23 June 2013

Melbourne


 
Judul Buku: Melbourne
Pengarang: Winna Efendi
Editor: Ayuning, Gita Romadhona
Ilustrasi Isi: Tyo
Tebal: xii + 328 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit: GagasMedia





Buat gue, cahaya adalah konsep universal, tetapi sebenarnya sangat pribadi. Setiap orang dapat melihatnya, merasakannya, tetapi persepsi mereka mengenainya bervariasi, tergantung emosi dan pengalaman sang penglihat. Interpretasi seseorang terhadap cahaya berbeda-beda, begitu juga makna cahaya tersebut bagi mereka. A light is never just light. Cahaya, seredup apa pun, mampu mengiluminasi kegelapan, dan menjadi medium yang menghidupkan dunia. Bagi gue, cahaya adalah hal terindah di dunia ini (hlm. 8).



Sejak kecil, Maximillian Prasetya sudah terobsesi dengan cahaya. Tidak heran, di The University of Melbourne, ia tidak hanya kuliah di jurusan Arsitektur, melainkan juga engineering khusus untuk mempelajari light design.

Di Melbourne Uni inilah Max bertemu Laura Winardi, mahasiswi Indonesia yang mengambil kuliah di bagian keuangan. Mereka berpacaran setelah insiden yang dipicu keisengan Max, kemudian melewati masa-masa kebersamaan sembari menyelesaikan kuliah. Max yang mencetuskan gagasan pernikahan. "Let's do this together, just the two of us, for the rest of our lives." (hlm. 66). Mereka bersepakat akan menikah setelah masing-masing bisa mewujudkan impian, Max menjadi light designer sedangkan Laura bekerja di bank atau perusahaan trading. Setelah mengenal Laura, cahaya akan selalu mengingatkan Max pada Laura.

Sayangnya, hubungan mereka kandas. Max meninggalkan Melbourne untuk mengejar pekerjaan berkaitan dengan cahaya dan Laura memutuskan untuk berpisah. Max berhasil mewujudkan impiannya, tapi Laura tidak. Bukannya bekerja di bank atau perusahaan trading, Laura malah menjadi penulis dan penyiar radio larut malam. Kepergian Max membuat Laura mengalami kesulitan membina hubungan asmara dengan laki-laki lain.  

Karena, gue nggak butuh orang lain untuk mendefinisikan siapa gue. Laura Winardi, pacar dari A. Gue cukup menjadi Laura, penyiar dan penulis, pemilik dari kucing Russian Blue bernama Paris, penyuka lagu-lagu di Narnia Youtube. Gue nggak pernah mikirin kapan seharusnya menikah, umur ideal untuk berkeluarga, tipe rumah dan mobil apa yang harus gue punya, dan hal-hal seperti itu. (hlm. 78-79).

Setelah lima tahun meninggalkan Melbourne -traveling setahun, bekerja di perusahaan arsitektur di New York, kemudian di sebuah perusahaan light design di Sidney- Max kembali untuk menetap. Ia mendapatkan pekerjaan untuk menangani pencahayaan konser di sebuah event organizer. Kedatangannya kembali ke Melbourne mempertemukannya kembali dengan Laura. Ada satu hal yang ingin ia katakan kepada Laura: "I've never loved anyone else the way I loved you." (hlm. 82).

Maka kebersamaan di antara mereka kembali terjalin. Setiap malam Max akan menjemput Laura di tempat kerjanya. Mereka akan menghabiskan waktu dengan mengobrol dalam perjalanan pulang, atau singgah di Prudence Bar, minum kopi dan mengulang kenangan hingga pagi menjelang. It feels like old times, but the les complicated version, itulah yang muncul di benak Laura. Dan kebersamaan mereka ternyata membuat Laura merasa nyaman. 

Nyaman adalah berbagi waktu tanpa perlu merasa canggung. Nyaman adalah menikmati keberadaan masing-masing, walau yang dapat kami berikan kepada satu sama lain hanyalah kehadiran itu sendiri. Nyaman berarti tidak perlu minta maaf saat lengan kami bersenggolan secara tak sengaja, merokok dalam mobil dan bebas mengotak-atik stereo tanpa meminta izin terlebih dahulu. Nyaman adalah meneleponnya tanpa alasan, hanya karena ingin mengobrol, atau karena ada film baru yang ingin kutonton, tapi tidak punya teman untuk diajak. Rasa ini tidak perlu dilabeli, diartikan, atau dianalisis. (hlm. 94).

Apakah mereka hanya akan berteman setelah lima tahun berpisah? Apakah definisi cinta pertama mereka akan bertaut? Bagi Laura,  Max adalah cinta pertama, dalam artian laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta. Bagi Max, Laura adalah cinta pertamanya, dalam arti berbeda. 

Gue percaya definisi first love adalah rasa pertama, saat lo melihat jauh ke dalam mata seseorang, dan memutuskan bahwa masa depan dan kebahahagiaan lo ada bersamanya. Cinta pertama adalah ketika untuk pertama kalinya dalam hidup lo, lo mampu melihat segala sesuatu dengan lebih jelas, merasa lebih hidup, dan ingin jadi versi terbaik dari diri sendiri, saat dia berada di samping lo. Saat hidup lo berubah berantakan dan masih bisa berpikir, screw this mess, at least I still have you by my side. (hlm. 124-125).

Tampaknya, seperti harapan Max, ia bisa menebus sesal karena perpisahan mereka, ia bisa mewujudkan impian bersama yang belum terealisasi. Tapi, ternyata tidak mudah. Di Queen Victoria Market, saat melewatkan pagi dengan seporsi donat panas berisi selai raspberry dan taburan cinnamon, ketika Max menyatakan kembali cintanya, Laura menolak dan mengundurkan diri dari kehidupan Max.  


Melbourne dengan Sungai Yarra


Melbourne: Rewind adalah salah satu novel dari Setiap Tempat Punya Cerita, proyek kolaborasi GagasMedia dan Bukune yang diterbitkan oleh GagasMedia. Winna Efendi dipilih untuk mengangkat Melbourne sebagai seting utama novelnya. Sebagaimana buku-buku Setiap Tempat Punya Cerita lainnya, romansa masih menjadi andalan utama Winna. Berbeda dengan Bangkok karya Moemoe Rizal yang kendati bermuatan kisah cinta tidak menjadikannya sandaran utama. 

Sesungguhnya, tema romansa yang diangkat Winna sudah sangat generik. Sepasang kekasih berpisah, bertemu lagi, dan diperhadapkan lagi dengan kemungkinan CLBK. Kita tidak akan mengalami kesulitan untuk menebak kesimpulan dari kisah dalam novel ini. Tapi seperti biasa, sebelum kesimpulan, dibutuhkan konflik yang mampu membuat pembaca bertahan membaca hingga tamat. Maka Laura pun dibuat bimbang dengan kehadiran karakter laki-laki lain yang membuatnya terkesan dan seakan-akan menemukan saingan Max. Tapi untuk itu, ada konflik lain yang mesti dihadapinya.

Menariknya, meskipun mengandalkan tema mainstream, Winna memiliki kemampuan mencuri perhatian pembaca dengan teknik penyajiannya yang unik. Ia membagi novelnya ke dalam empat bagian besar, menggunakan istilah pada alat pemutar musik seperti walkman yaitu Rewind, Pause, Play, dan Fast Forward. Keempat bagian itu dipecahnya ke dalam subbagian yang ia sebut Track berupa judul lagu dan artis yang menyanyikannya. Ada enam belas track yang merupakan lagu yang terhubung dengan kehidupan para karakter novel. Seiring dengan pergantian track -akan lebih asyik jika dibaca sambil mendengarkan enam belas lagu itu- kita akan mengikuti perjalanan cinta Max dan Laura untuk menemukan tautannya. 

Cara berkisah Winna sebenarnya cukup menarik. Ia mampu merangkai kalimat yang enak dibaca dan cukup impresif. Sayangnya, ia belum cukup mahir berkisah menggunakan lebih dari satu narator orang pertama. Memang ketika Max menjadi narator orang pertama, Max membahasakan dirinya "gue" dan saat gilirannya, Laura menyebut dirinya "aku". Tapi kecuali perbedaan penggunaan kata ganti orang pertama tunggal itu, tidak terasa kekhasan suara mereka masing-masing. Sering, terasa sulit membedakan suara mereka. 

Kendati dijadikan judul novel dan merupakan bagian dari proyek Setiap Tempat Punya Cerita, Winna tidak terlalu mengeksplorasi Melbourne. Tapi semua tempat yang disebutkannya, cukup membuat penasaran. Prudence Bar di persimpangan Victoria Street yang menjadi tempat favorit Max dan Laura. La Trobe Reading Room di State Library of Victoria, perpustakaan umum di Melbourne Central. Rooftop Cinema, bioskop atap terbuka di lantai enam Curtin House, sebuah gedung Art Noveau di Swanston Street. St. Paul's Cathedral, gereja Anglikan, di mana di depannya Max dan Laura pernah berdansa. Atau Queen Victoria Market yang terkenal dengan jam doughnuts-nya yang enak. 

Melbourne adalah karya kedua Winna yang telah saya baca. Meskipun mengetahui Winna sebagai penulis yang telah melahirkan beberapa novel sebelumnya, perkenalan saya dengan karyanya baru terjadi saat membaca Unforgettable (2012). Kebetulan, Unforgettable cukup meninggalkan kesan karena penulisannya yang indah dan puitis. Selain karena tertarik membaca buku-buku dari proyek Setiap Tempat Punya Cerita, Unforgettable-lah yang membuat saya memutuskan membaca Melbourne. Apakah saya akan membaca buku-buku Winna sebelumnya, saya belum bisa memastikan. 



Sebelum Melbourne, Winna Efendi telah menerbitkan Ai (2009), Refrain (2009, difilmkan oleh Maxima Pictures tahun 2013), Glam Girls Unbelievable (2009), Remember When (2011, merupakan buku pertama Winna yang sebelumnya diterbitkan Penerbit Akoer dengan judul Kenangan Abu-Abu, 2008), Unforgettable (2012), Truth or Dare (2012, Gagas Duet dengan Yoana Dianika), dan nonfiksi berjudul Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Fiksi Pertamamu. Ia juga berkontribusi dalam The Journeys, antologi kisah perjalanan 12 penulis dari GagasMedia (2011)


0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan