Showing posts with label Aggelos. Show all posts
Showing posts with label Aggelos. Show all posts
24 March 2012

Tetra Mars



Judul Buku: Tetra Mars
Pengarang: Harry K. Peterson
Tebal: 508 halaman
Cetakan: 1, April 2011
Penerbit: Mizan Fantasi

 

 



Berbulan-bulan Slaven tidak muncul. Padahal ia berjanji akan kembali. Viola dilanda kesedihan, bahkan bermimpi buruk melihat Slaven tergantung di sebuah pilar, berdarah dengan bulu-bulu sayap rontok.

Di sebuah karnaval, Viola memasuki tenda seorang peramal. Peramal itu mengatakan bahwa di masa depan, ia melihat Viola sebagai Venus yang dikelilingi empat Mars sekaligus atau Tetra Mars. Ada sesuatu yang terlarang di sini. Ada kematian mengerikan, yang akan mengiringi perjalanan cinta Viola.

Viola mulai menghitung laki-laki di dalam hidupnya. Pertama, Slaven Dulton, si Quierro yang ingkar janji. Kedua, Daniel Scoot, mantan pacar yang masih mencintainya. Ketiga, Jeff Luke Baxter, saingan Daniel. Dan yang keempat, si murid baru dari Prancis,
Raphaël Girard. Semuanya, tentu saja, tampan. Viola tahu, yang terlarang di dalam ramalan ini adalah hubungannya dengan Slaven. Tapi siapa di antara keempat cowok itu yang akan mati?

Sementara Viola mempertanyakan ramalan itu, Slaven menemukan kejutan  di surga. Sebagai Quierro, dulu ia berharap bisa menjadi Sprixie, tapi setibanya di surga, langsung dinobatkan sebagai Orpheus, pemimpin pujian. Orpheus adalah posisi bergengsi yang diidam-idamkan banyak Sprixie. Tidak heran, pengumuman ini mengejutkan banyak Sprixie, dan melecut kemarahan salah satu di antara mereka. Slaven yang mulai menyadari bakat-bakat istimewanya mendapatkan penglihatan bahwa Viola berada dalam bahaya. Maka, ia pun melepaskan posisi bergengsi yang baru dianugerahkan kepadanya, dan kembali ke bumi.
 

Harry K. Peterson
Tetra Mars adalah buku kedua dari trilogi Aggelos karya Harry K. Peterson. Jika pada buku pertama sebagian besar cerita digelontor dari sudut pandang Viola, kali ini Slaven mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk berkisah. Dengan demikian, pembaca bisa merasakan langsung dilema yang dialami Slaven melalui penuturannya, dan bukan diceritakan Viola sebagai cerita estafet. Ini menjadi lebih menarik karena isi hati Slaven lebih bisa ditangkap pembaca. 

Sama seperti buku sebelumnya, Harry tetap mempertahankan gaya berceritanya yang memukau. Kalimat-kalimat dirangkai cermat dan bernas, memberikan pengalaman baca yang memukau. Cinta memang masih menjadi sandarannya, tapi ia tahu persis bagaimana menghadirkannya dengan indah. 

Dalam buku ini, ia pun menambahkan elemen baru yang kian memperkaya cerita. Ada surga dengan hamparan ladang gandum yang sangat luas, dengan kincir-kincir angin raksasa dan cahaya matahari bak pilar emas murni. Ada shefro yang bertugas membuat ladang gandum tetap indah dipandang dan yang mengambil bagian dalam hidup Viola (meskipun kemunculannya sampai novel habis masih menjadi tanda tanya). Ada heavebell, kereta api bobrok bersuara bising, sarana transportasi yang menghubungkan bumi dan surga. Bukankah itu sungguh imajinatif? 

Kali ini, aksi pertarungan sesama malaikat digambarkan lebih mendetail dibandingkan buku pertama. Bahkan, adegan pertarungan ini menjadi bagian terbaik Tetra Mars. Dirancang dramatis, mendebarkan dan mengejutkan. 

Pertanyaan yang terus membuntuti kita sementara membaca novel ini adalah: kematian seperti apakah yang akan mengiringi perjalanan cinta Viola? Kita akan mendapatkan jawabannya sebelum novel berakhir. Dan ketika novel berakhir, Harry menciptakan godaan, yang hanya akan terpuaskan setelah buku ketiganya diterbitkan nanti. 

Harry K. Peterson, bisa dikatakan, merupakan salah satu penulis fiksi fantasi Indonesia modern yang penuh harapan. Ketika kemampuan menulisnya semakin terasah dengan berjalannya waktu, dengan catatan ia terus menulis, kita akan menyaksikan ia mencapai kejayaan suatu hari nanti.

13 February 2012

Aggelos


Judul Buku: Aggelos
Pengarang: Harry K. Peterson
Penyunting: Nuraini Mastura
Desain sampul: Kebun Angan
Tebal: 515 hlm
Cetakan: 1, Mei 2010
Penerbit: Mizan Fantasi






Malaikat (Yunani: Aggelos) yang menjelma menjadi manusia bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia fiksi. Harry K. Peterson, pengarang usia muda, mengusung tema ini dalam novelnya yang bertajuk Aggelos. Kata sahibulhikayat, sebuah kotak musik dicuri dari altarnya di Surga. Salah satu malaikat bertekad tidak membiarkan pencurinya meloloskan diri. Ia hampir berhasil ketika sebuah anak panah menembus jantungnya. Si malaikat terjerumus ke bumi bersama kotak musik yang jatuh dari tangan si pencuri.

Syahdan, malaikat yang jatuh ke bumi itu menjelma sebagai remaja pria bernama Slaven Dulton. Ia bersekolah di Te Anau International College, Selandia Baru,  dan menjadi buah bibir di kalangan anak gadis. Slaven tertarik pada Viola Mondru, balerina yang kerap mengajaknya bersilat lidah. Viola sedang mencari pengiring pribadi agar bisa mengikuti kontes balet yang akan diadakan di Celeste Pons, tempat berkumpul para balerina di Selandia Baru. Saat hampir putus asa, Viola mendengarkan permainan biola Slaven yang amat memukau. Slaven bisa memainkan musik yang pernah didengar Viola dari sebuah kotak musik, yang ia yakini, dalam mimpi.

Menjadi balerina yang bisa menari di tempat yang menjadi saksi percintaan Mary dan James, pasangan penari yang dikaguminya, sudah merupakan obsesi Viola. Tahun sebelumnya ia gagal mengikuti kontes karena kakinya terkilir. Padahal demi Celeste Pons, Viola rela membuang kesempatan pindah ke Paris bersama orangtuanya. Keputusan Slaven untuk mau mengiringnya disambut Viola dengan antusias. Satu hal yang membingungkannya, Slaven mengindikasikan ketidaksukaannya pada Daniel Scoot, kekasih Viola. Tidak jadi masalah bagi Viola, yang penting ia bisa mengikuti kontes balet. Namun, berdekatan dengan Slaven dan menikmati kepeduliannya yang sinis tak urung membuai Viola. Tanpa bisa dicegah, ia jatuh cinta dan ternyata mendapatkan balasan setimpal. Perasaan mereka mungkin tidak menjadi persoalan kalau Slaven Dulton manusia biasa.

Di bumi yang oleh penghuni Surga disebut Dyfed, Slaven yang kehilangan ingatan tengah mengemban misi penting. Ia mesti menemukan Jovett –nama kotak musik, yang hilang dan bersaing dengan Zuiver, malaikat sesat yang juga menginginkan Jovett. Jika ia kalah dan Zuiver mendapatkan Jovett,  tidak terelakkan lagi, malapetaka gigantis akan terjadi. Sebenarnya Cupid alias Elsker telah berusaha menggusah Zuiver dengan melontarkan sepasang anak panah bertuah. Sayangnya llyr-nya meleset; satu menembus jantung Slaven yang lain menghunjam jantung Viola. Kegagalan Cupid tidak saja menghilangkan Jovett, tetapi juga mendatangkan masalah monumental. Slaven dan Viola terbuhul cinta terlarang, padahal Aggelos tidak mungkin menjalin cinta dengan Dyfed.

Pertanyaan yang akan mengeriap di benak pembaca adalah yang manakah Zuiver di antara karakter-karakter yang bertebaran? Mungkinkah si tampan Signore Vecchia, guru seni baru, yang melarang hubungan Viola dan Slaven? Ataukah salah satu anak muda yang bersekolah bersama-sama Viola dan Slaven di Te Anau International College? Tampaknya pengarang mengandalkan resep klasik yang tidak pernah usang: si jahat biasanya paling pintar memalsukan penampilan.

Aggelos adalah novel perdana Harry K. Peterson. Berseting Te Anau, kota kecil cantik di Selandia Baru, di mana Suku Maori memegang keyakinan sebagai keturunan dari hasil percintaan terlarang Dewa Langit dan Dewi Bumi, pengarang menggelontor kisah fantasi yang menginternasional. Dengan menenun bersama-sama unsur mitologi, keagamaan dan seni, ia berhasil menghasilkan cerita bermodal kekuatan imajinasi yang memesona kendati tidak tergolong baru. Masih ditemukan kalimat-kalimat yang menuntut penyiangan agar tampil lebih bersih dan mengilap. Namun harus diakui bahwa sesungguhnya Harry cukup terampil dalam segi permainan kata. Keunggulan Harry yang lain tampak dalam menghadirkan dialog. Lebih banyak mengandalkan bahasa Indonesia yang baik, tetapi kelenturannya terjaga, dialog-dialog tetap tampil segar dan berbobot. Dari seluruh aspek penulisan, penetasan gagasan, dan pemetaan konflik yang memadai, kita bisa berharap pengarang yang satu ini akan menelurkan novel berikut yang tidak kalah seru. Dalam buku ini, disebutkan, ia sedang menulis sekuel Aggelos.

Kemahiran Harry membangun latar belakang karakter patut disanjung. Ia mendedahkan Surga sebagai wilayah yang diatur hierarki, ada Eligos dengan para malaikat yang memiliki fungsi khusus. Dalam dunia Kristiani, misalnya, Tuhan dipercaya memiliki banyak malaikat. Ada serafim bersayap enam, kerubim yang mengawal tabut perjanjian, ada juga penghulu malaikat seperti Gabriel dan Mikhael. Lucifer yang memberontak adalah malaikat pemimpin pujian yang berdiri di dekat arasy. Di sini, Harry menciptakan dua kategori malaikat, Sprixie dan Quierro (mungkin dalam sekuel akan dimunculkan kategori anyar). Slaven Dulton termasuk golongan Quierro, malaikat tingkat dasar, tidak punya status dan kekuatan serta tidak bisa terbang. Golongan Sprixie yang arasnya di atas Quierro bisa terbang, memiliki kekuatan dan pelbagai kemampuan seperti main musik dan memprediksi masa depan. Tidak mengherankan yang menjadi pemimpin pujian atau Orpheus adalah malaikat golongan Sprixie. Antagonis dalam novel, Zuiver, adalah salah satu Sprixie. Pengarang memiliki alasan kuat sewaktu menggambarkan Slaven dari kategori Quierro bisa terbang dan bermain biola: berada di bumi, Slaven mengalami transformasi, dari Quierro menjadi Sprixie. Sebagai pelengkap, Harry meminjam Cupid dari mitologi Yunani. Sosok bayi bersayap yang membawa panah ini menjadi salah satu karakter penting.

Keterbiasaan pengarang dengan dunia anak muda yang didedahkannya dalam novel membuat cerita memiliki bonafiditas yang tinggi. Ia, misalnya, tanpa keraguan mengurai pengetahuan tentang balet dengan mengimbuhkan istilah balet dalam narasi. Namun yang paling mengesankan adalah keberhasilannya berkisah menggunakan sudut pandang orang pertama melalui Viola, seorang remaja putri. Kendati lelaki, ia bisa menampakkan kedalaman penjiwaan karakter Viola. (Maafkan saya karena sempat mengira Harry K. Peterson hanyalah pseudonim seorang pengarang perempuan).

Penggunaan perspektif orang pertama, bagaimanapun, memiliki keterbatasan. Mungkin, sesekali pengarang perlu mengalihkan cerita ke perspektif orang ketiga, seperti ketika ia menceritakan pertarungan kedua Sprixie dalam memperebutkan Jovett (bab 23). Saya percaya, pertarungan dengan porsi sedikit lebih banyak –tidak sampai berlebihan- akan membuat novel ini lebih bersinar.

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan