Bed sebenarnya mengundang tanya. Perempuan yang menjadi narator cerpen ini sama sekali tidak menceritakan orang asing di ranjangnya. Ia menceritakan enam dari dua puluh lima laki-laki yang pernah mendatangi hidupnya; salah satunya datang dua kali. Mereka datang lalu pergi, dengan atau tanpa alasan. Meskipun demikian, perempuan ini tidak putus asa, karena ...

Kini yang tersisa hanyalah aku, sebungkus rokok, dan sebotol vodka. Daripada menangis, aku lebih memilih untuk merayakan ketidakhadirannya. Ada rasa hangat yang mengalir, seusai aku meneguk gelas kelima. Kunikmati hangat yang tersebut sambil menunggu datangnya pria kedua puluh enam untuk menjemputku  pergi makan malam (hlm. 107).

Warna menggantungkan hidupnya pada Prabu, laki-laki beristri dan memiliki tiga orang anak. Ia merasa keadaan demikian membuat hidupnya sempurna, beruntung, dan berbahagia. Sesungguhnya, kehidupan yang dijalaninya merupakan kompensasi dari kehidupan masa lalunya. Dulu ia hidup miskin dan cuma bisa tinggal di kos-kosan. Sekarang ia tidak perlu kuatir dengan uang dan tinggal di apartemen mewah. Tapi untuk mencapai semua itu, ia terpaksa menjual keperawanan, bersedia menjadi perempuan piaraan laki-laki beristri, dan menebalkan muka serta telinga.

Persetanlah.
Karena aku tahu...
aku PANTAS, sayang. (hlm. 127).

Itulah sebabnya kisah perempuan bernama Warna ini diberi judul Pantas.

Dan lagi-lagi, pengarang membuat kita kesal. Mengapa nama Idan berubah-ubah menjadi Karmen? (hlm. 111).

Laksmi mencari kebahagiaan tapi tidak kunjung menemukannya. Dua tahun menikah dengan Panji, ia belum punya momongan. Panji memang tetap menjadi suami yang baik, ia tidak mencari cinta di luar rumah, tapi hal ini tidak membuat Laksmi bersyukur. Mendadak laki-laki yang namanya dijadikan judul cerpen ini, Bara Pati, muncul dalam kehidupan Laksmi. Dan beruntungnya, laki-laki berparas oriental itu membuat Laksmi menemukan kebahagiaan. Tapi, bagaimana dengan Panji? Apakah suaminya rela dikhianati? Lagi pula, siapa sebenarnya Bara Pati? Cerpen ini sejatinya akan lebih menarik jika pengarang mampu menyembunyikan identitas Bara Pati dan baru mengungkapkannya di bagian akhir. Dari segi penulisan, sebaiknya konsisten kalau mau menampilkan cetak miring (halaman 139-140 jelas tidak konsisten).

"Nanti kalau aku terlahir kembali, aku mau jadi kucing, ah. Seperti Penelope Cruz di film Vanilla Sky yang dulu kita pernah nonton. Ingat nggak, Mas? Nanti kamu pungut dan pelihara aku ya, hihi…” Itulah yang dikatakan Milka -perempuan yang percaya reinkarnasi- pada kekasihnya, Joshua -yang tidak suka kucing (hlm. 156-157). Setelah lima tahun berpacaran, Milka belum mendapatkan kejelasan hubungan mereka. Memang bukan hubungan yang mudah lantaran Jo berasal dari keluarga terpandang sedangkan Milka dari keluarga berantakan yang tidak jelas asal-usulnya. Milka sendiri tidak  berusaha untuk mendapatkan respek dari keluarga Jo, bekerja sebagai penari dan mabuk-mabukan. Tidak heran kalau akhirnya Jo meninggalkannya dan menikahi perempuan pilihan keluarga, Fiona. Satu-satunya milik Milka yang dibawa Jo ke dalam kehidupan pernikahannya adalah Hana, kucing yang dilahirkan Chica (kucing milik Milka). Mungkinkah  Hana adalah Milka yang terlahir kembali? Apa yang akan terjadi dalam hidup Jo dengan kehadiran Hana? Horor di bagian penutup cerpen ini cukup mengejutkan. Satu catatan: Hana -nama kucing itu, disebutkan merupakan gabungan nama Joshua dan Fiona (hlm. 173). Pertanyaanya: bagaimana Joshua dan Fiona digabung dan menjadi Hana?

Jujur saja, sulit bagi saya untuk menyukai cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen ini. Selain pada dasarnya tidak cukup menarik, teknik penyajian pun masih  sangat biasa dan cenderung datar. Penambahan rangkaian kalimat yang tidak penting pun terasa mengganggu, apalagi kalimat-kalimat puitis yang tidak ada kontribusinya selain memanjangkan cerita.

Menulis cerpen memang bukan hal yang gampang. Tidak seperti novel, kalimat-kalimat dalam cerpen tidak boleh boros,  dan dalam durasinya yang singkat, harus bisa disimpulkan. Latihan, dan terus mengasah kemampuan sangat penting untuk bisa menulis cerpen yang baik. Dan itulah yang dibutuhkan Sagita Suryoputri mengingat Barbitch adalah kumpulan cerpen pertamanya. 

Sagita Suryoputri pernah bekerja sebagai pramugari selama lima tahun di dua maskapai penerbangan swasta terkemuka di Indonesia. Ia adalah pemilik kedai bir dan pasta bernama Beergasm di Kemang, Jakarta Selatan, yang ia sebut dalam salah satu cerpennya, BFF (hlm. 34). 

Bulan Memerah


Judul Buku: Bulan Memerah
Pengarang: Abednego Afriadi
Penyunting: Yashinta
Tebal: x + 134 hlm; 12 x 19 cm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit: Sheila





Sejatinya, sebuah cerita pendek atau cerpen bisa dihabiskan dalam sekali baca. Tapi sekarang, kita bisa membaca cerpen-cerpen bermain-main dengan plot yang memanfaatkan banyak rangkaian kata sehingga tidak langsung selesai dalam sekali baca. Abednego Afriadi dalam kumpulan cerpennya, Bulan Memerah, jelas mengindikasikan cerpen sebagai cerita yang bisa dihabiskan sekali baca. Kelima belas cerpen yang ada benar-benar cerita yang pendek, setiap cerpen tidak membutuhkan banyak waktu untuk ditamatkan.

Petiklah Gitar Itu, Ayah! yang dinobatkan sebagai pembuka kumpulan cerpen ini berkisah tentang hubungan seorang anak perempuan dan ayahnya. Anak perempuan yang menjadi narator orang pertama cerpen ini bekerja sebagai penyanyi kafe seperti yang dilakoni ibunya. Sementara ayahnya adalah seorang pengamen yang mengalami kebutaan secara misterius. Pekerjaan anak perempuan itu akan selalu mengingatkan sang ayah pada apa yang terjadi dalam hubungannya dengan istrinya. Itulah yang menyebabkan sang ayah mengambil keputusan yang membuat anak perempuannya dililit kesedihan dan kenangan.

Petiklah gitar itu, Ayah, biar aku bisa pulas dalam dekapan mimpi. Biarkanlah rasa letih ini menguap lewat nada-nada yang manis kudengar. Nada-nada yang akan berhembus menembus celah-celah ventilasi dan jendela kamar yang lupa kututup malam ini. Anakmu ini telah kehabisan lirik lagu untuk dinyanyikan. Karena malam-malam yang aku lewati sekarang ini adalah berlembar-lembar lirik lagu dan nada-nada yang itu-itu saja. (hlm. 1).

Petiklah gitar itu, Ayah, walau dawai terbawah telah putus. Aku yakin engkau pasti bisa memainkan kunci-kunci dari jemarimu sehingga tak terdengar sumbang. Kalaupun gitar itu rusak, setidaknya bisa kau lantunkan nada-nada indah nan lembut hingga aku tertidur, lalu kau mengusap-usap rambutku ketika kepala ini singgah di pangkuanmu. (hlm. 2).

Sebuah cerpen yang indah dalam kesedihannya.

Berlatar Natal, cerpen Kidung Liturgi mengisahkan tentang seorang wartawan yang tidak pernah mengikuti Misa Malam Natal sejak menikah. Sebelum terjadi untuk ketiga kalinya, ia mendapat tugas memotret Misa Malam Natal untuk stok foto feature edisi akhir tahun.  Kesempatan mengikuti Misa Malam Natal di gereja Santo Antonius pun tiba. Tapi ternyata, ia belum bisa mengikuti Misa Malam Natal. Apa yang menjadi kendala bagi wartawan yang berperan sebagai narator orang pertama cerpen kali ini? Perasaan sendu tak terelakkan ketika cerpen ini dituntaskan.

Nyanyian itu, lembut, memecah bising deru roda kereta yang menggilas rel tanpa henti. Hujan masih turun. (hlm. 19).

Tenongan yang menjadi judul cerpen adalah tempat menjual jajanan pasar khas Solo yang terbuat dari aluminium dan berbentuk lingkaran. Setiap pagi, sembari menggendong tenongan, penjual kue berjalan kali mengelilingi kampung menjajakan dagangannya. Wiwin, narator orang pertama cerpen, mengisahkan tentang kebiasaan ibunya yang lebih suka membeli jajanan pasar tersebut ketimbang nasi atau bubur.

Kata Wiwin: "Kami merindukan suasana pagi seperti itu. Bersama-sama berjongkok mengelilingi tenongan yang dibuka itu seraya memilih makanan yang hendak kami beli. Dan kami semakin merindukannya semenjak ibu memutuskan untuk pulang ke rumah lama di Solo. Rumah tempat di mana aku menghabiskan masa kecil hingga menikah." (hlm. 22).

Tapi, apakah kerinduan itu akan meneguhkan sang ibu untuk kembali tinggal di rumah lama? Terharu rasanya saat sang ibu berhadapan dengan nihilnya pilihan lain kecuali mengambil keputusan seperti yang diambilnya di bagian akhir cerpen.

Dengan gaya berdendang - seorang suami kepada istrinya- kita akan mengikuti kisah pasutri yang telah menikah 14 tahun. Sang suami melihat istrinya telah berubah, sorot matanya menjadi terlalu tajam, lebih diam dan marah tanpa sebab.

Bulan memerah, Sayang.
Kau ingin tahu, mengapa bulan memerah? Ya, karena kemarau terlalu panjang, sedangkan bunga tak lagi kau siram. Rumah juga kau biarkan penuh dengan sawang, tempat singgasana para serangga. Ya, bulan terlanjur memerah. Merah, Sayang. (hlm. 31)

Mengapa istrinya berubah? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Pengarang baru akan mengungkapkannya di bagian akhir. Cerpen ini seolah-olah menertawakan imajinasi pembaca yang muncul seiring bergulirnya cerita.

Narator orang pertama dalam cerpen Kereta Terakhir pernah hidup bersama dengan kekasihnya. Saat kekasihnya hamil, ia meninggalkan perempuan itu membesarkan anak mereka sendirian. Setelah sekitar enam tahun berpisah, mereka bertemu lagi, tapi perempuan itu telah berubah. Bahkan, berselingkuh dengan kenangan mereka saja, perempuan itu tidak mau. Dan seolah-olah menjadi kutukan bagi sang narator yang telah menyia-nyiakan anaknya dari perempuan itu, dari pernikahanya tidak kunjung hadir seorang anak. Ending cerpen ini terasa menggelikan untuk seorang laki-laki yang putus harapan.

Bukankah aku sudah membunuhmu? Mengapa kau selalu datang setiap malam? Mengajak bercinta, memaki-maki aku. Kemudian pergi lagi. Datang lagi. Pergi lagi. Datang lagi. Pergi!!!! (hlm. 43).

Narator cerpen Jendela Kesunyian yang bertutur sama seperti narator Bulan Memerah dan Kereta Terakhir mengaku:

Kemurungan dan kesedihanmu adalah kemurungan dan kesedihanku. Sudah sepuluh tahun ini, ranjang kamar menjadikanmu tulang rusuk yang menguatkanku ketika rapuh. Maka jangan heran jika aku pun lemah ketika kau lemah. Maka janganlah terkejut jika aku tertawa ketika kau gembira (hlm. 45-46).

Tapi setelah sepuluh tahun menikah, istrinya tetap bertanya: "Apa kamu masih merasa bahwa, aku ini tulang rusukmu?" (hlm. 46) Hal yang sungguh lumrah mengingat sang narator tidak pernah mencium istrinya setelah menikah, kerap meninggalkannya di kamar dan memilih tidur di kursi tamu, dan terutama, tidak bisa bercinta dengannya. Apa sebenarnya yang telah menciptakan jurang pemisah di antara mereka sebagai suami istri? Pengungkapan sang narator hanya menunjukkan kerapuhan dan keanehannya.

Sepuluh tahun silam, narator cerpen Mata Penambang Pasir tinggal di bantaran sungai yang berjarak sekitar 30 meter dengan sebuah pulau di sungai itu. Penduduk pulau itu telah menghilang, dan Sukro -sahabat masa kecilnya- telah mati di sana, dibunuh karena berebutan sarang walet. Hal yang tidak bisa diterima sang narator karena seminggu sebelum ia kembali ke bantaran sungai itu, ia bertemu Sukro di proyek bangunan (hlm. 53).  Rupanya, saat ini, ia ke tempat tinggal masa kecilnya, untuk menawarkan pekerjaan kepada Sukro. Jadi, apakah Sukro telah mati, atau ia sebenarnya masih hidup? Pengarang melakukan inkonsistensi yang boleh dibilang mengganggu dalam cerpen ini. Ia menyebut narator cerpen ini bertemu Sukro di proyek bangunan seminggu sebelum ia kembali ke tempat tinggalnya sepuluh tahun silam (hlm. 53). Tapi selanjutnya pengarang menyatakan narator bertemu Sukro 8 tahun setelah pindah rumah (hlm. 59), lalu katanya, "Sejak saat itu, aku belum bertemu lagi dengan Sukro." (hlm. 61).

Jalu dalam cerpen Garong adalah sosok menakutkan di seluruh penjuru kota. Ia mengisi berita kriminal di koran-koran kota. Wajahnya terpajang di papan pengumuman, halte, tiang listrik, tembok toko, dan pasar. Celakanya, ia mencari Bambang, narator orang pertama cerpen ini, yang pernah dituduhnya sebagai mata-mata polisi. Kontan, Bambang ketakutan dan tidak mau bertemu Jalu. Apakah Jalu bermaksud menghabisi nyawanya? Seiring bergulirnya kisah, kita akan menemukan kekecewaan yang mengharukan dan pengungkapan yang akan menentukan nasib sang garong.

Anda mungkin akan mati ketawa membaca cerpen bertajuk Inisial NR. Norma, artis remaja yang sedang naik daun ditangkap petugas satuan narkoba saat sedang menggelar pesta obat kedaluwarsa (catat, kedaluwarsa!). Ibunya, Siti, kelabakan dan terpaksa menghubungi Bekti, ayah Norma, yang hampir  setengah tahun tidak pulang dan sedang latihan bercerai. Tujuannya, tentu saja, meminta Bekti membebaskan putri mereka. Ternyata, kasus putri mereka yang berinisial NR ini, memberikan happy ending bagi mereka. Mungkin benar seperti kata Norma, "Semua ada hikmahnya." Hahaha.

Wakil ketua RT yang menjadi narator cerpen Sarapan Lumpur Panas melaporkan penangkapan Pak Banu dalam kisahnya. Pak Banu, seorang guru yang sudah tua, ditangkap dengan tuduhan mencabuli muridnya (yang tidak dimunculkan jati dirinya). Penangkapan Pak Banu yang adalah tokoh penting desa itu memunculkan kegemparan lantaran diketahui ia tidak punya musuh, tidak main perempuan ataupun berjudi. Jadi, siapa yang telah menggiring Pak Banu sehingga divonis penjara 15 tahun? Meskipun pengarang tidak menyebutkan secara gamblang, kasus Pak Banu agaknya berhubungan dengan sebuah pabrik di tengah sawah di desa itu dan penyakit misterius yang melanda setahun sebelumnya.

Bendera Berkibar di Tiang Rapuh yang berpotensi membuat Anda tertawa mengisahkan tentang sering turunnya bendera di sebuah SMA, setiap hari Senin atau hari raya nasional, saat bendera itu dikibarkan. Awalnya, disangka, penyebabnya adalah karena talinya telah rapuh. Namun, setelah diganti tali baru, bendera itu tetap saja turun secara tiba-tiba, termasuk saat peringatan kemerdekaan. Sesungguhnya judul cerpen ini merupakan jawabannya.

Nuh -tokoh kitab suci mengenai air bah yang menggenangi dunia- dijadikan judul cerpen tentang air bah yang terjadi selama dua minggu di sebuah kota yang dikelilingi empat bukit. Penyebab air bah adalah air terjun di keempat bukit itu. Orang-orang memutuskan mengungsi ke gedung-gedung kota. Lalu, pada sebuah dini hari, muncul burung-burung gagak seukuran manusia dengan sorot mata merah menyala yang mesti mereka perangi. Kisah menegangkan ini seharusnya dibiarkan berakhir absurd seperti ketiga cerpen terakhir. Penutup yang dipilih pengarang, jujur saja, mementahkan ketegangan yang telah dimunculkan sebelumnya.

Dunia butuh cahaya, itulah yang menjadi sebab kemunculan gadis-gadis bersayap dengan telunjuk memendarkan cahaya. Salah satu gadis itu, menawarkan cahaya kepada narator cerpen Gadis-gadis Cahaya ini. Sang narator tidak menyangka, keputusan menerima cahaya itu menimbulkan petaka bagi dirinya sendiri. Sungguh mengagetkan.

Setelah nisan-nisan dalam kompleks pemakaman sebelah kampung hancur terbongkar, liang kubur terbuka dan kosong, mayat-mayat merajalela, penduduk kampung dalam cerpen Kubur Kosong memberanikan diri pergi ke kota yang telah hancur dan dipenuhi mayat. Mereka bertekad memerangi jutaan mayat, tapi kubur-kubur kosong kian bertambah dan satu demi satu penduduk kampung itu menjelma menjadi bangkai. Mungkin, Anda akan mengernyit jijik oleh penggambaran mayat-mayat yang cukup gamblang.

Gerombolan Pengusir yang menjadi penutup kumpulan cerpen ini mengisahkan penaklukan sebuah kota di wilayah perbukitan -yang tangis penduduknya mengeluarkan kabut- oleh pasukan bertopeng baja. Pasukan itu turun membelah langit hitam dengan menumpang kuda bersayap lalu menyerang para penghuni kota. Bukannya memimpin perlawanan, pemimpin kota malah mengisi waktunya untuk bertapa.

Kami hanya bisa meratapi tangis kesakitan pepohonan ketika gergaji-gergaji mesin mereka memotong-motong tubuh mereka. Kami hanya bisa menangis kala lumpur, dan lahar memuntah. Hingga kabut di kelopak mata kami mulai menguap. (hlm. 126).

Meskipun bisa disebut cerita fantasi, cerpen ini bukan sekadar dongeng belaka. Pasukan bertopeng baja merupakan simbol ketamakan yang menghancurkan hidup orang lain. Dan pengarang mengingatkan, ketamakan selalu akan mendapatkan ganjarannya. 

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen yang semuanya menggunakan perspektif orang pertama (baik tunggal maupun jamak) dalam Bulan Memerah ditulis dengan lugas dan cukup enak dibaca. Tema yang diangkat pun beragam sehingga tidak menjemukan dibaca. Umumnya bisa dikenali dalam masyarakat kita, kecuali yang memang bertema absurd. 

27 January 2014

The Tale of Despereaux



Judul Buku: The Tale of Despereaux
Pengarang: Kate DiCamillo (2003)
Ilustrasi: Timothy Basil Ering
Penerjemah: Diniarty Pandia        
Tebal: 280 halaman; 20 cm
Cetakan: kedua, Maret 2005
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




Karena kau, tikus, bisa bercerita pada Gregory. Cerita ibarat cahaya. Cahaya sangat berharga di dunia yang begini gelap. Mulailah dari awal. Berceritalah pada Gregory, Hadirkan cahaya. (hlm. 84).



Fabel adalah kisah tentang kehidupan hewan yang berperilaku seperti manusia. Kisahnya -tentu saja- fiktif, dan biasa digunakan sebagai sarana edukasi bagi  masyarakat. Dalam khazanah fabel, kita mengenal kisah-kisah seperti Kelinci dan Kura-Kura, Kancil Mencuri Mentimun, Kancil dan Buaya. Kisah-kisah tersebut disajikan secara sangat simpel, dengan alur biasa-biasa saja, dan penyelesaian yang jarang menumbuhkan rasa penasaran. Unsur keindahan dalam menggulirkan kisahnya pun tidak menjadi perhatian utama.

Kate DiCamillo –pengarang yang sebelumnya telah menciptakan karakter hewan dalam novel-novel seperti Because of Winn-Dixie (2000)  dan The Tiger Rising (2001)- membuktikan bahwa fabel bisa disajikan dengan indah. Tetap mengandung pesan moral yang mudah diterima, tapi dialirkan dalam plot yang berlekuk dengan para karakter yang menarik hati.

The Tale of Desperaux yang menjadi pemenang Newbery Book tahun 2004 adalah fabel indah yang lahir dari imajinasi Kate DiCamillo. Di dalamnya, kita akan bertemu dengan tiga karakter yang tidak terlupakan: Desperaux Tilling, Chiaroscuro, dan Miggery Sow.

Despereaux Tilling adalah seekor tikus kastil. Bertubuh sangat kecil, tapi bertelinga amat besar untuk ukuran tikus kastil. Sejak dilahirkan, Desperaux yang sakit-sakitan telah menunjukkan perbedaannya dengan tikus kastil lain. Saat dilahirkan, matanya telah terbuka, menatap cahaya matahari yang membuatnya tersenyum. Dalam pertumbuhannya, ia tidak menunjukkan minat pada segala sesuatu yang diminati para tikus. Ia senang cerita-cerita dalam buku-buku di perpustakaan kastil sehingga tidak mau menggerogoti kertasnya. Ia terbuai musik yang dimainkan Raja Phillip untuk Pea, putri semata wayangnya, sebelum tidur. Musik itu membuatnya melanggar peraturan penting dunia tikus. Tidak hanya menampakkan dirinya di hadapan manusia, ia juga duduk di kaki Raja Phillip. Bahkan, ia berbicara pada Pea yang merupakan pelanggaran peraturan keramat terakhir para tikus. Belum lagi, ia jatuh cinta pada Pea lantaran gadis kecil itu tersenyum padanya dan membelai kepalanya. 

Anak-anak, kau mungkin menanyakan hal ini; malah, kau harus menanyakan hal ini: Bukankah konyol kalau tikus sangat kecil, sakit-sakitan, bertelinga besar, jatuh cinta pada putri manusia cantik bernama Pea?

Jawabannya... ya. Tentu saja, itu konyol.

Cinta memang konyol.

Tapi cinta juga indah. Dan kuat. Dan cinta Despereaux pada Putri Pea akan terbukti, seiring berjalannya waktu, mengandung semua hal itu: kuat, indah, dan konyol. (hlm. 33-34).

Kekonyolan Despereaux menyebabkan ia dijatuhi hukuman oleh Dewan Tikus. Lehernya dililit benang merah kematian, kemudian ia dijebloskan di ruang tahanan bawah tanah dan diserahkan pada tikus-tikus got yang mendiami tempat yang bau itu. Ruang tahanan bawah tanah merupakan jantung gelap dunia yang berbahaya, memiliki kelokan, tikungan, jalan buntu, dan pintu palsu. Hanya tikus got yang mengetahui lekuk-liku labirin itu.

Chiaroscuro atau biasa dipanggil Roscuro adalah tikus got dan menghuni ruang tahanan bawah tanah kastil. Dalam kegelapan bawah tanah, Roscuro terobsesi dengan cahaya. Untuk bisa melihat cahaya yang lebih banyak, ia meninggalkan huniannya dan masuk ke dalam kastil.  Keputusannya ini memicu serangkaian kejadian yang berakhir fatal. Seperti yang terjadi pada Despereaux, Putri Pea juga melihat Roscuro, tapi tidak sambil tersenyum. Pea membelalaki Roscuro dengan ekspresi jijik dan marah lantaran telah memicu musibah dan hal ini menghancurkan hati Roscuro. Dendam kesumat pun merebak dalam jiwanya.

Ada hati, anak-anak, yang tidak pernah sembuh setelah hancur. Atau kalaupun sembuh, hati itu menyembuhkan diri dengan cara yang aneh dan tak wajar, seakan diperbaiki tukang yang asal-asalan.  (hlm. 121).

Sampai berusia dua belas tahun, tidak pernah ada yang peduli dengan apa yang diinginkan Miggery Sow. Setelah ibunya meninggal, anak perempuan bertelinga seperti kembang kol itu ditukar ayahnya untuk menjadi pelayan seorang pria dengan  segenggam rokok, selembar taplak meja berwarna merah, dan seekor ayam betina. Pria itu sering menjewer telinga Miggery Sow sehingga menjadi seperti kembang kol. Mig -begitu Miggery dipanggil- memang berotak lamban dan sedikit terlalu malas. Meskipun demikian, ia memiliki sebuah harapan, menjadi seorang putri seperti Pea.

Dan harapan seperti cinta... sesuatu yang konyol, menakjubkan, kuat. (hlm. 140).

Harapan itu tampak akan menjadi kenyataan bagi Mig ketika ia diboyong ke kastil untuk menjadi pelayan dan bertemu Roscuro. Padahal, sejatinya, Roscuro juga tidak peduli dengan harapan Mig, dan anak perempuan bodoh itu hanya akan ia manfaatkan untuk melaksanakan rencana jahatnya, membalas dendam pada Putri Pea. Saat menyampaikan rencana jahatnya pada Mig, Roscuro tidak mengetahui kalau Despereaux mendengar, dan demi cinta pada Putri Pea, Despereaux bertekad untuk menyelamatkan gadis yang dicintainya itu.  

Seperti apa rencana jahat Roscuro? Mampukah ia menuntaskan dendam kesumatnya? Sementara itu, apa yang akan dilakukan Despereaux untuk menyelamatkan Pea? Bisakah tikus kecil sakit-sakitan itu mengalahkan Roscuro? Gambar sampul depan novel ini memberikan sedikit bayangan mengenai perjuangan penuh tekad si tikus kastil.

Secara garis besar, The Tale of Despereaux (Kisah Despereaux) yang disajikan dengan cara mendongeng (jati diri pendongengnya akan disingkap sedikit di bagian Penutup) berkisah tentang cinta, sakit hati, harapan, dan maaf. Keempat elemen ini akan berpadu menjadi pesan indah yang meremukkan sekaligus menghangatkan hati. Roscuro memiliki sakit hati, Miggery Sow memiliki harapan, Putri Pea memiliki maaf, dan Despereaux sang karakter paling utama, selain cinta, juga memiliki maaf -seperti yang diberikannya pada Lester, ayahnya. Dari keempat elemen, maaf memang memegang peranan paling penting dalam kisah ini dan akan menutupi semua sakit hati.

Menurutku, anak-anak, maaf adalah sesuatu yang sangat mirip harapan dan cinta, sesuatu yang kuat dan indah.

Dan juga konyol.  (hlm. 212-213).

Sesudah berbagai kelucuan yang telah dimunculkan sejak awal, dan ketegangan yang mengikuti, kisah ini berakhir menyenangkan, dan bahagia. Tidak ada alternatif lain bagi fabel yang bisa dinikmati oleh pembaca segala usia ini.

Banyak kalimat-kalimat menarik yang bisa kita petik dari novel yang berhiaskan ilustrasi yang hidup dan lucu karya Timothy Basil Ering. Selain yang telah dikutipkan sebelumnya, kita juga akan menemukan kalimat-kalimat di bawah ini.

Anak-anak, kau harus tahu bahwa takdir yang seru (kadang melibatkan tikus got, kadang tidak) menanti hampir setiap makhluk, tikus atau manusia, yang pantang menyerah (hlm. 27).

Tapi anak-anak, tak ada penghiburan dalam kata "selamat tinggal", bahkan walaupun kau mengatakannya dalam bahasa Prancis. "Selamat tinggal" adalah kata-kata yang, dalam bahasa apa pun, penuh penderitaan. Itu kata-kata yang tak menjanjikan apa-apa. (hlm. 69).

Setiap tindakan, anak-anak, tak peduli betapa kecil pun, memiliki konsekuensi.  (hlm. 122).

Yang tidak bisa dilupakan untuk edisi Indonesia ini adalah penerjemahan yang baik dengan pemilihan kata yang pas. Kelucuan yang muncul dari percakapan para karakter tidak menjadi kabur sehingga kisah tetap mengalir lancar dan enak dibaca. 





Januari 2014: Fabel




05 January 2014

Carrie


Judul Buku: Carrie
Pengarang: Stephen King (1974)
Penerjemah: Gita Yuliani K
Tebal: 256 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Oktober 2013
Desain dan ilustrasi sampul: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama






Carrie White adalah seorang gadis yang tidak menarik, bertubuh gemuk dan pendek dengan jerawat bertebaran di tubuhnya. Ia -sudah pasti- tidak populer dan kerap menjadi sasaran olok-olok serta penggencetan anak-anak SMA Ewen -tempat Carrie bersekolah. Saat menstruasi untuk pertama kalinya di ruang mandi sekolah pada umur 17 tahun dan tidak memahami apa yang sedang terjadi, Carrie menjadi histeris. Akibatnya, anak-anak perempuan yang berada di ruang mandi melemparinya dengan tampon dan pembalut.

Sue Snell -salah satu dari anak perempuan yang menghina Carrie di ruang mandi- merasa bersalah atas apa yang dilakukannya pada Carrie. Untuk menebus kesalahannya, Sue meminta Tommy Ross, pacarnya, mengajak Carrie menghadiri malam prom. Melihat keseriusan Tommy, Carrie menyambut ajakannya dan mempersiapkan diri untuk hadir pada Pesta Dansa Musim Semi itu. Bahkan, ia menjahit sendiri gaun yang akan dikenakannya dan mengabaikan ketidaksetujuan Margaret White, ibunya.

Baik Carrie maupun Tommy serta Sue tidak menyadari kalau Chris Hargensen -salah satu siswi yang kerap menggencet Carrie- telah menyiapkan sebuah rencana busuk untuk menghancurkan Carrie. Malam Prom yang berpeluang membuat Carrie tampil sebagai gadis normal melahirkan petaka berskala besar yang tidak saja memorakporandakan sekolah melainkan juga kota tempat tinggal mereka, Chamberlain (Maine). Para penggencet yang bertindak kelewat batas tidak tahu Carrie memiliki kemampuan yang bersifat destruktif, dan mereka sukses memunculkannya dengan mempermainkan sisi psikologis Carrie yang rapuh.

Carrie terlahir dengan kemampuan telekinesis. Ia bisa menggerakkan benda-benda dan menyebabkan perubahan di dalam benda-benda tersebut. Kemampuan telekinesis Carrie muncul karena momen negatif yang dialaminya. Insiden di ruang mandi sekolah yang memalukan menjadi pemicu yang kemudian meledak pada malam prom saat kemarahannya yang ia pendam tidak bisa dikendalikan lagi. Hasrat membalas dendam yang muncul mendadak kian memperkuat kemampuan destruksinya.

Sejatinya, Carrie ingin menjadi seorang gadis normal. Malangnya, ia dilahirkan seorang perempuan yang mengungkung diri dengan fanatisme keagamaan yang keliru. Sejak dilahirkan, Carrie sudah dianggap ibunya sebagai hukuman yang ditimpakan Tuhan padanya. Ketika melahirkan Carrie, Margaret White bahkan tidak tahu kalau mendiang suaminya telah menghamilinya -Margaret menganggap ia sedang menderita kanker di bagian kewanitaannya. Margaret tidak pernah mengajarkan anaknya mengenai menstruasi dan tidak melakukan tindakan apa-apa sehubungan dengan keterlambatan menstruasi putrinya. Malah, ketika Carrie menstruasi untuk pertama kalinya, kemarahan Margaret meledak. Baginya, Carrie telah menjadi Hawa, perempuan lemah, jahat, dan berdosa. Ia memaksa Carrie berdoa di dalam lemari untuk memohon pengampunan Tuhan.

Carrie adalah novel Stephen King yang pertama diterbitkan meskipun merupakan novel keempatnya. Diterbitkan pada tahun 1974, sesungguhnya Carrie mengisahkan kisah yang terjadi di masa depan pada saat itu (tahun 1979). King membagi Carrie ke dalam tiga bagian yang terdiri atas Olahraga Berdarah (Blood Sport), Malam Prom (Prom Night) dan Reruntuhan (Wreckage). Bagian pertama mengantar kejadian pada bagian kedua dan menghasilkan kejadian pada bagian ketiga. Itulah sebabnya, Carrie sebenarnya masih tetap bisa dinikmati seandainya King memilih menggunakan plot lempeng. Hanya saja, kemungkinan besar, dengan plot lempeng, Carrie yang awalnya direncanakan menjadi cerpen tidak akan cukup tebal untuk diterbitkan sebagai novel. Untuk mempertebal Carrie, King menggunakan teknik epistolari yaitu dengan menggabungkan elemen seperti surat, berita koran dan majalah, kutipan buku, jurnal ilmiah, artikel, hasil penyelidikan dan buku catatan sekolah. Alhasil, Carrie bisa hadir sebagai novel dan tetap tidak membosankan dibaca. Teknik epistolari tidak menghalangi plot utama Carrie untuk bergerak cepat dalam suasana yang mencekam dan menegangkan. King sukses menumbuhkan rasa penasaran untuk tetap setia membaca hingga kisahnya ditamatkan. Setelah meletakkan Carrie, ada dua kesan dominan yang terasa: tragis dan mengerikan. 

Carrie telah dua kali diadaptasi menjadi film layar lebar. Yang pertama digarap oleh Brian de Palma (1976) dengan Sissy Spacek sebagai Carrie dan Piper Laurie sebagai Margaret. Yang kedua diarahkan oleh Kimberly Peirce (2013), menampilkan Chloē Moretz sebagai Carrie dan Julianne Moore sebagai Margaret. Film layar lebar kedua ini beredar pada bulan Oktober 2013 dan Gramedia Pustaka Utama memanfaatkan momen ini dengan menerbitkan Carrie pertama kalinya dalam bahasa Indonesia. 



Koin Terakhir


Judul Buku: Koin Terakhir
Pengarang: Yogie Nugraha
Penyunting: Mahfud Ikhwan
Tebal: viii + 296 hlm; 20,5 cm
Cetakan: 1, Juli 2013
Penerbit: Bentang




Sebelum kematiannya di Les Deux Magots Café-Paris, Daniel Hehalatu memberikan sebuah koin kepada seorang pemuda yang kebetulan berada di sana. Koin lima puluh markkaa Finlandia itu bukanlah sembarang koin. Daniel telah memodifikasi koin itu dan menyembunyikan microchip berisi dokumen yang dicurinya sewaktu bekerja di Direktorat Pengendalian Persandian Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Dokumen itu juga bukan sembarang dokumen karena merupakan dokumen rahasia yang telah dilindungi negara selama puluhan tahun. Jika dokumen itu sampai bocor ke media, berpotensi menciptakan krisis keamanan nasional di Indonesia. Kematian Daniel -yang melarikan diri menggunakan paspor palsu- di Paris disimpulkan karena terkena serangan jantung kendati ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung.

Zen Wibowo, agen Badan Intelejen Negara (BIN) yang dikenal dengan daya ingatnya yang fotografis dan menguasai enam bahasa, ditugaskan untuk menemukan koin itu. Ia tidak menolak tugas meskipun sedang dalam persiapan pernikahan dengan kekasihnya, Arcelia Nasution. Maka, dari Jakarta, Zen pergi ke kota tempat Daniel meninggal untuk menemukan koin itu. Pemuda yang menerima koin adalah seorang mahasiswa Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne asal Swiss.

Zen berhasil menemukan mahasiswa itu, tapi tidak koinnya. Si mahasiswa telah memberikan koin itu kepada seorang pastor Spanyol yang mengikuti sebuah konferensi di Paris dan telah meninggalkan Paris. Satu-satunya petunjuk adalah pastor itu berasal dari Selville, Spanyol.

Dari Paris, menyamar sebagai wartawan, Zen pergi ke Selville untuk menemui Bapa Sergio Hernandez. Sayangnya, Bapa Sergio sedang tidak berada di tempat. Ia pergi ke Vatikan untuk menghadiri audiensi umum langsung dari Paris. Setelah mengerahkan semua upayanya, Zen menemukan kenyataan kalau koin telah berpindah tangan lagi. Zen masih harus meretas perjalanan ke London bahkan ke Arbat Lama, Mokswa, untuk mengejar koin itu. Perjalanannya tidak akan berjalan mulus, karena bahkan di ujung perjalanannya, ia akan mengalami pengkhianatan yang berpotensi menggagalkan misinya. Karena selain BIN, ternyata ada pihak lain yang juga berkeinginan memiliki koin itu.

Meskipun kisah pencarian koin itu betul-betul ditamatkan, Yogie Nugraha -sang pengarang novel Koin Terakhir- masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab di bagian Epilog. Tampaknya, novel ini tidak dimaksudkan untuk menjadi satu-satunya novel petualangan Zen Wibowo. Adanya sekuel tentu saja akan lebih memuaskan pembaca yang telah menikmati Koin Terakhir.

Membaca novel ini merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Yogie menulis dengan baik dan menerapkan prinsip ekonomi kata-kata sehingga menghasilkan kisah yang mengalir lancar tanpa menciptakan kebosanan. Bahkan, kisah mengenai Arcelia Nasution yang tidak terkait tugas Zen tetap enak diikuti. Rasa penasaran berhasil ditumbuhkan sejak bagian Prolog dan semakin berkembang seiring perguliran plot yang menghadirkan ketegangan yang dijaga dengan baik. Memang belum serumit karya pengarang-pengarang novel thriller kaliber dunia, tapi Yogie telah menunjukkan kemampuan yang tidak banyak dimiliki pengarang-pengarang Indonesia lainnya.

Satu hal yang mengundang pertanyaan adalah penyebab kematian Daniel Hehalatu karena penggunaan diazepam yang berlebihan sehingga membuat jantung Daniel berhenti. "Dua atau tiga tetes diazepam bisa membuat teler, tetapi pemakaian lebih dari enam tetes akan menghentikan jantung kurang dari tiga menit,"  kata polisi Prancis (hlm. 90). Jadi, apakah bentuk sediaan diazepam yang dipakai untuk membunuh Daniel?  Tetes untuk diminum (guttae) ? Atau sirup? :)

Menurut pengakuan Yogie (dalam Pengantar Penulis), ia menulis Koin Terakhir karena dipicu sebuah artikel tentang konferensi yang dilakukan pada November 1967 di Jenewa, Swiss. Pertemuan tersebut dilakukan antara perwakilan Indonesis dengan 'raja-raja ekonomi dunia' seperti David Rockefeller dan perwakilan dari korporasi-korporasi transnasional seperti General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, Freeport, Alcoa, dan US Steel. Fakta-fakta yang terungkap dari konferensi tersebut sangat mencengangkan dan membuat Yogie terusik. Ia jadi bertanya-tanya apakah perwakilan Indonesia yang dikirim ke konferensi itu benar-benar memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai ekonomi. Apa yang terjadi di Konferensi Jenewa tahun 1967 yang dirancang untuk mengambil alih kekayaan Indonesia ini diangkat ke dalam film dokumenter bertajuk The New Rulers of the World oleh Alan Lowery dengan jurnalis John Filger sebagai presenter (2001). Menyusul film dokumenternya, Pilger telah menerbitkan kumpulan esai dengan judul yang sama (2002).

Apa kaitannya Konferensi Jenewa November 1967 ini dengan konflik dalam Koin Terakhir, hanya akan Anda ketahui dengan membaca sendiri novel perdana Yogie Nugraha ini.



Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan